Showing posts with label Mitsuya Ryou. Show all posts
Showing posts with label Mitsuya Ryou. Show all posts

Sunday, March 18, 2012

[fanfic] Wedding Series: The Vow

Cast: Inoue Masahiro, Matsuzaka Tori and friends
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I only owned the plot
Note: Utang gue lunas yessssssssssssss! Akhirnya bakappuru ini menikah juga *susut air mata haru*






Suasana rumah yang luar biasa besar layaknya istana itu begitu sibuk meskipun hari masih pagi sekali. Matahari bahkan belum benar-benar terbit di sebelah timur. Halaman belakang rumah yang sangat luas (lebih luas daripada halaman lain di rumah itu, tentu saja. Katakan saja ukurannya nyaris seukuran lapangan sepak bola) tampak berbeda dari biasanya. Ada sekitar 30 meja-meja bundar dengan masing-masing delapan kursi di sekelilingnya ditata rapi dengan taplak berwarna putih. Center pieces di tiap meja berupa rangkaian bola kristal dan lilin berwarna merah dan pink. Begitu juga serbet makan yang ditata bersama tumpukan piring, seperangkat alat makan dan gelas berbagai ukuran. Di dekat tiap gelas champagne tergeletak kartu nama kecil bertuliskan nama masing-masing tamu yang akan hadir. Di dekat area duduk itu sudah dipasang sebuah tenda yang menaungi tiga meja bundar lain. Bergeser sedikit ke kanan dari tenda itu, di dekat air terjun buatan, ada sebuah podium yang sedang diberikan sentuhan akhir. Dihiasi pita-pita, selendang, dan bunga bernuansa merah, pink dan putih.

Mitsuya sibuk mondar-mandir di halaman itu, memastikan semua dekorasi sudah terpasang dengan baik pada tempatnya, tenda tak akan roboh meskipun ada angin kencang (tidak akan terjadi, ia sudah mengecek laporan cuaca), microphone dan pengeras suara sedang dipasang dan ia harus melangkah hati-hati kalau tak ingin tersandung kabel yang masih bersliweran. Ia melirik arlojinya dan dengan bergegas masuk ke dalam bangunan utama melalui dapur besar yang jadi tempat paling sibuk di rumah itu. Setiap sudut dapur tertutup makanan yang sudah jadi maupun bahan-bahan yang siap diolah. Takki sedang mencicipi saus sementara Jin sedang mengawasi laporan jumlah perangkat makan yang harus disiapkan.

“Hiramaki-san, yang di luar sudah beres? Masih perlu lagi yang lain?” Tanya Mitsuya sambil mendekati Jin.

Jin mengangguk, “Aku sempat melihat tadi tapi akan kucek sebentar lagi. Mitsuya-kun sudah sarapan?”

“Ah, mana bisa aku memikirkan sarapan di saat seperti ini?” keluh Mitsuya, ikut melirik daftar di tangan Jin.

“Tak boleh begitu. Sainei-san sudah mengundang kita untuk sarapan sama-sama di ruang makan loh. Makanlah. Setelah itu masih harus mengecek ruang tatami kan? Nanti kalau kau pingsan, Sainei-san bisa marah sekali karena kau mengacaukan pesta pernikahan adiknya.” Tegur Takki yang ikut menimpali. Kedua tangannya memegang nampan berisi omelet yang tampak lembut menggoda.

Mitsuya mendesah. Kenki juga sudah berpesan kalau dia tak boleh sampai lupa makan dan harus istirahat dengan cukup begitu Mitsuya pamitan untuk menginap di rumah Keigo dua hari yang lalu. Ia harus pindah markas dari apartemen Tori ke rumah Keigo karena perlengkapan dekorasi yang dipesannya sudah berdatangan dan harus mulai dipasang. Ia sama sekali tak menyangka akan bisa menginap di rumah idolanya itu. Senangnya luar biasa apalagi dia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk pernikahan Masahiro dan Tori. Mendesah sekali lagi, Mitsuya pun mengikuti Takki ke ruang makan.

Di ruang makan sudah ada Kubota, Sainei, Takuya, Kei dan Tsune yang melambaikan tangan agar Mitsuya duduk di sebelahnya. Mitsuya pun tersipu saat Tsune menuangkan kopi untuknya dan mengucapkan terima kasih dengan malu-malu. Tsune balas tersenyum.

“Apa yang lainnya belum bangun?” Tanya Mitsuya sambil mengambil omelet dan potongan bacon.

“Ibuku sebentar lagi turun. Kazuki sedang mengecek apakah Masahiro sudah bangun. Kau hanya makan itu?” Kubota mengulurkan piring saji berisi potongan sosis gemuk ke arahnya. “Nih, tambah lagi. Kita semua akan perlu energi banyak hari ini.”

“Masakannya enak sekali, Takiguchi-san.” Tsune berkomentar sambil mengelap mulutnya dan menyesap kopi.

Takki tersenyum lebar. “Terima kasih. Ini semua yang buat Jin, kok.” Dan seperti diberi tanda, Jin pun muncul dari dapur sambil membawa seteko kopi lagi dan duduk di sebelah Takki. Ia pun tersenyum lebar begitu Tsune mengulangi komentarnya. “Ah, ini hanya sarapan biasa. Tapi kalau tak keberatan untuk menyicipinya lagi, silakan datang ke tokoku kapan saja.”

“Oi, oi. Kenapa kau malah promosi.”

“Ah, tidak boleh ya?”

Tawa semua orang meledak. Sainei menyela, “Tentu saja. Beri tahu saja alamatnya. Kapan-kapan mungkin aku akan mampir dengan teman wanitaku.”

Kubota, Tsune, Takki dan Mitsuya memutar mata dan Sainei pun langsung protes, “Apa?”

Jin tertawa renyah, “Silakan datang kapan saja.”

Kazuki turun sambil menggandeng lengan ibunya dan menarikkan kursi di ujung meja untuk wanita itu. Maya tersenyum lembut pada anak-anak dan tamu-tamunya. Wanita itu masih mengenakan mantel kamar tapi rambutnya sudah tergelung rapi membentuk sanggul kecil di tengkuk. Kubota menawarinya kopi tapi ibunya lebih memilih teh.

“Masahiro sudah bangun?” Tanya Sainei sambil mengangsurkan sandwich pada kakak keduanya.

Kazuki mengangguk. “Sedang berusaha menelepon Matsuzaka yang sepertinya menolak untuk mengangkat telepon. Kimito sedang memitingnya karena tak mau diam dan duduk tenang. Mungkin sebaiknya sarapannya dibawakan saja ke kamar.” Ujarnya pada kepala pelayan mereka.

Tsune menggeleng. “Biar aku saja. Aku sudah mau selesai, kok. Ini salah satu tugas pendamping pria juga kan?”

Maya tersenyum, “Mungkin sebaiknya begitu. Sekalian saja siap-siap ya, Tsunekki?”

“Tentu saja, Bibi.” Jawabnya sambil menjejalkan secangkir kopi dan sepotong sandwich ke tangan Mitsuya yang sudah hendak bergegas karena diberi tahu seorang pelayan bahwa ia dibutuhkan di ruang upacara. Tsune pun menyelesaikan sarapannya dan menghilang ke dapur. Tak lama ia naik ke lantai dua dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Masahiro.

*****
Sarapan pagi di apartemen itu sungguh sederhana. Sepoci kopi, sepoci teh, setumpuk roti panggang, beberapa botol selai, sepinggan poached egg. Semua orang berkumpul di meja makan mungil itu. Sorimachi duduk sambil merokok dan membaca koran, Yuki di sebelahnya menyesap teh yang dicampur sesendok selai, Takuma ngobrol dengan Shunsuke dan Tori yang sibuk meladeni Masaki yang nyaris tertidur lagi di atas roti panggang.

“Kita harus berangkat jam berapa?” Yuki akhirnya bertanya.

Takuma mengangkat wajah untuk melihat ke arah jam dinding. “Jam 8 harus sudah di sana. Kita masih punya banyak waktu kok. Sekarang kan masih jam setengah 6.”

“Bibi cemas ya?” ujar Shunsuke sambil menuangkan teh lagi ke cangkir Yuki.

Yuki mendesah. “Kau ini bicara apa? Aku ini sudah biasa dalam situasi tegang begini. Anggap saja ini seperti pembukaan cabang spa baru.”

“Haaaah? Nani soree?” Protes Tori. “Bisa-bisanya Ibu menyamakan pernikahanku dengan pembukaan cabang spa.”

“Habis mau bagaimana? Anggap saja begitu kalau tak mau terlalu gugup kan? Ne, Takashi-san?”

Sorimachi hanya terkekeh. Pria itu melipat korannya dan minta diulurkan roti panggang lagi. “Terserah padamu saja, Yuki. Toh, mereka sudah mempercayakan persiapannya pada orang-orang yang handal kan? Kita sih tinggal datang dan duduk saja.”

Tori merengut. “Enak saja bicara seperti itu. Yang mau menikah kan aku. Ayah dan Ibu tak tahu seperti apa stresnya.”

“Hei!” tegur Yuki seraya menepuk punggung tangan Tori. “Aku ini juga pernah berada di posisimu, tahu. Kau tak bisa tidur kan semalam? Aku pun begitu dulu.”

Shunsuke mengintip wajah temannya itu dan terkesiap melihat kantung mata Tori. “Aaah, ikenai, ikenai.” Lalu bangkit membuka kulkas dan memotong ketimun segar. Digeretnya Tori ke sofa dan memaksaya berbaring diiringi protes keras Tori saat Shunsuke meletakkan potongan timun di atas kedua matanya.

“Diam. Jangan bergerak.” Ancam Shunsuke sampai Tori akhirnya menurut.

Masaki mengangkat kepalanya dari atas meja, “Aku tak boleh tidur lagi saja, ya? Ini masih pagi sekaliiiii.”

Takuma menepuk-nepuk kepala Masaki dengan sayang, “Dame. Kecuali Suda mau berangkat sendiri ke rumah Inoue-kun nanti siang dan melewatkan upacara pernikahannya Matsuzaka.”

Bibir Masaki merengut maju. “Bhu, tak mauuuu.”

“Kalau begitu, nih minum susumu dan habiskan sarapanmu ya. Nanti kan di sana ada Yuuki juga. Suda tak akan kesepian.”

Wajah Masaki langsung berbinar cerah dan dalam sekejab, anak itu pun terlihat segar. “Asyik, asyik! Ada Yuuki-chan! Ada Yuta-chan juga kan? Nanti kami boleh main sendiri kan, Papa?”

Tori mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda persetujuan. Ia benar-benar tak bisa bergerak kalau tak mau dipelototi Shunsuke. Sampai tengah malam ia tak bisa tidur dan memandang iri pada Masaki yang sudah mendengkur pelan. Ia akhirnya keluar untuk membuat segelas susu hangat dan menemukan Takuma dan Shunsuke yang masih ngobrol di ruang tamu. Kedua pria itu pun menyambutnya hangat dan Takuma membuatkannya segelas susu hangat yang dicampur brandy. Mereka ngobrol beberapa lama sampai Tori akhirnya benar-benar mengantuk. Itu pun tidurnya tak nyenyak karena kerap terbangun.

Ia bersyukur karena dua gelas kopi sudah berhasil membuatnya merasa sedikit lebih terjaga. Rasa dingin ketimun yang saat ini menutupi kedua matanya pun cukup matanya yang tadinya terasa begitu berat jadi lebih ringan dan segar. Tori mendesah pelan. Entah untuk keberapa kalinya sejak kemarin. Ia bersyukur ada Takuma dan Shunsuke di dekatnya, kalau tidak, mungkin ia sudah jadi gila. Takuma pun mengijinkannya mengkonsumsi banyak makanan manis supaya ia lebih tenang dan tak terus-terusan senewen.

Tori merasa sesuatu yang empuk dan hangat dijejalkan dalam genggamannya, disusul suara Takuma. “Inoue-kun menelepon terus sejak tadi, loh. Tidak kau angkat?”

Tori membawa benda dalam tangannya yang ternyata roti panggang ke mulutnya dan mulai mengunyah dengan mata tetap tertutup. Ia mendengus, “Biar saja. Paling hanya mau mengomel atau merajuk. Aku sedang ingin panik sendiri saja saat ini tanpa perlu pusing mengurusinya yang panik juga.”

Takuma terkekeh pelan dan menepuk pelan lengan atas Tori. “Setengah jam lagi kita siap-siap, ya.”

Tori mengeluarkan suara tanda setuju karena sedang sibuk mengunyah rotinya.

*****

“Kenapa sih dia tak mau angkat telepon? Masa belum bangun? Aku saja tak bisa tidur. Toriiiii, angkat teleponnyaaaa!” Masahiro kembali bersungut-sungut seraya menekan ulang nomor telepon Tori mungkin untuk keseratus kalinya pagi itu sejak ia benar-benar bangun.

Kimito mendesah dan merampas handphone Masahiro dengan kasar lalu memukul kepala temannya itu. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Di sana kan juga sedang sibuk. Mungkin Matsuzaka-sensei tak sempat angkat telepon. Daripada itu, mandi sana! Jangan sampai aku harus menendangmu ke kamar mandi ya.”

Bukannya mendengarkan temannya, Masahiro malah mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. “Apa jangan-jangan dia berubah pikiran? Apa benar begitu? Mungkin saja kan? Tiba-tiba dia takut lalu pergi entah ke mana dengan Shunsuke sialan itu. Aaaaargh! Seharusnya aku memaksa mereka menginap di sini saja semalam. Kenapa sih pakai acara tak boleh bertemu sebelum hari-H segala? Kalau dia benar-benar berubah pikiran, bagaimana ini?” Secepat kilat Masahiro menggenggam keras kemeja yang dikenakan Kimito dan mengguncang-guncang tubuh temannya itu, “Kimito! Cari tahu! Cari tahu Tori pergi ke mana. Kita harus cepat! Dia tak boleh berubah pikiran! Kimito, kau dengar aku?”

Sebuah kepalan keras mendarat di kepala Masahiro. Begitu kerasnya hingga pemuda jangkung itu terhuyung mundur. Matanya mengerjap bingung lalu jatuh terduduk di atas tempat tidurnya. Kimito mendengus kesal seraya meniup kepalan tangannya.

“Sudah bangun? Sekarang mandi! Kau perlu mendinginkan kepalamu!” Kimito menunjuk ke arah kamar mandi dengan tegas. Masahiro, yang masih agak pusing dan bingung, mengangguk dan menyeret tubuhnya dengan patuh.

Kimito memastikan Masahiro masuk ke kamar mandi dan begitu mendengar suara air mengalir dari shower, ia mendesah dan merutuki dirinya sendiri kenapa mau-maunya terlibat dengan orang merepotkan macam itu. Sepertinya ia memang kena kutuk. Setengah kesal, ia menelepon Ryouta yang untungnya sudah bangun dan berkata kalau cake-nya sudah masuk oven dan sebentar lagi matang. Sebenarnya Kimito lebih ingin nongkrong di toko Ryouta saja dan memperhatikannya membuat kue pengantin pesanan Masahiro dan Tori tapi dia kan pendamping pria. Bisa diamuk orang banyak kalau ia menghilang di saat penting begini.

Benar-benar kena kutuk, deh. Ryouta menertawainya dan menyuruhnya mulai bersiap-siap juga dan mendoakan semoga upacaranya lancar karena Ryouta baru akan datang menjelang resepsi siang nanti. Kimito mengangguk setuju, menutup teleponnya dan memperhatikan tiga helai kimono hitam yang terpajang berjejer di salah satu sisi dinding kamar Masahiro. Milik Masahiro berwarna hitam sementara miliknya dan Tsune biru tua.

Sementara itu di kamar mandi, Masahiro berdiri terpaku di bawah kucuran air dingin yang mengalir dari shower. Ia merutuki Kimito yang berani-beraninya memukul kepalanya keras sekali. Dengan kesal dirabanya kepalanya yang masih terasa nyeri. Ia tak heran kalau benjol. “Tsk,” keluhnya kesal.

Pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar merasa gugup dan resah. Seminggu berpisah dengan Tori dan begitu tiba kemarin pagi pun ia masih belum bisa menemui pacarnya itu. Tori hanya menelepon begitu Masahiro mendarat di Narita dan sebelum ia pergi tidur malamnya. Itu pun tak bisa ngobrol lama karena masih banyak yang harus diurus dan mereka berkali-kali diganggu siapa saja yang mendadak punya hal untuk ditanyakan pada mereka. Masahiro tak bisa berhenti menggerutu sejak kemarin sore. Biasanya kalau ia sudah begitu, tak aka nada yang berani mendekat tapi kali ini semua orang seolah tak mau peduli kalau ia BUTUH bertemu atau setidaknya bicara dengan Tori. Tapi calon suaminya itu pun seolah tak peduli dengan tak mengangkat teleponnya sama sekali. SMS pun hanya dibalas sekali

Jangan bodoh, Masahiro.

Begitu saja. Apa maksudnya sih? Dia kan butuh ditenangkan dan bukannya dikata-katai seperti itu. Dia juga tahu Tori pasti juga sedang tak tenang tapi kan saat-saat seperti ini seharusnya mereka saling mendukung kan? Bukannya malah mengacuhkan kan? Iya, kan?

“Masahiro, hentikan lamunan tololmu dan keluar dari situ sekarang juga. Kau harus sarapan dan siap-siap.”

Kali ini suara kakak sepupunya terdengar dari balik pintu. Masahiro mendengus kesal. “Hai!” serunya.

*****

Tori berdiri tegak di depan cermin panjang di dalam kamarnya sementara ayahnya bergerak di sekelilingnya, membantunya mengenakan kimono dan hakama resminya. Tadinya Shunsuke yang akan membantunya tapi Sorimachi muncul di pintu dan mengatakan kalau ia yang akan melakukannya. Shunsuke pun menghilang dengan senang hati dan pergi membantu Masaki dan Takuma. Sorimachi berkerja dengan cekatan; menarik, mengikat dengan kencang, merapikan dan menyesuaikan dengan cermat hingga semua garis dan lipatan berada di tempat yang benar.

Terakhir dielusnya di punggung anak laki-laki satu-satunya itu dan berdiri di belakang Tori untuk memandang pantulan mereka di dalam cermin. Tori tersenyum dan Sorimachi pun balas tersenyum.

“Gugup?” tanyanya, merapikan sekali lagi lengan kimono Tori.

Tori tertawa pelan. Sorimachi nyengir lebar. “Kau akan baik-baik saja.”

“Kuharap juga begitu.”

Sorimachi tersenyum kecil lalu menepuk pundak Tori dengan mantab. “Kau akan baik-baik saja.” Ulangnya. Lebih pelan dan lebih jelas.

Tori memandang ayahnya selama beberapa saat lalu mengangguk. “Arigatou, Tou-san.”

*****

“Coba lihat sini,” Maya menangkupkan kedua telapak tangannya di masing-masing pipi Masahiro yang sudah tak terlalu bulat. Seminggu bersama anak bungsunya itu bahkan tak akan cukup untuk membuat Maya merasa bosan memandang wajah pemuda itu. Masahiro terlihat tampan dengan rambut yang ditata rapi ke belakang. Kimono dan hakama hitamnya tampak begitu pas dan serasi. Anak itu sudah bukan anak kecil lagi tapi Maya merasa sifat manja dan seenaknya Masahiro tak akan pernah hilang.

Masahiro merasa sedikit salah tingkah diperhatikan begitu rupa oleh ibunya dalam jarak sedekat itu. Meskipun seminggu terakhir sudah membuatnya jauh lebih dekat dengan ibunya, tetap saja ditatap dengan mata berkaca-kaca dan desahan panjang seperti itu membuatnya salah tingkah. “Kaa-san, sudah dong.” Ujarnya sambil melirik ke arah Tsune dan Kimito yang sibuk menyembunyikan cengiran dan kikik geli di balik lengan masing-masing.

“Kaa-saaaaaaan,” Masahiro mendesis. Pipinya sudah berubah merah sekali dan Maya menepuk pipinya pelan.

“Ingat ya, mulai saat ini kau sudah bukan anak kecil lagi. Jangan merepotkan Tori-san.” Maya berpesan dengan tegas. “Kau harus bisa mendukungnya dan jangan terlalu banyak mengeluh.”

“Iyaaaaa, aku tahu.”

“Inoue Masahiro, dengarkan aku.”

“Hai.”

Maya mengusap pipi anak bungsunya itu lalu tersenyum lembut dan berjinjit untuk mengecup kening Masahiro. “Ibu tahu kau anak baik.”

“Hai,” Masahiro memeluk ibunya. “Arigatou, Kaa-san.”

*****

Ruangan bergaya jepang itu ditata rapi. Dua buah pembatas berwarna putih bergaris tepi emas diletakkan di tengah dan di sebelah kiri di bagian depan. Di depan tiap pembatas ada alas duduk berwarna putih bersulam emas dan di depannya lagi ada sebuah nampan kayu hias mewah berisi tumpukan cangkir dan cawan sake dihias kertas upacara. Masahiro duduk di tengah sementara Tori di sebelah kirinya.

Tori melirik ke jejeran keluarganya dan keluarga Masahiro, juga teman-teman dekat mereka. Hanya ada sedikit orang yang hadir di upacara itu. Semuanya mengenakan kimono dan hakama resmi. Para pelayan yang meladeni tamu yang hadir pagi itu pun mengenakan kimono. Ibunya berulang kali mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, begitu juga ibu Masahiro. Ayahnya tersenyum dan Kazuki tampak tegang.

Seorang pelayan wanita mengenakan kimono maju dan menuangkan sake untuk mereka. Tiga kali di tiap cangkir dan mereka berdua menghabiskannya dalam tiga tegukan. Tangan Masahiro sedikit bergetar dan ia melirik ke arah Tori yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya. Tori tersenyum padanya dan untuk pertama kalinya hari itu, Masahiro merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia balas tersenyum.

“Baka ne,” bisik Tsune pada Takuma yang duduk di sebelahnya. Takuma menggigit bibir sekuat tenaga agar tak tertawa sementara Shunsuke dan Kimito nyengir lebar.

*****

Menjelang makan siang, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Keisuke datang bersama adiknya yang sombong. Kenki datang bersama Yuuki dan Yuta. Ia langsung mencari Mitsuya yang sedang sibuk memastikan sentuhan akhir dekorasi terpasang dengan benar sementara Yuuki dan Yuta langsung sibuk berkeliaran dengan Masaki. Tsune mengantarkan Tomoru dan dua temannya ke tempat duduk mereka. Yuta datang bersama dua anaknya dan Shunsuke menemani mereka sebentar sebelum menghilang untuk ganti pakaian. Yuzawa-san dan dua anak buahnya sudah sibuk mondar-mandir dengan kamera di tangan masing-masing. Intensitas kerja di dapur meninggi. Takki dan Jin sibuk memberi pengarahan pada para pelayan dan mengingatkan pengaturan keluarnya makanan dan pengawasan ketersediaan minuman dan makanan kecil. Ryouta mendorong kue pengantin tingkat tiga dengan hati-hati ke dekat salah satu meja di bawah tenda, tak lupa memukul Kimito yang hendak mencolek krim penghias kue. Musik pun sudah mulai dimainkan oleh kelompok kecil orkestra yang didatangkan khusus dari Italia oleh Kazuki.

Tori memandang semua kesibukan itu dari jendela kamar tamu di lantai dua sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya. Ia bisa mengenali keluarga ayah dan ibunya, kolega-koleganya di rumah sakit dan beberapa teman kuliahnya di antara orang-orang yang mulai menempati tempat duduk mereka di bawah sana. Satu upacara selesai, tinggal satu lagi untuk dilewati dan dia akan merasa lega. Mungkin.

Masahiro masih tak terima kenapa Tori harus ditempatkan di kamar terpisah kalau hanya untuk ganti pakaian saja. Tori memijat keningnya yang kembali terasa pusing dan akhirnya menyerah lalu memeluk dan mencium suaminya itu dengan sayang. Masahiro pun akhirnya terdiam, menatap Tori yang hanya tersenyum dan mencubit hidungnya dengan gemas sementara orang-orang yang kebetulan ada di sekitar mereka geleng-geleng kepala.

Yuzawa-san menyelinap masuk untuk mengambil beberapa foto dirinya beserta Takuma dan Shunsuke yang tengah berganti pakaian dan ia mengatakan kalau Tori terlihat tampan lalu menghilang untuk memotret Masahiro. Takuma membantunya mengenakan jas panjangnya dan mengancingkannya mulai dari leher hingga kancing terakhir di bagian dekat pusar. Tori masih mengagumi jas itu. Modelnya seperti jas resmi angkatan laut; dengan kerah tegak dan panjang jasnya mencapai lutut Tori. Warnanya hitam dengan sulaman benang merah berkilau di bagian kerah dan sepanjang tepi bagian depan juga ujung lengan. Celananya hitam polos agar tak terlalu mencolok. Shunsuke melipat rapi sebuah sapu tangan berwarna merah dan menyelipkannya ke saku dada jas Tori. Ikat pinggangnya berupa kain merah yang disimpul rapi di bagian samping. Rambutnya dijalin rapi di sebelah kiri dan ditahan dengan jepit rambut tersembunyi.

“Siap?” Tanya Shunsuke sambil menepuk pundak Tori.

Tori menarik nafas panjang, menatap kedua sahabatnya yang juga terlihat luar biasa tampan dalam balutan jas panjang ala Inggris dan menggamit masing-masing lengan mereka. “Siap.”

*****

“Tamunya sudah datang semua?” Masahiro bertanya sambil mengangkat dagu agar Tsune bisa menyimpulkan syal satin berwarna magenta di sekeliling leher Masahiro dengan mudah.

Tsune mengangkat bahu, “Entahlah. Seharusnya sih, kalau ditebak dari suaranya.”

Masahiro mendesah, merentangkan tangan agar Tsune bisa membantunya mengenakan rompi-nya yang juga terbuat dari satin berwarna senada dengan syalnya. “Hhhhh, kenapa sih menikah itu repot sekali?”

“Memangnya siapa yang suruh kau menikah?” Tsune tertawa, mengancingkan rompi itu dengan rapi lalu beralih mengambil kemeja Masahiro yang berwarna putih. Ukurannya begitu pas di tubuhnya dan jatuh dengan sempurna. Tsune mengaitkan sebuah rantai emas kecil di antara dua lubang kancing jas Masahiro dan menepuk-nepuknya seolah memastikan sudah terpasang dengan sempurna dan tak akan lepas.

“Aku yang mau, kok.”

Tsune menyentik kening Masahiro. “There. Don’t complain too much.”

Masahiro memutar matanya dan memukul lengan atas Tsune. Diliriknya sekali lagi bayangannya di cermin dan mengangguk puas. “Okay.”

Tsune tersenyum lebar.

*****

Tori nyaris tak bisa bernafas saat melihat Masahiro berdiri di atas podium, menunggu dirinya yang berjalan ke arah Masahiro, menggamit lengan ayahnya dengan sedikit lebih erat. The Wedding March mengiringi langkahnya, juga pandangan kagum bercampur haru dari tamu-tamu. Sungguh, Masahiro tampan sekali dan Tori tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya saat Masahiro menoleh, melihatnya dan tersenyum lebar. Tatapan matanya begitu ceria dan seolah puas dan bangga melihat Tori.

“Halo,” sapa Masahiro begitu Tori sudah berdiri di sampingnya.

Tori nyaris tertawa, “Halo.”

“Maaf kalau terlalu blak-blakan, tapi Anda tampan sekali dan aku suka sekali. Maukah pergi bersamaku ke suatu tempat sekarang juga?”

Tori mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku baru saja menikah dan akan mengucapkan janji setia sebentar lagi. Aku tak ingin membuat suamiku khawatir.”

“Oh. Sayang sekali. Dia laki-laki yang beruntung.” Ujar Masahiro dengan cengiran begitu lebar.

Tori tersenyum miring. “Begitulah.”

Mereka berdiri berhadapan saat pendeta memberikan sambutan dan saling menggenggam tangan masing-masing. Masahiro menarik nafas saat tiba gilirannya untuk mengucapkan sumpah setia. Ia sudah menghafalkannya semalam suntuk dan berdoa semoga ia tak lupa dan mengacaukan semuanya. Tori tersenyum dan mengangkat alisnya dengan menggoda. Masahiro merengut sekilas namun kedua matanya kembali menatap lurus-lurus ke arah Tori.

“Aku berjanji….” Ia berhenti sejenak, kembali menarik nafas panjang dan Tori meremas tangannya memberi dukungan, “Aku berjanji akan selalu mencintai Tori, akan selalu menjaga Tori, akan selalu memberi yang terbaik untuk Tori, akan selalu membuat Tori bahagia, akan berusaha memaafkan kesalahan Tori, akan mencoba mengerti banyak hal tentang Tori yang masih tak kumengerti. Aku berjanji akan berusaha tidak mengulang kebodohan yang pernah kulakukan dan menyakiti Tori, akan menghormati dan menyanyangi Tori. Aku berjanji akan terus ada di samping Tori dan tak akan pernah bosan…. Because you are my eternity.”

Tori tersenyum lebar, karena meskipun janji itu terdengar sedikit aneh dan terlalu apa adanya, Tori sungguh tersentuh. Masahiro nyengir puas lalu merengut karena terdengar kikik tertahan dari arah parah tamu dan Tori pun ikut tertawa. Ia kemudian berdeham, karena ini gilirannya. Tori menggigit bibir sekilas.

“Ma-kun adalah anomali dalam hidupku.” Tori memulai dan semua orang mengangkat alis termasuk Masahiro. Tori melanjutkan, “Kamu datang di saat aku sudah berkeputusan tak akan membuka hatiku lagi untuk orang lain. Tanpa tahu apa-apa, tanpa bertanya, tanpa menyerah, dan juga tanpa malu-malu, kamu memaksa masuk. Anak kecil yang manja, seenaknya dan tak pernah peduli pendapatku.” Masahiro tampak tak senang dan sudah siap membuka mulut hendak protes namun Tori masih menatap lurus ke arahnya. “Selalu membuatku kesal, marah dan khawatir. Kadang menyebalkan karena suka memaksa. Dan aku terlalu sibuk bertahan dan menjaga agar hatiku tidak terbuka dan terluka tapi entah bagaimana, kamu berhasil meyakinkanku. Dan aku sungguh berterima kasih karena kamu datang dalam hidupku. Terima kasih untuk mau mencintaiku. Dan terima kasih karena kamu tidak menyerah. Karena itu mulai dari sekarang, aku pun tidak akan menyerah dan kalah mencintai Masahiro.”


-end-

Saturday, February 18, 2012

[fanfic] Kitchen

Cast: Jinnai Sho, Mitsuya Ryou, Ueda Yuusuke
Rating: G
Warning: AU, OOC, implied BL
Disclaimer: I do not own anything
Note: percakapan random karena saya tak ada kerjaan di hari hujan ini.


Hari masih pagi ketika Yuusuke tiba di depan sebuah kedai sake. Jalanan di depannya pun masih sepi. Hanya tampak satu-dua orang yang sedang bebersih di depan toko milik mereka. Kedai yang menjual bento sudah ramai sejak pagi buta tapi Yuusuke tak berniat mampir ke situ. Dicobanya untuk membuka pintu kedai sake yang masih tertutup - norennya pun belum dipasang karena belum waktunya buka - sambil berujar, "Gomen kudasai."

Bagian dalam kedai itu pun masih lengang dan lampu di bagian tempat makan belum dinyalakan. Kursi-kursi masih terletak terbalik di atas meja-meja. Ada dua buah panci besar bertengger di atas kompor yang menyala. Asap tipis menguarkan wangi yang diterjemahkan otak Yuusuke sebagai sup dan rebusan sayuran. Beberapa bahan makanan lain teronggok di sebuah meja.

Yuusuke mencoba lagi, "Gomen kudasai," dan tersenyum saat mendengar ada jawaban. Kepala Jinnai menyembul dari balik pintu di bagian belakang dapur. "Ah, Ue-chan! Sudah datang ya."

Yuusuke mengangkat tangannya, "Yo."

"Taruh saja bawaanmu di atas. Aku buang sampah dulu."

Yuusuke menurut dan menapaki tangga mungil yang terletak di sebelah kiri dapur. Jaket dan tasnya diletakkan di dekat meja di ruang duduk mungil di lantai dua. Sekilas ia mengintip ke arah sebuah pintu yang setengah terbuka. Seorang pria setengah baya sedang tertidur pulas dan Yuusuke tak berniat mengganggu maka ia pun turun lagi.

Sambil menggulung lengan bajunya, Yuusuke mencari celemek dan mulai memilah-milah sayuran di atas meja. Jinnai kembali tak lama kemudian, mencuci tangan dan bergabung untuk memberi petunjuk pada Yuusuke apa yang harus dilakukan.

Jinnai sedang menghitung persediaan sake dan minuman lainnya ketika didengarnya Yuusuke bertanya, "Pacarmu yang manis itu ke mana?"

Jinnai tertawa. "Hari ini dia sibuk di kampus katanya. Ada perayaan atau apa begitu. Nanti sih katanya mau datang dengan teman-temannya."

Yuusuke mengangguk-angguk sementara tangannya terus bekerja memotong-motong sayuran. "Kupikir dia akan datang dan membantumu. Biasanya begitu kan?"

"Yah, hidupnya kan tidak berputar di sekitarku saja." Jinnai mengedikkan bahu.

"Tapi tampaknya seperti itu loh." Potong Yuusuke sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya merepotkan tapi kau senang kan?"

"Dou deshou ka," sahut Jinnai namun ia tak bisa menahan cengiran yang muncul. Yuusuke tertawa.

"Ii jyan?"

"Maa ne."

Kedua laki-laki itu tertawa lagi. Saat itu pintu kedai terbuka dan terdengar suara berat yang familiar di telinga Jinnai, "Ojamashima- eh, Ue-chan? Ue-chan da! Hisashiburiiiii!"

"Mitsuya-kun!" Yuusuke pun buru-buru berdiri namun Mitsuya sudah menghampirinya dengan langkah cepat dan menepuk2 pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.

"Eh? Eh? Sudah lama sekali ya. Sedang apa di sini? Memangnya tidak buka toko? Wah, kau tambah tampan ya? Sho-chan, Ue-chan loh!"

"Hisashiburi, Mitsuya-kun. Yappari masih tetap semangat seperti dulu ya." Yuusuke menyalaminya sambil tertawa. "Aku diminta Sho-chan bantu-bantu. Kebetulan aku tak ada pekerjaan karena toko sedang direnovasi."

Tanpa basa-basi lagi, Mitsuya melepas mantelnya dan menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di dekat Yuusuke. "Eh? Paman sakit? Atau sedang pergi?"

Jinnai menghampiri mereka dan meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan kedua temannya itu. "Sakit pinggangnya kumat. Aku tak bisa buka toko sendirian di hari sabtu seperti ini."

"Ah, sou? Boleh kujenguk? Sebentar ya, Ue-chan!" Dan Mitsuya pun langsung melesat ke lantai dua, meninggalkan Jinnai yang geleng-geleng kepala dan Yuusuke yang menahan tawa.

"Dia sudah berubah ya?" Komentar Yuusuke sambil menyesap tehnya.

"Apanya?" Jinnai menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sama saja, kok. Masih saja cengeng dan gampang naik darah."

"Tapi aku senang loh, kalian sudah berhenti berkelahi."

"Berkelahi itu kan bukan mau kami, loh. Orang-orang saja yang terus-terusan mencari. Lagipula, tak bisa seperti itu seumur hidup kan? Lagipula, itu kan sudah lama sekali, Ue-chan. Tak usah diungkit lagi." Tukas Jinnai seraya mengibaskan tangan.

Yuusuke mengangguk-angguk. "Tak menyangka saja dia akan menikah lebih dulu dan... berapa anaknya sekarang?"

"Hmm... Empat?"

"Sugoi~" Yuusuke tertawa.

Jinnai pun terkekeh. "Begitulah. Lagaknya saja marah-marah tapi sebenarnya suka sekali kok."

"Kau juga lega karena tak harus menjaganya terus kan?" Yuusuke mengangkat alis.

"Haaah?" Jinnai menuding temannya dengan sebilah pisau. "Dengar ya, saling menjaga itu insting untuk bertahan hidup, tahu. Sama sekali tak ada unsur romantisnya."

Yuusuke menepis tangan Jinnai dengan tenang. "Aku juga tak bilang begitu, kok. Maksudku, hidupmu jadi lebih tenang kan?"

Jinnai memiringkan kepala, "Yah, dibilang lebih tenang sih..."

"Ah, tidak juga ya." Yuusuke tertawa lagi.

"Sou."

Mitsuya kembali bergabung dengan dua teman lamanya itu tak lama kemudian. "Paman sempat bangun sebentar tadi, tapi sudah tidur lagi." Ujarnya sambil menduduki kursinya lagi dan menjangkau seikat sawi putih.

Jinnai mengangguk lalu mengangkat alis. "Sedang apa?"

Mitsuya balas mengangkat alis. "Aku sedang tak ada kerjaan jadi ikut bantu tak apa kan? Toh, sudah lama tidak bertemu Ue-chan. Ne?" Ujarnya sambil mengangguk pada Yuusuke.

Jinnai memukul bagian belakang kepala Mitsuya dengan kesal dan membuat Mitsuya mengaduh keras dan balas memukul lengan Jinnai. "Apa sih tujuanmu kemari? Kau kan tahu kedai tak akan buka sampai jam 7 malam."

Mitsuya mengerjap. "Ah! Sou!" Dia menepuk tangan seolah baru ingat akan tujuannya mendatangi kedai itu pagi-pagi. "Tak ada apa-apa sih. Hehehe."

"Hah?" Tangan Jinnai sudah terangkat hendak memukul Mitsuya lagi namun temannya yang cantik itu merengut.

"Habis, Kenki sedang dinas ke luar kota. Anak-anak juga sedang study tour ke Osaka. Mereka tak akan pulang sampai lusa. Aku tak ada kerjaan nih." Keluhnya.

Jinnai menghela nafas. Yuusuke tersenyum lebar. "Tak apa kan, Sho-chan. Semakin banyak yang membantu kan enak. Kau jadi punya waktu memperhatikan paman juga."

"Ya sudah." Jinnai melengos ke arah dapur. "Sini. Bantu aku memotong daging ayam untuk yakitori." Ujarnya. "Setelah itu angkat krat bir dari belakang ya."

"Eeeeeh?"

"Katanya mau bantu. Aku bosnya di sini. Kalau tak mau kerja, kau tak akan kubagi sarapan. Atau lebih baik lagi, pulang saja sana." Tukas Jinnai dengan tegas seraya mengacungkan sumpit masak dengan jumawa.

Mitsuya menggembungkan kedua pipinya. Ia makin merengut karena ditertawakan Yuusuke yang geli melihat tingkah dua orang itu. Meskipun begitu, lelaki cantik itu menurut juga dan menghampiri Jinnai untuk mengambil baskom berisi potongan daging ayam dan mulai bekerja dengan tekun.

Sesuai perkataannya, Jinnai membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka meskipun sederhana: sup miso, tempura dan asinan sayur menemani nasi hangat yang mengepul wangi. Yuusuke menyumbang tenaga membuatkan yakitamago yang luar biasa enak. Sementara kedua temannya makan, Jinnai menghilang sebentar ke lantai dua mengantarkan bagian ayahnya.

"Banyak sekali ya," komentar Mitsuya setelah mereka selesai makan dan kembali bekerja, memandang tumpukan sayur, daging, ikan dan bahan-bahan lain yang siap diolah setengah jadi.

Yuusuke mengangsurkan ujung sendok kayu yang digunakannya mengaduk campuran bumbu yakitori pada Jinnai. Menggunakan kelingkingnya, Jinnai mencolek sedikit bumbu dari sendok kayu itu, mengecap sejenak, "Mirin-nya ditambah sedikit lagi," pintanya. "Yah, beginilah kalau akhir minggu. Makanya aku minta Ue-chan membantu."

Mitsuya meletakkan satu krat bir di lantai dan mulai mengatur isinya ke dalam lemari pendingin. "Anak itu tidak akan cemburu?"

Jinnai mengangkat alis. "Maksudmu Daisuke?"

Mitsuya mengangguk.

"Kenapa harus? Kedai ini kan milik keluargaku. Dia saja yang seenaknya memutuskan dia punya hak untuk ikut repot." Jinnai berkilah.

"Sho-chan," tegur Yuusuke halus.

"Iya, bercanda." Sela Jinnai. "Aku malah senang kalau dia tak sering-sering muncul dan lebih konsentrasi belajar. Aku tak ingin dilabrak ibunya kalau sampai nilainya hancur karena terlalu sering main di sini. Yah, meskipun dia juga belajar di sini sih."

Mitsuya mendekat dan menusuk pipi temannya itu, "Sho-chan, kawaii."

"Uruse." Jinnai menepis tangan Mitsuya dan berpura-pura sibuk memeriksa kaldu untuk kuah oden.

"Ne," Yuusuke berujar, tanpa menoleh karena menjaga agar bumbu yakitori yang sedang dibuatnya tidak terlalu mendidih, "apa kau akan mengambilnya masuk ke keluargamu? Paman pasti akan senang sekali punya anak semanis itu."

Jinnai tertawa dan mengedikkan bahu. "Saa ne. Mungkin? Aku masih belum tahu."

"Sudah ditanya?"

"Tentu saja belum."

"Nandee?"

"Micchi, uruse."

"Nandeeee?"

Jinnai menghela nafas. "Belum saja. Kalau dia punya cita-cita yang lebih hebat daripada sekedar menemaniku mengurus kedai sake ini, aku kan tak bisa melarang."

Yuusuke mengangguk-angguk. "Kita punya kewajiban keluarga ya. Bukannya terpaksa sih."

"Sou. Kau mengerti maksudku kan, Ue-chan?"

Yuusuke mengangguk lagi. Mitsuya ikut mengangguk. "Anak itu tak pernah pergi dari sampingmu sih, ya. Bagus juga kalau sesekali dia melakukan hal lain. Demo, iinjyanai? Begini saja kau bahagia kan? Memang tak perlu buru-buru ya. Namanya juga Sho-chan."

Kali ini Jinnai tersenyum lebar. "Sou desu ne."

-end-

Thursday, February 16, 2012

[drabble] Kenki/Micchi - late birthday fic

Rating: PG
Warning: BL, OOC, crappy English
Disclaimer: I own nothing
Note: seharusnya ini dipost kemaren2 tapiiii aku sungguhlah sibuk #alasan


“Did you cry?” Kenki raises an eyebrow as he amusingly looking at his friend nursing his coffee.

A pout takes place on Mitsuya’s lips. “You know I always cry at the littlest thing.”

Kenki laughs, this time. Mitsuya shoves him playfully and can’t help but grinning, too. The pretty boy then fixes his eyes with Kenki’s. The guy smiles in return and ruffles Mitsuya’s hair affectionately. 

Just like that and all of a sudden Mitsuya feels something warm is seeping through his soul. It’s always like that with Kenki. He never says so many words and only need to do something like smiling and Mitsuya knows. 

“Arigatou,” he whispers with a voice that threatens to be broken as he shifts a little, just so his forehead is leaning against Kenki’s shoulder.

Kenki smiles. 

Tuesday, December 13, 2011

[translation] Sairen, Hinata de Kagayaite

Fandom: Prince of Tennis The Musical 2nd Season
Cast: Ogoe Yuuki, Wada Takuma, Mitsuya Ryou
Rating: PG-13
Genre: Thriller, drama
Warning: BL, AU, crappy English
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone. I even do not own the fic. All I do here is translating this wonderful fic written by Neitai. I am doing this on her permit so our wonderful friend, Asuka (who does not speak or read Bahasa Indonesia) can read Nei's fic. Every little changes is unintentional and done to make it a bit more make sense in English (at least, I tried to XD)
Note: Good heavens, I wish I can do a better job at translating this >_< Please forgive the grammar error and everything. Some conversation might be found weird but that is because I want to keep the original format Nei used. Any fault in this translation is purely mine.






Yuuki’s eyes fly open as his ears catch the faint sound of car engine stopping from next door; his body lay still on the bed without any intention to take a look. He knows it’s already so late and his neighbor has just come home. A long day, the boy thinks. Just like how it feels when Yuuki spend almost all day in English class.

Okaeri, Wada-san.

His feet reach for his slippers and he walk off the bed, sleepiness suddenly gone. Yuuki is pretty much accustomed to sleep early and waking up in the middle of the night, thanks to Takuma’s habit of returning home with his car engine still revving before entering the garage. After that, Yuuki guesses out of habit – that man will get out of the car, spinning his keys around and whistling some tune, turning his lights on, and then locking his door with two turns of locks.

Yuuki remembers them all.

If someone wants to get to know about him, Yuuki will readily introduce himself, gladly. After all, he’s only an ordinary high school student who happens to have Ogoe as his surname, likes the color red, and loves soccer. He also loves to snuggle up in the middle of the day so he can stay awake even before the sun shows itself, not that he has to catch the first bus, but more to the fact that he wants to enjoy the heavenly scene from his bedroom window that opens to his neighbor’s house, or to be specific, to Takuma’s bedroom.

It is the man’s habit, Yuuki thinks, to fall asleep with a slightly opened window and curtain that tied neatly on each sides of the window frames. With that arrangement, Takuma can wake up to the sunlight seeping through his room without having to set an alarm. And Yuuki uses this chance to stare back at how Takuma shifts under the blanket and sitting up without any clothes covering him.

Yuuki also knows that after that, Takuma will stay still for a while on the bed, his head thrown back and moving his shoulders to get rid of any soreness. His arm will grope around, looking for his pajama’s bottom, putting it on while standing, then moving around to loosen his muscles for three to five minutes before heading to the shower. Takuma will take more than thirty minutes inside and stepping out looking so fresh. 

Yuuki’s eyes are fixed to every detail, every morning. How every drop of water drips from Takuma’s hair and slides along his milky chest skin, how Takuma’s fingers pull the towel that draped around his waist and causing Yuuki to gasp, how Takuma reaches for the cologne bottle, spraying it to his palm and rubs it on his sexy nape and neck. Also at how Takuma, wearing only his brief, moving around preparing his outfit, putting on his suit, buttoning his shirt and tidying his tie, checking his hair then snatching his bag along with a couple of folders from the table top. Looking very dandy. Can not be missed.

Yuuki takes notes that the man never has breakfast at home, because when Yuuki passes by with his backpack toward the bus station, he still catches Takuma sitting at the cafe across the street, enjoying a smoked beef sandwich. Yuuki hides behind a parked car, pointing his cellphone while waiting for Takuma to finish eating then rushes in to the bus. With his earphone in place until he reaches the school’s gate, ready for any kind of things that he has to face with a wide smile. The distance between his school and Takuma’s workplace is within a stone’s throw. No reason to laze around.

Takuma will spend lunch in a dimsum restaurant not far from his office, the same with Yuuki who gets out on recess and trying so hard not to be seen by Takuma. Once or twice, the man will get out with a company, but most of the time, Yuuki sees him sitting alone at table number seven near the doorway. Day time is always Yuuki’s favorite time because he can see Takuma from a closer distance, at how the man mixes soy sauce with a little of doubanjang in a small plate, at how he separates his chopsticks using his teeth, at how he sniffs at the delicious aroma of hot dimsum until his nose is scrunched up cutely, or at how he nods his head in approval once he takes a bite of a shrimp hakau. If he was with a company, Yuuki can hear them joke, chat, laughing out loud and make a toast with pints of beers; nothing escapes Yuuki’s attention. No need to ask why, because Takuma’s laugh is the part that he waits for before the bell to the next session rings.

Thirty minutes to six in the evening, Takuma will go out playing billiard with a couple of his mates. Yuuki knows Takuma is quite skillful because once, he followed and took a peek for a moment; Yuuki didn’t get inside because he hates the smell of tobacco. At least, he could summarized that the man always get home late, like today; giving Yuuki enough time to do his homework, doing his house chores, and taking a bath. Also to lay for a while until he’s awake by a sound of car engine that is so familiar.

Tonight, as usual, he looks, enthusiastically from behind the tied curtain, at Takuma’s figure taking off his working suits one by one and going to the bathroom. Next, Yuuki’s eyes follow Takuma’s movement as he rubs his hair with a towel, a black boxer covering his waist, it looks even tighter as Takuma sits leaning on the bed, notebook on his lap and starts typing. Sometimes, the man will avert his eyes to the window, feeling like someone is looking at him. But Yuuki is faster, drawing himself into the darkness of his room, clutching tightly on the small binoculars he owns while waiting for Takuma to wave his hand dismissively and back typing again.

Never does Yuuki mind to be wake all night long just to look at Takuma, even though sometimes sleepiness attacks and Yuuki’s eyes droop slowly; but the scenes from across his window never cease to defeat those things, like being hypnotized. Yuuki is still so excited even though Takuma already closes his notebook and lay down, falling asleep so soundly. In Yuuki’s eyes, the dark of the night with a dash of moonlight only resulting in turning Takuma’s silhouette even more charming; a price that worthy of his postponed sleep.

Yuuki lowers his binoculars as he remembers, around a month ago when he made the time to drop by after cram school, making excuse that he lost his keys somewhere. Arming himself with wistful gaze that causes pity and Takuma let him taking a rest inside his room while the man prepared lunch. Enough time for Yuuki to plant several tiny wiretaps in some strategic spots. If he was lucky, at night, Yuuki can hear Takuma sighing in his sleep, dreaming about something he doesn’t know. Or sometimes, pleasuring himself until he reaches orgasm while catching Takuma’s moan as the man masturbates in the bathroom.  Even though he has to pant because he lets himself drawn too deep in pleasure, the feeling is too magnificent.

Taken aback from his reverie, Yuuki glances to his digital alarm clock. It’s three o’clock in the morning.

Once again taking a look at the man curling in his sleep in the room across his own, licking his own lip, then he lay himself on the bed. Fully aware that he only has less than four hours to sleep before he has to wake up and repeat his daily activities fully planned. 

_________

 

”Yuuki-chan, ohayo!!” Takuma greets from behind the fence, a bright morning in a holiday. His smile blooms perfectly and doubles the charm of his handsome face. Yuuki is doing his school assignment on the patio when the man walks up to him, bringing a cup of coffee and Sunday paper, clad only in sleeveless shirt and cropped pants, “Homework? How hardworking~”

Yuuki throws him a sweet smile, putting down his pencil then pulling his very-short-blue-jeans-clad legs down, as well. Takuma eyebrows crease when his greeting is replied with, “Ohayo, Wada-san…” and unhappily points at Yuuki, “I’ve told you to call me Takuma.”

”But it’s not polite.”

The man laughs, ”Yuuki-chan is already like a little brother to me, I’ll be happier if you call me Takkun,” he cuts in, leaning his arm against the fence, ”Yuuki-chan’s been very busy lately, huh? I rarely see you around.”

Yuuki supports his chin with his elbow,”Hmm...I have exams this month, moreover, Wada-san, umh, I-I mean, Takkun is also busy with work, so we’re even,” he says while laughing a little, trying to break the tension and his own heart beat. A patch of Takuma’s chest skin is something not to be missed. “At least, Takkun looks happy, something good happened?”

Takuma rubs his nape bashfully,”Well, something good, another is not so good, which one do you want to hear first?”

”Eh, may I?”

”Here, Yuuki-chan, I always tells you everything, right?” he ruffles Yuuki’s hair. His lips turn slightly upward as he sees Yuuki’s fingers drawn up choosing the second option, “Umh, it’s a bit embarrassing, really but actually, I had an argument with my boyfriend.”

Yuuki’s forehead creases, a glimpse of someone with a pretty face Takuma once introduced him to, comes crossing his mind, ”Oh, a fight? What happened?”

”He said he’s tired of me paying not enough attention to our relationship. What can I do, my workload is huge, and I just got promoted to be staff of directors at my office.”

”Hontou? That’s the good news, right?” the pair of Yuuki’s eyes sparkles when Takuma nods, how Yuuki loves the tint of pink at the man’s line of nose every time he blushes. Yuuki will do everything to be able to see it, always.

 “That’s why I want to ask you something,” Takuma shifts, sitting himself beside him, crossing his legs and cuddling coffee cup in his hands, “does Yuuki know a real estate agent around here?”

Yuuki’s forehead winces, he’s trying to face a surprised look even though actually he can guess, because last night he recorded the conversation over the phone between the man and his coworker. And even though he could only hear Takuma’s voice, Yuuki could say that the man was asking some advice to ask his boyfriend to live under the same roof.

”Takkun wants to move?”

Takuma chuckles in embarassment, ”Well, I was thinking to keep this house and add another room at the upper level, but my boyfriend said that it’s too far from civilization. Perhaps if I fulfilled his wish, our relationship can come to a better term.”

The pencil in Yuuki’s hand moves, ”Takkun has the money to buy a new house?”

”Hmmm...I have some savings and I’m planning to add with what I get from selling this house, or maybe put it up for a re...”

”SELLING THE HOUSE?” Yuuki cuts in, he never heard about the house will be put for sale,”B, but that means I will never be able to meet Takkun again.”

Takuma’s arm reaches for his shoulder and pulls Yuuki closer with a laugh, ”Yuuki-chan, I’m only moving to another place, not going out of town or even overseas, therefore I’m asking if Yuuki-chan know about a real estate agent that’s close to the mainroad, you can reach it by bus, right? You know, just like going to school,” he rocks the stunned Yuuki. The blush on his face is not even gone when Takuma releases him. The corner of Yuuki’s mouth drawn downward; no, he doesn’t like that blushing expression this time.

A flick on his forehead makes Yuuki turn around, Takuma caresses his cheek while smiling, ”Yuuki-chan is not happy?”

Shrugging, Yuuki closes his book,”I will ask my friends.”

The man’s eyes automatically go alight,”Really? Oh my god, thank you very much!! Yuuki-chan is the best little brother in the world!! I know this is too sudden but I’m happy that you’re willing to help!!”, he kisses the wincing Yuuki’s cheek.

”What can I do, Takkun looks so happy. By the way, your boyfriend isn’t coming to talk about this? You both are about to move but Takkun’s the only one who’s busy?”

Takuma sips on his coffee that already turns cold, ”I don’t know, he hasn’t make any contact with me these three days, perhaps it’s better that I prepare everything so he can be a bit...umh, persuaded? I’m not good at seducing him, oh…wait a minute!!” his palm fishes inside his pants pocket and drawing out a familiar black cellphone, “He’s calling, excuse me, Yuuki-chan.”

The boy agrees, gazing at Takuma’s retreating to the terrace back and talking idly with someone Yuuki is sure as his boyfriend. The corner of his eye follows the movements of the man’s body, inch by inch. A happy smile performing on Takuma’s lips is telling Yuuki something.

“He said he will consider coming for dinner tonight,” Takuma tells without being asked when Yuuki blinks at him. He scratches his forehead, thinking, “Do I have to buy some flowers, as well?”

Yuuki peers curiously, ”What for?”

”As an apology and...” Takuma leans his chin against his cellphone, ”Who knows I can use this chance to propose to him.”

Mouth gaping open, Yuuki almost points his pencil to the man.

”Whoa! Takkun wants to get married? So soon!! Don’t tell me Takkun only wants a small celebration, I have to be invited!!” his knees pulled up excitedly, Takuma laughs. 

”If everything went according to plan, Yuuki-chan will be the first one to know,” he says, putting his phone back inside his pocket again, ”How about Yuuki-chan comes to dinner, too? I will cook the dinner, so you can taste it.”

Blinking, Yuuki arranges his books into one stack, “Can I?”

His eyes can’t leave the scene of Takuma’s Adam’s apple moving up and down while the man downs the content of his coffee cup, the man’s tongue licking the lips slightly, “Of course you can, perhaps you guys can meet and talk a bit more freely, that one time Yuuki-chan immediately went inside because you had to study, right?”

”Okay~” Yuuki winks, grabbing his books before heading for the door, ”Takkun can go back first, I’ll go change.”

Takuma nods and waves his hand until he reaches the fence, humming slowly oblivious to a pair of eyes glancing piercingly at him.

 

_________

 

Yuuki stops sipping the sweet soda from a tall glass at Takuma’s kitchen island when the door bell rings; a beautiful young man is pressing the bell a couple of times, looking puzzled, but Yuuki doesn’t want to answer. He’s too busy cutting baked meat into thin pieces with knife and fork in his hands. The owner of the house just left to buy some salad ingredients after handing over the task to Yuuki (who whined that he wanted a box of cherry tomatoes, knowing Takuma never has fruits in his fridge). The supermarket that sells the fruit located quite far from the house, and at such hour Yuuki knows that the isles are pretty empty. Just as he thought.

”Good timing,” he whispers, letting the bell ringing once again then moving across the kitchen island. Licking hungrily at some meat sauce from his thumb and putting the knife he’s been holding on the cutting board.

”Mitsuya-san?”

The figure in front of the door jumps in surprised because he’s about to turn away when the door is opened.

“Oh yes. Umh, kimi dare?” Mitsuya raises an eyebrow, Yuuki smiles widely, arms outstretched. 

”Takkun’s boyfriend, right? I’m Yuuki, we’ve met once before over there, but maybe you don’t remember. Ah, please don’t be suspicious, I’m only a little brother, though I’m actually his next door neighbot,” Yuuki says, grimacing. He shakes Mitsuya’s hand warmly; the skin of the boy’s hand is as soft as silk. His whole appearance is graceful, a nice match to his glowing face.

”Yuuki...Yuuki, oooh yes yes, Takuma often told me about you. You really are as sweet as I thought. I’m Mitsuya Ryou, you can call me Micchi.”

Nodding, Yuuki releases his hands and looks around. He scratches his chin.

”Takkun said that you’d come, but he just left to buy some more meal ingredients,” he mumbles a little uncomfortably,”So why don’t you come in and wait inside? We can chat while waiting for Takkun.”

Mitsuya slips some strands of hair behind his ear, feeling a bit awkward, “If it’s not too much of a trouble.”

”Of course not. Takkun’s guest is also my guest, you don’t have to hesitate. The main dish is still in preparation, I’m still working on it, but there’s some canapé and snacks. Come in,” he opens the door a little bit wider, giving permission for Mitsuya who steps in while clutching a small bag on his shoulder.

“Ojyama shimasu.”

”Make yourself at home,” Yuuki answers while heading straight to the kitchen after closing the door, looking at the baked meat in front of him and weighing the knife while smiling sweetly. He looks over his shoulder to Mitsuya who already sits inside the living room.

”Would you like some tea, or coffee?”

 

_________

 

”Yuuki-chan, tadaima!” Takuma reaches for the door knob half panting, his hand holding a plastic bag full with a couple of boxes and juice cans. Yuuki greets him in the living room, chuckling a little at Takuma who’s sweating from running to avoid the rain. The rain is not heavy but enough to make his shoulder and face wet.

”Sorry, am I taking too long? The supermarket was so crowded and the line at the cashier was crazy, luckily Yuuki’s order was still available.”

”It’s okay, I’m also busy washing the utensils and everything. I barely notice,” Yuuki receives the bag from Takuma’s hand and tells the guy to come in before the wind blows too strongly. Then happily, he takes out the juice cans to be placed inside the cupboard while humming.

”Has my boyfriend arrived?”

Yuuki’s arm stops mid-air, his fingers wipe slowly over the cold dew on the shelf’s surface.

”Not yet.”

”What took him so long, does he forget?” Takuma shakes the water off his hair and takes off his shoes; his chiseled nose sniffs instinctively; the scent of strawberry and something sweet.

”Smells nice. Does Yuuki-chan wear perfume?”

The droplets from Takuma’s hair drops over the white skin of his face, the taken-off jacket reveals a thin white shirt that attached perfectly like a second skin due to dampness. Yuuki chews the inside of his mouth, the right corner of his mouth moves up.

”Your house reeked of food, so I sprayed some cologne that I brought.”

“Oh, is that so?” Takuma twists around, then heads over to the kitchen with both hands on his hips, scrutinizing the things laid on the table. Pasta, pieces of baked bread drizzled with parsley, plates of side dishes, and thinly cut baked meat. Yuuki moves from in front of the fridge, sipping from his juice can and walks over to Takuma who’s still looking. 

”Yuuki-chan, your shirt’s dirty,” he moves closer to Yuuki while reaching out his arm to touch a patch of small island shaped stain that looks very new, quite contrast to Yuuki’s bright yellow shirt. He touches it with the tip of his finger. Deep red.

Takuma’s eyebrows crease.

”What’s this?”

He’s about to sniff when Yuuki takes that fingers with both hands and enclose around it slowly, he licks Takuma’s finger and smiles wickledly.

”It’s just meat sauce~”

”O, oh...” Takuma nods, stuttering a bit,”Yuuki-chan should change clothes, you can wear mine.”

”Mmm, Takkun should change clothes, too; you’re wet all over.”

Takuma pulls on his own shirt and laughs,”I guess you’re right. Very well, let’s change our clothes. I’ll find something that fits you.”

”Takkun can go first; want me to make some drink for you?”

Takuma turns his back to Yuuki and walks over to his bedroom. With jacket thrown over an arm, he replies softly.

”Sure.”

Yuuki smiles in return, the corners of his eyes worshiping the handsome figure from behind the strands of hair that falls before his forehead; wide shoulders, charming and sexy nape line, also his inviting waist. There will be no one who can hug that body except Yuuki. Takuma is his.

And his only.

”Would you like some tea...” Yuuki grins, “Or coffee?”



Sunday, September 11, 2011

[fanfic] KenkixMicchi -Aitai Kimochi

Cast : Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki & Koseki Yuta
Rating: R
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I am but a humble fangirl. Do not own anything or anyone




Di waktu-waktu seperti ini, Kenki merasa seperti orang bodoh. Padahal ada hal penting yang harus dilakukan. Berkonsentrasi belajar karena ia sedang ujian akhir, misalnya. Hanya saja otaknya seperti tak ingin bekerja sama dan terus menerus menampilkan bayangan tunangannya. Ia tak bisa berhenti melirik jam, mengingat-ingat apa yang biasanya dilakukan Mitsuya pada jam itu.

Kenki tertawa geli lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mitsuya pun sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan nasional. Tak ada gunanya ia merengek minta bertemu. Meskipun tidak disepakati secara langsung, mereka berdua membatasi diri dengan telepon dan email seolah sadar ini waktu yang sangat penting dan mereka butuh konsentrasi penuh.

Sebenarnya, Kenki tak pernah punya masalah menjaga fokusnya. Ia bisa dengan mudah melakukannya, kalau ia mau. Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga kan?

Tapi lagi, sudah seharian ini ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Lelah sudah mulai mengambil alih dan bahan yang harus dipelajarinya seperti tak habis-habis. Mengambil waktu sejenak untuk istirahat, membuat kopi dan sarapan, pikirannya malah jadi melayang kemana-mana. Mitsuya belum mengiriminya email atau menelepon sejak semalam dan Kenki jadi agak bertanya-tanya. Tanpa ragu, disambarnya ponselnya dan mengirim email pada tunangannya itu.

Balasannya datang setengah jam kemudian.

-Gomen! Seharian kemarin aku diajak ke Osaka untuk mengunjungi sekolah lain dan ponselku kehabisan batere. Semuanya baik-baik saja? Jangan lupa makan dan tidur yang cukup ya? Ada seleksi regular di klub hari ini. Ganbarou!! XOXO-

Kenki tersenyum lebar dan membalas hanya dengan ucapan sayang.

Menjelang tengah hari, keadaannya tak menjadi lebih baik. Kedua pundaknya terasa berat, tegang dan mulai sakit. Untung saja ia bisa menyelesaikan ujian hari itu dengan baik. Oumi, teman sekelasnya, menepuk pundaknya dengan prihatin dan Kenki harus tertawa melihat lingkaran hitam yang begitu tebal di bawah mata temannya itu. Setelah gelas kopi ketiganya, Kenki tahu hanya ada satu yang harus dilakukannya.

*****

"Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh?"

Nyaris semua orang di dekat situ, tak hanya yang berseragam putih biru tapi juga yang bergakuran dan berseragam sailor, menoleh karena teriakan terkejut Mitsuya. Kenki hanya tertawa lebar seraya melambaikan tangannya.

Yuuki, yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya, langsung melambaikan tangan dengan semangat ke arah Kenki dan baru saja hendak mendekat tapi didului Mitsuya yang melesat cepat ke arah pagar pembatas.

"Eh? Nande? Nande? Kenapa datang ke sini? Ujiannya bagaimana? Eeeh?" Mitsuya merepet tanpa jeda. Kedua tangannya mencengkeram besi pagar pembatas. Kenki nyengir.

"Ujiannya hari ini cuma satu. Karena tak ada kerjaan, jadi kupikir aku mau lihat Micchi latihan saja."

"Tapi Kenki kan harus belajar. Ujiannya masih ada dua hari lagi kan?"

Kenki menjulurkan jarinya, menyentil ujung hidung Mitsuya dari antara besi pagar. "Tak usah khawatir. Aku sudah memperhitungkan kok."

Kedua pipi pemuda cantik itu menggembung sebal. Kenki tersenyum meyakinkan. "Daijoubu."

"Hontou?" Mitsuya masih tak percaya.

"Hontou."

Meski belum sepenuhnya yakin, Mitsuya tak tega juga mengusir Kenki pergi dan terus terang, dia senang karena Kenki datang. "Tapi kami belum mulai loh. Nanti Kenki menunggu terlalu lama."

"Aku bilang apa tadi? Aku datang karena ingin melihat Micchi." Kenki mengerling.

Mitsuya melengos, mencoba menyembunyikan telinganya yang memerah. "Ini kan bukan pertandingan," gerutunya.

"Kenki-nii!" Sapaan ceria Yuuki memotong balasan Kenki. "Sudah selesai ujiannya?"

Kenki menggeleng. "Aku punya waktu, jadi mampir sebentar."

"KENKI-NII!!!" Satu sapaan ceria lagi, kali ini datang dari tengah lapangan, dari Yuuta yang sepertinya sedang bersiap bertanding. Anak itu melompat-lompat senang seraya melambaikan kedua lengannya. Kenki balas melambai dan tertawa saat melihat kepala anak itu disambit bola oleh Ikepi yang kesal menunggu.

"Sudah mau mulai ya?" Tanya Kenki pada Mitsuya dan Yuuki. Kedua pemuda itu mengangguk.

"Aku nanti lawan Micchi loh." Yuuki tersenyum miring seraya memasang topi putihnya. "Aku ke lapangan duluan ya."

"Ganbatte, Yuuki-chan."

"Chi-zu."

Sementara itu sudut bibir Mitsuya berkedut, dagunya terangkat sementara matanya memicing berbahaya. "Hih. Kupukul jatuh nanti."

"Tampaknya seru ya." Komentar Kenki. "Aku iri deh."

Mitsuya mengerjap tapi tak berkomentar apapun. "Kenki duduk di dalam saja. Nanti aku bilang Kapten."

"Di sini saja tak apa, kok."

"Dame." Mitsuya menggeleng tegas. "Udaranya dingin. Duduk di pinggir lapangan saja. Yanagi-senpai tadi bawa sup dan teh hangat banyak sekali. Sepertinya ibunya khawatir kami akan kena flu. Ya?"

Nada yang digunakan Mitsuya sama sekali bukan nada yang bisa dibantah. Kenki mengangguk dan Mitsuya membukakan pintu pagar lalu melesat ke arah kaptennya yang duduk bersebelahan dengan Takuya. Dilihatnya mereka berbicara sejenak dan pemuda pucat ber-coat merah itu pun mengangguk.


Rasanya seperti melihat pertandingan yang biasa ditontonnya. Hanya saja semua orang yang bertanding memakai seragam yang sama. Kenki dibuat sangat kagum dengan persaingan di dalam tim itu. Tak seorang pun yang suka mengalah dan bisa dibilang bahkan lebih serius dibanding saat mereka maju ke pertandingan sebenarnya.

Si Kapten yang tadinya nampak tidur pun tak lama membuka matanya dan memperhatikan dengan serius. Dua lapangan, dua pertandingan. Entah mana yang benar-benar diperhatikannya tapi pemuda pucat itu tersenyum tipis.

Kenki, tentu saja, hanya memperhatikan Mitsuya yang tengah melawan Yuuki. Lucu juga melihat sepupu yang biasanya akrab itu saling berhadapan dengan gigihnya. Mitsuya yang biasanya protektif terhadap Yuuki pun tampak begitu serius. Seperti biasa, setiap kali sebelum mulai bertanding, Mitsuya akan menoleh ke arah Kenki dan mengerling. Kenki selalu mengacungkan ibu jarinya sebagai balasan.

Kali ini pertandingannya berlangsung cepat sekali. Yuuki merengut kesal, jatuh terduduk di dekat net dengan nafas tersengal. Mitsuya mendekat, mengulurkan tangan yang disambut Yuuki dengan sedikit kasar. Pemuda cantik itu nyengir.

"Boku ni katsu no ha, mada hayai yo." Komentarnya yang dibalas Yuuki dengan pukulan di lengan. Mitsuya kemudian tertawa dan merangkul sepupunya dengan erat.

"Hamburger pakai saus demi-glass!" Sungut pemuda mungil itu. "Apple pie juga!"

"Hai, hai." Ujar Mitsuya sambil menggeretnya ke pinggir lapangan.

"Otsukare," ucap Takuya sambil mengulurkan handuk dan botol air pada dua anak itu sementara Kenki berdiri memberi tempat agar Yuuki juga bisa duduk.

"Lututnya tak apa-apa?" Tanya Kenki pada Mitsuya yang tengah memutar-mutar kakinya.

Mitsuya mengangguk. "Un." Ia lalu melompat-lompat kecil. "Matsuzaka-sensei menyuruhku untuk menemuinya sebelum pertandingan. Hanya untuk mengecek saja, kok." Mitsuya buru-buru menambahkan karena dahi Kenki mengerut sekilas.

Kenki mengangguk lalu seperti biasa pula, dipeluknya tunangannya itu, mengucap "Otsukare" seraya mengecup kening Mitsuya. Ia kemudian menoleh pada Yuuki yang masih tampak agak ngambek. Ditepuknya kepala anak itu dengan lembut. "Don't mind."

"Bhu~"

"Nanti kutraktir parfait kesukaannya Yuuki-chan itu. Bagaimana?" Kenki menawarkan.

Wajah Yuuki langsung berubah cerah dan tanpa basa-basi, dipeluknya orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu. "Kenki-nii daisuki!"

"Kenki-nii, aku ikut yaaa!" Yuta mendadak muncul entah dari mana dan bergelayut di leher Kenki.

"Yuta-chan kan tidak kalah. Kenapa ikut-ikut sih?" Yuuki memprotes.

Yuta menjulurkan lidah. "Tak apa dong. Boleh ya, Kenki-nii? Ya? Ya?"

Mitsuya menarik lepas lengan Yuuta dari leher Kenki. "Hai, hai. Lepas atau Kenki tak akan bisa menraktir kita parfait karena kau cekik, Yuta-chan."


"Daijoubu?" Mitsuya melirik tunangannya saat mereka berjalan ke arah mobil satu jam kemudian. Kenki balas melirik ke arahnya dan mengangkat bahu.

"Shouganai deshou?" Ujarnya sambil tertawa senang. Dan ia memang tak keberatan. Yang penting, Mitsuya ada di dekatnya. Kenki pun menggamit tangan Mitsuya dan menggenggamnya hangat. Pemuda cantik itu melirik tersipu dan berjalan lebih rapat dengan tunangannya.

*****

Satu hentakan dan semuanya lepas begitu saja. Gelombang itu membawanya melayang begitu tinggi, membuat seluruh tubuhnya bergetar dan bibirnya membisikkan nama orang yang paling disayanginya. Terasa hangat, penuh, bahagia, berputar dan menghantam dengan cepat.

Kenki mengerjap, membiarkan kesadarannya kembali dengan perlahan. Nafasnya masih memburu dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh. Satu persatu indranya mulai bekerja kembali. Mendapati sosok cantik dalam pelukannya, hangat dan terasa begitu wajar. Wangi yang khas dan perasaan yang familiar. Disambutnya bibir Mitsuya yang mencari, menghujani dengan kecupan-kecupan kecil penuh sayang dan pujian.

Dijatuhkannya tubuhnya ke atas kasur, membawa Mitsuya berbaring di atasnya karena Kenki belum rela melepasnya dari pelukan. Didengarnya Mitsuya mengerang lirih dan Kenki tertawa pelan.

"Daijoubu?" Tanyanya dengan suara agak serak, diiringi kecupan di dahi yang tertutup helaian rambut yang lembab.

Mitsuya terkekeh pelan. Kepalanya mengangguk. "Daijoubu."

Kenki mengusap rambut Mitsuya dengan sayang, sekali lagi mengecup kening tunangannya.

Beberapa saat kemudian, Kenki baru rela melepaskan Mitsuya. Dibiarkannya kekasihnya itu berbaring di sebelahnya, menatapnya dengan matanya yang besar. Kenki menyentil ujung hidungnya. "Apa?"

"Kenki baik-baik saja? Ujiannya lancar kan?"

Kenki mengangguk, mengerti kekhawatiran Mitsuya yang sama sekali belum terjawab sejak ia datang tadi sore. "Aku hanya sedang suntuk. Jadi kupikir, daripada aku memaksa, lebih baik aku bertemu Micchi saja."

Mitsuya tersenyum dan beringsut mendekat untuk mengecup pipi Kenki. "Syukurlah kalau tak ada apa-apa."

Kenki mengangguk, ditariknya Mitsuya mendekat agar ia bisa mencium Mitsuya dengan leluasa. Mitsuya tertawa pelan dan membalas ciumannya dengan tak kalah bersemangat.

"Aku harus pulang." Bisik Kenki tak lama kemudian.

Mitsuya melirik ke arah jam di dinding. Sudah hampir jam sebelas dan besok Kenki masih ada ujian. Meski tak rela, ia mengangguk mengerti. Meskipun begitu, mereka tetap mengambil waktu untuk berlama-lama di kamar mandi dan bercumbu lagi sebelum akhirnya Mitsuya mengantar Kenki ke pintu (tak lupa membekali Kenki dengan apple pie sisa makan malam tadi).

"Ngomong-ngomong, Micchi manis sekali hari ini, loh." Bisik Kenki sebelum memberikan ciuman selamat malam pada Mitsuya yang langsung tersipu dan memukul lengannya.

"Sayang Micchi ya."

"Sayang Kenki juga." Balas Mitsuya sambil melambaikan tangan dan menutup pintu.

-end-

Saturday, July 16, 2011

[fanfic] AU - KenkixMicchi

Fandom: D2/Prince of Tennis Musical 2nd Season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything
Note: Selamat ulang tahun, Kenki-papaaaaa!! *nemplok dengan senang* semoga bahagia selalu sama Mama dan anakmu yang baru yaaaa *kisses and hugs*





Dulu, Kenki tak pernah menganggap ulang tahun adalah sebuah perayaan yang luar biasa. Bukan berarti dia tak suka. Kenki suka perayaan. Apapun itu. Ulang tahun, kelulusan, hari jadi, tahun baru, Natal, festival musim panas, melihat bulan, semuanya. Kenki akan dengan bersemangat ikut serta. Karena merayakan sesuatu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk siapapun, bukan? Entah itu sebagai bayaran atas kerja keras atau sekedar ingin bersenang-senang. Sesederhana apapun, semeriah apapun.

Hanya saja, ia tak pernah merasa perlu untuk repot-repot memaksakan merayakan apapun. Kalau bisa akan menyenangkan, kalau tak bisa pun ia tak akan begitu kecewanya. Kenki tahu ada banyak cara untuk merayakan sesuatu. Sebotol bir pun kadang cukup mewakili sebagai sebuah perayaan.

Namun, tidak begitu halnya dengan Mitsuya. Tunangan tercintanya itu selalu sibuk: memikirkan kado, mencari tempat, apakah perlu mengundang orang, memasang dekorasi, dan entah apa lagi. Kenki sampai terpana ketika menemukan apartemennya penuh gantungan kertas dan balon warna-warni lengkap dengan Mitsuya dan Yuuki yang mengenakan topi pesta sambil tersenyum, menyerukan "Otanjoubi omedetou~!!" pada dirinya saat ulang tahunnya dua tahun yang lalu.

Kejutan yang menyenangkan, tentu saja. Kenki sampai tak tahu harus berkata apa selain tertawa dan menggumamkan terima kasih berkali-kali. Toh, binar mata kedua anak laki-kali itu jauh lebih menyenangkan untuk dilihat dibanding dekorasi kamarnya dan kue ulang tahunnya.

Mitsuya selalu berusaha membuat kejutan-kejutan seperti itu untuknya dan Kenki menghargai usahanya setulus hati. Meskipun dalam hati ia tahu tak ada yang bisa mengalahkan ekspresi terkejut Mitsuya saat Kenki menghadiahinya kalung perak yang sangat diinginkan Mitsuya di hari ulang tahunnya atau dompet Louis Vuitton ungu yang sudah diincar tunangannya sejak lama di ulang tahun Mitsuya yang berikutnya dan mengajaknya makan malam di Roppongi.

"Gaya sekali, sih" komentar Mitsuya saat itu.

Kenki hanya tertawa dan menjulurkan lidah. "Ini sih tak seberapa dibandingkan pesta kejutan Micchi untukku kan?"

--------

"Demam?"

"Un." Suara Yuuki menyahut dari seberang. "38 derajat."

"Setinggi itu?" Kenki menutup pintu lemari es dengan kaki, ponselnya terjepit antara bahu dan telinga kanan. "Sejak kapan?"

"Tadi siang, sepertinya. Dia tidur terus di ruang kesehatan karena tak enak badan. Tadi sore waktu aku jemput, suhu badannya naik."

Kenki meneguk air mineral dari botol yang baru saja diambilnya. "Sudah ke dokter?"

"Sudah, kok. Tadi diantar Kuma. Sudah diberi obat juga tapi Micchi tak mau makan. Bahkan Kuma yang memaksa pun dia tutup mulut." Yuuki terdengar sedih dan jengkel. Kenki bisa membayangkan anak itu pasti cukup kerepotan saat ini.

"Ya sudah. Aku ke situ sekarang." Ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Kenki bergegas menyimpan makan malamnya yang belum sempat tersentuh ke dalam kulkas, mengambil beberapa helai baju ganti, menyambar diktat dan laptop lalu melesakkan semuanya ke dalam ransel. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, ia menyambar jaket dan kunci mobil.


"Kemarin melakukan apa sih? Kok bisa sampai demam tinggi begini?" Gumam Kenki sambil mengibaskan termometer dan meletakkannya di atas meja.

Mitsuya tak menjawab, hanya melipirkan mata menghindari pandangan Kenki. Tubuhnya tertutup selimut sampai ke dagu, dahinya tertutup plester penurun panas dan wajahnya bersemu merah.

"Kemarin latihan sampai malam dan hujan-hujanan. Aku sudah bilang kalau hari ini tak usah sekolah saja, tapi Micchi malah ngotot." Yuuki menjelaskan sambil meletakkan nampan berisi semangkuk bubur di dekat Kenki.

Kalau saja kepalanya tidak pusing sekali, Mitsuya pasti sudah akan melotot pada sepupunya itu. Yuuki mencibir dan Mitsuya membuang muka. Kenki menggelengkan kepalanya sambil meniup-niup asap samar yang dari mangkuk bubur yang sekarang sudah ada dalam genggamannya.

"Bisa bangun?" Kenki bertanya pelan.

Mitsuya menggeleng. "Tak mau makan." Gumamnya.

Kenki menatapnya.

"Mulutnya tak enak." Erang Mitsuya.

Kenki masih menatapnya. Mitsuya merengut.

"Sepuluh suap." Ujar Kenki pendek. "Wada-sensei dan Yuuki-chan sudah susah-susah membuatkan bubur ini untuk Micchi."

Mitsuya melirik ke arah Yuuki yang mengangguk-angguk menyetujui ucapan Kenki. Pemuda cantik itu akhirnya menyerah dan mengangkat tubuhnya dengan susah payah dan Yuuki buru-buru membantunya duduk. Kenki menyuapinya perlahan-lahan, memastikan Mitsuya mengunyah dan menelan dengan baik sampai di suapan kesepuluh, sesuai janji, Kenki berhenti. Dibantunya Mitsuya minum juga meminum obatnya lalu membantunya kembali berbaring.

Yuuki membawa pergi bekas makan sepupunya sambil menyinggung Mitsuya tentang kebiasaannya memarahi Yuuki kalau sedang susah makan sampai pemuda cantik itu merengut hebat dan nyaris saja nekat melempar gelas ke arah Yuuki kalau saja sepupunya itu tak keburu menghilang keluar kamar.

"Sakit-sakit kok masih galak begitu sih." Goda Kenki sambil mengusap rambut Mitsuya dengan sayang.

Mitsuya melengos tapi tak urung memiringkan tubuhnya menghadap Kenki yang masih tersenyum. Tangannya terulur dan disambut Kenki dalam genggaman erat. Tangan Kenki terasa sejuk di kulit Mitsuya yang hangat.

"Kenki tidak marah?" Bisiknya lirih.

Kenki memiringkan kepala tanda tak mengerti.

"Aku tak bilang kalau aku sakit." Gumam Mitsuya dengan takut-takut.

Kenki tersenyum. "Sedikit sebal tapi aku tak akan meributkan itu sekarang."

".....Gomen."

"Daijoubu."

Mereka terdiam sesaat dan Kenki mengecup kening tunangannya dengan sayang. Mitsuya mendesah.

"Maaf juga karena aku jadi tak bisa menyiapkan apapun padahal Kenki kan besok ulang tahun."

Kali ini Kenki tertawa, menatap tunangannya yang cantik itu dengan tak percaya. "Masih memikirkan itu juga? Sudahlah. Itu tak penting."

Mitsuya merengut. "Penting dong! Ini kan ulang tahun Kenki."

Kenki menyentil ujung hidung Mitsuya pelan. "Saat ini ulang tahunku sama sekali tak penting. Yang penting sekarang adalah Micchi cepat sembuh. Itu saja."

Mitsuya masih menggembungkan pipi. Kenki mengelus pipinya dengan buku jari. "Selama ini Micchi selalu melakukan banyak hal untukku tapi sungguh deh, ucapan selamat dan kecupan dari Micchi saja sudah cukup kok."

Mitsuya yakin demamnya makin parah karena wajahnya terasa makin panas. Dikecupnya punggung tangan Kenki seraya menatap Kenki dengan matanya yang besar. Kenki tersenyum lembut, membalas pandangan Mitsuya lalu merunduk.

"Nanti tertular." Bisik Mitsuya sambil menutupi bagian bawah wajahnya dengan selimut.

"Kalau begitu, begini saja. Tak akan tertular kan?" Ujar Kenki sambil mendekatkan wajahnya dan mencium Mitsuya dari balik selimut itu.

-------

Mitsuya terbangun, merasa kalau nafasnya terasa begitu berat dan panas. Pandangannya juga sedikit kabur. Matanya mengerjap pelan, memandang samar di tengah cahaya yang temaram. Rupanya Kenki sudah mematikan lampu dan menyalakan lampu baca di meja sebelah tempat tidur.

Mitsuya menoleh, merasakan sesosok kepala terkulai di atas sepasang lengan sebagai tumpuan di dekat bahunya. Kenki tertidur lelap dan Mitsuya ingin membangunkan karena pasti rasanya pegal sekali tidur dengan posisi seperti itu. Tapi ia juga tak tega karena pemuda itu tampak begitu pulas.

Diliriknya jam digital di atas meja. 00:15. Sudah tanggal 17 Juli. Ulang tahun Kenki.

Ia merasa sedikit kecewa karena tak sempat memikirkan acara untuk merayakan ulang tahun Kenki. Tahun lalu ia mengajak Kenki piknik tengah malam di dekat Tokyo Tower bersama Yuuki, Wada-sensei dan beberapa teman dekat Kenki. Sangat kurang kerjaan tapi seru sekali. Tahun ini ia malah belum tahu sama sekali hendak melakukan apa.

Mitsuya mendesah. Pokoknya, setelah ia sembuh nanti harus ada pesta untuk Kenki. Harus.

Sementara itu...

Pemuda cantik itu beringsut pelan, mendekatkan wajahnya ke kepala Kenki dan mengecup rambut Kenki dengan penuh perasaan.

"Terima kasih sudah jadi tunangan paling hebat sedunia." Bisiknya. "Otanjoubi omedetou, Yamaguchi Kenki-san."

Kepala Kenki bergerak pelan. Mitsuya sudah takut Kenki terbangun tapi Kenki tak bergerak lagi. Mitsuya pun tersenyum dan kembali terlelap. Sama sekali tak menyadari sudut bibir Kenki yang terangkat membentuk senyum.

Sunday, June 19, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - Miss

Fandom: D2/Prince of Tennis Musical 2nd Season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki
Rating: NC-17
Warning: BL, AU, OOC, NSFW
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone. No profit gained. No harm intended.
Note: Untuk Icha.



Matanya terbuka, mengerjap pelan pada ruangan yang gelap. Tangannya otomatis terjulur, meraba-raba permukaan kasur sampai menggenggam ponselnya. Matanya memicing, berusaha mempertajam pandangan pada layar kecil yang tampak berbayang. Tak ada notifikasi apa-apa. Tangannya terkulai, membiarkan ponsel itu terjatuh pelan tanpa ditutup. Matanya kembali terpejam dan Mitsuya mendesah. Pelan dan berat.





Yuuki menyodorkan segelas susu hangat pada sepupunya dengan tampang khawatir. Mitsuya menggeleng dan bergumam kalau ia ingin kopi saja. Yuuki balas menggeleng.

"Micchi terlalu banyak minum kopi." Tukasnya pelan.

Mitsuya mendesah dan duduk melipat kaki sambil menyesap pelan susunya tanpa banyak komentar lagi. Yuuki menyodorkan setangkup sandwhich yang lagi-lagi disambut tanpa banyak bicara.

"Hari ini pulang kan?" Tanyanya setelah duduk di samping Mitsuya dan memeluknya hangat.

Mitsuya merebahkan kepalanya di bahu mungil sepupunya lalu mengangguk pelan. "Tapi belum telepon sama sekali."

Yuuki menepuk-nepuk pelan tengkuk Mitsuya, membiarkan sepupunya itu menyurukkan wajah ke lehernya dan mendesah pelan.





Mitsuya menggigit bibir. Sudah jam 11 malam dan Kenki masih juga belum memberi kabar. Nyaris dua minggu menemani ibunya ke Filipina karena ada sepupunya menikah. Email dan foto terus dikirim Kenki tanpa henti, termasuk foto-foto saat di pesta. Kenki yang mengenakan jas terlihat begitu tampan sampai Mitsuya nekat menelepon dan menghabiskan seluruh sisa pulsa teleponnya.

Tak usah ditanya kalau dia kangen sekali. Tak ada yang membangunkannya dengan tepukan pelan di bahu dan kecupan di pipi, tak ada yang membuatnya marah-marah karena candaan jahil, tak ada yang menemaninya nonton TV sampai larut, tak ada yang membantunya mengerjakan PR, tak ada senyum ramah yang menyambutnya kalau ia menoleh, dan seribu satu alasan lainnya.

Mitsuya sampai berkali-kali memastikan kalau tanggal hari ini sama dengan tanggal yang disebut Kenki dalam emailnya tentang kapan ia akan pulang ke Jepang. Lebih tepatnya ke Tokyo karena pemuda itu tetap harus mengantar ibunya dulu ke Aichi.
Tapi sejak semalam tak ada pesan, email atau telepon dari tunangannya itu dan Mitsuya cemas. Mata dan telinganya terus-terusan bergeming dari berita di TV atau radio. Tak ada berita kecelakaan di manapun di seluruh dunia.

Jadi, ke mana Yamaguchi Kenki brengsek itu? Rutuk Mitsuya dalam hati seraya melempar bantal ke dinding.

Mitsuya sudah mengantuk sekali dan Yuuki yang tadinya mau menemani sudah menyerah sejak setengah jam yang lalu. Tapi ia belum mau tidur. Sambil menggerutu, pemuda cantik itu memutuskan untuk membuat kopi saja. Toh besok tak ada latihan pagi.

Baru saja menjulurkan kakinya turun dari tempat tidur, telinganya menangkap suara mobil mendekat dan berhenti di depan rumah. Tanpa ambil pusing untuk mengintip dari jendela, Mitsuya melesat turun.

Tanah yang sedikit basah karena hujan tadi sore terasa dingin di kakinya yang tak beralas. Mitsuya tak peduli, terus berlari ke arah sosok yang baru saja menjulurkan badan keluar dari kursi pengemudi dan berhenti tepat di depan sosok itu. Matanya yang besar melotot seraya kedua lengannya berkacak pinggang.

"Yamaguchi Kenki, sebaiknya kau punya alasan yang baik kenapa tak menelepon atau mengirim pesan sama sekali sampai aku nyaris saja berpikir pesawatmu jatuh dan saat ini kau tenggelam di dasar Laut Cina Selatan!"

Kenki tampak bingung lalu menjulurkan lidah. "Maaf. Memang ada alasannya kok." Ujarnya sambil menutup pintu mobil dan berdiri menyandarkan punggung ke sisi mobilnya.

Mitsuya mengangkat alis.

"Pertama, semalaman aku sibuk membantu ibuku mengepak barang. Titipan dan oleh-olehnya banyak sekali. Kedua, aku bersumpah aku memang ingin meneleponmu sebelum boarding. Ketiga, sayangnya aku ketiduran tanpa mengecharge ponselku. Keempat, aku ditahan untu makan malam di rumah dan diajak ngobrol sama Ayah." Jelas Kenki dengan santai, seolah tak merasa terancam dengan wajah galak tapi cantik di hadapannya.

Mitsuya menyilangkan lengan di depan dada. "Lalu setibanya di sini juga tak ambil pusing untuk meneleponku?"

Mulut Kenki terbuka lalu tertutup lagi kemudian membentuk cengir kuda. "Umh...aku lupa?"

"Kenki!" Mitsuya menyentakkan satu kakinya ke tanah.

"Maaf. Toh aku sudah di sini kan?" Kenki melangkah maju.

Mitsuya menjauh dengan kesal. "Jangan harap aku akan membiarkanmu masuk ke dalam rumah. Pulang sana!"

Kenki mengangkat alis, terlihat ingin sekali tertawa. "Kok begitu? Tak kangen padaku?"

"Siapa yang kangen sama orang brengsek sepertimu?" Tukas Mitsuya cepat. Kakinya melangkah mundur karena Kenki mendekat lagi.

"Aku kan tak bermaksud membuatmu khawatir." Ujar Kenki sambil meraih tangan Mitsuya dan menggenggam erat.

Mitsuya berusaha menyentak lepas tangannya. "Tapi aku sudah khawatir tahu! Menyebalkan sekali sih jadi orang. Lepaskan tanganku!"

Seolah tuli, Kenki malah menarik lengan putih itu sekuat tenaga sampai ia bisa menangkap tubuh ramping Mitsuya dalam pelukannya. Mitsuya menatapnya dengan galak. Kenki tersenyum tulus. "Gomen. Hontou ni gomen."

"Pembohong."

"Mana pernah?"

Mitsuya memukul dadanya dengan keras. "Aku serius!"

"Aku juga." Dipeluknya Mitsuya seerat mungkin sampai pemuda cantik itu tak bisa bergerak. "Aku benar-benar menyesal membuatmu khawatir. Tapi sekarang aku di sini kan?" Suaranya berangsur memelan dan berubah menjadi bisikan tepat di sisi telinga Mitsuya. "Gomen. Aku tak berpikir untuk meneleponmu setibanya di Tokyo karena aku hanya berpikir untuk menemuimu secepatnya."

Mitsuya mengerutkan kening meski wajahnya bersemu merah. "Tapi aku khawatir sekali." Ulangnya.

"Aku tahu. Maafkan aku ya." Bisik Kenki, membawa wajahnya begitu dekat dengan wajah Mitsuya sampai Mitsuya bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat membelai pipinya. Ujung hidungnya menyentuh lembut ujung hidung Mitsuya lalu bergerak pelan ke bibir Mitsuya. Kepalanya bergerak lagi, mendekatkan bibir mereka hingga hanya berjarak satu helaan nafas.

Mitsuya menutup mata dan menarik nafas tajam saat bibir Kenki menekan lembut bibirnya. Instingnya langsung mengambil alih dan kedua lengannya melingkar posesif di pundak Kenki. Sedetik kemudian, kecupan lembut pun berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Rindu ingin bertemu, kesal karena khawatir dan lain-lainnya bercampur jadi satu. Kenki memeluk pinggang Mitsuya dengan begitu eratnya sampai ia nyaris saja mengangkat Mitsuya dari atas tanah.

"Ya Tuhan, aku kangen sekali." Bisik Kenki dengan parau.

Mitsuya tak menjawab, merengkuh tengkuk Kenki dan menariknya untuk dicium lagi. Kenki menggeram dan Mitsuya mengerang pelan. Bagian bawah tubuh mereka bereaksi dengan cepat dan Mitsuya bersyukur ia mengenakan piyama. Kalau tidak, rasanya pasti sudah menyiksa sekali. Seperti yang dialami Kenki. Pemuda itu menggeram lagi, melepaskan bibirnya dengan tak rela dan menggerungkan sesuatu yang seperti usul kalau mereka harus masuk ke dalam rumah kalau tak mau dituduh berlaku tak senonoh di depan umum.





Mitsuya berjingkat pelan kembali ke tempat tidur dan menyandarkan punggungnya ke dada Kenki yang langsung melingkarkan lengan ke pinggang pemuda cantik itu. Kenki menusukkan hidungnya ke sela-sela helaian rambut Mitsuya yang sedikit lembab. 

“Yuuki-chan bangun?” bisiknya pelan.

Mitsuya berjengit geli, meneguk air putih dari gelas yang dibawanya lalu menggeleng. “Tidak. Dengkurannya keras sekali. Mungkin capek karena tadi ikut menemaniku menunggu Kenki.”

Kenki mengecup pundak Mitsuya, alisnya terangkat. “Serius menungguku ya?”

Mitsuya mendengus dan memutar matanya. Kenki melirik ke atas, masih sibuk mengecupi kulit Mitsuya yang hangat. Aroma tubuhnya yang khas menggelitik hidung Kenki dan pemuda itu menikmatinya dengan rakus. Bibir dan hidungnya bergantian menyentuh sepanjang garis pundak dan leher yang jenjang. Masih sedikit lembab karena permainan cinta mereka sebelumnya. Diliriknya bibir Mitsuya yang masih agak bengkak kemerahan karena terlalu sering digigit dan berciuman dengan Kenki agar suara mereka tak terdengar keluar kamar. Kenki harus mengakui kalau Mitsuya yang mati-matian tak menimbulkan banyak suara saat sedang bercumbu dengannya justru malah terlihat seksi sekali dan dia makin bersemangat karenanya.

Diambilnya gelas dari tangan Mitsuya untuk disingkirkan ke meja di samping tempat tidur dan direngkuhnya tubuh tunangannya sampai Mitsuya berbaring nyaman di atasnya. Sepasang mata Mitsuya yang besar dan cantik itu mengerjap pelan, menatap Kenki dari balik bulu matanya dan Kenki merasa begitu puas melihat perasaan sayang di dalam pandangan Mitsuya. Sambil tersenyum lembut, Kenki mengecup masing-masing kelopak mata Mitsuya, lalu keningnya dan mengecup lembut sepasang bibir kemerahan itu.

Mitsuya pun tersenyum, meski agak tersipu. Kedua lengannya menyentuh pundak Kenki dan ibu jarinya mengusap lembut. Tubuhnya masih begitu sensitif dan percikan-percikan nikmat itu kembali menjalari sekujur tubuhnya.

“Aku kangen sekali,” bisiknya sebelum mencium Kenki. Tak bermaksud untuk terdengar manja tapi begitulah yang dirasakannya dan saat ini Mitsuya sedang tak ingin menutupi perasaannya.

Kenki mengusap lengan Mitsuya dengan sayang. “Aku juga. Kangen sekali. Tahu tidak, waktu Micchi meneleponku itu, aku sudah ingin pulang saja. Tapi aku bisa ditebas Ibu kalau berani.” Pemuda itu tertawa pelan.

Mitsuya ikut tertawa meski tak berkata apapun. Direbahkannya kepalanya ke pundak Kenki, menikmati irama pelan nafas tunangannya dan detak jantungnya yang berdetum pelan. Rasanya nyaman sekali dan Mitsuya benar-benar rindu berada sedekat ini dengan Kenki. Dirasakannya Kenki menggenggam tangannya dan mengecup lembut tiap buku jari Mitsuya dengan penuh perasaan. Mitsuya mendongak, tersenyum sekilas pada pemuda itu lalu merunduk untuk mengecup dada Kenki. 

Kenki mendesah. Dikecupnya sekali lagi jemari Mitsuya sebelum dilepaskan dan membiarkan Mitsuya menghujani dada dan perutnya dengan kecupan-kecupan ringan. Tentu saja ia juga merindukan ini. Mitsuya yang mengambil inisiatif adalah sesuatu yang jarang terjadi dan Kenki sama sekali bukan tipe orang yang suka mengeluh. 

Helai rambut Mitsuya menggelitik perutnya dan Kenki menggeliat pelan. Nafasnya mulai memburu lagi seiring dengan Mitsuya yang bergerak makin ke bawah. Kenki pun bisa merasakan kemaluannya pun kembali melonjak hidup. Mitsuya beringsut, sedikit tersipu melihat hasil perbuatannya dan mengangkat tubuhnya untuk mencium Kenki, memagut pelan lalu kembali bergerak turun mengincar tonjolan di dada Kenki dan membuat tunangannya itu menarik nafas tajam. 

Mitsuya mengatupkan bibirnya di sekeliling tonjolan mungil itu. Lidahnya terjulur menjentik dan menggoda dengan pelan. Satu tangannya menjangkau tonjolan yang lain, menjepit dan menarik lembut dengan telunjuk dan ibu jarinya. Kenki melengkungkan punggungnya, bernafas dengan sangat cepat dan sesekali menggeram pelan. 

“Oh.” Kenki nyaris saja kelepasan mengerang keras saat Mitsuya bergerak turun lagi dan mulai mencumbu Kenki dengan bibir dan lidahnya yang terasa seperti surga. Kenki menyelipkan jemari ke dalam helai rambut kecoklatan Mitsuya dan menekan pelan, memberi petunjuk pada tunangannya itu di mana ia ingin disentuh. Sebenarnya ia tak perlu melakukan itu karena Mitsuya sudah mengenal tubuh Kenki sebaik Kenki mengenal tubuh tunangannya. Kenki beringsut, membuka kakinya lebih lebar agar Mitsuya lebih leluasa bergerak. Ia tak kuasa menutup mata karena pemandangan di hadapannya begitu seksi: menyaksikan bagian tubuhnya yang paling intim tertelan mulut Mitsuya, bibir Mitsuya yang kemerahan dan basah di sekeliling tubuhnya, lidahnya yang juga kemerahan sesekali terjulur untuk menjilat dan kepalanya yang cantik itu bergerak naik turun dalam satu irama yang nyaris membuat Kenki gila karena hasrat dan nikmat yang berlipat-lipat.

Tak tahan, Kenki menyelipkan tangannya ke bawah lengan Mitsuya dan menariknya dengan keras. Mitsuya berseru kaget dan masih berusaha memahami apa yang terjadi saat menyadari ia sudah berbaring telungkup dan merasakan berat badan Kenki di atasnya. Pemuda cantik itu menoleh dan disambut oleh bibir Kenki yang menciumnya dalam-dalam. Mitsuya hanya sanggup bergumam dan mengerang ke dalam ciuman mereka, terutama saat dirasakannya ujung kemaluan Kenki menekan jalan masuk tubuhnya. Mitsuya mendesah, mengaitkan jemarinya dengan jari-jari Kenki dengan erat seraya mengangkat pinggulnya sedikit. Gerakan itu cukup bagi Kenki untuk menekan masuk dalam satu hentakan panjang dan cepat. Nafasnya tercekat dan Mitsuya menggigit bibir kuat-kuat.

Kenki tak membuang waktu untuk bergerak dan tubuh mereka pun dengan cepat menemukan irama gerak yang familiar. Desah nafas yang memburu, erangan tertahan, bunyi hentakan tubuh dan derit lirih tempat tidur memenuhi kamar yang tak begitu besar itu. 

Kenki menyurukkan wajahnya ke samping wajah Mitsuya, berusaha menatap mata kekasihnya di sela pandangan yang berkabut dan tak fokus. Mata Mitsuya yang terpejam perlahan terbuka, seolah tahu ia sedang diperhatikan. Sepasang mata cantik itu mengerjap dan pandangan mereka terkunci untuk beberapa detik sebelum Mitsuya membenamkan wajah ke dalam bantal untuk mengerang karena Kenki menghentak dengan cepat dan keras tepat di titik sensitifnya. Kenki mengecup pundak Mitsuya dan beringsut sedikit, mencari sudut yang ia tahu akan dengan cepat membawa mereka ke puncak kenikmatan itu. Tubuh Mitsuya menggelinjang di bawahnya dan telinga Kenki samar menangkap namanya disebut. Mungkin juga ia salah dengar, Kenki tak tahu pasti. Saat dirasakannya tubuh Mitsuya mengejang dan bertaut di bawahnya, Kenki melesakkan giginya ke lekuk antara leher dan pundak tunangannya, ikut melepaskan kendali dirinya dan menyambut gelombang kenikmatan itu menyapu sekujur tubuhnya.


Masih terengah, Mitsuya berusaha menarik nafas beberapa kali untuk mengembalikan irama nafasnya. Berat tubuh Kenki mulai terasa menekan dadanya dengan tak nyaman tapi ia sama sekali tak protes. Dengan susah payah, ia menoleh dan mengecup pipi pemuda itu. Kenki tertawa pelan, membalas dengan kecupan yang sama. Ia sungguh belum ingin menjauh dari tunangannya itu, tapi ia juga tak ingin membuat Mitsuya merasa tak nyaman. Ia menggeram pelan saat menarik tubuhnya keluar dengan perlahan dan Mitsuya mengerang pelan. Kenki mendesah keras seraya berbaring miring dan menyambut Mitsuya yang memutar tubuhnya. Ditariknya pemuda itu ke dalam pelukannya dan dikecupnya kening Mitsuya yang basah. 

“Micchi hebat, deh.”

Mitsuya tertawa. “Bilang lagi begitu dan aku akan melukaimu.” Ancamnya sambil mencubit lengan Kenki.

Kenki terbahak sambil mengaduh. “Kasar sekali sih. Sudah tak sayang lagi padaku ya?”

Mitsuya menggigit ujung hidung tunangannya. “Kapan aku pernah sayang padamu?”

“Benar juga. Aku kan dimarahi terus ya.” Kenki nyengir.

Mitsuya mengangguk. “Benar. Mana bisa aku sayang sama orang yang kerjanya membuatku kesal dan khawatir.” Sudut bibirnya terangkat.

Kenki mengangkat alis dan mengecup sudut bibir Mitsuya. “Hmm... aku mengerti. Selama ini Micchi kesal sekali sampai tak bisa mengusirku pergi dan tak bisa membiarkanku sendirian kan?”

Mitsuya tertawa, membalas ciuman Kenki dengan antusias. “Benar sekali. Dasar menyebalkan.” 

Kenki mengecupnya sekali lagi. “Aishiteru yo.”

Mitsuya tersenyum manis dan Kenki tahu ia tak butuh jawaban.

Sunday, June 5, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - Kiss Me, You

Fandom: D2/musical prince of tennis 2nd season
Cast: Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou
Rating: PG-13 for boys kissing
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: Own nothing, no harm intended, no profit gained
Note: ah, gitu deh~



Kenki mencium Mitsuya untuk pertama kalinya adalah nyaris dua tahun yang lalu. Sebelum Kenki pulang ke Tokyo, sebelum Mitsuya dan Yuuki datang ke Tokyo. Setelah menanyakan keputusan hati Mitsuya, apakah ingin menggenggam tangan Kenki atau mengusirnya pergi. Kenki memeluknya erat dan tak bisa berbohong kalau jantungnya berdebar kencang. Mitsuya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ciuman pertama dalam hidup Mitsuya. Ciuman pertama mereka. Gugup, agak canggung dan terlalu cepat berlalu. Kenki hanya ingat kalau setelahnya ia tersenyum lebar dan mengaduh kencang karena dipukul Mitsuya yang minta diantar pulang dengan wajah yang sudah tak bisa dibilang lebih merah dari daun momiji di musim gugur.

Kenki mencium Mitsuya, hanya kecupan ringan sekilas di keningnya, setelah upacara pertunangan mereka di rumah Mitsuya. Kedua orang tua mereka tersenyum-senyum bahagia melihat itu. Mitsuya hanya sanggup mengerjap dan mendorong pelan bahu pemuda itu menjauh sementara Kenki meleletkan lidah.

Kenki mencium Mitsuya saat pemuda cantik itu dan sepupunya baru saja pindah ke Tokyo. Mereka duduk bersandar di dekat dapur, kelelahan karena barang yang harus dibereskan banyak sekali. Mitsuya mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa Kenki sebenarnya tak perlu ikut repot. Kenki hanya tersenyum dan mencubit hidung Mitsuya dengan gemas lalu menarik pemuda itu mendekat. Lengannya melingkar sempurna di pinggang Mitsuya yang ramping dan Mitsuya tak punya pilihan selain meletakkan kedua tangannya di bahu Kenki. Kecupan lembut dan pagutan mesra. Kenki mengusap pipinya yang mulus dengan buku jari, membisikkan betapa cantiknya Mitsuya di matanya, membuat Mitsuya salah tingkah dan balas mencium Kenki karena dia tak tahu harus bagaimana lagi. Mitsuya tak tahu kalau dia akan begitu menyukainya dan berikutnya tak malu-malu meminta kecupan dari tunangannya yang tampan itu.

Ciuman pertama Kenki yang membuat Mitsuya menatapnya dengan bingung adalah sebelum mereka bercinta untuk pertama kalinya. Ruangan yang redup, berbaring di atas tempat tidur Kenki dan Mitsuya tak bisa, tak berani menerka apa maksudnya. Ciumannya terasa berbeda dari biasanya dan Kenki memberanikan diri untuk menyentuh Mitsuya di bagian yang lebih intim. Berhenti sejenak kalau-kalau Mitsuya menolak dan menyentuh lembut ketika Mitsuya tak berkata apapun. Wajah Mitsuya memerah saat ia sadar apa maksudnya. Balas menatap mata Kenki yang memandangnya dengan ekspresi yang belum pernah dilihat Mitsuya sebelumnya. Mencium Mitsuya dengan lembut seraya tertawa pelan saat Mitsuya menganggukkan kepalanya.

Pun, pemuda itu mencium Mitsuya dengan lembut dan sayang, berusaha menenangkan dan meminta maaf pada saat yang bersamaan pada Mitsuya yang terisak karena kesakitan. Mengecupnya lembut di kening saat Mitsuya memintanya berhenti dan mengantarnya pulang. Kenki memeluknya dengan lembut, membisikkan maaf berkali-kali. Mitsuya hanya menggelengkan kepala, mengecup pipi Kenki dan membisikkan kata maaf yang sama.

Mitsuya mencium Kenki, beberapa hari kemudian, mengumpulkan keberanian dan tekad. Tak ingin lari dari rasa sakit, tak ingin lari dari Kenki karena meskipun tak diakuinya secara langsung, Mitsuya pun ingin Kenki jadi miliknya. Kenki tersenyum lebar, membalas ciuman Mitsuya dengan tak kalah bersemangat. Menciumi sekujur tubuh dan tiap inci kulit yang bisa disentuhnya. Membuat Mitsuya menutup mata, menggigit bibir menahan erangan sampai akhirnya menyambut cahaya menyilaukan itu di balik matanya.

Ciuman lembut Kenki yang masih terengah, membuat Mitsuya merasa begitu dicintai dan mendesak dadanya yang penuh dengan emosi. Mitsuya memandangnya tak berkedip. Meski wajahnya masih tertutup peluh, Kenki terlihat begitu bahagia dan tak menutupi perasaannya. Tampan sekali. Mitsuya menariknya mendekat, memagut bibirnya dan membisikkan perasaannya di depan bibir tunangannya yang tersenyum.

Mitsuya mencium Kenki di hari ulang tahunnya. Berterima kasih untuk makan malam yang lezat dan kalung perak yang melingkar di lehernya. Hadiah yang tak begitu besar namun membuat Mitsuya begitu bahagia.

Kenki menciumnya di pagi hari, saat Mitsuya membuka mata dan membalas kecupannya dengan senyum yang sama. Kadang berlama-lama tinggal di tempat tidur, kadang setelahnya langsung berlalu ke kamar mandi karena tak punya banyak waktu untuk bersiap-siap. Mengecup Mitsuya sekali lagi atas sarapan yang dibuatkannya atau sebaliknya dan tak lupa menariknya mendekat untuk mengecup pipi atau punggung tangan Mitsuya sebelum pemuda cantik itu turun dari mobilnya.

Kenki memeluk dan mengecup keningnya, tiap kali Mitsuya selesai bertanding. Tak peduli menang atau kalah. Berbisik lembut di telinga Mitsuya, "Otsukare." Ribuan kali lebih ampuh dari pujian atau kritik teman-teman setim-nya.

Kenki mencium Mitsuya hanya karena ia ingin. Mengejutkan Mitsuya saat pemuda itu sedang asyik menonton TV atau membaca majalah, ketika Mitsuya sedang sibuk berkonsentrasi dengan pekerjaan rumahnya, atau kadang hanya ingin membungkam Mitsuya yang sudah berceloteh terlalu panjang tentang apapun. Mitsuya akan memukulnya, merengut sebal atau langsung membalas ciumannya. Tak peduli yang manapun, ia menyukai ciuman Kenki. Menyukai rasa bibirnya yang menekan bibirnya sendiri. Menyukai caranya memaksa Mitsuya membuka bibirnya dengan lembut. Menyukai menikmati bibir dan bagian dalam mulut Mitsuya. Menyukai saat Kenki menggeram ketika Mitsuya bergumam pelan ke dalam ciuman mereka. Atau kadang membiarkan Mitsuya menikmati bibir dan mulutnya tanpa perlawanan.

Kenki mencium Mitsuya dan Mitsuya tahu bahwa ia begitu dicintai dan paham bahwa ia selamanya akan terikat pada Yamaguchi Kenki.

-end-