Fandom: Prince of Tennis The Musical 2nd Season
Cast: Kikuchi Takuya, Ise Daiki
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything
Note: gara2 Tacchin nyepam kemarin malam dan obrolan tak tentu arah sama Neitai XDDD Pendek aja dan maaf kalo gejeh.
Hawa dingin dari dalam kulkas menerpa kulit dada dan pundaknya yang tak tertutup baju. Kikuchi merinding sekilas sementara tangannya terulur, menjangkau ke dalam salah satu rak, dan menarik keluar sekaleng bir. Ditutupnya pintu kulkas dengan kaki sementara tangannya sibuk berkutat membuka bir itu. Beberapa tegukan dan pemuda jangkung itu menghela nafas lega dengan keras. Memang tak ada yang lebih nikmat selain bir dingin setelah berendam air hangat.
Kaki jenjangnya membawanya ke ruang depan apartemennya. Satu tangannya sibuk menggosok rambut dengan sehelai handuk yang tersampir di pundak. Dengan pose sedikit jumawa, ia berdiri di dekat sofa yang sudah dihuni pemuda berambut gelap yang tengah tengkurap; membaca novel sambil mengudap kripik kentang.
Menyadari bayangan yang jatuh di atas novelnya, Daiki mengangkat kepala dan nyengir setelah memperhatikan pemuda jangkung di hadapannya sekilas. "Nice undies," komentarnya.
Kikuchi mengarahkan pandang ke bawah, pada celana boxer berwarna hijau bermotif kunang-kunangnya lalu balas nyengir. Diperhatikannya TV yang menyala dan memutuskan kalau acara TV-nya sama sekali tak menarik. Kedua bahunya dikedikkan acuh. Diputarinya sofa mungil itu dan ditendangnya kaki Daiki supaya pemuda itu mau bergeser untuk memberinya tempat. Dilesakkannya pantatnya ke sofa dan memutar matanya saat Daiki, alih-alih bergeser, malah menukar posisinya dengan merebahkan kepala di paha Kikuchi.
"Aku bukan bantal, oi!" Protesnya sambil menjangkau remote TV dan menekan tombol, mencari acara yang lebih menarik untuk ditonton.
"Jangan pelit. Tsunenori saja tak keberatan kalau aku begini," Daiki menggembungkan pipinya sementara tangannya terulur menjejalkan beberapa potong keripik ke dalam mulut Kikuchi.
Pemuda jangkung itu memberontak dan menepis tangan Daiki. Diambilnya kepingan-kepingan keripik dari tangan Daiki dan mengunyah sendiri. Tak lupa memukul kening Daiki dengan keras. Daiki mengusap-usap keningnya dengan sebal meski tak bisa menahan cengiran yang timbul karena melihat sudut-sudut bibir Kikuchi yang tertarik membentuk cengiran pula.
"Mereka memang membuat iri ya," ujar Kikuchi kemudian, membiarkan Daiki bergelung nyaman di sebelahnya.
Daiki mengangkat alis. "Kenapa tiba-tiba?"
Kikuchi mengedikkan bahu, "I'm just saying."
"Heeee," Daiki mengangkat tubuhnya, duduk menghadap teman dekatnya itu seraya memeluk kedua lututnya. "Kau serius naksir Akazawa?" Tanyanya jahil.
Kikuchi memukul kepalanya sekali lagi. "Jangan sembarangan kalau bicara."
"Habis," Daiki mengulum cengirannya kali ini. Sedetik kemudian, ia menutup mulutnya dengan dramatis, "Jangan-jangan kau naksir Tsunenori?"
Sekali lagi, kepala Daiki menerima pukulan. Kali ini lebih keras. "Kubilang jangan sembarangan kalau bicara. Aku memang tampan dan tak ada seorang pun yang bisa menolakku, tapi naksir sahabat sendiri itu sama sekali tak ada dalam kamusku, tahu."
Daikio mencibir, masih tak rela kepalanya dipukul berkali-kali. Kepalanya dimiringkan, menatap sosok samping wajah Kikuchi yang tampan. Sebuah cengir jahil kembali menempati sudut-sudut bibirnya.
Kikuchi mengerjap saat sepasang lengan melingkari pundaknya dan tiba-tiba saja Daiki sudah duduk di pangkuannya. Wajahnya begitu dekat dan Kikuchi tak sempat mengeluarkan protes apapun saat Daiki menciumnya. Kedua lengannya yang panjang balas memeluk pinggang Daiki dan menariknya mendekat.
Getar tawa Daiki merambati telinga dan tenggorokannya dan Kikuchi balas menyeringai. Dibalasnya tiap kecupan dan pagutan mesra di bibirnya lalu berpindah menghujani rahang dan leher Daiki dengan kecupan ringan.
"So," Daiki berdeham karena merasa suaranya agak serak, "I could consider myself lucky that even though we're friends, I get to do these kind of things with you?"
Kikuchi menggigit kulit di bawah dagu Daiki, "Don't get cocky. I can throw you out anytime if you get ahead of yourself."
Daiki tertawa pelan dan kembali mencium temannya itu. "Oh, even if you did, I know you can't stay away from me for too long. After all, we're partners in crime."
Kikuchi nyengir. "We are, indeed."
-end-