Title: Backhumping (seriously, isn't the title so obvious? XDD) aka Photoshoot part 2
Author: Panda^^
Fandom: Kamen Rider DCD/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Matsuzaka TorixInoue Masahiro
Rating: NC-17
Warning: pure pr0n. Do not read unless you're into boys humping other boys.
Disclaimer: I do not own anyone
Note: karena Nei minta stensilan jadi gue pake aja buat mewujudkan Tori jadi seme seperti yg sempet diwacanakan LOL
Tori tak tahan saat melihat Masahiro berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya yang besar itu. Hanya mengenakan celana piyama saja dan bertelanjang dada. Tori bisa melihat otot-otot Masahiro bergerak di bawah kulitnya seiring dengan gerakan tangannya yang sibuk bermain game di ponsel. Punggung yang jarang dilihatnya itu - karena Masahiro memang jarang memunggungi Tori - terlihat begitu mengundang untuk disentuh.
Tori mendekat dan memanjat naik ke tempat tidur dengan pelan. Kedua tangannya memerangkap sisi kiri dan kanan Masahiro saat dia mengecup pundak pemuda itu. Masahiro tersenyum tapi tak menoleh.
"Sudah lebih segar?" Tanyanya, masih sibuk dengan permainan di layar mini ponselnya.
Tori tak menjawab. Bibirnya bergerak sepanjang pundak pacarnya ke arah leher dan menghisap pelan ketika tiba di tengkuk Masahiro. Senyumnya mengembang saat otot punggung Masahiro menegang dan pemuda itu menggeliat. Tori bergerak lagi. Satu tangannya ikut mengelus sementara bibirnya menciumi tulang belikat yang menonjol.
"Tori?" Panggil Masahiro, setengah kebingungan.
Lagi-lagi Tori tak menjawab. Jari-jari dan bibirnya menelusuri garis punggung Masahiro. Terus sampai ke lekukan paling bawah. Mau tak mau Masahiro menarik nafas tajam saat Tori bergerak lagi ke atas, kali ini lidahnya ikut beraksi.
"T-Tori..." Panggil Masahiro lagi, menoleh untuk melihat kekasihnya. Tori balas memandangnya dan Masahiro hanya sanggup menelan ludah saat melihat tatapan lapar di mata Tori. Tori mencodongkan badannya untuk mencium pipi Masahiro sementara tangannya menahan badan Masahiro supaya tak berbalik. Masahiro menurut setelah berhasil membuat Tori menciumnya.
Dokter muda itu kembali mencium dan menjilat belikat Masahiro. Satu tangannya mengelus pantat pacarnya, sesekali meremas dan tersenyum senang saat Masahiro mengerang.
Masahiro tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Ini pertama kalinya Tori seperti ini. Masahiro tak berniat mencari tahu sebabnya sekarang. Lagipula ketika dia menoleh, pemandangan yang dilihatnya sungguh luar biasa seksi: Tori menciumi punggungnya, sekali lagi bergerak ke bawah dan menarik turun celana Masahiro sampai pantatnya terekspos. Masahiro bergidik pelan karena udara dingin menyerang kulitnya. Tapi segera dilupakannya karena tangan Tori meremasnya. Tori memandang Masahiro sekilas sebelum menunduk untuk menggigit daging di bukit sebelah kanan.
Masahiro melenguh pelan sementara kedua tangan Tori mengelus dan meremas. Pinggulnya terangkat sedikit, mengisyaratkan Tori untuk menarik lepas celananya karena bagian depan tubuhnya mulai terasa tak nyaman. Tori mengulum senyumnya dan memenuhi permintaan Masahiro. Setelah menjatuhkan celana berbahan satin itu ke sisi tempat tidur, Tori membungkuk dan mengecup bagian belakang lutut Masahiro lalu bergerak ke atas kembali ke bokongnya. Tangannya mengikuti dengan mengelus sisi tubuh Masahiro.
Tangan Masahiro otomatis mencengkeram seprai ketika Tori memisahkan pantatnya dan merasakan sesuatu yang basah menyentuh belahan pantatnya. Lenguhan keras tak bisa ditahannya.
"Tori...ungh...jangan..."
Tori hanya bergumam dan malah membuat Masahiro merasakan getaran aneh sepanjang punggungnya. Masahiro mengangkat pinggulnya. Meskipun terasa aneh tapi rasanya nikmat dan Masahiro ingin lebih.
"Gunakan...jarimu saja..." Masahiro tersengal. Kemaluannya bergesek dengan seprai dan rasanya mulai sakit.
Tori, yang makin terangsang melihat Masahiro menawarkan dirinya seperti itu, memandang Masahiro tanpa berkedip. Dicondongkannya badannya untuk mencium Masahiro dengan penuh nafsu. Satu tangannya menyentuh dagu Masahiro lalu disentuhkan ke bibir Masahiro menggantikan bibirnya. Masahiro menatapnya dan membuka mulutnya untuk mengulum dua jari Tori. Tori menciumnya lagi sementara tangannya bergerak turun, menyelusup ke belahan pantat Masahiro dan mulai menekan masuk. Satu jari diikuti yang lain.
Masahiro mendesah tajam, tak biasa dengan sensasinya. Matanya terpejam dan pinggulnya beringsut. Merasa agak tak nyaman. Tori mengalihkan perhatiannya dengan menyelipkan tangannya ke bawah dan mengelus dada Masahiro. Jari-jarinya bermain dengan bagian dada Masahiro yang Tori tahu selalu membuat Masahiro mengerang nikmat jika disentuh di bagian itu. Di bawah sana, jari-jarinya mulai bergerak keluar masuk dengan perlahan. Tori menekuk jarinya sambil menariknya keluar lalu menekan masuk lagi. Masahiro mengerang. Diputarnya jarinya di dalam tubuh Masahiro dan melakukan hal yang sama. Kali ini Masahiro melenguh panjang dan mengumpat.
Tori tersenyum penuh kemenangan. Diulanginya gerakannya, memastikan dia menyentuh titik sensitif di dalam tubuh Masahiro tiap kali dia menekan masuk atau menarik keluar. Pinggul Masahiro mulai bergerak tak terkendali. Dengan putus asa menggesekkan kemaluannya dengan seprai. Tori sendiri sudah luar biasa terangsang. Kemaluannya mulai terasa sakit karena bereaksi setiap kali mendengar lenguhan dan erangan Masahiro. Cairan bening mulai menetes dari ujung kemaluannya. Tapi Tori menahan diri karena masih ingin menunggu sampai Masahiro memohon.
Tori menunduk dan menjilat punggung Masahiro yang mulai basah dengan peluh. Sementara jari-jarinya bergerak sedikit lebih cepat. Gigi Masahiro menggerus bibir bawahnya, mulai tak tahan karena rasanya dia akan meledak setiap saat.
"Lebih...cepat..ah! Aku... Ungh... sudah tak tahan...aaah...Tori..."
Tangan Tori berhenti bergerak. Dikecupnya telinga Masahiro dan menggigit pelan daun telinganya yang memerah. "Sebentar lagi." Bisiknya.
Suara Tori yang berat dan rendah terdengar makin seksi di telinga Masahiro. Pemuda itu mengangguk dan mengerang pelan saat Tori menarik tangannya keluar dari tubuh Masahiro. Masahiro mencuri waktu untuk menarik nafas, menenangkan nafasnya yang terengah. Lidahnya menjilat bibirnya yang terasa kering dan memekik kaget saat berat tubuh Tori menindih punggungnya.
Tori terkekeh pelan, tetap terdengar begitu seksi. Digigitnya leher Masahiro, menghisap pelan dan memastikan ada bekas kemerahan yang tertinggal. Dengan pelan pula, Tori mencengkeram pinggul Masahiro, mengangkatnya lebih tinggi supaya lebih mudah memposisikan dirinya. Wajah Masahiro memerah. Jantungnya berdebar keras menanti-nanti apa yang akan terjadi. Mungkin begini yang dirasakan Tori tiap kali, pikir Masahiro.
Dan Masahiro melenguh keras, jari-jarinya merenggut seprai dengan kencang. Tori memasuki tubuhnya dengan hati-hati dan perlahan. Meskipun sudah dipersiapkan, tetap saja ini pertama kali untuk Masahiro. Matanya terpejam erat dan nafasnya tersengal-sengal. Tak mengira kalau rasanya sesakit itu. Tori harus menahan nafas agar tak meledak saat itu juga karena tubuh Masahiro melawan dan mencengkeram kuat. Diciumnya pipi dan rahang Masahiro sampai pemuda itu rileks sebelum melanjutkan membenamkan seluruh kemaluannya ke tubuh Masahiro.
Tori tak memberi waktu Masahiro untuk mengambil nafas. Dia langsung bergerak cepat dan keras. Masahiro mengerang dan menggeliat di bawahnya, semakin seksi dan menggoda sampai Tori tak menaruh belas kasihan dan tak ambil pusing untuk memperlembut gerakannya. Salah sendiri dia membuat Tori cemburu siang tadi.
Masahiro mengulurkan tangannya ke belakang, berusaha menggapai tangan Tori. Tori menyambut uluran tangan itu, mengaitkan jari-jari mereka dengan erat. Masahiro menarik tangan mereka yang terjalin itu untuk menciumi punggung tangan Tori sebelum kembali mengerang dan melenguh. Sensasinya berbeda dengan yang biasa dia rasakan dan Masahiro tak menyangka kalau dia menikmatinya. Sangat menikmati, malah.
"Ma-kun..." Tori mendesah. Matanya terpejam, sudah tak kuat lagi menahan.
Masahiro menyandarkan sisi wajahnya ke bantal dan mengangguk sembari mempererat genggaman tangannya ke tangan Tori. Tori beringsut, menghunjam tajam dan lebih cepat sampai Masahiro mengejang. Punggungnya melengkung, kepalanya terlempar ke belakang, bibirnya membuka mengeluarkan lenguhan panjang. Tak sampai berapa detik, Tori membenamkan giginya ke pundak Masahiro untuk meredam erangannya dan selesai begitu saja di dalam tubuh Masahiro.
Beberapa kali hentakan kecil dan tubuh mereka berdua terhempas ke kasur. Mereka berciuman sambil masih terengah sebelum Tori membenamkan wajahnya ke dalam rambut Masahiro. Butuh waktu lama sebelum Tori sanggup bergerak. Masahiro menggunakan sisa tenaganya untuk mengelus pipi Tori dengan buku jarinya. Tori tersenyum dan menutup matanya.
Lama setelahnya, mereka akhirnya mampu untuk bergerak lebih banyak dan beringsut merenggut seprai yang sudah ternoda dari bawah tubuh mereka. Masahiro melempar seprai itu ke samping sambil pasang tampang jijik. Tori tertawa dan menciumnya. Masahiro meringis saat memutar tubuhnya untuk menghadap Tori.
"Apa selalu sesakit ini?" Tanyanya pada Tori saat Tori mengusap punggung Masahiro.
Tori tersenyum malu. "Hanya kalau Masahiro sedang bersemangat saja."
Masahiro meringis. "Maaf ya."
Tori tertawa. "Kenapa?"
"Aku tak tahu kalau rasanya seperti ini."
Gemas, Tori mencium pacarnya itu. "Memangnya aku pernah keberatan?"
Masahiro merengut. "Tori kan terlalu baik."
Tori meletakkan jari telunjuknya di bibir Masahiro. "Kalau aku tidak protes, itu artinya memang tak ada yang kuprotes."
Masahiro mendengus. "Awas. Tunggu saja sampai punggungku tidak pegal lagi."
Tori tertawa dan menatap Masahiro dengan penuh cinta. "Terserah Masahiro saja."
-----
Tuesday, November 16, 2010
[fanfic] AU Ma-kunxTori - Photoshoot
Title: Photoshoot
Author: Panda^^
Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: umh, it's pretty safe
Disclaimer: I do not own any characters depicted in this fic
Note: karena ada yang rikues Tori ngeliatin Ma-kun pas lagi pemotretan. Maaf kalo jadinya gak sesuai harapan m(_ _)m
Memang repot berlaku sebagai pacar yang baik. Setidaknya, itulah yang dipikirkan Tori ketika dia mengikuti Masahiro memasuki gedung tempat Masahiro akan bekerja hari itu. Hanya karena salah nyeletuk saat melihat-lihat foto-foto Masahiro untuk sebuah fashion brand di majalah, Masahiro jadi nyengir lebar dan menawarinya untuk ikut ke studio. Bukannya Tori tak mau, justru dia penasaran sekali. Hanya saja dia tak tahu harus melakukan apa. Masahiro bisa dibilang praktis tumbuh besar di lingkungan rumah sakit. Banyak yang bisa dia lakukan sementara menunggu Tori selesai bekerja. Sedangkan Tori asing sekali dengan dunia model ini malahan nyaris membatalkan datang karena tak ingin mengganggu. Masahiro meyakinkannya kalau model lain banyak juga yang mengajak teman, kakak, adik atau pacar mereka ke studio jadi Tori sama sekali tak perlu khawatir.
Bagaimanapun, yang namanya masuk ke lingkungan asing tetap membuat Tori canggung. Beberapa orang lalu lalang membawa kamera, lampu, tangga dan berbagai perlengkapan lain yang Tori tak yakin untuk apa. Masahiro menggamit tangan Tori dan mengaitkan jari-jari mereka saat melihat Tori celingukan bingung. “Ke sini.” ujarnya sambil menariknya untuk berbelok ke kiri. Mereka melewati beberapa pintu. Tampaknya cukup banyak pemotretan yang berlangsung hari itu. Ketika akhirnya sampai di studio yang dituju, Masahiro mendorong pintu metalik sampai membuka.
“Ohayo gozaimasssssu.” ujarnya ke seluruh ruangan dan langsung mendapat balasan dari berbagai arah.
Ruangan studio itu lebih kecil dari yang sebelumnya mereka lewati. Kru-nya pun tak banyak. Masahiro sudah cerita kalau hari ini tak akan melibatkan banyak orang. Meskipun begitu, semua orang di ruangan itu memandang ke arah mereka lalu tersenyum-senyum. Masahiro menariknya ke satu sudut ruangan, sepertinya tempat semua orang meletakkan barang-barang bawaan pribadi mereka karena banyak tas yang menumpuk di atas meja.
“Tori duduk di sini saja. Sebentar ya.” Masahiro langsung ngeloyor pergi di pojok lain ruangan dan membungkuk memberi salam pada beberapa orang. Tori duduk, menyilangkan kakinya dan memperhatikan ruangan itu. Backdrop, kamera, dan lampu sudah ditata. Kadang ada yang mondar-mandir memeriksa lampu atau kameranya. Di seberang tempat Tori duduk, seorang lelaki dan seorang perempuan sedang sibuk mengurus wardrobe. Di sudut lain lagi terbentang meja panjang yang bersinar karena dipasangi lampu di bagian bawahnya. Beberapa kamera, lensa dan sebuah laptop berlogo buah apel yang sudah digigit diletakkan di atasnya.
Pintu membuka lebar dan dua orang masuk membawa kereta saji berisi gelas-gelas kertas dengan logo lingkaran hijau yang mengeluarkan asap tipis. Semua orang langsung mengerubungi dan mengambil satu. Masahiro juga melakukan hal yang sama tapi dia mengambil dua gelas dan mendatangi Tori. Diangsurkannya satu pada Tori dan duduk di sebelah Tori.
“Belum harus siap-siap?” tanya Tori.
Masahiro melirik jam tangannya dan menghirup kopinya. “Sebentar lagi. Semua orang belum akan benar-benar kerja kalau kopinya belum datang.” Masahiro terkekeh.
Tori ikut tertawa mendengar kebiasaan antik itu. “Model satu lagi yang mana? Kamu bilang hanya akan ada dua kan hari ini?” tanyanya lagi.
Belum sempat Masahiro menjawab, seorang pria mendekat. Tubuhnya tinggi sekali dan rambutnya dicat coklat. Hidungnya agak bengkok dan gayanya flamboyan sekali. Satu tangannya memegang gelas kopi, yang satu lagi diselipkan ke dalam saku celananya. Pria itu memperhatikan Tori dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa malu-malu, tersenyum sedikit, lalu mengulurkan tangan.
“Yuzawa Kouichirou.” ujarnya menyebutkan nama.
Tori buru-buru berdiri dan menyambut uluran tangan itu. “Matsuzaka Tori.” Entah kenapa pria itu mengeluarkan aura yang berkesan kalau dia orang penting. Yuzawa-san mengangguk lalu memberi isyarat pada Masahiro untuk mengikutinya.
Dengan bingung, Tori menerima gelas kopi Masahiro sementara pemuda itu beranjak mengikuti pria itu ke tengah ruangan. Seorang pemuda lain menyusul dan mereka sibuk berdiskusi. Pria itu menunjuk-nunjuk sementara dua pemuda di depannya mengangguk-angguk sambil sesekali bergerak ke samping atau ke depan. Sebentar kemudian semua orang bergerak. Tori melihat Masahiro dan rekan modelnya itu berjalan ke arah meja rias sambil tertawa-tawa dan seorang penata rias dan seorang hair stylist langsung mengerubungi mereka. Bekerja cepat mengubah penampilan mereka.
Tori memperhatikan dengan penuh minat. Satu tangannya ditumpukan di atas lutut dan digunakan untuk menopang dagunya. Yuzawa-san sudah mengambil tempat, duduk di depan backdrop dan sibuk mengecek kamera. Sesekali kameranya dibidikkan pada sesuatu lalu mengerutkan keningnya sekilas saat mengecek hasilnya lewat LCD. Tiba-tiba lensa panjang itu mengarah padanya. Tori berkedip bingung dan Yuzawa-san mengedip padanya. Karena tak tahu harus bereaksi bagaimana, Tori hanya tersenyum.
Dan dia tak tahu harus bereaksi apa waktu melihat Masahiro berjalan ke arah rak berisi baju-baju, menerima sehelai yang diangsurkan oleh si penata busana dan ganti baju di tempat. Tanpa malu-malu Masahiro melepas kaus dan jeans belel-nya, memamerkan brief hitam ketatnya untuk dilihat semua orang dan mulai mengenakan kemeja putih dan celana bahan warna khaki. Wajah Tori bersemu merah dan sedikit cemburu. Tak rela karena ternyata selama ini orang lain, dan bukan hanya satu orang, biasa melihat Masahiro dalam kondisi setengah telanjang begitu. Model satunya menyusul, melakukan hal yang sama dan Tori harus membuang muka karena tak biasa melihat orang lain berganti baju di hadapannya.
Sebenarnya lucu juga karena dia kan dokter. Bukan sekali dua dia harus memeriksa pasien dalam kondisi tanpa busana. Tapi ini dan itu kan berbeda, Tori berpikir. Orang-orang itu kan pasien sementara yang di hadapannya bukan. Satu pacarnya dan satu lagi orang lain. Tori mulai merasa tak nyaman dan akhirnya memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.
Kepalanya baru terangkat lagi saat mendengar aba-aba kalau pemotretan akan dimulai. Masahiro sudah berdiri di tengah ruangan, si penata busana sedang menggulung lengan kemeja Masahiro sementara si hair stylist menyemprotkan sedikit hair-spray lagi ke rambut Masahiro. Tori memandang tak berkedip. Rambut Masahiro tidak di-styling begitu rupa, malahan hanya dibiarkan jatuh dan berkesan alami. Kemejanya sengaja ditata tak rapi, seperti orang yang baru saja pulang bekerja dan menarik ujung-ujungnya dengan asal-asalan dengan tiga kancing teratas dibiarkan terbuka. Celananya mendekap sempurna kaki panjang Masahiro yang tak bersepatu.
“Uwaaaa....” gumamnya tanpa sadar. Diangkatnya ponselnya dan diam-diam mengambil gambar Masahiro yang mulai berpose sesuai arahan Yuzawa-san.
Saat itulah Tori merasa dia jatuh cinta sekali lagi pada Masahiro. Anak bandel yang biasanya tak pernah serius itu sekarang terlihat begitu intens. Matanya terfokus pada kamera, mengikuti arahan dan tidak menoleh-noleh ke arah lain, juga tidak pada Tori yang duduk hanya beberapa meter darinya. Yuzawa-san mulai bersemangat dan turun dari bangku tinggi yang didudukinya dan mengambil foto dari jarak dekat. Yuzawa-san tersenyum lebar sambil menggoda Masahiro dan membuat pemuda itu mengeluarkan ekspresi yang hanya dilihat Tori kalau Masahiro sedang merayunya di tempat tidur.
Tori tak suka.
Helaan nafas lega meluncur saat Masahiro beranjak digantikan oleh model yang satu lagi. Tori tak terlalu peduli karena sibuk memperhatikan Masahiro yang sekali lagi berganti pakaian. Dia tertawa terbahak-bahak saat si penata busana menepuk-nepuk perutnya yang akhir-akhir ini semakin kencang. Tori merengut, mulai menyesal ikut. Seharusnya dia di rumah saja atau jalan-jalan dengan Tesshi, anjing kecil milik Masahiro yang baru diadopsi beberapa minggu lalu. Dia tak perlu melihat semua ini dan mengetahui kalau ternyata hal-hal yang selama ini dipikirnya hanya miliknya ternyata juga milik orang banyak.
Mood-nya memburuk di sesi kedua pemotretan itu. Kali ini kedua model itu berpose berdua dan entah kenapa Yuzawa-san terlihat makin senang kalau kedua modelnya makin menempel. Duduk saling membelakangi sambil bersandar ke punggung yang lain, berdiri berhadapan sambil saling lirik nakal, saling menumpukan lengan di pundak yang lain, pose-pose semacam itu. Tori sudah nyaris mau pergi saja ketika Yuzawa-san mengisyaratkan kalau mereka sudah selesai. Tori menghembuskan nafas yang ditahannya sejak tadi tanpa sadar. Tangannya juga terasa pegal karena menggenggam ponselnya dengan terlalu erat.
Semua orang sibuk mondar-mandir sementara kedua model itu berganti pakaian dengan baju mereka sendiri sambil sesekali membungkuk berterima kasih pada para kru yang menyapa. Masahiro juga tak langsung menghampiri Tori tapi ikut berkerumun di meja tempat kamera-kamera diletakkan. Yuzawa-san rupanya sedang melihat-lihat hasil jepretannya dan semua orang ingin melihat. Mereka tertawa-tawa sambil berkomentar.
Dengan perlahan, Tori mengambil tas Masahiro dan berjalan mendekati kerumunan itu. Untunglah Masahiro berdiri paling belakang, tak perlu ikut berdesak-desakan karena tinggi badannya. Ada senyum puas di bibir Masahiro. Tori berdiri di sisi kiri Masahiro dan menyelipkan jari-jari tangan kanannya ke antara jari-jari tangan kanan Masahiro dan menggenggam. Masahiro menoleh dan tersenyum lebar, balas menggenggam tangan Tori. Ditariknya tangan mereka ke belakang jadi Tori pun harus beringsut mendekat.
“Aah, ini pak dokter yang selalu kau banggakan itu ya?”
Mereka berdua menoleh dan melihat model yang satu lagi itu sedang tersenyum-senyum. Masahiro nyengir lebar. “Ini Matsuzaka Tori-sensei. Tori, ini temanku, Totani Kimito.”
Tori hanya bisa mengangguk karena tangannya masih digenggam Masahiro. “Doumo.” ujarnya.
Pemuda itu balas mengangguk, mengibaskan dua jarinya sambil mengerling. “Dia berisik sekali soal Sensei loh. Bekerja di Keigo ya? Dulu aku pernah ke sana karena keseleo.”
Tori mengedip-ngedipkan matanya. “Oooh, ya, ya. Sepertinya aku pernah melihatmu. Sekarang lengannya sudah tak apa-apa?”
Totani mengangguk-angguk. “Harus dibebat lama, tapi sekarang sudah oke lagi.”
Ganti Tori yang mengangguk-angguk. Dirasakannya Masahiro menggenggam tangannya dengan lebih erat. Tori menoleh. “Sudah boleh pulang?” tanyanya.
“Sudah lapar ya?” tanya Masahiro sambil nyengir dan Tori hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah pamit kiri-kanan dan sekali lagi jadi obyek foto dadakan Yuzawa, mereka akhirnya meninggalkan gedung itu. Masahiro melompat-lompat, terlihat ceria sekali.
“Tori mau makan di mana?” tanya Masahiro, masih tersenyum lebar tapi lalu keheranan karena Tori sudah berdiri dekat sekali di depannya. “Tori?”
Tori melingkarkan tangannya ke pinggang Masahiro dengan sedikit posesif. Masih kesal dan tak rela dengan apa yang dilihatnya di dalam sana. Masahiro miliknya. Cuma miliknya. Untuk urusan yang ini, Tori tak mau berbagi dengan siapapun.
Masahiro kebingungan. Disentuhnya pipi Tori dengan lembut dan bertanya dengan khawatir. “Kenapa? Sudah lapar sekali ya? Maaf ya, tadi kelamaan ya?”
Tori menggeleng. Masahiro tersenyum lega. “Jadi, mau makan di mana?” tanyanya lagi.
Tori mengeratkan pelukannya di pinggang Masahiro. “Kamar Masahiro saja.”
Kening Masahiro berkerut, antara heran dan ingin tertawa. “Tak ada makanan di kamarku.”
“Ada kok.” Tori beringsut semakin dekat dan menatap Masahiro dengan lapar. “Masahiro.”
Masahiro menelan ludah.
Bagaimanapun, yang namanya masuk ke lingkungan asing tetap membuat Tori canggung. Beberapa orang lalu lalang membawa kamera, lampu, tangga dan berbagai perlengkapan lain yang Tori tak yakin untuk apa. Masahiro menggamit tangan Tori dan mengaitkan jari-jari mereka saat melihat Tori celingukan bingung. “Ke sini.” ujarnya sambil menariknya untuk berbelok ke kiri. Mereka melewati beberapa pintu. Tampaknya cukup banyak pemotretan yang berlangsung hari itu. Ketika akhirnya sampai di studio yang dituju, Masahiro mendorong pintu metalik sampai membuka.
“Ohayo gozaimasssssu.” ujarnya ke seluruh ruangan dan langsung mendapat balasan dari berbagai arah.
Ruangan studio itu lebih kecil dari yang sebelumnya mereka lewati. Kru-nya pun tak banyak. Masahiro sudah cerita kalau hari ini tak akan melibatkan banyak orang. Meskipun begitu, semua orang di ruangan itu memandang ke arah mereka lalu tersenyum-senyum. Masahiro menariknya ke satu sudut ruangan, sepertinya tempat semua orang meletakkan barang-barang bawaan pribadi mereka karena banyak tas yang menumpuk di atas meja.
“Tori duduk di sini saja. Sebentar ya.” Masahiro langsung ngeloyor pergi di pojok lain ruangan dan membungkuk memberi salam pada beberapa orang. Tori duduk, menyilangkan kakinya dan memperhatikan ruangan itu. Backdrop, kamera, dan lampu sudah ditata. Kadang ada yang mondar-mandir memeriksa lampu atau kameranya. Di seberang tempat Tori duduk, seorang lelaki dan seorang perempuan sedang sibuk mengurus wardrobe. Di sudut lain lagi terbentang meja panjang yang bersinar karena dipasangi lampu di bagian bawahnya. Beberapa kamera, lensa dan sebuah laptop berlogo buah apel yang sudah digigit diletakkan di atasnya.
Pintu membuka lebar dan dua orang masuk membawa kereta saji berisi gelas-gelas kertas dengan logo lingkaran hijau yang mengeluarkan asap tipis. Semua orang langsung mengerubungi dan mengambil satu. Masahiro juga melakukan hal yang sama tapi dia mengambil dua gelas dan mendatangi Tori. Diangsurkannya satu pada Tori dan duduk di sebelah Tori.
“Belum harus siap-siap?” tanya Tori.
Masahiro melirik jam tangannya dan menghirup kopinya. “Sebentar lagi. Semua orang belum akan benar-benar kerja kalau kopinya belum datang.” Masahiro terkekeh.
Tori ikut tertawa mendengar kebiasaan antik itu. “Model satu lagi yang mana? Kamu bilang hanya akan ada dua kan hari ini?” tanyanya lagi.
Belum sempat Masahiro menjawab, seorang pria mendekat. Tubuhnya tinggi sekali dan rambutnya dicat coklat. Hidungnya agak bengkok dan gayanya flamboyan sekali. Satu tangannya memegang gelas kopi, yang satu lagi diselipkan ke dalam saku celananya. Pria itu memperhatikan Tori dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa malu-malu, tersenyum sedikit, lalu mengulurkan tangan.
“Yuzawa Kouichirou.” ujarnya menyebutkan nama.
Tori buru-buru berdiri dan menyambut uluran tangan itu. “Matsuzaka Tori.” Entah kenapa pria itu mengeluarkan aura yang berkesan kalau dia orang penting. Yuzawa-san mengangguk lalu memberi isyarat pada Masahiro untuk mengikutinya.
Dengan bingung, Tori menerima gelas kopi Masahiro sementara pemuda itu beranjak mengikuti pria itu ke tengah ruangan. Seorang pemuda lain menyusul dan mereka sibuk berdiskusi. Pria itu menunjuk-nunjuk sementara dua pemuda di depannya mengangguk-angguk sambil sesekali bergerak ke samping atau ke depan. Sebentar kemudian semua orang bergerak. Tori melihat Masahiro dan rekan modelnya itu berjalan ke arah meja rias sambil tertawa-tawa dan seorang penata rias dan seorang hair stylist langsung mengerubungi mereka. Bekerja cepat mengubah penampilan mereka.
Tori memperhatikan dengan penuh minat. Satu tangannya ditumpukan di atas lutut dan digunakan untuk menopang dagunya. Yuzawa-san sudah mengambil tempat, duduk di depan backdrop dan sibuk mengecek kamera. Sesekali kameranya dibidikkan pada sesuatu lalu mengerutkan keningnya sekilas saat mengecek hasilnya lewat LCD. Tiba-tiba lensa panjang itu mengarah padanya. Tori berkedip bingung dan Yuzawa-san mengedip padanya. Karena tak tahu harus bereaksi bagaimana, Tori hanya tersenyum.
Dan dia tak tahu harus bereaksi apa waktu melihat Masahiro berjalan ke arah rak berisi baju-baju, menerima sehelai yang diangsurkan oleh si penata busana dan ganti baju di tempat. Tanpa malu-malu Masahiro melepas kaus dan jeans belel-nya, memamerkan brief hitam ketatnya untuk dilihat semua orang dan mulai mengenakan kemeja putih dan celana bahan warna khaki. Wajah Tori bersemu merah dan sedikit cemburu. Tak rela karena ternyata selama ini orang lain, dan bukan hanya satu orang, biasa melihat Masahiro dalam kondisi setengah telanjang begitu. Model satunya menyusul, melakukan hal yang sama dan Tori harus membuang muka karena tak biasa melihat orang lain berganti baju di hadapannya.
Sebenarnya lucu juga karena dia kan dokter. Bukan sekali dua dia harus memeriksa pasien dalam kondisi tanpa busana. Tapi ini dan itu kan berbeda, Tori berpikir. Orang-orang itu kan pasien sementara yang di hadapannya bukan. Satu pacarnya dan satu lagi orang lain. Tori mulai merasa tak nyaman dan akhirnya memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.
Kepalanya baru terangkat lagi saat mendengar aba-aba kalau pemotretan akan dimulai. Masahiro sudah berdiri di tengah ruangan, si penata busana sedang menggulung lengan kemeja Masahiro sementara si hair stylist menyemprotkan sedikit hair-spray lagi ke rambut Masahiro. Tori memandang tak berkedip. Rambut Masahiro tidak di-styling begitu rupa, malahan hanya dibiarkan jatuh dan berkesan alami. Kemejanya sengaja ditata tak rapi, seperti orang yang baru saja pulang bekerja dan menarik ujung-ujungnya dengan asal-asalan dengan tiga kancing teratas dibiarkan terbuka. Celananya mendekap sempurna kaki panjang Masahiro yang tak bersepatu.
“Uwaaaa....” gumamnya tanpa sadar. Diangkatnya ponselnya dan diam-diam mengambil gambar Masahiro yang mulai berpose sesuai arahan Yuzawa-san.
Saat itulah Tori merasa dia jatuh cinta sekali lagi pada Masahiro. Anak bandel yang biasanya tak pernah serius itu sekarang terlihat begitu intens. Matanya terfokus pada kamera, mengikuti arahan dan tidak menoleh-noleh ke arah lain, juga tidak pada Tori yang duduk hanya beberapa meter darinya. Yuzawa-san mulai bersemangat dan turun dari bangku tinggi yang didudukinya dan mengambil foto dari jarak dekat. Yuzawa-san tersenyum lebar sambil menggoda Masahiro dan membuat pemuda itu mengeluarkan ekspresi yang hanya dilihat Tori kalau Masahiro sedang merayunya di tempat tidur.
Tori tak suka.
Helaan nafas lega meluncur saat Masahiro beranjak digantikan oleh model yang satu lagi. Tori tak terlalu peduli karena sibuk memperhatikan Masahiro yang sekali lagi berganti pakaian. Dia tertawa terbahak-bahak saat si penata busana menepuk-nepuk perutnya yang akhir-akhir ini semakin kencang. Tori merengut, mulai menyesal ikut. Seharusnya dia di rumah saja atau jalan-jalan dengan Tesshi, anjing kecil milik Masahiro yang baru diadopsi beberapa minggu lalu. Dia tak perlu melihat semua ini dan mengetahui kalau ternyata hal-hal yang selama ini dipikirnya hanya miliknya ternyata juga milik orang banyak.
Mood-nya memburuk di sesi kedua pemotretan itu. Kali ini kedua model itu berpose berdua dan entah kenapa Yuzawa-san terlihat makin senang kalau kedua modelnya makin menempel. Duduk saling membelakangi sambil bersandar ke punggung yang lain, berdiri berhadapan sambil saling lirik nakal, saling menumpukan lengan di pundak yang lain, pose-pose semacam itu. Tori sudah nyaris mau pergi saja ketika Yuzawa-san mengisyaratkan kalau mereka sudah selesai. Tori menghembuskan nafas yang ditahannya sejak tadi tanpa sadar. Tangannya juga terasa pegal karena menggenggam ponselnya dengan terlalu erat.
Semua orang sibuk mondar-mandir sementara kedua model itu berganti pakaian dengan baju mereka sendiri sambil sesekali membungkuk berterima kasih pada para kru yang menyapa. Masahiro juga tak langsung menghampiri Tori tapi ikut berkerumun di meja tempat kamera-kamera diletakkan. Yuzawa-san rupanya sedang melihat-lihat hasil jepretannya dan semua orang ingin melihat. Mereka tertawa-tawa sambil berkomentar.
Dengan perlahan, Tori mengambil tas Masahiro dan berjalan mendekati kerumunan itu. Untunglah Masahiro berdiri paling belakang, tak perlu ikut berdesak-desakan karena tinggi badannya. Ada senyum puas di bibir Masahiro. Tori berdiri di sisi kiri Masahiro dan menyelipkan jari-jari tangan kanannya ke antara jari-jari tangan kanan Masahiro dan menggenggam. Masahiro menoleh dan tersenyum lebar, balas menggenggam tangan Tori. Ditariknya tangan mereka ke belakang jadi Tori pun harus beringsut mendekat.
“Aah, ini pak dokter yang selalu kau banggakan itu ya?”
Mereka berdua menoleh dan melihat model yang satu lagi itu sedang tersenyum-senyum. Masahiro nyengir lebar. “Ini Matsuzaka Tori-sensei. Tori, ini temanku, Totani Kimito.”
Tori hanya bisa mengangguk karena tangannya masih digenggam Masahiro. “Doumo.” ujarnya.
Pemuda itu balas mengangguk, mengibaskan dua jarinya sambil mengerling. “Dia berisik sekali soal Sensei loh. Bekerja di Keigo ya? Dulu aku pernah ke sana karena keseleo.”
Tori mengedip-ngedipkan matanya. “Oooh, ya, ya. Sepertinya aku pernah melihatmu. Sekarang lengannya sudah tak apa-apa?”
Totani mengangguk-angguk. “Harus dibebat lama, tapi sekarang sudah oke lagi.”
Ganti Tori yang mengangguk-angguk. Dirasakannya Masahiro menggenggam tangannya dengan lebih erat. Tori menoleh. “Sudah boleh pulang?” tanyanya.
“Sudah lapar ya?” tanya Masahiro sambil nyengir dan Tori hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah pamit kiri-kanan dan sekali lagi jadi obyek foto dadakan Yuzawa, mereka akhirnya meninggalkan gedung itu. Masahiro melompat-lompat, terlihat ceria sekali.
“Tori mau makan di mana?” tanya Masahiro, masih tersenyum lebar tapi lalu keheranan karena Tori sudah berdiri dekat sekali di depannya. “Tori?”
Tori melingkarkan tangannya ke pinggang Masahiro dengan sedikit posesif. Masih kesal dan tak rela dengan apa yang dilihatnya di dalam sana. Masahiro miliknya. Cuma miliknya. Untuk urusan yang ini, Tori tak mau berbagi dengan siapapun.
Masahiro kebingungan. Disentuhnya pipi Tori dengan lembut dan bertanya dengan khawatir. “Kenapa? Sudah lapar sekali ya? Maaf ya, tadi kelamaan ya?”
Tori menggeleng. Masahiro tersenyum lega. “Jadi, mau makan di mana?” tanyanya lagi.
Tori mengeratkan pelukannya di pinggang Masahiro. “Kamar Masahiro saja.”
Kening Masahiro berkerut, antara heran dan ingin tertawa. “Tak ada makanan di kamarku.”
“Ada kok.” Tori beringsut semakin dekat dan menatap Masahiro dengan lapar. “Masahiro.”
Masahiro menelan ludah.
---
Sunday, November 14, 2010
[fanfic] AU Ma-kunxTori - Second Date
Title: Second Date (aish, sangat gak kreatif)
Author: Panda^^
Fandom: Kamen Rider DCD/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG-13
Warning: Boys kissing. BL. AU. You've been warned.
Disclaimer: I do not own anyone.
Note: Jiah, jadi nyambung terus gini. Buat Nei dan Icha yang sedang moe.
Beberapa bulan belakangan ini Masahiro kembali berkeliaran di rumah sakit. Kubota dan Kazuki sih senang-senang saja. Setidaknya mereka jadi tahu adiknya tidak keluyuran ke tempat yang tak jelas. Kazuki malah dengan polosnya bertanya apakah ini tandanya Masahiro mulai mempertimbangkan untuk ambil kuliah kedokteran. Toh, anak itu sekarang sudah kelas tiga. Pasti sebentar lagi akan ada panggilan konseling untuk memilih universitas. Ditanya begitu, Masahiro tertawa terbahak-bahak.
Sebaliknya, Kubota sepertinya langsung paham kalau adik bungsunya itu datang bukan untuk apa-apa kecuali menemui seorang dokter muda. Masahiro suka sekali monda-mandir di selasar sekitar tempat ruang praktek Tori berada. Kubota bahkan beberapa kali memergoki mereka sedang makan siang berdua atau sekedar ngobrol di bangku taman rumah sakit. Kalau ditegur, Masahiro akan langsung merengut sementara Matsuzaka hanya tersenyum sedikit malu-malu.
Sebenarnya, Masahiro tak peduli orang mau bilang apa. Dia suka pada Matsuzaka-sensei. Mau diapakan lagi? Matsuzaka-sensei saja tidak protes. Dokter tampan itu selalu meladeninya sambil tersenyum atau geleng-geleng kepala kalau menurutnya Masahiro sudah berkelakuan terlalu aneh. Tapi dia tak pernah benar-benar menolak atau mengusir Masahiro.
“Aku jarang punya teman ngobrol, jadi aku senang kok karena Inoue-kun mau menemaniku ngobrol.” Ujar Tori suatu hari saat Masahiro, sambil merengut sebal setelah ditegur oleh Kazuki untuk jangan sering-sering mengganggu Tori, bertanya apakah Tori merasa terganggu. Masahiro nyengir penuh kemenangan.
Saat ini Masahiro sedang mencari waktu untuk mengajak Tori berkencan lagi. Tori selalu bersikap sangat manis padanya sejak kencan makan malam mereka beberapa bulan yang lalu itu. Mereka sempat tak bertemu selama beberapa lama karena Masahiro sibuk ujian kenaikan kelas. Dia dilarang keras keluar rumah oleh Kubota. Jadi hal pertama yang dilakukan Masahiro ketika bertemu Tori lagi adalah meminta nomor telepon dan email dokter itu.
“Aku tak ingin Matsuzaka-sensei lupa padaku.” Kilah Masahiro sambil memasukkan nomor teleponnya sendiri ke handphone Tori, menolak untuk melihat Tori karena tak ingin ketahuan wajahnya memerah.
Tori menghela nafas. “Kalaupun lupa, tak akan dalam waktu dekat ini. Anak bandel.” ujarnya sambil menyentil ujung hidung Masahiro. Sedikit terlalu mesra dan wajah Masahiro makin memerah karenanya.
Sejak itu tidak ada hari tanpa SMS, email dan terkadang telepon. Masahiro akan merengut saat pesannya tak dibalas karena Tori sedang sibuk luar biasa dan Tori harus menggigit bibir menahan tawa karena pesan Masahiro yang berisi cerita lucu tentang salah satu kakaknya yang sedang berdiri di depan ruangan memberi seminar.
Siang itu pun Masahiro muncul di rumah sakit. Dia bersiul-siul sambil menenteng sekotak cream puff. Hari sebelumnya, Tori bilang kalau dia sedang ingin sekali makan cream puff tapi belum kesampaian karena selalu pulang larut jadi tak sempat mampir ke toko kue. Masahiro mencari Tori di ruangannya tapi langsung kecewa begitu diberitahu oleh Sota-sensei kalau Tori baru saja masuk ruang operasi.
Tak bisa berbuat apa-apa dan sadar kalau operasi tak akan selesai dalam waktu setengah jam, Masahiro beranjak ke kafetarian. Untung saja dia membawa laptop hari itu. Masahiro langsung menyibukkan diri dengan browsing dan bermain game.
Tori keluar dari ruang operasi sambil melepaskan maskernya dan mendekati keluarga pasien yang menunggu di selasar. Dengan pelan dan menggunakan bahasa yang sebisa mungkin dimengerti, Tori menjelaskan kondisi pasiennya. Untung saja bukan kabar buruk karena hanya operasi kaki tapi dia harus menjelaskan kalau setelah ini si pasien harus menjalani rehabilitasi dan meminta keluarganya untuk memberi dukungan penuh. Setelah itu dia kembali ke ruangannya, senang karena susternya sudah menyediakan secangkir teh hangat di atas meja. Suster itu juga memberitahu kalau tadi Masahiro datang mencarinya tak lama setelah dia pergi ke ruang operasi. Tori melirik jam dinding. Sudah nyaris jam 4 sore. Mungkin anak itu sudah pulang, pikir Tori. Tapi diraihnya handphone-nya dan mulai mengetik pesan
Maaf ya. Aku baru selesai. Sudah pulang ya?
Balasannya langsung datang. Sebuah pesan dengan foto sekotak cream puff yang tampak gendut menggoda menghiasi layar telepon Tori. Di bawahnya tertulis:
Aku di kafetaria. Kalau tak datang dalam waktu 5 menit, cream puff-nya kubuang.
Antara senang karena Masahiro ingat kalau Tori sedang ingin cream puff dan geli karena kelakukannya, Tori hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyusul ke kafetaria 20 menit kemudian. Seperti biasa, dimanapun Masahiro berada, dia selalu menarik perhatian. Tori bisa melihat sekelompok suster, beberapa pasien dan keluarga pasien mencuri-curi pandang ke arah pemuda jangkung itu. Kakinya disilangkan dan ekspresinya acuh tapi justru itu yang membuat Masahiro kelihatan keren. Beberapa, yang merasa kenal, mencoba menyapanya dan hanya dibalas dengan anggukan kecil.
Tori mendekatinya dan menepuk pelan bahu Masahiro. “Inoue-kun.”
Ekspresi Masahiro langsung cerah meskipun dia merengut sok marah. “Lama~”
Tori tertawa. “Maaf, maaf. Ada yang harus kubereskan dulu. Cream puff-nya masih ada kan?” Tori menjulurkan wajahnya untuk mengintip kotak cream puff di dekat tangan Masahiro sampai wajahnya hanya tinggal beberapa inci saja dari wajah Masahiro.
Masahiro mendengus, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mulai berpacu tak beraturan lagi. Diambilnya satu cream puff dan dijejalkan ke mulut Tori. Tori tertawa nyaris tersedak dan memukul pemuda itu. Sekeliling mereka berbisik-bisik dan Tori senang melihat ekspresi iri di wajah mereka. Tori pun dengan sengaja mengambil duduk di sebelah Masahiro. Lagi-lagi badannya dicondongkan untuk mengintip apa yang sedang dilakukan Masahiro dengan laptopnya sementara mulutnya sibuk mengunyah.
“Tidak lihat website untuk orang dewasa, kan?” goda Tori sambil nyengir.
Masahiro menutup laptopnya. Menoleh dengan pelan sekali, diam-diam menikmati lengan Tori yang menempel dengan lengannya. “Kalaupun iya, bukan urusan Sensei kan?”
“Urusanku, dong. Aku dokter di sini. Tentu saja aku berhak menegur anak bandel yang mau berbuat aneh-aneh di sini. Tak peduli dia adik direktur rumah sakit sekalipun.”
Masahiro mendengus. “Tidak bisa ya, tidak melihatku sebagai anak kecil?”
Tori menatapnya, mengunyah dan menelan pelan-pelan. “Memangnya Inoue-kun mau dianggap apa?”
Masahiro menopang dagunya. “Entahlah. Seseorang yang mau mengajak Sensei kencan lagi, mungkin?”
Tori berkedip. “Eh?”
Masahiro mengangkat sebelah alisnya.
Tori mengambil sepotong cream puff lagi. “Hari ini?”
Masahiro mengangkat bahu.
“Aku masih ada janji konsultasi setelah ini.”
“Aku tidak masalah kok menunggu.” ujar Masahiro dan Tori tak bisa (sebenarnya dia juga tak mau) menolak.
Kali ini Masahiro tidak mengganti seragamnya. Dia hanya melepas rompi dan dasinya. Lengan kemejanya digulung sampai siku dan satu kancing teratasnya dibuka. Tori menemuinya sedang ngobrol dengan seorang pemuda yang nayris sama jangkung dengan Masahiro. Belum sempat Tori mendekat, pemuda itu sudah berlalu pergi. Gaya acuhnya sedikit mirip dengan Masahiro.
“Kenalanmu?” tanya Tori sambil berdiri di sebelah Masahiro dan mengangguk pada pemuda yang baru saja berlalu pergi itu. Saat itu Tori melihat kalau pemuda itu lengan kirinya dibebat. Seorang pemuda lain berwajah manis menyejajari pemuda itu dan sibuk menasehati sementara si jangkung itu hanya melengos.
Masahiro mengangguk. “Satu agensi denganku. Beberapa hari yang lalu lengannya keseleo.”
“Oh. Tampan ya.” komentar Tori sekenanya.
Masahiro merengut tak senang. Dia langsung berjalan mendului Tori. “Ayo.”
“Inoue-kun,” Tori menyejajari Masahiro. “Tak ada salahnya loh kali ini memberitahuku kita mau ke mana. Kok dua kali pergi denganmu, aku tak pernah tahu kita mau ke mana.” Tori menahan tawa.
Masahiro menghentikan langkahnya lalu menatap Tori dengan serius. “Aku mau ke rumah Sensei.”
Tori hanya balas menatap pemuda jangkung di hadapannya.
“Tidak boleh?” Masahiro meringis.
“Umh, bukannya tidak boleh, tapi...” Tori menggigit bibir.
“Tidak boleh juga tidak apa-apa, kok.” Masahiro pasang tampang kecewa.
Tori jadi tersenyum dan menepuk pelan dada Masahiro. “Dengarkan dulu orang bicara, dong. Aku tak punya apa-apa di rumah jadi kita belanja dulu ya.”
Masahiro langsung mengangguk antusias.
Masahiro berkedip begitu pintu ke apartemen Tori terbuka. Apartemen itu tak lebih luas dari kamarnya. Dari pintu saja Masahiro sudah bisa melihat ruang tamu, dapur dan beberapa pintu yang membuka entah ke mana. Tori menjawil lengannya.
“Ayo, masuk. Aku tahu ini tidak seberapa tapi kan Inoue-kun yang minta kemari.” ujar Tori sambil menutup pintu di belakang mereka. “Pakai sandal yang ini ya.” Tori menunjuk ke selop rumah berwarna merah yang diletakkan di genkan. Masahiro hanya mengangguk, berkedip pelan saat bahu Tori menabrak pelan dadanya ketika dokter itu melewatinya.
Tori meletakkan belanjaannya di meja makan dan sibuk membuka-buku lemari mencari gelas bersih. Dia belum sempat cuci piring tadi pagi. Masahiro akhirnya menyusul masuk dan celingukan sebentar sebelum akhirnya duduk di sofa di depan televisi. Apartemen itu memang tidak besar tapi rapi sekali. Sebuah pintu di dekat televisi terbuka dan kalau Masahiro menjulurkan kepalanya, dia bisa melihat ujung tempat tidur. Sepertinya itu kamar Tori dan Masahiro tak buang waktu untuk mengintip ke sana. Kamar itu pun rapi, meskipun tempat tidurnya agak sedikit berantakan. Sepertinya Tori tak sempat merapikan sebelum pergi kerja tadi pagi. Beberapa buku disusun rapi di dekat jendela. Dindingnya dicat warna salem. Terkesan kalem dan tenang sekali. Tak sadar, tangan Masahiro mendorong pelan pintu untuk melihat lebih jelas.
“I.no.u.e.ku.n~”
Masahiro tersentak dan menoleh. Tori berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang. “Tidak sopan mengintip begitu.” Tori langsung maju dan menutup pintu kamarnya. Masahiro merengut.
“Habis pintunya terbuka, sih.” kilah pemuda itu sambil duduk lagi di sofa.
Tori menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu pribadi, mengerti?”
Masahiro menunduk. “Hai.”
“Bagus. Sekarang duduk saja yang manis. Aku akan buat sesuatu. Inoue-kun lapar kan?” ujar Tori sambil berlalu ke dapur yang cuma berjarak beberapa langkah dari sofa itu.
Masahiro mengangguk. Karena tak tahu harus berbuat apa dan mulai merasa bosan, Masahiro akhirnya bangkit dan duduk di meja makan. Diperhatikannya Tori mengenakan celemek dan mulai sibuk dengan bahan makanan yang tadi mereka beli.
“Matsuzaka-sensei selalu masak sendiri ya?” celetuknya.
Tori menjawab tanpa menoleh. “Hm? Sudah biasa kok. Aku tinggal sendiri sejak kuliah jadi mau tak mau harus begini. Kalau sedang tak sempat sih pesan makanan tapi kan terlalu mahal kalau beli terus.”
Masahiro mengangguk-angguk meskipun tak mengerti. Dia tak pernah merasakan hidup seperti itu. Sejak kecil semuanya serba ada dan dia tak pernah susah. Minta apapun pasti akan terkabul. Kadang kalau Ibunya sedang ada di rumah, Masahiro suka melihatnya berada di dapur membuat sesuatu tapi hanya kue-kue kecil saja karena Ibunya tak punya banyak waktu. Sainei juga suka memasak tapi Masahiro tak pernah memperhatikan. Untuk apa pula dia nongkrong di dapur dan memperhatikan kakaknya masak? Tapi memperhatikan Tori sibuk seperti itu, Masahiro merasa aneh sekaligus kagum sekaligus dibuat sadar kalau dunianya ternyata berbeda sekali dengan dunia Tori.
“Tidak minta dikirimkan pelayan dari rumah?” tanya Masahiro lagi.
Tori tertawa. “Aku yakin Ibuku akan membantingku kalau aku minta dikirimkan pelayan.” Dia menggelengkan kepala lalu melanjutkan pekerjaannya menumis. Keluarganya mampu sih, tapi apa gunanya dia berkeras hidup sendiri kalau ujung-ujungnya masih minta diakomodasi keluarganya?
“Sudah jadiii~” ujar Tori dengan ceria sambil meletakkan sepiring tumisan daging dan sayur ke hadapan Masahiro. “Sini, bantu aku.” ujar Tori lagi sambil menggeret lengan Masahiro, menunjukkan letak mangkuk nasi dan sumpit dan menyuruhnya menata meja sementara dia sendiri mengurus sup miso. Untunglah dia masih punya nasi putih di rice cooker.
“Seadanya saja ya.” Tori melepaskan celemeknya dan duduk di sisi kanan Masahiro dan mulai mengambilkan nasi.
Masahiro memandang menu makan malam yang sangat sederhana itu dengan penuh minat. Tori jadi tersenyum melihat Masahiro yang sempat ragu, mencicip sedikit lalu mulai makan dengan lahap.
“Enak?” tanyanya dan dijawab Masahiro dengan anggukan antusias karena mulutnya penuh nasi.
Tori tersenyum senang. Tangannya terjulur menjumput nasi yang menempel di pipi Masahiro dan memasukkan nasi itu ke mulutnya sendiri. Masahiro tertegun dan wajahnya langsung terasa panas.
Selesai makan, Masahiro berdiri di belakang Tori, mengamatinya mencuci piring. Tori harus berkali-kali menyikutnya agar minggir karena punggungnya jadi bertabrakan dengan dada Masahiro terus. Masahiro akhirnya menyingkir dan melipir ke sofa. Belum pernah dia merasa sekenyang ini. Wajar saja karena dia tadi menambah nasi sampai tiga kali. Tori menyusulnya ke sofa dan mengangsurkan segelas teh hangat pada tamunya. Masahiro menggumamkan terima kasih sambil beringsut memberi tempat untuk Tori di sebelahnya.
“Apa?” tanyanya saat melihat Tori tersenyum-senyum geli.
Tori menggeleng. “Tak apa-apa. Hanya lucu saja kalau ternyata Inoue-kun juga suka kencan model begini ya?”
Masahiro menggaruk kepalanya. “Memangnya aneh ya?”
Tori ganti menggeleng. “Tidak, kok. Aku justru lebih senang yang seperti ini.” Dia tersenyum sambil menyesap tehnya. Kedua kakinya diangkat ke sofa sementara punggungnya bersandar santai.
Masahiro memutar-mutar gelas teh di tangannya. “Berarti, aku bukan orang pertama yang mengajak Sensei kencan seperti ini ya?” tanyanya pelan. Ada sedikit nada kecewa di suaranya.
Tori menatap pemuda itu lekat-lekat dan menggeleng. “Aku kan sudah bilang kalau aku pernah pacar.” jawabnya.
“Hmm.” gumam Masahiro.
Tori memiringkan kepalanya, berusaha melihat wajah Masahiro. “Memangnya, Inoue-kun tidak pernah mengajak pacar-pacar Inoue-kun ke kamar?” tanyanya setengah geli.
“Yah, pernah sih.” Masahiro terpaksa mengaku.
Tori mencubit pipi Masahiro dengan gemas. “Sama saja kan kalau begitu?” tanyanya. Ada perasaan geli di perut Tori. Dia tahu mengarah ke mana pembicaraan ini tapi akal sehatnya masih berusaha mengingatkan kalau pemuda di sampingnya itu mungkin tidak serius-serius sekali. Kalau dia menanggapi lebih dari ini, mungkin Tori akan berakhir dengan sakit hati. Dia suka terlalu terbawa suasana dan hilang kendali membiarkan dirinya jadi terlalu suka atau bahkan sampai terlalu sayang pada seseorang. Tapi Masahiro lucu sekali dan Tori mulai benar-benar menyukai anak itu.
Tori menarik nafas panjang saat tangan Masahiro menyentuh tangannya yang masih menempel di pipi pemuda itu. Masahiro menarik pelan tangannya dan saat bibirnya menyentuh telapak tangan Tori, Tori menahan nafas dan menggigit bibirnya.
Tori tahu, pada satu titik, dia harus menghentikan semua ini. Kalau dia tak berniat serius atau Masahiro yang tak berniat serius, Tori harus bersikap tegas. Dia tak ingin merasa dipermainkan atau malahan dituduh mempermainkan perasaan Masahiro. Dia harus berbuat sesuatu. Tapi entah kenapa dia tak berbuat apa-apa saat bibir Masahiro menyentuh pergelangan tangannya, mengecup dengan lembut dan melirik ke arahnya dengan penuh arti.
Wajah Tori memerah, mendadak jadi begitu tak nyaman dan salah tingkah. Akhirnya Tori berhasil menarik pelan tangannya. Itu pun harus mengerahkan segenap tenaga. Tapi Masahiro masih menatapnya dengan intens. Tori langsung merasa pusing. Diletakkannya cangkir teh ke atas meja dan nyaris terlonjak karena mendadak wajah Masahiro sudah ada di sebelahnya. Masahiro meletakkan tangannya di pundak Tori dan mendorongnya lembut sampai Tori harus rebah dan Masahiro membungkuk di atasnya. Dengan perlahan sekali, Masahiro mendekatkan wajahnya dan berhenti saat ujung hidung mereka hanya berjarak beberapa mili.
Tori tak bisa mengalihkan pandangannya. Masahiro bernafas sangat pelan. Matanya bergerak dari menatap mata Tori lalu turun ke bibirnya lalu kembali memandang Tori lagi.
“Inoue-kun,” bisik Tori dengan suara parau.
“Ya?”
“Sedang apa?”
“Mencium Sensei.” dan Masahiro menyentuhkan bibirnya dengan bibir Tori dengan sangat pelan dan lembut.
Tori menarik nafas. Tak yakin dengan apa yang sedang terjadi sampai dia mendengar dirinya mengerang pelan saat Masahiro menghisap pelan bibir bawahnya. Tangannya bergerak di luar keinginannya, melingkar ke leher Masahiro dan akhirnya membuka bibirnya, membiarkan Masahiro menciumnya.
Tori tahu dia tak bisa mundur lagi setelah ini.
Masahiro menutup matanya dan menempelkan keningnya ke kening Tori. Tori berusaha mengatur nafasnya dan kembali menarik nafas panjang saat Masahiro menciumnya lagi. Tangan Masahiro mulai berani mengelus bagian samping tubuh Tori tapi tak melakukan lebih dari itu sementara Tori hanya sanggup mengelus rambut kecoklatan pemuda itu. Ada sesuatu yang menyala di dalam diri Tori ketika mereka berciuman lagi. Sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya karena pupus tertutup sakit hati. Tangan Tori bergerak mengelus pipi Masahiro dan mereka berhenti berciuman, saling bertatapan selama beberapa lama sebelum akhirnya Masahiro menjauh.
“Maaf.” Bisiknya dengan rasa bersalah. Masahiro duduk tegak lagi tapi tak benar-benar menjauh dari Tori.
Tori ikut menegakkan badannya dan menyandarkan keningnya ke bahu Masahiro. “Aku tidak keberatan kok.”
Masahiro menoleh padanya, matanya penuh dengan harapan yang tidak ditutup-tutupi. Tori jadi merasa makin tak karuan. Dikecupnya pelan pipi Masahiro. “Sudah malam. Besok harus sekolah kan?”
Masahiro tak bisa lebih sebal lagi mendengar kalimat itu tapi dia tak bisa membantah. Sebenarnya sejak tadi teleponnya sudah bergetar terus menerus di dalam kantongnya. Itu pasti salah satu kakak-kakaknya mencarinya. Kalau tak pulang atau tak memberi kabar, mereka pasti akan memanggil polisi. Masahiro tahu dia sudah cukup merepotkan Tori. Setelah mengecup Tori sekali lagi, Masahiro akhirnya berdiri dan mengambil tasnya.
Masahiro menoleh sekali lagi sebelum Tori menutup pintu. “Aku... masih boleh bertemu Matsuzaka-sensei kan?”
Tori tersenyum manis sekali.
Sebaliknya, Kubota sepertinya langsung paham kalau adik bungsunya itu datang bukan untuk apa-apa kecuali menemui seorang dokter muda. Masahiro suka sekali monda-mandir di selasar sekitar tempat ruang praktek Tori berada. Kubota bahkan beberapa kali memergoki mereka sedang makan siang berdua atau sekedar ngobrol di bangku taman rumah sakit. Kalau ditegur, Masahiro akan langsung merengut sementara Matsuzaka hanya tersenyum sedikit malu-malu.
Sebenarnya, Masahiro tak peduli orang mau bilang apa. Dia suka pada Matsuzaka-sensei. Mau diapakan lagi? Matsuzaka-sensei saja tidak protes. Dokter tampan itu selalu meladeninya sambil tersenyum atau geleng-geleng kepala kalau menurutnya Masahiro sudah berkelakuan terlalu aneh. Tapi dia tak pernah benar-benar menolak atau mengusir Masahiro.
“Aku jarang punya teman ngobrol, jadi aku senang kok karena Inoue-kun mau menemaniku ngobrol.” Ujar Tori suatu hari saat Masahiro, sambil merengut sebal setelah ditegur oleh Kazuki untuk jangan sering-sering mengganggu Tori, bertanya apakah Tori merasa terganggu. Masahiro nyengir penuh kemenangan.
Saat ini Masahiro sedang mencari waktu untuk mengajak Tori berkencan lagi. Tori selalu bersikap sangat manis padanya sejak kencan makan malam mereka beberapa bulan yang lalu itu. Mereka sempat tak bertemu selama beberapa lama karena Masahiro sibuk ujian kenaikan kelas. Dia dilarang keras keluar rumah oleh Kubota. Jadi hal pertama yang dilakukan Masahiro ketika bertemu Tori lagi adalah meminta nomor telepon dan email dokter itu.
“Aku tak ingin Matsuzaka-sensei lupa padaku.” Kilah Masahiro sambil memasukkan nomor teleponnya sendiri ke handphone Tori, menolak untuk melihat Tori karena tak ingin ketahuan wajahnya memerah.
Tori menghela nafas. “Kalaupun lupa, tak akan dalam waktu dekat ini. Anak bandel.” ujarnya sambil menyentil ujung hidung Masahiro. Sedikit terlalu mesra dan wajah Masahiro makin memerah karenanya.
Sejak itu tidak ada hari tanpa SMS, email dan terkadang telepon. Masahiro akan merengut saat pesannya tak dibalas karena Tori sedang sibuk luar biasa dan Tori harus menggigit bibir menahan tawa karena pesan Masahiro yang berisi cerita lucu tentang salah satu kakaknya yang sedang berdiri di depan ruangan memberi seminar.
Siang itu pun Masahiro muncul di rumah sakit. Dia bersiul-siul sambil menenteng sekotak cream puff. Hari sebelumnya, Tori bilang kalau dia sedang ingin sekali makan cream puff tapi belum kesampaian karena selalu pulang larut jadi tak sempat mampir ke toko kue. Masahiro mencari Tori di ruangannya tapi langsung kecewa begitu diberitahu oleh Sota-sensei kalau Tori baru saja masuk ruang operasi.
Tak bisa berbuat apa-apa dan sadar kalau operasi tak akan selesai dalam waktu setengah jam, Masahiro beranjak ke kafetarian. Untung saja dia membawa laptop hari itu. Masahiro langsung menyibukkan diri dengan browsing dan bermain game.
Tori keluar dari ruang operasi sambil melepaskan maskernya dan mendekati keluarga pasien yang menunggu di selasar. Dengan pelan dan menggunakan bahasa yang sebisa mungkin dimengerti, Tori menjelaskan kondisi pasiennya. Untung saja bukan kabar buruk karena hanya operasi kaki tapi dia harus menjelaskan kalau setelah ini si pasien harus menjalani rehabilitasi dan meminta keluarganya untuk memberi dukungan penuh. Setelah itu dia kembali ke ruangannya, senang karena susternya sudah menyediakan secangkir teh hangat di atas meja. Suster itu juga memberitahu kalau tadi Masahiro datang mencarinya tak lama setelah dia pergi ke ruang operasi. Tori melirik jam dinding. Sudah nyaris jam 4 sore. Mungkin anak itu sudah pulang, pikir Tori. Tapi diraihnya handphone-nya dan mulai mengetik pesan
Maaf ya. Aku baru selesai. Sudah pulang ya?
Balasannya langsung datang. Sebuah pesan dengan foto sekotak cream puff yang tampak gendut menggoda menghiasi layar telepon Tori. Di bawahnya tertulis:
Aku di kafetaria. Kalau tak datang dalam waktu 5 menit, cream puff-nya kubuang.
Antara senang karena Masahiro ingat kalau Tori sedang ingin cream puff dan geli karena kelakukannya, Tori hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyusul ke kafetaria 20 menit kemudian. Seperti biasa, dimanapun Masahiro berada, dia selalu menarik perhatian. Tori bisa melihat sekelompok suster, beberapa pasien dan keluarga pasien mencuri-curi pandang ke arah pemuda jangkung itu. Kakinya disilangkan dan ekspresinya acuh tapi justru itu yang membuat Masahiro kelihatan keren. Beberapa, yang merasa kenal, mencoba menyapanya dan hanya dibalas dengan anggukan kecil.
Tori mendekatinya dan menepuk pelan bahu Masahiro. “Inoue-kun.”
Ekspresi Masahiro langsung cerah meskipun dia merengut sok marah. “Lama~”
Tori tertawa. “Maaf, maaf. Ada yang harus kubereskan dulu. Cream puff-nya masih ada kan?” Tori menjulurkan wajahnya untuk mengintip kotak cream puff di dekat tangan Masahiro sampai wajahnya hanya tinggal beberapa inci saja dari wajah Masahiro.
Masahiro mendengus, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mulai berpacu tak beraturan lagi. Diambilnya satu cream puff dan dijejalkan ke mulut Tori. Tori tertawa nyaris tersedak dan memukul pemuda itu. Sekeliling mereka berbisik-bisik dan Tori senang melihat ekspresi iri di wajah mereka. Tori pun dengan sengaja mengambil duduk di sebelah Masahiro. Lagi-lagi badannya dicondongkan untuk mengintip apa yang sedang dilakukan Masahiro dengan laptopnya sementara mulutnya sibuk mengunyah.
“Tidak lihat website untuk orang dewasa, kan?” goda Tori sambil nyengir.
Masahiro menutup laptopnya. Menoleh dengan pelan sekali, diam-diam menikmati lengan Tori yang menempel dengan lengannya. “Kalaupun iya, bukan urusan Sensei kan?”
“Urusanku, dong. Aku dokter di sini. Tentu saja aku berhak menegur anak bandel yang mau berbuat aneh-aneh di sini. Tak peduli dia adik direktur rumah sakit sekalipun.”
Masahiro mendengus. “Tidak bisa ya, tidak melihatku sebagai anak kecil?”
Tori menatapnya, mengunyah dan menelan pelan-pelan. “Memangnya Inoue-kun mau dianggap apa?”
Masahiro menopang dagunya. “Entahlah. Seseorang yang mau mengajak Sensei kencan lagi, mungkin?”
Tori berkedip. “Eh?”
Masahiro mengangkat sebelah alisnya.
Tori mengambil sepotong cream puff lagi. “Hari ini?”
Masahiro mengangkat bahu.
“Aku masih ada janji konsultasi setelah ini.”
“Aku tidak masalah kok menunggu.” ujar Masahiro dan Tori tak bisa (sebenarnya dia juga tak mau) menolak.
Kali ini Masahiro tidak mengganti seragamnya. Dia hanya melepas rompi dan dasinya. Lengan kemejanya digulung sampai siku dan satu kancing teratasnya dibuka. Tori menemuinya sedang ngobrol dengan seorang pemuda yang nayris sama jangkung dengan Masahiro. Belum sempat Tori mendekat, pemuda itu sudah berlalu pergi. Gaya acuhnya sedikit mirip dengan Masahiro.
“Kenalanmu?” tanya Tori sambil berdiri di sebelah Masahiro dan mengangguk pada pemuda yang baru saja berlalu pergi itu. Saat itu Tori melihat kalau pemuda itu lengan kirinya dibebat. Seorang pemuda lain berwajah manis menyejajari pemuda itu dan sibuk menasehati sementara si jangkung itu hanya melengos.
Masahiro mengangguk. “Satu agensi denganku. Beberapa hari yang lalu lengannya keseleo.”
“Oh. Tampan ya.” komentar Tori sekenanya.
Masahiro merengut tak senang. Dia langsung berjalan mendului Tori. “Ayo.”
“Inoue-kun,” Tori menyejajari Masahiro. “Tak ada salahnya loh kali ini memberitahuku kita mau ke mana. Kok dua kali pergi denganmu, aku tak pernah tahu kita mau ke mana.” Tori menahan tawa.
Masahiro menghentikan langkahnya lalu menatap Tori dengan serius. “Aku mau ke rumah Sensei.”
Tori hanya balas menatap pemuda jangkung di hadapannya.
“Tidak boleh?” Masahiro meringis.
“Umh, bukannya tidak boleh, tapi...” Tori menggigit bibir.
“Tidak boleh juga tidak apa-apa, kok.” Masahiro pasang tampang kecewa.
Tori jadi tersenyum dan menepuk pelan dada Masahiro. “Dengarkan dulu orang bicara, dong. Aku tak punya apa-apa di rumah jadi kita belanja dulu ya.”
Masahiro langsung mengangguk antusias.
Masahiro berkedip begitu pintu ke apartemen Tori terbuka. Apartemen itu tak lebih luas dari kamarnya. Dari pintu saja Masahiro sudah bisa melihat ruang tamu, dapur dan beberapa pintu yang membuka entah ke mana. Tori menjawil lengannya.
“Ayo, masuk. Aku tahu ini tidak seberapa tapi kan Inoue-kun yang minta kemari.” ujar Tori sambil menutup pintu di belakang mereka. “Pakai sandal yang ini ya.” Tori menunjuk ke selop rumah berwarna merah yang diletakkan di genkan. Masahiro hanya mengangguk, berkedip pelan saat bahu Tori menabrak pelan dadanya ketika dokter itu melewatinya.
Tori meletakkan belanjaannya di meja makan dan sibuk membuka-buku lemari mencari gelas bersih. Dia belum sempat cuci piring tadi pagi. Masahiro akhirnya menyusul masuk dan celingukan sebentar sebelum akhirnya duduk di sofa di depan televisi. Apartemen itu memang tidak besar tapi rapi sekali. Sebuah pintu di dekat televisi terbuka dan kalau Masahiro menjulurkan kepalanya, dia bisa melihat ujung tempat tidur. Sepertinya itu kamar Tori dan Masahiro tak buang waktu untuk mengintip ke sana. Kamar itu pun rapi, meskipun tempat tidurnya agak sedikit berantakan. Sepertinya Tori tak sempat merapikan sebelum pergi kerja tadi pagi. Beberapa buku disusun rapi di dekat jendela. Dindingnya dicat warna salem. Terkesan kalem dan tenang sekali. Tak sadar, tangan Masahiro mendorong pelan pintu untuk melihat lebih jelas.
“I.no.u.e.ku.n~”
Masahiro tersentak dan menoleh. Tori berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang. “Tidak sopan mengintip begitu.” Tori langsung maju dan menutup pintu kamarnya. Masahiro merengut.
“Habis pintunya terbuka, sih.” kilah pemuda itu sambil duduk lagi di sofa.
Tori menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu pribadi, mengerti?”
Masahiro menunduk. “Hai.”
“Bagus. Sekarang duduk saja yang manis. Aku akan buat sesuatu. Inoue-kun lapar kan?” ujar Tori sambil berlalu ke dapur yang cuma berjarak beberapa langkah dari sofa itu.
Masahiro mengangguk. Karena tak tahu harus berbuat apa dan mulai merasa bosan, Masahiro akhirnya bangkit dan duduk di meja makan. Diperhatikannya Tori mengenakan celemek dan mulai sibuk dengan bahan makanan yang tadi mereka beli.
“Matsuzaka-sensei selalu masak sendiri ya?” celetuknya.
Tori menjawab tanpa menoleh. “Hm? Sudah biasa kok. Aku tinggal sendiri sejak kuliah jadi mau tak mau harus begini. Kalau sedang tak sempat sih pesan makanan tapi kan terlalu mahal kalau beli terus.”
Masahiro mengangguk-angguk meskipun tak mengerti. Dia tak pernah merasakan hidup seperti itu. Sejak kecil semuanya serba ada dan dia tak pernah susah. Minta apapun pasti akan terkabul. Kadang kalau Ibunya sedang ada di rumah, Masahiro suka melihatnya berada di dapur membuat sesuatu tapi hanya kue-kue kecil saja karena Ibunya tak punya banyak waktu. Sainei juga suka memasak tapi Masahiro tak pernah memperhatikan. Untuk apa pula dia nongkrong di dapur dan memperhatikan kakaknya masak? Tapi memperhatikan Tori sibuk seperti itu, Masahiro merasa aneh sekaligus kagum sekaligus dibuat sadar kalau dunianya ternyata berbeda sekali dengan dunia Tori.
“Tidak minta dikirimkan pelayan dari rumah?” tanya Masahiro lagi.
Tori tertawa. “Aku yakin Ibuku akan membantingku kalau aku minta dikirimkan pelayan.” Dia menggelengkan kepala lalu melanjutkan pekerjaannya menumis. Keluarganya mampu sih, tapi apa gunanya dia berkeras hidup sendiri kalau ujung-ujungnya masih minta diakomodasi keluarganya?
“Sudah jadiii~” ujar Tori dengan ceria sambil meletakkan sepiring tumisan daging dan sayur ke hadapan Masahiro. “Sini, bantu aku.” ujar Tori lagi sambil menggeret lengan Masahiro, menunjukkan letak mangkuk nasi dan sumpit dan menyuruhnya menata meja sementara dia sendiri mengurus sup miso. Untunglah dia masih punya nasi putih di rice cooker.
“Seadanya saja ya.” Tori melepaskan celemeknya dan duduk di sisi kanan Masahiro dan mulai mengambilkan nasi.
Masahiro memandang menu makan malam yang sangat sederhana itu dengan penuh minat. Tori jadi tersenyum melihat Masahiro yang sempat ragu, mencicip sedikit lalu mulai makan dengan lahap.
“Enak?” tanyanya dan dijawab Masahiro dengan anggukan antusias karena mulutnya penuh nasi.
Tori tersenyum senang. Tangannya terjulur menjumput nasi yang menempel di pipi Masahiro dan memasukkan nasi itu ke mulutnya sendiri. Masahiro tertegun dan wajahnya langsung terasa panas.
Selesai makan, Masahiro berdiri di belakang Tori, mengamatinya mencuci piring. Tori harus berkali-kali menyikutnya agar minggir karena punggungnya jadi bertabrakan dengan dada Masahiro terus. Masahiro akhirnya menyingkir dan melipir ke sofa. Belum pernah dia merasa sekenyang ini. Wajar saja karena dia tadi menambah nasi sampai tiga kali. Tori menyusulnya ke sofa dan mengangsurkan segelas teh hangat pada tamunya. Masahiro menggumamkan terima kasih sambil beringsut memberi tempat untuk Tori di sebelahnya.
“Apa?” tanyanya saat melihat Tori tersenyum-senyum geli.
Tori menggeleng. “Tak apa-apa. Hanya lucu saja kalau ternyata Inoue-kun juga suka kencan model begini ya?”
Masahiro menggaruk kepalanya. “Memangnya aneh ya?”
Tori ganti menggeleng. “Tidak, kok. Aku justru lebih senang yang seperti ini.” Dia tersenyum sambil menyesap tehnya. Kedua kakinya diangkat ke sofa sementara punggungnya bersandar santai.
Masahiro memutar-mutar gelas teh di tangannya. “Berarti, aku bukan orang pertama yang mengajak Sensei kencan seperti ini ya?” tanyanya pelan. Ada sedikit nada kecewa di suaranya.
Tori menatap pemuda itu lekat-lekat dan menggeleng. “Aku kan sudah bilang kalau aku pernah pacar.” jawabnya.
“Hmm.” gumam Masahiro.
Tori memiringkan kepalanya, berusaha melihat wajah Masahiro. “Memangnya, Inoue-kun tidak pernah mengajak pacar-pacar Inoue-kun ke kamar?” tanyanya setengah geli.
“Yah, pernah sih.” Masahiro terpaksa mengaku.
Tori mencubit pipi Masahiro dengan gemas. “Sama saja kan kalau begitu?” tanyanya. Ada perasaan geli di perut Tori. Dia tahu mengarah ke mana pembicaraan ini tapi akal sehatnya masih berusaha mengingatkan kalau pemuda di sampingnya itu mungkin tidak serius-serius sekali. Kalau dia menanggapi lebih dari ini, mungkin Tori akan berakhir dengan sakit hati. Dia suka terlalu terbawa suasana dan hilang kendali membiarkan dirinya jadi terlalu suka atau bahkan sampai terlalu sayang pada seseorang. Tapi Masahiro lucu sekali dan Tori mulai benar-benar menyukai anak itu.
Tori menarik nafas panjang saat tangan Masahiro menyentuh tangannya yang masih menempel di pipi pemuda itu. Masahiro menarik pelan tangannya dan saat bibirnya menyentuh telapak tangan Tori, Tori menahan nafas dan menggigit bibirnya.
Tori tahu, pada satu titik, dia harus menghentikan semua ini. Kalau dia tak berniat serius atau Masahiro yang tak berniat serius, Tori harus bersikap tegas. Dia tak ingin merasa dipermainkan atau malahan dituduh mempermainkan perasaan Masahiro. Dia harus berbuat sesuatu. Tapi entah kenapa dia tak berbuat apa-apa saat bibir Masahiro menyentuh pergelangan tangannya, mengecup dengan lembut dan melirik ke arahnya dengan penuh arti.
Wajah Tori memerah, mendadak jadi begitu tak nyaman dan salah tingkah. Akhirnya Tori berhasil menarik pelan tangannya. Itu pun harus mengerahkan segenap tenaga. Tapi Masahiro masih menatapnya dengan intens. Tori langsung merasa pusing. Diletakkannya cangkir teh ke atas meja dan nyaris terlonjak karena mendadak wajah Masahiro sudah ada di sebelahnya. Masahiro meletakkan tangannya di pundak Tori dan mendorongnya lembut sampai Tori harus rebah dan Masahiro membungkuk di atasnya. Dengan perlahan sekali, Masahiro mendekatkan wajahnya dan berhenti saat ujung hidung mereka hanya berjarak beberapa mili.
Tori tak bisa mengalihkan pandangannya. Masahiro bernafas sangat pelan. Matanya bergerak dari menatap mata Tori lalu turun ke bibirnya lalu kembali memandang Tori lagi.
“Inoue-kun,” bisik Tori dengan suara parau.
“Ya?”
“Sedang apa?”
“Mencium Sensei.” dan Masahiro menyentuhkan bibirnya dengan bibir Tori dengan sangat pelan dan lembut.
Tori menarik nafas. Tak yakin dengan apa yang sedang terjadi sampai dia mendengar dirinya mengerang pelan saat Masahiro menghisap pelan bibir bawahnya. Tangannya bergerak di luar keinginannya, melingkar ke leher Masahiro dan akhirnya membuka bibirnya, membiarkan Masahiro menciumnya.
Tori tahu dia tak bisa mundur lagi setelah ini.
Masahiro menutup matanya dan menempelkan keningnya ke kening Tori. Tori berusaha mengatur nafasnya dan kembali menarik nafas panjang saat Masahiro menciumnya lagi. Tangan Masahiro mulai berani mengelus bagian samping tubuh Tori tapi tak melakukan lebih dari itu sementara Tori hanya sanggup mengelus rambut kecoklatan pemuda itu. Ada sesuatu yang menyala di dalam diri Tori ketika mereka berciuman lagi. Sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya karena pupus tertutup sakit hati. Tangan Tori bergerak mengelus pipi Masahiro dan mereka berhenti berciuman, saling bertatapan selama beberapa lama sebelum akhirnya Masahiro menjauh.
“Maaf.” Bisiknya dengan rasa bersalah. Masahiro duduk tegak lagi tapi tak benar-benar menjauh dari Tori.
Tori ikut menegakkan badannya dan menyandarkan keningnya ke bahu Masahiro. “Aku tidak keberatan kok.”
Masahiro menoleh padanya, matanya penuh dengan harapan yang tidak ditutup-tutupi. Tori jadi merasa makin tak karuan. Dikecupnya pelan pipi Masahiro. “Sudah malam. Besok harus sekolah kan?”
Masahiro tak bisa lebih sebal lagi mendengar kalimat itu tapi dia tak bisa membantah. Sebenarnya sejak tadi teleponnya sudah bergetar terus menerus di dalam kantongnya. Itu pasti salah satu kakak-kakaknya mencarinya. Kalau tak pulang atau tak memberi kabar, mereka pasti akan memanggil polisi. Masahiro tahu dia sudah cukup merepotkan Tori. Setelah mengecup Tori sekali lagi, Masahiro akhirnya berdiri dan mengambil tasnya.
Masahiro menoleh sekali lagi sebelum Tori menutup pintu. “Aku... masih boleh bertemu Matsuzaka-sensei kan?”
Tori tersenyum manis sekali.
Subscribe to:
Posts (Atom)