Cast: Inoue Masahiro, Matsuzaka Tori and friends
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I only owned the plot
Note: Utang gue lunas yessssssssssssss! Akhirnya bakappuru ini menikah juga *susut air mata haru*
Suasana rumah yang luar biasa besar layaknya istana itu begitu sibuk meskipun hari masih pagi sekali. Matahari bahkan belum benar-benar terbit di sebelah timur. Halaman belakang rumah yang sangat luas (lebih luas daripada halaman lain di rumah itu, tentu saja. Katakan saja ukurannya nyaris seukuran lapangan sepak bola) tampak berbeda dari biasanya. Ada sekitar 30 meja-meja bundar dengan masing-masing delapan kursi di sekelilingnya ditata rapi dengan taplak berwarna putih. Center pieces di tiap meja berupa rangkaian bola kristal dan lilin berwarna merah dan pink. Begitu juga serbet makan yang ditata bersama tumpukan piring, seperangkat alat makan dan gelas berbagai ukuran. Di dekat tiap gelas champagne tergeletak kartu nama kecil bertuliskan nama masing-masing tamu yang akan hadir. Di dekat area duduk itu sudah dipasang sebuah tenda yang menaungi tiga meja bundar lain. Bergeser sedikit ke kanan dari tenda itu, di dekat air terjun buatan, ada sebuah podium yang sedang diberikan sentuhan akhir. Dihiasi pita-pita, selendang, dan bunga bernuansa merah, pink dan putih.
Mitsuya sibuk mondar-mandir di halaman itu, memastikan semua dekorasi sudah terpasang dengan baik pada tempatnya, tenda tak akan roboh meskipun ada angin kencang (tidak akan terjadi, ia sudah mengecek laporan cuaca), microphone dan pengeras suara sedang dipasang dan ia harus melangkah hati-hati kalau tak ingin tersandung kabel yang masih bersliweran. Ia melirik arlojinya dan dengan bergegas masuk ke dalam bangunan utama melalui dapur besar yang jadi tempat paling sibuk di rumah itu. Setiap sudut dapur tertutup makanan yang sudah jadi maupun bahan-bahan yang siap diolah. Takki sedang mencicipi saus sementara Jin sedang mengawasi laporan jumlah perangkat makan yang harus disiapkan.
“Hiramaki-san, yang di luar sudah beres? Masih perlu lagi yang lain?” Tanya Mitsuya sambil mendekati Jin.
Jin mengangguk, “Aku sempat melihat tadi tapi akan kucek sebentar lagi. Mitsuya-kun sudah sarapan?”
“Ah, mana bisa aku memikirkan sarapan di saat seperti ini?” keluh Mitsuya, ikut melirik daftar di tangan Jin.
“Tak boleh begitu. Sainei-san sudah mengundang kita untuk sarapan sama-sama di ruang makan loh. Makanlah. Setelah itu masih harus mengecek ruang tatami kan? Nanti kalau kau pingsan, Sainei-san bisa marah sekali karena kau mengacaukan pesta pernikahan adiknya.” Tegur Takki yang ikut menimpali. Kedua tangannya memegang nampan berisi omelet yang tampak lembut menggoda.
Mitsuya mendesah. Kenki juga sudah berpesan kalau dia tak boleh sampai lupa makan dan harus istirahat dengan cukup begitu Mitsuya pamitan untuk menginap di rumah Keigo dua hari yang lalu. Ia harus pindah markas dari apartemen Tori ke rumah Keigo karena perlengkapan dekorasi yang dipesannya sudah berdatangan dan harus mulai dipasang. Ia sama sekali tak menyangka akan bisa menginap di rumah idolanya itu. Senangnya luar biasa apalagi dia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk pernikahan Masahiro dan Tori. Mendesah sekali lagi, Mitsuya pun mengikuti Takki ke ruang makan.
Di ruang makan sudah ada Kubota, Sainei, Takuya, Kei dan Tsune yang melambaikan tangan agar Mitsuya duduk di sebelahnya. Mitsuya pun tersipu saat Tsune menuangkan kopi untuknya dan mengucapkan terima kasih dengan malu-malu. Tsune balas tersenyum.
“Apa yang lainnya belum bangun?” Tanya Mitsuya sambil mengambil omelet dan potongan bacon.
“Ibuku sebentar lagi turun. Kazuki sedang mengecek apakah Masahiro sudah bangun. Kau hanya makan itu?” Kubota mengulurkan piring saji berisi potongan sosis gemuk ke arahnya. “Nih, tambah lagi. Kita semua akan perlu energi banyak hari ini.”
“Masakannya enak sekali, Takiguchi-san.” Tsune berkomentar sambil mengelap mulutnya dan menyesap kopi.
Takki tersenyum lebar. “Terima kasih. Ini semua yang buat Jin, kok.” Dan seperti diberi tanda, Jin pun muncul dari dapur sambil membawa seteko kopi lagi dan duduk di sebelah Takki. Ia pun tersenyum lebar begitu Tsune mengulangi komentarnya. “Ah, ini hanya sarapan biasa. Tapi kalau tak keberatan untuk menyicipinya lagi, silakan datang ke tokoku kapan saja.”
“Oi, oi. Kenapa kau malah promosi.”
“Ah, tidak boleh ya?”
Tawa semua orang meledak. Sainei menyela, “Tentu saja. Beri tahu saja alamatnya. Kapan-kapan mungkin aku akan mampir dengan teman wanitaku.”
Kubota, Tsune, Takki dan Mitsuya memutar mata dan Sainei pun langsung protes, “Apa?”
Jin tertawa renyah, “Silakan datang kapan saja.”
Kazuki turun sambil menggandeng lengan ibunya dan menarikkan kursi di ujung meja untuk wanita itu. Maya tersenyum lembut pada anak-anak dan tamu-tamunya. Wanita itu masih mengenakan mantel kamar tapi rambutnya sudah tergelung rapi membentuk sanggul kecil di tengkuk. Kubota menawarinya kopi tapi ibunya lebih memilih teh.
“Masahiro sudah bangun?” Tanya Sainei sambil mengangsurkan sandwich pada kakak keduanya.
Kazuki mengangguk. “Sedang berusaha menelepon Matsuzaka yang sepertinya menolak untuk mengangkat telepon. Kimito sedang memitingnya karena tak mau diam dan duduk tenang. Mungkin sebaiknya sarapannya dibawakan saja ke kamar.” Ujarnya pada kepala pelayan mereka.
Tsune menggeleng. “Biar aku saja. Aku sudah mau selesai, kok. Ini salah satu tugas pendamping pria juga kan?”
Maya tersenyum, “Mungkin sebaiknya begitu. Sekalian saja siap-siap ya, Tsunekki?”
“Tentu saja, Bibi.” Jawabnya sambil menjejalkan secangkir kopi dan sepotong sandwich ke tangan Mitsuya yang sudah hendak bergegas karena diberi tahu seorang pelayan bahwa ia dibutuhkan di ruang upacara. Tsune pun menyelesaikan sarapannya dan menghilang ke dapur. Tak lama ia naik ke lantai dua dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Masahiro.
*****
Sarapan pagi di apartemen itu sungguh sederhana. Sepoci kopi, sepoci teh, setumpuk roti panggang, beberapa botol selai, sepinggan poached egg. Semua orang berkumpul di meja makan mungil itu. Sorimachi duduk sambil merokok dan membaca koran, Yuki di sebelahnya menyesap teh yang dicampur sesendok selai, Takuma ngobrol dengan Shunsuke dan Tori yang sibuk meladeni Masaki yang nyaris tertidur lagi di atas roti panggang.
“Kita harus berangkat jam berapa?” Yuki akhirnya bertanya.
Takuma mengangkat wajah untuk melihat ke arah jam dinding. “Jam 8 harus sudah di sana. Kita masih punya banyak waktu kok. Sekarang kan masih jam setengah 6.”
“Bibi cemas ya?” ujar Shunsuke sambil menuangkan teh lagi ke cangkir Yuki.
Yuki mendesah. “Kau ini bicara apa? Aku ini sudah biasa dalam situasi tegang begini. Anggap saja ini seperti pembukaan cabang spa baru.”
“Haaaah? Nani soree?” Protes Tori. “Bisa-bisanya Ibu menyamakan pernikahanku dengan pembukaan cabang spa.”
“Habis mau bagaimana? Anggap saja begitu kalau tak mau terlalu gugup kan? Ne, Takashi-san?”
Sorimachi hanya terkekeh. Pria itu melipat korannya dan minta diulurkan roti panggang lagi. “Terserah padamu saja, Yuki. Toh, mereka sudah mempercayakan persiapannya pada orang-orang yang handal kan? Kita sih tinggal datang dan duduk saja.”
Tori merengut. “Enak saja bicara seperti itu. Yang mau menikah kan aku. Ayah dan Ibu tak tahu seperti apa stresnya.”
“Hei!” tegur Yuki seraya menepuk punggung tangan Tori. “Aku ini juga pernah berada di posisimu, tahu. Kau tak bisa tidur kan semalam? Aku pun begitu dulu.”
Shunsuke mengintip wajah temannya itu dan terkesiap melihat kantung mata Tori. “Aaah, ikenai, ikenai.” Lalu bangkit membuka kulkas dan memotong ketimun segar. Digeretnya Tori ke sofa dan memaksaya berbaring diiringi protes keras Tori saat Shunsuke meletakkan potongan timun di atas kedua matanya.
“Diam. Jangan bergerak.” Ancam Shunsuke sampai Tori akhirnya menurut.
Masaki mengangkat kepalanya dari atas meja, “Aku tak boleh tidur lagi saja, ya? Ini masih pagi sekaliiiii.”
Takuma menepuk-nepuk kepala Masaki dengan sayang, “Dame. Kecuali Suda mau berangkat sendiri ke rumah Inoue-kun nanti siang dan melewatkan upacara pernikahannya Matsuzaka.”
Bibir Masaki merengut maju. “Bhu, tak mauuuu.”
“Kalau begitu, nih minum susumu dan habiskan sarapanmu ya. Nanti kan di sana ada Yuuki juga. Suda tak akan kesepian.”
Wajah Masaki langsung berbinar cerah dan dalam sekejab, anak itu pun terlihat segar. “Asyik, asyik! Ada Yuuki-chan! Ada Yuta-chan juga kan? Nanti kami boleh main sendiri kan, Papa?”
Tori mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda persetujuan. Ia benar-benar tak bisa bergerak kalau tak mau dipelototi Shunsuke. Sampai tengah malam ia tak bisa tidur dan memandang iri pada Masaki yang sudah mendengkur pelan. Ia akhirnya keluar untuk membuat segelas susu hangat dan menemukan Takuma dan Shunsuke yang masih ngobrol di ruang tamu. Kedua pria itu pun menyambutnya hangat dan Takuma membuatkannya segelas susu hangat yang dicampur brandy. Mereka ngobrol beberapa lama sampai Tori akhirnya benar-benar mengantuk. Itu pun tidurnya tak nyenyak karena kerap terbangun.
Ia bersyukur karena dua gelas kopi sudah berhasil membuatnya merasa sedikit lebih terjaga. Rasa dingin ketimun yang saat ini menutupi kedua matanya pun cukup matanya yang tadinya terasa begitu berat jadi lebih ringan dan segar. Tori mendesah pelan. Entah untuk keberapa kalinya sejak kemarin. Ia bersyukur ada Takuma dan Shunsuke di dekatnya, kalau tidak, mungkin ia sudah jadi gila. Takuma pun mengijinkannya mengkonsumsi banyak makanan manis supaya ia lebih tenang dan tak terus-terusan senewen.
Tori merasa sesuatu yang empuk dan hangat dijejalkan dalam genggamannya, disusul suara Takuma. “Inoue-kun menelepon terus sejak tadi, loh. Tidak kau angkat?”
Tori membawa benda dalam tangannya yang ternyata roti panggang ke mulutnya dan mulai mengunyah dengan mata tetap tertutup. Ia mendengus, “Biar saja. Paling hanya mau mengomel atau merajuk. Aku sedang ingin panik sendiri saja saat ini tanpa perlu pusing mengurusinya yang panik juga.”
Takuma terkekeh pelan dan menepuk pelan lengan atas Tori. “Setengah jam lagi kita siap-siap, ya.”
Tori mengeluarkan suara tanda setuju karena sedang sibuk mengunyah rotinya.
*****
“Kenapa sih dia tak mau angkat telepon? Masa belum bangun? Aku saja tak bisa tidur. Toriiiii, angkat teleponnyaaaa!” Masahiro kembali bersungut-sungut seraya menekan ulang nomor telepon Tori mungkin untuk keseratus kalinya pagi itu sejak ia benar-benar bangun.
Kimito mendesah dan merampas handphone Masahiro dengan kasar lalu memukul kepala temannya itu. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Di sana kan juga sedang sibuk. Mungkin Matsuzaka-sensei tak sempat angkat telepon. Daripada itu, mandi sana! Jangan sampai aku harus menendangmu ke kamar mandi ya.”
Bukannya mendengarkan temannya, Masahiro malah mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. “Apa jangan-jangan dia berubah pikiran? Apa benar begitu? Mungkin saja kan? Tiba-tiba dia takut lalu pergi entah ke mana dengan Shunsuke sialan itu. Aaaaargh! Seharusnya aku memaksa mereka menginap di sini saja semalam. Kenapa sih pakai acara tak boleh bertemu sebelum hari-H segala? Kalau dia benar-benar berubah pikiran, bagaimana ini?” Secepat kilat Masahiro menggenggam keras kemeja yang dikenakan Kimito dan mengguncang-guncang tubuh temannya itu, “Kimito! Cari tahu! Cari tahu Tori pergi ke mana. Kita harus cepat! Dia tak boleh berubah pikiran! Kimito, kau dengar aku?”
Sebuah kepalan keras mendarat di kepala Masahiro. Begitu kerasnya hingga pemuda jangkung itu terhuyung mundur. Matanya mengerjap bingung lalu jatuh terduduk di atas tempat tidurnya. Kimito mendengus kesal seraya meniup kepalan tangannya.
“Sudah bangun? Sekarang mandi! Kau perlu mendinginkan kepalamu!” Kimito menunjuk ke arah kamar mandi dengan tegas. Masahiro, yang masih agak pusing dan bingung, mengangguk dan menyeret tubuhnya dengan patuh.
Kimito memastikan Masahiro masuk ke kamar mandi dan begitu mendengar suara air mengalir dari shower, ia mendesah dan merutuki dirinya sendiri kenapa mau-maunya terlibat dengan orang merepotkan macam itu. Sepertinya ia memang kena kutuk. Setengah kesal, ia menelepon Ryouta yang untungnya sudah bangun dan berkata kalau cake-nya sudah masuk oven dan sebentar lagi matang. Sebenarnya Kimito lebih ingin nongkrong di toko Ryouta saja dan memperhatikannya membuat kue pengantin pesanan Masahiro dan Tori tapi dia kan pendamping pria. Bisa diamuk orang banyak kalau ia menghilang di saat penting begini.
Benar-benar kena kutuk, deh. Ryouta menertawainya dan menyuruhnya mulai bersiap-siap juga dan mendoakan semoga upacaranya lancar karena Ryouta baru akan datang menjelang resepsi siang nanti. Kimito mengangguk setuju, menutup teleponnya dan memperhatikan tiga helai kimono hitam yang terpajang berjejer di salah satu sisi dinding kamar Masahiro. Milik Masahiro berwarna hitam sementara miliknya dan Tsune biru tua.
Sementara itu di kamar mandi, Masahiro berdiri terpaku di bawah kucuran air dingin yang mengalir dari shower. Ia merutuki Kimito yang berani-beraninya memukul kepalanya keras sekali. Dengan kesal dirabanya kepalanya yang masih terasa nyeri. Ia tak heran kalau benjol. “Tsk,” keluhnya kesal.
Pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar merasa gugup dan resah. Seminggu berpisah dengan Tori dan begitu tiba kemarin pagi pun ia masih belum bisa menemui pacarnya itu. Tori hanya menelepon begitu Masahiro mendarat di Narita dan sebelum ia pergi tidur malamnya. Itu pun tak bisa ngobrol lama karena masih banyak yang harus diurus dan mereka berkali-kali diganggu siapa saja yang mendadak punya hal untuk ditanyakan pada mereka. Masahiro tak bisa berhenti menggerutu sejak kemarin sore. Biasanya kalau ia sudah begitu, tak aka nada yang berani mendekat tapi kali ini semua orang seolah tak mau peduli kalau ia BUTUH bertemu atau setidaknya bicara dengan Tori. Tapi calon suaminya itu pun seolah tak peduli dengan tak mengangkat teleponnya sama sekali. SMS pun hanya dibalas sekali
Jangan bodoh, Masahiro.
Begitu saja. Apa maksudnya sih? Dia kan butuh ditenangkan dan bukannya dikata-katai seperti itu. Dia juga tahu Tori pasti juga sedang tak tenang tapi kan saat-saat seperti ini seharusnya mereka saling mendukung kan? Bukannya malah mengacuhkan kan? Iya, kan?
“Masahiro, hentikan lamunan tololmu dan keluar dari situ sekarang juga. Kau harus sarapan dan siap-siap.”
Kali ini suara kakak sepupunya terdengar dari balik pintu. Masahiro mendengus kesal. “Hai!” serunya.
*****
Tori berdiri tegak di depan cermin panjang di dalam kamarnya sementara ayahnya bergerak di sekelilingnya, membantunya mengenakan kimono dan hakama resminya. Tadinya Shunsuke yang akan membantunya tapi Sorimachi muncul di pintu dan mengatakan kalau ia yang akan melakukannya. Shunsuke pun menghilang dengan senang hati dan pergi membantu Masaki dan Takuma. Sorimachi berkerja dengan cekatan; menarik, mengikat dengan kencang, merapikan dan menyesuaikan dengan cermat hingga semua garis dan lipatan berada di tempat yang benar.
Terakhir dielusnya di punggung anak laki-laki satu-satunya itu dan berdiri di belakang Tori untuk memandang pantulan mereka di dalam cermin. Tori tersenyum dan Sorimachi pun balas tersenyum.
“Gugup?” tanyanya, merapikan sekali lagi lengan kimono Tori.
Tori tertawa pelan. Sorimachi nyengir lebar. “Kau akan baik-baik saja.”
“Kuharap juga begitu.”
Sorimachi tersenyum kecil lalu menepuk pundak Tori dengan mantab. “Kau akan baik-baik saja.” Ulangnya. Lebih pelan dan lebih jelas.
Tori memandang ayahnya selama beberapa saat lalu mengangguk. “Arigatou, Tou-san.”
*****
“Coba lihat sini,” Maya menangkupkan kedua telapak tangannya di masing-masing pipi Masahiro yang sudah tak terlalu bulat. Seminggu bersama anak bungsunya itu bahkan tak akan cukup untuk membuat Maya merasa bosan memandang wajah pemuda itu. Masahiro terlihat tampan dengan rambut yang ditata rapi ke belakang. Kimono dan hakama hitamnya tampak begitu pas dan serasi. Anak itu sudah bukan anak kecil lagi tapi Maya merasa sifat manja dan seenaknya Masahiro tak akan pernah hilang.
Masahiro merasa sedikit salah tingkah diperhatikan begitu rupa oleh ibunya dalam jarak sedekat itu. Meskipun seminggu terakhir sudah membuatnya jauh lebih dekat dengan ibunya, tetap saja ditatap dengan mata berkaca-kaca dan desahan panjang seperti itu membuatnya salah tingkah. “Kaa-san, sudah dong.” Ujarnya sambil melirik ke arah Tsune dan Kimito yang sibuk menyembunyikan cengiran dan kikik geli di balik lengan masing-masing.
“Kaa-saaaaaaan,” Masahiro mendesis. Pipinya sudah berubah merah sekali dan Maya menepuk pipinya pelan.
“Ingat ya, mulai saat ini kau sudah bukan anak kecil lagi. Jangan merepotkan Tori-san.” Maya berpesan dengan tegas. “Kau harus bisa mendukungnya dan jangan terlalu banyak mengeluh.”
“Iyaaaaa, aku tahu.”
“Inoue Masahiro, dengarkan aku.”
“Hai.”
Maya mengusap pipi anak bungsunya itu lalu tersenyum lembut dan berjinjit untuk mengecup kening Masahiro. “Ibu tahu kau anak baik.”
“Hai,” Masahiro memeluk ibunya. “Arigatou, Kaa-san.”
*****
Ruangan bergaya jepang itu ditata rapi. Dua buah pembatas berwarna putih bergaris tepi emas diletakkan di tengah dan di sebelah kiri di bagian depan. Di depan tiap pembatas ada alas duduk berwarna putih bersulam emas dan di depannya lagi ada sebuah nampan kayu hias mewah berisi tumpukan cangkir dan cawan sake dihias kertas upacara. Masahiro duduk di tengah sementara Tori di sebelah kirinya.
Tori melirik ke jejeran keluarganya dan keluarga Masahiro, juga teman-teman dekat mereka. Hanya ada sedikit orang yang hadir di upacara itu. Semuanya mengenakan kimono dan hakama resmi. Para pelayan yang meladeni tamu yang hadir pagi itu pun mengenakan kimono. Ibunya berulang kali mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, begitu juga ibu Masahiro. Ayahnya tersenyum dan Kazuki tampak tegang.
Seorang pelayan wanita mengenakan kimono maju dan menuangkan sake untuk mereka. Tiga kali di tiap cangkir dan mereka berdua menghabiskannya dalam tiga tegukan. Tangan Masahiro sedikit bergetar dan ia melirik ke arah Tori yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya. Tori tersenyum padanya dan untuk pertama kalinya hari itu, Masahiro merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia balas tersenyum.
“Baka ne,” bisik Tsune pada Takuma yang duduk di sebelahnya. Takuma menggigit bibir sekuat tenaga agar tak tertawa sementara Shunsuke dan Kimito nyengir lebar.
*****
Menjelang makan siang, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Keisuke datang bersama adiknya yang sombong. Kenki datang bersama Yuuki dan Yuta. Ia langsung mencari Mitsuya yang sedang sibuk memastikan sentuhan akhir dekorasi terpasang dengan benar sementara Yuuki dan Yuta langsung sibuk berkeliaran dengan Masaki. Tsune mengantarkan Tomoru dan dua temannya ke tempat duduk mereka. Yuta datang bersama dua anaknya dan Shunsuke menemani mereka sebentar sebelum menghilang untuk ganti pakaian. Yuzawa-san dan dua anak buahnya sudah sibuk mondar-mandir dengan kamera di tangan masing-masing. Intensitas kerja di dapur meninggi. Takki dan Jin sibuk memberi pengarahan pada para pelayan dan mengingatkan pengaturan keluarnya makanan dan pengawasan ketersediaan minuman dan makanan kecil. Ryouta mendorong kue pengantin tingkat tiga dengan hati-hati ke dekat salah satu meja di bawah tenda, tak lupa memukul Kimito yang hendak mencolek krim penghias kue. Musik pun sudah mulai dimainkan oleh kelompok kecil orkestra yang didatangkan khusus dari Italia oleh Kazuki.
Tori memandang semua kesibukan itu dari jendela kamar tamu di lantai dua sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya. Ia bisa mengenali keluarga ayah dan ibunya, kolega-koleganya di rumah sakit dan beberapa teman kuliahnya di antara orang-orang yang mulai menempati tempat duduk mereka di bawah sana. Satu upacara selesai, tinggal satu lagi untuk dilewati dan dia akan merasa lega. Mungkin.
Masahiro masih tak terima kenapa Tori harus ditempatkan di kamar terpisah kalau hanya untuk ganti pakaian saja. Tori memijat keningnya yang kembali terasa pusing dan akhirnya menyerah lalu memeluk dan mencium suaminya itu dengan sayang. Masahiro pun akhirnya terdiam, menatap Tori yang hanya tersenyum dan mencubit hidungnya dengan gemas sementara orang-orang yang kebetulan ada di sekitar mereka geleng-geleng kepala.
Yuzawa-san menyelinap masuk untuk mengambil beberapa foto dirinya beserta Takuma dan Shunsuke yang tengah berganti pakaian dan ia mengatakan kalau Tori terlihat tampan lalu menghilang untuk memotret Masahiro. Takuma membantunya mengenakan jas panjangnya dan mengancingkannya mulai dari leher hingga kancing terakhir di bagian dekat pusar. Tori masih mengagumi jas itu. Modelnya seperti jas resmi angkatan laut; dengan kerah tegak dan panjang jasnya mencapai lutut Tori. Warnanya hitam dengan sulaman benang merah berkilau di bagian kerah dan sepanjang tepi bagian depan juga ujung lengan. Celananya hitam polos agar tak terlalu mencolok. Shunsuke melipat rapi sebuah sapu tangan berwarna merah dan menyelipkannya ke saku dada jas Tori. Ikat pinggangnya berupa kain merah yang disimpul rapi di bagian samping. Rambutnya dijalin rapi di sebelah kiri dan ditahan dengan jepit rambut tersembunyi.
“Siap?” Tanya Shunsuke sambil menepuk pundak Tori.
Tori menarik nafas panjang, menatap kedua sahabatnya yang juga terlihat luar biasa tampan dalam balutan jas panjang ala Inggris dan menggamit masing-masing lengan mereka. “Siap.”
*****
“Tamunya sudah datang semua?” Masahiro bertanya sambil mengangkat dagu agar Tsune bisa menyimpulkan syal satin berwarna magenta di sekeliling leher Masahiro dengan mudah.
Tsune mengangkat bahu, “Entahlah. Seharusnya sih, kalau ditebak dari suaranya.”
Masahiro mendesah, merentangkan tangan agar Tsune bisa membantunya mengenakan rompi-nya yang juga terbuat dari satin berwarna senada dengan syalnya. “Hhhhh, kenapa sih menikah itu repot sekali?”
“Memangnya siapa yang suruh kau menikah?” Tsune tertawa, mengancingkan rompi itu dengan rapi lalu beralih mengambil kemeja Masahiro yang berwarna putih. Ukurannya begitu pas di tubuhnya dan jatuh dengan sempurna. Tsune mengaitkan sebuah rantai emas kecil di antara dua lubang kancing jas Masahiro dan menepuk-nepuknya seolah memastikan sudah terpasang dengan sempurna dan tak akan lepas.
“Aku yang mau, kok.”
Tsune menyentik kening Masahiro. “There. Don’t complain too much.”
Masahiro memutar matanya dan memukul lengan atas Tsune. Diliriknya sekali lagi bayangannya di cermin dan mengangguk puas. “Okay.”
Tsune tersenyum lebar.
*****
Tori nyaris tak bisa bernafas saat melihat Masahiro berdiri di atas podium, menunggu dirinya yang berjalan ke arah Masahiro, menggamit lengan ayahnya dengan sedikit lebih erat. The Wedding March mengiringi langkahnya, juga pandangan kagum bercampur haru dari tamu-tamu. Sungguh, Masahiro tampan sekali dan Tori tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya saat Masahiro menoleh, melihatnya dan tersenyum lebar. Tatapan matanya begitu ceria dan seolah puas dan bangga melihat Tori.
“Halo,” sapa Masahiro begitu Tori sudah berdiri di sampingnya.
Tori nyaris tertawa, “Halo.”
“Maaf kalau terlalu blak-blakan, tapi Anda tampan sekali dan aku suka sekali. Maukah pergi bersamaku ke suatu tempat sekarang juga?”
Tori mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku baru saja menikah dan akan mengucapkan janji setia sebentar lagi. Aku tak ingin membuat suamiku khawatir.”
“Oh. Sayang sekali. Dia laki-laki yang beruntung.” Ujar Masahiro dengan cengiran begitu lebar.
Tori tersenyum miring. “Begitulah.”
Mereka berdiri berhadapan saat pendeta memberikan sambutan dan saling menggenggam tangan masing-masing. Masahiro menarik nafas saat tiba gilirannya untuk mengucapkan sumpah setia. Ia sudah menghafalkannya semalam suntuk dan berdoa semoga ia tak lupa dan mengacaukan semuanya. Tori tersenyum dan mengangkat alisnya dengan menggoda. Masahiro merengut sekilas namun kedua matanya kembali menatap lurus-lurus ke arah Tori.
“Aku berjanji….” Ia berhenti sejenak, kembali menarik nafas panjang dan Tori meremas tangannya memberi dukungan, “Aku berjanji akan selalu mencintai Tori, akan selalu menjaga Tori, akan selalu memberi yang terbaik untuk Tori, akan selalu membuat Tori bahagia, akan berusaha memaafkan kesalahan Tori, akan mencoba mengerti banyak hal tentang Tori yang masih tak kumengerti. Aku berjanji akan berusaha tidak mengulang kebodohan yang pernah kulakukan dan menyakiti Tori, akan menghormati dan menyanyangi Tori. Aku berjanji akan terus ada di samping Tori dan tak akan pernah bosan…. Because you are my eternity.”
Tori tersenyum lebar, karena meskipun janji itu terdengar sedikit aneh dan terlalu apa adanya, Tori sungguh tersentuh. Masahiro nyengir puas lalu merengut karena terdengar kikik tertahan dari arah parah tamu dan Tori pun ikut tertawa. Ia kemudian berdeham, karena ini gilirannya. Tori menggigit bibir sekilas.
“Ma-kun adalah anomali dalam hidupku.” Tori memulai dan semua orang mengangkat alis termasuk Masahiro. Tori melanjutkan, “Kamu datang di saat aku sudah berkeputusan tak akan membuka hatiku lagi untuk orang lain. Tanpa tahu apa-apa, tanpa bertanya, tanpa menyerah, dan juga tanpa malu-malu, kamu memaksa masuk. Anak kecil yang manja, seenaknya dan tak pernah peduli pendapatku.” Masahiro tampak tak senang dan sudah siap membuka mulut hendak protes namun Tori masih menatap lurus ke arahnya. “Selalu membuatku kesal, marah dan khawatir. Kadang menyebalkan karena suka memaksa. Dan aku terlalu sibuk bertahan dan menjaga agar hatiku tidak terbuka dan terluka tapi entah bagaimana, kamu berhasil meyakinkanku. Dan aku sungguh berterima kasih karena kamu datang dalam hidupku. Terima kasih untuk mau mencintaiku. Dan terima kasih karena kamu tidak menyerah. Karena itu mulai dari sekarang, aku pun tidak akan menyerah dan kalah mencintai Masahiro.”
-end-
Showing posts with label Totani Kimito. Show all posts
Showing posts with label Totani Kimito. Show all posts
Sunday, March 18, 2012
Tuesday, March 22, 2011
[fanfic] AU KimitoxRyouta - Hitomi no Jyuunin
Author: Panda & Icha
Fandom: Kamen Rider Decade/Prince of Tennis Musical
Rating: NC-17
Warning: BL. AU. NSFW
Disclaimer: We do not own the characters. No profit gained. No harm intended.
Note: Icha-icha selanjutnya!! Douzo~!!
Ryouta mendesah pelan dan lirih. Bagian dalam mulutnya digigit sementara wajahnya memerah dan terasa panas. Namun dia tak berani mengarahkan pandang ke arah pemuda yang tengah menikmati lehernya. Sentuhan basah bibir dan lidah Kimito membuatnya dadanya berdebar kencang dan mengirim sinyal ke bagian bawah perutnya yang membuat celananya terasa lebih ketat. Rasanya agak aneh karena tak sampai sejam yang lalu, mereka baru saja berdebat agak keras yang nyaris membuat Ryouta kehilangan kesabaran. Tapi sekarang perdebatan itu seperti tak pernah terjadi. Ryouta menarik nafas tajam, jemarinya menggerut bagian belakang sweater yang dikenakan Kimito, dan menggigit bibir untuk menahan erangan yang siap meluncur lagi.
Kimito mengecupi leher Ryouta yang kukuh dari bawah telinga hingga ke tulang belikat, kemudian memberikan satu jilatan panjang ke arah atas kembali. Digigitnya sudut rahang Ryouta, kemudian tersenyum senang merasakan tubuh yang sedang disentuhnya bergetar halus. Sepertinya dirinya sungguh bodoh karena menunggu selama ini untuk mencicipi leher Ryouta yang menggoda, bahkan perlu dipicu kejadian luar biasa dahulu untuk memulainya. Kimito meraih wajah Ryouta kemudian menatap dalam-dalam ke manik mata cokelat gelap pacarnya itu.
"Jangan menggigit bibir sekeras itu," Kimito mengecup sekilas sepasang bibir kemerahan itu. "Aku ingin mendengar suaramu."
Ryouta tak menjawab. Kepalanya terasa seperti berasap. Biasanya, kalau Kimito menciumnya, Ryouta tak pernah menahan diri seperti ini. Entah kenapa dia merasa sedikit malu.
"Umh... aku takut berisik..." kilahnya sambil membuang muka.
Kimito berkedip sesaat menatap wajah Ryouta yang memerah. Manisnya bahkan mengalahkan krim paling manis yang pernah dicicipinya. Imutnya mengalahkan cupcake paling imut yang pernah dibuatkan Ryouta untuknya. Kimito jadi tak tahan dan diciumnya bibir itu. Dipagutnya bergantian dengan bersemangat sambil menarik Ryouta semakin rapat dengannya, dijilatinya menuntut agar diberi jalan. Mereka sudah beberapa kali berciuman sebelumnya--walaupun tidak seperti pasangan lain yang bermesraan di mana saja kapan saja--dan biasanya Ryouta selalu memberi respon yang sama bersemangatnya dengan Kimito. Namun tidak hari ini. Mungkin karena hari ini memang berbeda.
Bibir Ryouta membuka, entah mengambil napas atau memang memenuhi permintaan Kimito, Kimito tak peduli. Tanpa menunggu dimasukkannya lidahnya ke mulut pacarnya, menjelajah dan menyapu semua bagian, menggoda lidah Ryouta yang refleks mengejarnya, mencicipi rasa Ryouta yang entah kenapa selalu manis. Senyum Kimito tak tertahan ketika Ryouta tersengal dan mengerang rendah. Suara itu bagaikan masuk langsung ke tubuhnya, merambati punggungnya dan membuat kemaluannya bereaksi dengan gembira.
Mungkin salahnya karena kali ini Ryouta tak menutup matanya. Tapi ketika Kimito mulai menciumnya tadi, matanya begitu terpaku pada ekspresi di wajah Kimito dan memilih untuk meredup daripada tertutup sempurna. Kimito terlihat tampan sekali dari jarak sedekat ini. Matanya yang selalu berkilat jahil, kali ini berbaur dengan sesuatu yang lain. Bibirnya yang tengah mencium Ryouta terasa begitu hangat dan manis dan menggoda dengan lebih berhasrat dan bersemangat dari biasanya.
Mau tak mau, Ryouta mengerang karena kepalanya terasa seperti melayang dan ada sesuatu yang menyala di dalam tubuhnya. Sesuatu yang membuatnya membuka bibirnya dan membuatnya mengerang lebih keras. Sentuhan lembut tangan Kimito dan hangat tubuhnya yang menempel padanya. Semua itu membuat Ryouta tersengal dan beringsut karena selangkangannya sungguh tak nyaman. Dilebarkannya kedua kakinya, dengan maksud agar celananya tak terasa terlalu ketat, tapi malahan membuat pinggul Kimito merapat padanya.
"Mnnh..." Ryouta menggigit bibir lagi.
Kimito menghentikan gerakannya sesaat ketika bagian depan jeansnya bergesekan dengan celana jersey Hyoutei yang dikenakan Ryouta. Bukan karena kaget atau ragu, tapi karena harus bersusah payah menahan diri agar tidak melakukan tindakan yang membuat Ryouta terkejut. Mungkin hanya dirinya sendiri yang tahu seberapa sering ia harus menahan hasrat melihat senyum Ryouta, berusaha agar tidak menuruti nafsu untuk melahap Ryouta yang tertidur tanpa pertahanan sama sekali di sofa apartemennya. Mungkin hanya dirinya dan dinding kamar mandinya, karena ke sanalah Kimito melarikan diri untuk menenangkan diri--dan kadang menyentuh dirinya sendiri, karena Kimito hanya laki-laki biasa. Namun memang selalu ada sesuatu yang menghalangi dirinya sendiri untuk melangkah sejauh ini sebelumnya. Kenyataan bahwa ia tidak bisa 'melihat' hal paling berarti bagi Ryouta. Kenyataan yang selalu membuatnya merasa tidak percaya diri dan kuatir Ryouta memilih orang lain.
Tapi tidak kali ini. Kali ini Kimito menekan pinggulnya merapat dan bergerak sedikit--mencoba. Sungguh senang saat didapatinya Ryouta tidak menjauh. Tangannya mulai merayap masuk dari ujung bawah t-shirt yang dikenakan Ryouta, mengusap otot perut Ryouta yang mengagumkan dan terus naik ke dada. Dijilatnya cuping telinga Ryouta sambil,menggoda tonjolan di dada Ryouta dan menikmati erangan pacarnya itu.
Ryouta menarik nafas tajam. Sentuhan Kimito memang lembut dan terkesan sedikit hati-hati tapi rasanya seperti membakar kulitnya. Dia juga sedikit terkejut karena ternyata dia suka disentuh seperti itu. Selama ini hanya dirinya sendiri yang tahu di mana dia suka disentuh. Dan saat pinggul Kimito menekan pelan, Ryouta tak sanggup menahan diri untuk tidak merespon. Rasanya terlalu nikmat dan tubuhnya menggelenyar seiring dengan getaran halus merayapi punggung dan bagian bawah perutnya.
Ryouta pemuda yang sehat dan dia heran kenapa dia bisa menahan diri untuk sesuatu yang dia tahu bisa senikmat ini. Pun punggungnya melengkung dan Ryouta tersengal hebat saat jari-jari Kimito menggoda tonjolan di dadanya. Kemaluannya bereaksi dan menegang dengan cepat. Entah kenapa, tiba-tiba saja Ryouta merasa begitu gugup dan takut. Tangannya pun reflek mendorong dada Kimito menjauh.
"Tu..tunggu! Kimi-chan....!" serunya sedikit panik.
Kimito melepaskan cuping telinga Ryouta yang sejak tadi dikulumnya, menimbulkan bunyi yang sebenarnya membuat dirinya makin bersemangat. Namun Ryouta tampak tidak nyaman, maka ia mengangkat tubuhnya menjauh dari tubuh Ryouta. Masih di atas Ryouta yang telentang di atas tempat tidurnya, tapi tidak lagi mencumbu maupun menekan selangkangan pacarnya. Tangannya meninggalkan tonjolan di dada Ryouta, namun dibiarkannya tetap di perut Ryouta. Hanya menyentuh saja, tidak ada belaian maupun usapan. Ia tak ingin Ryouta merasa makin tak nyaman. Kimito tahu bahwa ia adalah pacar pertama Ryouta. Pemuda yang selalu sibuk dengan toko kue dan tenis itu belum pernah punya orang istimewa. Dan kalau melihat dari reaksinya yang seperti ini, juga belum pernah disentuh seperti ini oleh siapapun. Kimito tersenyum sambil menyentuh pipi Ryouta lembut dengan buku-buku jarinya.
"Hmmm? Kenapa?"
Ryouta menunduk, tak berani mengangkat wajah untuk menatap sang pacar. Sedikit tersengal, ia berusaha mengatur nafas dan emosinya yang tak karuan. Pun, dia sadar sekali Kimito memperhatikannya. Meskipun nadanya terdengar lembut, Ryouta tahu pacarnya itu pasti sedikit kesal karena didorong menjauh. Tapi Ryouta butuh bernafas sejenak sebelum meneruskan bercumbu dengan Kimito. Dia paham sekali ke mana cumbuan ini mengarah. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, Ryouta akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya dan nyaris tercekat. Kimito yang sedang menahan hasrat seperti itu terlihat tampan sekali. Diulurkannya tangannya untuk menyentuh pipi Kimito dan membelai helaian rambutnya yang melewati bahu. Ryouta menggeleng pelan.
"Tidak..." bisiknya. Ditariknya pelan kepala Kimito dan mengecup lembut bibir tipis itu. Kemudian ditatapnya Kimito dan bertanya tak pasti. "Kimi-chan yakin? Aku tidak tampan, tidak cantik, tidak seksi. Yakin?"
Tanpa sadar Kimito menghembuskan napas lega dan tersenyum. Ternyata Ryouta bukannya tidak ingin disentuh olehnya. Dengan lembut diusapnya kulit di antara kedua lengkungan alis Ryouta yang berkerut tanpa disadari pemiliknya, membujuk agar guratan rasa khawatir itu hilang dari wajah Ryouta. Matanya tetap menatap sepasang mata Ryouta yang biasanya selalu menatap yakin ke depan--dengan serius menekuni resep baru maupun mengincar bola yang melambung untuk dikembalikan ke lapangan lawan. Namun kali ini dalam sepasang mata itu ada rasa ragu, ada rasa cemas dan tidak percaya diri. Diam-diam Kimito merasa tersanjung karena Ryouta mau menunjukkan sisi yang rapuh kepada dirinya. Dikecupnya dahi Ryouta penuh sayang.
"Kalau kau tidak tampan dan seksi, untuk apa aku cemburu?"
Ya, hanya beberapa jam sebelumnya Kimito memang sedang terbakar rasa cemburu yang luar biasa.
Ryouta menggaruk ujung hidungnya dengan salah tingkah. Senang karena akhirnya Kimito mengaku kalau dia cemburu. Juga besar kepala karena dibilang tampan dan seksi. Tak pernah ada yang memujinya seperti itu sebelumnya. Dia hanya sering disebut 'anak manis'. Ryouta mengangkat wajahnya lagi dan mengecup pipi Kimito. "Umh...terima kasih..." Bibirnya berpindah ke bibir Kimito, menekan pelan lalu memagut dan tersenyum manis.
Senyum Ryouta berubah tersipu saat tangannya melingkar ke pinggang Kimito dan menariknya mendekat lagi. Setelah mendengar kata-kata Kimito, Ryouta seperti mendapat keberanian untuk mengaitkan satu tungkainya ke betis Kimito, mengunci lembut dan menjaga tubuh mereka saling merapat erat. Ryouta mendesah. Senang karena hangat tubuh dan detak jantung Kimito, juga denyut hangat bagian bawah tubuhnya. Ryouta memiringkan kepalanya, menjilat pelan kulit di bawah bibir Kimito.
Kimito nyengir senang ketika Ryouta menariknya mendekat. Untung episode galau Ryouta tak terlalu lama, karena bisa-bisa ia selesai tanpa disentuh karena melihat Ryouta yang seperti itu. Ia menggosokkan hidungnya ke pipi Ryouta dan tangannya kembali merayapi kulit tubuh Ryouta. Sungguh, ia tidak hanya merayu saat mengatakan bahwa Ryouta tampan dan seksi. Mata pacarnya itu tajam, dinaungi sepasang alis yang tegas. Walaupun tidak setinggi Kimito, badan Ryouta tidak bisa dibilang jelek. Bagus sekali malahan untuk ukuran orang yang bercita-cita menjadi pemilik patisserie.
Pertama kali melihatnya saat Ryouta harus berganti baju karena kehujanan saat menuju apartemennya, Kimito nyaris tak bisa bernapas melihat otot-otot yang terbentuk bagus di perut Ryouta. Otot-otot yang sama dengan yang sedang disentuhnya sekarang. Kimito menarik napas dan membenamkan wajah ke lekuk bahu Ryouta, menghirup aroma khas tenis bercampur krim gula, dan membiarkan pinggulnya menekan selangkangan Ryouta.
Sepertinya bibirnya nyaris berdarah karena digigit terlalu kencang. Tapi Ryouta masih belum berani bersuara dengan lepas. Meskipun pinggulnya kini mulai terangkat sedikit, menyambut dan membalas tekanan pinggul Kimito. Karena itu, diciumnya Kimito dalam-dalam, memilih untuk mengerang ke dalam mulut pacarnya. Tak peduli meski itu justru membuat erangannya tak berhenti. Tangannya yang melingkar di pinggang Kimito bergerak turun dan menarik ujung kaus yang dikenakan Kimito.
Kimito melahap mulut Ryouta dengan tak sabar, sudah melepaskan pertahanan dirinya sedikit demi sedikit karena merasakan reaksi Ryouta yang mulai bersemangat. Saking bersemangatnya, pacarnya itu mulai bergerak hendak melucutinya. Kimito memagut bibir bawah Ryouta sedikit kuat, kemudian melepaskannya dan menegakkan tubuh. Masih sambil berlutut di antara kedua kaki Ryouta, ia menarik lepas kaus yang dikenakannya. Setelah mengibaskan rambutnya yang tergerai ke wajah, ia nyengir lebar.
"Tidak adil dong kalau aku saja yang buka baju," ucapnya seraya mendorong ujung t-shirt Ryouta, memperlihatkan perut indah pacarnya itu. Tak tahan, Kimito merunduk dan menjilat, dari batas pinggang jersey Ryouta hingga ke tonjolan di sebelah kiri dadanya.
Untuk beberapa detik, Ryouta seperti lupa bagaimana caranya bernafas. Tentu saja ini bukan kali pertama untuknya melihat Kimito bertelanjang dada. Hasil foto-foto Kimito untuk katalog pakaian dalam bersama Inoue-kun sukses membuat Ryouta tak bisa tidur nyenyak. Kali ini yang ada di depannya sungguh membuat selangkangannya menjerit gembira. Kulit Kimito yang putih dan otot-ototnya memang tak menonjol tapi terbentuk bagus dan halus. Ryouta baru saja hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh tapi perbuatan Kimito membuatnya mengerang pelan dan panjang.
"Mmmh..." Ryouta bisa merasakan punggungnya melengkung lagi. Kedua tangannya akhirnya menjangkau ujung kausnya dan menariknya lepas dengan agak susah payah. Kemudian ditariknya tengkuk Kimito, "Celananya juga?" tanyanya sambil memagut bibir Kimito.
Kimito menarik dirinya menjauh lagi agar dapat lebih mudah memandangi pemandangan indah yang tergelar di hadapannya. Murai Ryouta, tak tertutupi apapun dari leher hingga pinggul. Ada rona merah di tulang pipi Ryouta, yang menyebar hingga pangkal lehernya. Sungguh menggiurkan, dan membuat Kimito nyaris tak tahan untuk melahap Ryouta saat itu juga kalau saja ia tidak khawatir Ryouta akan menarik diri dan kabur menjauh lagi. Apalagi ditambah pertanyaan Ryouta yang entah serius atau menggoda, tapi yang pasti membuatnya makin terangsang
"Hmmm, terserah saja," Kimito menyahut sambil mengulum senyum. Jari telunjuknya mengusap bagian depan celana Ryouta yang tampak menonjol, "Kecuali kau tahan begini terus."
Ryouta tertawa pelan meski pinggulnya bereaksi terhadap sentuhan Kimito. Sentuhan singkat yang sungguh menggoda. Jelas tak mungkin dia akan tahan kalau Kimito menggodanya seperti itu terus. Disentuhnya pipi Kimito dan ditatapnya Kimito dengan senyum terulas di bibir. Meski jantungnya berdebar tak karuan karena memikirkan kalau dia, kalau mereka akan segera telanjang. Dengan malu-malu, Ryouta mengangkat pinggulnya.
Kimito menggigit bibirnya gemas. Campuran antara ekspresi malu-malu Ryouta yang polos dengan tindakannya yang tidak polos sama sekali sungguh memang khas Ryouta sekali. Dua sisi yang sepertinya bertolak belakang tetapi dapat berbaur dengan indah dan bahkan menciptakan kombinasi yang bahkan lebih menarik dari kedua sisi tersebut jika dijumlahkan. Dan Kimito bersyukur, sungguh-sungguh bersyukur bahwa Ryouta berkenan menunjukkannya kepada dirinya. Hanya kepada dirinya. Dan terutama tidak pada kaptennya yang tampan itu.
Ya, kapten klub tenis Ryouta memang tampan, luar biasa ramah dan jika sedang menatap tajam bisa terlihat amat seksi, Kimito harus mengakui. Jadi jangan salahkan Kimito kalau ia merengut setiap kali Ryouta permisi untuk menjawab sms atau mengangkat telepon dari si kapten. Bukan salah Kimito juga kalau ia merasa cemburu luar biasa saat melihat Ryouta di dalam dekapan si kapten itu. Tapi, kalau dipikir-pikir juga, kalau tidak ada kejadian itu mungkin sekarang tidak ada Ryouta yang berbaring telentang di ranjangnya, mengangkat pinggul untuk memudahkan Kimito menarik lepas celana jersey yang dikenakannya.
Kimito menuruti permintaan pacarnya dan melempar celana itu sekenanya ke belakang. Ujung lidahnya merayap keluar dari sudut bibir saat melihat celana dalam Ryouta yang tertarik meregang oleh sesuatu yang menegang bersemangat di baliknya. Sesuatu yang bagian ujungnya mulai membentuk pola basah di kain celana dalam itu. Kimito menjilat bibirnya, kemudian merunduk dan membuka mulut, memasukkan tonjolan yang masih terbungkus itu ke dalam mulutnya.
"Ki...Kimi-chan!" Ryouta memekik terkejut karena sama sekali tak menduga tindakan Kimito. Pun begitu, tangannya yang otomatis mencengkeram pundak Kimito, sama sekali tak berniat untuk mendorongnya pergi. Kulitnya yang sangat sensitif terasa nyeri tergesek bahan kain celana dalamnya meski kehangatan mulut Kimito membuatnya tak peduli akan rasa nyerinya. Lagi, Ryouta berpikir saat Kimito mulai menggunakan lidahnya dan menggerakkan kepalanya. Ryouta melenguh, mengangkat pinggulnya.
Oh, ya Tuhan. Lagi. Pikirnya seraya membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Tangannya menyelip ke dalam helaian panjang rambut Kimito yang lembut, menarik-narik pelan seiring gerakan kepala Kimito.
Kimito mengulum tonjolan terbungkus kain itu dengan rakus, memainkan lidahnya di bagian bawahnya kemudian mengisap lembut. Rasanya makin bersemangat saja saat tindakannya membuat pinggul Ryouta terangkat, nyata-nyata meminta lebih. Dihisapnya kemaluan Ryouta lebih kuat, merasakannya semakin tegang dan membesar di atas lidahnya. Ingin mendengar Ryouta mengerang, digeseknya kain yang teregang itu dengan giginya. Namun tarikan tangan Ryouta membuatnya melepaskan benda di mulutnya dengan bunyi 'Pop!' yang membuat kemaluannya sendiri melonjak gembira. Masih memposisikan mulutnya di depan selangkangan Ryouta dan dengan sengaja menghembuskan napas hangat ke sana, Kimito bertanya, "Hmmm?"
Ryouta menggelengkan kepalanya, kecewa karena Kimito menghentikan kenikmatan yang diberikannya. Mengerang pelan karena hembusan nafas Kimito membuat ujung kemaluannya berdenyut. Nafasnya masih tersengal, masih ingin merasakan lagi. Tapi sepertinya tak adil kalau hanya dia yang menerima terus sejak tadi. Ryouta bangkit, menarik nafas panjang dan mendorong bahu Kimito sampai pemuda jangkung itu rebah.
Ragu-ragu, Ryouta merunduk dan mulai menghujani dada dan perut Kimito dengan kecupan-kecupan ringan. Tangannya membelai sisi tubuh Kimito, tersenyum senang ketika tubuh kurus itu bereaksi pada sentuhannya. Ryouta ragu sejenak ketika bibirnya berada dekat dengan tonjolan di dada Kimito. Dia hanya tahu yang seperti ini dari majalah dan film porno juga eksperimen kecilnya dengan tubuhnya sendiri. Bibir Ryouta terbuka, lidahnya terjulur sedikit dan menjilat tonjolan itu seperti anak kecil menjilati permen.
Kimito menggigit bibirnya dan mendesis lirih begitu lidah Ryouta menyentuh dadanya. Didorong Ryouta sampai terlentang saja sudah membuat celananya terasa dua kali lebih sempit. Apalagi melihat Ryouta merunduk dengan lidah merah jambu menjilati tonjolan di dadanya dan sesekali menatap ke arahnya. Sungguh seksi sekali. Kimito mengusap tengkuk Ryouta dengan satu tangan dan mengelus rahang Ryouta dengan tangan lainnya sambil berjanji dalam hati bahwa ia akan berusaha agar Ryouta tidak akan menunjukkan wajah seperti itu kepada orang lain.
Sentuhan tangan Kimito di wajahnya membuat Ryouta sedikit tersipu sekaligus jadi lebih berani. Ryouta mengatupkan bibirnya di tonjolan itu dan menghisap pelan. Lidahnya bergerak menjilat lagi lalu meninggalkan tonjolan itu untuk mengecupi yang satunya. Melakukan hal yang sama sementara tangannya menjelajah ke perut Kimito. Dia tersenyum-senyum senang. Seperti pertama kali menginjakkan kaki ke lapangan untuk pertandingan pertamanya. Hanya saja, yang ini ribuan kali lebih menyenangkan.
Ryouta mengangkat wajahnya, mengecup sekilas bibir Kimito lalu turun kembali. Menelusuri kontur dada dan perut Kimito dengan bibir dan jemarinya. Wajahnya memerah saat bibirnya menyentuh garis pinggang celana Kimito. Ibu jarinya mengusap lembut perut Kimito sementara Ryouta mengumpulkan keberanian dan mengaitkan telunjuknya untuk menarik turun celana pacarnya. Sedikit saja sampai garis halus yang menuju ke selangkangan Kimito terlihat dan Ryouta mengikuti jalur itu dengan bibir dan lidahnya.
Telinganya menangkap tarikan tajam nafas Kimito dan Ryouta menusuk tonjolan hangat di dekat wajahnya dengan ujung hidungnya dan mengecup bagian yang bernoda basah. Tampaknya Kimito sudah begitu terangsang dan Ryouta bangga karena dirinya penyebabnya. Matanya terpaku pada bagian itu dan dengan penuh konsentrasi, Ryouta menarik turun celana Kimito. Nafasnya tercekat.
Kimito menghembuskan napas lega lalu langsung mendesis saat kemaluannya yang sejak tadi terkurung celana piyama tersentuh udara kamar yang dingin. Sungguh mengagumkan melihat kemaluannya berdiri bangga di depan wajah Ryouta. Entah dari mana Ryouta belajar cara mencumbu, namun yang jelas sentuhan jemari dan bibir serta lidahnya pada kulit Kimito sukses membuat pemuda itu terangsang luar biasa. Dan lagi, melihat Ryouta mengamati bagian tubuhnya yang amat pribadi membuat Kimito makin bersemangat. Tapi ia juga butuh menyentuh Ryouta. Butuh mencium sepasang bibir Ryouta yang memerah. Diulurkannya tangannya mengusap pipi Ryouta penuh sayang. "Hei."
Entahlah. Ryouta tak pernah tertarik dengan prospek melihat kemaluan milik orang lain sebelumnya. Apalagi sesama laki-laki. Tapi mungkin karena kali ini urusannya beda. Ini Totani Kimito. Pemuda yang tiba-tiba saja muncul di kehidupannya dan mengisi hari-harinya seperti dia punya hak. Pemuda yang membuatnya jatuh hati. Pacarnya. Bagian tubuh yang terpampang di depan matanya terlihat begitu....indah, kalau bisa dibilang begitu. Ryouta menelan ludah. Sesaat tak tahu harus berbuat apa. Ingin menyentuh, ingin mengecap tapi tak tahu harus mulai dari mana. Didengarnya suara Kimito dan Ryouta mengangkat kepala. "Hmm?"
Menatap gemas pacarnya yang kadang bisa kurang cepat tanggap, Kimito menarik Ryouta mendekat dan menciumnya dalam-dalam. Bagaimana ia tidak cemas terus kalau Ryouta bisa bertampang seperti anak kecil yang gampang dibujuk orang asing begitu?
Sebelah tangan Kimito yang tidak sibuk mengusap sisi tubuh Ryouta merayap ke bagian belakang tubuh pacarnya itu. Terus merayap turun ke antara kedua belahan bokong Ryouta yang kencang dan bagus, kemudian beberapa jari menarik tepi lubang celana sebelah kiri, memberikan ruang bagi jari tengah Ryouta untuk menyelinap masuk dan menyentuh jalan masuk ke tubuh Ryouta.
Tanpa ragu, Ryouta membalas ciuman Kimito. Mungkin lebih baik daripada dia mencoba melakukan sesuatu dan malah melukai Kimito. Tangannya menyelip ke antara tubuh mereka dan mengelus perut Kimito dengan sayang. Pinggulnya menekan turun, tak sengaja menyentuh lutut Kimito dan Ryouta mendesis. Namun perhatiannya teralih oleh sentuhan lain di bagian belakang tubuhnya. Ryouta tersentak, tak sengaja menggigit bibir Kimito.
"Nnh...nani..."
"Aw!" Kimito mencetus, lebih karena kaget dibandingkan rasa sakit. Tapi melihat wajah Ryouta yang sepertinya juga terkejut, ia tertawa. Ditariknya jemarinya menjauh dari belakang tubuh Ryouta. "Aku hanya memastikan. Tapi kalau kau belum ingin disentuh di sana, tidak apa-apa," tangan Kimito yang tadi mengusap sisi tubuh Ryouta kini mengelus pipi pacarnya
menenangkan, sementara yang sebelah lagi berpindah ke bagian selangkangan Ryouta. "Kita bisa bersenang-senang dengan cara lain. Aku tidak mau kau merasa tidak nyaman." Lembut dipijatnya tonjolan di selangkangan Ryouta itu.
Mendengar perkataan Kimito, mau tak mau wajahnya memerah. Diciumnya Kimito, menjilat dengan lembut bagian yang tergigit.
"Umh..." bisiknya di sela erangan karena sentuhan Kimito di selangkangannya. "...aku belum pernah... umh..." Ryouta tak kuasa menahan pinggulnya untuk beringsut mengejar sentuhan tangan Kimito. "Kimi-chan... sudah pernah kan? Aku hanya... umh..."Kimito terlihat ingin tertawa geli karena tingkahnya itu dan Ryouta merutuki dirinya sendiri. Ryouta menarik nafas, membenamkan wajahnya ke lekuk leher jenjang Kimito. "Apa rasanya akan tidak nyaman?" tanyanya pelan.
Kimito sebenarnya ingin tertawa mendengar pertanyaan Ryouta yang begitu menggemaskan itu, tapi tidak ingin Ryouta merasa sia-sia sudah menaruh kepercayaan pada dirinya. "Mmm, bagian awalnya sepertinya tidak enak, tapi kau lihat saja Matsuzaka-sensei, apa dia kelihatan menderita?" bisiknya di telinga Ryouta.
Ryouta memukul dada Kimito. "Ma...Mana aku tahu?!" lalu merengut. "Aku serius nih. Jangan bercanda, dong."
Diangkatnya dagu Ryouta hingga dapat menatap langsung ke manik mata hitamnya. "Tapi aku mau tanya satu hal. Apa Ryouta percaya padaku?"
Ryouta balas menatap mata pacarnya itu. Apa dia percaya pada Kimito? Ryouta sama sekali tak pernah mempertanyakan hal itu sebelumnya. Bahkan tak pernah pusing apakah Kimito akan muncul lagi di hadapannya dengan membawa sesuatu untuk diubah jadi kue atau makanan apapun. Hanya karena Kimito selalu muncul. Selalu menepati kalau dia bilang mau datang. Juga tak berkata apa-apa kalau memang tidak bisa datang. Tapi bukannya Ryouta tak berharap. Jadi apa Ryouta percaya padanya?
Perlahan, Ryouta membuka mulutnya. "....Entahlah." Buru-buru melanjutkan begitu melihat ekspresi Kimito berubah. "Tapi... aku tahu Kimito tak akan menyakitiku."
Kimito mendorong tubuh Ryouta dengan lembut hingga terlentang, kemudian menatap Ryouta sambil tersenyum. Tangannya membelai pipi Ryouta lembut, memainkan anak-anak rambut yang dibasahi keringat di pelipis Ryouta. "Mau mencoba dulu? Ryouta boleh menyuruhku berhenti atau menendangku kalau aku menyakiti Ryouta," senyum Kimito berubah menjadi cengiran. "Tapi kau benar. Aku tidak akan menyakitimu. Kau tahu kenapa?"
Ryouta memekik pelan saat tubuhnya terdorong telentang lagi. Kimito kembali berada di atasnya dan jantung Ryouta berdebar makin keras. Bersenang-senang dengan Kimito di tempat tidur seperti ini ternyata memang menyenangkan. Rasa geli dari dalam perutnya, kulitnya yang mendadak jadi begitu sensitif jika disentuh, denyut nyeri di selangkangannya, dan gelenyar di tulang belakangnya; Ryouta diam-diam menikmati semua itu. Kepalanya dimiringkan, mengusapkan pipinya ke dalam sentuhan telapak tangan Kimito. Tangannya sendiri terangkat untuk menyingkirkan rambut Kimito yang menutupi keningnya.
Bahunya dikedikkan sekilas. "Kenapa?" bisiknya parau.
Kimito mengecup kelopak mata Ryouta satu persatu, kemudian berpindah mengecup lembut ujung hidung Ryouta. "Saikou no takaramono, dakara. Ore no takaramono," bisiknya sambil menatap dalam ke sepasang mata Ryouta.
Serius, deh. Siapa yang bisa berkutik kalau disebut seperti itu oleh seseorang? Terutama oleh seseorang yang disayang dan sambil menatap dalam-dalam ke arah kita? Ryouta jelas tak tahu harus berbuat apa. Kaptennya pernah berkata kalau dia berharga untuk tim tapi kalimat itu juga dikatakan Kapten Yui pada tiap anggota tim. Jadi sama sekali tak bisa disamakan dengan apa yang didengarnya sekarang. Ryouta pun yakin wajahnya kini semerah kepiting yang direbus terlalu lama.
Dimiringkannya kepalanya dengan tersipu dan menarik Kimito mendekat untuk menciumnya. Karena sungguh, Ryouta tak tahu harus bagaimana. Di samping itu, sepertinya selangkangannya jauh lebih gembira mendengar kalimat itu dibanding otak dan perasaannya.
Kimito membalas ciuman Ryouta dengan bersemangat sambil menggesekkan lututnya ke selangkangan Ryouta. Kemudian bibirnya menjelajah turun ke dagu, leher, dada dan terus turun ke perut, memuja tubuh Ryouta. Dimasukkannya lidahnya ke lubang pusar Ryouta, menggoda sambil menyelipkan tangannya ke belakang dan menarik pinggang celana dalam Ryouta. Setelah pembatas terakhir itu terlepas, Kimito mengangkat wajahnya sesaat, sekadar pemberitahuan sebelum ia menjilat kemaluan Ryouta dari pangkal hingga ke ujung.
Ryouta mengangkat pinggulnya dengan sukarela, terlalu menikmati kecupan-kecupan Kimito di tubuhnya. Sepertinya Kimito serius dengan perkataannya tadi. Ryouta pun tak lagi menahan diri untuk mengerang dan sepertinya Kimito jadi makin bersemangat begitu mendengar suaranya. Diletakkannya tangannya di kepala Kimito, mengelus helaian rambut Kimito yang ujung-ujungnya menggelitik kulit Ryouta tiap kali Kimito menggerakkan kepalanya.
"Anh...!" Ryouta menggigit bibir, memalingkan wajahnya dan menutup mata. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Sesaat tak berani melihat ke arah Kimito yang tengah menikmati batang kemaluan Ryouta. Bukan Ryouta tak suka tapi rasanya terlalu nikmat. Sadar kalau mungkin Kimito akan mengira kalau dia tak suka, Ryouta menggerakkan tangannya yang masih menyentuh kepala Kimito, menekan pelan dan mengangkat pinggulnya.
Kimito tersenyum senang mendengar suara erangan dari Ryouta dan merasakan pinggul pacarnya itu terangkat. Dijilatnya kemaluan Ryouta lagi, kali ini dari ujung menuju ke pangkal. Kemudian dilingkarkannya ibu jari dan telunjuknya di pangkal kemaluan Ryouta, hanya sebagai tindakan berjaga-jaga saat ia membuka mulut dan mengulum. Dibiarkannya kulit Ryouta yang yang panas meluncur di atas lidahnya sementara bibirnya dikatupkan di sekeliling Ryouta. Digerakkannya kepalanya ke depan hingga bibirnya nyaris menyentuh selangkangan Ryouta. Ia menghisap sambil menarik kepalanya menjauh, menikmati bagaimana pinggul Ryouta terangkat dan tubuhnya menegang. Dilanjutkannya cumbuannya karena ingin mendengar Ryouta menjerit. Menekan di sana sini, mencari tahu titik mana yang disukai Ryouta.
"Mnnnh... Angh....Kimi-chan.... Unnh..." Ryouta pun sukses mengerang tanpa malu-malu lagi. Hangat mulut Kimito yang menyelimuti kemaluannya, bagian dalam mulutnya terasa begitu lembut dan tekanan-tekanan lembut jemari Kimito yang menemani hisapan kuatnya. Jari Kimito menekan di bagian tengah batang kemaluannya dan Ryouta merasakan punggungnya melengkung dan pinggulnya menghentak. Lidah Kimito menggoda puncak kemaluannya dan menghisap kuat dan pertahanannya jebol begitu saja.
Sesuatu melesat cepat ke arah atas dan ke bagian bawah tubuhnya, tubuhnya mengejang dan pandangannya berubah putih. Ryouta hanya tahu sepertinya dia menjerit dan samar merasakan sesuatu yang hangat meluncur dari kemaluannya ke dalam mulut Kimito.
Kimito sedikit gelagapan karena Ryouta klimaks tanpa peringatan, tapi akhirnya mampu menelan tanpa tersedak terlalu parah. Memang tidak tertelan seluruhnya dan sebagian menetes ke dagunya. Ditunggunya Ryouta selesai sambil memijat lembut kemaluan Ryouta. Cengirannya tak pernah lepas dari bibir sambil menikmati memandang wajah Ryouta yang tampak bercampur antara senang dan malu. Ryouta masih sedikit tersengal saat Kimito merunduk untuk menciumnya lagi.
Ryouta merasa malu sekali karena tak bisa mengendalikan diri. Juga tak tahu harus bagaimana begitu menyadari Kimito menelan dan membantunya menyelesaikan klimaksnya. Disambutnya bibir Kimito, balas memagut dengan sedikit berterima kasih.
".....gomen..." bisiknya sambil menjilat bibir Kimito.
"Ii yo," Kimito mencium Ryouta lebih dalam sekali lagi. Memagut bibir Ryouta sambil mengulurkan tangan ke laci di meja sisi ranjang. Masih sambil mencium Ryouta diambilnya benda-benda yang diperlukannya dari sana. Kimito menyukai kemampuannya melakukan lebih dari satu hal dalam waktu yang sama jika sedang diperlukan seperti ini. Ia jadi bisa mencium Ryouta sambil membuka tutup tube pelumas dan melumuri jemari tangan kirinya. Perlahan disentuhnya jalan masuk tubuh Ryouta untuk kedua kalinya hari itu.
Pinggul Ryouta beringsut, satu kakinya terangkat sebagai reaksi saat jemari Kimito menyentuhnya di bawah sana. "Mmmh..." Ryouta mengerang dari dalam tenggorokannya, menghisap bibir bawah Kimito dengan sedikit antusias. Bagian tubuhnya yang disentuh Kimito terasa lebih sensitif dibandingkan sebelumnya dan ketika jari itu menekan, jantungnya kembali berdebar keras. Tapi ciuman Kimito dan keyakinan kalau Kimito tak akan menyakitinya membuat Ryouta sedikit tenang. Dijilatnya lidah Kimito dan beringsut.
Kimito memagut mulut Ryouta, menelan erangannya ke dalam mulutnya. Jari tengahnya menekan lembut, mengitari daerah sensitif itu kemudian menekan lagi. Begitu diulanginya terus sambil menambah kuat tekanannya hingga akhirnya ujung jarinya menembus lingkaran otot pertama. Kimito menggerakkan jarinya maju mundur perlahan, membuat Ryouta terbiasa sebelum menekan masuk lebih dalam. Sedikit demi sedikit sementara bibirnya bergerak turun mengecupi rahang dan leher Ryouta. Jari tengah itu sudah terbenam nyaris ke pangkal saat Kimito tiba di dada Ryouta. Dimasukkannya jari telunjuknya pelan-pelan sembari menjilat tonjolan di dada Ryouta, menarik dan memagut tonjolan itu hingga berdiri tegang.
Pinggul Ryouta menyentak pelan saat jari panjang Kimito menekan masuk. Tidak sakit, memang, tapi terasa agak tak nyaman. Ryouta setengah bersyukur karena Kimito mengalihkan perhatiannya dengan bibir dan lidahnya yang masih terus aktif mencumbu
bagian atas tubuhnya; membuat Ryouta mengerang lebih keras. Ryouta mendesis keras karena sentuhan basah di tonjolan dadanya terasa perih sekaligus menggelitik ditambah getaran lembut yang mulai merayapi tulang belakangnya karena gerakan jari Kimito. Otot tubuhnya mulai merespon pada gesekan jari Kimito dan saat jari kedua menyusul masuk, tubuhnya mencengkeram pelan. Setengah menolak, setengah menyambut.
"Anh." Tangannya terulur mencari tangan Kimito.
Menyambut uluran tangan Ryouta, Kimito meremas jemari pacarnya itu sambil menjilat kulit Ryouta yang hangat dari tulang belikat hingga dagu. Mulutnya menjelajah rahang Ryouta, meninggalkan gigitan-gigitan lembut hingga ke telinga. Bibir Kimito membuka dan menarik bagian bawah cuping telinga Ryouta yang lembut ke dalam mulut kemudian menghisap lembut. Sementara dua jemarinya terus bergerak di dalam tubuh Ryouta, menekan masuk hingga ke pangkal kemudian menarik hingga nyaris keluar seluruhnya, seraya mencari titik yang bisa membuat Ryouta menjerit.
Dapat dirasakannya tubuh Ryouta perlahan terbiasa akan ukuran jemarinya. Ada senyum puas di bibirnya saat menarik keluar jemari yang sedikit ditekuk dan tubuh Ryouta menegang. Diangkatnya wajahnya sambil terus menekan titik itu, menikmati melihat kemaluan Ryouta menegang kembali. Kemaluan Kimito sendiri sudah terasa nyeri, dan ia sadar betul akan cairan bening yang mulai menetes dari ujungnya. Tapi untuk sementara ia masih menahan hasratnya sendiri. Masih sambil menekan titik di dalam tubuh Ryouta tanpa ampun, dimasukkannya jari manisnya.
"Apa yang kau rasakan?" bisik Kimito bertanya di depan telinga Ryouta.
Ryouta beringsut resah. Berusaha mencari posisi yang membuatnya nyaman. Tapi kemudian sadar kalau tak ada yang namanya 'nyaman' dalam urusan seks. Tapi lagi, kenikmatan yang diberikan Kimito padanya begitu menggiurkan. Buktinya, dia mulai terbiasa dengan jari-jari Kimito di dalam tubuhnya, menggesek dinding bagian dalam tubuhnya dan menekan di sana-sini. Ryouta tak mengerti apa tujuannya sampai jemari Kimito menekan di satu titik dan Ryouta memekik karena, demi dewa-dewa rasanya nikmat sekali. Ryouta bisa merasakan dirinya mengeras lagi dan makin menegang karena hembusan nafas Kimito juga gelitik bibir dan lidahnya.
Ryouta tersengal sambil berusaha tertawa pelan juga meringis. "Entahlah... Mnh... Tapi... Ooh...Di situ..."
Suara Ryouta sungguh sangat menggemaskan sampai Kimito tak tahan untuk tidak memagut gemas leher pacarnya itu hingga menimbulkan bekas kemerahan yang kemudian dijilatnya dengan sayang. Digerakkannya jemarinya lagi, menekan tanpa ampun.
"Di sini ya?" bisiknya sambil nyengir. "Apa kau ingin merasakan yang lebih nikmat lagi?"
"Nnnnnnnnnnnnngh...." Ryouta mengerang panjang. Bercak-bercak putih terlihat di balik kelopak matanya. Otot tubuhnya mengerat dan Ryouta harus menggigit bibir karena rasanya dia nyaris meledak lagi. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat dan jantungnya berdebar dengan begitu cepat. Dilingkarkannya kedua lengannya ke leher Kimito. Semburat merah di wajahnya menyebar hingga ke leher dan telinganya. Kepalanya mengangguk sebelum diciumnya pemuda jangkung itu dan mengerang sekali lagi.
Kimito menyambut ciuman Ryouta, melahap pacarnya dari dalam ke luar dengan sedikit rakus, kemudian menjauh dan berlutut. Dibukanya tube pelumas dan menekan hingga jelly bening itu menetes ke kemaluannya. Ia mendesis sedikit karena jelly itu terasa dingin di kulitnya yang sensitif dan bagai terbakar. Tapi dilihatnya Ryouta menatapnya, dan ia sengaja berlama-lama.
"Suka dengan apa yang kau lihat?" tanyanya usil.
Pemandangan di depan matanya membuat Ryouta tak bisa berpaling. Kepalanya kosong dan kerongkongannya terasa kering. Baru kali itu Ryouta menganggap kalau Kimito begitu indah. Kulit putihnya bersemu merah di beberapa tempat, berlapis keringat tipis yang membuat rambutnya basah dan menempel ke sisi wajah dan keningnya, tatapannya tajam dan terfokus pada Ryouta; penuh nafsu dan sesuatu yang lain, kemaluannya berdiri tegak dan bangga dan begitu merah juga meneteskan cairan bening.
Ryouta tersenyum, mengangkat badannya sedikit dan memberanikan diri menyentuhkan ujung jarinya ke ujung kejantanan Kimito. Matanya mengerjap kagum. Jarinya bergerak, menyentuh bagian yang terkena jelly pelumas dan menyusuri sebuah garis tak tampak kembali ke ujung. "Ini... akan masuk ke dalam kan?"
Ryouta memiringkan kepalanya. Bergumam pada dirinya sendiri tapi sepertinya masih cukup keras untuk didengar Kimito. "Muat tidak ya?"
Kimito mendesis saat jari Ryouta menyentuh dirinya. Diraihnya sisi wajah Ryouta kemudian dipagutnya bibir bawah Ryouta.
"Bagaimana kalau kita coba saja?" bisiknya parau di telinga Ryouta yang bersemu merah. Jemarinya meraba jalan masuk tubuh Ryouta, melebarkannya dengan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian menekan ujung kemaluannya masuk.
'Shimattaa...' pikir Ryouta dalam hati karena Kimito benar-benar mendengarnya. Tapi sejurus kemudian, nafasnya tercekat karena sesuatu yang lebih besar dari jari pacarnya menyerbu masuk ke dalam tubuhnya. Ryouta mencengkeram lengan Kimito dan mengerang. Rasanya luar biasa dan sakit. Meski tak begitu menyiksa karena tubuhnya sudah siap. Tetap saja Ryouta mengernyit. dan air matanya terbit. Ryouta mengerjap dan agak tersengal.
"Chotto...itai kedo...mmmnh..."
Kimito berhenti menekan masuk begitu didengarnya Ryouta mengeluh kesakitan. Untuk mengalihkan perhatian Ryouta dari pengalaman yang memang pasti membuat tak nyaman. Diciumnya bibir Ryouta dengan lembut, dan sebelah tangannya menggenggam kemaluan Ryouta, menarik dan menekan lembut. Begitu dirasakannya tubuh Ryouta sedikit rileks, ia kembali menekan masuk perlahan-lahan.
Ryouta mendesah, sedikit demi sedikit mulai bisa menyambut Kimito ke dalam tubuhnya. Sedikit demi sedikit pula Ryouta bisa merasakan gerakan tubuh Kimito dan mengerang lirih. Masih merasa agak tak nyaman tapi hangat tangan Kimito dan hentakan tangannya mengirimkan sinyal ke tubuh Ryouta. Sinyal nikmat dan menyenangkan yang membuatnya beringsut, menarik Kimito lebih dalam lagi. Dibalasnya pagutan bibir Kimito, karena membuatnya merasa tenang.
"Aah..." desahnya lirih saat merasa Kimito sudah sepenuhnya masuk. Dia tidak benar-benar tahu, hanya merasa demikian. Dipandangnya Kimito dengan penuh cinta dan memiringkan kepala untuk memperdalam ciumannya.
Kimito tersengal memagut bibir Ryouta, mati-matian menahan hasrat agar tidak melahap Ryouta begitu saja. Bagaimanapun juga ini adalah kali pertama untuk Ryouta dan Kimito ingin agar Ryouta benar-benar menikmatinya. Walaupun suara-suara yang tanpa sadar keluar dari sela bibir Ryouta dan hangat tubuh Ryouta yang perlahan-lahan melingkupinya sungguh menggoda dan membuat Kimito merasa tersiksa. Tanpa sadar ia mengertakkan gigi dan mengatur napas sambil menekan masuk kembali, membenamkan tubuhnya seluruhnya. Tatapan Ryouta ke arahnya membuat Kimito tak tahan dan mencium Ryouta dengan rasa syukur dan bahagia karena dapat melihat wajah Ryouta yang seperti itu.
Kimito tersengal lagi dan berbisik meminta izin. "Ngh, boleh aku... akh, jangan mencengkeram seperti itu... akh... boleh aku bergerak?"
Ryouta tak langsung menjawab, masih menikmati mencium pacarnya. Juga karena menemukan bahwa Kimito yang tersengal dan menahan hasrat ternyata begitu menggairahkan. Dielusnya pipi Kimito dengan sayang, menikmati hembusan nafas Kimito yang cepat di telinga dan pipinya. Kemudian sadar sepenuhnya akan denyut hangat kemaluan Kimito di dalam tubuhnya, dan direspon otomatis oleh Ryouta dengan mencengkeram pelan. Menyukai reaksi Kimito yang makin terengah dan menggerung agak tak sabar.
Ryouta mengangguk. "Un."
Kimito memejamkan mata lega mendengar jawaban Ryouta. Tapi ia tetap bergerak hati-hati, selain karena tidak ingin Ryouta kesakitan, juga agar sensasi gesekan yang diterima kulitnya dari bagian dalam tubuh Ryouta yang hangat dan berdenyut lembut tidak membuatnya selesai saat itu juga. Diusapnya pinggul Ryouta kemudian terus ke paha, lalu diraihnya bagian belakang lutut Ryouta untuk menarik tungkai Ryouta melebar. Sambil menarik napas, Kimito mulai menggerakkan pinggulnya, menarik diri menjauh kemudian menekan masuk sambil menggeram rendah. Rasanya terlalu nikmat, jauh berbeda dengan apa yang pernah dialaminya dengan orang lain. Mungkin karena kali ini yang bersamanya adalah Ryouta. Ryouta yang tak henti menatapnya hangat dan membuat seluruh tubuhnya menggelenyar
"Mmmmh, Ryouta," bisiknya parau, pinggulnya mulai menyentak pelan dan dalam.
Rasa sakit itu masih ada tapi seiring jalan, Ryouta menemukan kalau dia merespon gerakan pinggul Kimito, rasa sakit itu perlahan menghilang. Malahan, gesekan yang tercipta bertambah kuat dan rasanya nikmat sekali. Jauh lebih nikmat dari yang diberikan Kimito dengan jari-jarinya. Juga sensasinya jadi berlipat-lipat tiap kali ia mencengkeram. Ryouta agak tak yakin, tapi membiarkan instingnya bekerja. Mencengkeram saat Kimito bergerak mundur dan mengangkat pinggul saat Kimito menekan masuk. Sekilas dirasakannya titik yang sebelumnya membuatnya klimaks tersentuh. Ryouta beringsut, menjilat dagu Kimito dengan menggoda.
"Kimi-chan... di situ... aaah... sentuh aku... di situ... ohhh ya, di situ..."
Kimito tak tahu dari mana Ryouta belajar bercinta, tapi ia sungguh mengagumi responnya yang sungguh sesuai dengan gerakan pinggul Kimito. Ia menggeram saat Ryouta mencengkeram lumayan keras dan membuat matanya nyaris dibutakan oleh percikan-percikan cahaya yang juga menjalari punggungnya. Diangkatnya tungkai Ryouta lebih tinggi agar ia dapat masuk lebih dalam dan pinggulnya mulai menghentak lebih cepat.
"Koko? Ii ka?" tanyanya di sela tarikan napas.
"Aaagh! Un... soko... ii! Mmmh... Kimi-chan..." Ryouta mulai mengerang tak terkendali. Tiap kali tersentuh, tubuhnya akan menggelinjang dan punggungnya melengkung nikmat. Hasratnya meluap-luap dan kepalanya mulai terasa melayang. Sesuatu menjalar cepat ke tiap syaraf dan sudut tubuhnya. Dari friksi yang tercipta, dari sentuhan kulit Kimito ke kulitnya, dari lenguhan dan geraman rendah Kimito di dekat telinganya dan entah dari mana lagi.
Tapi kali ini Ryouta tak ingin selesai begitu saja seperti yang pertama. Dia ingin melihat Kimito mencapai puncak kenikmatan itu lebih dulu. Ingin melihat ekspresi Kimito saat dia melepaskan seluruh nafsunya akan Ryouta dan karena Ryouta. Ryouta menggigit bibir, menarik nafas dalam-dalam. Dicarinya bibir Kimito untuk dinikmatinya Sungguh nikmat dan indah. Ryouta menyimpulkan dalam hati saat mengintip ekspresi Kimito. Disentuhnya pipi pacarnya itu.
"Kimi-chan shika...nnnh...minai yo..." bisiknya di sela pagutan bibirnya. "Zutto."
Kimito merasa wajahnya memanas dan digigitnya bibir Ryouta gemas. Ia tahu Ryouta tidak berbohong. Dan ia juga tahu kalau Ryouta tidak sedang merayu atau berlebih-lebihan. Fakta itulah yang membuatnya lebih merasa tersanjung sekaligus tersentuh.
Ia merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Gabungan dari gerakan pinggul Ryouta, erangannya yang sensual dan ekspresinya membuat Kimito merasa melayang. Kedua tangannya mengusap pinggul Ryouta hingga ke paha kemudian mengaitkan kedua tungkai Ryouta ke bahunya hingga ia dapat menyentak lebih dalam dan memastikan bahwa ia menyentuh titik sensual Ryouta setiap kali, membuat pacarnya itu menggelinjang nikmat.
"Ore mo. Ryouta dake," bisiknya mengakui, wajahnya disurukkan ke lekuk leher Ryouta.
Senyumnya mengembang lebar mendengar pengakuan itu. Entah apa yang sebenarnya dilihat Kimito pada dirinya. Dulu pacarnya itu mengaku kalau dia tak bisa 'melihat' apa yang penting untuk Ryouta. Tapi tadi sore, di tengah perdebatan mereka, mendadak Kimito melihat ke arahnya tanpa berkedip dan dia terdiam dengan wajah memerah. Saat ini, Ryouta tak berharap ia punya kemampuan seperti Kimito. Pengakuan Kimito sudah cukup untuknya. Saat ini ia sangat, sangat ingin mencium Kimito tapi posisinya tidak memungkinkan untuk itu.
Meskipun olahragawan, tubuh Ryouta tidak sefleksible itu. Pun, hentakan Kimito yang semakin tajam dan cepat lagi-lagi mencuri nafas Ryouta. Tangannya mengepal, menggerut seprai berwarna biru di bawah tubuhnya. Gesekan di dalam tubuhnya semakin intens dan terasa begitu panas. Sentakan tajam di titik sensitifnya juga membuatnya mulai melihat bintang-bintang di balik matanya. Giginya yang putih menggerut bibir bawah dengan resah.
Kimito meraih wajah Ryouta dengan sebelah tangan dan mengecupi pipi dan kelopak mata Ryouta, menggesekkan hidung mereka yang licin oleh keringat dan tersengal di depan bibir Ryouta. Sebelah tangannya menyusup ke antara tubuh mereka, meraih kemaluan Ryouta dan menggenggam. Dapat dirasakannya cairan yang mulai menetes dari bagian vital Ryouta yang berdiri tegang itu, dan Kimito mulai menarik serta menekan sesuai irama pinggulnya menekan masuk. Dirasakannya Ryouta mencengkeram makin erat dan ia nyaris tak tahan lagi. Diciumnya Ryouta dalam-dalam, mencoba menyampaikan betapa ia menyayangi Ryouta dan
bersyukur bahwa Ryouta berada bersamanya.
"Ryouta, hnngh, ... naka ni... ii?" pintanya.
Samar telinganya menangkap suara Kimito. Seluruh indera-nya sudah berpusat pada satu tempat dan tertarik pada satu titik yang menyangga pertahanan dirinya yang makin goyah. Setitik kesadarannya mengatakan saat ini dia adalah milik Kimito dan sebaliknya. Itu saja sudah cukup bagi Ryouta untuk membiarkan otaknya berhenti merasionalkan apapun dan mengangkat tangannya, menangkupkannya ke atas tangan Kimito yang menyentak kemaluannya seirama dengan gerakan pinggul mereka. Susah sekali rasanya untuk membiarkan matanya tetap terbuka tapi Ryouta membulatkan tekad, menggerakkan tangannya bersama Kimito.
"Un... naka ni ii... mnnnnh...."
Pinggul Kimito menyentak semakin dalam mendengar jawaban Ryouta yang setengah mengerang itu. Gerakannya sudah mulai tak beraturan karena kenikmatan yang menyebar hingga setiap sel-sel tubuhnya. Dirasakannya kemaluan Ryouta berdenyut di dalam genggamannya dan ia tahu Ryouta tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Kimito akhirnya menyerah dan membiarkan insting mengambil alih komando gerakan tubuhnya. Menghentak semakin dalam seraya dicengkeram kuat oleh bagian dalam tubuh Ryouta, menggenggam dan menarik kemaluan Ryouta sambil memutar pergelangannya--menekan di tempat yang (kini) ia tahu membuat Ryouta merasa nikmat. Bibirnya mencari bibir Ryouta, sedikit bergetar.
Saat Kimito membuka mata dan menatap Ryouta--bukan, 'melihat' Ryouta, sekali lagi dilihatnya sesuatu yang membuatnya tak tahan lagi untuk tidak menarik Ryouta ke ranjang. Sesuatu yang akhirnya meyakinkannya bahwa Ryouta juga menyayanginya, Ryouta juga menganggapnya sebagai seseorang yang istimewa. Seistimewa Ryouta baginya, seberharga setiap tarikan napasnya. Kimito 'melihatnya', benar-benar 'melihat' bahwa sesuatu yang paling berarti untuk Ryouta ternyata adalah Totani Kimito.
Kimito tersengal dan menekan masuk, merasakan sesuatu meledak dari tengah-tengah dirinya seiring sesuatu yang basah tumpah ke genggamannya.
Nafasnya tercekat saat pandangannya bertemu dengan sepasang mata Kimito yang gelap. Yang kini melihatnya dengan segenap perasaan dan membuat Ryouta merasa tersesat dan tak berniat untuk lari. Deru nafas Kimito menyapu wajahnya dan erangannya menggelitik telinga Ryouta. Hangat tangan Kimito yang menggenggam tubuhnya melipat gandakan kenikmatan di bawah sana dan pertahanan Ryouta pun ambruk begitu saja. Seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dengan cepat dari dalam tubuhnya dan Ryouta tak melawan. Merasakan tubuhnya tertarik ke segala arah Bibirnya membentuk senyum kecil, sempat melihat ekspresi wajah Kimito saat melepaskan dirinya ke dalam tubuh Ryouta, sebelum akhirnya menyerah dan menutup mata. Membiarkan kepalanya terlempar ke dalam bantal dan mulutnya terbuka melepaskan erangan keras. Dipeluknya Kimito dengan erat. Sangat erat seperti tak berniat melepaskan. Kimito miliknya. Hanya miliknya.
Kimito menikmati gelombang kenikmatan yang bergulung-gulung membawa dirinya, terengah dengan pinggul masih bergerak lembut menunggu klimaksnya usai. Sepertinya ini klimaks terintens yang pernah dirasakannya. Kimito mendesah dan beringsut dalam dekapan lengan Ryouta. Ia mengerang lirih saat dirinya yang masih berada di dalam tubuh Ryouta ikut bergerak. Perut dan selangkangannya terasa basah dan sedikit lengket, tetapi Kimito belum pernah merasa senyaman ini sebelumnya. Diusapnya tubuh Ryouta yang licin dan hangat kemudian dikecupnya rahang Ryouta yang berlekuk bagus.
"Terima kasih ya," bisiknya bahagia.
Tubuhnya terasa seperti berpendar dan seperti tersetrum lembut di beberapa tempat. Ryouta menghela nafas panjang berkali-kali. Belum pernah rasanya dia merasa sepuas dan se....penuh ini. Bahkan tidak setelah episode-episode pendek di bawah selimut atau di kamar mandi dengan tangan kanannya. Agak malu-malu, Ryouta melirik kala merasakan sentuhan lembut di rahangnya. Bukan karena sentuhan dan bisikan pelan Kimito tapi karena tubuhnya yang belum benar-benar berhenti mengeluarkan cairan putih hangat. Namun dilihatnya juga pacarnya itu dan balas mengecup pipi Ryouta dan mengelus tempat yang baru saja dikecupnya.
Matanya mengerjap. "Untuk apa?" tanyanya lirih, masih dengan suara yang agak serak. Karena kalau ada yang harus berterima kasih, Ryouta merasa dialah orangnya.
Kimito menyusupkan wajahnya kembali ke lekuk bahu Ryouta, menikmati aroma tubuh Ryouta yang bercampur aroma seks di udara. Sungguh ia masih belum ingin bergerak menjauh, karena berada di dalam Ryouta seperti itu benar-benar terasa nyaman sekali.
"Mmm," Kimito menggesekkan hidungnya ke kulit di belakang telinga Ryouta. "Betsuni."
Ryouta tertawa pelan sembari mengelus punggung Kimito yang lembab. Rambutnya yang panjang menggelitik hidung Ryouta, memaksa Ryouta untuk menggerakkan kepalanya, meletakkan dagu di atas kepala Kimito. Berat tubuh Kimito sama sekali tak mengganggunya, juga aroma yang menerpa hidungnya. Ryouta belajar untuk menikmatinya. Juga karena merasa masih seperti di awang-awang. Riak-riak kecil orgasme-nya belum hilang, menerpa lembut dan menggelitik. Rasanya tak percaya kalau dia baru saja bercinta untuk pertama kalinya. Meski punggung dan bagian bawah tubuhnya membuatnya meringis tiap kali dia atau Kimito beringsut, Ryouta merasa itu sepadan dengan kenikmatannya.
"Kimi-chan..."
"Hmmm?" Kimito berdeham sambil menyandarkan pipinya di bahu Ryouta. Ia tahu cepat atau lambat akan harus menjauh dan melepaskan Ryouta, tapi rasanya sungguh tak rela. Ryouta benar-benar terasa pas di pelukannya dan Kimito tidak ingin menjauh. "Kenapa?"
Ryouta menoleh, menggesekkan ujung hidungnya dengan hidung Kimito yang mancung. "Kimi-chan tampan."
Mungkin terdengar konyol tapi Ryouta serius. Meski sebenarnya bukan itu yang ingin diucapkannya. Saat ini dia merasa Kimito sangat berharga untuknya dan Ryouta belum punya cukup keberanian untuk menyampaikan kalimat sederhana yang kini memenuhi relung hatinya. Mungkin nanti.
Kimito menyembunyikan senyum kemudian mendengus. "Hmph, tentu saja aku tampan. Lebih tampan dari Ma-kun." Lengannya beringsut mendekap Ryouta lebih erat lagi. "Dan tentunya lebih tampan dari kaptenmu itu."
Ryouta balas mendekap Kimito. Tak bisa menahan senyum geli dan tak tahan untuk tidak mengecup pucuk hidung Kimito. "Kapten Yui baik loh. Dia sayang sekali sama kami semua. Juga banyak menolongku saat latihan." Begitu dilihatnya Kimito merengut, Ryouta buru-buru menciumnya. "Bukan berarti aku naksir Kapten Yui loh." "Lagipula, Kapten Yui suka perempuan." jelas Ryouta melanjutkan. "Kimi-chan....masih cemburu?" tanyanya lagi, menilik ekspresi Kimito dengan hati-hati.
Kimito menyorongkan bibirnya sedikit. Kesal karena dia tidak bisa membantu apa-apa kalau soal tenis. "Hmph," dengusnya lagi. Digigitnya cuping telinga Ryouta. "Pokoknya Ryouta milikku. Milikku seorang. Takkan kuserahkan pada siapapun."
Ryouta berjengit geli. "Hmmm... Kimito juga ya. Tak boleh macam-macam dengan siapapun loh. Kemarin Inoue-kun bilang, Kimi-chan suka flirting dengan siapapun di lokasi. Aku tak percaya karena tak lihat sendiri. Tapi sekarang yang boleh begini dengan Kimi-chan hanya aku." Digigitnya gemas pipi Kimito. "Aku bukan orang yang posesif tapi aku tak ingin berpikir macam-macam."
Kimito beringsut sambil nyengir nakal. "Apa boleh buat kan. Aku yang tampan ini kan minna no mono da yo." Sepasang alisnya digerak-gerakkan dan hidungnya terangkat dengan sombong.
Bukannya kesal, Ryouta malah tertawa sampai tubuhnya berguncang. Sejurus kemudia ia berjengit dan melenguh pelan. Gerakannya membuat Ryouta tersadar kalau Kimito masih ada di dalam tubuhnya. Wajahnya bersemu merah. Disurukkannya kepalanya ke leher Kimito dan tak sanggup menahan erangan saat beringsut.
"Kimi-chan masih di dalam." bisiknya.
Tertawa kecil, Kimito lalu mengigit bibirnya sambil pelan-pelan bergerak menjauh. Ia tidak ingin gesekan kulitnya yang amat sensitif membuatnya terangsang lagi, meskipun merasakan cairan yang turut keluar saat ia menarik diri sungguh menggoda. Saat sudah sepenuhnya di luar, Kimito menggesekkan hidungnya ke pipi Ryouta. Kemudian ia berguling ke samping, masih melingkarkan lengan di pinggang Ryouta sambil menguap.
Ryouta mengerang pelan saat Kimito menarik tubuhnya keluar. Untuk sesaat ada rasa kosong di dalam dirinya. Ia pun berbaring menyamping, mengikuti gerakan Kimito dan beringsut mendekat. Disusupkannya wajahnya ke lekuk leher Kimito dan mengecup lembut kulit di dekat bibirnya Lalu menengadah untuk mengecup dagu Kimito dengan sayang. Dirasakannya pelukan Kimito mengerat dan nafas Kimito mulai tenang dan dalam.
Tangan Kimito mencari selimut yang tadi tertendang entah ke mana. Kemudian ditariknya selimut itu sampai menutupi pinggang mereka berdua. Daripada rasa lelah, rasa nyaman dan tenang yang lebih membuatnya merasa mengantuk. Dikecupnya kening Ryouta hangat sambil berbisik "Oyasumi," dan kemudian memejamkan mata.
Ryouta tersenyum. Merasa hangat dan nyaman di dalam pelukan Kimito meski ini bukan pertama kalinya mereka tidur berdekapan. "Oyasumi," balasnya dalam bisikan seraya menyandarkan kepala ke dada Kimito.
-end-
Sunday, January 2, 2011
[fanfic] AU TotanixMurai - New Year's Eve
Fandom: Kamen Rider Decade
Pairing: Totani Kimito x Murai Ryouta
Rating: G
Warning: BL. AU. OOC.
Disclaimer: None of the characters are mine.
Note: Aduh, maaf, ini gejeh sekali. Jangan bunuh saya.
Ryouta menepuk-nepuk pelan pundaknya dengan kepalan tangan. Helaan nafas meluncur dari hidungnya sementara tangannya yang satu lagi menarik lepas celemek bermotif beruang khas ’La Petit Pattiserie’. Sudah nyaris jam 11 malam saat Ryouta melirik ke arah jam dinding di lorong tangga menuju kamarnya di lantai dua. Toko sudah tutup sejak pukul 10 tadi tapi Ryouta masih harus membantu ayahnya mempersiapkan kue yang akan dibakar esok paginya. Meskipun tahun baru, tetap saja ada pesanan kue yang harus diantar atau diambil sebelum jam sepuluh pagi. Ibunya akhirnya menyuruhnya tidur setelah bertanya kenapa Ryouta tidak pergi keluar di malam tahun baru seperti itu. Ryouta hanya menggeleng sambil tersenyum.
Dia memang tak biasa keluar rumah saat Natal atau Tahun Baru karena toko kue keluarga mereka justru selalu sibuk di musim-musim seperti ini dan Ryouta tak enak kalau tidak membantu. Tapi dia senang karena tiap tahun, ayahnya mengijinkannya melakukan satu hal yang lebih besar. Dulu dia hanya diijinkan membuat hiasan-hiasan dari karamel, coklat atau buah. Tahun ini, ayahnya menyerahkan tugas membuat soft cake untuk bahan dasar. Meskipun masih diawasi dengan ketat. Hatinya bangga dan dia melompat-lompat kegirangan saat ayahnya mengangguk melihat hasilnya.
Menyalakan shower dan berdiri di bawah kucuran air hangat, Ryouta berpikir dia harus berterima kasih pada Kimito. Selama ini dia tak pernah benar-benar punya waktu untuk latihan membuat kue. Kegiatannya di klub tenis sangat menyita waktu dan tiap pulang, Ryouta sudah terlalu lelah untuk mencoba membuat sesuatu. Tapi sejak Kimito datang dan membawakannya macam-macam bahan mentah, Ryouta jadi bersemangat untuk membuat kue. Hanya untuk melihat Kimito melahap hasilnya dengan cepat dan sambil nyengir jahil berkata, ”Okawari!”
Otaknya langsung berputar untuk membuatkan sesuatu untuk temannya itu. Sesuatu tanpa bahan dari Kimito. Tak enak juga kalau terus-terusan diberi hadiah seperti itu, meskipun Ryouta jadi punya banyak ide untuk membuat kue yang belum pernah dicobanya. Tapi kali ini dia benar-benar ingin berterima kasih dan memberi kejutan untuk Kimito. Bibir bawahnya digigit-gigit sambil meluncur ke meja belajarnya dan membuka-buka koleksi resep.
Rambutnya yang masih basah diusap-usap. Kimito tak pernah protes dengan apapun yang dibuat Ryouta dan itu malah membuat Ryouta makin bingung. Apa ditanya saja ya, pikirnya. Tapi kalau begitu, nanti tidak jadi kejutan lagi dan Ryouta tak mau mengganggu karena Kimito sudah bilang kalau tahun baru ini dia banyak pekerjaan. Ada pemotretan untuk majalah yang mengulas perayaan tahun baru dan Kimito diminta jadi modelnya. Ryouta tersenyum geli mengingat ekspresi Kimito yang tampak sebal waktu bercerita.
Saking terlalu asyik melihat-lihat resep, Ryouta baru tersadar ketika dari kejauhan terdengar bunyi dentuman kembang api berbaur dengan dentang bel kuil, lonceng gereja dan suara orang-orang berseru-seru dan letupan petasan.
”Ah, sudah tahun baru ya?” gumamnya sambil menuju jendela dan menyibakkan tirai untuk melihat langit yang jadi terang dengan bentuk warna-warni kembang api. Tanpa sadar, mulutnya terbuka karena kagum dan ikut berseru, ”Tamaa~~”
Setengah jam kemudian, Ryouta akhirnya menutup jendela yang tadi dibukanya agar bisa melihat lebih jelas karena sudah mulai bersin-bersin karena kedinginan. Pesta kembang api-nya juga sudah selesai. Tak ada lagi yang bisa dilihat. Mendadak suasana kembali sunyi dan Ryouta menatap buku resep yang masih terbuka. Sambil menghela nafas, dibereskannya buku tebal itu dan naik ke tempat tidur. Saat hendak menutup mata, tiba-tiba terbersit keinginan untuk mengecek handphone-nya. Benar saja, teman-teman sekolah dan klub-nya mengiriminya ucapan selamat tahun baru. Ryouta membalas satu persatu sambil tersenyum dan sesekali terkikik geli.
Satu pesan datang dari Kapten Yui, berisi ucapan tahun baru dan terima kasih karena sudah bekerja keras di tahun sebelumnya. Juga mengingatkan agar jangan terlalu banyak bersenang-senang karena sebentar lagi pertandingan wilayah. Ryouta baru saja hendak membalas ketika mendengar bunyi ketukan pelan dari arah jendelanya. Dahinya mengernyit dan telinganya otomatis menajamkan pendengaran. Bunyi itu terdengar lagi. Lalu sekali lagi. Ryouta meletakkan handphone-nya dan merangkak menjangkau tirai. Matanya menyipit karena di luar gelap sekali. Dilihatnya sebuah batu kecil menghantam jendelanya. Keningnya makin berkerut dan akhirnya membuka jendela untuk melihat keluar.
Di bawah sana, mata Ryouta samar menangkap siluet sosok jangkung terbalut overcoat panjang dan scarf tebal. Satu tangannya terselip ke dalam saku dan satunya memainkan sebutir kerikil. Ryouta memicingkan mata.
”Kimitooo?” serunya tertahan.
Kimito nyengir. ”Hai.”
Ryouta menjulurkan setengah badannya keluar jendela. ”Sedang apa? Bukannya ada pekerjaan?”
”Boleh masuk? Dingin nih.” balas temannya sambil melompat-lompat kecil.
”Eh? Eh? Ya. Iya! Tentu saja. Sebentar ya! Kubukakan pintu!”
Kimito menggeleng. Ryouta hanya bisa terperangah saat Kimito dengan sigap dan lincah melompati pagar belakang dan mencari pijakan untuk memanjat sampai ke beranda kecil di depan jendela Ryouta. Ryouta buru-buru menangkap tangannya ketika pijakan Kimito terlihat agak goyah dan menariknya masuk.
”Kamu seperti maling saja, masuk dengan cara seperti itu.” Komentar Ryouta sambil menutup jendelanya.
Kimito hanya mengangkat bahu dengan tak peduli sambil tersenyum miring. Ujung hidung dan pipinya bersemu merah karena udara dingin. Ryouta menangkap coat dan scarf Kimito yang dilepas dan dilempar begitu saja oleh si empunya. Celingukan sebentar mencari tempat di kamar berukuran kecil itu, Kimito menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas tempat tidur Ryouta. Ditepuk-tepuknya sisi sebelahnya dan Ryouta pun ikut duduk. Mereka berpandangan sejenak dan tersenyum. Tangan Ryouta terulur, membersihkan salju yang menempel di rambut Kimito.
“Pekerjaannya sudah selesai?” tanyanya sambil melipat kaki.
Kimito mengedikkan bahu. ”Ternyata hanya sebentar. Ambil foto di beberapa spot yang ramai lalu sudah.”
Ryouta mengangguk-angguk lalu bertanya lagi. “Tidak pergi dengan teman-temanmu?”
Satu alis yang tertata rapi terangkat. “Teman yang mana?”
Ryouta mendorong pundak Kimito. ”Teman kampus, teman model, Inoue-kun, siapapun.”
Kimito tertawa. ”Aku terlalu malas ikut-ikut yang seperti itu. Kecuali kalau ada yang bisa kuambil.”
Ryouta mengerutkan kening bingung tapi tak bertanya lebih lanjut. Kimito beringsut, mencari posisi yang lebih nyaman di atas ranjang Ryouta. Punggungnya disandarkan ke tembok dan diambilnya satu bantal Ryouta untuk dipeluk. ”Aku lapar.” ujarnya singkat.
”Eh?”
”Lapar.”
Ryouta tertawa. ”Aku dengar kok. Hmm... sebentar ya. Mungkin masih ada makanan di kulkas.”
”Tidak ada kue?”
Ryouta menggeleng pelan, kelihatan kecewa. ”Hari ini sibuk sekali di toko. Aku tak sempat buat apapun. Yang lain saja, tak apa-apa kan?”
Kimito menggeleng. ”Tak usah saja kalau begitu.”
”Tapi kan Kimi-chan lapar...”
Kimito menukas. ”Tak begitu lapar kok. Duduk sini.” Kimito mengibaskan tangannya supaya Ryouta mendekat. Ryouta menurut dan mengambil tempat di sebelah Kimito. Bahu mereka berhimpitan dan Ryouta menyandarkan kepalanya ke pundak Kimito. Kepalanya terangkat sedikit saat mendengar Kimito menguap.
”Mau menginap di sini?” Ryouta bergumam pelan.
Kimito membenamkan wajahnya ke dalam rambut Ryouta yang masih setengah basah. Wangi strawberry segar menyambutnya. “Kalau boleh...” balas Kimito.
Ryouta tersenyum dan mengecup pipi Kimito dengan penuh sayang. “Tentu saja boleh.”
Subscribe to:
Posts (Atom)