Showing posts with label Hirano Kinari. Show all posts
Showing posts with label Hirano Kinari. Show all posts

Sunday, August 12, 2012

[fanfic] Koi ni Ochittara

Cast: Hirano Kinari, Ueda Yuusuke, Okazaki Kazuhiro
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything/anyone
Note: Sambil mikir2 mau taro di mana fanfic2 ini, posting di sini dulu lah ya XD


Yuusuke melirik sekilas. Sudut matanya menangkap bayangan kepala berambut gelap kemerahan selangkah di belakangnya. Sudut bibirnya terangkat sekilas sementara lengannya bergerak untuk meletakkan tangan di punggung Kinari. Dengan lembut, dipaksanya pemuda itu untuk berjalan tepat di sampingnya. Sepasang mata yang disukainya itu berkedip dan tanpa kata menuruti keinginan Yuusuke. Lalu menyikut pinggang Yuusuke sambil tertawa pelan.

*****

Kalau dibilang dia tak punya kepentingan datang ke gedung olahraga itu, Kinari akan menampik dengan alasan dia datang untuk memberi semangat. Pada siapa, itu akan dipikirkannya belakangan.

Kinari tak pernah terlalu menyukai olahraga. Kalau hanya untuk sekedar bermain-main dan membuang tenaga sih oke saja tapi kalau diminta untuk serius dan membuat prestasi di situ, jangan harap ia akan mau. Minatnya selalu jatuh pada kamera dan fotografi. Meskipun begitu, teman-temannya di klub fotografi pun menganggapnya seenaknya sendiri karena jarang datang ke klub. Lebih menyebalkannya lagi, sekalinya datang, Kinari akan membawa hasil foto yang luar biasa bagus dan indah.

Hari ini pun klub fotografi diminta untuk membantu mendokumentasikan perjuangan klub-klub sekolahnya yang berhasil masuk ke interhigh. Tentu saja, Kinari dengan acuhnya menolak untuk ikut serta. Sekali lagi, olahraga bukan obyek favoritnya termasuk untuk direkam dengan kamera. Toh, klub yang lolos ke interhigh dari sekolahnya hanya klub kendo, basket dan tenis meja. Tak banyak yang bisa dilakukan sekalipun ia ikut.

Masalahnya, ia jadi bosan karena sama sekali tak punya sesuatu untuk dilakukan. Ia sudah mengitari dua taman tapi tak menemukan obyek menyenangkan untuk difoto. Pergi ke hutan kecil di dekat sekolah pun tak terlalu menarik karena polisi sedang menutup daerah itu sejak ada pejalan kaki yang tersesat dan belum ditemukan. Dia mencoba ke daerah pertokoan dan nongkrong cukup lama di toko kamera yang sering dikunjunginya, memandangi kamera Nikon incarannya yang entah kapan baru bisa terbeli. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang untung-ruginya, dia memutuskan untuk melangkahkan kaki ke gedung olahraga itu.

Seorang pemuda kurus berkulit putih berwajah rubah yang cukup rupawan melambaikan tangan ke arahnya saat Kinari menyusuri lapangan terbuka tempat klub atletik bertanding. Kinari memicingkan mata dan mengenali jersey hitam-biru dan lambang sekolahnya tersemat di bagian dada. Dilambaikannya tangannya dan pemuda itu berlari mendekat.

“Ou, Kazuhiro,” sapa Kinari saat pemuda itu berhenti di depannya, nyengir lebar.

“Kupikir kau tidak ikut jadi seksi dokumentasi,” komentar Kazuhiro.

Kinari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan mengedikkan bahu, “Memang tidak. Aku tak ada kerjaan.”

“Jadi berubah pikiran?”

Kinari mendengus. Kazuhiro tertawa pelan. “Yah, mungkin ada bagusnya. Kau jadi tak bisa memotret kekalahan kami.”

Mata Kinari membelalak, “Eh?”

Kazuhiro menggaruk bagian belakang kepalanya, “Maa, baru saja. 30 menit yang lalu.”

“A, ah... gomen,” Kinari berbisik, sedikit salah tingkah. Tapi Kazuhiro tertawa dan mendorong pelan bahunya. “Ii yo.”

“Tidak kecewa?” Kinari meringis, bertanya dengan hati-hati sementara kakinya mengikuti langkah Kazuhiro yang menuju ke arah hall besar.

“Tentu saja kecewa, aku tidak akan munafik tapi lawan kami memang kuat kok. Shouganai. Yang penting sudah berusaha.”

Kinari mencibir, "Seperti bukan kamu saja, bicara seperti itu. Kalau begitu sekarang mau pulang?” tanya Kinari lagi, sudah bersiap-siap berpikir mungkin sebaiknya dia pulang dan tidur saja kalau memang  sama sekali tak ada yang bisa dilakukannya. Tapi dilihatnya Kazuhiro menggeleng lalu Kinari merasa lengannya digamit dan diseret ke dalam hall.

“Aku mau nonton dulu. Sudah janji.”

“Janji?”

Kazuhiro mengangguk. “Un. Lawan yang kuceritakan tadi, dia sepupu jauhku. Orangnya baik dan keren sekali. Kau juga harus lihat. Yuk, kita duduk di sana!” ujarnya antusias seraya menunjuk tribun penonton di sebelah barat.

Sambil membiarkan Kazuhiro membimbingnya ke tempat duduk mereka, Kinari memperhatikan bagian tengah hall yang sedang dipersiapkan untuk final cabang olahraga kendo. Dua tim sedang bersiap-siap di tepi arena, memeriksa peralatan dan melakukan pemanasan ringan. Kazuhiro membawa mereka ke tempat duduk tepat di bagian depan tribun jadi mereka bisa melihat arena pertandingan dengan jelas. Kinari menyandarkan punggung dan menumpukan kaki di pagar pembatas. Kazuhiro menepuk pelan lututnya tapi Kinari tetap bergeming.

Diedarkannya matanya dengan malas, melewati tiap-tiap orang yang lewat di sekelilingnya. Kazuhiro sudah sibuk dengan ponselnya. Kinari menebak temannya itu memberitahu ibunya tentang hasil pertandingan hari itu. Kinari kembali mengarahkan pandang ke arah arena. Tim yang akan bertanding sudah mengambil posisi di dua sisi arena, berseberangan satu sama lain. Kazuhiro menunjuk pada satu tim yang diberi tanda pengenal berwarna merah di sisi kanan arena. Kinari pun menuruti arah telunjuk Kazuhiro.

Kemudian matanya terpaku.

Lima anggota tim itu sudah mengambil posisi berderet di tepi. Pelindung tubuh mereka diatur rapi di hadapan masing-masing. Seorang pria yang nampaknya pelatih sedang berbicara dengan dua orang dari mereka yang mendengarkan dengan serius. Tapi yang menahan pandangannya adalah pemuda yang duduk di ujung deretan. Pemuda itu duduk bersimpuh dengan posisi paling sempurna yang pernah dilihat Kinari. Punggung dan pundaknya tegap dan terkesan kokoh. Kepalanya pun tegap dengan pandangan diarahkan sedikit ke bawah. Kedua tangannya diletakkan di atas masing-masing paha, terkatup rapat dan rileks. Potongan rambutnya pendek sekali dan kedua alisnya yang tebal nampak tegas membingkai wajahnya yang tenang.

Meskipun teman setimnya nampak sedikit tegang dan beberapa kali melirik ke arah lawan mereka, pemuda itu seolah tak ambil pusing. Dia mengangguk sekilas pada teman di sebelahnya saat dibisiki sesuatu lalu kembali diam. Dan seolah tahu kalau diperhatikan, pemuda itu mengangkat kepalanya dan Kinari nyaris saja menunduk untuk bersembunyi karena tak ingin ketahuan. Kinari merasa jantungnya berdegup kencang.

Apa? Kenapa?

“Ah, dia melihat ke sini. Yo, Yuusuke~!” Kazuhiro melambai bersemangat.

Kinari menoleh pada temannya itu. “Kau kenal?”

“Un. Un. Dia orang yang kuceritakan tadi. Sepupu jauhku.” Sahut Kazuhiro dengan santai.

“Hee..." Kinari mengangguk-angguk kepala, berusaha acuh. Pun begitu, Kazuhiro sudah melemparkan pandang penuh arti padanya. "Dia keren kan?"

Kinari melengos, "Mana aku tahu dia keren atau tidak. Lihat dia bertanding saja belum."

Kazuhiro tak menjawab. Sepasang matanya yang runcing seperti rubah bersinar-sinar ceria dan tampak geli saat melihat Kinari mengeluarkan kameranya dan membidikan lensa ke arah arena.

*****

Dia sungguh tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mungkin kedua tangannya lebih paham dan bisa mengikuti runut kejadian di bawah sana daripada dirinya sendiri. Ibu jarinya menekan tombol, melihat sekitar 200 foto yang baru saja diambilnya yang sebagian besar diambil dari pertandingan terakhir. Saat pemuda bernama Yuusuke itu bertanding.

Entahlah. Dia seperti tersihir. Saudara Kazuhiro itu nampak seperti pendekar pedang yang gagah dan anggun dan sungguh, Kinari tak bisa menolak obyek seindah itu untuk dilewatkan begitu saja. Dia hanya bisa menggerutu panjang-pendek dan memukul kepala Kazuhiro saat temannya itu terkikik geli.

Kinari menerima sebotol air mineral yang diulurkan temannya yang masih menahan tawa. Sial, apa-apaan ini? Batinnya. Siapa sebenarnya pemuda itu? Kenapa jantungnya masih belum bisa berhenti berdetak kencang? Kenapa matanya tetap tak bisa beralih?

Wajahnya pasti bodoh sekali karena Kazuhiro masih tak bisa berhenti tersenyum-senyum geli. Kinari merutuk dan berdiri, setelah memastikan kameranya tersimpan rapi di dalam ranselnya.

"Jy, jyaa... aku pulang ya. Terima kasih untuk hari ini." Kinari berujar gugup.

"Chottoooo!" Kazuhiro kembali menangkap lengan Kinari dengan sigap. "Aku mau ketemu Yuusuke dulu. Kau tidak mau ikut?"

Kinari mengerutkan kening, berpura-pura tampak kesal. "Kenapa aku mau ikut? Dia kan saudaramu. Aku sudah dapat foto yang bagus. Sudah cukup kok."

Kazuhiro memiringkan kepalanya yang tampan itu, ".....Tapi kau ingin kenal kan?"

*****

Kazuhiro brengsek!

Kinari merutuk dalam hati saat dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat gugup sambil berdoa dalam hati supaya tidak kelihatan tolol. Dan kenapa wajahnya harus terasa panas, sih?

Kenapa pula dia diam seperti patung saat Kazuhiro benar-benar menariknya mendekat ke rombongan tim sekolah sepupu jauh temannya itu. Mereka sudah mulai membereskan peralatan mereka, melipat kain penutup kepala, memasukkan pelindung ke dalam tas kain dan menyarungi pedang bambu. Wajah-wajah yang lelah namun nampak begitu puas dan gembira. Kinari mengalihkan perhatiannya dengan kembali mengeluarkan kameranya dan memotret pemandangan itu.

Namun saat Kazuhiro melambaikan tangan dan memanggil pemuda incarannya itu, Kinari tak bisa tidak melirik. Pemuda bernama Yuusuke itu menoleh dan begitu melihat Kazuhiro, sudut-sudut bibirnya mengembang menjadi senyuman lebar dan cerah. Sudut-sudut matanya mengerut lembut dan memberikan kesan ramah dan hangat.

Sedetik, jantung Kinari berhenti berdegup.

Uwaaaah, manis sekali. Kenapaaaa? Bagaimana mungkin pendekar pedang yang dilihatnya tadi punya senyum semanis ituuuu? Kinari ingin sekali meraung dan berguling-guling di lantai kalau saja dia tak ingat sedang ada di mana.

Rasanya ingin lari saja dari situ. Wajahnya terasa semakin panas dan kedua tangannya terasa licin. Ia harus berhati-hati agar tak menjatuhkan kameranya. Dibiarkannya Kazuhiro bercakap dengan sepupunya itu, memuas-muaskan diri memandangi pemuda bernama Yuusuke itu sambil berpura-pura memotret apapun yang menarik perhatiannya.

Hirano Kinari, 17 tahun. Bertingkah seperti baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Eh?

".....pokoknya hebat sekali, deh. Ah, sou! Aku mau mengenalkanmu pada seseorang. Kinari-kun, sini, sini!"

Lagi-lagi, Kinari merelakan lengannya ditarik Kazuhiro. "Ini Hirano Kinari, teman sekelasku. Kinari-kun, Ueda Yuusuke."

"Ah, hajimemashite. Ueda Yuusuke desu." Pendekar pedang bersenyum manis itu kembali tersenyum lebar seraya mengangguk dan mengulurkan tangan.

Waaa, waaa, waaa. Apakah boleh dijabat? Boleh disentuh? Eh? Aku tak akan dianggap bodoh atau apa? Uwaaah, tangannya kelihatan kuat sekali.

"Ah, u, un. Maksudku, senang bertemu denganmu juga. Hirano... Kinari...desu." ujarnya terbata seraya menyambut uluran tangan yang bersahabat itu.

Yuusuke mengangguk dan Kinari merasa lututnya meleleh karena genggaman tangan itu begitu erat dan mantab juga hangat. Brengsek, brengsek, brengsek. Apa-apan ini?

Seolah menyadari kalau temannya mendadak kehilangan kemampuan untuk bicara, Kazuhiro menyembunyikan tawa dengan terbatuk pelan. “Kinari-kun ini suka memotret loh. Kupikir tadi dia bahkan mengambil foto-foto yang bagus. Kau mau lihat?”

Sungguh, rasanya dia mau membunuh Kazuhiro saat itu juga.

Sayangnya, Yuusuke keburu terlihat penasaran dan antusias. “Sungguh? Kalau memang boleh, tentu saja aku ingin lihat. Hahaha, aku jarang difoto sih, jadi mungkin hasilnya tidak bagus ya.”

“Naiii~” Kazuhiro mengibaskan tangannya.

Dibilang begitu, Kinari merasa harga dirinya sedikit tersenggol. “Fotonya bagus atau tidak, itu bukan salah obyeknya, kok,” gumamnya seraya memutar kameranya agar Yuusuke dan Kazuhiro bisa melihat foto-foto hasil jepretannya.

Yuusuke mengangkat alis. “Sou ka.” Lalu mengambil kamera Kinari dan mulai memperhatikan gambar yang terpampang. “Uwaaaa. Aku kelihatan segarang ini?”

Kazuhiro mendekat hingga sisi kepalanya nyaris bersentuhan dengan pelipis Yuusuke, “Mana? Mana? Hahaha tapi kau memang seperti itu kalau sedang bertanding. Eh, yang ini keren loh, Yuusuke.”

Yuusuke memajukan kepalanya sedikit dan mau tak mau, Kinari pun ikut menjulurkan leher karena penasaran. Foto yang diambil Kinari saat Yuusuke hendak turun bertanding, sedang mengenakan pelindung tangannya dan menoleh pada teman setimnya yang kelihatan sedang mengatakan sesuatu padanya sementara mata Yuusuke menatap lurus ke arah lawannya di seberang.

“Ini,” Yuusuke menunjuk foto itu, “boleh untukku?”

Kinari terdiam sejenak. “Tidak. Maaf.”

*****

Kinari memandangi foto itu dengan senyum terkulum. Kini terbingkai rapi dan diletakkan di atas meja belajarnya dan sering dipandanginya tiap kali ia merasa ingin melihat Yuusuke tapi terlalu gengsi untuk menelepon atau mengirim pesan. Bukannya ia selalu menahan diri tapi untuk hal-hal seperti ini, lebih baik ia simpan sendiri saja.

Sebuah sentuhan lembut di pundak membuat Kinari menoleh dan ia pun tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, pemuda itu melempar tubuhnya untuk memeluk Yuusuke, membuat Yuusuke berseru kaget dan jatuh terhuyung ke tempat tidur seraya memeluk Kinari dan tertawa lebar.

 -end-

Monday, April 2, 2012

[fanfic] Help

Cast: Ueda Yuusuke, Hirano Kinari
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: Happy belated birthday, Ue-chaaaaaaaaan!!




Kalau belum terlalu larut, mampir ke rumah ya.

Pesan singkat itu terpampang di layar handphone-nya, membawa seulas senyum di bibir Yuusuke. Ibu jarinya baru saja hendak menekan tombol ‘reply’ ketika sebuah pesan baru masuk.

Jam berapapun, pokoknya datang saja ya.

Kali ini Yuusuke tertawa dan harus menutup mulut dengan tangannya karena beberapa tamu kedainya melirik ke arahnya dengan tatapan bingung. Yuusuke membungkuk minta maaf dan buru-buru mengantongi kembali handphone-nya. Ia merasa Kinari tak menunggu jawaban darinya.

Pintu kedai terbuka dan Yuusuke menoleh, “Irassh---“

OTANJOUBI OMEDETOU, YUUSUKE! –SAN!

Yuusuke merasa ia nyaris saja tuli dengan seruan yang datang dari teman-temannya itu. Semua orang di dalam kedai menoleh terperangah, termasuk Yuusuke yang memandang teman-temannya dengan bingung. Wajah-wajah yang tertawa atau tersenyum sumringah. Oumi berdiri menjulang di tengah, kedua tangannya membawa sebuah cake dengan beberapa lilin menyala. Menit berikutnya, Yuusuke tertawa dan menghampiri teman-temannya itu.

“Ke, hahahaha, kenapa kalian tahu ulang tahunku?” tanyanya, menerima kue yang diulurkan Oumi.

Mao nyengir, “Tentu saja kami tahu ulang tahunmu, kau pikir kami teman macam apa?”

Yuusuke tertawa lagi. Ia tersenyum malu-malu dan membungkuk, “Terima kasih, ya.”

“Ayo, ditiup dong.” Sergah Fumiya tak sabar.

“Ah, hai, hai.” Yuusuke menarik nafas dan meniup semua api lilin yang menyala dalam sekali tiupan. Teman-temannya bertepuk tangan dan berseru riang, begitu juga tamu-tamu yang lain. Pria itu membungkuk beberapa kali, berterima kasih pada tiap orang.

“Ini dari kami,” Fumiya dan Okazaki mengulurkan masing-masing satu kantong kertas berukuran sedang yang diterima Yuusuke dengan satu tangan. “Ah, arigatou.

“Yang ini titipan dari Jinnai,” Mao mengulurkan sebotol sake. “Akan kusimpankan untukmu,” ujarnya lagi karena kedua tangan Yuusuke sudah penuh dan menghilang ke bagian belakang toko. Yuusuke meminta seorang asisten tokonya untuk mengambilkan pisau. Ia memutuskan untuk membagi-bagi kue ulang tahunnya dengan semua orang yang ada di situ.

“Ah, aku tadi mencoba menelepon Kareshi-san tapi katanya dia masih sibuk di tempat baitonya. Tapi kurasa dia pasti sudah menelepon Yuusuke-san, ya.” Komentar Oumi sambil melepas jaketnya dan duduk di salah satu kursi.

Yuusuke hanya tersenyum. “Sebut saja kalian mau apa, ya. Khusus hari ini, es krimnya gratis.”

“YEEEEEEEEEEEEEEEEEYYYYYYYYYYYYYY!!!!”

*****

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika Yuusuke mengeluarkan sepedanya dari garasi di samping rumah. Pintu samping terbuka, menyembulkan wajah ibunya yang mengingatkannya untuk berhati-hati di jalan dan jangan lupa untuk mampir ke apotik 24 jam sebelum pulang karena obat maag ayahnya sudah habis. Yuusuke menaiki sepedanya dan melambaikan tangan.

Udara malam itu masih cukup dingin dan Yuusuke setengah menyesal kenapa ia tak mengenakan jaket yang lebih tebal tapi buru-buru dibuangnya jauh-jauh perasaan itu karena hari ini ia cukup senang. Teman-temannya tinggal sampai makan malam, ibunya membuat shabu-shabu spesial untuk mereka semua, Mitsuya dan Jinnai mampir sebentar dan Yuusuke akhirnya membuka botol sake yang dibawakan Mao tadi. Ia pun akhirnya tak tahan untuk tidak mengirim pesan pada Kinari dan meledeknya karena tak datang dan melewatkan semua kesenangan itu. Kinari tak menjawab.

Lima belas menit kemudian, Yuusuke memarkir sepedanya di parkiran sepeda di depan gedung apartemen dimana Kinari tinggal. Pria itu memilih untuk lewat tangga menuju lantai lima dibanding naik lift. Langkah-langkahnya terasa ringan saat menapaki dua anak tangga tiap kali. Ia menimbang-nimbang mungkin sebaiknya ia memberitahu Kinari kalau ia sudah sampai; mengingat hari sudah cukup larut, rasanya agak tak enak kalau harus menekan bel tapi niat itu tak terlaksana. Jendela di samping pintu apartemen bernomor 507 itu masih menunjukkan kalau lampu di dalamnya masih menyala. Yuusuke berusaha mengintip ke dalam tapi pandangannya terhalang korden yang tertutup rapat.

Mungkin sebaiknya mengetuk saja, pikirnya. Tangannya sudah terangkat ketika didengar suara benda jatuh dari dalam apartemen diikuti umpatan tertahan. Ia mengenali suara itu. Suara barang lain jatuh, kali ini lebih pelan dari yang pertama, lagi-lagi disusul dengan umpatan; kali ini lebih panjang dari yang pertama. Yuusuke tak perlu berpikir dua kali dan mengetuk pintu dengan tak sabar.

“Kinari? Ada apa? Kinari!”

Kembali terdengar suara-suara disusul suara gerendel pintu dan kunci dibuka. Yuusuke mundur selangkah, tepat saat pintu didorong membuka dari dalam. “Maaf, tadi hanya tempat sampah yang tertendang dan--- Yuusuke!”

Kinari sendiri yang membuka pintunya tapi bukan itu yang membuat Yuusuke tak segera menjawab. Kinari tampak… berantakan. Rambutnya yang biasanya jatuh dengan lembut membingkai wajahnya kali ini terlihat sedikit acak-acakan. Kaus yang dikenakannya basah di bagian depan dan Yuusuke bisa mencium samar aroma sake dari kekasihnya itu. Ia bertelanjang kaki dan nampak kesal dan lelah.

“Ada a--- ah!” Kinari menepuk keningnya, satu tangannya menggenggam lap meja. “Aku kan memintamu mampir ya. Aku benar-benar lupa.” Dilihatnya Kinari melirik ke dalam rumah dengan ekspresi sedikit khawatir sebelum kembali memandangnya. Kinari melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. Diremas-remasnya lap tangan yang dibawanya itu dengan gelisah. “Ahaha, padahal aku sendiri yang mengundangmu kemari ya,” Kepalanya tertunduk memandang kakinya, “Umh, maaf, tapi sepertinya….”

Kalimatnya terputus oleh Yuusuke yang melangkah maju dan meletakkan kedua telapak tangannya di masing-masing pipi Kinari; dengan lembut memaksa Kinari untuk memandangnya. Yuusuke meneliti wajah kekasihnya itu baik-baik. Kedua mata kecoklatan Kinari terlihat sedih, khawatir, kesal dan lelah sekaligus sedikit takut. Satu ibu jari Yuusuke bergerak menghapus sisa air mata di sudut mata Kinari.

“Ah,” Kinari tertawa canggung dan mengangkat tangannya sendiri untuk mengusap matanya dengan punggung tangan. “Kemasukan debu. Aku… sedang bersih-bersih, hahaha…”

“Kinari,” Yuusuke memanggil namanya dengan lembut dan Kinari pun terdiam, “Ada apa?”

Tangan Kinari mendarat di atas tangan Yuusuke yang masih menyentuk pipinya, sedikit gemetar. Kinari menggigit bibirnya kuat-kuat dan ia menggelengkan kepalanya keras-keras hingga Yuusuke takut Kinari akan jadi pusing karenanya. Disambutnya Kinari yang melingkarkan kedua lengan ke sekeliling tubuh Yuusuke dengan erat dan mungkin terlalu kencang tapi Yuusuke tak terlalu peduli.

*****

Kinari menyusut hidungnya dengan sapu tangan lalu tertawa pelan, “Maaf ya, Yuusuke.”

Yuusuke mengangsurkan sekaleng kopi hangat yang baru saja dibelinya di mesin otomatis di seberang apartemen Kinari. “Kenapa minta maaf?” tanyanya sambil mendudukkan diri di sebelah Kinari di atas bangku kayu di taman itu. Yuusuke tadi mengajaknya turun ke taman apartemen (mungkin setengah menggeret Kinari karena pacarnya itu nampak enggan bergerak dan lebih memilih untuk tetap memeluknya saja) dan duduk di bangku taman. Suasana lebih tenang di taman itu dan supaya tak mengganggu tetangga Kinari karena Kinari tampak agak enggan membiarkan Yuusuke masuk ke dalam apartemennya.

“Karena kamu harus melihatku seperti ini,” ujar Kinari sambil menyesap kopinya.

Yuusuke tertawa pelan sambil mengusap lembut kepala Kinari. “Daijoubu. Sesekali melihatmu seperti ini bagus juga, kok.”

Mou,” Kinari menyenggol pundak Yuusuke dengan pundaknya sendiri dan tak bisa menahan senyum karena Yuusuke pun tersenyum padanya.

Mereka terdiam beberapa lama. Kinari menyandarkan pelipisnya di ujung pundak kokoh kekasihnya dan Yuusuke hanya menikmati kopi bagiannya tanpa berkata apa-apa. Beberapa jenak kemudian, Yuusuke menggerakkan kepalanya untuk mengecup pucuk kepala Kinari, membuat pemuda itu mendesah pelan dan akhirnya duduk tegak lagi. Kinari menarik dan menghela nafas beberapa kali. Yuusuke melirik ke arahnya dan sekali lagi menepuk bagian belakang kepala Kinari dengan sayang.

“Aku hanya berharap kau mau lebih percaya padaku,” ujarnya lembut.

Kinari menggigit bibir, “Aku… hanya tak ingin kau ikut repot gara-gara Ibuku.”

Yuusuke mengetuk-ngetuk pinggiran kaleng kopinya dengan ujung jemarinya. “Dulu, Sho-chan sering marah padaku karena katanya aku ini terlalu suka ikut campur urusannya tiap kali kutegur sehabis berkelahi, kau tahu?” Kinari menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir, karena ia temanku dan kupikir potensi seperti itu sebaiknya disalurkan di tempat lain yang lebih berguna.”

“Yuusuke sekali ya,” ujar Kinari sambil tertawa pelan, “Selalu positif tentang orang lain.”

“Ahahaha, sou yade? Yah, mungkin memang begitu ya. Tapi, kamu ini kan bukan sekedar temanku, loh. Kamu pacarku. Kalau aku tak diberitahu hal seserius ini, aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Aku pun tidak tahu harus bagaimana,” Kinari bergumam sambil mengangkat bahunya dengan tak bersemangat. “Aku…”

“Kupikir ibumu ada di pusat rehabilitasi?”

Kinari mengangguk, “Sampai dua minggu yang lalu.” Pemuda itu menengadahkan kepala, memandang kosong ke arah lampu taman di seberang mereka. Yuusuke memperhatikan helaian poni panjangnya yang bergerak lembut dan menjulurkan tangan untuk menyelipkan helain halus itu ke belakang telinga Kinari.

“Aku sudah cerita kan, Ibu jadi seperti itu sejak Ayah pergi. Dengan keputusan keluarga, kami memasukkan Ibu ke pusat rehabilitasi. Tapi, keluarga pamanku yang selama ini membiayai perawatan Ibu sedang kesusahan. Mereka butuh biaya banyak untuk memperbaiki rumah mereka yang terbakar juga membayar sewa apartemen sementara. Karena itu, tak ada pilihan lain selain membawa Ibu pulang dan merawatnya di rumah. Kondisi Ibu pun sedang baik.”

“Ada yang terjadi hari ini?” Yuusuke mengusap punggung Kinari seolah member keberanian untuk melanjutkan ceritanya.

Kinari diam beberapa saat, menyesap kopinya lalu berujar pelan, “Kemarin Ayah menelepon. Biasanya Ayah menelepon hanya di hari Minggu tapi kali ini beliau menelepon karena tahu Ibu ada di rumah dan Ayah ingin bertemu dan ingin bicara pada Ibu. Entah untuk apa. Aku sedang di kamar mandi saat itu jadi Ibu yang mengangkat. Rupanya itu memicu Ibu dan… “ suara Kinari bergetar menahan luapan emosinya, “Ibu mengamuk.”

Yuusuke sama sekali tak tahu harus berkata atau berbuat apa jadi dilanjutkkannya mengusap punggung Kinari yang kembali tampak kesal dan sedih. Ia merasa simpati dan ikut sedih tapi dengan jujur ia akan mengakui kalau ia tak bisa sepenuhnya mengerti perasan Kinari. Ia hanya tahu kalau saat ini Kinari pasti sangatlah marah dan kesal juga sedih, mungkin sedikit merasa tak berdaya.

“Ibu hanya bisa tenang saat tertidur, itu pun setelah kupaksa meminum obatnya. Tapi tadi entah bagaimana Ibu menemukan kunci lemari tempat aku menyembunyikan minuman keras dan…” Kinari melambai pada bagian kausnya yang masih sedikit basah. “Aku tak bisa meninggalkan Ibu yang seperti itu tapi aku tak bisa lama-lama bolos kerja sambilan.”

“Aku sama sekali tak tahu harus bagaimana, Yuusuke.” Kinari mengepalkan kedua tangannya, menjatuhkan kaleng kopinya dan membuat sisa cairan gelap itu tumpah ke tanah.

Yuusuke mengecup keningnya dan memeluknya erat-erat. Tak berkata apa-apa.

*****

To: Ueda Yuusuke
From: Hirano Kinari
Subject: Gomen.

Kemarin terima kasih ya. Dan maaf karena aku jadi mengacaukan ulang tahun Yuusuke. Besok ada waktu? Mungkin aku bisa mampir sebentar ke tempatmu dan membawa kue.

To: Hirano Kinari
From: Ueda Yuusuke
Subject: Iie

Aku sudah dapat kue dari yang lain dan sake dari Sho-chan. Bawakan aku pie lemon-mu yang enak itu :p

To: Hirano Kinari
From: Ueda Yuusuke
Subject: Oh

Lebih baik lagi, tak usah bawa apa-apa :)

*****

Baru kali itu Kinari merasa sedikit gugup saat mau bertemu Yuusuke. Rasanya seperti datang ke kencan pertama mereka dulu. Tapi mungkin kali ini karena ia masih merasa sedikit malu karena sudah kelepasan tak terkendali seperti itu di depan Yuusuke. Memang sih, Yuusuke pacarnya tapi pakai menangis tak terkendali di pelukan Yuusuke itu cukup memalukan untuknya. Karena itu, ia sengaja datang menjelang waktu kedai es krim itu tutup. Dan berharap pada apapun di muka bumi ini kalau rombongan berisik dan selalu ingin tahu itu kali ini, untuk kali ini saja, tak ada di kedai.

Sapaan ramah dan hangat khas kedai itu menyambutnya begitu Kinari membuka pintu. Sayangnya bukan Yuusuke yang berjaga. Pelayan kedai itu tersenyum ramah padanya dan mengatakan kalau Yuusuke sudah berpesan padanya untuk langsung saja masuk ke rumah karena Yuusuke sedang keluar mengantar pesanan untuk pesta.

Kinari duduk menunggu di ruang duduk kecil di bagian belakang kedai yang biasanya digunakan untuk mengurus administrasi kedai itu. Ruang itu tadinya hanya lorong yang menghubungkan kedai dengan bagian rumah tinggal di belakangnya namun diubah fungsinya setelah kedai itu berkembang lebih maju dan ramai pengunjung. Sebuah jendela kecil menghubungkan ruang itu dengan bagian kasir di depannya. Pelayan toko mengantarkan secangkir teh hijau hangat dan semangkuk biskuit beras.

Yang ditunggu datang setengah jam kemudian tapi Kinari masih harus menunggu sedikit lebih lama karena itu bertepatan dengan waktu tutup kedai jadi Yuusuke harus membantu beres-beres sebentar. Ketika akhirnya Yuusuke duduk di depannya, Kinari mengerjapkan kedua matanya dengan heran; memandang dua buah amplop coklat tebal yang diletakkan Yuusuke di atas meja dan didorong pelan ke arahnya.

“A, apa ini?”

Yuusuke tak langsung menjawab, karena itu Kinari mengambil sebuah dan mengintip isinya. Matanya membelalak tak percaya dan detik berikutnya, kedua alisnya berkerut tak senang dan ia menatap Yuusuke dengan curiga.

“Yuusuke, serius. Ini apa?”

Yuusuke menggaruk ujung hidungnya lalu meringis. “Sudah kuduga. Ini…”

“Aku sama sekali tidak mengharapkan ini.” Kinari memotong ucapan pacarnya itu, menahan nadanya agar tak terdengar marah tapi ia tetap tampak tersinggung.

Yuusuke menyentuh tangan Kinari yang terlihat seperti mau melempar amplop itu ke tempat sampah. “Tunggu. Setidaknya dengarkan dulu apa yang mau kukatakan. Ya?”

Kinari menarik nafas lalu meletakkan amplop tebal itu kembali ke atas meja. Yuusuke memiringkan kepalanya sedikit, “Ookini.” Ia kemudian meletakkan tangannya di atas amplop yang tadi diletakkan Kinari. “Aku sudah berpikir panjang dan aku tak peduli kamu mau menganggapku tukang ikut campur atau apapun tapi kupikir, aku sungguh ingin membantumu. Aku berpikir ini hal yang wajar dan kalau aku bisa, kenapa tidak? Dan sebelum kau menyela, aku akan mengatakan ini: Ini bukan pemberian cuma-cuma loh. Aku tahu kau pasti tak akan mau menerima. Karena itu, anggap saja ini pinjaman jangka panjang. Kamu bisa mengembalikannya kapan saja kamu mau atau menyicilnya semampumu, terserah saja.”

Kinari nampak masih tak bisa menerima kata-kata Yuusuke, “Tapi, ini jumlahnya besar sekali. Aku tak bisa…”

“Kinari, aku ingin membantumu. Dan kalau kau sebegitu khawatirnya, aku sudah membicarakan ini baik-baik dengan orang tuaku. Mereka sudah setuju dan berpendapat bahwa kami memang harus membantumu.”

“Tapi---“

“Tentu saja ada syarat lainnya,” Yuusuke tak menggubris protes Kinari.

“Syarat?”

Yuusuke mengangguk. “Kamu harus berkonsentrasi. Istirahat yang cukup, makan yang cukup jadi kau bisa bekerja dengan baik dan suatu hari nanti, kau harus mau meninggalkan rumahmu dan masuk ke rumah ini.”

Kinari terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan Yuusuke. Sesaat kemudian, “Eh?”

Yuusuke mengangguk. “Kurasa aku tak perlu mengulang perkataanku.” Ujarnya sambil tersenyum lebar.

“EH?” suara Kinari meninggi dan wajahnya memerah. “A, aku… itu… me, memangnya tidak apa-apa seenaknya memutuskan begitu?”

Yuusuke menggelengkan kepala, “Semuanya nanti bisa diatur, kok” ujarnya seraya mengerling.

Kinari menunduk. Sekilas, ia masih nampak tersipu tapi kelamaan Yuusuke bisa melihat kalau Kinari kembali terlihat enggan dan tak enak. Yuusuke mengulurkan tangannya; menyentuhkan ujung jari-jarinya dengan ujung jemari Kinari. Dijentikkannya dengan pelan sampai Kinari mau mengangkat wajah dan memandangnya.

“Aku pun ingin Ibumu mendapatkan perawatan yang terbaik dan sembuh secepatnya.” Ujarnya pelan dan bersungguh-sungguh.

Kinari mencerna perkataan Yuusuke sebelum akhirnya mengangguk. Ia kemudian melirik ke arah amplop yang satu lagi. “Ini juga?”

“Ah, yang itu… itu dari Mao dan teman-teman.”

Mata Kinari kembali melebar tak percaya.

“Maaf. Aku… cerita pada mereka karena aku ingin minta saran dan mereka memaksa untuk menyumbang. Mereka tak mau dengar meskipun aku sudah bilang kalau kau pasti tak akan setuju dan akan menolak. Mereka juga menolak untuk dikembalikan. Kupikir, untuk yang satu ini sebaiknya kau menerima perasaan mereka.”

Kinari kembali terdiam.

“Kalau kau mau mengembalikan, silakan kembalikan sendiri pada mereka ya, meskipun aku tak yakin mereka akan mau menerima.” Yuusuke tertawa pelan.

“Aku…” Kinari menarik nafas. “Ini terlalu banyak.”

Yuusuke menggeleng. “Tak usah dipikirkan. Yang harus kau pikirkan saat ini hanya Ibumu dan bagaimana memberi perawatan yang terbaik. Itu saja. Ya?”

Ketika akhirnya Kinari mengangguk dan tersenyum, Yuusuke merasa ia terlihat begitu cantik. Kinari mengangkat tubuhnya dan bergeser ke sebelah Yuusuke. Untuk beberapa lama, ditatapnya pria tampan itu dan ketika Kinari merangkulnya dan menciumnya, Yuusuke mengerti Kinari tengah berusaha menyampaikan rasa terima kasihnya. Yuusuke membalas tatapannya dengan lembut, juga membalas ciumannya dengan senang hati.

Nande,” Kinari berbisik di sela ciuman mereka, mengusap bibir Yuusuke dengan ibu jarinya, “soko made boku ni tasukete kureta?

Nande tte… mochiron deshou?” Yuusuke tertawa pelan dan mengecup Kinari lagi, “Suki yakara de.

Yuusuke menganggap semu kemerahan di pipi Kinari itu adalah pemandangan paling imut di muka bumi ini. “Boku mo, Yuusuke ga suki.

-end-

Thursday, March 15, 2012

[fanfic] Comfort

Cast: Ueda Yuusuke, Hirano Kinari, cameo Fudoumine boys
Fandom: TeniMyu 2nd Season
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: hyaaaaaaaa kenapa gue niat sekali nulis ini ya XD *menempeli Ue-chan dan buchou mini* Maaf kalo geje


Tak ada yang lebih membuatnya lebih kesal lagi hari itu saat membuka pintu geser tradisional dan menyelipkan kepala ke antara lembaran noren dan melihat toko mungil itu penuh dengan wajah-wajah yang sangat tak ingin dilihatnya saat ini. Kinari menarik nafas panjang sementara kedua alisnya berkerut tak senang. Rasanya ingin sekali berdiri tegak dan berbalik saja lalu pulang tetapi nampaknya salah satu dari mereka sudah melihatnya dan langsung memanggil namanya dengan ceria.

“Ah, kareshi-san da~”

Urat di pelipis Kinari menonjol dan ia akhirnya membawa dirinya masuk setelah menutup pintu geser di belakangnya. “Namaku Kinari, tahu,” gerutunya seraya menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang berada paling dekat dengan pintu; sengaja tak bergabung dengan mereka yang duduk berjejer di tiga meja yang dirapatkan jadi satu. “Jangan ubah-ubah nama orang seenaknya.” protesnya lebih lanjut.

“Sudah lama tak bertemu, kenapa ketus sekali?” cetus seorang pria mungil yang duduk di sebelah pemuda bersenyum lebar.

Kinari mendengus. “Apanya yang sudah lama? Baru dua minggu yang lalu kita pergi minum sake kan?”

“Ah, benar juga.” Pria itu tertawa.

“Eeeeeh? Kenapa Mao-san minum-minum dengan Kareshi-san tapi tidak mengajakku? Mou. Curang sekali.” Protes pemuda di sebelahnya.

“Kau kan sedang pulang ke rumah orang tuamu waktu itu, Youichirou. Siapa lagi yang bisa kuajak minum kalau bukan Kinari dan Yuusuke kan?”

Yoichirou mengangguk-angguk, tertawa lebar seraya menjangkau segelas es teh di depannya. “Ah, sou, sou.”

“Haaah. Curang sekali. Memangnya aku ini tidak bisa diajak minum ya?” kali ini seorang pria yang mengenakan setelan rapi memprotes. Mao mengangkat alisnya pada pria itu, “Yang benar saja. Mana mau aku minum-minum dengan orang yang kerjaannya telepon terus dengan pacar tercinta?”

“A, aku bukan pacarnya!” sanggah pemuda yang duduk di hadapan Kyoushirou dengan wajah luar biasa merah sementara Kyoushiro hanya nyengir.

Mao kembali mengangkat alisnya, “Memangnya aku bicara tentangmu, Fuumin?”

“Hidoi! Mou, Kyou-chan! Katakan sesuatu dong.” Protesnya.

“Eeeh? Memangnya aku harus bilang apa? Aku kan memang suka teleponan denganmu. Yah, meskipun kau bukan pacarku.”

“Kyou-chaaaaaaaaan~”

Youichirou terbahak-bahak sementara Mao tersenyum miring sembari mengulum sendok es krimnya. Saat itu sesosok tegap masuk dari bagian belakang toko, membawa sebuah nampan dengan tiga gelas es teh di atasnya.

“Kalian ribut sekali,” komentarnya, meletakkan masing-masing gelas di hadapan seorang pemuda cantik berwajah lancip yang menggumamkan terima kasih, Mao dan Fumiya yang masih sibuk merajuk. Yuusuke tersenyum lebar saat melihat Kinari. “Ah, kau datang rupanya. Sudah selesai kerja sambilannya?”

Kinari mengangguk. “Aku minta es jeruk saja.” Ujarnya pelan.

Yuusuke mengangkat alis. “Tidak mau matcha dan vanilla seperti biasa?”

Kinari menggeleng. Youichirou terkekeh geli. “Kareshi-san sepertinya mood-nya sedang buruk, Yuusuke-san. Sejak tadi cemberut terus loh.”

“Uruse.” Cetus Kinari seraya melengos, pura-pura sibuk dengan handphone-nya. Ia pura-pura tuli saat Yuusuke bertanya ada apa dan membiarkan yang lain menjawab untuknya. Apapun itu, dia tak begitu menyimak. Terserah saja mereka mau bilang apa. Kinari hanya berharap mereka akan cepat pergi jadi ia bisa berduaan dengan Yuusuke.

Kinari menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan-lahan saat Yuusuke kembali dan meletakkan segelas es jeruk di hadapannya. Ditahannya dirinya agar tak mengangkat kepala karena Yuusuke tetap berdiri di hadapannya. Ia yakin Yuusuke pasti sedang menatapnya dengan pandangan bertanya dan mungkin juga tak senang karena ia bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tak dibelikan mainan.

Tapi sungguh, ia benar-benar tak peduli saat ini. Seharian ini rasanya semua hal tak bisa berjalan dengan semestinya dan tiap kejadian hanya membuatnya makin kesal. Jadi sebelum ia meledak, Kinari memutuskan untuk pergi saja dan menemui pacarnya. Ia tahu Yuusuke akan bisa membuatnya lebih tenang dengan nasehatnya yang entah kenapa selalu terdengar masuk akal.

Ya, julukan Youichirou padanya itu memang benar. Sejak ia pacaran dengan Yuusuke dua tahun yang lalu, dia dijuluki begitu. Kinari tak begitu mengenal orang-orang itu kecuali Mao yang sudah berteman dengan Yuusuke sejak lama. Youichirou pun dikenal Kinari karena pacaran dengan Mao. Kyoushiro pelanggan tetap toko es krim itu dan ia selalu datang dengan Fumiya dan mengaku kalau tak ada apa-apa di antara mereka. Kazuhiro tinggal tak jauh dari situ dan masih bersaudara dengan Yuusuke jadi ia sudah sering mampir sejak kecil. Entah bagaimana akhirnya mereka semua bisa saling kenal satu sama lain dan sering main bersama.

Ia sendiri mengenal Yuusuke beberapa tahun yang lalu ketika ia masih duduk di bangku SMU. Saat itu ia datang melihat-lihat pertandingan inter high yang diikuti sekolahnya dan iseng menonton pertandingan kendo. Ia ingat ia melihat sosok yang begitu menarik perhatian di tengah arena. Wajahnya memang tertutup pelindung kepala tapi orang ini mengeluarkan aura yang tidak bisa disepelekan. Permainan kendonya pun luar biasa. Ayunan pedangnya mantap dan seruannya pun benar-benar membuat lawannya mengkerut. Sungguh tak aneh ketika akhirnya orang itu berhasil meraih medali emas.

Ia sama sekali tak menyangka kalau orangnya berwajah sangat ramah dan senyumnya pun begitu bersahabat. Mungkin bisa dibilang kalau Kinari sudah sangat tertarik sejak mereka berjabat tangan berkat teman Kinari yang ikut klub kendo dan mengenal Yuusuke. Baru beberapa tahun setelah itu Kinari memberanikan diri mengajak Yuusuke kencan dan ia senang luar biasa karena Yuusuke tak menolak.

Kinari pun cukup takjub bahwa teman dekat Yuusuke adalah mantan berandalan nomor dua di kota itu (sekarang mengurus kedai sake milik keluarga dan pacarnya pun orang yang menarik). Nomor satunya pun (Kinari sempat tak percaya orang secantik itu mantan berandalan) bahkan cukup akrab dengan Yuusuke. Menurutnya, mereka sebenarnya orang baik, hanya sering disalahpahami.

Sungguh, dilihat dari sisi mana pun, Yuusuke adalah sosok anak idaman. Tampan, mandiri, bertanggung jawab, tegas dan sungguh bertanggung jawab. Ia tak memprotes meskipun harus rela tak kuliah dan mengambil alih usaha keluarganya ini. Katanya, ia senang membuat es krim dan senang melihat wajah orang-orang yang datang menjadi bahagia karena memakan es krimnya. Kinari mengejeknya dan Yuusuke hanya tertawa. “Memang kenyataannya begitu, kok.” ujar Yuusuke waktu itu dan Kinari tak bisa menyangkal karena es krim buatan toko milik Yuusuke itu sangatlah enak, jauh melebihi es krim di toko manapun.

Telinganya menangkap suara tawa orang-orang itu yang meledak begitu kerasnya. Mau tak mau, Kinari melirik dan melihat mereka sedang menertawakan Fumiya yang entah berbuat apa hingga wajahnya merah dan nyaris menangis. Kyoushiro menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan meskipun wajahnya berkerut aneh karena menahan tawa. Fumiya memeluknya dan menepuk dada Kyoushiro dengan sebal. Yuusuke pun ikut terbahak-bahak dan mengacak-acak rambut Fumiya dengan gemas.

“Nih, kuberi es krim strawberry gratis. Jangan menangis lagi ya,” ujar Yuusuke.

“Aaaaah, curang! Masa harus menangis dulu baru diberi gratisan?” tukas Kazuhiro iri dan disetujui oleh Youichirou dan Mao yang ikut protes.

“Kalian jahat!” seru Fumiya keras meski teredam kemeja Kyoushiro yang masih belum berhasil melepaskan pelukan Fumiya dan hanya pasrah saja kemejanya jadi agak basah terkena airmata.

Kyoushiro akhirnya menepuk-nepuk kepala Fumiya dengan lembut. “Sudah, sudah. Salahmu sendiri salah ambil kan? Yuk, pulang. Aku akan masak makan malam untukmu.”

“Hontou?” Fumiya mengangkat kepalanya, “Aku mau hamburg steak plus spaghetti dan omelet!”

“Oi, oi!”

“Ii na,” komentar Youichirou sambil mengambil mantelnya juga karena Mao member isyarat kalau mereka juga sebaiknya pulang saja, “Mao-san mau masak makan malam untukku juga tidak?”

Mao mendengus, “Kecuali kau mau makan menu yang sama dengan keponakanku, aku tak keberatan.” Pria mungil itu kemudian membuat tanda salut dengan dua jarinya pada Yuusuke, “Jya ne, Yuusuke.”

Yuusuke mengangguk, “Ou. Hati-hati di jalan, kalian semua~”

Youichirou membungkuk lalu mengejar Mao yang sudah berlalu meninggalkan toko, “Chotto matte yo, Mao-san!”

Kazuhiro pun ikut membereskan barang-barangnya, berujar kalau sudah waktunya ia harus berangkat kerja sambilan. Yuusuke membekalinya sekotak manisan buatan ibunya untuk diberikan pada ibu Kazuhiro. Pemuda berwajah lancip itu nyengir senang lalu mengatakan kalau toh manisannya akan dihabiskan olehnya. Kyoushiro menunggu Fumiya yang minta ijin menggunakan kamar mandi tamu untuk cuci muka. Kinari masih menghabiskan es jeruknya dengan malas-malasan.

“Nanda, Kinari-kun? Dari tadi terlihat bosan sekali.” Tegur Kyoushiro ramah.

Kinari mengerjap. Pria itu memandangnya sambil tersenyum tapi Kinari paham dia sedang dikritik. Kinari pun jadi agak segan karena Kyoushiro lebih tua dari mereka semua yang tadi ada di situ. Ia berdeham, “Umh. Maaf. Aku hanya…” ia mendesah, “Hari ini capek sekali dan… maaf ya, Kyou-chan.”

Kyoushiro mengibaskan tangannya dengan segan, “Eh? Kenapa minta maaf padaku?” pria itu tertawa, “Tumben saja loh, Kinari-kun datang dengan wajah masam begitu. Apalagi sama sekali tidak tersenyum pada Yuusuke-san. Sedang bertengkar? Ah, tapi kalau bertengkar, tak mungkin Kinari-kun datang kemari ya?”

Kinari baru saja membuka mulut untuk menjawab tapi Fumiya sudah kembali, kelihatan lebih segar, dan mengenakan jaketnya. “Yuk, Kyou-chan.”

Kyoushiro mengangguk dan pamit pada Yuusuke yang mengantar mereka sampai ke pintu. “Datang lagi ya. Hati-hati di jalan.”

Suara pintu geser menutup dan helaan nafas Yuusuke mendului suasana yang mendadak sepi. Yuusuke tertawa pelan. “Selalu ramai kalau ada mereka ya. Begitu pergi langsung terasa sepinya.”

Kinari mengangguk. Ia masih tak mau menatap Yuusuke yang sudah bergerak membereskan mangkuk-mangkuk bekas es krim dan gelas-gelas. Kinari memperhatikan Yuusuke yang sibuk bergerak ke sana kemari dan sempat mengangkat telepon yang berdering beberapa kali lalu kembali membereskan meja dan menyusun menu baru juga menyambut satu dua orang pengunjung lain. Bibirnya mengerut tak senang, pun ia hanya mengangguk berterima kasih saat Yuusuke meletakkan segelas es jeruk baru di hadapannya dan mengambil gelasnya yang sudah kosong.

Nampaknya memang ia harus bersabar sampai toko tutup dua jam lagi atau pulang saja.

*****

Yuusuke menarik kursi di hadapan Kinari setelah meletakkan sepiring mochi dango di atas meja bersama dua gelas ocha hangat. “Haaaaah, akhirnya selesai juga.” Ujarnya seraya melipat celemek hitamnya dengan rapid an meletakkan di atas meja, di dekat tangan Kinari. “Ah, setelah ini harus mengecek persediaan buah-buahan dan kue kering. Ah, lapar tidak? Aku tidak sempat masak apa-apa hari ini jadi kita ke tempat Sho-chan saja yuk.”

Kinari menarik nafas, “Aku pulang saja deh,” cetusnya cepat dan langsung berdiri untuk mengenakan jaket dan menyandang tasnya.

“Eh?” Yuusuke mengerjap bingung. “Pulang? Kita kan belum bicara sama sekali, loh.”

Kinari merengut, “Memangnya salah siapa?”

Alis tegas Yuusuke terangkat sebelah. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Kinari yang entah kenapa Nampak kesulitan dengan jaketnya. “Duduklah.” Ujarnya pelan.

Kinari memandangnya lalu perlahan duduk kembali, sebal karena tak bisa melawan kalau Yuusuke sudah menggunakan suara pelan namun tegasnya. Meski begitu, Kinari duduk menyamping dan sibuk memainkan ujung jaketnya. Ia hanya bisa mengerjap saat Yuusuke mengambil satu tangannya dan menggenggam dengan erat.

“Ada apa sih? Yang seperti itu tadi tak sopan sama yang lain, loh. Kalau memang kesal padaku dan ingin marah, tidak harus ditunjukkan ke semua orang kan?”

Kinari menghela nafas. Memang beginilah. Dia susah menduga kalau Yuusuke pun sadar kalau mood-nya sedang tidak bagus. “Aku bukannya marah padamu, kok.”

“Sou?”

Kinari mengangguk.

“Yokatta,” Yuusuke tersenyum, mengeratkan genggaman, “ Jya, nande?”

Kinari menghela nafas lagi lalu memutar duduknya menghadap Yuusuke lagi. “Hari ini… tidak enak saja. Rasanya semuanya salah. Mulai dari bangun tadi, keran kamar mandi rusak lalu petugas yang kupanggil tidak datang juga jadi aku telat datang ke tempat baito. Karena itu, jadinya aku dimarahi dan kau tahu bosku kan? Kalau sudah kesal, semua kesalahan sampai yang terkecil pun diungkit terus. Padahal aku sudah minta maaf loh dan aku juga sudah kirim email sebelumnya kalau aku akan telat datang. Lalu teman kerjaku di tempat yang satu lagi tidak masuk jadi aku harus jaga sendiri padahal ada rombongan yang datang. Mana mereka semua cerewet dan bosku juga jadi senewen sekali. Kunci sepedaku hilang, pula. Aaaaargh, pokoknya aku kesal sekali. Jangan tertawa dong, Yuusuke!”

Yuusuke menutup mulutnya dengan tangannya yang satu lagi dan menggigit bibirnya keras-keras karena Kinari benar-benar kelihatan kesal. Ia berdeham saat Kinari mendelik padanya. “Hai, wari, wari.” Yuusuke berdeham sekali lagi. “Lalu? Ke sini naik apa?”

Kinari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Tentu saja jalan kaki. Kan tidak begitu jauh.”

“Ah,” Yuusuke mengangguk-angguk. Ditekannya ibu jarinya ke punggung tangan Kinari lalu mengelus dengan lembut. “Pasti capek sekali ya. Waktu sampai ke sini ternyata sedang ramai jadi kau tambah kesal?”

“Maa,” bisik Kinari.

“Coba kalau bilang begitu dari tadi, aku kan bisa menyuruh mereka pergi saja atau mengajakmu ke dalam.”

Kinari memutar matanya, “Mana mungkin kan? Memangnya kau bisa mengusir mereka? Bagaimanapun mereka kan pelangganmu juga dan kalau di dalam, aku harus melakukan apa? Nanti malah mengganggu.”

“Tidur saja di kamarku. Kan tak ada yang melarang.”

Entah kenapa, Kinari merasa pipinya memanas. Ditekannya tangan Yuusuke sambil tersipu dan Yuusuke balas menggenggam sambil nyengir lebar.

“Tapi mereka itu orang-orang yang menyenangkan loh. Aku tak bisa jadi sebal kalau ada mereka.” Yuusuke berujar lagi, menusuk sebutir dango dengan tusuk bamboo dan mengunyah. Kinari mengikuti contohnya. Dia suka sekali mochi dango buatan Yuusuke itu. “Aku tahu sih.”

Tanpa diduganya, Yuusuke menarik tangan Kinari yang sejak tadi digenggamnya dan mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Kinari. “Aku tahu. Maaf ya. Mungkin seharusnya aku lebih sensitif untuk urusan seperti ini.”

“Maa ii.” Bisik Kinari sambil melepaskan tangannya. Dia sebenarnya tak bermaksud membuat Yuusuke ikut merasa tak enak. Bagaimanapun, hari buruknya sama sekali bukan karena Yuusuke. Toh, dia datang ke sini juga untuk bertemu Yuusuke dan mencari ketenangan. Bukannya cari ribut atau semacamnya. “Maaf ya. Seharusnya aku tidak bertingkah seperti tadi,” Kinari membungkuk.

Tak ada jawaban dari Yuusuke yang hanya memandangnya beberapa saat. Pria itu lalu menggerakkan jari-jarinya, member isyarat pada Kinari untuk mendekat. Kinari memajukan tubuhnya, “Apa?”

Yuusuke masih menggerakkan tangannya sampai akhirnya Kinari berdiri dan berjalan ke arahnya. Ketika Kinari berdiri di sebelahnya dengan pandangan tak mengerti, Yuusuke pun berdiri. Kedua lengannya yang kokoh merengkuh pundak Kinari dan menarik pemuda itu dalam pelukan. Kinari hanya sanggup tertegun meski detik berikutnya ia balas melingkarkan lengannya ke pinggang Yuusuke dan merebahkan kepala ke pundak Yuusuke.

Dihirupnya wangi Yuusuke yang manis seperti es krim dan buah-buahan segar, juga sedikit berbau susu bercampur dengan parfum Yuusuke yang maskulin. Yuusuke menyusupkan wajah ke antara helaian rambut Kinari yang lembut dan Kinari mengeratkan pelukannya. Begitu saja dan Kinari mulai merasa mood-nya membaik.

Mereka berdiri seperti itu selama beberapa menit yang terasa begitu lama sampai Yuusuke mengecup pucuk kepala Kinari dengan sayang dan mengusap-usap punggung Kinari.

“Masih tidak mau bertemu orang lain?” tanyanya lembut sambil menunduk.

Kinari mendongak dan memiringkan kepalanya sedikit, “Kenapa memangnya?”

“Mau temani aku makan malam di tempat Sho-chan? Aku tidak tahu mau masak apa untuk makan malam dan kamu pasti juga lapar kan?”

Kinari mengangguk. “Mulai lapar juga sih.”

Yuusuke tersenyum dan mengangguk. “Tak usah khawatir. Ini kan masih tengah minggu. Tempatnya Sho-chan tak akan terlalu ramai.”

Kinari berpikir sejenak lalu mengangguk. “Terserah Yuusuke saja deh.”

Jemari Yuusuke menyisir poni Kinari, “Jangan begitu, dong. Kalau kamu lebih ingin di sini saja, kita bisa telepon pesan antar saja.”

Kinari mengedikkan bahu. “Tak apa. Benar, kok.”

“Honma?”

Kinari mengangguk. “Hontou. Tapi,” Kinari kembali merebahkan kepalanya ke pundah Yuusuke, “Begini saja dulu sebentar lagi saja tak apa kan?”

Yuusuke tersenyum lebar dan kembali mengeratkan pelukannya. “Ee wa.”