Showing posts with label Sasaki Yoshihide. Show all posts
Showing posts with label Sasaki Yoshihide. Show all posts

Friday, July 8, 2011

[fanfic] AU Strike Two

Fandom: TeniMyu/Fujoshi Kanojo
Cast: Daito Shunsuke, Harukawa Kyousuke, Sasaki Yoshihide
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: Own nothing
Note: Untuk tanuki sayang yang hari ini abis dilepeh sama singa XDD Ganbatte, bb!! Juga buat Anne yang udah nge-spam yukata dua hari yang lalu. Dan buat Nei yang udah sukses bikin ngakak hari ini. Mama-san senang sekali hari ini *kecup2 semuanya*

ETA: poster made by Nei



Sudah nyaris satu jam Halu berdiri di depan cermin besar itu. Keningnya berkerut hebat sementara wajah dan punggungnya mulai basah oleh keringat meskipun pendingin ruangan dinyalakan dengan kekuatan penuh. Ia tak peduli kakak dan ayahnya akan ngomel-ngomel tentang biaya listrik bulan ini. Musim panas sudah mulai dan hari itu panasnya luar biasa. Dia belum mau kulitnya yang seputih susu jadi kecoklatan seperti sang kakak (meskipun sang kakak justru kelihatan manis karenanya). Untuk kesekian kalinya, Haru menghela nafas dengan frustrasi. Yukata-nya tak juga terpasang dengan rapi dan dari tadi ia tak bisa menyimpul obi-nya dengan baik. Kurang kencang, tak rapi atau bentuknya tak jelas. Berulang kali dilepas dan diikat lagi, malah membuat yukatanya ikut berantakan.

Kenapa sih dia harus setuju memakai yukata ke festival musim panas di kuil dekat rumah? Pergi dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan kan lebih praktis dan dia tak perlu repot seperti ini. Pemuda berkulit putih itu menggerundel pelan, menarik-narik obinya sekali lagi.

Karena ayahnya sudah membelikan dua stel yukata masing-masing untuknya dan Hide. Itu sebabnya. Tentu saja dia tak bisa begitu saja menolak untuk mengenakannya. Apalagi yukata kan tidak murah. Ditambah lagi, yang didapatnya ini motifnya bagus sekali: gradasi warna coklat -terang di atas dan makin gelap di bagian bawah- dengan sulaman benang emas berbentuk helain daun ginko di bagian lengan dan bagian bawah yukatanya. Senada dengan motif daun ginko-nya, obinya pun berwarna emas polos. Sungguh, dia lebih senang mengenakan jinbei yang jauh lebih praktis. 

Halu mendesah keras. Akhirnya menyerah dan menarik lepas obi-nya. Mungkin sebaiknya dia minta bantuan Hide saja untuk mengenakan yukatanya. Atau cuek saja pakai baju biasa dan minta maaf pada ayahnya kalau ditanya. 

Matanya berkedip saat membuka pintu kamar kakaknya setelah mengetuk sekali dan mendapat jawaban. Kakaknya itu sedang berdiri di dekat tempat tidur, terbalut yukata berwarna merah darah dengan motif capung berwarna hitam di bagian bawahnya. Kedua lengannya terangkat, menggenggam lengan yukata agar memudahkan Shunsuke yang sedang berlutut di belakangnya memasang obi-nya yang juga berwarna hitam bermotif aliran air. 

Akrab sekali, pikirnya, masih agak tak rela karena Hide sudah menyambut Shunsuke dengan lebih terbuka. Yang lebih membuat sebal lagi, Shunsuke mengenakan jinbei berwarna hijau tua bermotif jalinan tali tipis berwarna putih. Pria itu leluasa bergerak berjongkok, berdiri, merapikan lipatan dan kerut di yukata Hide. Tangannya juga seolah mahir sekali membuat simpul obi. Halu menatap tak rela.

Hide menoleh. "Loh, dari tadi belum selesai?"

Halu mencibir. "Curang sekali, sih. Hide-kun kan sudah pintar pakai yukata. Kenapa masih dibantu?"

Hide hanya menjulurkan lidah. "Habis Shunsuke-san menawarkan membantu. Kata Tou-san kan tak baik menolak kebaikan orang."

Alis Halu berkedut. Shunsuke-san. Sejak kapan?

Shunsuke terkekeh pelan. Ditepuknya kai no kuchi musubi yang baru dibuatnya. "Hai. Dekita." Pria itu berdiri, mengibas debu yang tak kelihatan dari pundak Hide sambil menoleh pada Halu. "Haru-kun mau dibantu juga?"

Hide mengangkat alis pada sang adik yang hanya terdiam namun sejenak kemudian mendekat sambil mengulurkan obinya. Shunsuke hanya nyengir, menyambut obi yang dilulurkan dan meletakkannya di atas tempat tidur Hide. Dilepasnya tali putih penahan yukata dari pinggul Halu. Digenggamnya kedua ujung tepi kain yukata dan ditarik-tariknya sedikit untuk menyamakan panjang. Sisi kanan ditariknya masuk dan diisyaratkannya Halu untuk menahan dengan tangannya sendiri di bagian pinggul.

Halu melipirkan matanya ke atas, merasa tak nyaman karena dibantu. Hide duduk di tepi tempat tidur, menutup wajah dengan uchiha sementara bahunya berguncang pelan karena menahan tawa. Halu mendelik padanya dan sudah membuka mulutnya tapi terhenti karena Shunsuke memintanya menahan sisi yukata yang sebelah kiri agar Shunsuke bisa mengikat tali penahan dengan mudah. Hide sukses terkikik geli tanpa ditahan lagi.

"Hide-kun, berisik! Bantu Tou-san sana!" sentak Halu dengan wajah sedikit memerah.

"Ini kan kamarku. Terserah aku dong mau melakukan apa."

Shunsuke melirik pada pemuda berkulit putih itu dan nyengir. "Haru-kun selalu galak begitu ya kalau jadi kapten?"

Halu mendelik. "Bukan urusan Daito-san kan?"

"Haru-kun." tegur Hide seraya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Halu merengut lagi lalu menggerundel. "Biasa saja, kok. Aku dipilih jadi kapten bukan karena aku galak."

Shunsuke tertawa pelan. "Untunglah. Aku tak begitu tahu tenis, tapi sepertinya kalian berdua cukup jago ya." ujar Shunsuke sambil mengikat kuat tali penahan dan beringsut mengambil obi.

Halu tak menjawab, hanya mengangkat hidung tinggi-tinggi. Dadanya juga sedikit membusung. "Yah, kami cukup sering menang sih."

Shunsuke mengangguk-angguk. Kedua lengannya terjulur melingkarkan obi di sekeliling pinggul Halu dan tubuh Halu tersentak canggung. Hide beranjak mendengar Yun memanggilnya. Halu sudah ingin menjitak kakaknya yang tampaknya senang sekali meninggalkannya satu ruangan dengan Shunsuke. Hide mungkin saja sudah tak punya masalah dengan pria itu tapi Halu masih belum percaya kalau Shunsuke tak punya motivasi tertentu mendekati ayahnya.

Dia juga agak heran kenapa akhir-akhir ini Shunsuke seperti tak berusaha lagi untuk menyenangkan dirinya dan Hide. Mungkin sudah merasa menang karena sudah berhasil menaklukan Hide atau bagaimana, Halu tak begitu paham. Kalau memang benar begitu, maaf-maaf saja. Dia tak akan semudah itu ditaklukan seperti kakaknya itu. Dia masih yakin dalam waktu tak sampai setengah tahun dari sekarang, Shunsuke pasti akan bosan sendiri atau ayahnya yang akan bosan duluan. Selalu seperti itu kasusnya. Beberapa kali ada yang datang, berusaha bermanis-manis dengannya atau Hide (bahkan tanpa dikenalkan Yun lebih dulu) lalu pergi dengan alasan tak siap menghadapi kedua anak Yun itu. Halu sampai kesal sekali. Memangnya dia dan Hide itu dianggap apa?

Shunsuke berputar ke belakang anak laki-laki itu dan berlutut, mulai menyimpul sisa obi menjadi simpul kerang. "Terlalu kencang?"

Halu menggeleng, menggeser sedikit posisi obi agar lebih nyaman. "Tidak."

"Kalau ada yang mau dikatakan, silakan saja loh. Aku orang yang cukup terbuka pada kritikan kok. Aku ini kan pengacara." seloroh Shunsuke sambil tersenyum. Alisnya yang tebal bergerak-gerak geli.

Halu menoleh sekilas, tak benar-benar bisa melihat ke arah pria yang masih berlutut di belakangnya itu. "Tak ada yang perlu dikatakan kok. Daito-san sudah tahu apa pendapatku."

"Hmm... Memangnya tidak lelah ya, mencurigaiku terus menerus?" cetus Shunsuke yang membuat Halu agak terkejut karena sama sekali tak ditutupi. Shunsuke tertawa pelan. "Melihat ayahmu, dan cara kalian berkomunikasi, aku yakin tak ada gunanya menutup-nutupi apapun." Shunsuke memastikan simpul yang dibuatnya cukup erat dan rapi sebelum berdiri dan merapikan kain yukata Halu. Pengacara tampan itu berjalan memutar dan berdiri di depan Halu yang menolak melihat ke arahnya.

"Kalau kau tak suka padaku, aku tak akan memaksa. Mau bagaimana lagi? Tapi aku tak ingin kau curiga terus menerus padaku karena sungguh, aku tak punya maksud apa-apa berteman dekat dengan ayahmu. Selain karena tertarik dan aku sayang padanya. Itu saja, kok."

Halu mendengus. 

Shunsuke melipat tangan dan tertawa. "Haru-kun tak punya orang yang disayangi? Selain ayahmu dan Hide-kun ya."

Kening Halu berkerut tanda tak suka dengan pertanyaan Shunsuke. Pria itu tertawa pelan. "Niatku hanya ingin punya teman istimewa untuk diajak berbagi. Lebih dari saudara atau sahabat. Aku yakin kalau kamu punya seseorang yang disayang, kamu mengerti apa maksudku. Ayahmu pria yang hebat dan aku bersyukur karena dia melihatku. Itu saja cukup untukku. Tentu saja aku akan senang kalau Hide-kun dan kamu mau menerimaku. Kalau tidak, aku tak bisa memaksa."

Pemuda berkulit putih itu makin mengerutkan keningnya. "Memangnya tidak ada maksud melangkah lebih jauh dari sekarang? Pasti ada kan? Pasti ingin tinggal berdua dengan Tou-san kan? Bebas dari aku dan Hide-kun."

Shunsuke mengedikkan bahu. "Meskipun ingin sekali begitu, aku tak bisa memintanya memilih kan? Aku yakin kalian jauh lebih berharga dibanding aku dan kalau aku meminta Yun memilih, jelas aku akan kalah. Dan sekali lagi kubilang, aku tak bisa begitu dengannya. Aku juga tak berniat begitu."

"Kalau sudah tahu ada aku dan Hide-kun, kenapa tetap mau jalan dengan Tou-san? Tou-san memang tampan, tapi dia kan cuma guru. Pemasukannya bahkan tak seberapa dibanding Anda yang pengacara."

Shunsuke terbahak dan mengibaskan tangannya. "Kankeinai yo."

"Lalu kenapa?"

"Karena aku suka. Sudah kubilang tadi kan?"

Saat itu, Halu ingin sekali memukul pria itu karena terdengar begitu mirip dengan ayahnya, juga karena merasa kalah dan tak bisa membalas lagi karena semua perkataan pria itu bisa dimengerti Halu. Memang, saat ini belum ada orang yang benar-benar istimewa yang disukainya, tapi rasanya Halu bisa menyamakan dengan perasaannya pada ayahnya dan Hide. Karena ia sayang kedua orang itu, rasanya tak butuh alasan lain untuk ada di dekat mereka. 

Karena suka. Karena sayang.

Halu menggigit bibir. Shunsuke tersenyum dan menepuk pundaknya. "Tak usah memaksa. Aku tidak. Yun juga tidak. Aku yakin Hide-kun pun tidak. Nanti sakit perut loh." Shunsuke mengerling.

Wajah Halu bersemu merah. Ia menundukkan kepalanya, menggenggam tepi yukatanya dengan erat. "Aku mungkin tak akan pernah benar-benar rela mengijinkanmu ada di dekat Tou-san loh. Ibuku pergi begitu saja. Aku tak mau mengalami hal yang sama lagi."

Shunsuke mengangguk dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala pemuda itu dengan sayang. "Sekali lagi, aku sama sekali tak memaksa. Sungguh. Kalau aku berbuat aneh di kemudian hari, Halu-kun boleh memukulku sekeras mungkin."

Halu mengangguk. Meskipun dalam hati, ia mengernyit karena sama sekali tak menyukai rasa hangat yang menyelinap ke dalam hatinya dari sentuhan tangan Shunsuke di kepalanya.

Hide menyembulkan kepalanya. "Belum selesai?"

Kedua orang itu menoleh. Hide melangkah masuk. Satu sisi rambutnya sudah terjalin rapi dan ditahan tali rambut berwarna maroon. Halu yakin pasti dia harus sibuk mengusir pergi orang-orang yang menggoda kakaknya begitu mereka berjalan di festival nanti. Shunsuke tersenyum lebar.

"Hide-kun, manis sekali~" pujinya.

Hide mengibaskan tangan. "Ini kerjaan Tou-san. Shunsuke-san dicari Tou-san, loh."

"Un." Pria itu mengangguk, menepuk pundak Halu sekali lagi sebelum berlalu pergi.

Hide melirik ke arah adiknya yang masih berdiri mematung di tempat. "Ada apa?" Kepalanya dimiringkan dan mata rubahnya mengerjap pelan.

Halu mendesah lalu menyentil ujung hidung Hide. "Nandemonai."

Hide menatap sang adik dan seolah paha, tersenyum sambil menusuk pipi Halu yang menggembung tanpa sadar sambil nyengir.

Halu menepisnya dengan sebal.

Friday, April 15, 2011

[fanfic] AU - Taking Chances

Fandom: Fujoshi Kanojo/Musical Tennis no Ouji-sama
Pairing; Furukawa YutaxDaito Shunsuke, brothership!Halu/Hide
Cast: Daito Shunsuke, Furukawa Yuta, Sasaki Yoshihide, Harukawa Kyousuke
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: respective agency offices. I do not own anyone. No profit gained. No harm intended.
Note: OKEH!!! Inilah saat di mana kita bergerak maju dengan alistebel versus rubah cantik huehehehehhe Maaf kalo gejeh, yes. Enjoy!




Sendi-sendi tubuhnya berderak pelan saat Shunsuke menarik lengannya ke atas seraya menguap. Helaan nafas panjang mengiringi, juga kerjapan mata yang masih mengantuk. Tapi tubuhnya sudah menolak untuk tidur lagi. Tangannya terulur ke arah samping, mengambil arlojinya dan mengintip dengan satu mata terpejam. Masih jam 6 pagi. Shunsuke mendesah lagi. Padahal semalam ia tidur cukup larut gara-gara rubah besar yang entah kenapa mendadak jadi tuli akan protes Shunsuke dan membuatnya terjaga sampai lewat tengah malam. Diliriknya pria yang masih terlelap di sampingnya itu. Sebuah senyum samar tersungging di bibirnya dan Shunsuke tak bisa menahan diri untuk tidak mengecupnya dengan gemas. Yun bergumam pelan dan sama sekali tak bangun. Shunsuke tersenyum geli, mengecupnya sekali lagi dan akhirnya memutuskan untuk bangun. Segelas kopi tampaknya ide yang bagus.

Shunsuke bergerak dengan pelan dan berusaha tak menyenggol apapun saat ia berpakaian, menyelipkan kedua kakinya ke dalam sandal rumah dan berjingkat turun ke dapur melewati lorong dan ruang tamu yang masih gelap. Kepalanya dimiringkan saat melihat lampu dapur ternyata menyala. Disibakkannya tirai pendek yang menutupi ambang pintu dan mengintip ke dalam dapur mungil itu. Dilihatnya pintu kulkas terbuka dan sebentuk pinggang dan pantat menyembul dari baliknya, juga gumaman pelan sebelum akhirnya bagian atas tubuh Hide terangkat saat pemuda itu menutup pintu kulkas.

"Banyak sekali yang harus dibeli." Gumamnya. Dan mungkin mewarisi insting Yun yang tajam, ekor matanya melirik dan kepalanya menoleh. Mata rubahnya mengerjap heran saat melihat Shunsuke di situ.

"Daito-san. Kapan datang?" Tanyanya lugas dan entah kenapa terdengar seperti apa-yang-kau-lakukan-pagi-buta-begini-di-rumahku-awas-kalau-berani-macam-macam di telinga Shunsuke.

Pengacara muda itu tersenyum canggung, mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. "Umh, maaf mengganggu. Kami sampai sekitar jam 10? Sepertinya kalian berdua sudah tidur."

Hide mengangkat dagu lalu mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, anak laki-laki itu bergerak ke sudut dapur tempat mesin kopi dan microwave diletakkan lalu mulai sibuk mengeluarkan cangkir dan mengaktifkan mesin kopi. Tak tahu harus apa, Shunsuke melangkah masuk dengan ragu dan duduk di meja makan. Dalam hati ia berharap semoga diamnya pemuda itu hanya karena alasan yang biasa dan bukan karena dia mendengar mereka semalam. Shunsuke sudah berusaha sekuat tenaga untuk tak mengeluarkan suara. Hal yang nyaris mustahil dilakukan kalau sudah disentuh Yun.

Tapi Hide masih diam dan mengacuhkannya, seperti biasa. Shunsuke merasa agak lega sedikit. Kalau Hide mendengar sesuatu semalam, mungkin dia sudah ditendang dari rumah itu sekarang. Diperhatikannya rubah cilik itu mondar-mandir membuka tutup lemari dan menulis di selembar kertas. Shunsuke memutuskan untuk meracik sendiri kopinya sambil terus memperhatikan Hide memeriksa kotak-kotak susu dan sereal. Bibirnya yang sintal merengut lucu saat harus membuang sesuatu yang masih berjumlah banyak tapi sudah tak bisa dipakai karena kadaluarsa.

"Mau pergi belanja?" Shunsuke akhirnya tak bisa menahan keingintahuannya.

Hide melirik lalu mengangguk. "Tou-san terlambat mengirimkan uang. Seharusnya aku sudah belanja dari minggu kemarin." Jelasnya tanpa diminta dan Shunsuke ikut merengut sebal. Dasar Yun. Kenapa bisa selalai itu sih? Tapi pikirannya teralih saat melihat daftar panjang yang sedang dilipas Hide untuk dimasukkan ke dalam saku celana.

"Sebanyak itu, tak apa-apa sendiri?" Tanyanya.

"Aku bisa membangunkan Haru-kun, kok." Hide mengangkat bahu.

Shunsuke menggigit bibir lalu berujar. "Bagaimana kalau aku saja yang pergi denganmu? Aku bawa mobil kok. Belanjaan sebanyak itu sepertinya tak akan bisa dibawa dua orang sekalipun."

Hide menatapnya tajam seperti menimbang-nimbang maksud di balik tawaran Shunsuke. Pengacara muda itu memasang tampang lurus karena sungguh, dia tak bermaksud merayu atau apa. Hanya ketulusan biasa karena kalau dia bisa membantu, apa salahnya?

Nyaris lima menit kemudian, Hide akhirnya mengangkat bahu dan mengangguk. Shunsuke tersenyum dan mengisyaratkan kalau dia akan ke atas sebentar untuk mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya. Tak lama, mereka sudah menuju daerah pertokoan dengan Hide sebagai petunjuk jalan.

Shunsuke harus mengakui kalau Hide sangat mahir dengan apa yang dilakukannya saat mengeluarkan daftar belanjaan, berjalan menuju toko-toko sayuran, buah, daging, ikan dan bahan persediaan lainnya. Beberapa pedagang menyapanya dengan ramah dan satu dua bahkan menawarkan diskon khusus untuk Hide. Shunsuke hanya sanggup mengikuti dari belakangnya, menjinjing beberapa tas penuh bahan makanan.

Mereka melewati sebuah kios kecil yang menjual gorengan dan Shunsuke berhenti sejenak, membeli dua kroket besar yang masih mengepul dan terguyur saus kental. Hide mendelik saat Shunsuke mengulurkan satu padanya.

"Dari mana Anda tahu aku suka kroket?" Gumamnya pelan sembari meniup dan menggigit kroket itu.

Shunsuke tertawa seraya mengedikkan bahunya. "Sama sekali tidak. Tapi ini tadi kelihatan... UWOH! Ini ENAK!" Serunya sambil mengunyah.

Hide tersenyum miring. "Makanan Osaka memang nomor satu."

"Eh, maji! Ini enak sekali! Tunggu sebentar ya. Aku mau beli lagi."

Hide tak sempat berkata apa-apa karena Shunsuke sudah melesat dan kembali beberapa saat kemudian dengan bungkusan besar. "Banyak sekali," komentarnya.

"Aku belikan untuk Haru-kun dan ayahmu juga."

Hide mengangguk-angguk. Mereka mengunjungi dua toko lagi untuk membeli makanan kalengan dan kopi sebelum Hide mengecek daftar belanjaannya dan berkata kalau semuanya sudah terbeli. Dalam perjalanan ke mobil, Shunsuke tertarik dengan mitarashi dango dan lagi-lagi membeli dua porsi untuk dirinya dan Hide.


Hide berharap, sungguh-sungguh berharap, pria yang tengah memotong-motong wortel di sebelahnya ini punya sifat yang jahat dan menyebalkan. Karena dengan begitu dia bisa dengan mudah membenci dan menendangnya keluar rumah setiap saat. Tapi tidak. Daito Shunsuke sungguh pria yang baik dan sepertinya semua perbuatannya tulus. Hide jadi makin tak punya alasan untuk tak menyukainya.

Sekedar menudingnya dan berseru, "Kau mau mengambil ayahku dan Haru-kun!" saja tak akan cukup. Ayahnya tetap pulang ke rumah seperti biasa, tetap datang ke pertandingan mereka, tetap memarahi mereka kalau mereka nakal dan tetap mampir untuk mengucapkan selamat malam seperti biasa sebelum tidur. Sama sekali tak ada yang berubah. Hanya saja akhir-akhir ini ayahnya lebih banyak tersenyum.

Yun pernah berkata kalau dia menemukan seseorang yang disukainya, dirinya dan Haru lah yang akan pertama tahu. Yun menepati itu. Sebelum Shunsuke muncul untuk pertama kali, Yun menceritakan pada mereka bahwa ada seseorang yang tengah dekat dengannya. Hanya itu. Yun tak meminta apapun. Tak meminta mereka untuk berbaik-baik dengan Shunsuke atau menerimanya begitu saja.

Tentu saja yang ada di dalam pikirannya dan Haru adalah yang terburuk. Seperti yang dikatakan Haru, kenapa dia mau saja berada di sisi Yun? Dia hanya guru, tak punya banyak uang dan sudah punya dua orang anak. Apa yang diharapkan Shunsuke, pengacara muda sukses dan pastinya hidup cukup berlebih, dari pria seperti Yun?

Dalam hati ia tahu, ini bukan salah Shunsuke karena kalau melihat sifat Yun, sudah jelas pasti ayahnya itu yang bergerak lebih dulu. Dan Shunsuke memang pria yang menarik.

Dan bau masakannya sungguh menggugah selera.

Hide menjulurkan wajahnya. "Ini mau dibuat apa?" Tanyanya sambil menunjuk roti tawar, telur dan susu.

Shunsuke menoleh. "Oh. French toast. Hide-kun tahu caranya?"

"Umh...aku belum pernah buat."

"Oh ya? Gampang loh! Sebentar." Shunsuke memasukkan wortel dan buncis yang baru dipotong-potongnya ke dalam panci untuk direbus, mengelap tangan dengan apronnya dan menghampiri Hide. "Caranya begini."

Hide memperhatikannya merendam roti dengan susu lalu mencampur telur dengan sedikit garam dan merica. Menyalakan kompor, melelehkan mentega di wajan datar lalu mengajari Hide untuk mencelupkan roti tadi ke dalam telur dan memanggangnya.

Shunsuke menggerakkan tangannya agar Hide mencium aroma yang menguar. "Baunya enak kan?"

Hide mengangguk antusias. "Un. Cukup begini saja?"

"Perhatikan saja. Kalau sudah cukup kecoklatan, dibalik lalu angkat. Mudah kan?" Shunsuke nyengir.

Hide kembali mengangguk-angguk. Shunsuke tersenyum lalu beralih mengurus daging babi yang baru mereka beli tadi. Rubah kecil di sebelahnya tampak tertarik lagi saat Shunsuke menghancurkan roti baguette dan beberapa lembar daun mint dengan blender. Memipihkan daging dengan palu khusus, menyisihkan tepung, telur dan remah roti di mangkuk berbeda. Hide makin antusias memperhatikan pria itu mencelupkan daging ke dalam tepung, telur lalu remah roti bergantian. Semuanya dilakukan dengan rapi dan cekatan. Rubah kecil itu nyaris lupa dengan french toast karena terlalu asyik memperhatikan.

"Ini chicken katsu?" Tanyanya seraya mematikan kompor.

Shunsuke terbahak. "Ini namanya wiener schnitzel."

"Apa?"

"Wiener schnitzel. Makanan jerman."

"Ah." Kepalanya mengangguk-angguk sok mengerti.

"Hide-kun bisa buat mashed potato?" Tanya Shunsuke lagi.

"Bisa!"


Shunsuke menikmati ini. Sungguh. Sepertinya ketidaksukaan anak itu padanya meluap untuk sesaat karena begitu tertarik dengan masakan yang dibuatnya. Bertanya ini itu, berdebat dengan bumbu yang harusnya digunakan dan akhirnya mengobrol tentang banyak hal. Meskipun anak laki-laki menjauh dengan defensif saat Shunsuke bertanya ada apa dengan lengannya yang selalu terbalut.

"Temanku dokter spesialis olahraga. Mungkin dia bisa bantu menyembuhkan lenganmu. Kalau kamu mau."

Hide mengalihkan pandang, mencampur kentang rebus yang sudah dihancurkan dengan sedikit susu. "Ini sudah sembuh kok."

"Kalau begitu, kenapa masih dibalut terus?"

"Daito-san. Terlalu banyak pertanyaan."

Shunsuke tertegun dan menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sudah melangkah terlalu jauh. "Maaf. Aku tak akan bertanya lagi."

Mereka pun terdiam, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sampai Hide bergumam. "Tanya yang lain saja."

Shunsuke tersenyum kecil. Diangkatnya daging-daging yang sudah tergoreng dengan matang dan meletakkannya di atas piring besar beralas tisu.

"Hmm...baiklah. Apa Hide-kun punya pacar?"

Kali ini giliran Hide yang nyaris menjatuhkan sendok kayu yang tengah dipegangnya. Semburat merah menyebar sampai ke tengkuknya sementara kedua mata yang sipit melebar. Shunsuke tertawa dan mengangkat kedua tangannya.

"Baiklah. Tak boleh tanya itu juga? Kupikir, kau dan Haru-kun kan sudah 18 tahun. Dan...umh... Aku melihatmu cukup dekat dengan pemuda jangkung pasanganmu bermain ganda tempo hari. Dia bahkan membawakan tasmu."

Hide meletakkan mangkuk berisi mashed potato ke atas meja. "Bukan pacarku." Gumamnya agak tak jelas.

"Oh. Oke." Shunsuke manggut-manggut mengerti dan Hide harus memukul lengannya dengan ujung sendok kayu.

"Jangan bilang Tou-san. Awas ya." Ancamnya seraya menyipitkan matanya dengan mengancam.

Shunsuke menutup mulutnya dengan berdeham. "Hei, bukan urusanku. Tapi, kenapa?"

"Aku yang akan bilang sendiri. Nanti." Ujarnya.

Memang benar-benar anak Yun, pikir Shunsuke seraya tersenyum geli.


Halu masuk ke dapur saat Shunsuke tengah menata meja makan sementara Hide berkutat mencuci peralatan yang mereka pakai memasak. Keningnya berkerut samar karena bingung mendapati ada Shunsuke sepagi itu di rumah mereka dan lebih bingung lagi karena Hide tampaknya tak keberatan Shunsuke membantunya menyiapkan sarapan. Ditambah lagi, masakannya harum sekali dan tampak begitu lezat.

"Ohayou, Haru-kun." Sapa Shunsuke, mencoba tersenyum pada pemuda berkulit putih itu.

Halu mengangguk singkat. "'Hayou.." Didekatinya sang kakak dan membantu mengeringkan alat-alat masak yang sudah dicuci Hide. Matanya sesekali melirik pada Shunsuke yang menanyakan letak piring disimpan dan Hide menunjukkan dengan senang hati.

Ada apa ini? Bukankah seharusnya mereka masih dalam tahap belum sebegitunya menerima Shunsuke? Apalagi Hide yang paling tak setuju.

Matanya melotot tak setuju saat Hide meminta Shunsuke untuk membangunkan Yun karena sarapan sudah siap. Begitu pria itu menghilang dari dapur, Haru melipat tangannya di depan dada.

"Ada sesuatu yang terjadi?" Tanyanya.

Hide mengangkat bahu, mengelap tangan dan melepas apronnya. "Tak ada apa-apa kok."

"Kok akrab sekali dengan Daito-san?"

Hide masih diam dan Halu mendengus. Sedetik kemudian mulutnya membuka otomatis pada sepotong roti yang dijulurkan Hide. Halu mengunyah pelan dan matanya melebar. "Enak! Apa ini?"

"French toast. Daito-san yang buat."

Halu mengambil sisa potongan roti dari tangan Hide dan menguyah dengan semangat lalu beralih mengambil sepotong lagi.

"Dia....oke." Hide berkomentar sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol besar orange juice.

"Jadi, Hide-kun akan menerimanya?"

"Entahlah. Orangnya baik."

Halu terdiam. Berpikir sejenak dan juga karena mulutnya sibuk mengunyah. "Dia akan mengambil Tou-san loh."

"Hmmm... Entahlah. Kalau dipikir lagi, aku merasa tak ada yang benar-benar berubah."

"Hide-kun mau memberinya kesempatan?"

".....mungkin?"

Halu mendesah. "Nii-san."

"Aku tidak tahu, Haru-kun. Sebaiknya bagaimana? Tou-san suka padanya dan Daito-san tampak tulus. Aku tak tahu harus bagaimana." Tukas Hide setengah merajuk. "Ibuku sudah tak ada dan Halu-kun juga tak mau menerima ibu Halu-kun lagi. Tou-san juga tak berniat. Dan Tou-san tampak senang." Hide terdiam sesaat dan melanjutkan dengan lirih. "Aku merasa jahat sekali."

Halu mendekati sang kakak dan melingkarkan kedua lengannya ke pundak Hide. Disentuhkannya kening mereka lalu menggesekkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Hide dengan sayang. "Hide-kun tidak jahat, kok. Kita kan hanya khawatir dengan Tou-san."

Hide menyentuh lengan Halu dan mengangguk. "Aku tak ingin Tou-san sedih."

"Aku juga tidak."


"Apa yang kau lakukan?" Bisik Yun seraya melirik Shunsuke. Kedua pria itu berdiri di ambang pintu dapur tapi menahan diri untuk masuk ke dapur saat menangkap sepenggal pembicaraan kakak beradik itu.

Shunsuke mengangkat bahu dan menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun."

Yun terkekeh pelan.

"Sebaliknya," Shunsuke berujar lagi. "Kau beruntung sekali punya mereka."

Yun tersenyum bangga. "Aku tahu." Dan mengecup sekilas bibir Shunsuke sebelum melangkah masuk ke dapur, menggandeng Shunsuke untuk bergabung dengan keluarga kecilnya untuk sarapan.

Shunsuke merasa itu akhir minggu paling hebat dalam hidupnya.

Thursday, December 23, 2010

[fanfic] AU TeniMyu - Morning

Fandom: Musical Tennis no Ouji-sama
Pairing: KaneOuji, BuchouHime, Brother!HideHalu
Cast: Kanesaki Kentarou, Yagami Ren, Takigawa Eiji, KIMERU, Harukawa Kyousuke, Sasaki Yoshihide
Rating: PG-13 for kissing
Warning: BL. AU. OOC
Disclaimer: I do not own anyone.
Note: MARI MENYAMBUT LIBURAN DENGAN SENANG!



-Kanesaki-

Kane mengancingkan kemejanya sambil mengingat-ingat apa semua dokumen yang dibutuhkannya hari itu sudah masuk semua ke dalam tas kerjanya. Ada rapat penting pagi itu dan dia tak mau ada berkas yang tertinggal. Dia juga tak mau rekan kerjanya kena serangan jantung. Merapikan kemejanya ke dalam celana, Kane celingukan mencari dasi. Kepalanya dimajukan supaya bisa melihat dengan jelas simpul yang dibuatnya. Sepertinya sudah saatnya dia pakai kacamata tapi Ren tak suka melihatnya pakai kacamata. "Terlalu serius ah. Seram." Ujar istrinya itu sambil mengernyit. Kane tak bisa berbuat lain dan menyimpan kacamatanya di dalam laci meja kerja.

Setelah memastikan penampilannya rapi, Kane menengok ke arah tempat tidur. Onggokan besar tertutup selimut di satu sisi tempat tidur menandakan istrinya masih tertidur nyenyak. Kane melangkah mendekat dan duduk di sisi tempat tidur dengan hati-hati. Tangannya terjulur dan menyentuh kening Ren dengan lembut. Kemarin dia demam dan meskipun semalam suhunya sudah turun, Kane merasa agak tak tega meninggalkannya.

Mungkin merasakan sentuhan Kane, Ren bergumam dan membuka matanya perlahan. Berkedip-kedip sejenak sebelum benar-benar memandang suaminya.

"Kane-chan sudah mau berangkat ya?" Tanyanya lirih.

Kane mengangguk. Tangannya diletakkan di atas lengan Ren dan mengusap sayang. "Sudah enakan?"

Ren beringsut dan mengangguk. Disentuhnya pipi Kane sambil tersenyum. "Sudah tak apa-apa, kok. Kane-chan terlalu khawatir deh."

Kane mengerutkan kening. Ren tertawa pelan. Kane meletakkan tangannya di wajah Ren sekali lagi dan mengelus pipi dan rahang Ren seolah memastikan kalau istrinya itu benar-benar baik saja. Ren tersenyum manis sambil meraih tangan Kane dan menggenggamnya dengan lembut.

"Nanti terlambat loh." Katanya pelan.

"Hmmm." Gumam Kane. Pria besar itu menunduk dan mengecup kening Ren dengan penuh cinta. "Ittekimasu."

----

-Takigawa-

"Kime, nanti aku terlambat..." Tapi protesnya itu langsung tertelan bibir tipis istrinya yang memagut bibirnya pelan. Sebuah senyum nakal tersembul di bibir Kime.

"Lima menit." Bisiknya dengan suara seksi.

Eiji menggerung, merutuki dirinya sendiri kenapa sering tak bisa menolak istrinya. Padahal dia sudah siap berangkat kerja ketika Kime menarik tangannya dan menolak melepasnya ketika Eiji memberinya kecupan pagi yang akhirnya berubah jadi sesi bermesraan. Kanesaki pasti sudah berangkat dan rekan kerjanya itu pasti akan mengerutkan kening kalau Eiji datang terlambat.

Kime menggigit bibirnya. Keras. Eiji mengaduh. "Sakit." Desisnya.

"Kalau masih memikirkan hal lain, malam ini Buchou tidur di luar." Ancam istrinya sambil menyipitkan matanya.

Eiji menelan ludah. Istrinya memang mungil dan selalu bersikap manis tapi kalau sudah tak senang, Kime bisa menyeramkan. Begitu-begitu juga, Eiji tahu kapan dia harus mengalah. Lagipula, kalau dilawan, Eiji yakin dia akan makin terlambat lagi.

Pria tampan itu mendesah dan merengkuh Kime, memeluknya lebih erat. "Lima menit. Setelah itu aku langsung berangkat."

Kime nyengir penuh kemenangan dan mencium Eiji lagi. Eiji mendesah. Ya sudahlah, pikirnya sambil menutup mata dan balas mencium.

----

-Furukawa-

Halu berlari turun tangga dengan terburu-buru dan dengan sukses tersandung di anak tangga terakhir. Tubuhnya terpelanting dan menabrak lemari buku.

"GYARGH!"

"Itteee~" desisnya sambil mengusap-usap kepalanya yang dia yakin pasti benjol.

"Halu-kun! Ada apa?" Hide menyembulkan kepala dari dapur. Mata sipitnya terbelalak dan buru-buru lari mendekat untuk membantu Halu bangkit. "Kenapa sih? Kok bisa sampai jatuh?"

Halu meringis. Kepalanya berdenyut sakit. "Terpeleset."

"Hati-hati, dong. Kita kan mau latih tanding. Kalau Halu-kun luka bagaimana?" Hide membawanya ke dapur dan menyuruhnya duduk di meja makan. Halu hanya bisa meringis sementara Hide membuka kulkas dan mengambil es batu dan membungkusnya dengan handuk kecil. Halu menerima kompres sederhana itu dan meletakkannya di bagian kepala yang berdenyut.

"Tak ada yang luka?" Tanya Hide lagi dengan khawatir.

Halu menggeleng. Matanya menatap sarapan yang sudah tertata rapi di meja. Hide sudah beralih ke depan kompor lagi dan sibuk menuang sup ke dalam mangkuk. Halu meringis.

"Maaf ya. Seharusnya ini kan giliranku buat sarapan." Gumamnya. "Tadi aku buru-buru karena itu."

Hide tertawa. "Sudahlah." Diletakkannya semangkuk sup di hadapan Halu. "Haru-kun begadang semalaman kan? Memikirkan formasi?"

Halu mengangguk, mengambil sumpit dan mencuil ikan bakar buatan Hide. Sarapan buatan kakaknya memang lebih enak dan mengenyangkan. Halu kadang tak enak karena Hide melakukan sebagian besar pekerjaan rumah tapi kakaknya tak pernah mengeluh dan hanya tersenyum sambil menepuk pelan kepalanya.

"Nanti malam Otou-san pulang loh. Masak apa ya?" Hide bergumam setengah tak jelas karena sambil mengunyah.

Halu buru-buru mengangkat wajahnya. "Aku saja yang masak! Ya? Kita buat gyoza ya! Ya?"

Hide mengangkat alis. "Boleh saja sih."

"Nanti habis latihan kita belanja ya. Lemari es sudah mulai kosong kan?"

Hide mengangguk-angguk. "Sekalian beli sake ya. Otou-san bilang mau ada tamu."

"Siapa?" Tanya Halu sambil meletakkan sumpit dan meraih tangan Hide untuk merapikan perban di tangan kanan Hide yang agak longgar.

Hide mengangkat bahu. "Otou-san tidak bilang. Oh ya, nanti bekalnya jangan lupa dibawa ya? Aku masukkan sosis wiener dengan mayonaise banyak loh. Halu-kun suka kan?"

Wajah Halu bersemu merah dan mengangguk. "Sankyuu, Nii-san."

------