Showing posts with label Kubota Yuuki. Show all posts
Showing posts with label Kubota Yuuki. Show all posts

Friday, October 21, 2011

[fanfic] Keigo Kyoudai - Whiskey, Spirits, and Random Talk

Cast: Kubota Yuuki, Katou Kazuki, Sainei Ryuuji, Inoue Masahiro, Aoki Tsunenori
Rating: PG-13
Warning: AU, OOC, booze involved
Disclaimer: I only own plot and a bottle of smirnoff ice
Note: sungguh pun ini ceritanya lagi mabu'2an



"Tuangkan segelas untukku?"

Kubota menoleh, melirik pada adiknya dan tersenyum sebelum menenggak isi gelasnya. Kazuki mengambil tempat di bangku tinggi, tepat di seberang Kubota yang sudah menjangkau gelas bersih dan menuangkan whiskey ke dalamnya.

Kazuki menggumamkan terima kasihnya dan memasukkan sebongkah es batu ke dalam gelasnya. Diputarnya beberapa kali sebelum menyesap isinya. Kubota sudah mengisi kembali gelasnya.

"No ice." Komentar Kazuki.

Kubota mengangkat alis dan menenggak setengah isi gelasnya. Kazuki melakukan hal yang sama.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak."

Kazuki sedikit terkejut dengan jawaban yang cukup jujur itu dan bukannya candaan atau bahkan sangkalan. Bagaimanapun, ia tersenyum simpul.

"Bukannya aku mau sok terdengar ahli atau sok menasehati, tapi kau sungguh harus berbuat sesuatu."

Kubota mendengus lagi, "Menurutmu?"

Kazuki terkekeh pelan. Ujung jarinya menelusuri bibir gelas. "Kalau dipikir, kenapa kita berempat tak ada yang punya kisah cinta seperti orang lain pada umumnya ya?"

"Saa..." Kubota memiringkan kepalanya. "Karena kita keluarga Keigo? Okaa-san dan Otou-san pun bukan pasangan biasa kan? Mana ada orang tua yang tidak memberi tahu kalau kita akan punya adik?"

"Yah, begitu Otou-san sakit, mereka langsung pindah ke Amerika. Salah kita juga karena tak memperhatikan kondisi Okaa-san kan?" Kazuki mencoba memberi alasan yang masuk akal.

Kubota mengangguk-angguk. "Tapi di antara kita semua, tetap saja kau yang paling berani."

Satu alis Kazuki terangkat. "Aku? Bukannya Masahiro? Dia loh yang akan menikah."

"Paling tidak calonnya bukan anak di bawah umur."

"HEI! Aku tersinggung nih." Sergah Kazuki. "Dan Takuya sudah 18 tahun, tahu!"

Kubota terbahak kencang. Tangannya mendarat di punggung adiknya dan menepuk-nepuk dengan kencang. "Jyoudan!" Ujarnya sebelum menyesap lagi minumannya. "Ah, Mr. Daniel. Kau memang teman yang hebat untuk saat-saat seperti ini." Desahnya, menempelkan gelas ke pipinya.

Kazuki menusuk pipi kakaknya dengan sayang. "Ada apa sih, Yuuki? Kau tak pernah terlihat sesusah ini sebelumnya."

Kubota merendahkan posisi tubuhnya, bersandar ke punggung kursi. "Saa..."

Kazuki menggelengkan kepala. "Sejak dulu selalu seperti itu deh. Kau tak bisa selamanya selalu lari dari masalah, tahu."

"Tahu, kok." Kubota menggembungkan pipinya.

Kazuki mengangguk. Mereka terdiam beberapa saat sementara Kazuki menuangkan minuman lagi ke dalam gelas mereka yang sudah kosong. Disesapnya perlahan bagiannya.

"Kenapa kau mau menikahi Takuya-kun?" Tanya Kubota tak berapa lama kemudian dengan suara agak pelan.

"Hmm?" Kazuki menoleh. "Yah, karena memang sudah seharusnya."

Kubota mengangguk-angguk, menjilat sisa minuman yang menempel di bibirnya. Kazuki tertawa pelan, "Juga karena yah, sudah lama sekali kan?"

Kubota ikut tertawa. "Hmm. Selalu penuh tanggung jawab."

"Apa boleh buat kan?" Kazuki mengedikkan bahu.

Kubota mencondongkan tubuh, meletakkan dahu di bahu Kazuki dan menatap adiknya lekat-lekat. "Gomen ne."

Spontan, Kazuki mendorongnya menjauh. "Nani yooo? Tak usah begitu. Seram, tahu." Namun ia tak bisa menyembunyikan semburat merah yang mulai menjalari tulang pipi dan rahangnya yang tegas. Tapi, Kazuki selalu bisa menyalahkan alkohol yang dikonsumsinya. Sambil berdeham, ia menghabiskan minumannya.

"Ingat, tidak? Kau pernah berkata begini padaku soal Takuya: 'Kalau suka, katakan suka. Kalau tidak, bilang saja begitu. Berputar-putar atau diam di tempat tak akan membuat segalanya lebih baik. Katakan dengan jelas karena tak ada satupun di antara kita yang ahli nujum.' Ingat?"

Kubota mengangkat alis. "Aku pernah bilang begitu?"

Kazuki memicingkan matanya.

"Yah, mungkin memang pernah." Kubota mengangguk.

"Kurasa kau juga berkata hal yang sama pada Ryuuji dan Masahiro. Tapi mereka menanggapi nasehatmu dengan terlalu serius." Kazuki mengerutkan alis dan keningnya. "Makanya Masahiro sempat jadi playboy dan Ryuuji masih seperti itu."

Kubota tergelak. "Hei, yang penting kan mereka bahagia. Aku hanya menjalankan tugas sebagai kakak.""

"Yuuki," tegur Kazuki. Dipelototinya sang kakak yang sudah tampak setengah mabuk karena wajahnya mulai memerah. "Kupikir, sudah saatnya aku mengembalikan kata-kata itu padamu."

Kubota terdiam, tampak berpikir lalu mendengus. Diisinya lagi gelas Kazuki lalu mengajaknya bersulang.


"Ah, curang sekali."

Kedua pria itu menoleh, mendapati Tsune berjalan mendekat. Sepupu mereka itu masih berpakaian rapi dan nampak senang. Wajahnya cerah dan matanya nampak bersinar-sinar.

"Cih, kau habis kencan ya?" Seloroh Kubota saat Tsune berdiri di depan mereka, sudah sibuk mengambil gelas dan menuang whiskey ke dalamnya. Tsune menenggak minumannya, menggerakkan alisnya dengan jumawa.

"Kencannya menyenangkan?" Tanya Kazuki.

"Tak pernah ada kencan yang tak menyenangkan." Sahut Tsune. "Well, satu atau dua kali mungkin agak tidak sukses, tapi bukannya tidak menyenangkan." Ujarnya sambil mengangguk mantab.

Kedua pria itu saling berpandangan lalu mengangguk-angguk. "Benar juga." Komentar Kazuki lagi.

"Tentu saja aku benar." Cengirnya bangga dan Kubota menimpuknya dengan sepotong kecil es sampai Tsune harus melompat menghindar.

"Tapi aku salut." Kubota mengangkat gelasnya. "Bisa juga kau menemukan yang selucu itu."

"Aku punya mentor yang bagus." Jawab Tsune sambil mengerling ke arah Kazuki.

"OI!"


"Sudah kuduga. Ternyata memang ada di sini semua ya."

"Ah, Ryuuji-nii. Tak ada kencan?" Goda Tsune sambil mengulurkan gelas kosong pada kakak sepupunya yang baru saja turun dari lantai atas.

Ryuuji pura-pura mendesah, menyambut gelas dari Tsune dan menunjuk sebotol Southern Comfort di dekat Tsune. "Sedang malas."

"Heee. Besok pasti badai." Gumam Kazuki dari tepi gelasnya.

Ryuuji memicingkan mata dan menendang kaki kakak keduanya itu sampai Kazuki mengaduh dan menjitak kepalanya. Ryuuji mengusap kepalanya sambil meringis.

"Ada apa kumpul-kumpul begini?" Tanyanya, mencelupkan jari ke dalam gelas untuk mengaduk minumannya.

Kazuki nyengir. "Yuuki sedang galau. Aku sih hanya menemani."

"Oi, oi, oi. Sekalian saja kau pasang pengumuman di buletin rumah sakit." Sindir Kubota.

"Yah," Ryuuji memotong sebelum Kazuki sempat menyahut. "Kalau orangnya cantik dan seksi seperti itu sih, aku juga pasti galau." Ujarnya diiringi tawa.

Kubota mengangkat alis. Kazuki nyaris tersedak minuman dan Tsune mengerjap bingung.

Ryuuji menatap kakak-kakak dan adik sepupunya dengan heran. "Apa? Aku benar kan?"

"Apa sih?" Tsune bertanya ingin tahu.

"Nandemonai." Kubota buru-buru berkilah sambil mengibaskan tangan.


"Apa-apaan ini? Kenapa minum-minum begini aku tak diajak? Aku kan sudah boleh minum sekarang. Mou~" satu suara serak bergabung, langsung menyelip di antara Tsune dan Ryuuji.

"Okaeri, Masahiro." Sahut Kazuki, setelah mengelap mulut dengan serbet kertas.

"Tadaima." Balas Masahiro cepat. Buru-buru menyambar gelas Tsune dan menenggak isinya. "Aaah, umai!"

Tsune mendorong dahi sepupunya. "Gayamu. Baru juga belajar minum."

Masahiro mencibir. "Minum saja apa susahnya?"

"Kalian berisik sekali." Protes Kazuki sambil menyodorkan sebuah gelas yang sudah berisi Bailey's pada sang adik bungsu.

Masahiro memandang tak senang pada isi gelasnya tapi diminumnya tanpa banyak bicara lalu menuang whiskey.

Pemandangan selanjutnya adalah Kubota yang tiba-tiba saja berdiri lalu memeluk adik-adiknya satu per satu. Ryuuji nyengir, Kazuki melakukan hal yang sama dan menepis Kubota saat pipinya dikecup, Masahiro berusaha berontak dan Tsune tampak berpikir.

"Apa sih, Aniki? Kalau sudah mabuk, tidur saja." Sergah Masahiro meski wajahnya tampak agak tersipu.

Kubota hanya terkekeh, mengedikkan bahu lalu menyambar botol vodka absolut dan mengisi gelas masing-masing dengan cairan bening itu. "Sekarang saatnya untuk yang lebih serius. Kalian siap?" Tanyanya sambil mengangkat alis dengan menantang. "Real man takes it straight and square."

Masahiro menelan ludah.

-end-

Monday, October 10, 2011

[fanfic] AU KubotaxKei - Chasing Pavement

Fandom: Tennis no Ouji-sama Musical/Sengoku Basara Musical
Characters: Kubota Yuuki, Hosogai Kei, cameo Katou Kazuki
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC, randomness 
Disclaimer: I am but a humble fangirl, do not sue me. Title and lyrics are taken from a song by the amazing and lovely Adele. All rights reserved. I do not make any profit from this.
Note: aaaaah, sudah lama tak menulis~ Beneran deh, kalo fanfic ini terlalu random atau tak bisa dimengerti, mohon maaf yang sebesar-besarnya m(_ _)m Salahkan saja Kubobe dan Kei-chan yang sungguh sangat flirty and lskahdflksdhflksdhflkshdlkfhslkdhflskdhflksdhf HOT FOR EACH OTHER, EXCUSE ME BUT I JUST CAN NOT CONTAIN MYSELF SEEING THAT VISUAL BOY BRUSH VIDEO.

*coughs*

*sisiran*

Selamat membaca~








I've made up my mind,
Don't need to think it over
If I'm wrong, I am right
Don't need to look no further,
This ain't lust
I know this is love


Kei membuka mata dan mengerjap perlahan. Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh seraya menutup kran shower. 

Yes?

Cengiran Kubota menyambut kala pintu kamar mandi terbuka dan pria itu masuk membawakan piyama pinjaman untuknya. Kubota melirik ke arah pria yang tertatih membuka pintu kaca, mengambil handuk, dan mulai menyeka tubuhnya.

What?” Kei bertanya seraya sudut bibitnya terangkat.

Kubota menggeleng pelan, tersenyum kecil. “Kau kurusan.”

Nice of you to notice.” Ucap Kei cepat, tak menolak uluran tangan Kubota yang membantunya berpakaian. Kubota mendenguskan tawanya.

“Apa kau makan dengan benar, Kei-chan? Sebagai doktermu, aku akan marah sekali kalau kau tidak menjaga kesehatanmu.”

Kei beringsut merapat saat Kubota mengancingkan atasan piyama biru tua itu. ”I’ll eat well from now on.

Kubota menatapnya lurus-lurus lalu tertawa. ”Kau kedengaran seperti Masahiro.”

Kei tak menjawab, hanya meringis pada temannya itu. Kedua telapak tangannya mendarat di masing-masing pundak Kubota. Ditelitinya wajah tampan pria itu dan menjetikkan telunjuknya di hidung Kubota. ”I’m hungry.” Ujarnya kemudian.

That’s why I always remind you to eat something on a date. You’re not a girl, for heaven’s sake.” Gerutu Kubota seraya melingkarkan lengan ke pinggang ramping Kei dan memapahnya keluar dari kamar mandi. Kei menggeleng saat Kubota hendak membantunya duduk di kursi rodanya, sebaliknya ia berpegang erat-erat pada lengan Kubota saat menyusuri tangga menuju ke ruang duduk di lantai dasar.


But, if I tell the world
I'll never say enough
'cause it was not said to you
And that's exactly what I need to do
If I end up with you


Kubota mendudukkan Kei di salah satu sofa besar di ruang itu, tersenyum lega saat mendapati bahwa pelayan tak lupa menyalakan perapian di situ karena udaranya sudah mulai dingin akhir-akhir ini, dan menyampirkan selimut tipis di pangkuan Kei yang sudah menyandarkan punggung dengan nyaman dan melipat kaki.

Wait here. I’ll make us something.” Ucap Kubota sambil berlalu. Kei mengangguk kecil. Pandangannya beredar ke sekeliling ruangan itu dan tersenyum pada seekor anjing kecil yang tertidur di dekat perapian. Perlahan, ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri anjing itu dan merengkuhnya dalam pelukannya. Anjing itu terbangun, menyalak kecil dan menatap Kei dengan tatapan penuh ingin tahu. Kei tersenyum dan menggaruk lembut tengkuk anjing kecil itu.

Hello, little one. What’s your name?

Anjing itu menyalak lagi. Kei menatap kalung kulit yang melingkari leher anjing itu dan memeriksa plat stainless yang menggantung. “Tesshi?” Kei mengeja. “I think I know who would give such a ridiculous name to you.

Tesshi menggeram pelan. Kei mengangkat alis. “Right. Okay. I won’t say something bad about Masahiro-kun again. Are you happy now?

Seolah mengerti, Tesshi menyalak lagi dan menyandarkan kepalanya dengan malas ke dada Kei. “Aaw, aren’t you so cute?

Kei baru saja duduk kembali di sofa –dengan Tesshi masih dalam pelukannya- saat Kubota masuk membawa sebuah nampan  berisi sepoci teh, dua cangkir, semangkuk salad, semangkuk sup dan sepiring roti panggang. Wangi masakannya menguar mengisi ruangan itu dan menggelitik hidung Kei. 

Smells good.” Kei menoleh dan mengerjap karena Kubota tak sendirian. Kazuki berdiri di sebelahnya, membawa nampan lain dengan isi yang tak jauh beda dengan yang dibawa Kubota. Kei hendak berdiri namun dicegah Kazuki yang berkata kalau ia hanya ingin memberi salam saja dan bertanya sepintas lalu tentang terapinya. Tak lama, pria itu berlalu ke lantai atas sambil mengucapkan selamat malam.


Should I give up,
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there
Should I give up
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere


What was that?” tanya Kei sambil menyambut cangkir berisi teh hangat yang diulurkan Kubota padanya.

The boyfriend’s here.” Ucap Kubota singkat seraya mengambil Tesshi dari pangkuan Kei agar temannya itu bisa makan.

Ah.” Kei mengangguk. ”I think I saw him the other day at the hospital. Cute boy. I bet he has ulcer because of it.” Ujarnya sambil menyesap tehnya.

Kubota terbahak. “You have no idea.” Ia berdeham. “Delapan belas tahun. Tak aneh kan kalau ia lebih tepat untuk mewarisi semua ini dibanding aku?”

You have the quality. You just don’t want to.” Komentar Kei pelan, meniup sup dengan perlahan sebelum menyuap.

Beberapa saat, Kubota memandang pria itu nyaris tanpa berkedip. Memang, ada alasannya kenapa dulu ia jatuh cinta pada Hosogai Kei. Dan perasaan itu mungkin belum hilang seluruhnya atau ia hanya merasa seperti itu karena kebingungan, Kubota tak tahu pasti. 

Is he going to get married as well?

“Hmm?”

“Kazuki-kun.

“Oh, ya. Mungkin tahun depan. Yang pasti setelah Takuya-kun selesai mengurus pendaftaran masuk kuliahnya.” 

Kei mengangguk-angguk. “Sounds fun.


I build myself up
And fly around in circles
Waitin' as my heart drops
And my back begins to tingle
Finally, could this be it


Kubota kembali menatap pria itu dan mendadak merasa takut. Ia tahu ia orang yang acuh dan seenaknya, juga tak segan untuk kabur kala merasa tak ingin menerima tanggung jawab yang besar. Selalu seperti itu seumur hidupnya dan ia selalu berhasil lepas. Tapi yang ada di depan matanya kali ini berbeda. Kei cukup keras kepala dan Kubota seharusnya memperhitungkan kalau Kei akan muncul di hadapannya lagi karena memang begitulah sifatnya.

Pembicaraan mereka di rumah sakit beberapa minggu lalu sudah mengisyaratkan pada Kubota bahwa Kei sudah memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja dan akan mengikutinya ke manapun Kubota menghindar.

Don’t.

Kubota tersentak dari lamunannya, mendapati Kei yang ternyata juga sedang menatapnya lurus-lurus. Kei tertawa, begitu cantik. “Don’t make such a face, Yuuki-chan. I’d feel bad if you do.

“Kau ingin aku bagaimana?” Kubota bertanya pelan, nadanya begitu serius meski bibirnya tersenyum.

Kei mengedikkan bahu. “You could just smile. Like that. Like you always do.

Kubota mendesah. Punggungnya disandarkan ke sofa empuk itu, mengelus Tesshi yang mendengkur pelan. Kei pun berhenti makan, sudah merasa cukup kenyang, dan ikut bersandar di samping pria tampan itu. 

“Yuuki-chan,” panggilnya pelan.

Kubota menoleh. “Hmm?”

What happened to us?

Kubota tak langsung menjawab lalu meringis. “Do you really want to ask me that?

Kei mengedikkan bahu. “You can’t blame me for hoping to hear different answer.

Kubota tertawa. “It’s not going to happen, Kei-chan. You know perfectly well.

Hmm, somehow. And yet, here I am. Isn’t that saying something to you?” Kei mengangkat alisnya.

I wonder why. Really.”

Bahu Kei terguncang pelan saat ia tertawa dan kemudian mendesah. ”I think, -after several weeks trying to cope with initial shock, moping around and trying to throw some curses on you, tried to send some mercenaries to kill you, too and then be a little bit peaceful after that- after all these year, I still can’t accept that you,” Kei menusuk lengan Kubota sebagai penekanan, “chose to leave me. That’s why.

Kubota menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. “Karena aku berpikir itu tak adil untukmu.” Jawabnya cepat. “Aku tak mau memaksamu terus berada di sampingku sementara di luar sana, aku yakin ada orang lain yang akan sanggup membuatmu bahagia dan menikahimu. So I think you’re better off without me. You don’t deserve someone like me, Kei-chan.

Oh, you’re such an ass.” Kei menukas sebal sambil memicingkan mata. “That is a very lame –and very unoriginal, too, if I may add- excuse, Kubota Yuuki.

Kubota meringis, berusaha berkelit karena Kei memukuli lengannya tanpa ampun. ”Jangan kasar, dong.” protesnya. Ditangkapnya tangan Kei setelah berhasil menghindar dan digenggamnya tangan itu dengan erat. ”Aku serius. Aku bukan orang yang tepat kalau kau ingin impianmu terwujud.”


Should I give up,
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there
Should I give up,
Or should I just keep chasin' pavements


”What do you know about me and my dream, Yuuki-chan?” Kei mengangkat alisnya dengan menantang.

Tak ingin terdengar terlalu percaya diri, Kubota hanya mengangkat bahu. Kei mengangguk. “Exactly.” Ia kemudian menangkup kedua sisi kepala Kubota dengan kedua belah tangannya, memastikan Kubota menaruh perhatian penuh padanya. “Listen to me and listen carefully. I’m the one who has the right to decide whether I’ll be happy if I stick with you or not. You should only decide whether to let me stay or send me away which, I have to remind you, won’t be an easy task if you really know who I am.

Mendadak rasanya sulit sekali bagi Kubota untuk bernafas. Tatapan Kei yang tajam seperti menembus masuk dan Kubota tahu Kei memang bisa melihat jelas apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.

I’m afraid, too.” Bisik Kei sambil menyentuhkan dahinya dengan kening Kubota. “I’m afraid, too, Yuuki-chan.

There you go, pikir Kubota, merasa seperti sesuatu lolos dari dadanya dan hilang begitu saja entah ke mana. Disentuhnya satu pergelangan tangan Kei dan melingkarkan jemarinya untuk menggenggam dengan erat. Dia tak peduli saat Kei meringis menahan sakit. Ia menoleh, menyentuhkan bibirnya dengan telapak tangan Kei yang hangat. 

"I'm sorry." bisiknya lirih.


Should I give or
Should I just keep on chasin' pavements
Even if it leads nowhere









Monday, August 29, 2011

[fanfic] Whattaya Want From Me

Fandom(s): Tennis no Ouji-sama Musical, Cocoa Otoko
Cast: Kubota Yuuki, Hosogai Kei
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC, too much conversation in english while the fic itself is in bahasa.
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
Note: Oh, gue cinta Kei-chan. Semoga bisa menghibur untuk Lebaran yang tertunda #eh



"You know what? I never imagine that 'once in a full moon' could span so long it turned into 'once every hundred full moons'."

Sudut-sudut bibir Kubota Yuuki tertarik membentuk cengiran lebar. "Aku kan sibuk."

"Yeah, yeah. Spare me the bullshit."

Lagi-lagi dokter itu hanya sanggup nyengir. Dihampirinya sosok di hadapannya, kedua tangannya menjangkau pegangan kursi roda dan mendorong pelan. "Keluar yuk. Udara segar mungkin bisa membuatmu sedikit ramah padaku, Kei-chan."

Pria yang dipanggil Kei-chan itu hanya memutar matanya dan menurut saja didorong keluar ruangan praktek Kubota. "Buy me a drink." Ujarnya tanpa mau ditawar.

Mereka berhenti di depan mesin penjual minuman dan menekan dua tombol berbeda. Bunyi kaleng berdentangan dan Kubota merunduk untuk mengambil minuman mereka. Diserahkannya satu pada teman sekaligus pasiennya itu. Kei menyambut dengan sedikit terpana.

"White grape juice. You remember." Gumamnya.

"Told you. Aku selalu memikirkan dirimu."

Kei mendengus. "You expect me to believe that?"

Kubota mengedikkan bahu tak acuh dan melanjutkan langkah menuju taman. Kali ini dibiarkannya Kei mengikutinya di sampingnya. Kubota mengambil tempat di salah satu bangku taman yang terletak di bawah rimbunan pohon wisteria. Kei menghentikan kursi rodanya di hadapan dokter itu, menyesap minumannya tanpa banyak cakap.

Kubota menatap temannya itu. Tak banyak yang berubah dari Hosogai Kei sejak terakhir kali mereka bertemu. Tubuhnya masih saja ramping dengan tinggi yang nyaris menyamai Kubota kalau Kei berdiri. Sayangnya, penyakitnya membuat kakinya tak bisa berlama-lama menopang berat badannya. Kei menghabiskan lebih banyak waktu di kursi roda. Meski saat ia sedang bisa berdiri, ia akan mondar-mandir kesana kemari walaupun harus ditopang tongkat. Wajahnya manis cenderung cantik meski suaranya berat dan lidahnya tajam. Sarkasme-nya selalu membuat Kubota merasa terhibur. Dan entah bagaimana, Kei malah terlihat semakin seksi.

Hosogai Kei, orang Jepang yang tinggal di Amerika sejak SMU. Anak kenalan ibunya dan mereka dikenalkan saat Kubota harus menemani ibunya yang diopname karena usus buntu. Pemuda yang menarik meski tak seaneh Shintarou. Mereka sempat berkencan beberapa waktu tapi karena satu dan lain hal, hubungan itu tak berlanjut.

Hosogai Kei, 35 tahun, satu-satunya orang yang sanggup membuat Kubota Yuuki sempat berpikir serius tentang pernikahan. Walau pada akhirnya tak diungkapkan.

"Still can't believe you refused to inherit such facility." Kei berujar, membuyarkan lamunan Kubota. Kebiasaannya berbicara dalam bahasa inggris meski mengerti bahasa jepang pun tak berubah.

Dokter itu lagi-lagi hanya nyengir dan merogoh kantong untuk mengeluarkan sekotak rokok. Kei mengangkat alis. Kubota menunjuk tanda di sudut taman yang mengatakan kalau di situ diperbolehkan merokok. Lagipula, ia kakak pemilik rumah sakit.

"Kau pasien." Ujarnya saat Kei mengulurkan tangan lalu tertawa saat Kei mendelik padanya. Diangsurkannya kotak rokoknya lalu berbagi api dengan pria itu.

Beberapa kali tarikan dan hembusan, Kubota menoleh pada temannya itu. "Kau selalu menolak untuk dirawat sebelumnya. What's the change of heart?"

Kei melirik ke arahnya dan mengangkat bahu. "I'm tired."

"Karena harus menjelaskan pada orang-orang dan bosan dikasihani?" Tanya Kubota.

Kei memutar matanya lagi. "Of the chair."

"Ah." Kubota manggut-manggut. "Tapi kenapa harus di Jepang? Di Amerika kan juga ada pengobatan yang tak kalah bagus dengan di sini."

Kali ini Kei tak menjawab. Ia menyesap minumannya lagi dan hanya menatap Kubota dari tepi kaleng minumannya. Kubota menangkap pandangan itu dan tersenyum simpul.

"Kangen padaku?"

Kei mendengus. "You're the only one I can trust."

Kubota menundukkan kepalanya dengan gaya. "I'm flattered."

"You should."

Dokter itu tertawa lagi dan sungguh, hatinya melonjak senang saat melihat Kei pun ikut tersenyum. "Aku tak akan jadi satu-satunya yang merawatmu loh. Ada Souta-sensei dan Matsuzaka-sensei yang akan ikut menanganimu."

Kei hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "As long as you trust them."

"Mereka dokter yang kompeten."

"Then it's fine for me."

Mereka terdiam beberapa lama. Kei memejamkan mata, nampak menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan bunyi desir daun wisteria di dekat mereka. Kubota menyalakan sebatang rokok lagi, ikut menghanyutkan diri dalam diam. Ia melambai sejenak pada Tori dan Takuma yang kebetulan melintas. Hanya tersenyum pada ekspresi keheranan mereka. Ia pun mengerutkan kening saat tangan Kei terulur ke arahnya. Perlahan, disambutnya diselipkannya tangan itu ke dalam genggamannya dan mengelus buku jarinya yang agak kasar.

"Masih main bass?" Tanyanya pelan dengan penuh ingin tahu.

"From time to time." Balas Kei masih dengan mata terpejam.

"Masih sendiri?" Lanjut Kubota, mengelus pangkal jari manis Kei dengan ibu jarinya.

"Same as you." Kei membuka matanya.

Kubota mengangguk dan sebelum ia sempat bertanya lagi, Kei menduluinya. "Still seeing him?"

Dokter itu terdiam sesaat lalu mengangguk. "Kadang."

Kei mengangguk-angguk. Kubota mengulum senyum. "Cemburu?"

Lagi-lagi ia mendengus. "I never even met him." Kei mendesah. "And you did say you have no intention to marry him."

"......Memang."

Mereka terdiam lagi. Sama-sama menahan diri agar tidak terjebak dalam pertanyaaan seperti 'kau menganggapku apa'.

"Kudengar dari Ibu kalau kau sempat dekat dengan seseorang? Penyanyi kalau tak salah?"

"Drummer." Koreksi Kei cepat.

Kubota mengangguk-angguk. "Dia membuatmu kesal?"

"Not as much as you."

Kubota tertawa renyah. "You'll meet someone."

"Oh, don't give me that." Kei terdengar sedikit kesal. "You're the only one I want to marry. But you never trust marriage. So, you see, I have no option." Pria itu menatap lurus-lurus ke arahnya. Kubota mengerang.

"Apa kau mencoba membuatku merasa bersalah?"

Kei memajukan tubuhnya, satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring dan terlihat sedikit licik. Matanya meredup saat wajah mereka begitu dekat dan Kubota bisa merasakan hembusan nafas Kei di wajahnya. "Every second of my life."

Kubota balas nyengir. "Perjuanganmu berat, kau tahu." Ia beringsut mendekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Perasaan hangat dan geli di bagian bawah perutnya ini terasa begitu familiar.

Senyum Kei melebar. "Do you think I'm that weak?" Ujung-ujung jemarinya menyentuh garis rahang Kubota.

Kubota mengedikkan bahu dan menarik tengkuk pria itu untuk menciumnya.

"Think your brother will kill us if he catch us making out here?" Bisik Kei sambil mengecup dagu kokoh Kubota.

"Probably." Gumam Kubota acuh.

Kei tertawa dan menjauh. "You never change." Ujarnya, menjetikkan jari di ujung hidung Kubota yang sedang menjilat bibir.

"Kau juga."

Mereka tersenyum lagi. Kei mengeratkan genggaman tangan mereka yang masih terjalin. "Drive me home? Or I have to wait until you're finished?"

Kubota melirik arlojinya. "Aku harus rapat dengan Kazuki setengah jam lagi. Kalau kau tak keberatan menunggu di kafetaria, aku akan minta Matsuzaka menemanimu."

"I have no problem waiting. Been doing it since I met you." Ujar Kei, mengibaskan tangan dengan acuh.

"Kei-chan."

"Yuuki-chan."

Kubota mendesah kalah. "Fine. Stay around. And we'll see. But I can't promise you anything."

"That is why I love you, Yuuki-chan." Ujar pria itu sambil tersenyum miring. "But you're still driving me home."

Kubota menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mendesah lagi. "You're evil."

"That's why you love me."

-end?-

Saturday, August 6, 2011

[fanfic] AU Keigo Kyoudai - Oyasumi

Fandom: Prince of Tennis Musical
Cast: Katou Kazuki, Inoue Masahiro, Kubota Yuuki
Rating: G
Warning: AU, OOC, bromance
Disclaimer: actors are belonged to their respective agencies. No profit gained, no harm intended
Note: iseng sore-sore dan pendek saja deh :D





"Nii-san."

Kazuki mengangkat kepalanya, mengalihkan pandang dari novel detektif yang ada di pangkuannya. Dilihatnya sesosok mungil tersembul dari pintu kamarnya yang terbuka. Kazuki mengerutkan kening.

"Masahiro? Ada apa?"

Anak laki-laki itu menggerut bantal yang ada dalam pelukannya. Kerah piyamanya yang bermotif beruang agak merosot di pundak kanan. Masahiro melirik takut-takut ke arah jendela. Hujan sejak sore dan makin deras seiring malam datang bahkan disertai petir dan guntur. Gemuruh suara dari luar dan bunyi dahan-dahan pohon membentur kaca membuat Masahiro tak bisa tidur. Maka ia lari ke kamar kakaknya. Ryuuji, yang kamarnya paling dekat dengan Masahiro, tak membukakan pintu dan Masahiro berjinjit untuk membuka sendiri tapi pintunya dikunci. Samar, Masahiro ingat gadis cantik yang datang dengan kakaknya tadi sore dengan keadaan basah kuyup.

Jadi kaki kecilnya pun berlari menuju kamar Kazuki. Untunglah Kazuki belum tidur. Kakak keduanya itu masih duduk duduk di tempat tidur, membaca dengan diterangi lampu tidur. Masahiro malu menjawab kalau ia takut tapi Kazuki memandangnya dengan khawatir.

"Masahiro?"

Nyala terang kilat membuat ruangan itu terang sesaat diikuti dengan suara menggelegar keras yang membuat jendela bergetar dan Masahiro pun berlari, dengan sigap melompat ke tempat tidur lalu meringkuk di sebelah kakaknya. Tubuhnya gemetar dan kepalanya disurukkan ke antara bantal yang menyangga punggung Kazuki dan lengan besar kakaknya. Kedua tangannya menutupi telinganya.

Kazuki mengernyit. Petir barusan memang kencang sekali. Diliriknya sosok adik bungsunya yang meringkuk ketakutan. Dokter muda itu tersenyum, ditutupnya novel bacaannya, menyingkirkannya ke atas meja dan merengkuh tubuh Masahiro dalam pelukannya.

"Kamu ini, sudah kelas 6 masa masih takut sama petir?" Kelakarnya sambil menepuk-nepuk gundukan kecoklatan rambut Masahiro.

Masahiro hanya menggerung sambil menggelengkan kepalanya yang disurukkan makin dalam ke dada sang kakak. Kazuki menghela nafas dan memeluk sang adik dengan lebih erat.

Masahiro nyaris jatuh tertidur. Rasanya nyaman sekali dipeluk Kazuki. Kakak keduanya itu biasanya selalu serius dan tak akan segan memarahi Masahiro yang memang tak bisa diam dan selalu membuat onar. Tetapi sentuhan tangannya di kepala Masahiro, pelukan dan senyumnya selalu terasa hangat dan Masahiro tahu kalau kakaknya itu sangat sayang padanya.

"Sudah tenang? Petirnya sudah berhenti tuh." Suara Kazuki terdengar samar. Masahiro mengangkat kepalanya perlahan, mengintip ragu ke arah jendela dan telinganya mendengar dengan waspada. Sudah tak ada petir, yang tersisa hanya suara gemuruh hujan yang belum reda.

Kazuki melepas kacamatanya dan menyimpannya dengan rapi di atas novelnya. Dibiarkannya Masahiro beringsut turun dari pangkuannya meskipun kedua lengannya masih memeluk erat lengan Kazuki.

"Nii-san tidak takut petir?" Tanyanya lugu.

Kazuki tertawa kecil. "Takut. Tentu saja takut. Kalau tersambar kan berbahaya."

"Mou." Masahiro merengut, pipi bulatnya menggembung sempurna dan Kazuki mencubitnya dengan gemas.

"Sudah diajari caranya menghindari petir kan di sekolah?"

Masahiro mengangguk.

"Masahiro tahu kalau rumah kita ini dilengkapi penangkal petir?"

Kepala mungil itu mengangguk lagi. Kazuki tersenyum. "Nah, berarti Masahiro tak perlu takut dengan petir kan? Karena Masahiro aman di dalam rumah."

Masahiro menggigit bibir lalu melirik pada Kazuki yang memandangnya, menunggu jawaban dari sang adik. Masahiro beringsut, berbaring miring tanpa mau melepaskan lengan sang kakak yang terasa nyaman, hangat dan aman.

Kazuki mengacak rambut sang adik dengan gemas. "Masih takut?"

Masahiro menggeleng. "Tapi aku boleh tidur sama Nii-san kan?"

Kazuki tertawa lalu menghela nafas. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mungil adiknya. Pria itu merunduk untuk mendaratkan sebuah kecupan di kening Masahiro.

Masahiro beringsut lagi, mencari posisi yang benar-benar nyaman sebelum menutup mata. Ia menguap lebar dan menggumamkan "Oyasumi, Nii-san."

Kazuki tersenyum. "Oyasumi, Masahiro." Lalu mengambil kacamata dan novelnya lagi.

------

Kazuki mengangkat kepalanya dari bacaannya saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Kazuki mengernyitkan kening, melirik jam dan baru sadar kalau malam sudah larut sekali.

"Ya?" Sahutnya saat pintunya diketuk lagi.

Kubota melangkah masuk. "Hei, belum tidur?"

Kazuki mengangkat novelnya. "Ada apa, Yuuki?"

"Tadi petirnya kencang sekali kan? Aku ke kamar Masahiro untuk melihat keadaannya tapi ia tak ada." Jawab Kubota dengan wajah setengah khawatir.

Kazuki tak menjawab, hanya menoleh pada gundukan di sampingnya. Kubota menghela nafas lega. Ditutupnya pintu, melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur Kazuki. Diliriknya adik bungsu mereka yang sudah tertidur dengan lelapnya. Dengan iseng, ditusuknya pipi bulat sang adik dan tertawa saat Masahiro menggumam sebal.

"Yuuki." Tegur Kazuki.

Kubota hanya menjulurkan lidah. Petir menyambar lagi di luar sana. Kazuki mengernyit tapi tak berkata apapun dan melanjutkan membaca. Saat tak mendengar apa-apa dari sang kakak, Kazuki melirik. Didapatinya Kubota sedang memandangnya dengan senyum lembut.

"Apa?"

"Kau tak apa-apa?"

Kazuki mengangkat alis tak mengerti.

"Masih juga takut petir? Karena itu kau tak pernah tidur dan membaca sampai larut kalau ada badai kan?"

Tanpa sadar, Kazuki merengut. Semburat merah menjalari leher dan telinganya. Pria itu melengos dan Kubota tertawa seraya menjulurkan tangan untuk menepuk-nepuk lutut Kazuki yang tertutup selimut. Lalu ia naik ke tempat tidur, menyusup ke balik selimut dan berbaring di sebelah Masahiro.

Kazuki menatapnya. "Sedang apa sih?"

Kubota menghela nafas dengan santai. "Menjaga adikku. Tidurlah."

Kazuki ikut menghela nafas, mengernyit kala petir menyambar lagi. Kali ini ia menyerah dan ikut berbaring. Kedua pria itu merapat pada Masahiro yang menggeliat pelan dan bergumam sesuatu dalam tidurnya.

Kazuki tersenyum kecil, menatap Kubota dengan sayang. "Oyasumi, ......Nii-san."

Kubota nyengir. "Oyasumi."

Wednesday, April 27, 2011

[fanfic] AU AkixYuuki - Rest

Author: Icha & Panda
Pairing: Akiyama ShintaroxKubota Yuuki
Fandom: Prince of Tennis Musical
Rating: NC-17
Warning: Boy/boy. AU. OOC. NSFW
Disclaimer: We are only a humble panda & tanuki who don't own anything and/or anyone
Notes: JADI, pada suatu hari yang cerah ceria, panda & tanuki berusaha untuk membuat sesuatu yang tidak icha icha. Ceritanya pengen bikin yang santai aja gitu. But who are we to deny our nature, eh.




Kubota Yuki berdiri di depan pintu gerbang rumah bergaya tradisional itu dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia memiringkan kepala, mencoba mendengarkan apakah ada suara-suara yang menunjukkan bahwa pemilik rumah ada di tempat.

Sunyi.

Iseng didorongnya daun pintu dengan ujung sandalnya. Agak kaget juga saat melihat daun pintu itu mengayun terbuka. "Kok tidak dikunci sih," desisnya sambil melangkah masuk dan menaiki tangga menuju beranda. "Akiiii?" panggilnya.

Akiyama Shintaro berbaring telungkup di beranda yang menghadap taman belakang rumahnya. Bukan pingsan apalagi mati, hanya berbaring mencari udara segar. Rhyme bergelung di dekat kakinya. Didengarnya anjing kecilnya menyalak dan Shintaro tetap bergeming. Mungkin Naito yang datang. Samar didengarnya suara langkah kaki. Dahinya mengernyit. Suara langkah yang ini lebih berat dari langkah anaknya. Tapi Shintaro tetap tak bergerak. Didengarnya derap kaki-kaki kecil Rhyme dan salakan ramah. Kemudian mendengar namanya dipanggil. 

"Haiiii!" jawabnya keras meski teredam karena kepalanya pun tertelungkup ke lantai kayu yang sejuk.

Lagi-lagi Yuki memiringkan kepalanya mendengar suara sahutan yang lamat-lamat sampai ke tempatnya berdiri di tangga. Ia lalu mengurungkan niat naik ke teras dan malah turun menyusuri halaman rumah, terus hingga ke halaman belakang hingga dilihatnya sesosok makhluk tertelungkup di lantai kayu teras belakang. 

Didekatinya makhluk--er maksudnya orang--itu, kemudian setelah menimbang-nimbang sesaat, menusuk sisi tubuh orang itu dengan ujung sandal. "Hoi."

Shintaro menggerung saat merasakan sesuatu berujung tumpul dan keras menusuk sisi tubuhnya. Dibukanya satu matanya, mengintip siapa yang kira-kira berani mengganggu ketenangannya meski Shintaro sudah bisa menebak dari suaranya. Dan dia tak mungkin salah mengenali sosok cukup tinggi yang berdiri membelakangi sinar matahari sore itu.

"Yo, Yuki." ujarnya seraya mengangkat tangan sebisanya.

Yuki memandangi laki-laki jangkung yang tampak seperti lumba-lumba terdampar yang hidup segan mati pun tak mau itu. "Ngapain di sini?" tanyanya agak heran.

Tangan Shintaro terangkat lagi, kali ini mengacungkan telunjuknya. "Itu, harusnya jadi kalimatku kan?" 

Sejurus kemudian ia akhirnya mengangkat tubuhnya dan berbaring miring, menumpu kepala dengan satu tangan. Dilihatnya sudut mulut Yuki yang berkedut tak suka dan wajahnya masih saja manis. 

Shintaro nyengir dan menepuk lantai dengan cuek. "Duduk. Memangnya tidak pegal berdiri terus?"

Sudut bibir Yuki berkedut lagi. Sebenarnya ia merasa tidak akan sanggup bangkit lagi kalau duduk sekarang, dan terkapar di teras rumah pria di hadapannya ini rasanya bukanlah pilihan pertamanya untuk beristirahat dengan nyaman. Tapi melihat Shintaro menepuk-nepuk lantai kayu yang sepertinya sejuk dan nyaman itu mau tidak mau Yuki tergoda. Apalagi Shintaro tampak begitu nyamannya berbaring di sana. Sambil menghembuskan napas kesal, ia mendaratkan pantatnya di sisi Shintaro. Kesejukan lantai kayu langsung menyapa kulitnya, menembus bahan celana kargo tanggung yang dipakainya. Tanpa sadar ia mengerang pelan. Rasanya enak sekali bisa duduk.

Satu alis Shintaro terangkat. Lucu sekali melihat temannya itu mendesah dengan begitu enaknya seolah-olah lantai kayu rumahnya jauh lebih empuk dari sofa atau tempat tidur manapun. Sudut bibirnya mulai membentuk senyum dan disentuhkannya lututnya ke punggung Yuki. 

"Kau terlihat seperti habis menghadapi kawanan ibu-ibu tetangga yang histeris."

Yuki berjengit karena sentuhan ringan lutut Shintaro ke punggungnya tepat mengenai otot yang tegang dan nyeri di sana. Pelan-pelan diselonjorkannya kedua tungkainya. 

"Percayalah, kau tak akan mau tahu." 

Shintaro mengangkat bahunya. "Baiklah." Namun matanya sempat menangkap jengitan sekilas di wajah Yuki. Disentuhnya sekali lagi titik itu dengan lututnya dan Yuki langsung memukulnya. Shintaro malah tergelak meski meringis kesakitan. Kali ini ditariknya dokter itu hingga berbaring telungkup di sebelahnya. 

"Keseleo punggung?" tanya sambil meletakkan tangan di punggung temannya yang merengut itu.

Yuki makin merengut karena Shintaro malah sengaja menyentuh bagian punggungnya yang nyeri. Bahkan sudah dipukul pun ia malah tertawa. Tapi Yuki sendiri tak sanggup menolak saat Shintaro menariknya untuk berbaring. Sengaja memalingkan muka menjauh dari temannya itu, Yuki menghela napas menikmati sejuknya lantai kayu yang menyentuh kulit pipinya yang rasanya lebih hangat dari biasa. 

Tanpa diminta Shintaro langsung kembali menyentuh punggungnya, memberikan tekanan-tekanan lembut yang membuat Yuki mendesah tanpa sadar. Beberapa operasi berturut-turut dengan komplikasi tak terduga yang membuat waktu operasi bertambah lama cukup membuat badannya sakit semua.

"Kok sepi?"

Shintaro tersenyum miring sementara tangannya masih terus menjelajah punggung Yuki dan menekan di sana-sini. Sebenarnya dia tidak begitu tahu tentang pijat memijat tapi selama ini tak pernah ada yang protes dengan hasilnya. 

"Hmm? Oh, pelayan-pelayan sedang libur." jawab Shintaro sekenanya.

Yuki meregangkan tubuhnya dan memejamkan mata dengan nyaman. Kalau ia tahu Shintaro pijatannya seenak ini mungkin lebih baik dia ke Osaka setiap terserang pegal dan minta dipijat gratis. 

"Si kecil di mana?"

Shintaro terbahak mendengar istilah Yuki. "Maksudmu Naito? Sebesar itu kau bilang kecil? Dia sudah tak bisa digendong, tahu. Kalaupun aku mau, dia pasti menendangku." lanjutnya dengan tawa makin kencang. 

Sejurus kemudian ditepuk-tepuknya punggung Yuki dengan lembut. Lalu ia bangkit, bergerak untuk mengangkangi Yuki. Kedua telapak tangannya di satukan dan diletakkan pada sendi tulang belakang Yuki. 

"Tahan lenganmu di depan dada." ujarnya lalu menekan sendi Yuki dengan hentakan keras.

Yuki agak terkejut saat Shintaro bangkit menjulang di atas tubuhnya, tapi menuruti saja kata-kata temannya itu, tak punya tenaga untuk membantah. Terdengar bunyi derak halus dari punggungnya dan Yuki tak tahan untuk tidak mengerang panjang. 

"Anak itu masih kecil kalau dibandingkan denganmu," sahut Yuki. "Ah ya, di situ pegal sekali."

Shintaro menekan lagi lebih ke bawah. "Yang benar saja. Kalau dibandingkan begitu ya jelas saja." Dua kali menekan lagi dan Shintaro kembali menepuk-nepuk punggung temannya dengan senyum puas terulas di bibir. 

"Mau makan?" tanyanya kemudian, masih belum turun dari atas punggung Yuki yang entah kenapa selalu terasa nyaman untuk ditunggangi.

"Tidak," cetus Yuki, memaksa pria jangkung yang menduduki punggungnya untuk berbaring kembali kemudian beringsut menyandarkan kepala ke lengan Shintaro. "Aku capek. Lihat makanan saja mual."

Shintaro menjangkau rokoknya yang tergeletak di dekat tiang rumah. Terkekeh pelan, dinyalakannya sebatang dan menawarkan pada Yuki "Kau kan capek, bukan hamil." Diam sesaat lalu dengan perlahan Shintaro menoleh pada dokter itu dengan ekspresi horor. "Yuki.... jangan bilang..."

Yuki memejamkan matanya tapi tidak bergerak dari tempatnya. "Kalau saja aku masih punya tenaga untuk bergerak, sudah kutendang kau."

Shintaro pura-pura menghela nafas lega. "Baguslah. Aku tak mau disuruh tanggung jawab soalnya." Dilemparnya kotak rokok yang diacuhkan Yuki. Meskipun begitu, Shintaro menyelipkan lengan ke bawah leher Yuki untuk menyangga kepalanya. 

"Kudengar Kazuki akan menyusul si bungsu ya? Adik-adikmu semangat ya." Shintaro terkekeh.

"Kalaupun aku hamil, apa yang membuatku harus minta tanggung jawab kepadamu, penulis mesum?" ujar Yuki datar, tapi ia tahu Shintaro paham. "Justru bagus mereka cepat-cepat menikah dan tidak merepotkanku lagi. Sekarang tinggal berharap Sainei menemukan wanita yang mampu membuatnya berhenti jadi playboy kacangan," lanjut Yuki sambil tertawa kecil mengingat adik-adiknya.

"Hei, aku cuma memastikan." Shintaro mengedikkan bahu. Shintaro menekuk lengan untuk menyentuh rambut Yuki. Dipilinnya ujung rambut pria itu. Kepalanya bergerak, menghirup pelan aroma rambut Yuki yang segar sementara pria itu mulai tampak nyaman bersandar padanya.

"Kuharap kau tidak sibuk hari ini," ujar Yuki, makin merasa nyaman karena Shintaro mengusap rambutnya. "Karena aku tidak mau bergerak dari sini. ...dan tidak bisa."

"Hmm... sudah dekat deadline sih tapi aku sedang malas. Jadi sebenarnya kau datang di saat yang tepat." Shintaro menggerak-gerakkan alisnya seperti ulat bulu. "Mau digendong ke kamar? Sepertinya aku punya tali yang cukup kuat untuk menyeretmu."

Yuki mengangkat kepalanya curiga. "Entah kenapa perasaanku tidak enak."

Shintaro nyengir kuda. "Eksperimen sedikit."

Setelah mengernyitkan dahi beberapa saat Yuki lalu menyandarkan kepalanya kembali. "Dame. Besok aku kerja."

Shintaro mengerucutkan bibirnya, pura-pura kecewa. "Bhuu~ tidak seru~" Pun begitu, pria itu menggerakkan kepalanya untuk mengecup sekilas bibir Yuki.

Yuki tertawa kecil, mengecup pipi Shintaro. "Kau tak pantas cemberut begitu. Lagian memangnya kau mau kutinggal tidur di tengah-tengah?”

Shintaro tertawa, menusukkan hidungnya yang mancung ke pipi Yuki. "Aku akan membuangmu dari Menasa Osaka kalau kau begitu." Perhatiannya kemudian teralih karena rasa panas di jarinya. Shintaro cemberut karena mendapati rokok di tangannya sudah nyaris terbakar habis. Dijentikkannya puntung itu ke arah halaman dengan tak acuh. Kemudian diperhatikannya wajah Yuki yang memang terlihat sangat lelah. Dikecupnya kantong mata yang menebal di bawah mata Yuki. Meskipun nampaknya sudah ingin tidur saja, Shintaro paham di saat-saat seperti ini Yuki sedang mencari perhatian sekali. 

Tak ada yang benar-benar mengerti Yuki di rumahnya sana kecuali Kazuki tapi tak mungkin Yuki seperti ini pada adiknya. Dan Shintaro memang tak akan pernah menolak tuan muda yang satu ini. Memang, meski mereka sudah setua ini, Shintaro menganggap tak ada yang berubah dari temannya itu dan akan selamanya jadi tuan muda yang tak akan dan tak mau ditolak.

"Makanya tidak usah macam-macam," Yuki meleletkan lidah, menikmati sentuhan bibir Shintaro di kulit wajahnya. Kemudian ia menggeliat, meregangkan badan dan menguap lebar. "Ya ampun, aku capek sekali sampai tidur pun tak bisa," keluhnya.

"Jadi kau mau apa, bocchan?" tanya Shintaro sambil nyengir dan siap-siap kabur sebelum dihajar Yuki.

Yuki menggerut kain yukata yang dikenakan Shintaro. "Yang bocchan itu Masahiro," cetusnya membenamkan giginya keras-keras ke dada Shitaro.

"Aw, aw, aw!" Shintaro berjengit dan mengusap-usap dadanya yang nyeri. "Sadiiiis." Ditariknya lengan Yuki pelan, membuat pria itu berbaring di atas tubuhnya. "Tapi Masahiro bukan bocchanku. Coba kutanya, dengan siapa lagi kau bisa begini, hah?" tanyanya jumawa.

"Bocchan-MU?" Yuki mengangkat sebelah alis. "Kau pikir siapa aku ini, Akiyama Shintarou?"

Shintarou memiringkan kepalanya. "Umh.... Kubota Yuki. 43 tahun. Anak sulung keluarga Keigo. Dokter spesialis tulang di rumah sakit keluarga? Betul kan?" ujarnya berusaha tampak polos. "Tapi kau benar. Bocchanku itu Naito." sambungnya sambil nyengir.

Yuki terdiam beberapa saat, sebelum tidak bisa bertahan lagi dan tertawa tergelak-gelak sampai harus menyandarkan dahinya ke dada Shintarou. Memang tidak salah berkunjung ke tempat ini, karena pria yang sedang berada di bawah tubuhnya ini tak pernah gagal membuat Yuki tertawa. Lembut dielusnya rahang Shintarou yang kukuh. 

"Benar kok," ucapnya kemudian memagut bibir temannya itu.

Disambutnya pagutan bibir tipis itu dengan pagutan lain. "Hmm? Apa? Mendadak kau mengaku sebagai bocchanku?" Tangannya mengelus punggung Yuki dengan lembut. "Tak berpendirian deh."

"Mmmhmm, mungkin. Dan karena aku bocchanmu, kau harus melakukan semua yang kukatakan," sahut Yuki sambil mengigit bibir Shintarou. 

Shintarou mengangkat alis, menjilat bibirnya yang digigit lalu balas menggigit bibir Yuki. "Tentu saja. Tapi bayaranku mahal loh."

Yuki menarik wajahnya menjauh, sepasang alisnya terangkat jumawa. "Kau pikir aku tidak sanggup membayar, aaahn~?"

Shintaro mendekap erat tubuh pria itu, sedikit tak peduli meski Yuki mengernyit karena badannya masih pegal-pegal. "Hmm... memangnya kau mau aku melakukan apa sekarang? Jadi kasurmu seperti ini tak cukup?"

"Sebenarnya aku hanya ingin tidur," Yuki memajukan bibirnya dan bersandar kembali ke dada Shintarou. "Kalau kau bisa membuatku tidur beberapa jam saja, mungkin aku bisa memikirkan beberapa hal menarik untuk dilakukan denganmu, Sensei~"

Shintaro memagut bibir yang mengerucut lucu itu. Tahu dengan pasti kalau Yuki tertidur, pasti tak akan bangun sampai esok pagi. Tapi toh dia tak keberatan ditinggal tidur karena ia tahu itulah alasan sebenarnya Yuki datang. 

"Perlu kunyanyikan lagu pengantar tidur?" ujarnya sambil mengelus lembut garis rambut Yuki, dekat dengan pelipisnya.

Yuki menggigit bibirnya dan menyurukkan kepala ke lekuk leher Shintarou. "Tidak usah." Suara dalam itu, dengan logat Osaka yang kental, sepertinya justru membuat orang tak ingin tidur mendengarnya. Malah mengajak tidur bersama.

"Tsk." decak Shintaro kecewa. "Naito saja suka loh." Shintarou berbisik rendah di sebelah telinga Yuki. "Kujamin kau pasti mimpi indah."

"Dasar mesum," tuduh Yuki. "Terserah kau mau melakukan apa, tapi aku tak mau bergerak dari sini." 

"Mau meninabobo kok malah dibilang mesum." Shintarou mengelus sisi tubuh Yuki. Gerakan pundak temannya itu menunjukkan kalau Yuki bernafas dengan pelan dan tenang. Tandanya juga, pria itu mulai benar-benar merasa rileks meski matanya tak terpejam juga. Tangan Shintarou bergerak menangkup wajah Yuki dan memperhatikan dengan seksama. Kemudian dikecupinya wajah manis itu mulai dari kening, alis, kelopak mata, hidung, pipi lalu ke bibir. Kecupan-kecupan ringan tanpa maksud membangkitkan apapun. "Kawaee..." bisiknya.

"Matamu sakit ya Aki, masa yang seperti aku kau bilang kawaii," Yuki tertawa kecil, sedikit terguncang di atas dada Shintarou. "Kalau kakkoii baru benar, fuh."

"Kalau sedang begini, kawaee." Tukasnya, mengecup dagu Yuki. "Tak usah protes kalau dipuji." 

"Apa katamu sajalah," kembali tersenyum, Yuki beringsut nyaman dan memejamkan mata.

Shintaro nyengir lebar, menyentuhkan bibirnya ke kening Yuki dan bergumam pelan. "Pasrah sekali. Kalau kumakan hidup-hidup bagaimana?"

Yuki tak menjawab, malahan menyurukkan kepalanya ke dada Shintarou makin dalam. Lengannya memeluk tubuh jangkung temannya itu. Ia sudah begitu nyaman dengan hanya berada di samping pria itu, dan percaya bahwa apapun yang dilakukan Shintarou pasti untuk kebaikannya.

Cengirannya melebar lagi karena tingkah Yuki yang tampak seperti anak kecil kalau sedang begini. Satu tangannya kemudian menyelip ke balik kaus yang dikenakan pria itu, menyentuh kulit yang hangat dengan telapaknya dan ibu jarinya mengusap lembut.

Mau tak mau Yuki mendesah karena usapan telapak tangan Shintarou yang besar dan hangat sungguh menyenangkan. Ia beringsut ke atas sedikit, menyentuhkan bibirnya ke leher Shintarou, merasakan denyut nadi Shintarou di bawah kulitnya. "Hari ini Naitou pulang?" tanyanya pelan.

"Mungkin. Tapi mungkin baru besok." jawabnya sekenanya. Menengadahkan kepalanya sedikit, agar kepala Yuki bisa lebih nyaman berada di lekuk lehernya. "Kenapa? Takut kepergok Naito kita sedang begini?" Diusapnya lagi punggung temannya dan menekan pelan di satu sisi yang membuat Yuki menggeliat pelan karena geli. "Dia pengertian kok."

"Aku tidak sepertimu yang bisa menodai mata anak sendiri dengan pemandangan mesum begini, sensei," Yuki menggeliat kemudian menggigit lembut leher Shintarou. "Jangan-jangan dia juga membaca buku karanganmu ya? Kau merusak anakmu sendiri."

"Hahahahaha. Oh, ayolah. Kau tahu aku tidak sesuci itu. Kau juga kan?" Tangan Shintarou bergerak turun dan meremas bokong Yuki dengan iseng. "Dia kan sudah besar. Sekalipun dia tak baca buku-bukuku, aku yakin teman-temannya pasti jadi sumber yang cukup."

Yuki mengerang lirih dan beringsut di atas tubuh temannya yang tangannya mulai nakal. "Teman-temannya yang membaca bukumu, maksudmu?" goda Yuki sambil mengulum cuping telinga Shintarou.

Shintarou menjilat rahang yang menggoda di depan matanya. "Aku tak bertanggung jawab soal itu. Mana aku tau toko bukunya akan menjualnya pada anak-anak di bawah 18 tahun?" Shintarou menyelipkan satu kakinya ke antara kaki Yuki.

"Lari dari tanggung jawab," tuduh Yuki sambil beringsut lagi. Kaki Shintarou yang menyelip dan menekan ringan mulai membuatnya gelisah.

"Sama sekali tidak." ujar Shintarou, sengaja merendahkan suaranya. Digigit-gigitnya pelan pipi dan rahang Yuki. "Tentu saja aku akan menghukum Naito kalau dia berbuat yang aneh-aneh. Menyerahkan diri pada sembarang orang misalnya." Lututnya bergerak sekilas. "Setidaknya dia harus mencari orang yang sekeren aku."

"Jadi kau...ngh," Yuki terpaksa berhenti berbicara karena napasnya tercuri oleh gerakan lutut Shintarou di antara kakinya. "...kau merasa dirimu keren?" Sebagai balasan, ia meraih dada Shintarou, mengusap tonjolan yang tertutup kain yukata.

Shintarou mendesis pelan. Meski sentuhan Yuki terasa menggoda, tetap saja ia mengangkat hidungnya dengan bangga. "Tentu saja. Aku penulis terkenal dan digilai para perempuan. Kau pikir?"

Shintarou pun mulai menggerakkan pinggulnya, pelan saja karena tak ingin membuat Yuki terlalu bersemangat. Bagaimanapun, Shintarou tak ingin ditendang kalau akhirnya Yuki malah tak jadi istirahat nantinya.

"Maksudmu... perempuan-perempuan itu... mmmh, meneriakimu gila, begitu?" Yuki mendesah, menikmati tekanan Shintarou di selangkangannya. "Bukankah kita seharusnya... ah, pindah ke tempat yang lebih... tertutup?"

Shintaro menekan keras. "Setidaknya aku membuatmu gila kan? Hmm?" Shintarou menyentuhkan bibirnya dengan bibir Yuki, "Dan kenapa kita harus pindah ke tempat yang lebih tertutup? Katamu tadi kau tak bisa bergerak, sensei?" Tangannya bergerak lebih rendah lagi, mengelus celah bokong Yuki melalui bahan celana katun yang dikenakannya lalu kembali meremas bulatan sempurna bokong Yuki dengan gemas. "Tak akan ada yang melihat kok." cengirnya.

"Aki sialan," gerutu Yuki, balas menekankan pinggulnya ke bawah membalas perbuatan Shintarou, tapi malah tersipu karena merasakan tonjolan bersemangat di selangkangan Shintarou. Bagian itu menusuk pahanya dengan gembira dan walaupun Yuki mencoba biasa saja wajahnya tetap memerah. 

"Memang tidak ada orang yang melihat, tapi... aku tidak punya hobi bermesraan sambil ditonton binatang peliharaan," tersengal, Yuki menggerakkan dagunya menunjuk ke arah sisi mereka. Di mana Rhyme-chan sedang duduk manis memandangi mereka penuh minat.

Shintarou mengangkat kepalanya sedikit, mengintip melalui bahu Yuki dan menatap anjing kesayangannya. Sesaat kemudian dia terbahak dan menjulurkan kakinya sedikit sampai mengenai kaki Rhyme-chan yang menyalak pelan. 

Shintarou mengedikkan bahu. "Aku tak keberatan kok dapat penonton." cengirnya sambil mulai menggerakkan pinggulnya. Meski kemudian satu tangannya menjangkau ke samping dan melempar sesuatu yang langsung dikejar Rhyme-chan.

"Sudah gila ya?!" Yuki tergelak dan menggeliat. Tapi Shintarou tak kunjung melepaskannya dan Yuki mulai merasa tubuhnya merespon. Ia menggerung dan menggigit bahu Shintarou cukup keras hingga meninggalkan bekas. 

"Kamar. Ranjang. Sekarang, Aki."

Shintarou mendesis. "Sakit, dong!" Kepalanya menoleh untuk meniup-niup bahunya tapi kemudian melihat wajah Yuki yang kelihatan sudah siap benar-benar menendangnya kali ini, Shintarou tertawa. Ia bangkit duduk, menahan punggung Yuki dengan kedua lengannya dan menopang tubuhnya saat menariknya berdiri. Sebenarnya tak sejauh itu jarak ke kamarnya. Beberapa langkah dan Shintarou membuka salah satu pintu geser. Bukan kamar tidurnya, tapi kamar yang dipakainya untuk tidur kalau sedang menulis tapi setidaknya di situ ada futon yang cukup nyaman. 

Dibaringkannya Yuki di atas futon yang sudah tergelar --seolah tahu akan digunakan-- dan menggeser kembali shoji itu sampai setengah menutup. 

"Lepas pakaianmu." ujarnya sambil berbaring.

Wajah Yuki makin memanas menyadari pintu ruangan itu hanya separuh tertutup, siapapun yang lewat akan bisa melihat yang terjadi di dalam. Tapi rumah itu benar-benar sunyi dan ruangan itu gelap karena semua jendelanya tertutup tirai, dan sepertinya ia harus puas dengan itu. 

"Aku sudah bilang, bocchan ini tak mau bersusah-susah melakukan apa-apa hari ini," Yuki melirik Shintarou dengan senyum miring. Digesekkannya lututnya ke selangkangan temannya, masih sambil terlentang pasrah. "Kenapa bukan kau yang melepas pakaianku, hm? Aku tahu kau ingin."

Shintarou berdecak. "Benar-benar bocchan yang menyusahkan." ujarnya sok mengeluh. Toh, dia bangkit juga, berlutut di hadapan Yuki dan menarik lepas kaus yang dikenakan pria itu, mengecup leher dan dadanya seraya melempar kaus itu ke samping. Shintaro agak bersyukur karena celana katun yang dikenakan Yuki berpinggang karet hingga ia tak perlu berkutat dengan kancing dan risleting. Benar-benar bocchan, seenaknya saja keluar rumah dengan pakaian sesantai itu. 

Tanpa susah payah, Shintarou menarik lepas celana itu dan melemparnya ke samping, menjadi tumpukan yang sama dengan kaus Yuki. Shintarou mengangkat alis, menikmati pemandangan tubuh telanjang Yuki yang tak pernah membosankan untuk dipandang. Sejurus kemudian, diambilnya ujung simpul ikatan obinya dan menjulurkannya pada temannya.

Yuki tersenyum puas setelah seluruh pakaiannya telah dilepas. Dengan satu tangan ia menarik ujung simpul sederhana obi yukata yang dikenakan Shintarou hingga terlepas sementara tangannya yang lain menarik kerah yukata itu agar Shintarou merunduk. Diselipkannya tangannya ke dalam celah yukata dan mengelus sisi tubuh jangkung Shintarou kemudian menarik yukata itu lepas. 

"Hmmm, apa kau memang selalu berkeliaran tanpa pakaian dalam, sensei?" tanya Yuki, nyengir sambil menyentuh ujung kemaluan Shintarou. 

Shintarou bergidik senang dan menggeram pelan. "Ini kan di rumah. Lagipula, orang seseksi aku, tak perlu pakai pakaian dalam." Celetuknya bangga. 

Shintaro menggerakkan pinggulnya, membuat kemaluannya bergerak ke dalam genggaman tangan Yuki seraya menggigit bibir. Tanpa membuang waktu, Shintarou melebarkan kaki Yuki, mengangkatnya ke sisi hingga kedua lututnya menyentuh dada dan menekankan dua jarinya ke jalan masuk ke tubuh Yuki. Dia tahu dia tak perlu bersusah payah bersikap lembut karena tubuh Yuki selalu menyambutnya dengan senang. Yah, alih-alih jengit nyeri di wajah manis temannya itu dan pukulan yang diterimanya di lengan. Tapi Shintarou acuh. Kedua jarinya menekan lebih jauh ke dalam, langsung menuju ke satu titik yang akan membuat Yuki menjerit. 

"Di sini kan?" dengusnya seraya menjilat bibir.

"Iteeeeee!" pekik Yuki kesal begitu dua jari Shintarou menyerbu masuk begitu saja ke tubuhnya. Sendi-sendi dan otot-otot tubuhnya yang pegal menjerit begitu Shintarou memaksanya menekuk lutut sedemikian rupa. Apalagi mereka sudah lama tak bertemu, Yuki sibuk di rumah sakit dan Shintarou sibuk mengejar deadlinenya. Menggertakkan gigi menahan nyeri, ia melayangkan kepalan tangan ke lengan temannya itu, setengah mati berusaha merilekskan tubuhnya. Tapi Shintarou gila itu sepertinya tak peduli dan malah terus menekan jemarinya makin dalam. 

Dan oh. 

Tepat di situ. Yuki tak sanggup mencegah tubuhnya merespon. Punggungnya melengkung dan pinggulnya terangkat dari futon dengan sendirinya. Mungkin memang ini yang dibutuhkan Yuki saat ini, sentuhan yang tanpa tedeng aling-aling, secepat mungkin membawanya ke puncak kenikmatan. "Ngh. Ya. Anh... di situ. Mmmmh," Yuki menggerakkan pinggulnya, membawa jemari Shintarou makin dalam.

Shintarou nyengir senang. Otot tubuh Yuki mulai mencengkeram jari-jarinya dan ia pun tak menunggu lagi untuk bergerak. Shintarou nyengir senang. Otot tubuh Yuki mulai mencengkeram jari-jarinya dan ia pun tak menunggu lagi untuk bergerak. Nafas pria itu pun mulai tersengal saat Shintarou menekuk jari-jarinya. Menekan kuat di titik itu tiap kali dan dia tahu kalau diteruskan Yuki akan klimaks dengan cepat. Shintarou merunduk, mencium Yuki sekilas dan kembali merendahkan suaranya 

"Kore de ee?" tanyanya dengan senyum miring. Menekan dan menggetarkan jari-jarinya di titik sensitif itu.

Yuki mencoba memikirkan kalimat yang cukup cerdas dan tajam untuk memarahi Shintarou, tapi demi Tuhan ia tidak bisa menemukan satupun. Jemari Shintarou yang begitu mengenal tiap inci tubuhnya menekan titik sensitifnya tanpa ampun dan ia mengerang. Kalau ia membiarkan Shintarou terus melakukannya, ia yakin akan mencapai klimaks dalam sekejap mata, tapi bukan itu yang diinginkannya. Satu tekanan kuat membuat punggungnya melengkung jauh dari futon dan ia tersengal-sengal saat kembali berbaring. 

"Iya, motto...," akhirnya Yuki menemukan suaranya kembali. "Omae ... ore no naka ni. Ngggghhhh!"

"Honma?" tanyanya dengan nada ditarik-tarik. Kalau sedang begini, Yuki selalu tampak menggiurkan. Tubuhnya yang ramping menggeliat dan nafasnya yang tersengal membuat Yuki terlihat seksi sekali. Ditariknya keluar jarinya, sekali lagi menggoda lingkaran otot luarnya dan mencium Yuki. 

Shintaro mengangkat tubuhnya sekilas, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan pelumas tapi tak menemukan apapun. Sebenarnya dia tak ingin sekasar itu pada Yuki tapi apa boleh buat. Shintarou merunduk, meletakkan kedua tungkai Yuki di atas pahanya dan menekankan ujung kemaluannya ke jalan masuk ke tubuh Yuki.

"Honma ni, kawaee ya de." Bisiknya seraya mulai menekan masuk ke dalam kehangatan yang sudah begitu familiar itu.

Yuki tak berhenti memelototi Shintarou yang terus mengatakan bahwa ia tampak imut. Tapi suara dalam berlogat Osaka itu sungguh seksi dan kalau mau jujur ia sungguh menyukainya. Walau begitu tetap aja ia berharap Shintarou berhenti bicara dan mulai melakukan sesuatu. Ia menarik napas lega saat akhirnya Shintarou memposisikan dirinya di depan jalan masuk tubuhnya, tapi menjarit saat merasakan kemaluan Shintarou menekan masuk tanpa bantuan pelumas apapun. Shintarou memang sudah mempersiapkan dirinya dan ini juga bukan pertama kalinya mereka melakukannya tanpa pelumas, tapi dimasuki oleh sesuatu yang besar dan keras itu rasanya tetap luar biasa. Nyeri dan nikmat yang menegangkan.

"Ngh. Akiiii~" erang Yuki, sebelah tangannya menarik rambut panjang Shintarou sementara yang satunya meraih kemaluannya sendiri. Ia menggenggam dan menarik bagian tubuhnya yang terasa panas itu, mencoba rileks dan membawa kemaluan Shintarou masuk makin dalam.

Shintarou menggeram karena tubuh Yuki yang mencengkeram secara reflek sebagai pertahanan. Memang, bercinta dengan persiapan minim seperti ini rasanya selalu lebih menyiksa tapi entah kenapa juga lebih nikmat dan menggairahkan. Yuki juga tampak mulai menikmati dengan menyentuh dirinya sendiri seperti itu. Shintaro berjengit karena tarikan Yuki di rambutnya dan itu membuatnya makin bersemangat. Kedua tangannya menahan lutut Yuki dan Shintarou mulai bergerak. Hentakan tajam dan pendek yang ia tahu selalu disenangi Yuki dan jarang dilakukannya karena Shintarou senang membuatnya sebal. 

Bagaimana ya, Yuki seksi sekali kalau sedang seperti itu. Shintarou tak akan tahan untuk tidak menggodanya dan membuatnya menjerit dengan cara yang berbeda. Tapi kali ini sepertinya Shintarou kangen juga pada temannya itu. Dan Yuki yang tersengal dan menggeliat di bawahnya ini memang... "Mmnh...kau seksi sekali..." lenguhnya seraya menekan keras.

Yuki tak dapat menahan kelopak matanya untuk tidak terpejam setiap Shintarou menekan masuk dengan kuat dan cepat. Shintarou yang terasa besar dan panas di dalam dirinya menggesek bagian dalam dinding jalan masuk tubuhnya dengan nikmat sekali. Tangannya menarik kemaluannya dengan sedikit gerakan berputar, menikmati getar-getar nikmat yang mulai mengaliri seluruh tubuhnya. Dapat dirasakannya cairan hangat mulai keluar dari ujung kemaluannya. Yuki membiarkan cairan itu melapisi jemarinya dan menggerakkan genggamannya lebih cepat. 

Satu sentakan Shintarou membuat punggungnya melengkung lagi dan ia terengah-engah. Yuki tidak menyangkal bahwa pujian-pujian Shintarou yang beruntun membuatnya makin terangsang. Ditariknya Shintarou mendekat. 

"Akiii. Mmmnh. Motto. Aaah, mada...," Yuki menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. "...mada todoiteru... ore no naka ni... mmh..."

Shintarou menjilat bibirnya lagi. Pinggulnya terus bergerak dengan konstan. Tak ingin buru-buru memenuhi keinginan Yuki. Sedikit kejam, memang, tapi dia suka bertingkah seperti itu. Lagipula, dia ingin membuat Yuki memohon dan mengerang lebih keras lagi. Tak peduli temannya itu akan memukul atau menendangnya, Shintarou tak akan mengabulkan keinginannya sebelum dia puas.

"Demi Tuhan... Argh! Jangan mencengkeram sekencang itu..." Shintarou menggeram.

"Dakara!" Yuki melepaskan lututnya dari pegangan Shintarou kemudian mengaitkan tungkainya ke punggung Shintarou, menariknya merapat sembari mencengkeram kuat-kuat. Pantatnya membentur pinggul Shintarou, menimbulkan suara basah yang membuatnya makin bersemangat. "Berhenti menggodaku, Aki! Hngh!"

Shintarou melenguh karena Yuki sepertinya sama sekali tak berniat untuk mengendurkan pertahanannya. Mungkin juga karena sudah tak tahan. Shintarou suka sekali. Diletakkannya kedua tangannya di pinggul temannya untuk mempercepat hentakannya. Cengirannya bertahan untuk beberapa saat sampai dilihatnya kening Yuki yang berkerut tak suka sementara wajahnya sudah merah sekali. Shintarou pun beringsut, menggeser pinggulnya sedikit dan menghujam dalam-dalam ke tempat yang diinginkan Yuki. 

"Ugh! Totemo...anta no naka ni... saikou"

"Ngh. Tentu saja," Yuki berusaha mengangkat dagu sombong seperti biasa tapi tak kuasa karena sentakan Shintarou tepat ke tempat yang diinginkan dan dibutuhkannya. Memang suatu permainan yang selalu mereka mainka setiap kali bertemu, Shintarou akan menggodanya setengah mati dan Yuki akan selalu memarahinya dengan angkuh. Tapi Yuki harus mengakui bahwa hanya pria ini saja yang mampu membuatnya benar-benar rileks dan menjadi dirinya sendiri. 

Bukan sebagai anak tertua keluarga Keigo, bukan sebagai dokter bedah ortopedi yang cukup ternama. Hanya sebagai Kubota Yuki, laki-laki lajang yang memiliki teman bernama Akiyama Shintarou.

Shintarou tahu dia bisa membawa permainan mereka ini sepanjang waktu yang ia mau. Bertahun-tahun melakukan ini, Shintarou tahu dengan baik kemampuan tubuh Yuki. Di mana harus disentuh, di mana Yuki tak suka disentuh. Di mana harus menekan keras atau di mana harus memperlakukan dengan lembut. Tentu saja mereka bukan partner eksklusif. Shintarou tetap tidur dengan orang lain dan dia tahu Yuki pun kadang begitu. Tapi memang tak ada yang bisa benar-benar membuatnya merasa sepuas dengan Yuki. Hentakannya melambat, menekan lebih dalam karena tak ingin Yuki selesai terlalu cepat.

Yuki menarik napas dan meraih wajah Shintaro, menyentuh pipinya lembut. "Sebentar, Aki. Ah. Ahnnn~ jangan bergerak dulu."

Shintarou terengah, memfokuskan perhatiannya pada perkataan Yuki. Gerakannya makin melambat sebelum benar-benar berhenti. Digesekkannya ujung hidungnya dengan hidung Yuki yg mancung. 

"Hmm? Nanya?"

Yuki melingkarkan lengannya di bahu Shintaro dan menarik tubuhnya bangkit, perlahan-lahan karena Shintarou masih berada di dalam tubuhnya hingga ia berada dalam posisi berlutut di pangkuan temannya itu. Yuki bergerak sedikit dan mendesah pelan. Dengan begini ia lebih bisa mengendalikan permainan mereka, dan juga bisa dengan leluasa melumat bibir Shintarou yang menggoda. "Mmmmh, Aki~"

Gerakan Yuki membuat Shintarou menggeram rendah karena selangkangan terasa tertarik dan terjepit kuat. Pun begitu, ia nyengir lebar saat Yuki duduk di pangkuannya dan menciumnya. Dipeluknya pinggang dokter itu dan mengelus punggungnya. Shintarou beringsut dan mulai menekan ke atas dengan tajam hingga kepala Yuki terlempar ke belakang Shintarou melesakkan giginya ke leher jenjang nan putih menggoda itu. "Koko ya de?" bisiknya.

"Nnngh, ah~" Yuki membiarkan punggungnya melengkung dengan sendirinya akibat sentuhan Shintarou jauh di dalam tubuhnya. Jemarinya mencengkeram kuat bahu dan rambut Shintarou sementara ia menggerakkan pinggulnya dengan bersemangat, menggesekkan kemaluannya ke perut Shintarou sekaligus membawa Shintarou masuk lebih dalam. "Kimochi ii, Aki~"

Dia tak peduli dibilang sombong tapi desahan Yuki adalah sesuatu yang sudah diketahuinya dengan pasti. Tak urung kepalanya tetap melambung mendengarnya dan dilumatnya bibir Yuki tanpa ampun. Kepalanya pun mulai terasa pening dan Shintarou sesekali memejamkan matanya seraya melenguh. 

"Nnngh... Yuki...Ikisou." desisnya seraya mempercepat gerakannya, menghujam lebih dalam dan keras.

Jemari Yuki menggenggam bahu Shintarou yang makin licin oleh keringat, napasnya memburu tak tertahan. Penglihatannya sudah tertutup percikan-percikan cahaya yang semakin besar dengan sentakan Shintarou yang semakin dalam dan tepat ke tempat yang diinginkannya. 

Digigitnya leher Shintarou yang jenjang, kemudian berbisik di telinga pria itu. "Buat aku merasakannya, Aki."

Getaran halus suara Yuki dan hembusan nafasnya dibalas Shintarou dengan geraman rendah. Satu tangannya menyelip ke antara tubuh mereka, menggenggam bagian tubuh Yuki yang berdenyut hangat dengan mantab dan menyamakan gerakan tangannya seiring dengan gerakan pinggulnya meski berlawanan arah. Tangannya menghentak ke bawah jika pinggulnya menyentak ke atas. Bibirnya mengincar tonjolan di dada Yuki dan Shintarou nyengir lebar saat tubuh Yuki bereaksi dengan hebat dan tersengal tak putus.

"Mngh...sugoi...kawaee ya de... Yuki." bisiknya setelah memaksa Yuki untuk balas menatapnya.

Yuki melemparkan kepalanya ke belakang dan mengeratkan cengkeramannya pada Shintarou. Digerakkannya pinggulnya, sudah nyaris tak beraturan karena ia sungguh sudah nyaris tak tahan lagi.

"Berhenti menyebutku... angh, seperti itu, mmmh," Yuki melumat bibir Shintarou lagi dan berbisik di depan bibirnya, "Ikitai." 

Shintarou tertawa pelan. Entah bagaimana dia bisa melakukannya karena saat ini tubuhnya dilingkupi sensasi yang begitu nikmat, siap menariknya ke dalam pusaran kenikmatan tiap saat. Pinggulnya menyentak secepat ia bisa, membuat tubuh mereka terguncang tak beraturan. Shintarou menarik nafas tajam, menahan diri agar Yuki mencapai klimaksnya lebih dulu karena sungguh, ia ingin melihat ekspresi Yuki saat ia tiba di puncak kenikmatan itu. 

"Aku tak akan...argh...berhenti bilang itu... mngh... Yuki." Ibu jarinya menekan ke dalam celah di ujung kemaluan Yuki dan jari-jarinya menekan keras. "Totemo...kawaee ko yakara..."

Yuki memejamkan mata, menikmati cumbuan Shintarou yang membuat seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali. Tubuhnya mengejang kuat saat jemari Shintarou menggenggam erat kemaluannya. Dicengkeramnya Shintarou kuat-kuat, merasakan gesekan kulit Shintarou yang panas dengan bagian dalam tubuhnya, memberikan gelombang kenikmatan yang mulai menyapunya dengan kuat. Kemudian dirasakannya ujung jari Shintarou menekan ujung kemaluannya, dan Yuki tak tahan lagi. Dibiarkannya gelombang itu menyeretnya, menghempaskannya dan meledak dalam tubuhnya seiring suaranya menyebut nama Shintarou setengah terisak.

Shintarou menatap lekat-lekat wajah Yuki. Bagaimana matanya terpejam karena nikmat yang tak tertahan, bagaimana namanya meluncur dari bibir Yuki yang basah dan begitu merah, bagaimana tubuhnya mengejang dan mencengkeram erat. Sebuah senyum puas menghiasi bibir Shintarou dan matanya terpejam karena kenikmatan itu mulai mendesak kuat dalam tubuhnya sendiri. Dia menghentak beberapa kali lagi sebelum akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya tersapu gelombang kuat itu. Terengah, Shintarou mengecupi wajah Yuki dengan sayang.

Yuki membiarkan tubuhnya menyelesaikan klimaksnya, menikmati getaran-getaran lezat itu, dan rasa hangat dari Shintarou yang mengisi penuh tubuhnya. Dibalasnya kecupan-kecupan hangat Shintarou dengan lembut, menyibakkan rambut Shintarou untuk menatap langsung ke matanya. 

"Itsumademo kawaranai, omae," tiba-tiba Yuki tak tahan untuk tidak tersenyum dan mengecup lembut ujung hidung Shintarou.

Kedua lengannya memeluk erat pinggang Yuki, menikmati percikan-percikan kecil di sekujur tubuhnya. Mendengar perkataan Yuki, Shintarou nyengir, memagut rahang persegi Yuki pelan-pelan. 

"Nanya? Kau ingin aku berubah? Nanti kecewa? Nanti tak mau main denganku lagi?"

"Mmmhm," Yuki memagut pelan bibir Shintarou. "Karena kau tak pernah berubah makanya aku terus kembali ke sini." Disurukkannya wajahnya ke lekuk bahu Shintarou, lalu menghembuskan napas dan tertawa. "Demi Tuhan, aku tidak bisa bergerak sedikitpun."

"Senang bisa memuaskanmu, Bocchan." gumamnya sambil cengengesan lalu ikut tertawa bersama temannya. Dengan pelan didorongnya tubuh Yuki sampai terbaring di futon lalu perlahan menarik tubuhnya keluar. Lengannya kemudian menjangkau kotak tisu dan mengambil beberapa lembar untuk membersihkan tubuhnya dari bekas bercinta mereka. Beralih pada Yuki sembari terkekeh dan melakukan hal yang sama. Baru kemudian berbaring di sebelah temannya itu.

Pelan Yuki mengerang saat Shintarou menarik dirinya keluar. Saat itu selalu berbahaya karena bisa saja ia atau Shintarou terangsang lagi. Tapi hari itu setelah hasratnya terpuaskan, seluruh kelelahan yang tadinya terlupakan kembali melanda. Tapi bukan kelelahan bercampur rasa gelisah seakan-akan ada yang kurang seperti yang dirasakan Yuki sebelum bertandang ke tempat ini. Sekarang ia merasa damai dan tenang, melihat sosok Shintarou yang dengan hati-hati membersihkan tubuh mereka berdua dari bekas bercinta. Ditariknya lengan Shintarou agar temannya itu ikut berbaring di sisinya. Sepertinya ia tetap butuh kehangatan seseorang untuk tertidur.

Shintarou menciumnya, hangat dan lembut. Tanpa banyak protes mengikuti keinginan Yuki dan menariknya merapat padanya. Tuan muda yang satu ini memang tak bisa ditolak dan Shintarou selalu dengan senang hati menuruti keinginannya. Ditariknya pelan selimut tipis untuk menutupi tubuh mereka karena meskipun cuaca sedang bagus, jatuh tertidur tanpa busana bukan pilihan bijaksana. Kepalanya terangkat sekilas ke arah shoji yang setengah terbuka. Lalu tertawa pelan mendapati sebuah nampan dengan dua gelas teh dingin terdorong perlahan.

"Nanti saja tehnya." ujarnya pada siapapun yang membawa teh itu tanpa mengalihkan perhatian dari Yuki yang menyandarkan kepala di atas lengan Shintarou.

Yuki membenamkan wajah ke dada Shintarou, menyusup dalam-dalam ke balik selimut. Getaran halus akibat tawa Shintarou membuatnya membuka sebelah mata. "Teh apa?"

Shintarou menyentuhkan bibirnya ke kening Yuki. "Hmm? Oh. Ada yang mengantar teh. Mungkin Naito." ujarnya santai.

Kedua mata Yuki langsung membelalak terbuka dan ia mengangkat kepalanya. Tapi hanya mengangkat kepala beberapa senti saja sudah membuat pandangannya berputar, dan ia terpaksa menyandarkan kepalanya kembali. "Menurutmu apa dia melihat kita?" tanya Yuki, memejamkan mata lagi dan menghirup dalam-dalam aroma Shintarou.

Shintarou mengedikkan bahunya. "Kalaupun iya, biar saja. Dia kan sudah besar." Jari-jarinya menyentuh cambang halus di sisi wajah Yuki dan mengelus pelan. Tahu bahwa sentuhan seperti itu selalu membuat Yuki merasa nyaman. "Kau keberatan?" tanyanya.

Sentuhan lembut Shintarou membuat Yuki makin merasa nyaman dan matanya terpejam perlahan. "Mmmm. Aku tidak peduli. Itu kan urusanmu," sahutnya dengan senyum miring di bibirnya. 

Shintarou nyengir. Dikecupnya lagi ujung hidung Yuki dengan lembut. "Nara ee. Tidurlah. Nanti kubangunkan kalau waktunya makan."

Yuki menyusupkan wajahnya semakin jauh ke lekuk leher Shintarou dan melingkarkan lengannya di perut temannya itu, pertama kalinya merasa benar-benar nyaman dalam beberapa minggu terakhir. Kantuknya datang tanpa bisa ditahan dan ia terlelap di dalam pelukan hangat temannya.

Shintarou sama sekali tak mengantuk, sebaliknya sebenarnya dia malah segar sekali. Namun dibiarkannya temannya itu terlelap dalam pelukannya dan sedikit merasa seperti seorang suami yang sangat memanjakan istrinya. Shintarou tertawa geli tanpa suara dan menatap langit-langit kamar itu, berpikir mungkin kalau yang barusan bagus juga kalau dijadikan bahan tulisan untuk novel berikutnya. Shintarou mengangguk-angguk puas.

-end-

Ih, terakhirnya gejeh banget deh LOL

Sunday, February 20, 2011

[fanfic] AU AkixYuuki - Complicated

Fandom: Tennis no Oujisama Musical, Kamen Rider Decade, Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Akiyama Shintaro x Kubota Yuuki, cameo Inoue Masahiro x Matsuzaka Tori
Rating : PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything
Note: ah, hanya ingin saja menulis mereka lagi ehehehe maaf pendek saja.




"Pacarnya Kubo-nii?" Masahiro mengangkat alis pada pacarnya yang mengangguk. Pemuda itu menusukkan garpunya ke buah bit di piring salad Tori karena tahu Tori tak suka. "Kenapa Tori mau tahu?"

Tori mengedikkan bahunya. "Ingin tahu saja. Katou-sensei kan punya Takuya-kun dan kalau Ryuuji-san aku mengerti. Kurasa tak mungkin Kubota-sensei tak punya seseorang yang istimewa."

"Kenapa?"

Tori mengulum garpunya dengan imut. "Umh... entahlah. Karena dia tampan?"

Masahiro mencibir, tak rela mendengar Tori memuji pria lain meski itu kakaknya sendiri. Tapi tak urung keningnya membentuk kerutan kecil seraya mengunyah lamat-lamat. "Hmm... Aku tak begitu tahu. Memang ada sih yang dekat sama Kubo-nii. Tapi sepertinya hubungan mereka agak rumit. Aku tak begitu paham. Kazu-nii yang mengerti. Tanya saja sama dia."

Tori menusuk lengan Masahiro dengan satu jari. "Mana mungkin aku tanya sama Katou-sensei?"

Masahiro tertawa dan menggeliat menjauh dari jari Tori yang masih menusuk lengannya. "Ya tak usah ingin tahu saja kalau begitu."

Melihat Tori merengut, Masahiro memajukan wajahnya untuk mencuri kecupan dari bibir Tori. Lengannya dicubit sebagai tanggapan.

"Aduh, aduh! Hahaha iya, maaf. Aku bercanda kok." Masahiro berdeham dan Tori menghentikan serangannya. "Tapi aku benar-benar tidak begitu tahu. Kalau bertanya, aku pasti dipukul."

Tori tertawa dan mencubit pipi Masahiro yang menggembung seraya mengangguk-angguk.

"Apa orang yang selalu ditemui Kubota-sensei di Osaka?"

Kali ini pemuda itu mengangguk. "Kami sih kenal orangnya. Tapi karena Okaa-sama dan kakak-kakakku yang lain tak pernah meributkan soal itu jadi ya sudah, aku juga tak tertarik untuk bertanya."

Di satu sudut, sesosok tinggi mengenakan seragam tim medis memandang ke arah mereka. Bibirnya membentuk senyum simpul.

Orang lain memang tak akan mengerti.

----

Kubota mengenal pria itu sejak mereka masih di bangku sekolah. Punya selera humor yang nyaris sama anehnya dengan Kubota dan sepertinya satu-satunya orang yang bisa menolak semua keinginan Kubota kalau sedang merasa tidak mood untuk menuruti. Kedua orang itu pun langsung jadi mencolok karena selalu berdua kemana-mana. Juga karena keduanya tampan tapi mungkin lebih kepada tingkah keduanya yang suka bikin onar di sekolah.

Kubota juga tak begitu ingat sejak kapan persisnya mereka mulai tidur bersama. Kalau tak salah sekitar musim panas di tahun terakhir mereka atau setelahnya? Entahlah. Tapi tak pernah ada janji yang diikat. Mereka bebas datang dan pergi semau mereka. Tak ada tuntutan, tak ada sakit hati. Kubota hanya tahu dia bisa tenang tiap kali bersama Shintaro. Pria itu pun tak pernah mengusirnya pergi. Ketika Shintaro memutuskan untuk kembali ke Osaka pun tak ada ribut-ribut yang terjadi.

Sesekali berkirim pesan kalau sedang ingin atau menelepon kalau Kubota sedang tak ingin dapat kabar dalam bentuk tulisan. Kadang bisa berjam-jam, kadang hanya tiga menit. Shintaro hanya akan tertawa. Kubota pun tak pusing ketika Shintaro bercerita tentang Naito juga tak bertanya siapa ibunya. Selama Shintaro masih menyambutnya tiap kali Kubota muncul di depan apartemen atau rumahnya, Kubota tak akan berpikir macam-macam. Dia tak berminat untuk itu.

Kalau ditanya apa dia ingin menikah, sekali dua kali tentu saja hal itu terlintas di benaknya tapi langsung dikesampingkan begitu saja karena merasa pernikahan bukan untuknya. Kalau ditanya apa dia tidak lelah dengan hubungan seperti itu, Kubota hanya akan tertawa dan mengangkat alis. Orang kebanyakan akan merasa seperti itu tapi seperti yang selalu dikatakannya, Kubota bukan orang kebanyakan.

Kalau ditanya apa dia puas, jelas saja dia akan menjawab tidak. Mana ada manusia yang puas dengan segala sesuatunya kan? Meski jujur, Kubota tak akan tahu jawabannya jika ditanya bagaimana seandainya dia tak pernah bertemu dengan Shintaro. Kubota pria yang santai. Dia tahu apa yang dia mau dan tahu bagaimana cara mendapatkan keinginannya. Seandainya tak ada Shintaro, mungkin akan ada orang lain. Entahlah.

Tapi kenyataannya, ada Shintaro di suatu tempat dalam kehidupannya. Kubota tak suka menyia-nyiakan apa yang dia punya. Mungkin Shintaro juga berpikir hal yang sama. Toh untuk beberapa hal mereka memang mirip. Kalau dibilang memanfaatkan, toh mereka berdua sama-sama dapat untung. Manusia butuh teman untuk berbagi; perasaan senang, bahagia, sedih, kesal, hasrat, impian dan lain-lain. Dengan caranya sendiri, Kubota membaginya dengan Shintaro. Tidak dengan kata-kata atau curhat panjang bahkan sentuhan lembut dan kadang cukup hanya duduk bersebelahan melewatkan malam.

-------

"Kupikir kau sudah kembali ke Tokyo." Shintaro berkata sambil tersenyum simpul pada Kubota yang sibuk bermain dengan Rhyme.

"Memang. Tapi ada yang harus diantarkan." Ujar Kubota sambil mengulurkan sesuatu pada temannya.

Shintaro mengangkat alis. Diambilnya amplop dari tangan Kubota. "Apa ini?"

"Undangan pernikahan Masahiro." Ucap Kubota singkat, sibuk menggelitik perut Rhyme dengan gemas. "Kamu tambah ndut yaaa..."

Shintaro tertawa. Dilemparnya undangan itu ke atas meja tanpa berniat membukanya dan menghempaskan pantat ke atas sofa. "Anak bengal itu? Sama siapa?"

"Kolegaku di rumah sakit. Nanti lah aku cerita." Sahutnya tanpa menoleh.

Shintaro menyenggolkan lututnya ke bahu Kubota yang duduk di lantai. Kubota melengos. Shintaro tertawa lagi. Tangannya terulur mengelus rahang Kubota. Kubota mengangkat satu tangannya dan merengkuh tangan Shintaro. Pria berkacamata itu tersenyum.

"Ne, Aki."

"Hmm?"

"Pernah berpikir untuk menikah lagi?"

Shintaro terdiam sesaat. Bergerak pelan untuk memeluk temannya dari belakang. Bibirnya mengecup lembut telinga Kubota.

"Tidak."

-------

Saat-saat mereka berdua hanya jadi milik mereka. Apa yang dirasakan pun hanya jadi milik mereka. Entah itu cinta atau hanya sebatas saling menyenangkan, hanya mereka yang tahu. Tak perlu dibahas, tak perlu diuucapkan.

--end--

Wednesday, February 2, 2011

[fanfic] Keigo Kyoudai - Concern

Fandom: Prince of Tennis Musical
Cast: Kubota Yuuki, Katou Kazuki, Inoue Masahiro. Mention of Ma-kunxTori
Rating: G
Warning: AU. OOC. Mild bromance.
Disclaimer: I do not own any of the characters. No profit gained. No harm intended.
Note: Sebenernya kangen pengen nulis Ma-kunxTori tapi kok yang keluar malah ini ^^;; Timeline-nya adalah setelah Tease-nya Nei.



Masahiro melepas kacamatanya seraya menghela nafas dengan berat. Kepalanya dimiringkan ke samping dan menengadah untuk mengurangi rasa pegal di lehernya karena terlalu lama menunduk. Kedua lengannya diangkat ke atas untuk meregangkan badannya yang panjang itu. Jam digital di atas meja belajarnya menyala kebiruan, menunjukkan angka 00.45 AM. Masahiro menghela nafas lewat mulutnya.

Tak terasa sudah selarut ini. Pantas rasanya pegal sekali. Pikirnya sambil mengusap tengkuknya. Ditandainya halaman diktat yang sedang dibacanya lalu memutar kursi untuk melihat ke arah tempat tidur. Tori sudah tertidur sejak tadi dan sepertinya nyenyak sekali. Masahiro bangkit, mampir ke tempat tidur untuk mengecup pipi Tori lalu melangkah keluar kamar.

Langkahnya terhenti begitu memasuki dapur yang masih terang benderang. Masahiro mengangkat alis saat melihat Kazuki ada di sana, berdiri di depan counter dapur dengan segelas kopi di tangan. Kazuki mengangkat kepala dan tersenyum melihat adiknya.

“Belum tidur?” tanyanya.

Masahiro meringis. “Aku lapar.” Masahiro menuju lemari es berpintu ganda berukuran luar biasa besar di sudut dapur, melihat-lihat isinya dan mengambil sekotak lasagna beku. “Aniki juga belum tidur?”

Kazuki menyesap kopinya. “Tak bisa tidur.”

”Minum kopi memangnya bisa membantu?” Masahiro mengerutkan kening sambil memasukkan makanannya ke dalam microwave. Beberapa kali bunyi ’biiip’ dan suara dengungan mesin itu pun menggema.

Kazuki tertawa pelan. ”Tak ada hubungannya. Kalau memang ingin tidur, ya tidur saja. Tanya saja Matsuzaka.”

Masahiro hanya mengangguk-angguk. ”Aniki ada masalah lagi dengan Gyuunyuu-chan?” Pemuda itu menarik sebuah kursi, duduk mengangkang dan menatap kakaknya penuh minat. 

Kakak keduanya itu menghirup kopinya pelan sebelum menjawab, ”Tidak. Kenapa kau berpikir begitu?”

Masahiro mengedikkan bahunya. ”Entahlah. Mungkin karena Aniki selalu begini kalau sedang ada masalah?”

Pria itu menghampiri adiknya, menarik kursi dan duduk menghadapi adik bungsunya. Diacak-acaknya rambut Masahiro dengan gemas. ”Anak kecil jangan sok tahu.”

Mou~” Masahiro menepis tangan besar itu dan sudah hendak membalas tapi microwave sudah mengeluarkan bunyi kalau makanannya sudah siap. Masahiro beralih dan kembali duduk sejenak kemudian, sibuk meniup-niup pasta yang masih mengepul itu.

”Kudengar kau bertengkar dengan Yuuki?” tanya Kazuki pelan, mencolek sedikit bumbu dari piring Masahiro.

Masahiro terdiam dan mengangguk pelan semenit kemudian. Kazuki memang sibuk sekali belakangan ini dan baru kemarin pulang dari Amerika. Jelas dia tak ada di rumah saat kakak dan adik  bungsunya adu argumen dengan hebat. ”Kubo-nii cerita?” tanyanya sok tak acuh.

Alis Kazuki terangkat satu. ”Menurutmu?”

Masahiro merengut meskipun tak berani mengangkat kepala karena takut. Biasanya Kazuki yang paling sewot masalah Masahiro dan Masahiro sebenarnya sudah deg-degan setengah mati seperti apa  Kazuki akan bereaksi begitu diberitahu.

”Tidak mau komentar apa-apa?”

Masahiro menggeleng dan melanjutkan makan dalam diam. Kata-kata Tori terpatri dengan jelas di otaknya dan Masahiro sedang tak ingin menambah masalah kalau sampai Kazuki ikut-ikutan marah padanya. Pemuda itu berkedip pelan saat merasakan tepukan pelan di kepalanya. Diangkatnya wajahnya dengan pandangan bertanya. Dia lebih bingung lagi saat melihat Kazuki tersenyum lembut.

”Yuuki marah sekali ya?”

Masahiro mengangguk. ”Padahal aku sudah minta maaf.” Bibirnya merengut. ”Tapi Kubo-nii sepertinya masih marah.”

Kazuki meletakkan cangkir kopinya di atas meja di dekat mereka. Ditiliknya wajah adiknya yang sekarang tampak seperti ingin menangis. ”Tahu kan kalau dia seperti itu karena sudah khawatir sekali sampai tak bisa ditolerir lagi?”

Sekali lagi Masahiro mengangguk.

”Lalu?”

”Aku sebal. Aku tak mau terus-terusan dianggap seperti anak kecil. Aku tahu aku pasti bisa kok.” Masahiro menyuap dengan frustrasi. ”Tapi ternyata Kubo-nii malah marah. Bahkan Tori pun sepertinya ikut kecewa.”

”Matsuzaka bilang apa?” tanya Kazuki penasaran.

”Tentu saja dia tidak bilang kalau dia kecewa. Dia mengajakku bicara banyak padahal sedang sakit dan aku malah makin merasa bersalah. Kubo-nii juga masih tak mau bicara denganku.” keluhnya dengan garpu masih terkulum di mulut.

Kazuki mengambil garpu itu dan meletakkan di atas piring Masahiro. ”Tak menyangka kalau masalahnya akan merembet kemana-mana?”

”Kupikir malah tak ada masalah sama sekali.” gumam Masahiro sambil mengarahkan pandangan ke lantai lalu bertanya lagi dengan nada takut-takut. ”Aniki tidak marah?”

Kazuki menghela nafas. ”Aku pusing sekali waktu Yuuki meneleponku. Aku tak ingin Okaa-sama sampai tahu. Jelas aku juga kecewa padamu. Kamu sudah mengambil satu keputusan besar dalam hidupmu, kau tahu? Aku tak tahu Ryuuji bagaimana tapi yang jelas aku dan Yuuki berharap kamu sudah mampu bersikap jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Kau pikir kenapa kami repot-repot meyakinkan Okaa-sama untuk mengijinkanmu menikah begitu kau lulus nanti?”

Masahiro terdiam.

”Kami tak bisa memanjakanmu seumur hidupmu dan kami senang karena Matsuzaka punya pengaruh yang baik padamu. Tanggung jawabmu akan jauh lebih besar dan lebih banyak lagi nanti. Kami bertiga belum tentu bisa menolongmu menyelesaikan masalahmu. Matsuzaka juga belum tentu bisa. Jadi kalau yang sudah jelas seperti ini saja kamu tak bisa menyelesaikannya dengan baik, dengan berat hati aku dan Yuuki akan total melarangmu bekerja dan kami bahkan akan melarangmu menemui Matsuzaka.”

Kata-kata Kazuki mengalir dengan lancar dan begitu tegas. Masahiro merasa seperti ditampar berkali-kali. Matanya melebar dengan horor saat mendengar ancaman yang terakhir itu. Kazuki mengambil cangkirnya lagi, beranjak untuk mengisi ulang kopinya. ”Aku menyerahkannya pada Yuuki. Tapi dasar Yuuki; dia memang tak tahu bagaimana caranya memarahimu.”

Masahiro memicingkan matanya. ”Aniki berdua benar-benar akan melakukan itu semua?”

”Tentu saja kami tak ingin sampai harus begitu. Kau pikir kami suka? Karena itu aku senang kau mendengarkan Matsuzaka. Dia kan yang berhasil meyakinkanmu?”

Masahiro mengangguk lagi.

”Tapi masa harus begitu terus? Tidak malu pada Matsuzaka?” Kazuki bertanya sambil kembali duduk.

Rasanya otak Masahiro sudah terlalu penuh dan terlalu lelah untuk berpikir tapi anehnya kata-kata kakaknya itu meresap dan bersisian dengan nasehat Tori. Masahiro menyingkirkan piringnya ke atas meja dan menyangga dagunya dengan punggung kursi. Ekspresinya campuran sedih, bingung, menyesal dan entah apa lagi. Kazuki tertawa pelan.

”Aku percaya Masahiro pasti bisa kok.” ujarnya pelan sambil mengusap sayang kepala sang adik. ”Kamu kan adikku. Ya kan.... Yuuki?”

Mendadak sebuah tangan lain ikut mengacak-acak rambutnya. Masahiro mengangkat kepalanya dan melihat Kubota berdiri di sampingnya dengan cengirannya yang biasa. Masahiro mengerjap-ngerjap. Eskpresinya kelihatan makin lucu. Kubota meringis, berusaha keras untuk tidak tertawa. Masahiro hanya bisa terperangah menatap kedua kakaknya berganti-ganti. Di satu sisi, dia merasa lega tapi di sisi lain, dia merasa seperti sedang dijahili oleh kedua kakaknya itu.

Kubota menepuk sekali lagi kepala si bungsu. ”Tidur sana. Sudah larut.” ujarnya.

Masahiro hanya bisa menurut dan menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua kakak tertuanya itu sekali lagi sebelum meninggalkan dapur. ”Aniki.”

”Hmm?” sahut dua pria itu bersamaan.

Masahiro menatap kedua kakinya. Wajahnya memerah. ”Terima kasih.” ujarnya cepat sambil berlari menaiki tangga.


Kazuki terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. ”Sepertinya sampai kapanpun tak akan bisa diapa-apakan.”

Kubota menghela nafas. ”Salah kita juga kan karena terlalu memanjakannya.”

Kazuki ikut menghela nafas. ”Kapan ya anak itu sadar kalau dia itu beruntung sekali?”

Kubota tertawa pelan. ”Kau pikir dia tidak sadar itu?”

”Yang benar?” Kazuki menatap kakaknya dengan tak yakin.

Kubota mengangguk. ”Dia tahu kok. Hanya perlu belajar menghargai.”

Kazuki menepuk pelan pundak kakaknya sambil tersenyum geli. ”Hatimu tersiksa karena harus memarahinya ya? Maafkan aku ya. Tapi sekali-sekali kau menjalankan kewajibanmu kan tak ada salahnya.”

Kubota mendengus. ”Kau harus menraktirku.”

Kazuki tertawa pelan tapi lalu mengerutkan kening karena kopinya diambil Kubota. ”Kenapa bangun?” tanyanya.

”Lapar.”

--end--