Showing posts with label Yamaguchi Kenki. Show all posts
Showing posts with label Yamaguchi Kenki. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

[drabble] Kenki/Micchi - late birthday fic

Rating: PG
Warning: BL, OOC, crappy English
Disclaimer: I own nothing
Note: seharusnya ini dipost kemaren2 tapiiii aku sungguhlah sibuk #alasan


“Did you cry?” Kenki raises an eyebrow as he amusingly looking at his friend nursing his coffee.

A pout takes place on Mitsuya’s lips. “You know I always cry at the littlest thing.”

Kenki laughs, this time. Mitsuya shoves him playfully and can’t help but grinning, too. The pretty boy then fixes his eyes with Kenki’s. The guy smiles in return and ruffles Mitsuya’s hair affectionately. 

Just like that and all of a sudden Mitsuya feels something warm is seeping through his soul. It’s always like that with Kenki. He never says so many words and only need to do something like smiling and Mitsuya knows

“Arigatou,” he whispers with a voice that threatens to be broken as he shifts a little, just so his forehead is leaning against Kenki’s shoulder.

Kenki smiles. 

Sunday, September 11, 2011

[fanfic] KenkixMicchi -Aitai Kimochi

Cast : Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki & Koseki Yuta
Rating: R
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I am but a humble fangirl. Do not own anything or anyone




Di waktu-waktu seperti ini, Kenki merasa seperti orang bodoh. Padahal ada hal penting yang harus dilakukan. Berkonsentrasi belajar karena ia sedang ujian akhir, misalnya. Hanya saja otaknya seperti tak ingin bekerja sama dan terus menerus menampilkan bayangan tunangannya. Ia tak bisa berhenti melirik jam, mengingat-ingat apa yang biasanya dilakukan Mitsuya pada jam itu.

Kenki tertawa geli lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mitsuya pun sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan nasional. Tak ada gunanya ia merengek minta bertemu. Meskipun tidak disepakati secara langsung, mereka berdua membatasi diri dengan telepon dan email seolah sadar ini waktu yang sangat penting dan mereka butuh konsentrasi penuh.

Sebenarnya, Kenki tak pernah punya masalah menjaga fokusnya. Ia bisa dengan mudah melakukannya, kalau ia mau. Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga kan?

Tapi lagi, sudah seharian ini ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Lelah sudah mulai mengambil alih dan bahan yang harus dipelajarinya seperti tak habis-habis. Mengambil waktu sejenak untuk istirahat, membuat kopi dan sarapan, pikirannya malah jadi melayang kemana-mana. Mitsuya belum mengiriminya email atau menelepon sejak semalam dan Kenki jadi agak bertanya-tanya. Tanpa ragu, disambarnya ponselnya dan mengirim email pada tunangannya itu.

Balasannya datang setengah jam kemudian.

-Gomen! Seharian kemarin aku diajak ke Osaka untuk mengunjungi sekolah lain dan ponselku kehabisan batere. Semuanya baik-baik saja? Jangan lupa makan dan tidur yang cukup ya? Ada seleksi regular di klub hari ini. Ganbarou!! XOXO-

Kenki tersenyum lebar dan membalas hanya dengan ucapan sayang.

Menjelang tengah hari, keadaannya tak menjadi lebih baik. Kedua pundaknya terasa berat, tegang dan mulai sakit. Untung saja ia bisa menyelesaikan ujian hari itu dengan baik. Oumi, teman sekelasnya, menepuk pundaknya dengan prihatin dan Kenki harus tertawa melihat lingkaran hitam yang begitu tebal di bawah mata temannya itu. Setelah gelas kopi ketiganya, Kenki tahu hanya ada satu yang harus dilakukannya.

*****

"Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh?"

Nyaris semua orang di dekat situ, tak hanya yang berseragam putih biru tapi juga yang bergakuran dan berseragam sailor, menoleh karena teriakan terkejut Mitsuya. Kenki hanya tertawa lebar seraya melambaikan tangannya.

Yuuki, yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya, langsung melambaikan tangan dengan semangat ke arah Kenki dan baru saja hendak mendekat tapi didului Mitsuya yang melesat cepat ke arah pagar pembatas.

"Eh? Nande? Nande? Kenapa datang ke sini? Ujiannya bagaimana? Eeeh?" Mitsuya merepet tanpa jeda. Kedua tangannya mencengkeram besi pagar pembatas. Kenki nyengir.

"Ujiannya hari ini cuma satu. Karena tak ada kerjaan, jadi kupikir aku mau lihat Micchi latihan saja."

"Tapi Kenki kan harus belajar. Ujiannya masih ada dua hari lagi kan?"

Kenki menjulurkan jarinya, menyentil ujung hidung Mitsuya dari antara besi pagar. "Tak usah khawatir. Aku sudah memperhitungkan kok."

Kedua pipi pemuda cantik itu menggembung sebal. Kenki tersenyum meyakinkan. "Daijoubu."

"Hontou?" Mitsuya masih tak percaya.

"Hontou."

Meski belum sepenuhnya yakin, Mitsuya tak tega juga mengusir Kenki pergi dan terus terang, dia senang karena Kenki datang. "Tapi kami belum mulai loh. Nanti Kenki menunggu terlalu lama."

"Aku bilang apa tadi? Aku datang karena ingin melihat Micchi." Kenki mengerling.

Mitsuya melengos, mencoba menyembunyikan telinganya yang memerah. "Ini kan bukan pertandingan," gerutunya.

"Kenki-nii!" Sapaan ceria Yuuki memotong balasan Kenki. "Sudah selesai ujiannya?"

Kenki menggeleng. "Aku punya waktu, jadi mampir sebentar."

"KENKI-NII!!!" Satu sapaan ceria lagi, kali ini datang dari tengah lapangan, dari Yuuta yang sepertinya sedang bersiap bertanding. Anak itu melompat-lompat senang seraya melambaikan kedua lengannya. Kenki balas melambai dan tertawa saat melihat kepala anak itu disambit bola oleh Ikepi yang kesal menunggu.

"Sudah mau mulai ya?" Tanya Kenki pada Mitsuya dan Yuuki. Kedua pemuda itu mengangguk.

"Aku nanti lawan Micchi loh." Yuuki tersenyum miring seraya memasang topi putihnya. "Aku ke lapangan duluan ya."

"Ganbatte, Yuuki-chan."

"Chi-zu."

Sementara itu sudut bibir Mitsuya berkedut, dagunya terangkat sementara matanya memicing berbahaya. "Hih. Kupukul jatuh nanti."

"Tampaknya seru ya." Komentar Kenki. "Aku iri deh."

Mitsuya mengerjap tapi tak berkomentar apapun. "Kenki duduk di dalam saja. Nanti aku bilang Kapten."

"Di sini saja tak apa, kok."

"Dame." Mitsuya menggeleng tegas. "Udaranya dingin. Duduk di pinggir lapangan saja. Yanagi-senpai tadi bawa sup dan teh hangat banyak sekali. Sepertinya ibunya khawatir kami akan kena flu. Ya?"

Nada yang digunakan Mitsuya sama sekali bukan nada yang bisa dibantah. Kenki mengangguk dan Mitsuya membukakan pintu pagar lalu melesat ke arah kaptennya yang duduk bersebelahan dengan Takuya. Dilihatnya mereka berbicara sejenak dan pemuda pucat ber-coat merah itu pun mengangguk.


Rasanya seperti melihat pertandingan yang biasa ditontonnya. Hanya saja semua orang yang bertanding memakai seragam yang sama. Kenki dibuat sangat kagum dengan persaingan di dalam tim itu. Tak seorang pun yang suka mengalah dan bisa dibilang bahkan lebih serius dibanding saat mereka maju ke pertandingan sebenarnya.

Si Kapten yang tadinya nampak tidur pun tak lama membuka matanya dan memperhatikan dengan serius. Dua lapangan, dua pertandingan. Entah mana yang benar-benar diperhatikannya tapi pemuda pucat itu tersenyum tipis.

Kenki, tentu saja, hanya memperhatikan Mitsuya yang tengah melawan Yuuki. Lucu juga melihat sepupu yang biasanya akrab itu saling berhadapan dengan gigihnya. Mitsuya yang biasanya protektif terhadap Yuuki pun tampak begitu serius. Seperti biasa, setiap kali sebelum mulai bertanding, Mitsuya akan menoleh ke arah Kenki dan mengerling. Kenki selalu mengacungkan ibu jarinya sebagai balasan.

Kali ini pertandingannya berlangsung cepat sekali. Yuuki merengut kesal, jatuh terduduk di dekat net dengan nafas tersengal. Mitsuya mendekat, mengulurkan tangan yang disambut Yuuki dengan sedikit kasar. Pemuda cantik itu nyengir.

"Boku ni katsu no ha, mada hayai yo." Komentarnya yang dibalas Yuuki dengan pukulan di lengan. Mitsuya kemudian tertawa dan merangkul sepupunya dengan erat.

"Hamburger pakai saus demi-glass!" Sungut pemuda mungil itu. "Apple pie juga!"

"Hai, hai." Ujar Mitsuya sambil menggeretnya ke pinggir lapangan.

"Otsukare," ucap Takuya sambil mengulurkan handuk dan botol air pada dua anak itu sementara Kenki berdiri memberi tempat agar Yuuki juga bisa duduk.

"Lututnya tak apa-apa?" Tanya Kenki pada Mitsuya yang tengah memutar-mutar kakinya.

Mitsuya mengangguk. "Un." Ia lalu melompat-lompat kecil. "Matsuzaka-sensei menyuruhku untuk menemuinya sebelum pertandingan. Hanya untuk mengecek saja, kok." Mitsuya buru-buru menambahkan karena dahi Kenki mengerut sekilas.

Kenki mengangguk lalu seperti biasa pula, dipeluknya tunangannya itu, mengucap "Otsukare" seraya mengecup kening Mitsuya. Ia kemudian menoleh pada Yuuki yang masih tampak agak ngambek. Ditepuknya kepala anak itu dengan lembut. "Don't mind."

"Bhu~"

"Nanti kutraktir parfait kesukaannya Yuuki-chan itu. Bagaimana?" Kenki menawarkan.

Wajah Yuuki langsung berubah cerah dan tanpa basa-basi, dipeluknya orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu. "Kenki-nii daisuki!"

"Kenki-nii, aku ikut yaaa!" Yuta mendadak muncul entah dari mana dan bergelayut di leher Kenki.

"Yuta-chan kan tidak kalah. Kenapa ikut-ikut sih?" Yuuki memprotes.

Yuta menjulurkan lidah. "Tak apa dong. Boleh ya, Kenki-nii? Ya? Ya?"

Mitsuya menarik lepas lengan Yuuta dari leher Kenki. "Hai, hai. Lepas atau Kenki tak akan bisa menraktir kita parfait karena kau cekik, Yuta-chan."


"Daijoubu?" Mitsuya melirik tunangannya saat mereka berjalan ke arah mobil satu jam kemudian. Kenki balas melirik ke arahnya dan mengangkat bahu.

"Shouganai deshou?" Ujarnya sambil tertawa senang. Dan ia memang tak keberatan. Yang penting, Mitsuya ada di dekatnya. Kenki pun menggamit tangan Mitsuya dan menggenggamnya hangat. Pemuda cantik itu melirik tersipu dan berjalan lebih rapat dengan tunangannya.

*****

Satu hentakan dan semuanya lepas begitu saja. Gelombang itu membawanya melayang begitu tinggi, membuat seluruh tubuhnya bergetar dan bibirnya membisikkan nama orang yang paling disayanginya. Terasa hangat, penuh, bahagia, berputar dan menghantam dengan cepat.

Kenki mengerjap, membiarkan kesadarannya kembali dengan perlahan. Nafasnya masih memburu dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh. Satu persatu indranya mulai bekerja kembali. Mendapati sosok cantik dalam pelukannya, hangat dan terasa begitu wajar. Wangi yang khas dan perasaan yang familiar. Disambutnya bibir Mitsuya yang mencari, menghujani dengan kecupan-kecupan kecil penuh sayang dan pujian.

Dijatuhkannya tubuhnya ke atas kasur, membawa Mitsuya berbaring di atasnya karena Kenki belum rela melepasnya dari pelukan. Didengarnya Mitsuya mengerang lirih dan Kenki tertawa pelan.

"Daijoubu?" Tanyanya dengan suara agak serak, diiringi kecupan di dahi yang tertutup helaian rambut yang lembab.

Mitsuya terkekeh pelan. Kepalanya mengangguk. "Daijoubu."

Kenki mengusap rambut Mitsuya dengan sayang, sekali lagi mengecup kening tunangannya.

Beberapa saat kemudian, Kenki baru rela melepaskan Mitsuya. Dibiarkannya kekasihnya itu berbaring di sebelahnya, menatapnya dengan matanya yang besar. Kenki menyentil ujung hidungnya. "Apa?"

"Kenki baik-baik saja? Ujiannya lancar kan?"

Kenki mengangguk, mengerti kekhawatiran Mitsuya yang sama sekali belum terjawab sejak ia datang tadi sore. "Aku hanya sedang suntuk. Jadi kupikir, daripada aku memaksa, lebih baik aku bertemu Micchi saja."

Mitsuya tersenyum dan beringsut mendekat untuk mengecup pipi Kenki. "Syukurlah kalau tak ada apa-apa."

Kenki mengangguk, ditariknya Mitsuya mendekat agar ia bisa mencium Mitsuya dengan leluasa. Mitsuya tertawa pelan dan membalas ciumannya dengan tak kalah bersemangat.

"Aku harus pulang." Bisik Kenki tak lama kemudian.

Mitsuya melirik ke arah jam di dinding. Sudah hampir jam sebelas dan besok Kenki masih ada ujian. Meski tak rela, ia mengangguk mengerti. Meskipun begitu, mereka tetap mengambil waktu untuk berlama-lama di kamar mandi dan bercumbu lagi sebelum akhirnya Mitsuya mengantar Kenki ke pintu (tak lupa membekali Kenki dengan apple pie sisa makan malam tadi).

"Ngomong-ngomong, Micchi manis sekali hari ini, loh." Bisik Kenki sebelum memberikan ciuman selamat malam pada Mitsuya yang langsung tersipu dan memukul lengannya.

"Sayang Micchi ya."

"Sayang Kenki juga." Balas Mitsuya sambil melambaikan tangan dan menutup pintu.

-end-

Saturday, July 16, 2011

[fanfic] AU - KenkixMicchi

Fandom: D2/Prince of Tennis Musical 2nd Season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything
Note: Selamat ulang tahun, Kenki-papaaaaa!! *nemplok dengan senang* semoga bahagia selalu sama Mama dan anakmu yang baru yaaaa *kisses and hugs*





Dulu, Kenki tak pernah menganggap ulang tahun adalah sebuah perayaan yang luar biasa. Bukan berarti dia tak suka. Kenki suka perayaan. Apapun itu. Ulang tahun, kelulusan, hari jadi, tahun baru, Natal, festival musim panas, melihat bulan, semuanya. Kenki akan dengan bersemangat ikut serta. Karena merayakan sesuatu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk siapapun, bukan? Entah itu sebagai bayaran atas kerja keras atau sekedar ingin bersenang-senang. Sesederhana apapun, semeriah apapun.

Hanya saja, ia tak pernah merasa perlu untuk repot-repot memaksakan merayakan apapun. Kalau bisa akan menyenangkan, kalau tak bisa pun ia tak akan begitu kecewanya. Kenki tahu ada banyak cara untuk merayakan sesuatu. Sebotol bir pun kadang cukup mewakili sebagai sebuah perayaan.

Namun, tidak begitu halnya dengan Mitsuya. Tunangan tercintanya itu selalu sibuk: memikirkan kado, mencari tempat, apakah perlu mengundang orang, memasang dekorasi, dan entah apa lagi. Kenki sampai terpana ketika menemukan apartemennya penuh gantungan kertas dan balon warna-warni lengkap dengan Mitsuya dan Yuuki yang mengenakan topi pesta sambil tersenyum, menyerukan "Otanjoubi omedetou~!!" pada dirinya saat ulang tahunnya dua tahun yang lalu.

Kejutan yang menyenangkan, tentu saja. Kenki sampai tak tahu harus berkata apa selain tertawa dan menggumamkan terima kasih berkali-kali. Toh, binar mata kedua anak laki-kali itu jauh lebih menyenangkan untuk dilihat dibanding dekorasi kamarnya dan kue ulang tahunnya.

Mitsuya selalu berusaha membuat kejutan-kejutan seperti itu untuknya dan Kenki menghargai usahanya setulus hati. Meskipun dalam hati ia tahu tak ada yang bisa mengalahkan ekspresi terkejut Mitsuya saat Kenki menghadiahinya kalung perak yang sangat diinginkan Mitsuya di hari ulang tahunnya atau dompet Louis Vuitton ungu yang sudah diincar tunangannya sejak lama di ulang tahun Mitsuya yang berikutnya dan mengajaknya makan malam di Roppongi.

"Gaya sekali, sih" komentar Mitsuya saat itu.

Kenki hanya tertawa dan menjulurkan lidah. "Ini sih tak seberapa dibandingkan pesta kejutan Micchi untukku kan?"

--------

"Demam?"

"Un." Suara Yuuki menyahut dari seberang. "38 derajat."

"Setinggi itu?" Kenki menutup pintu lemari es dengan kaki, ponselnya terjepit antara bahu dan telinga kanan. "Sejak kapan?"

"Tadi siang, sepertinya. Dia tidur terus di ruang kesehatan karena tak enak badan. Tadi sore waktu aku jemput, suhu badannya naik."

Kenki meneguk air mineral dari botol yang baru saja diambilnya. "Sudah ke dokter?"

"Sudah, kok. Tadi diantar Kuma. Sudah diberi obat juga tapi Micchi tak mau makan. Bahkan Kuma yang memaksa pun dia tutup mulut." Yuuki terdengar sedih dan jengkel. Kenki bisa membayangkan anak itu pasti cukup kerepotan saat ini.

"Ya sudah. Aku ke situ sekarang." Ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Kenki bergegas menyimpan makan malamnya yang belum sempat tersentuh ke dalam kulkas, mengambil beberapa helai baju ganti, menyambar diktat dan laptop lalu melesakkan semuanya ke dalam ransel. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, ia menyambar jaket dan kunci mobil.


"Kemarin melakukan apa sih? Kok bisa sampai demam tinggi begini?" Gumam Kenki sambil mengibaskan termometer dan meletakkannya di atas meja.

Mitsuya tak menjawab, hanya melipirkan mata menghindari pandangan Kenki. Tubuhnya tertutup selimut sampai ke dagu, dahinya tertutup plester penurun panas dan wajahnya bersemu merah.

"Kemarin latihan sampai malam dan hujan-hujanan. Aku sudah bilang kalau hari ini tak usah sekolah saja, tapi Micchi malah ngotot." Yuuki menjelaskan sambil meletakkan nampan berisi semangkuk bubur di dekat Kenki.

Kalau saja kepalanya tidak pusing sekali, Mitsuya pasti sudah akan melotot pada sepupunya itu. Yuuki mencibir dan Mitsuya membuang muka. Kenki menggelengkan kepalanya sambil meniup-niup asap samar yang dari mangkuk bubur yang sekarang sudah ada dalam genggamannya.

"Bisa bangun?" Kenki bertanya pelan.

Mitsuya menggeleng. "Tak mau makan." Gumamnya.

Kenki menatapnya.

"Mulutnya tak enak." Erang Mitsuya.

Kenki masih menatapnya. Mitsuya merengut.

"Sepuluh suap." Ujar Kenki pendek. "Wada-sensei dan Yuuki-chan sudah susah-susah membuatkan bubur ini untuk Micchi."

Mitsuya melirik ke arah Yuuki yang mengangguk-angguk menyetujui ucapan Kenki. Pemuda cantik itu akhirnya menyerah dan mengangkat tubuhnya dengan susah payah dan Yuuki buru-buru membantunya duduk. Kenki menyuapinya perlahan-lahan, memastikan Mitsuya mengunyah dan menelan dengan baik sampai di suapan kesepuluh, sesuai janji, Kenki berhenti. Dibantunya Mitsuya minum juga meminum obatnya lalu membantunya kembali berbaring.

Yuuki membawa pergi bekas makan sepupunya sambil menyinggung Mitsuya tentang kebiasaannya memarahi Yuuki kalau sedang susah makan sampai pemuda cantik itu merengut hebat dan nyaris saja nekat melempar gelas ke arah Yuuki kalau saja sepupunya itu tak keburu menghilang keluar kamar.

"Sakit-sakit kok masih galak begitu sih." Goda Kenki sambil mengusap rambut Mitsuya dengan sayang.

Mitsuya melengos tapi tak urung memiringkan tubuhnya menghadap Kenki yang masih tersenyum. Tangannya terulur dan disambut Kenki dalam genggaman erat. Tangan Kenki terasa sejuk di kulit Mitsuya yang hangat.

"Kenki tidak marah?" Bisiknya lirih.

Kenki memiringkan kepala tanda tak mengerti.

"Aku tak bilang kalau aku sakit." Gumam Mitsuya dengan takut-takut.

Kenki tersenyum. "Sedikit sebal tapi aku tak akan meributkan itu sekarang."

".....Gomen."

"Daijoubu."

Mereka terdiam sesaat dan Kenki mengecup kening tunangannya dengan sayang. Mitsuya mendesah.

"Maaf juga karena aku jadi tak bisa menyiapkan apapun padahal Kenki kan besok ulang tahun."

Kali ini Kenki tertawa, menatap tunangannya yang cantik itu dengan tak percaya. "Masih memikirkan itu juga? Sudahlah. Itu tak penting."

Mitsuya merengut. "Penting dong! Ini kan ulang tahun Kenki."

Kenki menyentil ujung hidung Mitsuya pelan. "Saat ini ulang tahunku sama sekali tak penting. Yang penting sekarang adalah Micchi cepat sembuh. Itu saja."

Mitsuya masih menggembungkan pipi. Kenki mengelus pipinya dengan buku jari. "Selama ini Micchi selalu melakukan banyak hal untukku tapi sungguh deh, ucapan selamat dan kecupan dari Micchi saja sudah cukup kok."

Mitsuya yakin demamnya makin parah karena wajahnya terasa makin panas. Dikecupnya punggung tangan Kenki seraya menatap Kenki dengan matanya yang besar. Kenki tersenyum lembut, membalas pandangan Mitsuya lalu merunduk.

"Nanti tertular." Bisik Mitsuya sambil menutupi bagian bawah wajahnya dengan selimut.

"Kalau begitu, begini saja. Tak akan tertular kan?" Ujar Kenki sambil mendekatkan wajahnya dan mencium Mitsuya dari balik selimut itu.

-------

Mitsuya terbangun, merasa kalau nafasnya terasa begitu berat dan panas. Pandangannya juga sedikit kabur. Matanya mengerjap pelan, memandang samar di tengah cahaya yang temaram. Rupanya Kenki sudah mematikan lampu dan menyalakan lampu baca di meja sebelah tempat tidur.

Mitsuya menoleh, merasakan sesosok kepala terkulai di atas sepasang lengan sebagai tumpuan di dekat bahunya. Kenki tertidur lelap dan Mitsuya ingin membangunkan karena pasti rasanya pegal sekali tidur dengan posisi seperti itu. Tapi ia juga tak tega karena pemuda itu tampak begitu pulas.

Diliriknya jam digital di atas meja. 00:15. Sudah tanggal 17 Juli. Ulang tahun Kenki.

Ia merasa sedikit kecewa karena tak sempat memikirkan acara untuk merayakan ulang tahun Kenki. Tahun lalu ia mengajak Kenki piknik tengah malam di dekat Tokyo Tower bersama Yuuki, Wada-sensei dan beberapa teman dekat Kenki. Sangat kurang kerjaan tapi seru sekali. Tahun ini ia malah belum tahu sama sekali hendak melakukan apa.

Mitsuya mendesah. Pokoknya, setelah ia sembuh nanti harus ada pesta untuk Kenki. Harus.

Sementara itu...

Pemuda cantik itu beringsut pelan, mendekatkan wajahnya ke kepala Kenki dan mengecup rambut Kenki dengan penuh perasaan.

"Terima kasih sudah jadi tunangan paling hebat sedunia." Bisiknya. "Otanjoubi omedetou, Yamaguchi Kenki-san."

Kepala Kenki bergerak pelan. Mitsuya sudah takut Kenki terbangun tapi Kenki tak bergerak lagi. Mitsuya pun tersenyum dan kembali terlelap. Sama sekali tak menyadari sudut bibir Kenki yang terangkat membentuk senyum.

Sunday, June 19, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - Miss

Fandom: D2/Prince of Tennis Musical 2nd Season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki
Rating: NC-17
Warning: BL, AU, OOC, NSFW
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone. No profit gained. No harm intended.
Note: Untuk Icha.



Matanya terbuka, mengerjap pelan pada ruangan yang gelap. Tangannya otomatis terjulur, meraba-raba permukaan kasur sampai menggenggam ponselnya. Matanya memicing, berusaha mempertajam pandangan pada layar kecil yang tampak berbayang. Tak ada notifikasi apa-apa. Tangannya terkulai, membiarkan ponsel itu terjatuh pelan tanpa ditutup. Matanya kembali terpejam dan Mitsuya mendesah. Pelan dan berat.





Yuuki menyodorkan segelas susu hangat pada sepupunya dengan tampang khawatir. Mitsuya menggeleng dan bergumam kalau ia ingin kopi saja. Yuuki balas menggeleng.

"Micchi terlalu banyak minum kopi." Tukasnya pelan.

Mitsuya mendesah dan duduk melipat kaki sambil menyesap pelan susunya tanpa banyak komentar lagi. Yuuki menyodorkan setangkup sandwhich yang lagi-lagi disambut tanpa banyak bicara.

"Hari ini pulang kan?" Tanyanya setelah duduk di samping Mitsuya dan memeluknya hangat.

Mitsuya merebahkan kepalanya di bahu mungil sepupunya lalu mengangguk pelan. "Tapi belum telepon sama sekali."

Yuuki menepuk-nepuk pelan tengkuk Mitsuya, membiarkan sepupunya itu menyurukkan wajah ke lehernya dan mendesah pelan.





Mitsuya menggigit bibir. Sudah jam 11 malam dan Kenki masih juga belum memberi kabar. Nyaris dua minggu menemani ibunya ke Filipina karena ada sepupunya menikah. Email dan foto terus dikirim Kenki tanpa henti, termasuk foto-foto saat di pesta. Kenki yang mengenakan jas terlihat begitu tampan sampai Mitsuya nekat menelepon dan menghabiskan seluruh sisa pulsa teleponnya.

Tak usah ditanya kalau dia kangen sekali. Tak ada yang membangunkannya dengan tepukan pelan di bahu dan kecupan di pipi, tak ada yang membuatnya marah-marah karena candaan jahil, tak ada yang menemaninya nonton TV sampai larut, tak ada yang membantunya mengerjakan PR, tak ada senyum ramah yang menyambutnya kalau ia menoleh, dan seribu satu alasan lainnya.

Mitsuya sampai berkali-kali memastikan kalau tanggal hari ini sama dengan tanggal yang disebut Kenki dalam emailnya tentang kapan ia akan pulang ke Jepang. Lebih tepatnya ke Tokyo karena pemuda itu tetap harus mengantar ibunya dulu ke Aichi.
Tapi sejak semalam tak ada pesan, email atau telepon dari tunangannya itu dan Mitsuya cemas. Mata dan telinganya terus-terusan bergeming dari berita di TV atau radio. Tak ada berita kecelakaan di manapun di seluruh dunia.

Jadi, ke mana Yamaguchi Kenki brengsek itu? Rutuk Mitsuya dalam hati seraya melempar bantal ke dinding.

Mitsuya sudah mengantuk sekali dan Yuuki yang tadinya mau menemani sudah menyerah sejak setengah jam yang lalu. Tapi ia belum mau tidur. Sambil menggerutu, pemuda cantik itu memutuskan untuk membuat kopi saja. Toh besok tak ada latihan pagi.

Baru saja menjulurkan kakinya turun dari tempat tidur, telinganya menangkap suara mobil mendekat dan berhenti di depan rumah. Tanpa ambil pusing untuk mengintip dari jendela, Mitsuya melesat turun.

Tanah yang sedikit basah karena hujan tadi sore terasa dingin di kakinya yang tak beralas. Mitsuya tak peduli, terus berlari ke arah sosok yang baru saja menjulurkan badan keluar dari kursi pengemudi dan berhenti tepat di depan sosok itu. Matanya yang besar melotot seraya kedua lengannya berkacak pinggang.

"Yamaguchi Kenki, sebaiknya kau punya alasan yang baik kenapa tak menelepon atau mengirim pesan sama sekali sampai aku nyaris saja berpikir pesawatmu jatuh dan saat ini kau tenggelam di dasar Laut Cina Selatan!"

Kenki tampak bingung lalu menjulurkan lidah. "Maaf. Memang ada alasannya kok." Ujarnya sambil menutup pintu mobil dan berdiri menyandarkan punggung ke sisi mobilnya.

Mitsuya mengangkat alis.

"Pertama, semalaman aku sibuk membantu ibuku mengepak barang. Titipan dan oleh-olehnya banyak sekali. Kedua, aku bersumpah aku memang ingin meneleponmu sebelum boarding. Ketiga, sayangnya aku ketiduran tanpa mengecharge ponselku. Keempat, aku ditahan untu makan malam di rumah dan diajak ngobrol sama Ayah." Jelas Kenki dengan santai, seolah tak merasa terancam dengan wajah galak tapi cantik di hadapannya.

Mitsuya menyilangkan lengan di depan dada. "Lalu setibanya di sini juga tak ambil pusing untuk meneleponku?"

Mulut Kenki terbuka lalu tertutup lagi kemudian membentuk cengir kuda. "Umh...aku lupa?"

"Kenki!" Mitsuya menyentakkan satu kakinya ke tanah.

"Maaf. Toh aku sudah di sini kan?" Kenki melangkah maju.

Mitsuya menjauh dengan kesal. "Jangan harap aku akan membiarkanmu masuk ke dalam rumah. Pulang sana!"

Kenki mengangkat alis, terlihat ingin sekali tertawa. "Kok begitu? Tak kangen padaku?"

"Siapa yang kangen sama orang brengsek sepertimu?" Tukas Mitsuya cepat. Kakinya melangkah mundur karena Kenki mendekat lagi.

"Aku kan tak bermaksud membuatmu khawatir." Ujar Kenki sambil meraih tangan Mitsuya dan menggenggam erat.

Mitsuya berusaha menyentak lepas tangannya. "Tapi aku sudah khawatir tahu! Menyebalkan sekali sih jadi orang. Lepaskan tanganku!"

Seolah tuli, Kenki malah menarik lengan putih itu sekuat tenaga sampai ia bisa menangkap tubuh ramping Mitsuya dalam pelukannya. Mitsuya menatapnya dengan galak. Kenki tersenyum tulus. "Gomen. Hontou ni gomen."

"Pembohong."

"Mana pernah?"

Mitsuya memukul dadanya dengan keras. "Aku serius!"

"Aku juga." Dipeluknya Mitsuya seerat mungkin sampai pemuda cantik itu tak bisa bergerak. "Aku benar-benar menyesal membuatmu khawatir. Tapi sekarang aku di sini kan?" Suaranya berangsur memelan dan berubah menjadi bisikan tepat di sisi telinga Mitsuya. "Gomen. Aku tak berpikir untuk meneleponmu setibanya di Tokyo karena aku hanya berpikir untuk menemuimu secepatnya."

Mitsuya mengerutkan kening meski wajahnya bersemu merah. "Tapi aku khawatir sekali." Ulangnya.

"Aku tahu. Maafkan aku ya." Bisik Kenki, membawa wajahnya begitu dekat dengan wajah Mitsuya sampai Mitsuya bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat membelai pipinya. Ujung hidungnya menyentuh lembut ujung hidung Mitsuya lalu bergerak pelan ke bibir Mitsuya. Kepalanya bergerak lagi, mendekatkan bibir mereka hingga hanya berjarak satu helaan nafas.

Mitsuya menutup mata dan menarik nafas tajam saat bibir Kenki menekan lembut bibirnya. Instingnya langsung mengambil alih dan kedua lengannya melingkar posesif di pundak Kenki. Sedetik kemudian, kecupan lembut pun berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Rindu ingin bertemu, kesal karena khawatir dan lain-lainnya bercampur jadi satu. Kenki memeluk pinggang Mitsuya dengan begitu eratnya sampai ia nyaris saja mengangkat Mitsuya dari atas tanah.

"Ya Tuhan, aku kangen sekali." Bisik Kenki dengan parau.

Mitsuya tak menjawab, merengkuh tengkuk Kenki dan menariknya untuk dicium lagi. Kenki menggeram dan Mitsuya mengerang pelan. Bagian bawah tubuh mereka bereaksi dengan cepat dan Mitsuya bersyukur ia mengenakan piyama. Kalau tidak, rasanya pasti sudah menyiksa sekali. Seperti yang dialami Kenki. Pemuda itu menggeram lagi, melepaskan bibirnya dengan tak rela dan menggerungkan sesuatu yang seperti usul kalau mereka harus masuk ke dalam rumah kalau tak mau dituduh berlaku tak senonoh di depan umum.





Mitsuya berjingkat pelan kembali ke tempat tidur dan menyandarkan punggungnya ke dada Kenki yang langsung melingkarkan lengan ke pinggang pemuda cantik itu. Kenki menusukkan hidungnya ke sela-sela helaian rambut Mitsuya yang sedikit lembab. 

“Yuuki-chan bangun?” bisiknya pelan.

Mitsuya berjengit geli, meneguk air putih dari gelas yang dibawanya lalu menggeleng. “Tidak. Dengkurannya keras sekali. Mungkin capek karena tadi ikut menemaniku menunggu Kenki.”

Kenki mengecup pundak Mitsuya, alisnya terangkat. “Serius menungguku ya?”

Mitsuya mendengus dan memutar matanya. Kenki melirik ke atas, masih sibuk mengecupi kulit Mitsuya yang hangat. Aroma tubuhnya yang khas menggelitik hidung Kenki dan pemuda itu menikmatinya dengan rakus. Bibir dan hidungnya bergantian menyentuh sepanjang garis pundak dan leher yang jenjang. Masih sedikit lembab karena permainan cinta mereka sebelumnya. Diliriknya bibir Mitsuya yang masih agak bengkak kemerahan karena terlalu sering digigit dan berciuman dengan Kenki agar suara mereka tak terdengar keluar kamar. Kenki harus mengakui kalau Mitsuya yang mati-matian tak menimbulkan banyak suara saat sedang bercumbu dengannya justru malah terlihat seksi sekali dan dia makin bersemangat karenanya.

Diambilnya gelas dari tangan Mitsuya untuk disingkirkan ke meja di samping tempat tidur dan direngkuhnya tubuh tunangannya sampai Mitsuya berbaring nyaman di atasnya. Sepasang mata Mitsuya yang besar dan cantik itu mengerjap pelan, menatap Kenki dari balik bulu matanya dan Kenki merasa begitu puas melihat perasaan sayang di dalam pandangan Mitsuya. Sambil tersenyum lembut, Kenki mengecup masing-masing kelopak mata Mitsuya, lalu keningnya dan mengecup lembut sepasang bibir kemerahan itu.

Mitsuya pun tersenyum, meski agak tersipu. Kedua lengannya menyentuh pundak Kenki dan ibu jarinya mengusap lembut. Tubuhnya masih begitu sensitif dan percikan-percikan nikmat itu kembali menjalari sekujur tubuhnya.

“Aku kangen sekali,” bisiknya sebelum mencium Kenki. Tak bermaksud untuk terdengar manja tapi begitulah yang dirasakannya dan saat ini Mitsuya sedang tak ingin menutupi perasaannya.

Kenki mengusap lengan Mitsuya dengan sayang. “Aku juga. Kangen sekali. Tahu tidak, waktu Micchi meneleponku itu, aku sudah ingin pulang saja. Tapi aku bisa ditebas Ibu kalau berani.” Pemuda itu tertawa pelan.

Mitsuya ikut tertawa meski tak berkata apapun. Direbahkannya kepalanya ke pundak Kenki, menikmati irama pelan nafas tunangannya dan detak jantungnya yang berdetum pelan. Rasanya nyaman sekali dan Mitsuya benar-benar rindu berada sedekat ini dengan Kenki. Dirasakannya Kenki menggenggam tangannya dan mengecup lembut tiap buku jari Mitsuya dengan penuh perasaan. Mitsuya mendongak, tersenyum sekilas pada pemuda itu lalu merunduk untuk mengecup dada Kenki. 

Kenki mendesah. Dikecupnya sekali lagi jemari Mitsuya sebelum dilepaskan dan membiarkan Mitsuya menghujani dada dan perutnya dengan kecupan-kecupan ringan. Tentu saja ia juga merindukan ini. Mitsuya yang mengambil inisiatif adalah sesuatu yang jarang terjadi dan Kenki sama sekali bukan tipe orang yang suka mengeluh. 

Helai rambut Mitsuya menggelitik perutnya dan Kenki menggeliat pelan. Nafasnya mulai memburu lagi seiring dengan Mitsuya yang bergerak makin ke bawah. Kenki pun bisa merasakan kemaluannya pun kembali melonjak hidup. Mitsuya beringsut, sedikit tersipu melihat hasil perbuatannya dan mengangkat tubuhnya untuk mencium Kenki, memagut pelan lalu kembali bergerak turun mengincar tonjolan di dada Kenki dan membuat tunangannya itu menarik nafas tajam. 

Mitsuya mengatupkan bibirnya di sekeliling tonjolan mungil itu. Lidahnya terjulur menjentik dan menggoda dengan pelan. Satu tangannya menjangkau tonjolan yang lain, menjepit dan menarik lembut dengan telunjuk dan ibu jarinya. Kenki melengkungkan punggungnya, bernafas dengan sangat cepat dan sesekali menggeram pelan. 

“Oh.” Kenki nyaris saja kelepasan mengerang keras saat Mitsuya bergerak turun lagi dan mulai mencumbu Kenki dengan bibir dan lidahnya yang terasa seperti surga. Kenki menyelipkan jemari ke dalam helai rambut kecoklatan Mitsuya dan menekan pelan, memberi petunjuk pada tunangannya itu di mana ia ingin disentuh. Sebenarnya ia tak perlu melakukan itu karena Mitsuya sudah mengenal tubuh Kenki sebaik Kenki mengenal tubuh tunangannya. Kenki beringsut, membuka kakinya lebih lebar agar Mitsuya lebih leluasa bergerak. Ia tak kuasa menutup mata karena pemandangan di hadapannya begitu seksi: menyaksikan bagian tubuhnya yang paling intim tertelan mulut Mitsuya, bibir Mitsuya yang kemerahan dan basah di sekeliling tubuhnya, lidahnya yang juga kemerahan sesekali terjulur untuk menjilat dan kepalanya yang cantik itu bergerak naik turun dalam satu irama yang nyaris membuat Kenki gila karena hasrat dan nikmat yang berlipat-lipat.

Tak tahan, Kenki menyelipkan tangannya ke bawah lengan Mitsuya dan menariknya dengan keras. Mitsuya berseru kaget dan masih berusaha memahami apa yang terjadi saat menyadari ia sudah berbaring telungkup dan merasakan berat badan Kenki di atasnya. Pemuda cantik itu menoleh dan disambut oleh bibir Kenki yang menciumnya dalam-dalam. Mitsuya hanya sanggup bergumam dan mengerang ke dalam ciuman mereka, terutama saat dirasakannya ujung kemaluan Kenki menekan jalan masuk tubuhnya. Mitsuya mendesah, mengaitkan jemarinya dengan jari-jari Kenki dengan erat seraya mengangkat pinggulnya sedikit. Gerakan itu cukup bagi Kenki untuk menekan masuk dalam satu hentakan panjang dan cepat. Nafasnya tercekat dan Mitsuya menggigit bibir kuat-kuat.

Kenki tak membuang waktu untuk bergerak dan tubuh mereka pun dengan cepat menemukan irama gerak yang familiar. Desah nafas yang memburu, erangan tertahan, bunyi hentakan tubuh dan derit lirih tempat tidur memenuhi kamar yang tak begitu besar itu. 

Kenki menyurukkan wajahnya ke samping wajah Mitsuya, berusaha menatap mata kekasihnya di sela pandangan yang berkabut dan tak fokus. Mata Mitsuya yang terpejam perlahan terbuka, seolah tahu ia sedang diperhatikan. Sepasang mata cantik itu mengerjap dan pandangan mereka terkunci untuk beberapa detik sebelum Mitsuya membenamkan wajah ke dalam bantal untuk mengerang karena Kenki menghentak dengan cepat dan keras tepat di titik sensitifnya. Kenki mengecup pundak Mitsuya dan beringsut sedikit, mencari sudut yang ia tahu akan dengan cepat membawa mereka ke puncak kenikmatan itu. Tubuh Mitsuya menggelinjang di bawahnya dan telinga Kenki samar menangkap namanya disebut. Mungkin juga ia salah dengar, Kenki tak tahu pasti. Saat dirasakannya tubuh Mitsuya mengejang dan bertaut di bawahnya, Kenki melesakkan giginya ke lekuk antara leher dan pundak tunangannya, ikut melepaskan kendali dirinya dan menyambut gelombang kenikmatan itu menyapu sekujur tubuhnya.


Masih terengah, Mitsuya berusaha menarik nafas beberapa kali untuk mengembalikan irama nafasnya. Berat tubuh Kenki mulai terasa menekan dadanya dengan tak nyaman tapi ia sama sekali tak protes. Dengan susah payah, ia menoleh dan mengecup pipi pemuda itu. Kenki tertawa pelan, membalas dengan kecupan yang sama. Ia sungguh belum ingin menjauh dari tunangannya itu, tapi ia juga tak ingin membuat Mitsuya merasa tak nyaman. Ia menggeram pelan saat menarik tubuhnya keluar dengan perlahan dan Mitsuya mengerang pelan. Kenki mendesah keras seraya berbaring miring dan menyambut Mitsuya yang memutar tubuhnya. Ditariknya pemuda itu ke dalam pelukannya dan dikecupnya kening Mitsuya yang basah. 

“Micchi hebat, deh.”

Mitsuya tertawa. “Bilang lagi begitu dan aku akan melukaimu.” Ancamnya sambil mencubit lengan Kenki.

Kenki terbahak sambil mengaduh. “Kasar sekali sih. Sudah tak sayang lagi padaku ya?”

Mitsuya menggigit ujung hidung tunangannya. “Kapan aku pernah sayang padamu?”

“Benar juga. Aku kan dimarahi terus ya.” Kenki nyengir.

Mitsuya mengangguk. “Benar. Mana bisa aku sayang sama orang yang kerjanya membuatku kesal dan khawatir.” Sudut bibirnya terangkat.

Kenki mengangkat alis dan mengecup sudut bibir Mitsuya. “Hmm... aku mengerti. Selama ini Micchi kesal sekali sampai tak bisa mengusirku pergi dan tak bisa membiarkanku sendirian kan?”

Mitsuya tertawa, membalas ciuman Kenki dengan antusias. “Benar sekali. Dasar menyebalkan.” 

Kenki mengecupnya sekali lagi. “Aishiteru yo.”

Mitsuya tersenyum manis dan Kenki tahu ia tak butuh jawaban.

Sunday, June 5, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - Kiss Me, You

Fandom: D2/musical prince of tennis 2nd season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou
Rating: PG-13 for boys kissing
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: Own nothing, no harm intended, no profit gained
Note: ah, gitu deh~



Kenki mencium Mitsuya untuk pertama kalinya adalah nyaris dua tahun yang lalu. Sebelum Kenki pulang ke Tokyo, sebelum Mitsuya dan Yuuki datang ke Tokyo. Setelah menanyakan keputusan hati Mitsuya, apakah ingin menggenggam tangan Kenki atau mengusirnya pergi. Kenki memeluknya erat dan tak bisa berbohong kalau jantungnya berdebar kencang. Mitsuya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ciuman pertama dalam hidup Mitsuya. Ciuman pertama mereka. Gugup, agak canggung dan terlalu cepat berlalu. Kenki hanya ingat kalau setelahnya ia tersenyum lebar dan mengaduh kencang karena dipukul Mitsuya yang minta diantar pulang dengan wajah yang sudah tak bisa dibilang lebih merah dari daun momiji di musim gugur.

Kenki mencium Mitsuya, hanya kecupan ringan sekilas di keningnya, setelah upacara pertunangan mereka di rumah Mitsuya. Kedua orang tua mereka tersenyum-senyum bahagia melihat itu. Mitsuya hanya sanggup mengerjap dan mendorong pelan bahu pemuda itu menjauh sementara Kenki meleletkan lidah.

Kenki mencium Mitsuya saat pemuda cantik itu dan sepupunya baru saja pindah ke Tokyo. Mereka duduk bersandar di dekat dapur, kelelahan karena barang yang harus dibereskan banyak sekali. Mitsuya mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa Kenki sebenarnya tak perlu ikut repot. Kenki hanya tersenyum dan mencubit hidung Mitsuya dengan gemas lalu menarik pemuda itu mendekat. Lengannya melingkar sempurna di pinggang Mitsuya yang ramping dan Mitsuya tak punya pilihan selain meletakkan kedua tangannya di bahu Kenki. Kecupan lembut dan pagutan mesra. Kenki mengusap pipinya yang mulus dengan buku jari, membisikkan betapa cantiknya Mitsuya di matanya, membuat Mitsuya salah tingkah dan balas mencium Kenki karena dia tak tahu harus bagaimana lagi. Mitsuya tak tahu kalau dia akan begitu menyukainya dan berikutnya tak malu-malu meminta kecupan dari tunangannya yang tampan itu.

Ciuman pertama Kenki yang membuat Mitsuya menatapnya dengan bingung adalah sebelum mereka bercinta untuk pertama kalinya. Ruangan yang redup, berbaring di atas tempat tidur Kenki dan Mitsuya tak bisa, tak berani menerka apa maksudnya. Ciumannya terasa berbeda dari biasanya dan Kenki memberanikan diri untuk menyentuh Mitsuya di bagian yang lebih intim. Berhenti sejenak kalau-kalau Mitsuya menolak dan menyentuh lembut ketika Mitsuya tak berkata apapun. Wajah Mitsuya memerah saat ia sadar apa maksudnya. Balas menatap mata Kenki yang memandangnya dengan ekspresi yang belum pernah dilihat Mitsuya sebelumnya. Mencium Mitsuya dengan lembut seraya tertawa pelan saat Mitsuya menganggukkan kepalanya.

Pun, pemuda itu mencium Mitsuya dengan lembut dan sayang, berusaha menenangkan dan meminta maaf pada saat yang bersamaan pada Mitsuya yang terisak karena kesakitan. Mengecupnya lembut di kening saat Mitsuya memintanya berhenti dan mengantarnya pulang. Kenki memeluknya dengan lembut, membisikkan maaf berkali-kali. Mitsuya hanya menggelengkan kepala, mengecup pipi Kenki dan membisikkan kata maaf yang sama.

Mitsuya mencium Kenki, beberapa hari kemudian, mengumpulkan keberanian dan tekad. Tak ingin lari dari rasa sakit, tak ingin lari dari Kenki karena meskipun tak diakuinya secara langsung, Mitsuya pun ingin Kenki jadi miliknya. Kenki tersenyum lebar, membalas ciuman Mitsuya dengan tak kalah bersemangat. Menciumi sekujur tubuh dan tiap inci kulit yang bisa disentuhnya. Membuat Mitsuya menutup mata, menggigit bibir menahan erangan sampai akhirnya menyambut cahaya menyilaukan itu di balik matanya.

Ciuman lembut Kenki yang masih terengah, membuat Mitsuya merasa begitu dicintai dan mendesak dadanya yang penuh dengan emosi. Mitsuya memandangnya tak berkedip. Meski wajahnya masih tertutup peluh, Kenki terlihat begitu bahagia dan tak menutupi perasaannya. Tampan sekali. Mitsuya menariknya mendekat, memagut bibirnya dan membisikkan perasaannya di depan bibir tunangannya yang tersenyum.

Mitsuya mencium Kenki di hari ulang tahunnya. Berterima kasih untuk makan malam yang lezat dan kalung perak yang melingkar di lehernya. Hadiah yang tak begitu besar namun membuat Mitsuya begitu bahagia.

Kenki menciumnya di pagi hari, saat Mitsuya membuka mata dan membalas kecupannya dengan senyum yang sama. Kadang berlama-lama tinggal di tempat tidur, kadang setelahnya langsung berlalu ke kamar mandi karena tak punya banyak waktu untuk bersiap-siap. Mengecup Mitsuya sekali lagi atas sarapan yang dibuatkannya atau sebaliknya dan tak lupa menariknya mendekat untuk mengecup pipi atau punggung tangan Mitsuya sebelum pemuda cantik itu turun dari mobilnya.

Kenki memeluk dan mengecup keningnya, tiap kali Mitsuya selesai bertanding. Tak peduli menang atau kalah. Berbisik lembut di telinga Mitsuya, "Otsukare." Ribuan kali lebih ampuh dari pujian atau kritik teman-teman setim-nya.

Kenki mencium Mitsuya hanya karena ia ingin. Mengejutkan Mitsuya saat pemuda itu sedang asyik menonton TV atau membaca majalah, ketika Mitsuya sedang sibuk berkonsentrasi dengan pekerjaan rumahnya, atau kadang hanya ingin membungkam Mitsuya yang sudah berceloteh terlalu panjang tentang apapun. Mitsuya akan memukulnya, merengut sebal atau langsung membalas ciumannya. Tak peduli yang manapun, ia menyukai ciuman Kenki. Menyukai rasa bibirnya yang menekan bibirnya sendiri. Menyukai caranya memaksa Mitsuya membuka bibirnya dengan lembut. Menyukai menikmati bibir dan bagian dalam mulut Mitsuya. Menyukai saat Kenki menggeram ketika Mitsuya bergumam pelan ke dalam ciuman mereka. Atau kadang membiarkan Mitsuya menikmati bibir dan mulutnya tanpa perlawanan.

Kenki mencium Mitsuya dan Mitsuya tahu bahwa ia begitu dicintai dan paham bahwa ia selamanya akan terikat pada Yamaguchi Kenki.

-end-

Monday, May 23, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - On The Couch

Author: Panda & Icha
Pairing: Yamaguchi Kenki x Mitsuya Ryou
Rating: NC-17
Warning: BL, AU, NSFW, OOC
Disclaimer: we do not own anything
Note: Karena pasangan monyet ini selalu menggemaskan. Karena kami iri pada mereka. Karena kami cuma ingin cari alasan buat ichaicha lagi.

ETA: poster made by Nei~






Kenki mengangkat pandangannya dari halaman buku yang sedang dibacanya, melirik ke pemandangan yang lebih menarik di sebelahnya. Masih sambil memandangi wajah Mitsuya yang serius sekali dengan tontonannya, perlahan tangannya terulur meraih helai-helai rambut cokelat tunangannya yang cantik itu. Rambut Mitsuya selalu terasa halus dan lembut, dan Kenki suka sekali menyentuhnya. Mengusapnya pelan, sambil sesekali menyentuh kulit tengkuk Mitsuya yang hangat.

Bahu Mitsuya otomatis berjengit karena sentuhan Kenki di tengkuknya. Hanya sekilas dan Mitsuya bergumam, "Geli~" tapi dia tak melakukan apapun untuk menepis tangan Kenki. Talk show yang sedang ditontonnya itu menarik sekali dan Mitsuya tak ingin ada yang terlewat dari perhatiannya. Bahunya berguncang pelan saat si tamu acara melakukan sesuatu yang lucu dan tangannya meraih kaleng biskuit, mengambil sebuah dan menyodorkan kalengnya pada Kenki tanpa menoleh.

Kenki menggembungkan pipinya tanpa sadar. Ia paham sekali hobi Mitsuya menonton berbagai hal di TV yang ia sendiri tidak mengerti karena biasanya ia hanya menonton pertandingan olahraga saja, tapi kali ini ia tidak ingin diacuhkan Mitsuya. Masih membelai anak-anak rambut di tengkuk Mitsuya, ia menerima kaleng biskuit yang disodorkan Mitsuya untuk meletakkannya di atas meja, kemudian beringsut mendekat. Ditatapnya leher Mitsuya dan bahunya yang terbuka mengundang karena atasan yang dipakai Mitsuya longgar sekali. Salah sendiri pakai baju menggoda begitu, pikir Kenki sambil merunduk dan mulai mengecupi kulit Mitsuya.

Mitsuya terkikik geli dan memutar bola matanya. Biasanya Kenki selalu membiarkannya melakukan apapun tapi ada kalanya tunangannya itu menuntut diperhatikan. Sepertinya kali ini pemuda itu sedang tak ingin ditolak. Mitsuya menoleh sambil mendesah, meletakkan tangannya di sisi wajah Kenki dan menciumnya lembut. Lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah televisi.

Tanpa bisa ditahan, Kenki mengeluarkan suara tanda tak setuju saat Mitsuya menjauh ketika Kenki baru akan memperdalam ciumannya. Apa boleh buat, sepertinya ia harus berusaha lebih keras untuk membuat Mitsuya mengalihkan perhatian dari acara TV kurang ajar itu. Beringsut makin merapat, Kenki melingkarkan lengannya di belakang bahu tunangannya, meletakkan telapak tangannya di lekuk bahu Mitsuya. Ia mendekatkan wajahnya, menyelusupkan hidungnya ke antara helai-helai rambut Mitsuya yang lembut, menghirup wangi khasnya, lalu turun menciumi tulang pipi dan telinga Mitsuya. Dengan sengaja membiarkan bibirnya menyentuh telinga Mitsuya sambil berbisik,

"Masih lama selesainya?"

Sentuhan Kenki dan hangat bibir juga nafasnya membuat bulu kuduk Mitsuya meremang. Jantungnya pun mulai berdetak tak keruan. 

Mitsuya menelan ludah. Kenki brengsek. 

"Tahu tidak, sih? Acara ini belum tentu diputar ulang. Sabar sebentar tidak bisa?" Pun begitu, Mitsuya beringsut seraya mengambil kedua tangan Kenki untuk dilingkarkan ke pinggangnya.

"Hmmm?" Kenki mengulum senyum. Dengan kedua lengan melingkari pinggang Mitsuya, ia menyusup ke belakang Mitsuya. Bagian depan tubuhnya melekat ke punggung Mitsuya yang hangat, Kenki meletakkan dagunya di bahu tunangannya. "Aku kan tidak pernah nonton."

Beringsut sekali lagi untuk mencari posisi yang lebih nyaman, Mitsuya pun menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke dada tunangannya. "Makanya, coba nonton dong. Ini seru loh." Mitsuya menunjuk ke arah TV.

"Aku lebih suka keseruan yang lain," Kenki berkilah, menyusupkan tangan kirinya ke dalam atasan Mitsuya, merasakan kehangatan yang akrab. Tangan kanannya memeluk Mitsuya semakin erat. Kadang-kadang ia memang seperti tidak bisa melepaskan Mitsuya sedikitpun.

Tubuhnya merespon secara reflek pada sentuhan tangan Kenki dan itu membuatnya merengut. "Mou!" Mitsuya menoleh, membuka mulut untuk menggigit pipi Kenki dan merengut sebal.

Kenki tergelak, menusuk pipi Mitsuya yang empuk dengan ujung hidungnya kemudian mengecup sudut bibir Mitsuya. Diusapkannya telapak tangannya yang lebar melintasi perut Mitsuya, merasakan tonjolan samar otot-otot di bawahnya. 

"Micchi hangat," bisiknya kemudian mencium bagian belakang telinga Mitsuya, menempelkan bibirnya lama di sana, kemudian memutuskan untuk mengulum cuping telinga Mitsuya yang empuk.

Ada alasannya kenapa Seigaku dikenal sebagai sekolah yang pantang menyerah dan kenapa Mitsuya lulus masuk regular tim tenisnya. Mitsuya tak akan segan-segan memukul jatuh siapapun lawan yang dihadapinya di lapangan tenis. Apapun taruhannya. Tapi masalahnya, dia tidak sedang di tengah lapangan dan Yamaguchi Kenki adalah lawan yang tak pernah bisa dikalahkan. Mitsuya menggeliat pelan dan tanpa sadar sebuah erangan tertahan meluncur dari bibirnya. 

"Mau apa sih?" bisiknya sambil menangkap tangan Kenki yang mulai menjalar kemana-mana di balik kausnya.

Kenki nyengir senang mendengar suara tertahan yang begitu menggoda dari bibir cantik kekasihnya. Diraihnya sebelah tangan Mitsuya, menatap jemari yang lentik tapi kuat dan terlatih karena tiap hari menggenggam raket tenis itu, kemudian mencium buku-buku jari Mitsuya. "Aku lapar," cetusnya.

Mitsuya mendengus. "Tadi katanya sudah makan ramen." Didorongnya pemuda itu sedikit menjauh. "Bilang saja kalau mau dibuatkan sesuatu. Tak usah menggangguku begitu dong."

Kenki menolak untuk melepaskan Mitsuya. Ia justru menjulurkan lidah dan menjilat ujung telunjuk Mitsuya, kemudian mengulumnya pelan. "Aku ingin makan Micchi."

Micchi memajukan wajahnya, menggigit ujung hidung Kenki dengan gemas. "Lima menit?" Mitsuya meringis.

Kenki menatap Mitsuya dan berkedip heran. "Kau bisa selesai dalam 5 menit, Micchi sayang?"

Mitsuya menampar tunangannya dengan sebal. Tidak keras, memang tapi sepertinya cukup membuat Kenki terkejut. "Aku pulang!"

Walau terkejut, Kenki pulih tepat pada waktunya untuk menahan bahu Mitsuya. "Maaf maaf, aku akan jadi anak baik sampai acaranya habis. Ya?"

Mitsuya mendengus, kembali duduk dan melipat dua tangan di depan dada. Didorongnya dada Kenki dengan bahunya dan beringsut menjauh. "Bercanda seperti itu tidak lucu." gerutunya sambil mengeraskan volume TV.

Kenki menghela napas dan kembali mencari bukunya yang terlupakan. Sesaat ia bungkam sambil membalik-balik halaman, mencari tadi telah membaca sampai mana. "Aku tidak pernah bercanda kalau soal Micchi."

Suara Kenki nyaris tak terdengar karena volume TV yang cukup keras tapi telinga Mitsuya masih menangkap apa yang dikatakannya. Apa sih? Seharusnya kan dia yang marah. Mitsuya membatin seraya menggigiti kuku ibu jarinya. 

Dan 5 menit pun berlalu begitu saja. Saat jingle penutup acara berkumandang, Mitsuya mulai menekan-nekan tombol remote dengan frustrasi. Kedua kakinya diangkat dan ditekuk di depan dada dan Mitsuya menyandarkan dagunya di atas lutut.

Kenki melirik sekilas kemudian meletakkan bukunya di meja. "Aku mau buat kopi. Micchi mau apa? Cokelat?" tanyanya sambil beranjak berdiri.

Mitsuya mendongak sesaat lalu menggeleng pelan. "Tak usah." gumamnya.

Walaupun Mitsuya menolak, tetap saja Kenki menyeduhkan secangkir cokelat untuk tunangannya itu. Diletakkannya di meja tepat di hadapan Mitsuya, sementara ia duduk kembali di tempatnya, menyesap kopi dalam diam.

Mata Mitsuya yang besar dan cantik mengerjap memandangan mug ungu di hadapannya. Asap tipis mengepul dari permukaannya dan sungguh menggoda untuk dicicipi tapi Mitsuya sedang tak berselera. Diliriknya tunangannya sekilas dan melihat ekspresinya yang datar. 

Terserah deh, batinnya.

"Sudah selesai acaranya?" tanya Kenki tanpa mengangkat wajah dari halaman yang tengah dibacanya.

Mitsuya bergumam "Sudah dari tadi." Tangannya meraih bantal duduk yang terletak di dekatnya dan melemparnya ke arah Kenki. "Apa sih?" serunya kesal.

"Iteeee~" Kenki mengusap sisi kepalanya yang menjadi sasaran lemparan Mitsuya. Sebelah tangannya yang lain menyelamatkan gelas kopi ke meja. "Katanya aku disuruh jadi anak baik sampai acaranya selesai. Kurang baik apa lagi aku, sampai membuatkan Micchi cokelat," diraihnya mug ungu dari meja kemudian disodorkan lagi ke arah Mitsuya. "Ayo diminum, nanti kalau dingin tidak enak lho."

Mitsuya menatap pada cangkir yang terulur dan pada tunangannya lalu membuang muka. "Tidak mau."

Kenki menggembungkan pipinya. "Buatanku memang tak seenak Micchi, tapi lumayan enak kok," ujarnya sambil mencicipi cokelat hangat itu. 

Mitsuya bersungut-sungut. "Aku kan tadi sudah bilang tidak mau. Kenki saja yang tidak mendengarkan." Dia mengambil bantal yang tadi dilemparnya ke arah Kenki, mendekapnya erat seraya beringsut menjauh ke sudut sofa. Gerakannya membuat kerah kausnya yang lebar sekali tertarik sampai ke bahu tapi Mitsuya tak ambil pusing untuk merapikan.

Menggaruk kepalanya sedikit bingung, Kenki akhirnya beringsut mendekat. Meletakkan dagu di bantal yang dipegangi erat-erat oleh Mitsuya. "Aku minta maaf. Ya? Jangan cemberut lagi dong,"pintanya sambil menatap kedua mata Mitsuya yang bulat besar, mencoba menyentuh pipi Mitsuya.

Mitsuya menggembungkan pipi, meski tak urung balas menatap wajah Kenki yang tepat berada di hadapannya. Meskipun jantungnya mulai berdebar keras, Mitsuya berusaha agar wajahnya tak memerah. Matanya kemudian dialihkan ke samping lalu ke bawah, memandang garis rahang dan dagu tunangannya itu. Sial, dia tampan sekali. Wajahnya kemudian disurukkan ke dalam bantal, tepat di sebelah wajah Kenki.

Mau tak mau Kenki nyengir melihat reaksi Mitsuya. Disibakkannya poni Mitsuya kemudian mengecup lembut dahi Mitsuya. Terus ke pelipis, sembari mengelus pipi mulus Mitsuya dengan buku jarinya. "Micchi suki," bisiknya di telinga Mitsuya.

Mitsuya hanya sanggup menggerundel ke dalam bantal. Bagaimanapun, harga dirinya menahan agar dia tak langsung bereaksi. Meski ingin sekali mendorong Kenki dan menciuminya dengan gemas. "Usotsuki." gerutunya.

Kenki mati-matian menahan senyum. Juga menahan agar tidak langsung memeluk Mitsuya karena tidak ingin ditampar lagi. Ia berbisik lagi di telinga Mitsuya yang tampak merona merah. "Micchi daisuki."

"U.so.tsu.ki" Mitsuya mengeja, dengan pipi masih menggembung tapi kali ini mengangkat kepalanya. "Menyebalkan!" bisiknya seraya menoleh dan menyebabkan ujung hidung mereka bergesekan satu sama lain.

"Uso janai yoooo," Kenki menangkup wajah Mitsuya dengan kedua tangan. Digesekkannya hidungnya dengan hidung Mitsuya, kemudian menyandarkan dahinya ke dahi Mitsuya. "Hontou ni daisuki."

Wajahnya sudah demikian bersemu, Mitsuya sadar itu. Pun begitu, mata Kenki seperti tak membiarkannya menoleh kemanapun. Tangannya bergerak, menyelusup ke antara tubuh mereka dan mulai mencubiti perut Kenki.

Kenki tergelak dan melepaskan wajah Mitsuya. Berusaha menghindar tapi gagal karena tidak ingin menjauh dari tunangannya. "Adududuh, geli!"

Mitsuya masih terus mencubiti tunangannya dengan lebih intens sampai Kenki terdorong rebah dan Mitsuya duduk di atas perutnya. Tanpa ampun menyerang otot dan titik geli Kenki. Digigitnya bagian dalam bibirnya, menahan cengiran karena reaksi Kenki. Sebal karena tak bisa menang, karena tak pernah bisa benar-benar menolak Kenki. Mitsuya akhirnya menghentikan serangannya dan menunduk, merengkuh kepala Kenki. "Menyebalkan sekali."

Kenki tergelak dan berusaha bergerak ke kanan dan kiri namun tidak bisa menghindar karena Mitsuya menduduki perutnya dan menggelitiknya tanpa ampun. Ia sudah nyaris kehabisan napas saat akhirnya Mitsuya berhenti menyerangnya dan merengkuh kepalanya. Rasanya hangat sekali diselimuti aroma Mitsuya seperti itu. Ia menolehkan kepalanya dan mengecup lembut pipi Mitsuya. "Mmmm."

"Kenapa sih," Mitsuya berbisik. "Suka sekali menggodaku begitu?" keluhnya. "Memangnya Kenki tidak malu ya?"

Kenki tersenyum. "Kenapa harus malu? Micchi kan tunanganku," sahut Kenki seraya melingkarkan lengannya ke pinggang Mitsuya.

Mitsuya memukul dada tunangannya, pelan. "Selalu begitu deh alasannya." "Aku tidak kenal orang lain semesum kamu." tukasnya. Mulai merasa nyaman berbaring di atas tubuh tunangannya dan dalam pelukan Kenki.

Kenki mengangkat alisnya yang tebal dan tergelak. "Banyak kok yang lebih mesum dariku. Micchi tidak kenal saja." Dipeluknya Mitsuya lebih erat. "Dan aku juga tidak akan membiarkan Micchi kenal dengan orang seperti itu."

Mitsuya menggembungkan pipinya lagi. "Kenapa? Curang sekali." Disentuhkannya ujung hidungnya dengan bibir Kenki. "Darimana aku tahu kalau memang ada yang lebih mesum darimu?"

"Percaya kata-kataku saja deh," ujar Kenki sambil tersenyum. "Aku tidak mau Micchi dekat-dekat orang seperti itu." Kenki mengusapkan telapak tangannya dari bahu hingga lekuk pinggul Mitsuya. "Karena aku tidak mau Micchi disentuh orang lain."

Mitsuya menggeliat pelan. "Hmm..." Wajahnya diangkat sedikit, menyentuhkan bibirnya dengan bibir Kenki. "Memangnya mereka akan melakukan apa padaku?" Mitsuya mengangkat bahunya.

"Hmmm, mungkin akan menyentuh Micchi di sini," Kenki mencolek bahu Mitsuya, "Atau di sini, mungkin," Kenki kemudian mencolek pinggul Mitsuya "Apa Micchi mau disentuh orang selain aku?"

"Entah." Mitsuya mengangkat bahu lagi. "Aku kan belum pernah pacaran sebelumnya. Dan mungkin aku memang tak ingin disentuh di tempat-tempat itu. Tapi aku sebal kalau Kenki bercanda seperti itu." lanjutnya.

"Iyaaaa, aku kan sudah minta maaf," Kenki mengecup puncak hidung Mitsuya. "Habisnya aku memang suka sekali menyentuh Micchi," kilahnya sambil mengusap punggung Mitsuya lagi. 

Mitsuya mendengus. Meskipun anak seusianya biasanya memang senang membicarakan hal-hal seperti itu, entah kenapa dirinya tak terlalu suka mendengar Kenki mengucapkannya. Tapi lagi, Kenki memang sudah minta maaf dan sekarang memasang tampang seperti anak monyet yang patut dikasihani sampai Mitsuya tak tega sendiri. Siapa sih yang pernah bilang punya pacar itu enak? Merepotkan sekaligus menyebalkan karena tak bisa marah karena merasa sayang. Pemuda cantik itu mendesah dan mengecup pelan bibir Kenki.

Kenki tersenyum gembira dan balas mengecup bibir Mitsuya dengan lebih bersemangat, memagut bibir atas Mitsuya, kemudian menjilati bibir bawah Mitsuya. Dengan lembut mengusap garis rahang Mitsuya dan memiringkan kepalanya, meminta izin untuk memperdalam ciuman mereka. 

Tangan Mitsuya bergerak pelan dari dada, pundak lalu ke leher Kenki. Ujung-ujung jarinya memainkan anak-anak rambut halus di dekat telinga Kenki. Membalas memagut bibir Kenki yang penuh dan saat Kenki menyentuh rahangnya meminta ijin, Mitsuya hanya membuka sedikit bibirnya.

Kenki menikmati sentuhan jemari Mitsuya di ujung-ujung rambut dan kulitnya. Walaupun Mitsuya hanya memberi sedikit jalan baginya, ia tidak memaksa dan sementara cukup puas dengan memasukkan ujung lidahnya ke celah itu, mencicipi sedikit bagian dalam mulut Mitsuya yang hangat dan menarik bibir atas Mitsuya dengan menjepit di antara bibir dan lidahnya. Kedua tangannya membelai punggung dan tengkuk kekasihnya itu, membiarkan aroma Mitsuya menyelimutinya.

Mitsuya mengerang pelan, memiringkan kepalanya sedikit. Bibirnya mengatup saat lidah Kenki menyelusup masuk, dihisapnya lidah kemerahan itu dengan lembut. Aroma kopi bercampur menthol dan wangi segar cologne Kenki menyerbu hidung dan indra perasanya. Mitsuya mengerang pelan dan membuka bibirnya lebih lebar, mengundang Kenki untuk masuk dan menjelajah lebih dalam. Tangannya bergerak memeluk leher tunangannya.

Merasakan Mitsuya membalas sentuhannya, Kenki mendesah dan balas memagut bibir Mitsuya, memasukkan lidahnya dan menjelajah mulut Mitsuya, menyentuhkan ujung lidahnya dengan ujung lidah Mitsuya dan menikmati percikan-percikan hasrat yang timbul dari sentuhan mereka. Kedua tangannya menarik tubuh Mitsuya merapat, membelai lekukan punggung bawah Mitsuya dan terus hingga lekukan pinggul tunangannya. Perlahan,Kenki mencoba menyelipkan pahanya ke antara kedua kaki Mitsuya dan menggesek pelan.

Mitsuya mendesah, mengangkat tubuhnya ke atas agar Kenki lebih leluasa bergerak menyentuh tempat yang disukainya. Tangannya sendiri bergerak ke bawah, menyelusup ke balik kaus yang dikenakan Kenki, menyentuh kulit Kenki yang hangat. Ia mengerang saat sensasi itu mulai datang dan menggelitik tiap syaraf di tubuhnya. Mitsuya menjauhkan bibirnya sesaat, mengusap bibir Kenki dengan jari tangannya yang lain. 

"Kamu tahu aku tak terlalu suka melakukannya di sini kan?" bisiknya sambil mengangkat alisnya yang tertata rapi.

"Tidak suka bukan berarti tidak mau 'kan?" Kenki tersenyum nakal sambil menggigit pelan jemari Mitsuya yang menyentuh bibirnya. "Aku bukannya ingin memaksa, hanya saja... um, aku sudah menahan diri lumayan lama lho," Dikecupnya pipi Mitsuya lembut sembari menggesekkan bagian yang mulai bersemangat di antara kedua tungkainya ke paha Mitsuya.

Mitsuya tertawa pelan, meski harus menggigit bibir agar tak tersenyum terlalu lebar melihat jarinya digigit Kenki. Sekaligus menahan rasa geli yang ditimbulkan gerakan Kenki ke pahanya. "Apanya yang lama?" tanyanya dengan geli. "Acaranya kan habis sepuluh menit yang lalu."

"Micchi kan sudah di sini sejak tiga jam yang lalu," kilah Kenki sambil nyengir dan menyusupkan tangannya ke balik kaus Mitsuya. 

Mitsuya mendengus dan mau tak mau terkikik geli. Matanya yang besar berbinar dan tubuhnya beringsut, melesakkan pinggulnya dengan pinggul Kenki. Di satu sisi dia paham sekali apa yang dimaksud Kenki karena ada saat-saat tertentu ketika Kenki terlihat begitu keren dan tampan sampai Mitsuya harus pura-pura permisi ke dapur atau menghilang ke kamar mandi hanya untuk meredam hasrat. Di sisi lain, dia tak akan mengakui itu. Kenki mungkin tak pernah merasa perlu menutupi perasaannya dan santai saja bercanda mesum tapi Mitsuya tak bisa seterbuka itu.

Matanya yang besar mengerjap pelan, menatap Kenki dengan semu di pipinya. "Kalau... kalau kamu bisa melakukannya tanpa membuat punggungku jadi biru-biru... aku tak akan protes..." bisiknya seraya menggerut pinggang Kenki.

"Mmmm, bisa diatur," sahut Kenki, menangkup wajah Mitsuya dengan satu tangan dan mengecup puncak hidung tunangannya. Sebelah tangannya mengusap perut Mitsuya dan terus naik ke dada, menemukan tonjolan kecil di sana yang ia tahu akan membuat Mitsuya senang.

Dadanya melengkung secara otomatis, mengejar sentuhan tangan Kenki yang membuat kulitnya terasa seperti terbakar menembus lapisan kaus yang dikenakannya. Mitsuya menggigit bagian dalam bibirnya dan merunduk, mencari bibir Kenki.

Kenki menyambut bibir Mitsuya dengan ciuman gemas, menjilati bibir tunangannya dengan bersemangat, mendorong lidahnya masuk dan menikmati kehangatan mulut Mitsuya dari dalam sambil menarik kaus Mitsuya lepas.

Mitsuya membiarkan saja kausnya ditarik lepas meski itu membuat rambutnya jadi sedikit berantakan. Saat ini dia lebih ingin menikmati bibir Kenki. Dipagutnya lagi bibir tunangannya itu begitu kausnya lepas, menggoda Kenki dengan memasukkan lidahnya sekilas lalu menariknya dengan cepat. Jemarinya kembali menyusup ke helai-helai rambut Kenki, memijat pelan kulit kepalanya lalu bergerak turun untuk menggoda daun telinganya.

Kenki menggeram karena sentuhan Mitsuya di telinganya membuatnya semakin tak tahan untuk melahap tunangannya itu. Ditariknya Mitsuya merapat kemudian menghujani leher Mitsuya yang mulus dengan ciuman sementara tangannya yang lain menarik pinggul tunangannya itu makin merapat. Pelan ia mencoba menggerakkan pinggulnya dan dihadiahi getaran nikmat yang langsung menjalari tubuhnya.

Mitsuya menarik nafas tajam saat pinggul mereka bergesekan erat. Rasanya sudah ingin sekali melepas celananya saat itu juga. Dapat dirasakannya tubuh Kenki berdenyut pelan dan hangat, sama seperti dirinya sendiri dan Mitsuya tak bisa tidak tersenyum. Pun sentuhan bibir dan lidah Kenki di lehernya juga membuat bagian intim tubuhnya melonjak senang.

Kenki menarik napas tajam saat dirasakannya tonjolan yang lumayan bersemangat di antara paha Mitsuya. "Aku ingin Micchi," bisiknya parau sembari menarik pinggang celana yang dikenakan Mitsuya ke bawah.

Bukan pertama kalinya kata-kata itu diucapkan persis di dekat telinganya, tapi tiap kali efeknya selalu sama. Mitsuya tak pernah memikirkan apa sebabnya karena tiap kali selalu sibuk dengan wajahnya yang memerah, jantungnya yang berdegup tak karuan, juga tubuhnya yang langsung terasa lebih sensitif ribuan kali. Hanya karena kata-kata itu. Mitsuya menggeliat, membuat tangan Kenki terlepas dari pinggangnya dan menarik lepas kaus yang dikenakan Kenki.

Kenki membiarkan Mitsuya menarik kausnya melewati kepala. Dan begitu ia dapat melihat lagi, pemandangan yang menyapa matanya sungguh indah. Mitsuya Ryou, tanpa sehelaipun benang menutupi sekujur tubuhnya, dengan pipi yang merona. Kulit Mitsuya tampak halus dan bersinar tertimpa cahaya, dengan otot-otot yang membentuk tubuh ramping namun kuat seorang atlit. Kenki tak bisa menahan diri untuk membelai sisi tubuh tunangannya yang selalu tampak luar biasa itu, merasakan kemaluannya sendiri bangkit. Ditariknya Mitsuya mendekat untuk melumat bibir indah itu, dengan sebelah tangan meraba pinggul Mitsuya untuk ditangkupkan di selangkangan pemuda cantik itu.

Matanya terkatup perlahan, bersamaan dengan desisan lirih meluncur dari sela giginya yang menggigit bibir. Pinggulnya otomatis bergerak, meminta lebih dari sentuhan tangan Kenki yang besar dan hangat. Satu tangannya diletakkan di perut Kenki, meraba pelan. Hanya ingin menyentuh Kenki karena Mitsuya tak berani membuka mata. Dia tahu pemandangan seperti apa yang akan menyambutnya dan Mitsuya tak ingin selesai begitu saja hanya karena ditatap Kenki. Perlahan, ditepisnya tangan Kenki dari selangkangannya dan Mitsuya bergerak mundur, merendahkan tubuhnya sambil tangannya menarik lepas celana yang dikenakan Kenki. Mitsuya menarik nafas, menatap Kenki sekilas sebelum melingkarkan jemarinya di sekeliling bagian intim Kenki. Wajahnya bersemu makin merah saat Mitsuya menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga dan mengecup ujung kemaluan kekasihnya itu.

Kenki harus mengigit lidahnya agar tak bersuara saat bibir Mitsuya yang lembut dan hangat menyentuh kulitnya yang serasa terbakar. Ditambah tatapan Mitsuya dari balik kelopak yang setengah menutup dihiasi barisan bulu mata yang panjang, Kenki merasa bahwa ini salah satu pemandangan terindah di dunia. Namun ia mengangkat tubuh dan meraih sisi wajah Mitsuya sambil menggeleng pelan. "Aku ingin hari ini pertama kali selesai di dalam Micchi."

Saat ini wajahnya pasti sudah merah sekali seperti kepiting rebus. Ia pun tak bisa menahan untuk tidak mengerang pelan. Namun Mitsuya tak langsung bergerak memenuhi keinginan Kenki melainkan mengulum kemaluan Kenki sekali lagi sampai Kenki menggerung. Dikecupinya tiap inci kulit tunangannya mulai dari pangkal kemaluan, naik ke atas sampai ditemukannya bibir Kenki. Dikecupnya sepasang bibir yang selalu tersenyum manis padanya, bibir yang selalu menyebut namanya dengan lembut dan penuh cinta. Mitsuya memberanikan diri menatap mata Kenki dan seperti yang sudah diduganya, kepalanya langsung terasa pening.

Gemas menatap kulit di atas tulang pipi Mitsuya yang memerah dan bibirnya yang basah, Kenki melumat bibir Mitsuya lagi. Diciuminya leher Mitsuya sementara sebelah tangannya terulur menyentuh kemaluan Mitsuya yang tampak mulai memerah. Mitsuya terasa hangat dan tegang dalam genggamannya saat Kenki mulai menggerakkan tangannya dengan pelan sambil tetap mencium Mitsuya, menelan semua yang mungkin dikeluarkan Mitsuya. Setelah melepaskan ciumannya, Kenki menatap ke dalam sepasang mata cantik tunangannya sambil meletakkan dua jarinya ke bibir Mitsuya.

Bercumbu dengan Kenki selalu terasa mudah. Meskipun tak pernah ada orang lain sebelumnya dan sejujurnya Mitsuya tak berniat untuk mencari pembanding. Meskipun ia tahu ia sering membuat Kenki gemas karena suka sekali menahan diri tapi ada kalanya Mitsuya membiarkan dirinya hanyut begitu saja. Seperti sekarang. Dibalasnya ciuman Kenki seraya mengerang ke dalam mulut tunangannya karena sungguh, sentuhan Kenki terasa begitu nikmat. Pun, Mitsuya membuka mulutnya dengan sukarela saat Kenki meletakkan dua jari di depan bibirnya. 

Sambil menggerakkan dua jemarinya masuk dan keluar mulut Mitsuya--membiarkan jemarinya dibasahi, Kenki terus menggerakkan genggamannya. Gerakannya pelan, menekan titik-titik yang ia tahu disukai Mitsuya dalam perjalanan genggamannya dari pangkal hingga ujung kemaluan Mitsuya, sesekali bergerak lebih cepat dan menyapu bagian ujung dengan ibu jari. Ia menyukai memanjakan Mitsuya seperti ini, menikmati memandang sosok Mitsuya yang sedang merasakan kenikmatan di seluruh lekuk tubuhnya.

Mitsuya menutup matanya lagi, membiarkan sensasi familiar itu merayap ke tiap sudut tubuh dan sendinya, menyelusup ke tiap sudut. Nafasnya mulai memburu dan erangannya terdengar begitu erotis di telinganya sendiri karena sambil mengulum dua jari Kenki. Mitsuya tak tahu kalau dia bisa merasa malu dan jadi bergairah pada saat yang bersamaan.

"Kenki..." Mitsuya tersengal, menatap Kenki dengan tatapan setengah memohon.

Kenki memutar pergelangan tangannya, membuat Mitsuya mengeluarkan suara tertahan. Bibirnya melengkung membentuk senyum. "Hmmm?"

Mitsuya menggeleng pelan lalu menarik nafas tajam dan tersengal. Diliriknya tangan Kenki yang basah oleh air liurnya dan dibawanya tangan itu ke bawah.

"Di sini?" Kenki bertanya sambil menggigit bibir menahan senyum seraya menyentuhkan ujung jarinya yang basah ke jalan masuk tubuh Mitsuya. Hanya menyentuh saja, bergerak berputar dengan pelan. "Micchi menginginkan aku di sini?" 

Mitsuya menggigit bibir Kenki. "Aku tak akan membiarkanmu masuk tanpa persiapan, tahu. Aku tak sefleksibel itu." gerutunya sambil merengut. "Kecuali Kenki memang sengaja ingin begitu." Matanya memicing curiga.

Kenki menggantikan ujung jarinya dengan ujung kemaluan, membiarkannya berdenyut hangat di celah bokong Mitsuya, dan tersenyum lagi. "Kurasa Micchi cukup fleksibel, apalagi dengan latihan dan pemanasan di klub," godanya.

"Mnh.." Mitsuya melenguh pelan, merasakan ujung tumpul yang terasa besar dan agak basah berdenyut hangat menekan lembut jalan masuk tubuhnya. Tapi meskipun Mitsuya sangat tergoda untuk menurunkan pinggulnya, saat ini dia ingin sekali menyakiti Kenki karena menggodanya terus-terusan. Karena itu ia menunduk dan menggigit bahu Kenki keras-keras.

Mengaduh sambil tertawa, Kenki beringsut dan mengecup sayang pipi Mitsuya. Tanpa permisi ditekannya jari tengahnya memasuki tubuh Mitsuya. "Tidak usah diberi tanda seperti itu juga semua orang tahu kalau aku milik Micchi kok," bisiknya di telinga Mitsuya, menekuk jari tengahnya. 

Mitsuya menggigit bibir agak tak mengerang meski tubuhnya reflek mencengkeram dan kedua tangannya melakukan hal yang sama pada bahu Kenki. "Kalau terus menggodaku begitu, aku akan benar-benar memukulmu." desisnya. "Aku serius." tambahnya begitu melihat cengiran di bibir tunangannya.

Kenki menahan senyum dan berusaha memasang tampang inosen walaupun kemaluannya sendiri sudah terasa nyeri. Jari telunjuknya menyusul jari tengah mencicipi bagian dalam tubuh Mitsuya yang hangat dan mencengkeram erat. Perlahan ia menggerakkan kedua jarinya, sesekali melebar, berputar dan menekuk, mempersiapkan tubuh Mitsuya sambil mencari titik yang mampu membuat tunangannya itu menjerit. "Aku juga selalu serius soal Micchi," sahut Kenki, menarik wajah Mitsuya mendekat untuk melahap bibir dan mulutnya.

Gerakan jemari Kenki di dalam tubuhnya membuatnya tak bisa mempertahankan ekspresi seriusnya. Kepalanya tertunduk, masih menggigit bibir. Dirasakannya tubuhnya kembali mencengkeram pelan, menggandakan sensasi gesekan kulit Kenki di dinding jalan masuk tubuhnya. Tiap gerakan Kenki membuat nafasnya tercekat dan Mitsuya tersengal saat ujung jari Kenki menggesek titik sensualnya. "Ahn..."

Kenki menekankan jarinya lebih keras, berkali-kali ke tempat yang membuat Mitsuya mengeluarkan suara-suara yang membuat kemaluannya sendiri makin mengeras dan nyeri. Menggigit bibirnya sendiri, Kenki menarik jemarinya keluar dan memposisikan ujung kemaluannya yang mulai basah di pintu masuk tubuh Mitsuya. Ia tersengal dan suaranya parau saat bertanya di telinga Mitsuya, bibirnya menyapu lekuk telinga tunangannya itu. 

"Ii?" pintanya lalu mengecup kulit hangat di belakang telinga Mitsuya. "Micchi ga hoshii."

Wajah Kenki yang tengah berkonsentrasi penuh mengendalikan emosi agar tak langsung melahap dirinya saat itu juga, selalu terlihat tampan dan seksi di mata Mitsuya. Garis rahangnya yang persegi mengeras dan Mitsuya mengecupnya lembut sebelum mengangguk. Pinggulnya diangkat sedikit, memberi akses lebih pada Kenki untuk menekan masuk. Mitsuya mendesah panjang, pinggulnya ikut menekan ke bawah menyambut Kenki ke dalam tubuhnya. "Mmmmmmmngh...."

Napas Kenki tercekat saat ujung kemaluannya yang sensitif masuk ke lingkaran pertama tubuh Mitsuya. Ia harus memejamkan mata, membenamkan wajah ke bahu Mitsuya dan helai-helai lembut rambut cokelat itu sambil mengatur napas sebelum meneruskan menekan masuk perlahan. Tubuh Mitsuya selalu menyambutnya dengan erat, hangat dan akrab, dan ekspresi Mitsuya, gerakan pinggulnya menyambut gerakan Kenki, desahan kecil yang meluncur dari bibirnya, semuanya selalu memukau Kenki. Diraihnya pinggul Mitsuya lalu menekan masuk dalam satu gerakan panjang.

Mitsuya mencengkeram lengan Kenki dengan keras. Ia mengerang panjang dan lirih. Kepalanya terlempar ke belakang dan tersengal hebat. Rasanya seperti dirobek ke segala arah tapi sekaligus nikmat luar biasa. Tubuhnya mencengkeram dengan lembut, dengan cepat menyesuaikan dengan ukuran tubuh Kenki. 

Saat yang paling disukai Mitsuya adalah saat Kenki sudah terbenam sempurna di dalam tubuhnya. Besar dan hangat. Saat itu ia selalu merasa kalau mereka benar-benar milik satu sama lain dan di sinilah ia seharusnya berada. Mitsuya mengelus pundak tunangannya dan mencium Kenki dengan bergairah.

Membalas ciuman Mitsuya dengan sama bergairahnya, Kenki tidak bergerak untuk beberapa saat, menikmati dilingkupi oleh kehangatan Mitsuya yang berdenyut lembut. Seluruh tubuh Mitsuya menyambutnya, dan walaupun Mitsuya tidak mengatakannya, Kenki mengerti bahwa ada rasa sayang dalam ciuman tunangannya. Dibelainya tubuh Mitsuya, dari bahu lalu ke punggung dan akhirnya ke pinggul, sebelum mulai menggerakkan pinggul. Rasanya selalu luar biasa dan Kenki menggeram rendah dari dalam tenggorokannya ke sela bibir Mitsuya. "Micchi no naka ni... saikou..."

Tubuhnya bergerak bersama Kenki, sedikit tak beraturan pada awalnya tapi dengan cepat menyesuaikan irama mereka. Mitsuya menggapai kedua tangan Kenki, mengaitkan jari-jarinya dengan jemari Kenki di pinggulnya. Ia tak bisa berpikir atau berbuat apapun karena segalanya terasa begitu nikmat dan familiar. Sedekat dan seintim ini dengan Kenki, Mitsuya hanya ingin mereguk semuanya sebanyak yang ia bisa. Geraman rendah Kenki membuatnya makin bergairah dan bersemangat. Ia membalas dengan mencengkeram sedikit lebih erat dan balas mengerang ke dalam mulut Kenki. "Mmnh... motto... Oku made... anh..."

Kenki menggeram lagi demi mendengar permintaan Mitsuya. Lengannya dilingkarkan ke tubuh Mitsuya kemudian dengan lembut membalikkan posisi mereka hingga ia berada di atas Mitsuya, menahan beban dengan kedua siku sambil melahap bibir Mitsuya dengan rakus. Tanpa meminta izin ia kembali menggerakkan pinggulnya. Menarik diri ke belakang hingga nyaris keluar seluruhnya, kemudian menekan masuk dengan cepat dan kuat, membangun ritme yang berganti-ganti kadang cepat kadang lambat, sambil menciumi Mitsuya dan membisikkan nama tunangannya penuh sayang.

Mitsuya tersengal dan mengerang ke dalam bibir Kenki, membalas ciuman tunangannya dengan sama bergairahnya. Kedua lengannya terangkat mengelus sisi wajah dan rahang Kenki kemudian turun untuk memeluk leher tunangannya itu. Tubuhnya berguncang karena gerakan mereka dan Mitsuya berusaha setengah mati untuk mempertahankan irama gerakannya karena demi Tuhan rasanya nikmat sekali. Kenki di dalam tubuhnya, Kenki yang menciumnya tanpa henti, Kenki yang menghujaninya dengan cinta.

Membenamkan wajah ke lekuk bahu Mitsuya, Kenki tersengal dan berganti bergerak pelan, karena cengkeraman Mitsuya yang hangat terasa sangat nikmat sampai ia nyaris tak tahan. Sambil mengumpulkan kendali dirinya lagi, ia mengangkat wajah menatap Mitsuya, dan hampir selesai begitu saja. Ekspresi di wajah Mitsuya saat menatapnya, tubuh indah Mitsuya yang berlapis keringat dan menggeliat terguncang di bawah tubuhnya, lengan Mitsuya yang berpegangan erat padanya, semua begitu indah dan menggairahkan. 

"Micchi," sengalnya sambil menekan masuk dengan tajam dan kuat, membuat tubuh Mitsuya terdorong ke atas dan geletar-geletar nikmat menyapa seluruh tubuhnya.

"Aangh!" Mitsuya menjerit. Tekanan Kenki tepat mengenai titik sensitifnya dengan keras. Mitsuya menelan ludah dengan susah payah. Disentuhnya pinggul Kenki yang kini bergerak lebih pelan namun menekan tajam dan membuatnya mengerang makin keras. Dengan susah payah, Mitsuya mengangkat tubuhnya sekaligus memaksa Kenki untuk duduk tegak. Mitsuya memposisikan dirinya dengan nyaman di pangkuan Kenki, mengerang karena perbuatannya sendiri. Kedua lengannya dilingkarkan memeluk kepala tunangannya, mengusap rambut Kenki yang lembab karena keringat dan tersenyum manis. Dikecupnya kening Kenki dengan sayang dan mulai menggerakkan pinggulnya lagi.

Hanya tekad (dan pengalaman bercinta di berbagai tempat) saja yang membuat Kenki bisa menahan Mitsuya agar tidak terjatuh dari sofa. Tapi Kenki tak keberatan, sebab imbalannya adalah Mitsuya yang duduk nyaman di pangkuannya, menatapnya dengan manis, masih terhubung dengannya pada daerah yang paling intim. Ia menggeram saat Mitsuya mulai bergerak, membawa dirinya makin jauh dan dalam. Sebelah tangannya terulur ke pinggul Mitsuya, sementara sebelahnya lagi berpegangan ke sandaran sofa agar bisa menjaga keseimbangan sembari memberikan tekanan-tekanan tajam dalam arah yang tepat ke tubuh Mitsuya. Tak urung cengkeraman tubuh Mitsuya membuatnya memejamkan mata dan menggigit kulit tepat di bawah sudut rahang tunangannya yang cantik.

"Micchi...suki."

Mitsuya memeluk Kenki erat-erat, entah supaya ia tak jatuh atau hanya karena ingin memeluk Kenki. Mungkin keduanya. Hentakan-hentakan pendek dan tajam berganti dengan sentakan panjang dan dalam membuat tubuhnya kembali terguncang berirama. Satu tangannya bergerak turun, membelai leher Kenki lalu turun ke pundak dan dadanya. Ujung jemarinya menemukan tonjolan mungil di dada tunangannya, puas saat mendengar Kenki menggeram karenanya. Bisikan Kenki di dekat telinganya membuatnya tak tahan lagi. Mitsuya mulai terisak dan mengeratkan tubuhnya dengan lebih kuat.

Kenki tersengal, menciumi wajah Mitsuya karena sungguh rasanya nyaris tak kuasa menahan lagi. Tangannya menyelusup ke antara tubuh mereka, menemukan kemaluan Mitsuya yang terasa luar biasa tegang dan panas. Digenggamnya dengan sebelah tangan dan mulai menarik sesuai irama tekanannya memasuki tubuh Mitsuya yang kini menggenggamnya begitu erat. "Ikitai?" tanyanya parau. 

"Angh!" Mitsuya nyaris menjerit karena rasa nyeri yang nikmat itu makin berlipat ganda karena sentuhan Kenki di selangkangannya. Rasanya ia sudah siap untuk meledak saat itu juga. Tapi sesuatu dalam cara Kenki memandangnya menahan dirinya untuk mengangguk. "Mngh... Tidak... aaanh... aku ingin.. ah! Kenki selesai lebih dulu... di dalam... Oh!"

"Begitu?" bisik Kenki seraya menyapukan ibu jarinya ke celah di ujung kemaluan Mitsuya. Ia tahu klimaksnya sudah dekat dan permintaan Mitsuya membuatnya teringat perasaan menumpahkan segalanya ke dalam tubuh Mitsuya yang selalu terasa mengagumkan. Kenki menekan masuk lagi, dengan sengaja mengincar titik yang selalu membuat Mitsuya lepas kendali. "Kalau Micchi ingin begitu, ngh," Kenki tersengal, "Buat aku melakukannya."

Mitsuya harus menggigit bibirnya keras-keras dan mengumpulkan sisa-sisa kendali dirinya. Keningnya berkerut hebat dan Mitsuya memperlambat gerakan pinggulnya. Matanya mengerjap cepat. Nyaris sekali. Pemuda cantik itu menarik nafas dengan susah payah, menjilat bibirnya yang kemerahan dan menangkupkan kedua tangannya di rahang Kenki. Ditatapnya kedua bola mata gelap milik tunangannya itu. Sedikit tak fokus karena tertutup kabut gairah tapi Mitsuya terus mencari-cari sampai akhirnya ditemukannya sebuah celah dan ia memandang dalam-dalam sambil tersenyum penuh cinta. Memeluk erat tunangannya, sekaligus mengeratkan cengkeramannya di bawah sana sekeras yang ia bisa, Mitsuya berbisik. 

"Aishiteru. Kenki no subete." Tepat di sebelah telinga Kenki dan mengecup pemuda itu dengan penuh perasaan.
Kenki memaksa matanya tetap terbuka karena dalam saat-saat seperti ini tunangannya sungguh tampak cantik sekali. Bahagia luar biasa rasanya saat ditatap dan diberikan senyum penuh cinta seperti itu oleh orang yang paling disayanginya di seluruh dunia. Ia rela menemani Mitsuya menonton acara apapun walau tidak mengerti, menyertai Mitsuya belanja walaupun tak ada habisnya, dimarahi dan dicubiti tiap hari pun Kenki rela. Asal Mitsuya tetap di sisinya dan menatapnya seperti ini, Kenki merasa sanggup melakukan apapun. Tapi bisikan Mitsuya dan kecupan sayangnya sungguh merampas sisa-sisa kendali dirinya yang tinggal secuil. Dibalasnya ciuman Mitsuya dengan penuh rasa cinta sebelum akhirnya membenamkan wajah ke bahu Mitsuya, tersengal dan membiarkan gelombang kenikmatan yang sejak tadi terbangun di dalam dirinya meluap, menumpahkan segala yang dirasakannya ke dalam tubuh tunangannya bersama satu kata yang dibisikkannya, nama Mitsuya.

Tak ada yang bisa membuat Mitsuya merasa lebih puas dibanding saat merasakan tubuh Kenki bertaut, mendekapnya dengan lebih erat dan membisikkan namanya bersamaan dengan sesuatu yang hangat dilepaskan ke dalam tubuh Mitsuya. Caranya melepaskan diri begitu saja dalam kenikmatan dalam pelukan Mitsuya sungguh membuat Mitsuya makin jatuh hati pada pemuda itu. Tapi saat ini Mitsuya tak terlalu memikirkan itu. Ia butuh pelepasannya sendiri saat ini juga karena segalanya sudah sangat tak tertahankan. Diselipkannya tangannya ke antara tubuh mereka, menangkup di atas tangan Kenki yang masih menggenggam kemaluan Mitsuya dan mulai menarik dengan cepat. Pinggul Kenki yang masih menyentak pelan dan beberapa tarikan kuat membuat Mitsuya melempar kepalanya ke belakang dan menyerah pada kenikmatan itu. "Kenki~" 

Kenki memeluk Mitsuya erat-erat sambil menunggu sentakan-sentakan tubuhnya terpuaskan, sambil nyaris tanpa berpikir menggenggam dan menarik kemaluan Mitsuya. Membiarkan cairan hangat dari ujung kemaluan Mitsuya membasahi genggamannya sementara menunggu tubuhnya selesai melepaskan ke dalam tubuh Mitsuya. Aroma khas seks bercampur keringat dan Mitsuya membuatnya merasa tenang dan sedikit mengantuk. Kenki tersenyum dan mengecup sisi wajah Mitsuya. "Micchi saikou."

Mitsuya kembali memeluk Kenki, lebih lembut dan lebih hangat. Menunggu beberapa saat sampai klimaksnya berlalu lalu tertawa kecil. "Hmm... Kenki mo."

"Ureshii," Kenki menghirup aroma Mitsuya dalam-dalam sambil perlahan beringsut membawa Mitsuya berbaring di sofa. Tanpa benar-benar menarik keluar, ia merengkuh Mitsuya ke dalam pelukan hangat dan mengaitkan kaki mereka, mencium kelopak mata tunangannya dengan sayang.

Mitsuya mengelus punggung Kenki yang lembab. Bibirnya mengecupi garis rahang dan dagu tunangannya itu. "Tak mau pindah ke dalam?" bisiknya pelan. Dalam hati ia senang karena Kenki tak langsung menarik dirinya keluar sebab ia masih ingin merasakan Kenki di dalam tubuhnya sebentar lagi saja.

"Mmmm, nanti saja," sahut Kenki, menggigit lembut ujung hidung Mitsuya sembari mengelus rambut halus tunangannya. Ia sudah terlalu nyaman bergelung bersama Mitsuya di sana, tempat yang sempit berarti ia bisa menempel pada Mitsuya lebih lekat. 

"Hmmm..." Mitsuya tak benar-benar menyahut, membenamkan wajahnya ke lekuk leher Kenki dan mendesah pelan. "Kenki hangat~" bisiknya manja.

Kenki mengecup puncak kepala Mitsuya. Ia makin merasa mengantuk. "Bau Micchi enak."

Mitsuya tertawa pelan. "Kenki aneh deh. Bau keringat begini kok." sahutnya setengah merajuk. Perlahan Mitsuya memejamkan matanya. Bukan karena mengantuk, hanya merasa luar biasa nyaman dan hangat. Berharap dalam hati kalau mereka bisa seperti ini seharian. Atau mungkin sampai besok.

"Harum kok," kilah Kenki dengan mata terpejam dan wajah setengah terbenam dalam rambut cokelat Mitsuya. Ia selalu merasa nyaman setiap sedang memeluk tunangannya yang cantik, dan hanya dalam beberapa tarikan napaspun ia terlelap.



Friday, May 13, 2011

[fanfic] KenkixMitsuya - Te wo Tsunaide

Fandom: D2/Prince of Tennis Musical 2nd Season
Pairing: Yamaguchi Kenki x Mitsuya Ryou
Rating: G
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: the usual entourage. I don't own anything.
Note: gue juga gak tau gue ini nulis apa LOL




Selama 15 tahun hidupnya, Mitsuya tak pernah tahu seperti apa rasanya dirayu seseorang. Oke, bukannya tidak tahu sama sekali hanya saja dia biasanya akan mengacuhkan jika ada orang yang memberikan perhatian khusus atau menolak dengan sangat sopan jika ada yang memberanikan diri mengajaknya ke belakang gedung sekolah dan mengutarakan keinginan ingin menjadi teman dekatnya. Bukannya tak ada yang menarik ataupun tak tertarik tapi Mitsuya merasa tenis dan fashion lebih menyenangkan untuknya. 

Karena itu, ketika pemuda itu muncul dan Mitsuya mendapati kenyataan bahwa dirinya dijodohkan, dia sama sekali tak tahu harus bagaimana. Menolak akan menyakiti perasaan orang tuanya dan cepat atau lambat, ibunya pasti akan menemukan cara agar Mitsuya menganggukan kepala.

Apa yang diharapkan orang tuanya sih? Dia masih 14 tahun waktu itu dan pemuda itu... 19 tahun? 20 tahun? Entahlah. Kenapa pula pemuda itu setuju-setuju saja dijodohkan dengan anak kecil seperti dirinya. 

“Matamu bagus.” ujar pemuda itu, Yamaguchi Kenki namanya. 

Wajahnya tampan meski bukan tipe tampan yang membuat orang yang melihat menahan nafas. Tak suka basa basi dan senyumnya ramah. Juga tak banyak bicara dan senang-senang saja digeret Mitsuya ke sana kemari. “Menarik,” katanya.

Kenki tinggal di Tokyo dan mau tak mau Mitsuya menghargai usahanya datang ke Aomori hanya untuk bertemu dengannya. Dengan sopan mengetuk pintu dan bertanya pada ibunya apakah dia boleh mengajak Mitsuya keluar dan berjanji akan mengantarnya pulang sebelum jam 9 malam. Dia juga mendengarkan apapun cerita Mitsuya. Soal tenis, soal hobi belanjanya, soal sepupunya yang kehilangan pendengaran karena kecelakaan, apapun. Tak bertanya sampai Mitsuya selesai bercerita dan akan diam kalau Mitsuya memberi sinyal tak ingin menjawab. Genggaman tangannya pun hangat dan tak pernah menyentuh Mitsuya tanpa seijinnya. Saat berjalan berdua pun, dia akan berhenti dan menunggu sambil tersenyum jika Mitsuya tertinggal beberapa langkah.

Pemuda itu menatapnya lurus-lurus dan berkata sambil lalu kalau seandainya boleh, dia ingin mencium Mitsuya. 

“Ke...kenapa?”

“Karena.”

Mitsuya belum terbiasa dengan jawaban itu dan Kenki terbahak saat Mitsuya melempar keningnya dengan sendok plastik bekas yoghurt. Meskipun kemudian dia mengejar Mitsuya yang berlari menjauh dan mendekatkan wajahnya. Dikecupnya rambut Mitsuya yang sangat itu masih pendek dan Mitsuya sebal sekali karena tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tak lupa sekali lagi memukul lengan pemuda itu karena Kenki nyengir lebar melihatnya.

Pemuda itu pun membantu banyak saat dokter yang menangani Yuuki sudah menyerah dan menyarankan agar Yuuki mengikuti rehabilitasi di sebuah rumah sakit di Tokyo. Dia mencarikan tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit dan jaraknya pun tak terlalu jauh dari apartemennya sendiri. “Supaya tak terlalu repot kalau ada apa-apa,” ujarnya memberi alasan. Tentu saja perbuatannya itu langsung mendongkrak popularitas Kenki di depan seluruh keluarga Mitsuya. 

Sebab itu, sebulan sebelum kepindahannya ke Tokyo untuk menemani Yuuki, Mitsuya tak tahu harus bersikap bagaimana di depan Kenki yang menatapnya lurus-lurus. Pemuda itu datang, seperti biasa meminta dengan sopan dan Mitsuya hanya berkata kalau dia ingin makan takoyaki. Setelahnya mereka hanya berjalan-jalan di taman sambil menikmati takoyaki yang mengepul dan Mitsuya mencibir iri pada Kenki yang minum bir. 

“Jadi,” ucap Kenki sambil mengajaknya untuk duduk di ayunan di tengah taman, “apa selama ini aku sudah berhasil memenuhi semua syarat yang kamu berikan?”

Mitsuya mengerjap bingung. “Ha?”

Kenki tertawa. “Itu loh, katanya kamu akan mempertimbangkan kalau aku bersedia mengikuti semua syarat yang dulu kamu bilang waktu kita pertama kali bertemu.”

“Oooh...itu.” Mitsuya meniup bulatan takoyaki yang masih mengepul dan mendadak wajahnya memerah seperti benar-benar baru tersadar apa yang ditanyakan Kenki sebenarnya. “Oh.”

Kenki tertawa lagi dan tak melanjutkan berkata apapun, hanya menatap lurus ke arahnya. Mitsuya menunduk dan menatap sepatunya dengan penuh minat. “Apa... ini karena aku dan Yuuki akan tinggal di Tokyo dan kamu sudah menawarkan untuk membantu kami?”

“Begitulah.” jawab Kenki. “Aku ingin tahu sampai sejauh mana aku boleh melangkah di dekatmu karena nanti di Tokyo tak akan ada siapa-siapa kecuali kita bertiga. Tapi lebih dari itu, aku benar-benar ingin tahu. Ini sudah nyaris setengah tahun loh.. Aku tak bisa berlama-lama berputar-putar dan bertanya-tanya apakah kau akan mengangguk atau menggeleng. Aku juga punya perasaan loh.”

Kening Mitsuya berkerut dan tanpa sadar bibirnya pun mengerucut agak tak suka. “Memangnya kau berharap apa? Aku ini lulus SMP saja belum. Salah sendiri mau saja ikut omiai meski calonnya masih 14 tahun.”

Kenki tertawa. “Yah, memang salahku sih, tapi.......... apa kamu benci padaku?”

Mitsuya menggeleng.

“Suka?”

“.............suka, sih. Tapi aku tak tahu suka yang bagaimana.” ucap Mitsuya jujur. “Aku belum pernah punya pacar atau benar-benar tertarik dengan seseorang.” Mitsuya mengangkat bahu, masih menolak memandang pemuda itu karena dia yakin wajahnya saat ini pasti merah sekali.

Kenki terdiam beberapa jenak sampai Mitsuya harus menoleh karena khawatir kalau Kenki mendadak menghilang. Tidak lucu kalau dia harus berjalan pulang sendirian malam-malam begini, apalagi kalau dia sampai menyinggung perasaan Kenki. Bagaimanapun, itu bukan perbuatan yang baik. Tapi pemuda itu masih duduk di sebelahnya dengan tangan terjulur ke arahnya.

Mitsuya menatap tangan itu lekat-lekat lalu mengangkat wajahnya untuk menatap si empunya dengan bingung.

“Kalau kamu tak mau, pukul tanganku dan aku akan mengantarmu pulang dan kita akan bertemu lagi di Tokyo.” Kenki menjelaskan. Binar matanya tak bisa ditebak. “Tapi kalau kamu mau, genggam tanganku dan aku akan menciummu.”

“A..apa-apan itu?!” seru Mitsuya terperangah.

Kenki mengedikkan bahu, tersenyum miring penuh arti. “Semuanya terserah kamu kok. Kalau dipukul, aku akan berterima kasih karena diberi kesempatan mengenalmu dan aku akan tetap membantumu dan Yuuki-chan di Tokyo nanti. Sebagai teman.”

Mitsuya menatapnya. “Kalau sebaliknya?”

“Tentu saja aku akan senang sekali.” Senyumnya terkembang lebar dan terlihat begitu penuh percaya diri.

Entah dia sedang dipermainkan atau apa, Mitsuya tak begitu mengerti. Ditatapnya lagi tangan itu dan Kenki yang menunggu dengan sabar seraya menggerak-gerakkan alisnya. Mitsuya sebal sekali. Ada apa sih dengan pemuda ini? Kenapa Mitsuya tak bisa marah atau benci padanya? Kenapa baik sekali? Kenapa mendadak terlihat tampan sekali sampai membuat dadanya berdebar-debar?

Perlahan, Mitsuya mengangkat tangannya dan memukul tangan pemuda itu.

Kenki terdiam sesaat. Terlihat agak terkejut dan tangannya masih menggantung di udara meski kemudian perlahan senyumnya mengembang. “Sou ka.” bisiknya. Pemuda itu menarik nafas dan baru saja hendak menarik tangannya ketika tangan Mitsuya menyambar tangannya lagi dan menggenggam dengan erat.

Mitsuya menunduk, mengeratkan jemarinya di sekeliling pergelangan Kenki. “Kau menyebalkan.” bisiknya.

Kenki menatapnya lurus-lurus. Pada tangan Mitsuya di sekeliling tangannya, pada pipinya yang bersemu merah dan pada protesnya yang jujur. Pemuda itu tersenyum lebar, memutar pergelangan tangannya agar bisa mengaitkan jari-jarinya dengan jemari Mitsuya. Ibu jarinya mengelus kulit punggung tangan Mitsuya yang halus dan tanpa basa-basi menarik lengan Mitsuya sampai pemuda cantik itu nyaris terjungkal. Kenki menangkapnya dengan sigap, satu lengannya melingkar mantap di pinggang Mitsuya. 

“Ma, mau apa?” jengit Mitsuya seraya memberontak berusaha melepaskan diri karena sungguh deh, dia tak mau sampai ketahuan kalau jantungnya sedang berdebar dengan begitu kerasnya.

“Diam dong.” tukas Kenki, tersenyum begitu lebar dan sumringah. “Tadi kan sudah kubilang kalau aku akan menciummu.”

“......................Baka!”

-end-

Tuesday, May 10, 2011

[fanfic] AU KenkixMicchi - Reason

Fandom: D2/Tennis no Oujisama Musical 2nd Season
Pairing: Yamaguchi Kenki x Mitsuya Ryou
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: Watanabe Pro, MMV, etc. I do not own anything.
Note: slash of life fic. Maaf kalau gejeh. Dan semuanya karena GC19




Kucuran air perlahan berhenti bersamaan dengan keran yang diputar untuk menutup aliran air. Kenki menyapukan kedua tangannya ke rambutnya, menyebabkan tetasan air mengalir ke leher dan pundaknya. Sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan, tangan yang lain menjangkau handuk di gantungan di dekat shower. Telinganya menangkap bunyi samar deru hujan sementara ia mengeringkan tubuhnya. Ia menyambar legging hitam dan kaus oblong tanpa lengan, mengenakannya dan menggosok rambutnya yang basah sambil menyikat gigi.

Aroma kopi menyambutnya saat Kenki membuka pintu kamar mandi. Matanya tertuju pada sosok Mitsuya yang berbaring tengkurap di atas tempat tidur, sebuah majalah terbuka di hadapannya. Barulah kemudian matanya tertuju pada secangkir kopi yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Pemuda itu tersenyum dan baru saja hendak menghampiri Mitsuya ketika telepon berdering. Mitsuya ikut mengangkat kepalanya dan sudah akan bangkit tapi urung saat melihat Kenki berjalan ke arah ruang depan dan melambaikan tangannya, menyuruh Mitsuya tetap di tempat.

Tak berapa lama, Kenki sudah kembali ke tempat tidur dan duduk di atas ranjang, menggosok rambutnya sekali lagi dan melempar handuk ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Mitsuya menoleh dan Kenki nyengir.

"Salam dari ayahku."

"Oh. Kok tumben? Ada apa?"

"Tak ada apa-apa. Hanya menanyakan mau titip apa dari Filipina. Aku mungkin harus menjemput mereka di bandara lusa." Jelas Kenki sembari menata dua bantal untuk menyangga punggungnya.

Mitsuya membalik halaman majalahnya. "Sekalian pulang ke Aichi?"

"Mungkin hanya dua hari. Micchi mau ikut?" Tawarnya.

Bibir Mitsuya mengerucut dan kepalanya dimiringkan. "Lihat nanti ya. Aku belum tahu kapten mau mengadakan latihan akhir minggu atau tidak. Tapi sudah lama aku tidak bertemu paman dan bibi ya."

Kenki tersenyum. "Yang terakhir Natal tahun kemarin ya?" Tangannya menjangkau cangkir kopi dan menyesap sedikit. Mitsuya mengangguk. Majalahnya ditutup dan disingkirkan lalu beringsut mendekat pada tunangannya. Kepalanya disandarkan ke bahu Kenki sementara tangannya mengelus dada dan perut kekasihnya. Kenki merangkul pundak Mitsuya dan mengecup keningnya dengan lembut.

Mitsuya mengangkat wajahnya, menatap Kenki dengan matanya yang besar dan berbinar, yang perlahan meredup saat Kenki menunduk mencari bibirnya. Satu kecupan lembut cukup untuk membuatnya mendesah dan merasa begitu nyaman.

"Sepertinya akan hujan semalaman ya." Gumamnya tak jelas sambil merebahkan kepalanya di bahu Kenki lagi.

"Sepertinya." Sahut Kenki sambil menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga tunangannya. "Sudah memikirkan dekorasi untuk pernikahannya Inoue-kun?"

Mitsuya meringis. "Sudah sih. Tapi aku tak tahu apakah Masahiro-kun akan suka atau tidak. Meskipun dia bilang pendapatnya tak terlalu penting. Yang penting, katanya, aku tak boleh membuat Matsuzaka-sensei merengut sedikitpun sekaligus meyakinkannya kalau apapun yang kulakukan adalah perlu. Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya." Pemuda itu tertawa geli.

Kenki mengelus punggung Mitsuya. "Aku dengar gosip kalau Matsuzaka-sensei itu baik sekali orangnya. Mungkin maksudnya karena terlalu baik itu dia jadi bersikap tak ingin merepotkan atau terlalu segan. Hehehe mirip Micchi ya." Dia kemudian mengaduh karena dadanya dipukul dengan keras oleh Mitsuya.

"Kugigit nih." Ancam pemuda cantik itu, memamerkan deretan putih giginya.

Kenki tertawa dan menyentuhkan pinggiran cangkir kopi yang masih dipegangnya ke hidung Mitsuya. Pemuda itu memekik protes. "Mou~" sungutnya sambil menggosok ujung hidungnya yang terasa panas.

Tunangannya tergelak dan Mitsuya tak bisa melanjutkan protesnya karena Kenki mengecup hidungnya dengan lembut. "Tapi aku heran, kenapa Inoue-kun tidak memintamu membantu mengurus baju pernikahan mereka ya? Kurasa Micchi lebih pantas untuk itu."

Mitsuya mendengus. "Sainei-san sepertinya memperlihatkan foto beberapa ruangan yang kudekor ulang. Lagipula, mereka sudah memesan baju di Blossam loh! Pasti hasilnya luar biasa! Aku iri deh. Kapan ya, bisa beli baju di Blossam?"

"Kenapa memangnya?"

"Kenki tidak tahu? Blossam itu merk terkenal loh! Dan mahal sekali. Aku tak tahu mereka membuat pakaian untuk pernikahan juga tapi sepertinya koneksi Inoue-kun membuatnya jadi mungkin." Pemuda itu mendesah. "Iri deh."

Kenki manggut-manggut. "Kalau begitu, kita harus menabung lebih banyak ya."

Satu alis Mitsuya yang tertata rapi terangkat.

"Supaya Micchi bisa pakai baju dari Blossam kalau kita menikah nanti."

Sontak, semburat merah menjalar mulai dari telinga hingga ke leher Mitsuya. Pemuda itu menunduk. "Umh....yah...kalau....kalau dari sekarang kurasa memang bisa." Ungkapnya terbata.

Kenki meletakkan cangkirnya di atas meja agar bisa memeluk Mitsuya dengan dua tangannya. Diremasnya tubuh langsing itu dengan gemas. "Kenapa kalau aku menyebut-nyebut pernikahan, Micchi selalu tersipu-sipu begini?" Ujarnya geli.

"Malu, tahu! Aku kan masih SMU." Tukas Mitsuya, agak teredam karena wajahnya dibenamkan ke dada Kenki.

"Hmmm," Kenki menepuk-nepuk punggung Mitsuya. "Micchi harus membiasakan diri. Karena aku tak akan bosan menyebut-nyebut soal ini."

Mitsuya akhirnya mengangkat wajahnya, masih begitu merah dan terlihat manis sekali.

"Apa alasannya masih sama?" Tanya Mitsuya pelan, matanya menatap lurus-lurus ke dalam mata Kenki.

Kenki mengelus pipinya dengan buku jari. "Hmm?"

Mitsuya beringsut, sedikit memaksa Kenki untuk berbaring lebih rendah supaya ia bisa berbaring di atasnya. Tangannya diletakkan di atas dada Kenki dan digunakan untuk menumpu dagunya. "Dulu...Kenki bilang kalau Kenki tertarik karena mataku. Sekarang aku jadi berpikir apa alasan itu cukup untuk menikah dengan seseorang."

"Cukup kok." Sahut Kenki sambil tersenyum. Terdengar begitu mudah, seolah itu bukan jawaban yang harus dipikirkan masak-masak. Mitsuya memiringkan kepalanya, meringis.

"Sungguh?"

"Tak percaya padaku?"

"Maksudku bukan itu." Sahut Mitsuya. "Aku tahu tiap orang punya alasan masing-masing untuk... melangkah lebih jauh. Tapi aku tak pernah tahu kalau alasan sesederhana itu benar-benar bisa jadi dasar untuk menikah."

"Micchi mau aku memberi alasan apa?"
Mitsuya mengangkat bahu. "Entahlah."

Kenki mengelus helai lembut rambut Mitsuya. "Kamu tahu aku bukan orang yang suka berbasa-basi. Terutama denganmu. Tentu saja sekarang aku punya banyak alasan untuk menikahimu suatu hari nanti. Orang tua kita pun tak memaksa kita untuk bergerak cepat karena mereka sudah cukup senang dengan pertunangan kita dan kita masih muda. Aku bisa saja menahan diri dan memberikan kesempatan padamu untuk mengenal lebih banyak orang. Tapi aku tak mau. Kau tahu kenapa?"

Mitsuya mengedikkan bahunya. "Karena?"

Kenki tertawa. "Benar. Karena."

Mitsuya memutar kedua bola matanya. Kadang dia benci kalau Kenki menjawab begitu. Di saat seperti ini, dia tak ingin menebak-nebak.

"Sama sekali tak mau memberitahu aku alasannya?" Mitsuya menarik-narik kaus yang dikenakan Kenki.

Kenki tersenyum. Ditariknya kepala Mitsuya mendekat untuk mengecup keningnya. "Karena mata Micchi membuatku tak menoleh ke arah lain." Dikecupnya kedua kelopak mata Mitsuya lalu menatap ke dalam lautan gelap kecoklatan yang meskipun tak pernah dikatakan Kenki, selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

"Karena aku suka Micchi. Suka sekali."

-end-