Thursday, November 25, 2010

[fanfic] AU MatsuzakaxInoue - Slow

Fandom: Kamen Rider DCD/Shinkenger
Pairing: Matsuzaka Inoue
Rating: NC-17
Warning: tak ada kata di-ko-cok atau di-pom-pa. Maaf mengecewakan #eh
Disclaimer: I do not own anyone, anything. Not even a virtual version of Tori's undies *hicks*
Note: Buat Icha




"Masahiro, tunggu...ungh..."

Pemuda jangkung berambut kecoklatan itu memilih untuk tidak menggubris meskipun pacarnya berusaha mendorong bahunya menjauh. Diciumnya pria yang berusaha meronta di bawahnya agar diam sementara tangannya sibuk berusaha melepas celana piyama sang pacar.

"Ma--umph...ah!"

Masahiro nyengir penuh kemenangan karena berhasil menyelipkan tangannya dan menyentuh sang pacar di tempat yang dia tahu akan membuat pacarnya mengerang dan akhirnya menyerah.

Sayangnya, perkiraannya kali ini salah. Pacarnya bergerak menjauh dan menggigit bibir pemuda itu kuat-kuat.

Masahiro mengumpat dan langsung menjauh. "Tori! Sakit, tahu!" serunya sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangan, khawatir berdarah.

Tori buru-buru duduk merapat ke kepala tempat tidur. Kakinya didekap di dada dan merengut sebal. "Salah sendiri kenapa memaksa." Sungutnya.

Masahiro mendekat lagi tapi kemudian urung karena Tori menatapnya dengan galak. Keningnya berkerut hebat. Tori belum pernah menolaknya selama ini. Meskipun bilang capek atau ngantuk, tapi dokter itu tetap meladeni Masahiro. Bahkan kadang kala Tori malah jadi semangat sekali.

Pandangan heran pun berubah jadi curiga. Tori mendengus, tangannya terjulur menyentil ujung hidung Masahiro.

"Jangan berpikir aneh-aneh."

Masahiro ikut merajuk. Bagaimana tidak berpikir aneh-aneh kalau mendadak Tori bertingkah seperti itu. Bagian bawah tubuhnya sudah terlanjur bersemangat sekali dan tiba-tiba dihentikan. Rasanya kan tidak enak sekali. Pemuda jangkung itu berpaling dan berbaring. Punggungnya diarahkan pada Tori.

Tidak tahu apa kalau dia sudah kangen sekali?

"Yang protes itu seharusnya aku. Bukan kamu." Tori menusuk punggung Masahiro dengan kakinya.

Masahiro beringsut menjauh. Kesal.

"Ya sudah. Kalau begitu aku pulang saja." Ujar Tori sambil beranjak turun dari tempat tidur.

Masahiro langsung bereaksi. Secepat kilat berbalik dan menangkap pinggang Tori sampai dokter itu jatuh ke tempat tidur. Masahiro memeluknya erat. "Tidak! Tak boleh pulang! Zettai dame!"

Tori mendesah. "Makanya dengarkan, dong."

Masahiro menggembungkan pipinya. "Memangnya Tori tidak kangen padaku?"

Tori meletakkan tangannya di atas lengan Masahiro yang masih melingkar di pinggangnya. "Tentu saja kangen."

"Kalau begitu kenapa?"

Tori menarik nafas. Wajahnya mendadak bersemu merah. "Punggungku sakit." Ujarnya pelan.

Masahiro mengedip. Sekali. Dua kali.

"Oh."

Tapi kemudian teringat sesuatu. "Tapi... kita kan sudah beberapa hari tidak bertemu. Yang terakhir kan..."

Tori buru-buru memotong. "Bukan, bodoh!" Tukasnya. Wajahnya sudah semakin merah. "Beberapa hari ini banyak pasien jadi aku terlalu lama duduk atau menunduk. Aku juga belum sempat mampir ke tempat Souta-sensei untuk fisioterapi."

"O--oh." Masahiro mengangguk-angguk. "Kalau begitu, kenapa tidak bilang dari tadi?" Tanyanya.

Tori mencubit lengannya. "Mana sempat bilang kalau kau keburu mendorongku ke tempat tidur seperti itu."

Masahiro tetap tak mau disalahkan. "Kan Tori bisa bilang waktu aku jemput di rumah sakit tadi."

"Aku kan bilang kalau mau mampir ke tempat Souta-sensei dulu. Kamu saja yang bersikeras tidak mau menunggu."
Pemuda itu melepaskan pelukannya di pinggang Tori, kembali berbaring dan memasang punggungnya lagi. "Kan tadi aku bilang kalau aku kangen."

Tori menghela nafas dan beringsut mendekat. Dagunya diletakkan di atas lengan Masahiro. Tersenyum geli melihat ekspresi pacarnya itu dan ditusuknya pipi Masahiro yang masih menggembung itu.

"Jangan ngambek, dong. Kan bukan mauku punggungku sakit."

"Iya, iya, tahu." Ujarnya sambil bangkit.

Tori memiringkan kepalanya. "Mau ke mana?"

Masahiro bergumam dengan wajah merah. "Kamar mandi."

Tori menatapnya beberapa saat dan tersenyum simpul seolah mengerti. Ditariknya tangan Masahiro sampai pemuda itu terduduk lagi. Didorongnya bahu pemuda jangkung itu dengan lembut sampai berbaring. Dia sendiri berbaring miring di samping Masahiro, menyelipkan kakinya di antara kaki panjang Masahiro dengan menggoda.

Masahiro menatapnya dengan bingung saat Tori mulai mengecupi pipi dan garis rahangnya. Meskipun senang juga diperlakukan begitu.

"Punggung Tori sakit kan?" Tanyanya memastikan.

Tori hanya tersenyum simpul. Jari telunjuknya menekan lembut bibir Masahiro. "Tak usah banyak bicara."

Masahiro menurut. Apalagi tangan Tori sudah bergerak turun mengelus dadanya. Lalu turun ke perut, mengelus dan meraba setiap otot dan lekuk. Bibirnya sibuk mengecupi leher dan rahang Masahiro. Masahiro menarik nafas, mengantisipasi saat tangan Tori bergerak turun lagi, semakin dekat dengan bagian bawah perutnya.

"Tori..." Panggilnya dengan suara serak.

Tori pun menciumnya. Hangat dan dalam, menyampaikan kalau dia pun benar-benar rindu. Masahiro menggeram pelan. Tangannya menyentuh kepala Tori, menyelipkan jari-jarinya ke dalam rambut Tori yang selalu terasa begitu halus. Dibalasnya ciuman Tori dan membuka mulutnya dengan sukarela agar lidah Tori dapat menyerbu masuk dengan mudah.

Tori tersenyum di sela ciuman mereka. Menggunakan kesempatan untuk menyelipkan tangannya ke dalam celana Masahiro dan membuat pemuda itu mengerang dari dalam tenggorokannya. Pinggul Masahiro terangkat, mencari sentuhan tangan Tori. Tori menggunakan pinggulnya untuk menahan pinggul Masahiro yamg diprotes dengan erangan sebal karena bibirnya masih sibuk membalas ciuman Tori.

Pun, erangannya berubah menjadi erangan pelan saat jemari Tori melingkar dan menggenggam dengan lembut. Tangan Tori terasa hangat dan sentuhannya di kulitnya membuat Masahiro makin terangsang. Seluruh sarafnya jadi semakin sensitif dan sesuatu menjalar sepanjang tubuhnya.
"Begini dulu tak apa-apa kan?" Bisik Tori, menyentuhkan kening mereka dengan lembut.

Masahiro mengangguk dan menutup matanya, menyerah pada sensasi yang disebabkan tangan Tori yang mulai bergerak pelan. Jari-jarinya menekan di satu titik dan baru saja Masahiro mulai menikmati, jari-jari itu sudah berpindah ke titik lain. Menyiksa sekaligus memberikan kenikmatan yang aneh. Yang lebih menyebalkan, Tori bergerak terlalu pelan.

"Tak bisa...aaah...lebih cepat...?"

Tori menggeleng dan mengecup pipi Masahiro. "Aku ingin Masahiro menikmati ini."

"Tapi...ah! Ini namanya...ngh... Penyiksaan..."

Tori menggigit pelan daun telinga Masahiro. "Kalau protes terus, aku pulang nih."

Tentu saja dia tak mau Tori pergi. Sambil menggerundel pelan, kepalanya terangkat untuk mengecup pipi Tori dan menurut saja. Tersenyum penuh kemenangan, Tori menggerakkan tangannya lagi. Kali ini dengan sengaja hanya menyentuh ujung kemaluan Masahiro. Ibunya jarinya bergerak memutar di kepala, menyebarkan cairan bening yang terbentuk ke kulit Masahiro dan ke tangannya sendiri. Jari tengah dan telunjuknya menekan pelan tepat di bagian bawah lipatan kulit yang sensitif lalu bergerak turun nyaris ke pangkal. Masih dengan tekanan yang sama.

Otomatis, pinggul Masahiro menyentak, seiring dengan lenguhan pelan. Nyaris. Kalau saja Tori tak bergerak lagi. Tori terkekeh. Senang dengan reaksi yang didapatnya. Diulanginya sekali lagi dan Masahiro mengumpat.

"Senang ya...ah! Menyiksaku begini? Ahn! Jangan...ooh, yaa..di situ..."

Tori nyaris terbahak dengan pernyataan Masahiro yang tak konsisten itu. Dirasakannya kemaluan Masahiro berdenyut, makin hangat dan makin keras dalam genggamannya. Diperhatikannya wajah Masahiro yang memerah. Peluh mulai terbentuk di garis rambut dan dahinya. Giginya yang putih menggerus bibir bawahnya, berusaha sekuat tenaga menahan sensasi gesekan tangan Tori di kulitnya yang makin lama terasa makin panas.

Tori memutar tangannya, menyentuh titik lain yang akan membuat Masahiro lupa diri. Bergerak ke pangkal, naik ke tengah, menekan pelan lalu kembali ke pangkal. Sesekali dengan sengaja menggesekkan ibu jarinya dengan lebih keras di ujung.

Masahiro mulai terengah. Tangannya menggerut seprai sementara yang lain merenggut rambut Tori, menuntut ciuman lagi karena tak sanggup menahan dan tak tahu harus bagaimana.

"Tori..." Masahiro menatapnya, setengah memohon. "Aku...mnghm...ah!"

Hentakan-hentakan pelan dan panjang. Diiringi dengan genggaman yang dieratkan tiap kali bergerak naik. Jari-jari kaki Masahiro melengkung nikmat. Pinggulnya mulai meronta lagi dan Tori harus menahannya sekuat tenaga.

Tangan Masahiro mencengkeram lengan Tori dan dokter itu berjengit menahan nyeri. Tori menciumnya lagi.

"Tori...Tori...Tori..." Masahiro mulai mengerangkan namany dan Tori pun akhirnya jatuh kasihan. Tangannya menyentak lagi. Kemudian, ibu jarinya bergerak ke satu titik, tepat di bawah ujung kemaluan Masahiro. Tori menekan dengan ujung jari, membuat gerakan melingkar kecil dan hanya itu yang dibutuhkan untuk membuat Masahiro melemparkan kepalanya ke dalam bantal, punggungnya melengkung, dan mengerang panjang sementara cairan putih meluncur keluar dari ujung kemaluannya, mengotori perutnya dan telapak tangan Tori.

Tori menuntaskan, masih menghentak beberapa kali sampai Masahiro benar-benar selesai dengan klimaksnya. Dikecupnya pipi Masahiro penuh sayang. Masahiro langsung memeluk Tori dan menciumnya dengan penuh nafsu. Akhirnya Masahiro menjauh dari Tori dan hanya berbaring telentang, dadanya bergerak naik turun seiring dengan nafasnya yang masih memburu.

"Kore de ii yo ne." Tori mengusap rambut kecoklatan Masahiro.

"Yada." Masahiro menjawab cepat. "Besok kuantar ke tempat pijat langganan Kazu-nii."

--

Maaf ya, Cha. Cuma segini aja jadinya

Monday, November 22, 2010

[fanfic] AU Ma-kunxTori - fic berantem finale

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: dangdut bgt
Disclaimer: I don't own anyone
Note: OWATTA! Maafkan aku, Icha. Stensilannya tak jadi :p



Sedan sport hitam itu berhenti dengan mulus di depan garasi besar yang biasanya menampung lima mobil lain. Masahiro membereskan barang-barangnya dengan malas dan asal saja memasukkan handphone, dompet, kacamata hitam, dan kunci ke dalam tasnya. Turun dari mobil dengan gaya acuh seperti biasa, Masahiro menekan tombol pengunci sambil berjalan masuk ke rumah lewat pintu penghubung garasi dan dapur.

Beberapa pelayan sudah mulai sibuk menyiapkan makan malam. Mereka membungkuk hormat pada Masahiro yang sempat mengintip sebentar apa yang mereka buat. Air liurnya terbit begitu melihat onggokan mashed potato di atas panci dan dengan sengaja lewat sambil mencolek sejumput dengan ujung jarinya. Seperti biasa, masakan di rumahnya memang selalu enak. Seorang pelayan memanggilnya tapi tak diindahkan oleh pemuda itu.

Kaki panjangnya melompati anak-anak tangga dengan mudahnya. Matanya iseng berkelana ke ruang tengah dan pintu kaca yang membuka ke teras samping dan kolam renang. Ada seseorang di sana. Duduk di atas bangku kayu di dekat kolam sambil menunduk. Masahiro mengerutkan kening dan berhenti. Sosok itu terlihat begitu familiar. Masahiro mengenali jaket berwarna merah darah itu dan begitu sosok itu menoleh, Masahiro langsung melesat turun lagi, tasnya dilempar begitu saja entah kemana.


Tori menyibukkan diri dengan memandangi kebun samping dan kolam renang milik keluarga Keigo itu. Berapa kali dilihat pun, sepertinya dia tak akan pernah berhenti kagum. Rumah itu kosong saat dia datang satu jam yang lalu. Tori hanya tahu kalau Katou-sensei dan Kubota-sensei masih di rumah sakit.

Pelayan yang membukakan pintu memberitahunya kalau "Tuan muda masih di kampus. Apakah Matsuzaka-sensei mau menunggu di kamar Tuan muda? Nanti teh-nya akan diantarkan." Tori menolak dengan halus dan memilih untuk menunggu di teras saja.

Sudah tiga hari dan dia semakin menderita karena perasaannya makin tak karuan. Tori sudah tak tahan karena rasanya lelah sekali dan dia bosan merasa sakit. Mengikuti saran ayahnya, akhirnya hari itu dia memberanikan diri untuk datang ke rumah Masahiro. Meskipun begitu, sejak tadi tangannya berkeringat dingin.

Sudut matanya menangkap bayangan seseorang berdiri di dekatnya, Tori menoleh dan menelan ludah. Masahiro berdiri tak jauh dari pintu, sedikit terengah dan memandangnya dengan tatapan tak percaya. Tori balas memandangnya. Pemuda itu masih terlihat sama. Masih terlihat tampan, cara berdirinya pun masih sama.


Masahiro mendekat dengan ragu-ragu. Balas mengamati Tori dengan hati-hati. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan akhirnya berujar,

"Kenapa...wajahmu pucat sekali?"

Tori hanya menggeleng. Senyum yang biasanya mengiringi pun tak tampak. Tori yang hanya diam seperti itu membuatnya takut. Dia ingat perkataan Kubota kalau dia harus minta maaf, tapi saat ini Masahiro benar-benar khawatir.

Dengan salah tingkah, dia mendekat lagi dan duduk di sebelah Tori. Tori beringsut menjauh. Nafas Masahiro tercekat melihat jarak antara dirinya dan Tori tapi tak bisa berkata apa-apa. Toh semua ini memang salahnya.

Mereka duduk dalam diam beberapa lama.


"Aku siap mendengarkan." Suara Tori yang berat dan lirih akhirnya memecah keheningan yang terasa begitu berat itu.

Masahiro menunduk. Jari-jarinya dikaitkan agar tak terlalu gugup. "Aku... tak punya alasan yang bisa membenarkan tindakanku."

Mereka terdiam lagi. Masahiro mulai bergerak-gerak gelisah. Kakinya ganti disilangkan berkali-kali.

"Aku tak ingin Tori menganggapku tukang selingkuh." Masahiro akhirnya berujar. "Aku tahu dengan riwayat pacaranku, aku terlihat seperti itu dan mungkin Tori jadi bertanya-tanya setelah melihatku apa selama ini aku begitu di belakang Tori. Jawabannya adalah tidak. Itu kebodohan dan aku tidak menikmatinya sama sekali. Aku bahkan tak tahu apa yang membuatku berpikir aku boleh melakukan itu. Apalagi ternyata Tori melihatnya."

"Jadi kalau aku pulang sesuai rencana dan tak memergokimu, kamu tak akan mengaku?"

Masahiro hendak membuka mulut tapi segera menelan kata-katanya lagi. Dia ingin menjawab kalau tentu saja dia akan mengaku tapi itu berarti dia akan berbohong. Tak mungkin Masahiro akan mengaku kalau dia tahu dia hanya akan menyakiti Tori.

Tori tak tahu harus merasa senang, sedih, kecewa atau apa melihat reaksi yang jujur itu. Dokter muda itu menghela nafas. Masahiro berjengit mendengarnya. Rasanya puluhan kali lebih buruk daripada dimarahi ibu atau kakak-kakaknya.

"Kamu mau tahu apa yang kupikirkan?" Tanya Tori pelan tak berapa lama kemudian.

Masahiro mengangguk kecil, melirik Tori dengan takut-takut.

"Dulu aku sakit hati sekali lalu kamu datang dan aku percaya sepenuhnya padamu. Karena itu kupikir, melihat perjuanganmu, kamu akan lebih hati-hati dengan hati dan perasaanku."

Masahiro menelan ludah. Pundaknya terasa berat sekali.

"Aku tak ingin sampai harus berpikir kalau selama ini anggapanku tentang kamu ternyata salah. Aku tak suka berpikir begitu karena rasanya sedih sekali. Aku tak pintar mengatasi sakit hati tapi kalau kamu memang sudah tak butuh aku lagi, aku ingin kamu punya keberanian untuk mengatakannya dengan jelas padaku."

Masahiro memutar badannya menghadap Tori dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak. Tidak. Jangan berkata begitu. Kumohon." Masahiro nyaris menangis. Sama sekali tak menyangka kalau tindakannya itu tak hanya membuat Tori marah tapi juga menyakiti hati Tori sampai sedalam itu.

"Tolong, jangan katakan itu. Aku yang bodoh. Aku yang salah." Ujar Masahiro lirih. Dipandangnya Tori dengan hati-hati. Pria itu tampak sedih dan lelah. Reflek, tangan Masahiro terjulur untuk menyentuh pipi Tori. Tori menutup matanya dan bernafas dengan pelan dan berat. Masahiro masih menatapnya dan begitu sepasang mata kecoklatan itu membuka lagi, dia terkejut dengan ekspresi tajam di dalamnya.

"Aku tak bisa melupakan kejadian ini begitu saja. Aku harap kamu mengerti itu." Ujarnya pelan dan tegas.

Masahiro mengangguk. "Tori masih mau melihatku saja, aku sudah bersyukur."

Pemuda itu memberanikan diri untuk meraih tangan Tori. Tori mengamati dalam diam saat jari-jari Masahiro merengkuh tangannya, membawanya ke bibirnya dan ibu jari Masahiro mengelus lembut buku jari Tori sebelum mengecupnya dengan lembut sambil berucap lirih.

"Maafkan aku."

Diucapkannya setiap kali setelah mengecup tiap buku jari Tori dan punggung tangan Tori. Tori menutup matanya. Bibir Masahiro terasa hangat di kulitnya dan dia harus mengakui kalau dia merindukan disentuh seperti ini. Ayahnya memang benar. Dia tak bisa membenci Masahiro.

Masahiro mengecup telapak tangannya dan Tori memberanikan diri untuk membuka mata dan dilihatnya mata Masahiro melihatnya dengan penuh permohonan maaf dan juga cinta. Tori menarik nafas dan mencondongkan tubuhnya. Dikecupnya pipi pemuda yang sangat dicintainya itu dengan pelan dan penuh perasaan.

"Jangan lakukan ini lagi padaku. Berikutnya mungkin aku tak akan sanggup." Bisik Tori dengan lirih dan suaranya bergetar.

Masahiro menggeleng lalu balas mengecup pipi Tori. "Tori tak akan kemana-mana kan? Masih tetap ingin menikah denganku kan?"

Tori mengangguk. Dadanya seolah ingin meledak saat dibiarkannya Masahiro menciumnya dan berbisik. "Aku mencintaimu."

-end-

Maafkan kalau dangdut sekali m(_ _)m

Sunday, November 21, 2010

[fanfic] AU Ma-kunxTori - fic berantem part 4

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: none
Disclaimer: I do not own anyone
Note: ini hrsnya dipost td tapi sinyal xl gembel lagi -_-




Tori menjulurkan kakinya dan menumpukan yang kiri di atas yang kanan. Punggungnya disandarkan ke sandaran sofa. Dia mendesah keras setelah mendengarkan pesan singkat di inbox voice mail-nya untuk kesekian kalinya. Bibirnya digigit-gigit sampai mulai terasa sakit.

"Masih keras kepala juga tak mau menemuinya?" Sebuah suara berat menarik perhatian Tori.

Tori menoleh dan melihat ayahnya yang sedang menatapnya sambil mengangkat alis. Tori mendesah lagi. Ayahnya itu muncul mendadak dengan alasan mengantarkan titipan dari istrinya untuk Tori. Begitu melihat ayahnya berdiri di depan pintu, entah kenapa pertahanan Tori langsung luluh dan dia jadi bercerita pada ayahnya tentang masalahnya dengan Masahiro juga sakit hatinya.

Ayahnya saja sampai heran karena biasanya Tori hanya mau curhat pada ibunya. Pria itu terkekeh-kekeh saat wajah Tori jadi bersemu merah setelah selesai bercerita. Ditepuk-tepuknya pundak Tori dengan penuh pengertian dan selama beberapa saat mereka hanya menghabiskan waktu dalam diam sambil merokok.

Tori merebahkan kepalanya ke sandaran dan lagi-lagi hanya menghela nafas.

"Kau ini. Kalau sedang begini, kau mirip sekali dengan ibumu."

Tori melirik ayahnya. "Ya, mau bagaimana? Aku kan memang anak Ibu." Sungutnya.

Sorimachi tertawa pelan, menghirup asap rokoknya dengan pelan pula. "Hmm... Kalian jarang bertengkar ya?"

"Karena aku tak suka." Sahut Tori.

"Berapa kali kau pacaran sebelum ini?"

Meskipun bingung dengan pertanyaan ayahnya, Tori mengangkat dua jarinya. Sorimachi mengangguk-angguk. "Bocah itu?"

Tori mengangkat bahu, "Entahlah. Tak terhitung, mungkin? Dia selalu gonta-ganti pacar sebelum aku."

Sorimachi mengangguk-angguk lagi. "Masih berniat menikah dengannya?"

Tori memejamkan mata. "Kalau dia masih mau."

"Kau kan belum dengar alasan kenapa dia melakukan itu."

"Tou-san! Dia mencium orang lain! Memangnya ada penjelasan apa lagi?" Sergah Tori cepat.

Sorimachi berdecak. "Kau masih ingin menikahi bocah ini tapi kau tak mau bertemu dengannya. Apa sih maumu? Kau pikir setelah ini tak akan ada masalah lain lagi?"

Tori menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil mengerang panjang. Sorimachi meninju lengan anaknya itu. Tori berjengit kesakitan.

"Aku tidak minta kau memaafkannya karena aku juga tak setuju dengan tindakannya itu. Tapi tak ada yang tak bisa diselesaikan dengan bicara kan? Kalian kan masih muda, masih banyak yang akan kalian lalui. Kau pikir aku dan ibumu tak pernah mengalami ini?"

Tori menurunkan tangannya. "Memangnya Tou-san pernah berselingkuh?" Tanyanya menyelidik.

"Tentu saja bukan selingkuh! Oi!" Sorimachi tertawa. Dimatikannya rokoknya. "Kamu lahir waktu kami masih sangat muda. Waktu itu, aku belum sadar kalau sudah punya tanggung jawab yang begitu besar. Jarang pulang, marah-marah kalau ditegur, dan tak jarang kami sampai bertengkar hebat. Akhirnya Ibumu marah sekali dan dia pulang ke rumah kakekmu. Tentu saja aku panik karena tak menemukan kalian di rumah begitu aku pulang. Ibumu juga tak mau melihatku selama berhari-hari. Akhirnya kakekmu harus turun tangan dan memaksa kami untuk duduk di ruang tamu. Pintunya dikunci sampai kami mau bicara."

Tori tersenyum lembut mendengar kisah orang tuanya itu. Ibunya belum pernah bercerita tentang yang satu ini padanya.

"Yah," Sorimachi melanjutkan, "Setelah itu tentu saja masih ada pertengkaran-pertengkaran lain dan aku yakin Ibumu juga masih kesal dengan banyak hal yang kulakukan. Aku juga sering kali ingin membuangnya ke jurang, tapi kami ini kan suami-istri dan aku mencintaimu Ibumu lebih dari apapun. Sekesal dan semarah apapun, aku tak bisa benci padanya."

Tori terdiam. Memang sih, meskipun sering kesal pada Masahiro karena sering berbuat seenaknya, Tori selalu diam. Karena dia sayang Masahiro dan cengiran sumringah Masahiro kalau berhasil mendapatkan apa yang dia mau selalu membuat Tori jadi tersenyum juga.

Sorimachi mengacak rambut Tori dengan sayang. "Anak itu kan sudah berusaha menghubungimu. Temui saja dan dengarkan. Kalau kau masih tak bisa terima, bicarakan baik-baik. Setidaknya, meskipun hasilnya tak membuatmu merasa lebih baik, sudah ada satu kejelasan."

Tori menarik nafas panjang. Masih merasa tak siap kalau harus mendengar kabar buruk. Tapi dia tahu ayahnya benar. Cepat atau lambat, dia harus bertemu Masahiro. Dadanya terasa sakit lagi begitu dia memikirkan itu.

-tbc-

Bagian akhirnya malam ini ya.

[fanfic] AU Ma-kunxTori - fanfic berantem part 3

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: none
Disclaimer: I do not own anyone
Note: this is longer than I though it'd be. OTL




"Eh, sudah pulang?"

Suster itu mengangguk. "Setengah jam yang lalu. Matsuzaka-sensei sepertinya tak enak badan. Mungkin masih kecapaian. Inoue-kun ada janji dengan Matsuzaka-sensei?"

Masahiro menggeleng dan mengucapkan terima kasih pada suster itu sebelum beranjak dengan kecewa. Masahiro sengaja menunggu di kafetaria karena tahu Tori pasti akan menolaknya masuk ke ruang prakteknya. Tapi yang ditunggu tak kunjung muncul meskipun waktu makan siang sudah selesai. Dia bahkan sudah mencoba menelepon Tori tapi tak kunjung diangkat. Nyaris saja Masahiro membanting handphonenya karena kesal.

Pemuda itu kebingungan. Dia harus bertemu Tori dan menjelaskan tapi kalau yang ditemui menghindar terus seperti ini...

"Loh? Masahiro?"

Masahiro menoleh dan melihat Kubota berdiri di depannya. Ada map di tangannya, mungkin baru saja selesai mengecek pasiennya. Masahiro melambaikan tangannya dengan malas. Kubota mendekati si adik dengan bertanya-tanya.

"Aku tadi diberitahu Kazuki kalau Matsuzaka ijin pulang. Kupikir kau mengantarnya."

Masahiro memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mengedikkan bahunya. "Kalah cepat." Ujarnya singkat.

Kubota mengamati adiknya baik-baik. "Bertengkar?"

Lagi-lagi Masahiro hanya mengedikkan bahu tak peduli. Kubota melipat lengannya di depan dada dan mendengus.

"Apa lagi yang kau lakukan?"

Masahiro mengerutkan kening. "Apa sih? Memangnya harus selalu aku yang jadi biang keladinya kalau aku dan Tori bertengkar?"

Kubota mendorong kepala adiknya. "Buktinya kan kau masih ke sini. Kalau Matsuzaka yang salah, kau pasti akan sebal dan merajuk di rumah."

Ditebak begitu, Masahiro merengut dan memukul pundak kakaknya yang langsung dibalas Kubota menggunakan map yang dibawanya. Masahiro mengusap-usap lengannya. "Sakit!" Desisnya.

"Kau ini. Minta maaf sana!" Kubota mendorong dahi Masahiro sekali lagi.

Masahiro menepis tangan kakaknya. "Tak usah dibilang juga sudah tahu." Sungutnya.

Sebelah alis Kubota terangkat. "Lalu? Kenapa masih di sini?"

Masahiro melipat tangannya di depan dada dan menendang-nendang sesuatu yang tak kelihatan. Bibirnya masih merengut. "Dia tak mau bertemu denganku." Jawabnya setengah bergumam.

Kubota menghela nafas. Tangannya terulur lagi, kali ini untuk mengacak-acak rambut Masahiro dengan lembut. "Aku tak akan tanya kenapa Matsuzaka bisa sampai tak mau bertemu denganmu tapi kuharap kamu belajar sesuatu. Aku sudah bilang berkali-kali kan kalau Matsuzaka itu berbeda dengan pacar-pacarmu sebelumnya. Ditambah lagi, dia lebih tua darimu. Aku yakin Matsuzaka setuju pacaran dengan bocah sepertimu bukan karena ingin main-main. Mungkin ada beberapa hal yang menurutmu tak apa-apa dilakukan tapi apa-apa menurutnya. Cepat atau lambat, dia pasti akan mau mendengarkanmu. Saat itu, minta maaflah dengan baik dan sungguh-sungguh. Ya?"

Diceramahi panjang begitu, Masahiro hanya bisa menunduk. Apapun alasannya, yang dilakukannya kemarin itu memang hanya keegoisannya. Lalu kenapa kalau dia kangen Tori? Tetap saja itu bukan alasan untuk mencium orang lain.

"Dengar, tidak?" Kubota menggoyangkan kepala yang masih dipeganganya.

Masahiro bergeliat menjauh dari kakaknya. "Iyaaaa. Aku dengar. Huh."

"Bagus." Kubota mengangguk puas.

Masahiro melengos dan meninggalkan Kubota yang melanjutkan memeriksa pasiennya yang lain sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Masahiro berjalan meninggalkan lobi rumah sakit dengan handphone menempel di telinganya. Sekali lagi mencoba menghubungi Tori. Lagi-lagi tak diangkat. Masahiro menekan tombol telepon sekali lagi, kali ini menunggu sampai tersambung dengan voice mail.

Rekaman suara Tori terdengar di telinganya dan Masahiro menarik nafas. Ironis sekali karena rekaman itu terdengar begitu manis dan ramah. Ditunggunya sampai bunyi pertanda dia bisa mulai meninggalkan pesan terdengar.

"...................Maafkan aku."

-tbc-

[fanfic] AU Ma-kunxTori - fic berantem part 2

Title: (msh belum nemu judul) part 2 dr fic berantem
Author: Panda^^
Fandom: Kamen Rider DCD/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: none
Disclaimer: I do not own anyone
Note: Buat Nei! Selamat sudah menempuh wisuda! *peluk2* Er... Gue sebenernya gak suka angst tapi ini kenapa malah nulis angst *tepok jidat*



Tori terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Seluruh kepalanya seperti berubah jadi batu yang sangat sulit diangkat apalagi digerakkan. Tori mengumpat pelan dan beringsut pelan. Sekarang baru benar-benar menyesal karena semalam menghabiskan seperempat botol tequila sunrise. Dia tahu tak baik minum-minum kalau suasana hatinya sedang kacau seperti itu tapi Tori tak tahu lagi harus melakukan apa.

Tori mengerjap-ngerjapkan pandangannya yang agak rabun, samar-samar menangkap arah yang ditunjuk jarum jam dinding. Sudah waktunya bangun dan bekerja. Tori rasanya ingin tidur saja sampai alkohol benar-benar hilang dari sistem tubuhnya. Tapi dia sudah terlanjur bilang pada Kubota kalau dia akan tetap masuk dan membereskan laporan studi banding mereka.

Dengan berat, Tori bangun dan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Dibukanya lemari obat di atas wastafel, mencari aspirin. Ditelannya 3 butir tablet putih itu lalu beralih ke dapur dan menenggak air putih dalam jumlah banyak. Lima belas menit kemudian, dokter muda itu baru benar-benar bisa bersiap-siap kerja.

---

"Ya ampun. Kau kenapa?" Sota bertanya dengan heran dan agak khawatir saat Tori mampir ke ruangannya mengantarkan oleh-oleh. Kepalanya dimiringkan, mengamati wajah Tori yang kelihatan kucel dan tidak menampakkan senyum ramahnya yang biasa.

Tori menggeleng sambil tersenyum kecil. "Tak apa-apa. Hanya kurang tidur."

"Kurang tidur apanya? Kalian kan sampai kemarin siang. Kau terlalu banyak bersenag-senang dengan pacarmu itu ya, semalam? Coba duduk sini." Sota menepuk kursi periksa yang biasa diduduki pasien-pasiennya.

Tori meringis. Tak berniat membantah apalagi membenarkan. Seluruh dunia tak perlu tahu kalau sedang ada apa-apa antara dirinya dan Masahiro. Tori pun duduk dan membiarkan Sota memeriksanya.

"Sudah minum aspirin?" Tanya Sota sambil mengecek reaksi mata Tori. Tori mengangguk.

"Air putih?"

"Sudah dua botol sejak tadi pagi."

Sota mengangguk-angguk lalu mengambil sesuatu dari lacinya. Kacamatanya berkilat saat meletakkan sebuah botol kecil di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Tori. Tori buru-buru berdiri dan pamit pergi, tak mau terjebak dengan eksperimen aneh dokter nyentrik itu.

Setelah berapa lama termenung di kantornya dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa juga, Tori akhirnya menyerah kalah dan memutuskan untuk pulang saja. Tertunda sesaat karena ada pasien yang mendadak datang. Setelah menelepon ruangan Kazuki untuk meminta ijin, Tori sempat berpikir untuk mampir ke kafetaria dan membeli sesuatu karena dia belum makan sejak pagi. Rencana itu dibatalkan begitu matanya menangkap sosok berkaki panjang yang sedang duduk di meja yang biasa dia tempati. Dengan cepat dia berbalik sebelum sosok itu sempat melihatnya.

Itu kekanakan sekali. Tori sadar itu. Tapi melihat sosok Masahiro dari jauh saja sudah membuatnya jadi susah bernafas. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali mendatangi pemuda itu dan menuntut penjelasan. Tapi Tori tak siap dengan penjelasan apapun. Kejadian di depan matanya kemarin siang itu saja sudah cukup membuat hatinya hancur.

Tori tak sanggup dan tak siap kalau harus mendengar Masahiro mengatakan padanya kalau pemuda itu sudah tak butuh Tori lagi di sampingnya. Lebih baik dia menjauh dan menghilang pelan-pelan seperti ini saja. Tori akan sangat-sangat merindukan Masahiro. Itu pasti. Tapi saat ini dia hanya ingin merawat lukanya pelan-pelan.

Teleponnya berdering lincah dan riang terus menerus. Tanpa melihat pun Tori tahu kalau Masahiro yang menelepon karena dering itu memang khusus untuknya. Tori mengigit bibir, menggenggam erat setir, meneguhkan dirinya untuk tidak mengangkat telepon itu.

Sisa perjalanan pulangnya ke apartemen terasa begitu buram dan berkabut.

-tbc-

Maafkaaaaan. Gue akan berusaha bikin mereka gak terlalu menderita.

Saturday, November 20, 2010

[fanfic] AU Ma-kunxTori - fanfic berantem part 1

Title: (sementara ini untitled dulu :p)
Author: Panda^^
Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue MasahiroxMatsuzaka Tori
Rating: PG
Warning: lame attempt on angst
Disclaimer: I do not own anyone
Note: Ahe. Satu bagian dulu ya. Buat Nei yg bsk wisuda. Biar makin resah di acara wisudaannya :p *kabur*



Masahiro berjalan setengah terhuyung ke kamarnya. Lelah luar biasa karena jadwal tiga hari terakhir yang luar biasa padat karena banyak pemotretan dan kerja kelompok. Untunglah besok dia libur dan Masahiro sudah merencanakan akan tidur seharian. Tas dan jaketnya dilempar begitu saja ke sofa dan Masahiro langsung melompat ke tempat tidur. Wajahnya dibenamkan ke dalam bantal dan Masahiro langsung menutup matanya. Badannya rasanya sudah ingin rontok.

Pintu kamarnya terbuka dan kepala Kubota menyembul dari baliknya.

"Ah! Sudah pulang ya." Badannya kemudian menyusul dan melenggang masuk ke kamar sang adik. Melihat si bungsu yang tak bergerak dan hanya menggerung itu, Kubota dengan jail menindih punggung adiknya dengan punggungnya sendiri.

"Aniki! Berat!" Masahiro langsung protes dan menggeliat berusaha menjatuhkan Kubota ke lantai.

Kubota tertawa terbahak-bahak sambil berdiri dan berkacak pinggang. "Mandi dulu dong. Dasar jorok!"

Masahiro menggerundel. "Bukan urusanmu." Kemudian dipandangnya kakaknya seakan baru sadar sesuatu. "Kenapa...ada di sini? Rencananya pulang lusa kan?"

Kubota nyengir. "Dipercepat."

Masahiro langsung duduk dan matanya bersinar antusias. "Berarti..."

"Tadi sempat kembali ke rumah sakit sebentar lalu aku mengantarnya ke apartemennya." Kubota nyengir, mengerti apa maksud adiknya.

"Tapi kenapa tidak telepon ya?" Masahiro merogoh saku celananya, mencari handphonenya.

"Mana aku tahu." Sahut Kubota sambil melangkah keluar kamar.

"Aniki! Mana oleh-olehnya?" Todong Masahiro sebelum kakaknya sempat menghilang. Kubota melemparkan sebuah kotak ke arah adiknya dan Masahiro menangkapnya dengan lihai. Diliriknya kotak itu dan Masahiro langsung sumringah. Soba manju kesukaannya.

Sambil menyingkirkan kotak itu, Masahiro membuka flip handphonenya. Penasaran kenapa Tori tak menelepon untuk memberitahu kalau pulang lebih cepat. Pacarnya itu ikut rombongan studi banding Kubota selama nyaris dua minggu dan rasanya aneh karena Tori tak bilang apa-apa waktu meneleponnya dua hari yang lalu.

Masahiro mengumpat pelan karena ternyata handphone-nya mati. Dengan buru-buru mengobrak-abrik laci untuk mencari charger, menyambungkan ke listrik dan tak sabar menunggu sampai handphonenya punya cukup daya untuk menyala lagi.

Ada satu pesan. Masahiro buru-buru membukanya dan jantungnya langsung mencelos.

Terpampang di layar handphonenya sebuah foto. Foto dirinya yang sedang berdiri berhadapan dengan teman sesama model. Berciuman.

Di bawah foto itu hanya ada satu kata.

[Siapa?]

Tangan Masahiro menggerut rambut dengan frustrasi kemudian menutup mulutnya. Berpikir keras. Dilihatnya lagi foto itu. Masahiro ingat dengan jelas kejadian itu karena memang baru terjadi siang tadi. Itu bukan adegan yang dirancang Yuzawa untuk tema hari ini. Sama sekali bukan. Itu adalah kebodohan Masahiro.

Temannya itu memang manis sekali. Anak baru di dunia mereka. Beberapa kali bertemu dan bekerja bersama, Masahiro cukup bisa akrab dengannya. Lesung pipinya imut sekali, persis seperti Tori. Dan Masahiro sedang kangen sekali pada Tori. Temannya itu hanya tertawa waktu Masahiro meminta maaf.

Tapi dari mana Tori... Otak Masahiro berputar cepat dan wajahnya langsung pucat pasi. Berarti Tori sengaja datang ke lokasi pemotretannya, mungkin dengan maksud memberi kejutan tapi malah...

Masahiro langsung menyumpah-nyumpahi dirinya sendiri. Kemudian tanpa pikir panjang, disambarnya jaketnya dan melesat keluar rumah.

Begitu sampai di depan pintu apartemen Tori, Masahiro sekali lagi merutuk karena lupa membawa kunci cadangannya. Diliriknya jendela apartemen itu. Masih menyala, berarti Tori belum tidur. Ditekannya bel dua kali berturut-turut dengan tak sabar.

Masahiro menumpukan tangannya ke dinding, kakinya menghentak-hentak kecil ke lantai beton sementara bibirnya digigiti dengan resah. Sebentar kemudian dia mendengar suara dan Masahiro langsung berdiri tegak. Pintu kayu itu terdorong membuka, memperlihatkan Tori yang sudah mengenakan piyama, kacamatanya bertengger di batang hidungnya.

"Ya?"

Dalam kondisi biasa, Masahiro pasti sudah menyerbu masuk, merengkuh Tori dalam pelukannya dan menciumnya dengan penuh nafsu sambil menggiring mereka berdua ke kamar tidur Tori. Tapi ekspresi Tori yang mendadak kaku dan dingin begitu melihatnya membuat Masahiro makin panik dan merasa bersalah.

"Aku... Kubo-nii sudah pulang jadi kupikir..." Masahiro salah tingkah. "Umh...Tori tidak memberitahu kalau akan pulang hari ini... Jadi..."

Tori menatap melewati bahu Masahiro lalu membuang muka. "Pulanglah, Masahiro. Sudah larut."

Masahiro terdiam dan menatap Tori yang masih tak mau melihatnya. Pemuda itu langsung mengerti kalau tak ada gunanya dia berbasa-basi. "Aku berhak menjelaskan kan?" Tanyanya lirih. Matanya menyipit.

Tori menatap ke lantai sebelum akhirnya melihat ke arah Masahiro. "Menjelaskan apa?"

"Argh!" Sungut Masahiro. "Kau tahu apa maksudku."

Tori menutup matanya. "Aku tak ingin dengar sekarang."

"Tapi..."

Tori langsung memotongnya. "Inoue-kun. Aku capek."

Masahiro tertegun. Inoue-kun. Tori sudah tak pernah lagi memanggilnya seperti itu. Sekarang rasanya panggilan itu membuat jarak yang begitu jauh antara dirinya dan Tori. Masahiro tak bisa berbuat apa-apa dan mengangguk kecil.

Suara pintu menutup dan kunci yang dirapatkan bergema begitu keras di telinga Masahiro dan entah kenapa dia juga merasa seperti ditampar dengan telak keras.

Masahiro pergi sambil terus merutuki dirinya. Sebuah tempat sampah jadi korban kekesalannya saat pemuda itu melangkah kembali ke mobilnya.

-tbc-

[ficlet] AU KanexOuji - White Shirt

Title: White Shirt
Author: Panda^^
Fandom: Tenipuri no Oujisama Musical
Pairing: Kanesaki KentarouxYagami Ren
Rating: PG
Warning: malexmale.
Disclaimer: I do not own anyone.
Note: Nih, Nei. Hasil picspam lu jam 2 pagi XD. Maaf jadinya cuma pendek :p




Kanesaki menggosok rambutnya yang basah dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Lehernya digerakkan ke kiri dan ke kanan. Matanya kemudian tertuju pada sehelai setelan yang tergeletak di atas futon. Celana hitam garis abu-abu, dasi merah, kaus kaki hitam dan kemeja putih. Kane tersenyum. Kemeja putih. Pasti istrinya dan bukan Shouma yang menyiapkan pakaiannya. Kane pun mulai berpakaian sambil nyengir lebar. Bisa dipastikan malam ini dia bisa bermesraan dengan istrinya.

Ren masuk ketika Kane baru saja mulai mengancingkan kemeja putih itu. Sebuah senyum langsung mengembang di wajahnya. Didekatinya suaminya itu dengan tangan terjulur, menepis tangan Kane dengan lembut dan memasang kancing kemeja itu satu persatu dengan penuh perhatian.
Kane mendongak sedikit untuk memudahkan istrinya mengancingkan yang paling atas. Tangannya sendiri sibuk mengaitkan kancing lengan. Ren merapikan kerah kemeja putih itu lalu membelai dada suaminya sambil tersenyum manis. Kane membalas dengan cengiran lebar karena Ren melingkarkan lengannya ke pinggang Kane lalu membelai punggung Kane dengan sayang.

Ren senang melihatnya dengan kemeja putih. Entah kenapa, pria besar yang biasanya terlihat menyeramkan itu jadi tampak makin tampan di mata Ren kalau mengenakan kemeja putih. Kemeja pas badan itu selalu membuat Kane terlihat seksi.

Ren beringsut mendekat untuk membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Menghirup pelan wangi segar tubuh Kane. Kane membelai rambut istrinya dengan sayang lalu menunduk untuk mengecup kening istrinya. Ren mengusapkan satu tangannya ke dada Kane lagi.

"Sudah mulai agak sempit ya." Gumam Ren.

Kane tertawa. "Lengannya sudah agak kependekan, sih." Jawabnya.

Ren memiringkan kepalanya. "Mau diganti?"

Kane memeluk pundak istrinya dengan lembut dan menggeleng. "Ini saja tak apa-apa, kok."

Tangan Ren meraih kerah kemeja itu lagi, merapikan sedikit. "Nanti jangan pulang malam-malam ya."

Kane mengangguk dengan semangat dan mencium istrinya.


Shouma, yang setelah beberapa lama bekerja di rumah itu akhirnya tahu kalau kemeja putih dan baju putih lainnya milik Kane adalah hak istimewa nyonya-nya, dengan penuh pengertian tak akan menyiapkan baju putih untuk tuannya. Kalau didapatinya Ren mengeluarkan kemeja putih untuk Kane, Shouma hanya akan tersenyum maklum dan pergi memberitahu Kanata kalau tuan mereka mungkin akan berangkat sedikit telat.

-----