Showing posts with label Jinnai Sho. Show all posts
Showing posts with label Jinnai Sho. Show all posts

Sunday, June 3, 2012

[fanfic] Wagamama

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13
Warning: BL, OOC, bad English
Disclaimer: I own nothing
Note: Entah kenapa ini jadinya hanya potongan dialog saja ORZ




Hirose turns to lie on his side and pouts to his phone that clamed to his ear for the last ten minutes. On the other end, Jinnai laughs.

“What are you sulking about? I called you this morning and explained that I really couldn’t stay and talk with you because well, I’m not actually a morning person and I had a job to do. And if you checked my blog, and I know you did so don’t say the otherwise, I’ve blogged about it and now we’re talking.”

Hirose pouts, “Because it’s not fair~”

“What is?” Jinnai laughs again.

This time, the sweet boy sighs and turns to lie on his other side, “I made you a surprise party!”

“I did say that today was a no go, right? I think I’ve made it clear and I think you understood.” Jinnai raises an eyebrow.

Hirose shrugs, “Well, I... I thought you weren’t serious and it was just something to take my mind off from expecting a surprise party. I even went so far as lingering at the rehearsal hall longer, expecting you and the guys to appear, bringing cake and...everything...” His voice turns softer. Absentmindedly, his finger traces an invisible line on the bedsheet.

“.....Seriously?”

“You can’t blame me for hoping! I gave you one and it’s only polite that you do the same for me.” Hirose protested defensively, another pout takes place on his thin lips. Jinnai would’ve pinched on his cheek if he was there with Hirose. And Jinnai is laughing again and it only makes Hirose pouts even more. “Jinshan~” he whines, sitting up and drags a pillow to his embrace.

“Sorry. Hahaha... umh... okay, right. Sorry.” Jinnai says, concealing his laugh by coughing several time, “No, really. What are you saying, Daisuke? You know that when I said I can’t go, it means that I really can’t and if I can make it, I always make sure I make it there. Don’t I always like that? Besides, if there really was a surprise party for you, belive me, it won’t be my idea.”

“Jinshaaaaaaaaan~”

“it’s true! It would be Kenta’s or Shoutaro’s or Kensho’s.” Jinnai shrugs.

Adjusting his phone to another ear, Hirose stands up and starts to pace around the room. “Mou. That’s why I said it’s not fair.”

Jinnai chuckles. “You’re really impossible. Fine, I’ll hold a party for you next week. How about that?”

Hirose’s eyes alight as he hears that, “Hontou ni? Hontou ni hontou?”

“Hon~ma. Just... tell me what do you want. I’ll make sure everybody come.”

Hirose bounces where he’s standing, clutching the hem of his pajamas excitely. “But, but, wait. Don’t tell me when and who will be coming. It’s absolutely have to be a surprise.”

“..............Daisuke?”

“Hai?”

“I just told you it’ll be next week.”

“So I’m stopping you from giving me anymore details! Mou!”

“I...Whatever,” Jinnai sighs while messanging the bridge of his nose but he’s smiling, anyway. “So, how was today? Did you have fun?”

“Of course I did! The cake was super delicious and I went out drinking with Mossan and the others after rehearsal. I also got bunch of gifts! I had to make Mossan and Shinchi walked me home and helped me with all those gifts!” Hirose gigles. “Demo ne, I prefer Jinshan to be there today.” He chews on his lower lip, hand reaching out to touch the curtain of his bedroom window.

He hears Jinnai chuckles softly. “Ne, are you standing near your window right now?”

Hirose frowns. “Yeah, why?”

“Nothing. It’s really nice outside. The air is crisp and it smells really nice. It’s too bad that the oden stall is not open today.”

Hirose’s frowns deepen, “How do you know that the oden stall is not open? Jinshan? You’re not...” Hirose draws open the curtain and tries to take a look at the street from his window.

“Are you looking outside your window now?”

“Yes. Wait.” Hirose puts down his phone so he can use both hands to open the window. He shivers at the breeze but shaking it away and takes his phone again. “Hello?”

“Still here. You’re really looking out your window?”

“I am! Where are you?” Hirose cranes his neck and squints so he can get a better vision but even his glasses are not doing that much for him. “Jinshan, I can’t see you. Mou, just step into the light so I can see you or why don’t you just come upstairs? It’s not like you don’t have keys.” Hirose is still craning his neck but sees nothing and to annoy him, Jinnai is laughing.

“Of course you can’t see me! I’m in my room, you idiot.” He laughs so loud Hirose suspects Jinnai must have rolling on the couch because of it.

“JINSHAN! It’s not funny!!”

Jinnai still laughs. “Hahahaha, sorry. Look, I’ve told you my schedule is pretty tight for the moment. You think I’ll jeopardize it by going there and spend the night with you?”

Hirose throws himself to the bed again, letting the window open. He sighs loudly and pouting again. “It’s my birthday! I’m entitled to nice surprises and getting everything I want!”

“Of course, you do. I’d love to be there if it’s not for my job.”

Hirose curls up, hugging both of his knees with one arm and tossing around on the bed. “Ne, Jinshan.”

“Hmm?”

“So, if, say, you can skip tomorrow’s schedule, you’d happily come here?”

“That’s what I said.”

Hirose chews on his lower lip. “Hontou?”

“Un.”

“Hontou ni hontou?

“Honma.”

“Jinshan.”

“Hmm?”

“You really must not forget about that surprise party, okay?” Hirose presses on.

Jinnai chuckles but if only Hirose can see him, Jinnai is nodding. “I won’t. I promise.”

“Jinshan,”

“What, Daisuke?”

“I really miss you today.”

“....I think about you, too.”

Hirose smiles a little. “Call me again tomorrow?”

“You’re the one who insist that you want to talk as long as possible with me.” Jinnai sounds amused.

“But I’m really sleepy. Rehearsal will be at nine.”

“Ouch.”

“You know how it is.”

“Yeah.” Jinnai agrees. “I won’t be in until after midnight, though.”

“I’ll wait! It’s okay. I’ll wait.” Hirose answers quickly.

“If you insist,” Jinnai says. “Fine. I’ll let you know if I finish early.”

“Un. Now, give me a kiss?”

Jinnai laughs.

-end-

Friday, May 4, 2012

[fanfic] Suki Dakara, Suki

Fandom: Tennis no Ouji-sama Musical 2nd Season
Cast: Sexy-san to Otome-nyan
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: Hanya obrolan ngalor-ngidul dan sayang2an. XD




“Mau tinggal di tempatku?”

 

“Eh? Nande?”

 

Pria itu mengerutkan bibirnya lalu mengedikkan bahu dengan acuh. “Ada banyak tempat di rumahku. Tak ada salahnya menampung satu orang lagi. Yah, kalau kau tak mau juga tak apa sih. Aku cuma menawarkan.” Ujarnya sambil bersiap balik badan untuk berlalu.

 

Dengan cepat, ia menangkap lengan pria itu. “Un! Aku mau!”

 

*****

 

Lapisan tipis titik-titik air turun dengan perlahan. Tidak deras, tapi hujan seperti ini bisa membuat perasaan pun jadi berubah. Daisuke memutuskan kalau ia tak perlu membuka payung meskipun ada satu tersimpan di dalam tasnya. Dia lebih memilih merapatkan trenchcoat-nya, menegakkan kerah lalu berjalan menembus gerimis dari stasiun menuju apartemennya.

 

Sepanjang jalan, ia beberapa kali berhenti untuk memperhatikan etalase toko yang masih buka di jam yang sudah mulai larut seperti itu. Senyumnya mengembang lebar saat melihat patisserie langganannya masih buka. Dengan riang dan langkah yang nyaris melompat senang, Daisuke masuk ke toko itu dan keluar tak berapa lama kemudian dengan bungkusan berlogo pattiserie itu di satu tangan dan siulan riang.

 

Hujan memang tidak bertambah deras tapi Daisuke memutuskan untuk mempercepat langkah. Kurang dari 5 menit, ia sudah sampai di gedung apartemen yang masuk dalam hitungan apartemen mewah di daerah itu. Daisuke menekan kodekunci di dekat pintu utama gedung itu, menyapa petugas jaga malam sebelum memeriksa kotak posnya lalu menuju lift untuk naik ke apartemennya.

Beberapa tahun yang lalu, ia tak akan bisa membayangkan dirinya pulang menaiki lift melewati beberapa belas lantai untuk menuju lantai paling atas yang berupa penthouse. Dia baru datang ke Tokyo saat itu, berjuang mengumpulkan biaya untuk kuliah dengan bekerja di sebuah klub. Ia hanya memberitahu ibunya di kampung kalau pekerjaannya hanyalah mengantarkan minuman. Ibunya tak perlu tahu kalau ada hal-hal lain yang terpaksa harus dilakukannya seperti duduk menemani tamu dan kadang membiarkan tamunya meletakkan tangan di beberapa bagian tempat yang sungguh membuatnya merasa risih. Tapi bayarannya sungguh lumayan untuk biaya kuliahnya jadi Daisuke menelan ludah dan memaksa sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum.

 

Dua tahun yang lalu, semua itu berubah. Seseorang datang dalam hidupnya, menawarinya tempat tinggal yang baik, mengenalkannya pada seorang pemilik klub jazz yang mempekerjakannya mengantar minuman dan hanya itu saja tanpa embel-embel lainnya, membantunya mendaftar program beasiswa dan membuat hatinya begitu tentram.

 

Bunyi berdenting pelan dan pintu lift yang mulai membuka otomatis memberinya tanda bahwa ia sudah sampai di rumah. Tanpa menunggu pintu lift terbuka sempurna, Daisuke menyelip keluar dan mengeluarkan kunci. Bagian dalam penthouse itu remang-remang saat ia masuk. Daisuke menutup pintu di belakangnya, meletakkan kunci ke dalam mangkuk kaca yang terletak di atas kotak sepatu di genkan sambil mendorong lepas sepatunya dengan tumitnya.  Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan dengan suasana yang remang. Tak butuh banyak usaha karena ada cahaya yang datang dari lampu duduk di ruang tengah.

 

“Tadaima~” ujarnya riang sambil menggantung trenchcoat-nya di gantungan di dekat pintu lalu mendekat pada sosok yang berbaring di sofa. Kepala orang itu bersandar nyaman di lengan sofa yang empuk. Kedua matanya tertutup sebelah lengan sementara tangan yang satunya tertumpu pada sebuah buku yang tergeletak di atas perutnya. Dadanya bergerak naik turun dengan teratur dan perlahan.

 

Daisuke tersenyum geli. Diletakkannya semua bawaanya di atas meja kopi di depan sofa lalu duduk di tepi sofa, menghadap pada sosok yang tengah tertidur itu. Daisuke membungkuk dan menjulurkan kepalanya untuk mengecup lembut pipi pria itu. Hanya gumaman pelan menyambutnya. Daisuke menciumnya sekali lagi dan kali ini menusukkan jari telunjuknya ke pipi orang itu. Kali ini tangan pria itu bergerak menangkap jari Daisuke.

 

“Kau mau jarimu kugigit sampai putus ya?” Gumam pria itu masih dengan mata tertutup.

 

Daisuke terkikik geli lalu mengecup ujung hidung pria itu. “Kalau tidur di sini tanpa selimut, nanti masuk angin, Jinshan.”

 

Jinnai hanya bergumam, membuka sebelah matanya lalu tertawa melihat rambut Daisuke yang agak lembab. “Bilang lagi soal aku yang tidur di sini dan bisa masuk angin, kau sendiri hujan-hujanan.”

 

Daisuke menyisir poninya yang basah, merengut. “Aku tak akan masuk angin hanya karena hujan gerimis begini.”

 

Jinnai beringsut, membiarkan Daisuke berbaring di atasnya dan menyingkirkan bukunya ke atas meja. “Sou? Baiklah. Kalau besok pagi kau bangun dengan hidung tersumbat dan bersin-bersin, jangan harap aku akan merawatmu ya.”

 

Daisuke mencibir, “Bilang begitu lagi, aku akan kabur ke tempat Mossan.”

 

Jinnai mengangkat alisnya pada ancaman itu. “Oh? Silakan saja loh. Jangan harap kau bisa makan sup miso dan kare enak di tempat Mossan.”

 

Daisuke terdiam sejenak. “M, maa… Kalau hanya miso dan kare, aku sudah bisa buat sendiri loh! Jinshan kan juga sudah mengakui kalau buatanku sudah lumayan enak.”

 

Jinnai nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. “Un. Sou ne. Kalau begitu, karena kau akan pindah ke tempat Mossan, sebaiknya kubatalkan saja ya niat untuk buat éclair isi cream cheese dan raspberry-nya ya.”

 

“Eeeeh? Hidoi!” Daisuke menegakkan tubuhnya dan memukul dada Jinnai, “Pakai taktik seperti itu curang namanya! Jinshan kan tahu aku suka sekali éclair isi cream cheese dan raspberry! Mou!”

 

Jinnai terbahak-bahak sambil berusaha berkelit dari serangan Daisuke meskipun itu bukan hal mudah karena Daisuke masih menindih tubuhnya dan sekarang malah bisa dibilang pemuda itu sudah menduduki perut Jinnai. “Taktik apa? Aku memang berencana buat éclair itu kok. Minggu depan aku mau mampir ke tempat Waka dank arena Waka bilang ingin coba, jadi aku memang mau buatkan. Bukan karena mau mencegahmu pindah ke tempat Mossan, kok.”

 

Daisuke merengut hebat. “Bhu!”

 

“Lagipula,” Jinnai menarik Daisuke ke arahnya dan melingkarkan lengan ke sekeliling pinggang Daisuke yang ramping (kalau tak mau dibilang terlalu kurus) dan Daisuke menurut saja, “kau yang tukang cari perhatian seperti ini, mana mungkin bisa tahan bersaing dengan Shinchi, Utsumi dan Acchan? Buntut-buntutnya kau pasti akan meneleponku sambil mengeluh panjang lebar lalu minta kujemput. Begitu kan?”

 

“M, maa…” Daisuke memiringkan kepala lalu menundukkan kepala. Jemarinya menggerut kemeja yang dikenakan Jinnai lalu bergumam sebal. “Begini saja aku harus bersaing dengan Hiramaki-san kan?”

 

“He?” Jinnai mengangkat kepalanya, menunduk sedikit agar bisa menatap Daisuke dengan baik. “Bilang apa?”

 

Daisuke menelan ludah mendengar nada suara Jinnai yang terdengar sedikit waspada seolah memastikan ia sungguh tak salah dengar. Pemuda itu berpikir mungkin sebaiknya ia diam saja lalu pergi mandi dan tidur. Ia sudah menyenggol hal yang tak seharusnya ia ungkit. Ia sudah tahu bagaimanapun sayangnya ia pada Jinnai dan seberapapun Jinnai punya perasaan yang sama padanya, Daisuke tak akan mungkin bisa bersaing dengan orang itu. Jinnai rela mati untuk orang itu.

 

Meskipun begitu, entah kenapa ia merasa tidak bersalah sama sekali. “Demo, benar kan? Kalau aku menelepon dan bilang, ‘Jinshan, aku keseleo.’ Jinshan akan bilang, ‘Jangan banyak bergerak. Pulangnya naik taksi saja,’ atau ‘Tunggu saja di situ. Nanti setelah kujemput.’ Coba kalau Hiramaki-san yang bilang begitu, Jinshan pasti langsung lari tanpa pikir dua kali lagi.” Ujarnya panjang, menirukan gaya bicara Jinnai tanpa cela. Wajahnya memerah menahan emosi. Entah marah, entah kesal atau mungkin juga ia malu.

 

Dia bersikap seperti anak kecil. Cemburu seperti ini rasanya bodoh sekali.

 

Jinnai mengerjap lalu seperti yang sudah diduga Daisuke, pria itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian, Jinnai mengangkat satu jarinya. “Satu. Waka tak akan meneleponku hanya karena ia keseleo. Orang pertama yang akan dihubunginya jika itu terjadi adalah tetangganya atau Takiguchi-san untuk membantunya mengurus restorannya. Baru setelah itu Waka akan memberitahuku lalu Mossan dan Taku-san. Dua,” Jinnai mengangkat satu lagi jarinya.

 

“Hai, hai. Aku menyesal sudah bilang begitu. Lupakan saja.” Potong Daisuke cepat sebelum Jinnai sempat mencelanya. Ia sudah tahu Jinnai akan bicara apa.

 

Namun seolah tuli, Jinnai tetap melanjutkan, “Apa kau serius beranggapan aku benar-benar tak peduli padamu?”

 

“Sou! Yang seperti itu!” Tuding Daisuke. “Jinshan tak pernah menjawab pertanyaanku secara langsung! Selalu berputar-putar seperti itu! Memangnya aku ini bisa menebak apa yang ada di kepala Jinshan? Aku ini kuliah ekonomi dan bukan psikologi atau ilmu ajaib lainnya, tahu!”

 

Bodoh. Bodoh sekali. Daisuke mengutuk diri dalam hati. Rasanya seperti ingin menangis. Padahal waktu pulang tadi, ia sedang merasa senang sekali tapi kenapa jadi begini? Daisuke mengusap pipinya dengan telapak tangan, menolak untuk melihat ke arah Jinnai lagi meskipun masih membiarkan Jinnai memeluknya.

 

“Aku sama sekali tidak berniat membanding-bandingkan. Sungguh, loh. Tapi—“ perkataannya belum selesai, terputus begitu saja oleh bibir Jinnai yang menangkup cepat dan tegas di atas bibirnya sendiri. Daisuke mengerjap. Sesaat, ia tak bereaksi meskipun Jinnai bergerak mengecup dengan lebih lembut lalu sekali lagi.

 

“Nande?” bisiknya serak beberapa saat kemudian, meskipun bibirnya sendiri kemudian bergerak mencari bibir Jinnai.

 

“Aku tidak melakukan ini dengan Waka, loh.” Ujar Jinnai, membalas ciuman Daisuke dengan kecupan lembut di sudut bibir Daisuke. Hidungnya digesekkan dengan hidung Daisuke, “Kore de jyuubun deshou? Aku mungkin saja langsung lari ke tempat Waka kalau ada sesuatu tapi aku hanya begini denganmu, loh.”

 

Daisuke menjerit pelan saat Jinnai bergerak dan berputar dengan cepat hingga punggung Daisuke terhempas ke bantalan sofa. Pemuda itu hanya sanggup menatap Jinnai dan membiarkan kedua tangannya bergerak melingkari pundak dan leher Jinnai secara insting. Kakinya mengait dengan tungkai Jinnai dan Daisuke menarik menutup mata saat Jinnai mengecup keningnya.

 

“Wakaru?”

 

Daisuke mengangguk, “Tabun.”

 

Jinnai tertawa, menunduk untuk mencium Daisuke sekali lagi. “Orang merepotkan sepertimu ini, benar-benar membuatku pusing.”

 

Daisuke merengut, menggigit bibir Jinnai dengan gemas. “Shouganai deshou? Jinshan ga suki dakara.”

 

“Suki?” Jinnai bertanya, satu alisnya terangkat, menggerakkan bibirnya ke bibir Daisuke lalu beralih mengecup hidung Daisuke.

 

Daisuke mengejar bibir itu, “Un. Suki desu. Zutto.”

 

Sudut bibir Jinnai membentuk senyum miring. “Kochira koso.”

 

Daisuke tertawa. “Dasar curang!”

Wednesday, April 18, 2012

[fanfic] Waka-san

Fandom: TeniMyu 2nd Season
Cast: Hiramaki Jin, Jinnai Sho, Motokawa Shota, Kishimoto Takuya
Rating: PG
Warning: AU, OOC, sedikit slash?
Disclaimer: I don't own anything and/or anyone
Note: Ini gegara shindanmaker dari Tacchin XD untuk prompt: 'yang terperangkap itu aku'




Jin tak pernah menyukai hari-hari seperti ini.

Hari di mana ia harus berdiri di tengah deretan orang yang bersumpah setia padanya –atau lebih tepatnya, keluarganya – bahkan sampai ke tingkat rela mati demi itu. Ia tak pernah suka hari dimana ia harus mempertahankan diri dengan kepalan tangan atau tendangan kaki dan yang ada dalam pikirannya hanya apa yang enak untuk makan malam hari itu. Ia benci ketika mereka harus lari sambil menahan rasa sakit akibat satu-dua tulang rusuk yang patah saat mendengar bunyi sirene dari kejauhan. Lebih lagi, ia membenci hari ketika salah satu atau beberapa dari wajah-wajah yang ia kenal, sosok yang biasa dilihatnya, terbujur kaku di sudut jalan atau rumah sakit atau rumah duka. Ia membenci hidupnya.

“Waka,”

Jin menoleh pada panggilan itu, meskipun tak ingin. Ia juga membenci panggilan itu. Ia punya nama.

Hiramaki Jin.

*****

Denting bel pertanda pintu depan dibuka membuat Jin mengangkat kepala sejenak dari crepe suzette yang tengah dibuatnya. Hari ini sebenarnya hari restorannya tutup tapi ia memang tak mengunci pintu depan meski tanda ‘Tutup’ tetap dipasang di samping pagar depan. Sesosok pria berpakaian cukup gaya melangkah masuk melewati ambang pintu. Bibirnya sedikit dimajukan dan satu tangannya dimasukkan ke saku celana sementara tangan yang lain membawa sebotol wine.

“Jangan bilang baru aku yang datang,” ujar pria itu sambil mendekati Jin.

Jin tertawa pelan, “Bukan pertama kalinya kan, Sho-chan?”

Pria yang disapa Sho-chan itu ikut tertawa. Tanpa bertanya, ia meletakkan botol wine di atas pantry dan mengambil celemek dari dalam lemari di dekat kulkas lalu mengenakannya. Pun tanpa basa-basi membantu Jin membuat saus jeruk untuk hidangan pencuci mulut itu.

“Apa itu tidak terlalu kental?” Jin mengernyit pada saus yang tengah dimatangkan Sho.

Sho menggeleng. “Tidak, tidak. Tenang saja. Di tempatku memang dibuat sekental ini dan rasanya memang lebih asam tapi percaya deh, rasanya akan enak sekali. Waka tidak terlalu suka manis kan?”

Jin mendengus seraya menyikut lengan Sho, “Aku memang tidak terlalu suka manis. Dan jangan panggil aku begitu.”

Sho hanya nyengir. Dia tak ingin membantah namun tak akan menuruti Jin untuk hal yang satu ini. Dia menghormati Jin dan untuknya, Jin selamanya akan tetap jadi tuan mudanya. ‘Waka’-nya. Sho tahu bukan hanya dirinya yang berpikir begitu. Seolah diberi tanda oleh isi kepalanya, pintu depan terbuka, diiringi bunyi denting bel yang disusul sapaan hangat dan kelewat ceria dari dua orang pria bertubuh jangkung. Sosok mereka masuk berturut-turut melewati ambang pintu,

“Gomen kudasai!” seru seorang yang lebih tinggi, mengenakan beanie warna merah bata dan jaket kulit. “Ara! Perkiraanku salah ternyata, Takuya. Sho-chan sudah duluan di sini. “

Pria berambut panjang di belakangnya nyengir lebar. “Seharusnya kau mendengarkan aku, Mossan. Bangun lebih pagi lalu pergi ke tempat Sho-chan supaya kita bisa pergi sama-sama. Setidaknya, Dai-chan akan membuatkan kita kopi yang enak.”

Sho tertawa keras, “Yah, memang cuma itu yang dia bisa.”

Jin ikut tertawa, mengelap tangannya agar ia bisa menyambut pelukan Takuya. “Kau menginap di tempat Mossan lagi, Taku-san?”

Shota melompat ke meja pantry dan mencolek sedikit saus jeruk dari crepe suzette yang baru saja diletakkan Sho di dekat pahanya. “Un. Kami pergi minum-minum semalam. Sebenarnya ingin ke tempat Sho-chan tapi Taku-san ingin makan oden, jadi kami ke kedai di blok empat.”

Sho memukul tangan Shota yang sudah siap mencolek saus jeruk lagi. “Hentikan kalau tak ingin tanganmu patah, Mossan.”

“Uwah, kowai!” Shota berjengit dan menurut. “Oi, Takuya! Mau sampai kapan kau memeluk Waka? Nanti kita tak jadi makan.”

“Urusee, Mossan! Aku ini kan kangen sekali sama Waka.” Tukas Takuya sambil menyusut hidung dan menyeka sudut matanya dengan ibu jari.

“Kenapa kau menangis, Takuyaaaa? Kita kan baru bulan lalu bertemu!” kali ini Jin menyela dan menepuk-nepuk punggung Takuya seraya mencoba melepaskan diri dari pelukan temannya itu. “Dan kalian semua harus berhenti memanggilku begitu.”

Ketiga pria itu saling melempar pandang lalu menjawab serentak, “Yada.”

Jin mendesah, “Mossan, turun dari situ dan bantu aku menata meja. Takuya, bantu Mossan,” ujarnya kemudian dengan nada tegas dan kedua pria itu pun menurut. Sho terkekeh-kekeh kecil sembari memberikan sentuhan terakhir pada hidangan pencuci mulut yang tengah dikerjakannya sementara Jin mengeluarkan seloyang butter bread dari dalam oven. Ruangan itu pun makin wangi dan Shota berdendang senang.

Tak lama mereka sudah duduk mengitari satu meja yang sudah tertata rapi. Sepinggan ravioli isi daging dan keju yang masih mengeluarkan bunyi berdesis, sekeranjang butter bread hangat dan sebuah mangkuk besar berisi French onion soup yang wangi dengan crouton, potongan bacon dan keju brie meleleh di atasnya. Sho menuangkan wine yang tadi dibawanya ke masing-masing gelas, mengitari tiap sisi meja dengan gaya seorang maitre d’ yang anggun dan profesional.

Setiap orang memutar-mutar gelas mereka lalu mengendus pelan. Jin tersenyum lalu mencicip sedikit. “Enak sekali,” dan disetujui oleh yang lain. Sho kembali ke tempat duduknya, melakukan hal yang sama dengan yang lain lalu mengangkat gelasnya, “Jya, untuk Waka.”

“Untuk Waka.”

“Untuk Waka.”

Jin tertawa namun mengangkat gelasnya juga lalu mendentingkannya dengan gelas-gelas yang lain. “Untuk kalian juga.”

Sambil menikmati makan siang yang sederhana itu, Jin memperhatikan teman-temannya satu per satu. Ia sudah mengenal mereka semua sejak lama. Ayah Sho adalah tangan kanan ayah Jin dan mereka tumbuh besar bersama. Jin bertemu Shota dan Takuya saat masih SMU, saat kelompok kecil yang dipimpinnya saat itu ditantang oleh kelompok pimpinan Shota. Setelah dikalahkan, Shota dan Takuya memutuskan untuk masuk ke kelompok pimpinan Jin dan bersumpah untuk mengikuti Jin kemanapun. Ayah Jin pun menyukai ketiga “bawahan” anak lelakinya itu. Saat Jin memutuskan untuk keluar dari rumah, beliau mengijinkan ketiga pria itu untuk tidak terlibat langsung dengan urusan kelompok mereka agar mereka bisa menjaga dan melindungi Jin juga melapor pada beliau jika sesuatu terjadi.

Ketiga pria itu memilih tempat tinggal dalam radius tak lebih dari 1 kilometer dari tempat Jin tinggal. Meskipun Sho memiliki sebuah restoran Perancis kelas atas di Roppongi, Shota mengurus beberapa tempat pemandian umum kelas atas dan serangkaian tempat pijat dan Takuya mengelola tempat pachinko dan sebuah game center; mereka akan dengan mudah mendatangi Jin jika sesuatu terjadi.

Mereka merahasiakan niat itu dari Jin tapi tentu saja Jin tahu. Tak mungkin ayahnya akan diam saja dan bukan tak mungkin, jika kelompok mereka tak juga menyerah dan menemukan calon penerus untuk ayahnya, mereka akan memaksa Jin untuk kembali ke rumah. Jin sama sekali tak ingin itu terjadi dan berharap tak ada sesuatu pun yang menimpa Shota karena kalau ia beruntung, musim semi tahun depan, rapat besar kelompok mereka akan menunjuk Shota sebagai penerus ayah Jin.

“…soal geng di blok dua itu. Mungkin sebaiknya kau mengirim beberapa anak buahmu untuk mengawasi mereka, Taku-san.” Jin mendengar Shota berujar.

Takuya mengangguk sambil menyobek sebuah butter bread dan mencelupkannya ke dalam sup. “Sudah. Aku memang tak senang dengan keadaan ini. Daerah itu memang banyak sekolah, sih. Kenalannya Waka juga sekolah di daerah itu kan?”

Jin mengangguk. Tentu saja mereka pun tahu soal Yuta. “Dia belum pernah cerita apapun tentang diganggu berandalan atau semacamnya. Tapi dia memang pernah bilang kalau belakangan ini semakin banyak gerombolan yang nongkrong di daerah sekitar sekolahnya.”

“Apa aku perlu mengirim orang untuk menjaganya, Waka?” Tanya Shota dengan wajah serius.

Jin menghela nafas. Dia tahu Yuta tak pernah pulang-pergi sendiri. Entah diantar Takuma kalau sedang sempat atau bersama temannya tapi ia tahu kalau kegiatan geng-geng itu makin meningkat dan mulai mengganggu, mungkin ada baiknya kalau ia tahu Yuta dan teman-temannya aman.

Saat Jin tak menjawab, Sho menopang dagu sambil menatap tuan mudanya, “Apa dia tak tahu kau ini siapa, Waka?”

Jin balas mengangkat alisnya pada Sho, “Memangnya aku ini siapa, Sho-chan?”

Sho menatapnya beberapa saat lalu mengedikkan bahu. “Hanya saja, suatu saat harus diberi tahu. Apalagi kalau Waka tak berniat menjauh dari anak itu. Harus kuakui kalau dia lucu.”

Sikut Jin terpeleset dari pinggir meja dan ia berusaha agar wajahnya yang memerah tak terlalu kentara. “Anak itu memang lucu dan kepribadiannya menarik. Mungkin kalau kuceritakan soal keluargaku,” Jin mengedarkan pandang pada mereka satu per satu, “dia akan tertarik dan berujar, “Sugooi!” begitu. Tapi kakaknya pasti akan histeris.” Jelas Jin sambil nyengir.

Takuya tertawa, “Ahahahaha! Tahu! Tahu! Dokter gigi tampan itu memang nampaknya agak panikan meskipun sadis sekali kalau sudah berhadapan langsung dengan pasiennya,” ujarnya sambil bergidik lalu mengelus pipinya sendiri.

Jin menatap setengah terperangah. Mereka bahkan sudah mendatangi Takuma. Apa mereka benar-benar berpikir kalau Yuta selamanya akan ada di dekat Jin? Tapi tentu saja mereka akan melakukan itu. Siapapun yang dekat dengan Jin akan dicari tahu latar belakangnya; siapa keluarganya, datang dari mana, siapa saja teman dan kenalannya, apakah orang ini punya maksud tertentu mendekati Jin dan lain sebagainya. Jin ingin mencegah itu tapi ia tahu mereka tak akan mendengarkannya untuk yang satu ini.

Takuya menangkap pandangan Jin lalu mengibaskan tangannya. “Bukan apa-apa kok, Waka. Aku memang sakit gigi tempo hari lalu Sho-chan memaksaku ke rumah sakit. Kebetulan saja di sana aku melihat Koseki-chan di ruang tunggu ruang praktek.”

Jin memicingkan mata. Takuya buru-buru mengangkat kedua lengannya sebagai tanda mengalah. “Aku tidak bicara padanya. Sumpah!”

Sho menyesap wine-nya lalu berujar dengan santai, “Tapi tak ada salahnya loh mengenalkannya pada kami, Waka. Aku saja mengenalkan Daisuke pada kalian kan? Ne, Mossan?”

Shota tertawa pelan lalu nyengir, “Dai-chan itu beda kasus. Dia tak pernah pergi dari sampingmu. Jujur saja aku masih cemburu loh.”

“Oi!” Sho memukul lengan Shota dengan serbet makannya. “Memangnya tak cukup kau dikelilingi Shinchi dan Utsumi-chan? Lalu siapa itu namanya? Acchan? Kau masih juga mengejar Daisuke?”

Shota berkelit menghindar. “Bercanda, Sho-chan! Bercanda! Wakaaaa, katakan padanya kalau aku cuma bercanda!”

Jin mengulum senyum, “Saa. Mossan kan selalu begitu dari dulu. Mana aku tahu kalau kau benar-benar sudah berhenti mengejar Daisuke?”

“Wakaaa~~!”

Jin melengos sementara Sho sudah bangkit untuk memiting Shota. Takuya terbahak sampai terbungkuk-bungkuk. Sejenak, Jin membiarkan saja mereka begitu sementara ia memikirkan tentang Yuta.

Suatu saat. Suatu saat mungkin dia memang harus bercerita pada Yuta. Ia menghela nafas. Kenapa yakin sekali kalau Yuta akan selalu ada di dekatnya? Anak itu menganggapnya teman dan Jin sungguh tak bisa menjawab kalau ditanya apakah ia menyukai Yuta secara romantis. Mungkin.

Jin menggigit bagian dalam mulutnya dengan resah. Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan kehidupan asmaranya. Ia mengangkat kepala, menatap lurus pada Shota yang sedang bersujud di depan Sho. “Mossan,” panggilnya pelan dan jelas. Dalam sekejab, Shota langsung menegakkan tubuhnya.

“Pastikan kalau Yuta dan teman-temannya aman. Tapi jaga jangan sampai ia sadar.”

Shota mengangguk. Begitu juga dengan Sho dan Takuya. “Wakatta.”

Jin menghela nafas.

Ia benci saat-saat seperti ini.


-end-

Saturday, February 18, 2012

[fanfic] Kitchen

Cast: Jinnai Sho, Mitsuya Ryou, Ueda Yuusuke
Rating: G
Warning: AU, OOC, implied BL
Disclaimer: I do not own anything
Note: percakapan random karena saya tak ada kerjaan di hari hujan ini.


Hari masih pagi ketika Yuusuke tiba di depan sebuah kedai sake. Jalanan di depannya pun masih sepi. Hanya tampak satu-dua orang yang sedang bebersih di depan toko milik mereka. Kedai yang menjual bento sudah ramai sejak pagi buta tapi Yuusuke tak berniat mampir ke situ. Dicobanya untuk membuka pintu kedai sake yang masih tertutup - norennya pun belum dipasang karena belum waktunya buka - sambil berujar, "Gomen kudasai."

Bagian dalam kedai itu pun masih lengang dan lampu di bagian tempat makan belum dinyalakan. Kursi-kursi masih terletak terbalik di atas meja-meja. Ada dua buah panci besar bertengger di atas kompor yang menyala. Asap tipis menguarkan wangi yang diterjemahkan otak Yuusuke sebagai sup dan rebusan sayuran. Beberapa bahan makanan lain teronggok di sebuah meja.

Yuusuke mencoba lagi, "Gomen kudasai," dan tersenyum saat mendengar ada jawaban. Kepala Jinnai menyembul dari balik pintu di bagian belakang dapur. "Ah, Ue-chan! Sudah datang ya."

Yuusuke mengangkat tangannya, "Yo."

"Taruh saja bawaanmu di atas. Aku buang sampah dulu."

Yuusuke menurut dan menapaki tangga mungil yang terletak di sebelah kiri dapur. Jaket dan tasnya diletakkan di dekat meja di ruang duduk mungil di lantai dua. Sekilas ia mengintip ke arah sebuah pintu yang setengah terbuka. Seorang pria setengah baya sedang tertidur pulas dan Yuusuke tak berniat mengganggu maka ia pun turun lagi.

Sambil menggulung lengan bajunya, Yuusuke mencari celemek dan mulai memilah-milah sayuran di atas meja. Jinnai kembali tak lama kemudian, mencuci tangan dan bergabung untuk memberi petunjuk pada Yuusuke apa yang harus dilakukan.

Jinnai sedang menghitung persediaan sake dan minuman lainnya ketika didengarnya Yuusuke bertanya, "Pacarmu yang manis itu ke mana?"

Jinnai tertawa. "Hari ini dia sibuk di kampus katanya. Ada perayaan atau apa begitu. Nanti sih katanya mau datang dengan teman-temannya."

Yuusuke mengangguk-angguk sementara tangannya terus bekerja memotong-motong sayuran. "Kupikir dia akan datang dan membantumu. Biasanya begitu kan?"

"Yah, hidupnya kan tidak berputar di sekitarku saja." Jinnai mengedikkan bahu.

"Tapi tampaknya seperti itu loh." Potong Yuusuke sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya merepotkan tapi kau senang kan?"

"Dou deshou ka," sahut Jinnai namun ia tak bisa menahan cengiran yang muncul. Yuusuke tertawa.

"Ii jyan?"

"Maa ne."

Kedua laki-laki itu tertawa lagi. Saat itu pintu kedai terbuka dan terdengar suara berat yang familiar di telinga Jinnai, "Ojamashima- eh, Ue-chan? Ue-chan da! Hisashiburiiiii!"

"Mitsuya-kun!" Yuusuke pun buru-buru berdiri namun Mitsuya sudah menghampirinya dengan langkah cepat dan menepuk2 pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.

"Eh? Eh? Sudah lama sekali ya. Sedang apa di sini? Memangnya tidak buka toko? Wah, kau tambah tampan ya? Sho-chan, Ue-chan loh!"

"Hisashiburi, Mitsuya-kun. Yappari masih tetap semangat seperti dulu ya." Yuusuke menyalaminya sambil tertawa. "Aku diminta Sho-chan bantu-bantu. Kebetulan aku tak ada pekerjaan karena toko sedang direnovasi."

Tanpa basa-basi lagi, Mitsuya melepas mantelnya dan menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di dekat Yuusuke. "Eh? Paman sakit? Atau sedang pergi?"

Jinnai menghampiri mereka dan meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan kedua temannya itu. "Sakit pinggangnya kumat. Aku tak bisa buka toko sendirian di hari sabtu seperti ini."

"Ah, sou? Boleh kujenguk? Sebentar ya, Ue-chan!" Dan Mitsuya pun langsung melesat ke lantai dua, meninggalkan Jinnai yang geleng-geleng kepala dan Yuusuke yang menahan tawa.

"Dia sudah berubah ya?" Komentar Yuusuke sambil menyesap tehnya.

"Apanya?" Jinnai menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sama saja, kok. Masih saja cengeng dan gampang naik darah."

"Tapi aku senang loh, kalian sudah berhenti berkelahi."

"Berkelahi itu kan bukan mau kami, loh. Orang-orang saja yang terus-terusan mencari. Lagipula, tak bisa seperti itu seumur hidup kan? Lagipula, itu kan sudah lama sekali, Ue-chan. Tak usah diungkit lagi." Tukas Jinnai seraya mengibaskan tangan.

Yuusuke mengangguk-angguk. "Tak menyangka saja dia akan menikah lebih dulu dan... berapa anaknya sekarang?"

"Hmm... Empat?"

"Sugoi~" Yuusuke tertawa.

Jinnai pun terkekeh. "Begitulah. Lagaknya saja marah-marah tapi sebenarnya suka sekali kok."

"Kau juga lega karena tak harus menjaganya terus kan?" Yuusuke mengangkat alis.

"Haaah?" Jinnai menuding temannya dengan sebilah pisau. "Dengar ya, saling menjaga itu insting untuk bertahan hidup, tahu. Sama sekali tak ada unsur romantisnya."

Yuusuke menepis tangan Jinnai dengan tenang. "Aku juga tak bilang begitu, kok. Maksudku, hidupmu jadi lebih tenang kan?"

Jinnai memiringkan kepala, "Yah, dibilang lebih tenang sih..."

"Ah, tidak juga ya." Yuusuke tertawa lagi.

"Sou."

Mitsuya kembali bergabung dengan dua teman lamanya itu tak lama kemudian. "Paman sempat bangun sebentar tadi, tapi sudah tidur lagi." Ujarnya sambil menduduki kursinya lagi dan menjangkau seikat sawi putih.

Jinnai mengangguk lalu mengangkat alis. "Sedang apa?"

Mitsuya balas mengangkat alis. "Aku sedang tak ada kerjaan jadi ikut bantu tak apa kan? Toh, sudah lama tidak bertemu Ue-chan. Ne?" Ujarnya sambil mengangguk pada Yuusuke.

Jinnai memukul bagian belakang kepala Mitsuya dengan kesal dan membuat Mitsuya mengaduh keras dan balas memukul lengan Jinnai. "Apa sih tujuanmu kemari? Kau kan tahu kedai tak akan buka sampai jam 7 malam."

Mitsuya mengerjap. "Ah! Sou!" Dia menepuk tangan seolah baru ingat akan tujuannya mendatangi kedai itu pagi-pagi. "Tak ada apa-apa sih. Hehehe."

"Hah?" Tangan Jinnai sudah terangkat hendak memukul Mitsuya lagi namun temannya yang cantik itu merengut.

"Habis, Kenki sedang dinas ke luar kota. Anak-anak juga sedang study tour ke Osaka. Mereka tak akan pulang sampai lusa. Aku tak ada kerjaan nih." Keluhnya.

Jinnai menghela nafas. Yuusuke tersenyum lebar. "Tak apa kan, Sho-chan. Semakin banyak yang membantu kan enak. Kau jadi punya waktu memperhatikan paman juga."

"Ya sudah." Jinnai melengos ke arah dapur. "Sini. Bantu aku memotong daging ayam untuk yakitori." Ujarnya. "Setelah itu angkat krat bir dari belakang ya."

"Eeeeeh?"

"Katanya mau bantu. Aku bosnya di sini. Kalau tak mau kerja, kau tak akan kubagi sarapan. Atau lebih baik lagi, pulang saja sana." Tukas Jinnai dengan tegas seraya mengacungkan sumpit masak dengan jumawa.

Mitsuya menggembungkan kedua pipinya. Ia makin merengut karena ditertawakan Yuusuke yang geli melihat tingkah dua orang itu. Meskipun begitu, lelaki cantik itu menurut juga dan menghampiri Jinnai untuk mengambil baskom berisi potongan daging ayam dan mulai bekerja dengan tekun.

Sesuai perkataannya, Jinnai membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka meskipun sederhana: sup miso, tempura dan asinan sayur menemani nasi hangat yang mengepul wangi. Yuusuke menyumbang tenaga membuatkan yakitamago yang luar biasa enak. Sementara kedua temannya makan, Jinnai menghilang sebentar ke lantai dua mengantarkan bagian ayahnya.

"Banyak sekali ya," komentar Mitsuya setelah mereka selesai makan dan kembali bekerja, memandang tumpukan sayur, daging, ikan dan bahan-bahan lain yang siap diolah setengah jadi.

Yuusuke mengangsurkan ujung sendok kayu yang digunakannya mengaduk campuran bumbu yakitori pada Jinnai. Menggunakan kelingkingnya, Jinnai mencolek sedikit bumbu dari sendok kayu itu, mengecap sejenak, "Mirin-nya ditambah sedikit lagi," pintanya. "Yah, beginilah kalau akhir minggu. Makanya aku minta Ue-chan membantu."

Mitsuya meletakkan satu krat bir di lantai dan mulai mengatur isinya ke dalam lemari pendingin. "Anak itu tidak akan cemburu?"

Jinnai mengangkat alis. "Maksudmu Daisuke?"

Mitsuya mengangguk.

"Kenapa harus? Kedai ini kan milik keluargaku. Dia saja yang seenaknya memutuskan dia punya hak untuk ikut repot." Jinnai berkilah.

"Sho-chan," tegur Yuusuke halus.

"Iya, bercanda." Sela Jinnai. "Aku malah senang kalau dia tak sering-sering muncul dan lebih konsentrasi belajar. Aku tak ingin dilabrak ibunya kalau sampai nilainya hancur karena terlalu sering main di sini. Yah, meskipun dia juga belajar di sini sih."

Mitsuya mendekat dan menusuk pipi temannya itu, "Sho-chan, kawaii."

"Uruse." Jinnai menepis tangan Mitsuya dan berpura-pura sibuk memeriksa kaldu untuk kuah oden.

"Ne," Yuusuke berujar, tanpa menoleh karena menjaga agar bumbu yakitori yang sedang dibuatnya tidak terlalu mendidih, "apa kau akan mengambilnya masuk ke keluargamu? Paman pasti akan senang sekali punya anak semanis itu."

Jinnai tertawa dan mengedikkan bahu. "Saa ne. Mungkin? Aku masih belum tahu."

"Sudah ditanya?"

"Tentu saja belum."

"Nandee?"

"Micchi, uruse."

"Nandeeee?"

Jinnai menghela nafas. "Belum saja. Kalau dia punya cita-cita yang lebih hebat daripada sekedar menemaniku mengurus kedai sake ini, aku kan tak bisa melarang."

Yuusuke mengangguk-angguk. "Kita punya kewajiban keluarga ya. Bukannya terpaksa sih."

"Sou. Kau mengerti maksudku kan, Ue-chan?"

Yuusuke mengangguk lagi. Mitsuya ikut mengangguk. "Anak itu tak pernah pergi dari sampingmu sih, ya. Bagus juga kalau sesekali dia melakukan hal lain. Demo, iinjyanai? Begini saja kau bahagia kan? Memang tak perlu buru-buru ya. Namanya juga Sho-chan."

Kali ini Jinnai tersenyum lebar. "Sou desu ne."

-end-

Sunday, February 5, 2012

[fanfic] Just His Luck

Cast: sexy-san, otome-nyan
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: I hate my blekberi keypad -_-


Suara pisau beradu dengan talenan dengan ritme yang teratur mengisi dapur mungil itu. Sesekali terhenti untuk kemudian berlanjut lagi. Asap tipis mengepul dari sela tutup panci di atas kompor. Wangi samar daging, sayuran segar, harum bawang bombai dan beberapa bumbu lain memenuhi udara. Daisuke mengendus pelan, memejamkan mata sementara sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Lengannya yang panjang mendekap lutut di depan dada, seolah tak begitu peduli kalau kakinya tak tertutup apapun. Matanya kemudian terbuka, kembali terarah pada sosok yang tengah sibuk memindahkan sayuran yang sudah dipotong-potong untuk direbus di dalam panci.

"Madaaaa?" Tanyanya sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.

"Sabar sedikit. Lagipula, aku yang lebih lapar, kan?" Jinnai melempar beberapa jumput garam dan merica ke dalam panci lalu melempar sejumput melewati bahu.

Melihat itu, Daisuke mengerjap. "Kenapa melakukan itu?"

"Apa?" Jinnai bertanya tanpa menoleh.

"Itu, melempar garam ke belakang."

"Oh." Jinnai melirik sekilas lalu tersenyum miring. "Untuk mengusir nasib buruk yang selalu ada di belakangku."

Sesaat, Daisuke mengerjap, berusaha mencerna ucapan Jinnai lalu menggembungkan pipi dengan sebal saat mengerti apa maksudnya. "Mou! Jadi maksudmu aku ini nasib buruk, begitu?"

Jinnai terbahak, berhenti untuk mencicipi masakannya lalu nyengir lebar, "Maa ne."

"Jinshan!"

Suara tawa Jinnai kembali terdengar sementara si pemilik suara kembali sibuk berkutat dengan masakan lain: meletakkan penggorengan penuh berisi minyak dan menyalakan kompor. Sepasang lengan yang mendadak melingkari pinggang mengejutkannya.

"Kalau begitu, aku akan jadi nasib buruk yang tak mudah diusir dengan taburan garam dan akan mengikuti Jinshan ke manapun seumur hidup."

Jinnai menepuk lengan itu, "Komatta na." Ia kemudian berputar, menghadapi Daisuke yang masih mendekapnya dan menunduk untuk mengecup kening pemuda itu. "Keberuntunganku sepertinya memang sudah habis sejak menolongmu tempo hari. Jadi, Nasib Buruk-kun, sebaiknya kau membantuku meracik salad atau kau tak akan kubagi sup bola daging dan kroketnya." Ujarnya sambil menepuk punggung Daisuke.

"Huh." Daisuke melengos. "Berbahagialah karena nasib buruk yang satu ini suka masakanmu." Cibirnya sembari melipir ke lemari es dan mengambil bahan-bahan untuk salad.

Sambil menggoreng kroket, Jinnai melirik pada Daisuke yang sudah sibuk di sebelahnya. Ia menggigit bibir agar tak mengomentari jersey Daisuke yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya. Pemuda itu bahkan tak ambil pusing untuk mengenakan celemek dan meracik salad dengan tekun. Mau tak mau Jinnai nyengir melihat pemuda itu membuat salad seperti yang biasa disajikan di kedai. Daisuke memperhatikannya saat datang ke kedai di tengah jam sibuk. Siapa sangka Daisuke ingat bagaimana membuatnya.

Daisuke mencicipi campuran saus yang dibuatnya. Cengirannya melebar dan lalu mengulurkan jari telunjuk yang berbalut saus di ujungnya pada Jinnai. Dengan patuh, Jinnai membuka mulut. Bahu Daisuke berkedik senang saat Jinnai mengangguk, menyetujui rasa sausnya lalu beralih membawa mangkuk berisi salad ke meja makan.

"Perlu mangkuk?"

"Kecuali kau mau makan langsung dari panci,"

Daisuke terkikik, melewati Jinnai untuk menjangkau lemari gantung di atas kompor. Sejenak kemudian, ia sudah sibuk menata meja sementara Jinnai memberikan sentuhan-sentuhan akhir pada masakannya. Tak lama, pemuda itu menatap antusias pada sup bola daging, kroket, salad dan nasi hangat yang tersaji di hadapannya.

"Uwa, uwa, uwaaaaa~ Jinshan memang hebaat!" Daisuke bertepuk tangan ceria dan Jinnai harus meletakkan jari di depan bibir agar pemuda itu memelankan suara karena khawatir akan membangunkan ayahnya yang sudah tidur. Daisuke ikut meletakkan jari di depan bibirnya sendiri dan mengangguk minta maaf. "Paman tidurnya cepat ya?" Komentarnya sambil menjangkau sumpit.

Jinnai duduk di sebelahnya, di sisi lain meja. "Biasanya sampai larut juga kok tapi sepertinya sedang agak tak enak badan."

Mereka mengangkat sumpit ke depan dada dan bersama-sama mengucapkan "itadakimasu". Daisuke menjumput saladnya, "Kalau begitu, besok akan seharian di kedai ya?"

Jinnai mengangguk. "Mungkin. Kenapa?"

Daisuke menggelengkan kepala. "Nandemonai," dan mengunyah pelan. "Umai~" komentarnya pada sebuah gigitan kroket.

Jinnai memiringkan kepala lalu terbelalak, "Aah! Aku sudah janji mengantarmu ke toko buku ya? Gomen."

Daisuke buru-buru mengibaskan tangan dan menelan sebelum berbicara. "Daijoubu. Aku masih bisa ke sana kapan saja. Tidak butuh buru-buru, kok."

"Hontou?" Jinnai memandang tak percaya namun anggukan kepala Daisuke berusaha meyakinkannya. Jinnai pun mengangguk-angguk meski masih tak melepaskan pandang dari Daisuke yang kini tengah mencicipi sup bola daging buatannya. Mata pemuda itu melebar dan memandang Jinnai dengan kagum.

"Ini enak sekali! Jinshan, maji de~ Umai! Chou umai!" Ucapnya dengan semangat lalu menyeruput kuah sup, "Aaa, rasanya seperti di surga~"

Jinnai terbatuk karena nyaris tersedak mendengar pujian Daisuke. "Sou?" Dia tertawa, beralih sejenak untuk mengambil teh.

"Un! Aaah, aku sungguh beruntung karena bisa merasakan masakan seperti ini terus." Ujarnya seraya mengulum sumpit.

"Terus?"

"Un."

Jinnai menggigit bagian dalam mulutnya, menahan cengiran. "Sou? Aku benar-benar tak bisa mengusir nasib burukku sepertnya ya."

Daisuke tersenyum lebar. "Muri desu."

-end-

Thursday, February 2, 2012

[Fic] Simple

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13 for being in bed
Warning: AU, BL, OOC
Disclaimer: I am nobody but a humble fangirl. I own nothing.
Note: Baiklah. Ini tak se-pervert yang kuduga. Jinshaaaaan, kenapa kau menahan dirimuuu!! *tabok*



Sesekali, Jinnai berpikir apakah ia akan terlibat masalah karena ini. Yah, dia memang tak pernah terlalu peduli pada aturan tapi yang satu ini masalahnya sama sekali berbeda dari sekedar bolos, merokok di atap sekolah atau berkelahi seperti yang kerap dilakukannya dulu. Masalah yang dimaksud lebih pada masalah untuk dirinya sendiri dan mungkin (meskipun belum tentu) akan jadi masalah untuk orang lain juga. 

Jinnai bukan tipe laki-laki yang suka berpikir macam-macam. Ia selalu senang dan ingin segala sesuatunya berjalan begitu saja dan simpel tanpa perlu berputar-putar. Masalah yang ini... bukannya rumit tapi bisa dibilang cukup membuatnya bingung. Meskipun berulang kali ia ingin kabur, selalu ada saja yang membuatnya penasaran dan yah, ia masih cukup jujur pada dirinya sendiri kalau sebenarnya ia pun tertarik. Sangat tertarik malah.

Ia mendesah dan melirik pada sosok yang berbaring di sampingnya, nampak sibuk dengan ponsel di kedua tangan. Jinnai menggapai rokok yang digeletakkannya di lemari di atas tempat tidur mungilnya. Gerakannya membuat temannya harus beringsut mendekat kalau tak ingin tersenggol jatuh ke lantai. Jinnai mengerjap saat Daisuke menyandarkan setengah bagian punggungnya ke dada Jinnai sementara satu tungkainya menyelusup ke antara kedua kaki Jinnai di bawah selimut.

”Kakimu dingin,” komentar Jinnai seraya menyalakan dan menghisap rokoknya.

Daisuke terkikik namun hanya mengedikkan bahu, masih begitu asyik bermain ponsel. Seolah ingin membuat Jinnai sebal, dia malah menggosokkan tumitnya ke betis Jinnai. Sebagai balasan, Jinnai merunduk dan menggigit pundak kurus Daisuke. Pemuda itu terpekik dan berputar sejenak, mengalihkan perhatian dari ponsel untuk memukul dada Jinnai. Sedetik kemudian, ia kembali sibuk dengan ponselnya.

Jinnai memutar kedua matanya sambil mengusap bagian dadanya yang dipukul. Ia pun tak berkomentar apapun saat Daisuke beringsut lagi, menarik sebelah lengan Jinnai yang tertindih tubuhnya untuk dilingkarkan ke pinggangnya. Jemari Daisuke pun bermain-main dengan jari-jari Jinnai dan mau tak mau, sudut-sudut bibir Jinnai terangkat membentuk cengiran miring. 

Bisa dibilang, Daisuke terlalu kurus untuk seleranya. Ayah Jinnai selalu prihatin tiap kali pemuda itu mampir ke toko sakenya dan menyuruhnya makan banyak-banyak. Daisuke tertawa renyah dan berkata kalau makan sebanyak apapun, ia tak pernah bisa gemuk. Jinnai mencibir dan dihadiahi sebuah lemparan gumpalan tisu ke punggungnya. Lengan dan tungkainya pun terlalu panjang tapi entah kenapa, selalu pas melingkari tubuh Jinnai tiap kali Daisuke memeluknya. 

Lebih dari semua itu, Jinnai harus mengakui kalau Daisuke terasa hangat (kecuali mungkin kakinya saat ini) dan caranya bereaksi pada Jinnai benar-benar membuat pria itu tak bisa menolak atau mengusirnya pergi. Meski diikuti kemanapun, meski Jinnai harus mengantarnya pulang tiap kali karena Daisuke menolak pulang kalau tak diantar, meski banyak perkataan atau tingkah laku Daisuke yang membuatnya memutar mata atau menjitak kepala Daisuke, Jinnai tak bisa bilang dia keberatan (setidaknya, pada dirinya sendiri).

Entah apa pula yang membawa mereka ke situasi seperti sekarang. Maksudnya, tentu saja, melakukan hal-hal yang sangat intim dan biasanya hanya dilakukan oleh pasangan. Jinnai nyaris lupa siapa di antara mereka yang memulai semua ini. Sentuhan lembut di punggung atau lengan, pelukan, kecupan lalu berlanjut lebih dari itu. Bukannya dia mengeluh, hanya saja, seperti yang sudah dikatakannya, Jinnai tak suka sesuatu yang rumit. 

Sekali lagi diliriknya Daisuke yang tengah tersenyum. Begitu manis, begitu menyilaukan. Seandainya dia tak mengatakan apapun juga, apakah Daisuke akan tetap berada di samping Jinnai seperti sekarang? Seandainya orang tua Daisuke tahu dengan siapa anaknya terlibat saat ini, apa yang akan terjadi? Seandainya ayahnya menentang, apa yang akan dilakukannya? Seandainya Mitsuya tak suka pada Daisuke (kemungkinannya kecil, tentu saja. Mitsuya mudah sekali diluluhkan), apa dia akan mengusirnya pergi?

Dia benci sekali harus memikirkan hal-hal seperti itu. 

Pria itu pun mematikan rokoknya meski masih tersisa setengah batang tapi ia tak begitu peduli. Berpikir membuatnya lapar dan ia ingat masih ada sepiring salad dan kroket yang siap digoreng di dalam kulkas. 

”Awas,” ujarnya memperingatkan Daisuke seraya berguling hendak melewati pemuda itu. Saat posisinya sedang tepat berada di atas Daisuke, pemuda itu dengan sigap melingkarkan kedua lengan di sekeliling leher Jinnai dan menahan pinggul Jinnai dengan sebelah lutut. 

Jinnai mengerjap lalu tertawa, ”Minggir.”

”Mau ke mana?” Daisuke mendekatkan wajahnya, menggesekkan ujung hidungnya dengan dagu Jinnai.

Jinnai menjilat bibirnya. ”Lapar.”

”Jadi mau meninggalkan aku sendirian di sini? Aku juga belum makan malam, loh.” Daisuke mengingatkan dengan manja.

 Jinnai mendenguskan tawanya. ”Yang benar saja. Sambil menungguku tadi kan kau sudah menghabiskan dua kotak takoyaki.”

”Kalau belum makan nasi, itu namanya belum makan.” Daisuke memprotes, memperkuat usahanya mencegah Jinnai yang masih berusaha menjauh dengan mengaitkan satu tungkai ke pinggang Jinnai. Ditariknya bagian bawah tubuh Jinnai turun hingga bersentuhan dengan pinggulnya sendiri. 

Jinnai mendesis. ”Baiklah. Tapi hanya ada salad dan kroket di kulkas. Atau kau mau menunggu aku memasak nasi dulu baru kau puas?” Pria itu memutar bola mata, berusaha tak bereaksi pada efek gerakan Daisuke yang sepertinya sengaja menekan di tempat yang cukup strategis.

Setengah mengalah, Jinnai pun melingkarkan kedua lengan mengelilingi tubuh Daisuke. Diangkatnya sedikit tubuh mereka supaya Daisuke berbaring bersandar bantal dan ia sendiri bisa lebih nyaman bersandar pada Daisuke. Pemuda itu tertawa senang, entah kenapa. Sebelah kakinya bergerak, tumitnya menelusuri kaki Jinnai mulai dari lutut naik ke paha dan mengulang gerakannya dengan pelan.

”Hmm, tapi itu berarti aku akan pulang kemalaman?” Jemarinya terulur memainkan anak rambut di pelipis Jinnai.

Jinnai mendengus, ”Ini sudah jam sebelas kurang, tahu.”

Daisuke mengedikkan bahu dengan genit, menggapai ponselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di dekat bantal. Jemarinya bergerak cepat lalu kembali meletakkan ponselnya. ”Aku menginap.”

”Chottoooo~”

Daisuke hanya tertawa dan malahan mengeratkan pelukannya di sekeliling leher Jinnai dan kaki ini kedua kakinya memerangkap pinggul Jinnai dengan sempurna. ”Paman kan tahu aku di sini.” bisik Daisuke, memandang Jinnai dari balik bulu matanya yang panjang.

Jinnai memutar bola matanya lagi, ”Kau selalu menyapanya tiap kali datang kemari dan sebelum aku mengantarmu pulang. Bagaimana mungkin beliau tak tahu kau masih ada di sini, hah?” Tukas pria itu sambil menggigit ujung hidung Daisuke dengan gemas.

Daisuke tertawa lagi hingga matanya menghilang dan sudut-sudutnya membentuk kerutan imut. Jinnai mengusap tempat itu dengan ibu jarinya dan balas menatap Daisuke yang sudah membuka matanya lagi. Daisuke menatapnya dengan mata berbinar dan sedikit berbeda dari biasanya. Jinnai tahu apa maksudnya tapi entah kenapa ia malah mengalihkan pandang ke leher putih Daisuke.

Daisuke mencium pipinya dan Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir. Entahlah. Perutnya yang lapar kembali bergejolak dan Daisuke terkikik geli mendengarnya.

”Kubilang kan? Aku lapar nih,” protes Jinnai, kali ini memberanikan diri melihat ke arah Daisuke.

Pemuda itu nyengir lebar, ”Tapi aku masih ingin begini loh. Kalau masih tetap ingin ke dapur, kamu harus menggendongku dalam posisi begini.”

Satu tangan Jinnai bergerak ke samping tubuh Daisuke dan jari-jarinya menekan di antara tulang rusuk Daisuke. Pemuda itu pun spontan menjerit dan memberontak karena geli. Hebatnya, ia tetap keras kepala tak mau melepaskan Jinnai dari pelukannya.

”Oi, Daisuke~” Jinnai terengah saat Daisuke berhasil menggeliat dan malah memposisikan tubuh mereka sebegitu rupa hingga tubuh mereka merapat mulai dari pinggul hingga dada. Bergerak sedikit saja, Jinnai tahu dia harus melupakan makan malamnya.

Sebaliknya, Daisuke malah meletakkan kedua tangan di pundak Jinnai dan memandanginya dengan tatapan penuh puja dan pipi yang sedikit bersemu merah. Jinnai mengumpat dalam hati. Dibuangnya semua hal yang memenuhi otaknya, seperti yang biasa dilakukannya. Ujung-ujung jemari Daisuke menelusuri rahang dan bibir Jinnai, mengikuti dengan kecupan kecil di tempat yang baru saja disentuh. Pemuda itu mendesah senang saat Jinnai beringsut dan mengecupi lehernya. 
”Aku akan makin lapar setelah ini loh.” bisik Jinnai seraya menggigit bibir bawah Daisuke.

Daisuke tertawa, ”Hmm. Aku kan tak pernah menolak menemanimu makan malam.” Ia mendesah lagi, bergerak mengikuti isyarat tubuh Jinnai.

”Tsk. Tak ada makan malam untukmu.” Jinnai bergerak lagi, memeluk Daisuke erat-erat.

Kali ini pemuda itu menarik nafas tajam dan getaran tubuhnya membuat Jinnai merasa begitu senang. Wajah Daisuke berubah semakin merah tapi cengirannya tetap muncul. Daisuke menempelkan pipinya ke pipi Jinnai dan ia tersenyum saat membisikkan nama Jinnai dengan suara sedikit bergetar.

Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang tak perlu berpikir serumit itu.  

-end-

Sunday, January 15, 2012

[fanfic] Honest

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Note: Karena pairing ini sangatlah lucu.

Happy birthday, Jinshaaaaaan!!




"Jinshan!"

Langkah Jinnai terhenti sementara kepalanya menoleh ke belakang melewati bahunya. Seorang pemuda bergakuran berlari-lari kecil ke arahnya sambil melambaikan tangan, sementara tangan yang satu lagi menjaga ransel yang tersampir di pundaknya. Jinnai memutar tubuhnya sedikit.

"Ou. Daisuke ka."

Daisuke menggembungkan pipi dan memukul lengan Jinnai saat ia sudah berada di samping pria itu. "Kenapa seperti tak senang begitu sih?"

Jinnai mendengus dan hanya mengedikkan bahu. Dengan acuh, dia kembali melangkah, membiarkan Daisuke menyusul dan menyejajari langkahnya.

"Mou," pemuda itu masih tak terima. "Kenapa sih? Salah bangun? Dompetnya hilang? Atau dimarahi Paman karena berkelahi lagi?" Tanyanya beruntun. Sebuah sentilan di ujung hidungnya membuatnya memekik terkejut. "Sakit, tahu! Awas kalau sampai aku tak manis lagi karena luka di hidung."

Jinnai tertawa terbahak-bahak. "Memangnya kau ini perempuan?" Ujarnya seraya menyelipkan sebatang rokok ke sela bibirnya.

Daisuke memiringkan kepala, meletakkan jari di pipi lalu tersenyum genit. "Tapi aku tak kalah manis sama anak perempuan, loh. Semua orang bilang begitu."

"Percaya saja, deh." Jinnai mengangguk-angguk. Dia pun tak mau menyangkal. Daisuke memang manis dan sangat ramah pada siapapun. Dipikir lagi, mereka bisa kenal pun karena Daisuke yang manis itu diganggu gerombolan preman dan Jinnai yang kebetulan lewat jadi harus menolong. Dia tidak bilang dia anak baik -reputasinya sebagai orang nomor dua terkuat di wilayah itu setelah setan cantik bernama Mitsuya Ryou sungguh bukan gelar main-main, tapi dia tak suka menggunakan kekuatannya untuk sengaja mengganggu yang lebih lemah. Bukan salahnya ataupun maunya kalau bertahun-tahun setelah itu pun Daisuke masih mengikutinya kemana-mana.

"Ngomong-ngomong, Jinshan mau ke mana?" Daisuke mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah Jin.

Pelipis Jinnai berkedut, "Kau ini. Mestinya tanya itu dari tadi sebelum mengikutiku kan?"

Daisuke tersenyum. "Daijoubu. Sudah tak ada berani menggangguku lagi sejak aku sering jalan bareng Jinshan, loh!" Jawabnya ceria.

"Tsk." Jinnai berdecak. "Kau memanfaatkan aku nih, ceritanya?"

"Mochiron!"

Jinnai mendesah pasrah. "Aku mau belanja." Ujarnya kemudian.

"He?"

"Keperluan toko."

"Boleh ikut?" Daisuke mengerjap tanpa dosa.

Jinnai memutar kedua bola matanya. "Memangnya kau akan menurut kalau kusuruh pulang?"

Daisuke terkikik dan menggeleng dengan ceria. Tanpa ragu, ia menggamit lengan Jinnai dan bersenandung riang saat mereka melanjutkan langkah.

Mungkin memang ada untungnya membiarkan Daisuke ikut dengannya. Pemuda itu dengan riang dan imutnya menawar semua barang yang hendak dibeli Jinnai. Paman penjual sayur rela memberikan 1/2 kilo lebih banyak dengan harga yang sama yang biasa dibayar Jinnai. Paman penjual daging, setelah disenyumi Daisuke, rela memberikan diskon 1/2 harga. Bibi penjual beras memberikan bonus sekantung kue beras untuk camilan.

Jinnai harus angkat topi untuk pemuda itu. Karena itu, dia tak menolak saat Daisuke menarik-narik lengan bajunya sambil menunjuk-nunjuk toko es krim. "Jinshan, haus!"

Ditepuknya kepala Daisuke sambil menunjuk ke arah lain. "Yang di sana lebih enak." Tukasnya.

Wajah Daisuke berbinar dan ditariknya lengan Jinnai dengan semangat.

"Di sini?" Daisuke menunjuk sebuah toko mungil bergaya tradisional Jepang dengan noren berwarna biru tua bertuliskan kanji es. Jinnai mengangguk lalu mendului Daisuke memasuki toko itu.

"Irasshai~" sebuah suara yang ramah dan empuk di telinga menyambut begitu Daisuke menyembulkan kepala dari balik noren.

"Yo,Ue-chan!"

"Sho-chan! Hisashiburi!"

Daisuke mengerjap, menatap dengan agak heran pada Jinnai yang ngobrol dengan akrab dengan pelayan toko itu: seorang pemuda bertubuh agak gempal dengan rambut super cepak dan berwajah cukup tampan. Ia mendekat dan mengintip dari belakang punggung Jinnai.

Pemuda pelayan itu mengenakan jinbei bermotif garis vertikal berwarna coklat, juga mengenakan celemek hitam di pinggang. Ia memiringkan kepala lalu tersenyum ramah saat melihat Daisuke. Ia mengangkat alisnya yang tebal pada Jinnai, "Temanmu?"

"Ah, begitulah. Ini--"

"Hirose Daisuke desuu! Yoroshiku!" Daisuke langsung menyambar dengan ceria sampai pemuda di hadapan mereka tertawa.

"Lucu ya. Aku Ueda Yuusuke. Teman lamanya Sho-chan." Balas pemuda itu.

"Aku lucu katanya, Jinshan." Daisuke berucap dengan antusias. "Teman Jinshan berarti temanku juga."

Jinnai menggaruk-garuk kepalanya. "Jangan seenaknya memutuskan begitu, dong. Sana, duduk. Kau mau pesan apa?"

"Ada es krim azuki? Pakai mochi!"

Pemuda bernama Yuusuke itu mengangguk. "Kashikomarimashita. Sho-chan yang biasa?"

Jinnai mengangguk kemudian menyusul Daisuke yang sudah menempatkan diri di meja kedua dekat pintu. Toko itu tak terlalu besar, malahan bisa dibilang mungil. Hanya ada 6 meja untuk dua orang dan 1 di ruang tatami di sudut ruangan. Interiornya pun sama sekali tak ada kesan modern kecuali televisi, mesin kasir dan telepon di meja kasir. Daisuke memperhatikan dengan antusias lalu menyibukkan diri melihat menu yang ada di atas meja; ditulis tangan dengan bentuk kanji yang sangat rapi.

"Toko ini sudah lima generasi loh."

Daisuke mengangkat kepala, menerima handuk basah untuk mengelap tangan yang disodorkan Jinnai. "Ih, aku kan tidak tanya." Kikiknya.

"Tapi kau penasaran kan?"

"Hehehe. Yang tadi itu benar temanmu? Bekas berandalan juga?"

Jinnai memukul kepala Daisuke, tak keras tapi cukup membuat pemuda itu mengaduh dan menggembungkan pipi dengan sebal. "Aku kan cuma tanya."

"Ue-chan itu bekas ketua klub kendo. Dia sering mengajakku bergabung dengan klub daripada aku berkelahi terus. Tapi aku tak berminat."

Daisuke mengangguk-angguk sok mengerti. "Jinshan sepertinya suka padanya ya?"

Jinnai memandang Daisuke sejenak lalu menopang dagu sambil tersenyum jahil. "Kalau iya? Apa kau cemburu, Daisuke?"

Daisuke ikut menopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua pipinya kembali menggembung. "Jangan menggodaku, ah."

Jinnai mengangkat sebelah alisnya. "Kamu loh yang mengikuti kemana-mana."

"Memang. Begitu saja sudah mengerti kan?" Daisuke melengos.

"Katanya tak mau kelihatan tidak manis? Jangan cemberut dong."

"Bhu."

Jinnai tertawa kencang. Yuusuke yang muncul dengan pesanan mereka (es krim azuki dengan mochi dan es krim mangga) sampai mengangkat alis penasaran. Jinnai hanya nyengir dan Yuusuke pun berlalu setelah dipuji kalau es krimnya enak.

Daisuke masih pasang tampang cemberut meski sudah menghabiskan dua porsi es krim lagi. Ia memandang tak senang pada Jinnai yang tampak tak peduli dan malah berlama-lama ngobrol dengan Yuusuke sebelum mereka pamit pulang.

"Belanjaannya?" Tanya Daisuke saat mereka melangkah meninggalkan daerah pertokoan itu.

"Nanti diantar. Aku kan tak bawa mobil." Jinnai menyahut singkat.

Daisuke mengangguk. Diikutinya langkah Jinnai yang menuju ke arah rumahnya. Hari sudah gelap saat mereka berhenti di depan sebuah rumah berpapan nama 'Hirose'.

"Jya. Mata ne." Ujar Jinnai sambil tersenyum miring dan membuat tanda salut dengan sebelah tangan lalu berbalik.

"Ano, Jinshan!" Panggil Daisuke.

"Hmm?" Jinnai berbalik lagi. "Ada apa?"

Daisuke terdiam sejenak. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, senyum lebarnya yang ceria sudah kembali menghiasi wajahnya. "Nandemonai. Mata ne~" ucapnya sambil melambaikan tangan.

Jinnai mengerjap lalu berdecak. "Brengsek." Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kedua kakinya melangkah dan ditariknya lengan Daisuke yang baru saja hendak membuka pintu pagar.

"Jinshan?"

Jinnai tak menjawab. Satu lengannya dilingkarkan ke pinggang Daisuke dan menarik pemuda itu merapat pada tubuhnya sendiri dan diciumnya pemuda itu tanpa ragu. Bibir yang hangat, lembut dan terasa manis seperti es krim azuki. Dikecupnya dengan sayang sementara mengeratkan pelukan. Dirasakannya tubuh Daisuke bereaksi padanya dan Jinnai memberanikan diri untuk memagut beberapa kali sebelum melepaskan pemuda itu dari pelukannya.

Daisuke nampak sangat terkejut dan meski wajahnya memerah, matanya berbinar riang dan ia terkikik senang. "Jinshan,"

Jinnai mendengus dan mencubit pipi Daisuke. "Oyasumi."

"Un. Oyasumi."

-end-