Showing posts with label Koseki Yuta. Show all posts
Showing posts with label Koseki Yuta. Show all posts

Monday, March 5, 2012

[fanfic] Care

Cast: Hiramaki Jin, Koseki Yuta

Rating: PG

Warning: AU, BL hint, OOC

Disclaimer: I only own the plot

Note: Ini sebenernya sudah ditulis lama sekali tapi berhenti setelah paragraf dua XD; Akhirnya kmrn ini memutuskan untuk diselesaikan dan... hasilnya cukup inosen seperti yang gue harap (semoga XD).




“Ah, sudah reda,” Jin bergumam seraya tersenyum dan menarik tangannya yang dijulurkan keluar ambang jendela. Ditutupnya jendela itu rapat-rapat dan berjalan ke arah anak laki-laki jangkung yang tengah melingkar dengan nyaman di salah satu kursi di dalam kafe itu, terkantuk-kantuk.

 

Jin tersenyum maklum, tangannya mendarat lembut di atas kepala anak laki-laki dan mengusap pelan, “Hujannya sudah reda, loh.”

 

“Hmnh?” anak laki-laki itu bergumam, mengangkat kepalanya sekilas lalu menunduk lagi. “Ngantuk. Aku tak boleh menginap di sini saja, ya?”

 

Jin mengusap hidungnya dengan buku jari, “Boleh saja sebenarnya, tapi aku tak mau cari ribut dengan kakakmu. Ayo,” lengannya terulur menggamit lekukan lengan panjang Yuta dan menarik pelan agar anak laki-laki itu bangun.

 

Yuta menggerundel sebal namun menurut; dengan setengah hati mengenakan jaket dan menerima ransel yang diulurkan Jin. Matanya masih sesekali menutup dan tubuhnya limbung ke satu arah. Jin mendengus. Tanpa banyak bicara, pria itu berlalu ke dapur dan kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.

 

“Minum,” perintahnya pelan.

 

Mata Yuta mengerjap; untuk sesaat memandang gelas yang disodorkan Jin lalu ke arah Jin berganti-ganti. Sudut-sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk cengiran dan menerima gelas itu. “Sankyuu.”

 

Jin tersenyum. Sementara Yuta menghabiskan susunya, ia mengenakan jaketnya dan mengambil kunci mobil. Menimbang-nimbang apakah ia harus membawa dompet juga sebelum ingat kalau ia memang butuh mampir ke pasar swalayan yang buka 24 jam. Diliriknya Yuta yang sudah melompat-lompat di tempat, menepuk-nepuk pipinya yang bulat dan nyengir lebar. Jin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh lucu dan menggemaskan. Seandainya saja umurnya tak terlalu jauh berbeda dan Yuta tak punya kakak yang mudah panik.... Jin menampar dirinya sendiri dalam hati. Stop sampai di situ Hiramaki Jin. Apa sih yang kau pikirkan?

 

Tangannya kemudian terangkat, memberi isyarat pada Yuta untuk mengikutinya ke mobil. Setelah memastikan anak itu duduk dengan nyaman dan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, ia pun menjalankan mobilnya menembus jalan yang agak berkabut.

 

”Ne, Charlie,” Yuta bergumam setelah menyandarkan punggung dan kepalanya dengan nyaman ke sandaran kursi penumpang.

 

”Hmm?” Jin bergumam tanpa menoleh.

 

”Charlie kan lebih tua dariku ya,”

 

Jin mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum geli meskipun kedua alis matanya berkerut bingung. ”Iya, ya. Aku nyaris seumur dengan kakakmu ya. Tapi itu sudah jelas kan? Pertanyaanmu aneh sekali.”

 

”Dengar dulu, dong. Aku kan belum selesai bicara,” Yuta mendengus, ”Kau seperti Jack-nii deh, kalau sedang begitu.”

 

Jin terbahak, memutar kemudi ke kanan lalu menoleh sekilas pada anak laki-laki itu. Yuta sama sekali sudah tak terlihat mengantuk. Terkadang, Jin kagum sekali dengan sistem daya tahan anak itu. Seolah waktu tidurnya, meski hanya lima belas menit, sudah cukup untuk mengisi ulang energinya. Sementara ia sendiri butuh setidaknya empat jam tidur untuk bisa berfungsi dengan baik. ”Baiklah. Maaf. Apa yang mau kau katakan?” tanyanya, berusaha menyembunyikan nada geli dalam suaranya.

 

Yuta memiringkan kepalanya ke kiri, ”Apa ya? Oh! Kenapa Charlie tak punya pacar?”

 

”Pertanyaan apa itu? Memangnya karena aku lebih tua darimu jadi aku harus punya pacar?” sergah Jin, makin tak mengerti dan makin geli pada saat yang bersamaan.

 

”Aku kan hanya bertanya, loh. Jack-nii saja akhirnya punya pacar meski pacarnya temanku. Aku sama sekali tak menyangka, loh. Awalnya Jack-nii tak mau cerita. Mungkin malu. Entahlah. Tapi aku bisa tahu, loh. Habisnya mendadak dia suka mengantar-jemput Yuuki-chan. Lalu Yuuki-chan wajahnya suka memerah kalau aku cerita soal Jack-nii. Jack-nii juga begitu. Hihihi, lucu sekali deh waktu dulu pertama kalinya tak sengaja aku melihat mereka berciuman di apartemen. Wajahnya meraaaaaaaaah sekali. Ih, padahal yang seperti itu kan wajar ya? Namanya juga pacaran.”

 

Jin tak tahu bagaimana ia harus bereaksi pada rentetan kata-kata yang dengan cepat meluncur dari bibir Yuta tanpa bisa dihentikan. Maka ia hanya terkekeh kecil karena tak bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian dari jalanan. Yuta masih berceloteh panjang lebar sampai akhirnya Jin mengulurkan tangannya untuk ditangkupkan di depan mulut anak laki-laki itu agar ia berhenti bicara karena Jin mulai tak bisa menangkap maksud pembicaraannya.

 

”Semenarik apapun cerita tentang kakakmu – benar deh, menarik – tapi aku jadi bingung, Yuta,” pria itu tertawa. ”Kau ini mau tanya kenapa aku belum punya pacar atau cerita tentang kakakmu dan pacarnya yang manis itu sih?”

 

Yuta menyingkirkan tangan Jin dari depan wajahnya dan nyengir lebar. Kedua pipinya bersemu merah. ”Ah, gomen, gomen. Charlie jadi bingung ya? Hehehe habisnya Jack-nii dan Yuuki-chan itu lucu sekali sih. Aku jadi ngelantur deh. Iya, jadi maksudku ya itu, kenapa kalau Jack-nii saja akhirnya berhasil punya pacar, kenapa Charlie tidak?”

 

Jin kembali mengerutkan kening, ”Oke. Pertama, aku baru kenal kakakmu beberapa waktu lalu dan sepertinya dia sudah pacaran cukup lama dengan Yuuki-chan kan? Jadi, itu mengarah ke pernyataan Kedua, apa hubungannya aku tak punya pacar dengan kakakmu yang pacaran dengan Yuuki-chan? Tiap orang kan berbeda loh. Aku juga bisa tanya hal yang sama padamu. Kalau temanmu yang lucu itu saja berhasil memacari kakakmu, kenapa kau tidak punya pacar?”

 

Kali ini Yuta terdiam beberapa lama lalu memiringkan kepalanya lagi. ”Habis, kata Jack-nii, aku hanya boleh pacaran dengan orang yang benar-benar kusukai. Masalahnya, orang yang aku suka itu banyak. Yuuki-chan sih tak masuk hitungan. Micchi, Ikepi, teman-teman di klub, ah, Kenki-nii nya Micchi pun aku suka karena orangnya baik sekali. Tori-nii temannya Jack-nii pun aku suka loh karena dia pintar masak dan baik hati. Tapi kalau jadi pacar kan, rasa sukanya pasti beda ya.”

 

”Nah.”

 

Yuta menoleh pada Jin. Terlihat sedikit bingung dengan reaksinya. ”Apanya yang ’Nah’?”

 

Jawabannya tak langsung datang karena Jin sedang berkonsentrasi menyalip mobil yang berjalan terlalu pelan di depan mereka. ”Persis seperti yang kau bilang. Rasa suka itu berbeda-beda dan kau sudah mengerti ini kan?” Yuta mengangguk, ”Kalau untuk jadi pacar, rasa sukanya beda sama sekali, loh. Harus benar-benar sukaaaa sekali sampai meskipun dibuat kesal tapi tak bisa jadi benci sama orang itu.”

 

”Ah!!” Yuta menepukkan kepalan tangannya ke telapan tangannya sendiri. ”Ternyata memang begitu ya. Ahahahaha, aku pintar ya.” ujarnya sambil nyengir dengan senangnya dan mengangguk-angguk.

 

Melihat itu, Jin tak bisa tak tertawa. Satu lagi hal tentang Yuta yang menarik perhatiannya adalah anak laki-laki itu memang terkesan polos tapi ia memperhatikan banyak hal di sekitarnya dengan cermat dan menyimpulkan dengan caranya sendiri. Diam-diam ia berharap ia akan tetap diperbolehkan berada di dekat Yuta saat anak laki-laki itu beranjak lebih dewasa. Jin yakin Yuta akan jadi orang yang sangat menarik dan sukses dengan caranya sendiri.

 

Tak lama, Jin menghentikan mobil di depan bangunan apartemen di mana Yuta tinggal bersama Takuma. Ia melirik sekilas ke lantai tiga, ke pintu kelima dari kanan dan mendapati lampunya menyala. Takuma pasti sedang cemas sekali karena Yuta pulang terlambat. Diperhatikannya Yuta melepas sabuk pengaman lalu memutar badan untuk mengambil ranselnya yang tadi diletakkan di bangku penumpang belakang.

 

”Bawa sekalian kotak makan itu ya,” ujarnya pada Yuta.

 

”Eh? Memangnya ini apa? Aku tidak ingat bawa-bawa kotak makan sebesar ini,” komentar Yuta seraya mengendus kotak makan itu karena terasa hangat dan agak berat. Kedua matanya membulat makin lebar dengan semangat. ”Cinnamon roll ya? Charlie buat? Kapan? Untuk aku dan Jack-nii? Uwah, sankyuuuuu!!”

 

Jin tersenyum lebar. ”Kupanggang tadi waktu kau tertidur. Tidak banyak sih. Semoga kakakmu suka ya. Ini tidak terlalu manis, kok. Jadi tak usah khawatir merusak gigi.”

 

Yuta mencibir, ”Ih. Makanan enak, manis atau tidak, semuanya perlu dinikmati dan disyukuri. Padahal Jack-nii sendiri yang bilang begitu loh.”

 

Cubitan gemas di hidungnya membuat Yuta meronta sekilas lalu memerikasa sekali lagi bahwa semua barang bawaannya sudah tak ada yang tertinggal. ”Hari Sabtu aku mampir lagi ya. Ikepi bilang mau mencicipi fish & chips di tempat Charlie,” ujarnya sambil membuka pintu dan keluar dari mobil itu.

 

Jin mengangguk dan memiringkan posisi duduknya agar dapat melihat Yuta yang membungkuk di ambang jendela. ”Silakan. Aku akan senang sekali. Salam untuk kakakmu ya.”

 

”Un! Oyasumi, Charlie!” ujar Yuta sambil melambaikan tangan dan melesat pergi.

 

”Oyasumi!” seru Jin ke arah punggung anak itu seraya melambaikan tangan dengan cepat. Diperhatikannya punggung Yuta yang perlahan menjauh sambil geleng-geleng kepala. Ia memang selalu memastikan Yuta naik dengan selamat ke lantai tiga sebelum berlalu pergi. Kedua matanya mengerjap saat melihat Yuta berhenti lalu berbalik dan mendekat ke arahnya lagi dengan setengah berlari. Yuta mengetuk jendela mobilnya dan Jin menurunkan kaca. ”Ada yang tertinggal?”

 

Yuta mengangguk. ”Tadi aku lupa bilang: Aku juga suka Charlie, loh.” Cengiran lebarnya yang khas menyusul sebelum berbalik dan kali ini berlari cepat untuk menghilang ke dalam bangunan apartemen.

 

Mulut Jin terbuka dan tertutup lagi kemudian ia tertawa, merasa geli dan gemas pada saat yang bersamaan. Benar-benar deh, pikirnya. Benar-benar anak yang menarik dan Jin pun tersenyum lebar saat melihat sosok Yuta berdiri di depan pintu apartemennya di lantai tiga, melambai sekilas ke arah mobil Jin lalu masuk ke dalam.

 

”Aku juga suka Yuta, loh.” bisiknya.

Saturday, April 23, 2011

[fanfic] AU - Attention

Fandom: TeniMyu 2nd Season/Shinkenger/Decade
Cast: Wada Takuma, Matsuzaka Tori. Ogoe Yuuki, Koseki Yuuta, cameo Inoue Masahiro
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC, random
Disclaimer: I do not own anything
Note: Hahahaha.... Gue nulis apaan sih ini?


"Terima kasih," ujar Takuma dengan suara parau, mengangsurkan gelas yang sudah kosong setelah isinya habis ditenggaknya.

Tori tersenyum, mengambil gelas itu dari tangan Takuma dan mengisyaratkan dokter gigi itu untuk berbaring lagi. "Obatnya sudah diminum?" Tanyanya seraya merapikan selimut Takuma. Yang ditanya mengangguk dan meraih tisu untuk menyusut hidung. Tori menepuk-nepuk dada Takuma yang tertutup selimut.

"Kau sendiri? Baik-baik saja?" Tanya Takuma yang langsung disambung dengan bersin-bersin.

Tori tersenyum geli. "Aku selalu pakai masker, kok. Ada yang ribut kalau aku sampai lupa meskipun sudah kubilang kalau aku cukup tahan serbuk bunga."

Takuma meringis, melempar gulungan tisu ke arah tempat sampah yang dipindah tempat ke sebelah tempat tidurnya. "Bikin iri saja."

"Loh?" Tori tertawa. "Yuuki-chan tidak tahu kalau kau alergi?"

"Tahu. Aku sudah dimarahi kok." Tukas pria tampan itu setengah mengerutkan kening. "Siapa sangka punya pacar lebih muda tapi tak kalah cerewet denganmu."

Tori memukul lengannya dengan keras sampai Takuma mengaduh kencang. Ingin tertawa tapi keburu bersin-bersin lagi.

"Jangan kasar sama orang sakit dong." Ujarnya pura-pura merengut.

"Tidur lagi, sana! Aku mau buat makan malam." Tori mendengus seraya beranjak.

"Masak apa?" Tanya Takuma dengan mata berbinar.

Tori mengangguk. "Sup ginseng untukmu. Aku mau buat spaghetti untuk Yuuta-kun."

"Cih. Curang."

"Kau kan sedang sakit!"

"Cuma alergi!"

"Sampai demam begitu! Tak usah protes, deh."

Takuma menggerutu dan Tori menghela nafas. "Aku lupa kalau kau bisa manja begini kalau sedang sakit." Dengusnya sambil geleng-geleng kepala.

Takuma nyengir. "Siapa suruh kau baik padaku."

Tori mencibir dan berlalu keluar kamar. Dibongkarnya dapur kecil apartemen Takuma, mencari-cari celemek. Mengenakannya sambil bersiul-siul dan mengirim pesan pada Masahiro kalau dia sedang ada di tempat Takuma dan sepertinya akan pulang larut jadi pemuda itu tak perlu repot menjemput ke rumah sakit.

Sebenarnya hari itu Tori tak ada jadwal praktek tapi dia menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menjenguk pasiennya yang sedang ikut program rehabilitasi. Sewaktu mampir ke poligigi untuk mencari teman makan siang, dia diberitahu kalau Takuma ijin karena alerginya kambuh dengan parah sampai badannya demam. Tanpa berpikir dua kali, Tori langsung mengarahkan mobilnya ke apartemen Takuma setelah sebelumnya mampir di supermarket untuk membeli bahan makanan.

Dan benar saja, Takuma membukakan pintu untuknya dengan tampang kucel; mengenakan jersey Adidas biru lama kesukaannya, rambutnya berantakan tak disisir, hidungnya merah karena terus-terusan menyusut lendir, matanya juga merah dan berair. Tori buru-buru mendorongnya ke kamar dan memaksanya tidur seraya mengomel kenapa tidak telepon kalau memang butuh ditemani. Takuma hanya nyengir dan bilang kalau hanya demam seperti itu dia tak apa-apa sendirian. Tori menjitak kepalanya, masih terus mengomel tentang Yuuta yang pasti jadi merana karena tak ada yang mengurus sementara Takuma sakit.

Tori berdecak menatap bungkusan bekas pesan antar yang memenuhi tempat sampah dapur mungil itu. Mau bagaimana lagi? Takuma pasti tak bisa memasak dan meminta Yuuta untuk memesan makanan. Dibongkarnya belanjaannya; roti, susu, telur, bubur dan mie instan, buah-buahan, sayur-sayuran, daging dan bahan lain. Disimpannya dengan rapi di dalam kulkas dan lemari dapur.

*****

"Tadaimaaaa~!!"

Tori mengalihkan perhatian dari saus daging yang tengah dibuatnya, mengecilkan api dan melongok ke ruang depan. "Yuuta-kun? Okaeri~"

Dilihatnya Yuuta melepas sepatunya dan melemparnya dengan tak rapi di genkan. Anak itu tersenyum lebar saat melihat Tori. "Tori-nii san!! Yay! Yay! Makan enaaaak!!"

Tori tertawa lalu menoleh pada Yuuki yang berdiri terpaku di belakang Yuuta. Yuuki menatapnya dengan bingung. "Kenapa Matsuzaka-sensei ada di sini?" Lalu seperti sadar kalau mungkin ucapannya tak sopan, Yuuki buru-buru menunduk. Tori tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak itu.

"Wada di kamar." Ujarnya memberitahu sementara Yuuta melonjak-lonjak mengitari Tori dengan senang sampai Tori harus menangkap anak itu karena dia mulai pusing melihatnya.

"Tori-nii san! Tori-nii san! Masak apa? Baunya enak!"

"Spaghetti."

"Yaaaaay!! Spaghetti! Spaghetti!"

Tori menyentil kening adik Takuma yang lucu itu. "Sebentar lagi jadi, kok. Yuuta-kun ganti baju dan cuci tangan dulu ya. Jangan berisik, kasihan Wada."

"Un! Are? Ogoe-kun mana?"

Tori menunjuk ke arah pintu kamar Takuma. Yuuta mengangguk-angguk. Anak itu melompat-lompat ke kamarnya dan sebentar kemudian keluar lagi. Sudah mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana pendek dan memutuskan untuk mengamati Tori membuat makan malam. Tori meladeni celotehannya dengan senang sambil melirik ke arah pintu kamar Takuma dan tersenyum kecil.

Alisnya terangkat saat melihat Yuuki keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan pelan. Anak itu duduk di sebelah Yuuta dan ikut mengamati Tori memasak.

"Tidur?" Tanya Tori.

Yuuki mengangguk. "Masih demam ya, sensei?"

"Tadi sih masih." Jawab Tori sambil menaburkan oregano ke dalam saus daging. "Tapi kurasa tak terlalu parah kok. Yuuki-chan tenang saja. Besok juga sudah baikan."

"Onii-chan tidak gampang mati, kok" celetuk Yuuta sambil mencolek saus daging yang sudah matang. Pelototan Yuuki dan tawa Tori malah membuatnya memasang tampang polos tak berdosa.

"Sensei pintar masak ya?" Komentar Yuuki seraya ikut mencicipi saus daging kemerahan di dalam panci.

Tori mengedikkan bahu. "Aku tinggal dengan Nenek waktu SMU. Beliau mengajariku macam-macam dan bilang kalau tak ada salahnya laki-lakipun bisa masak. Benar juga sih, aku jadi bisa menghemat banyak waktu tinggal sendiri. Lagipula, ini tak seberapa kok." Ujarnya setengah tersipu.

"Bohooong! Masakan buatan Tori-niisan lebih enak dari buatan Onii-chan." Tukas Yuuta lagi dan kali ini disetujui Yuuki yang mengangguk-angguk.

"Sou?" Tori terpingkal. "Terima kasih. Kalau begitu, kalian mau makan apa lagi? Aku tadi belanja banyak."

Yuuta dan Yuuki berpandangan lalu menjawab bersamaan sambil mengangkat tangan, "Hanbagaaaaaaa~~!!!"

******

Takuma benar-benar heran bagaimana caranya dia akan istirahat kalau rumahnya jadi ramai begini. Tidur beberapa jam memang membuat demamnya turun dan saat keluar kamar didapatinya dapurnya penuh dengan Tori, adiknya dan Yuuki. Dua anak laki-laki itu tampak seru memperhatikan Tori yang berkutat di depan kompor. Mereka bersorak seru saat Tori membalik daging dengan melemparnya dan mendarat dengan sempurna di atas wajan lagi.

Takuma menggelengkan kepalanya, mencuri kesempatan untuk mengecup pipi Yuuki yang masih tak sadar kalau dia ada di situ.

"Kuma!" Yuuki mendesis kaget dan menoleh. "Kok sudah bangun? Demamnya bagaimana?"

"Sudah baikan kok."

"Mana?" Sela Tori seraya melangkah maju dan menyentuhkan keningnya dengan kening Takuma. Diam sesaat lalu Tori mengangguk. "Memang sudah mendingan sih."

"Kalian buat apa sih? Berisik sekali." Takuma buru-buru melangkah mundur karena Yuuki sudah siap merengut.

Tori pun meringis menyadari itu dan mendorong Yuuta dengan lembut agar menyingkir dari kompor karena anak itu berdiri terlalu dekat. "Makan malam." Jawab Tori pendek. "Daripada itu, kalian harus mandi dulu sebelum makan ya."

"Asyik! Mandi bareng yuk, Ogoe-kun!" Pekik Yuuya seraya menyeret Yuuki yang meronta. Takuma terperangah dan Tori menjatuhkan sendok kayu dalam genggamannya.

"Oi, Yuutaaa!! Mandi sendiri! Kalian kan sudah besar!" Seru Takuma seraya menyusul kedua anak itu ke kamar mandi sementara Tori sudah terpingkal-pingkal.

Takuma kembali ke dapur dan duduk di meja makan seraya berdecak kesal. "Dasar anak kecil." Tampaknya gagal membujuk dua anak itu untuk mandi sendiri-sendiri.

Tori melepas celemeknya dan bergabung dengan Takuma di meja makan seraya membawa secangkir kopi. "Iri ya? Padahal kau kan yang ingin mandi berdua Yuuki-chan?" Godanya.

Takuma hanya mencibir. Ditatapnya kopi di cangkir Tori dengan ingin dan Tori mencibir. "Jangan berani-berani. Kau sedang minum obat."

"Tahu." Sungutnya sambil menyusut hidung. Pun diraihnya cangkir itu untuk menghirup aroma kopi yang menguar lalu ia mendesah. Tori memutar matanya dan buru-buru mengambil cangkirnya lagi sebelum Takuma benar-benar tergoda untuk meminum isinya.

"Maaf ya, kau sampai repot begini." ujar Takuma kemudian, mengamati Tori menata meja makan. Tori menyikut kepalanya sambil lewat. "Ngomong apa sih? Ini kan tak seberapa. Anggap saja aku mencicil hutangku."

Takuma mendengus. "Memangnya aku bilang kalau bayarannya boleh dicicil?"

"Wada kan baik." Tori iseng mengecup pelipis temannya itu.

PRAK!

Kedua pria itu menoleh kaget. Yuuki berdiri terpaku tak jauh dari mereka, koran-koran yang ditumpuk Takuma di dekat lemari es jatuh berantakan di dekat kaki Yuuki. Matanya yang besar melotot dan wajahnya merona menahan amarah.

"Ah, Yuuki-chan! Maaf ya. Yang barusan cuma bercanda, kok." Tori buru-buru menjelaskan sementara Takuma menjitak kepalanya dan melambaikan tangan agar Yuuki mendekat. Anak itu duduk di sebelah Takuma, masih memandang tak suka lalu mendesis saat Takuma meletakkan tangan di bahunya.

"Itu bukan apa-apa. Dia cuma iseng dan sudah kupukul kan?" Bisik Takuma.

"Bercandanya tidak lucu." Yuuki menukas dengan ketus.

"Gomen. Nanti hamburger bagianku untuk Yuuki-chan, deh. Maafkan aku ya." Tori masih berusaha membujuk.

Yuuki tampak menimbang sesaat. "Traktir aku es krim saja. Yang besar. Dan harus ada sekarang."

"Oi, Yuuki." Tegur Takuma dan lagi-lagi dibalas Yuuki dengan mendesis tajam.

Kedua alis Tori terangkat. "Es krim? Oke." Tori mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu sibuk mengirim pesan. Tak lama, dokter itu tersenyum. "Sebentar lagi es krim-nya datang."

"Es kriiim!" Yuuta muncul begitu saja dan menggelayut di leher Tori. "Aku suka Tori-niisan!"

"Hai, hai." Tori menepuk lengan Yuuta yang mencekiknya. "Lepaskan lalu bantu aku menata makan malam ya. Wada, mandi sana."

"Apa maksudmu es krimnya akan datang sebentar lagi?" Tanya Takuma tak mengerti. Seingatnya konbini dekat rumahnya tak melayani pesan antar.

Tori nyengir. "Tambah satu orang lagi tak apa-apa ya, Wada? Masahiro ngambek karena aku seharian di sini."

Takuma mendesah. "Ya sudah. Setidaknya kalau ada Inoue-kun, kau tak akan iseng lagi dan membuat Yuuki cemberut. Apa maksudnya sih yang tadi itu? Kau mau aku diputuskan ya?"

"Bercanda, Wada. Kau kan tahu aku sayang padamu. Mana tega aku melihatmu merana. Mandi!"

Takuma bersungut-sungut dan menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Rasanya air hangat akan membuatnya merasa lebih enakan karena kepalanya mulai terasa pusing. Entah karena demamnya atau karena suasana yang ramai itu. Takuma tak terbiasa dengan rumah yang ramai. Dia bisa saja meminta Tori pulang tapi tentu saja dia tak akan melakukannya karena Yuuta tampak senang. Yuuki pun, meski cemberut, mau membantu Tori karena sudah diiming-imingi es krim.

Tentu saja makan malamnya pun riuh karena Masahiro datang tak lama kemudian bukan hanya dengan 2 mangkuk besar es krim berukuran 1 liter tapi juga membawa choco lava dari La Petite. Pelipis Takuma berkedut melihat banyak makanan manis di dalam lemari esnya. Pun menatap iri pada spaghetti dan hamburger buatan Tori karena ia hanya boleh makan sup ginseng.

Selesai makan, Takuma merebahkan tubuhnya di sofa, menyandarkan kepala di pangkuan Yuuki yang sudah duduk di situ lebih dulu sambil menikmati es krim. Yuuta dan Masahiro membantu Tori mencuci piring. Tak lama mereka muncul di ruang tengah dan Yuuta sudah sibuk mengunyah kue coklat yang dibawakan Masahiro tadi.

"Jangan lupa sikat gigi ya." Gumam Takuma dan dua anak laki-laki di dekatnya itu spontan menyahut. "Haai." Takuma hanya sanggup geleng-geleng kepala.

Setelah Tori dan Masahiro pamit pulang, Takuma langsung mendesah lega. Dia beringsut agar bisa berbaring lebih nyaman dan membenamkan kepalanya ke perut Yuuki. Wajah Yuuki langsung merona.

"Kuma..." Bisiknya. "Ada Koseki-kun."

Takuma hanya bergumam tak jelas. Melirik sekilas dan melihat Yuuta ikut menyandarkan kepala ke lutut Yuuki. Yuuki menghela nafas. Telapaknya menyentuh kening Takuma dengan lembut. "Demam lagi ya?"

Takuma menggeleng. "Tidak. Capek saja."

"Kenapa tadi tidak tiduran saja di kamar?"

"Bau masakan Matsuzaka terlalu menggoda. Sampai-sampai hidungku tak mampet lagi." Gelaknya.

"Senang ya? Ditemani Matsuzaka-sensei?" Cibir Yuuki, mengulum sendok es krim.

"Tentu saja senang. Dia telaten kalau disuruh mengurus orang. Tapi aku lebih senang karena Yuuki ada di sini. Bagaimanapun, yang pacarku kan Yuuki."

"Gombal." Yuuki pura-pura merengut. Meski kemudian dia merunduk dan mengecup kening Takuma. "Cepat sembuh ya. Aku kangen masakan Kuma."

Takuma tersenyum dan memejamkan mata. Mungkin tak ada buruknya juga sesekali berkumpul ramai-ramai seperti tadi. Meski digoda Tori, meski Yuuta tak bisa berhenti melonjak-lonjak, meski Yuuki cemberut, dan meski Masahiro pun mengerutkan kening saat melihat Tori mengusap punggung Takuma, ia merasa diperhatikan dan sangat disayang.

-end-