Wednesday, January 19, 2011

[fanfic] AU Ma-kunxTori - Meet The Parents

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger/GOLD *dihajar*
Pairing: Inoue Masahiro x Matsuzaka Tori, Sorimachi Takashi x Amami Yuki
Cast: Inoue Masahiro, Matsuzaka Tori, Sorimachi Takashi, Amami Yuki
Rating: PG
Warning: AU. BL. OOC. Cheesy.
Disclaimer: I do not own any of the characters.
Note: Buat SATC-ERs tercintaaaaaaah~~



Tori mengerang sebal saat terbangun  gara-gara ponselnya yang berdering nyaring. Dia yakin hari ini dia cuti dan sudah meminta ijin jauh-jauh hari sebelumnya, jadi tak ada alas an bagi siapapun untuk mengganggunya sepagi itu kecuali untuk urusan hidup dan mati. Sambil menggeram sebal, tangannya terulur meraba-raba dan akhirnya menemukan ponselnya terselip di bawah bantal.

“Moshi-moshi.” Sapanya dengan nada menggerutu.

“Bangun! Kau pikir ini sudah jam berapa?”

Tori mengernyit. “Kaa-san?”

“Bukan. Aku perdana menteri Jepang. Memangnya kau piker siapa lagi?” sahut suara di seberang. Terlalu nyaring menurut telinga Tori.

Tori berbalik dan mengambil arlojinya dari atas meja. Matanya memicing. “Kaa-san, ini masih jam enam pagi.” Keluh Tori sambil mendesah. “Ada apa?”

“Aku tak mengerti bagaimana mungkin kau bisa tidur nyenyak di hari sepenting ini. Ada apa katamu? Memangnya tak jadi ke rumah? Jangan macam-macam ya.”

Mendesah sekali lagi, Tori akhirnya menarik badannya untuk duduk dengan susah payah dan bersandar ke dinding. Sejenak menyingkap tirai untuk mengintip ke luar. Matahari belum lagi terbit sempurna di luar sana. Tori mengusap wajahnya dan menguap. “Iya, iya, jadi kok. Tapi kan janjinya makan siang.” Protesnya pada sang ibu.

Didengarnya ibunya mendengus. “Kami pasti akan datang, koook” Tori berusaha menenangkan. “Kaa-san tak usah panik begitu, dong.”

“Aku tak pernah panik.” Kilah ibunya cepat.

“Hai, hai. Lalu? Kaa-san meneleponku pagi-pagi buta begini hanya untuk meneriakiku?” Tori mengangkat sebelah alisnya.

“Anak kurang ajar. Aku hanya ingin tanya apa Masahiro alergi sesuatu. Aku terlanjur beli banyak seafood. Atau jangan-jangan dia tak suka seafood? Masih banyak waktu untuk ke swalayan sih. Aduh, semoga Takashi-san belum berangkat.”

Tori menghela nafas dan memejamkan matanya. Tangannya terangkat lagi untuk memijat batang hidungnya. ”Dia tak punya alergi apa-apa, kok. Sejauh yang aku tahu, sih. Lagipula dia kan sudah pernah makan masakan Kaa-san.”

”Tapi kan bukan seafood.” Potong ibunya cepat. “Apa sih sebenarnya makanan kesukaannya? Mungkin aku bisa buatkan.”

”Yah, dia sering minta dibuatkan nabe sih.” Tori meringis.

”Nabe? Nabeeeeeeee? Kenapa tidak bilang dari kemarin? Aku ditawari Ootsuka-san shiitake bagus-bagus tapi kutolak. Aargh! Semoga masih dia simpan. Takashi-san! Jangan berangkat dulu!”

Hubungan pun terputus. Tori memandangi ponselnya selama beberapa saat sebelum akhirnya mendesah sambil geleng-geleng kepala. Diletakkannya ponsel itu di atas meja dan baru saja beringsut mencari posisi yang nyaman untuk tidur lagi, didapatinya sosok yang tertidur di sebelahnya sudah membuka mata. Sepasang mata kecoklatan itu memandangnya dengan mengantuk.

Tori tersenyum lembut dan beringsut mendekat. ”Maaf ya. Terbangun karena suaraku?” tanyanya dalam bisikan pelan.

”Siapa?” tanya Masahiro sambil menguap.

”Ibuku.” Jawab Tori singkat.

Kening Masahiro berkerut. ”Ada masalah?”

“Tidak. Biasa kalau mau kedatangan tamu, Ibu selalu seperti itu. ” Tori tertawa kecil.

”Hmm.” Masahiro memandangnya sambil berkedip-kedip seperti masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Tori dengan otaknya yang jelas belum bekerja dengan baik.

Tori memeluknya dan mengecup ujung hidung Masahiro. ”Tidur lagi saja. Masih jam enam, kok.”

Masahiro bergumam tak jelas, menarik Tori mendekat dan membenamkan wajahnya ke lekuk leher pacarnya itu sebelum kembali mendengkur pelan.

****

”Okaa-san suka bunga, tidak?” tanya Masahiro sambil mencuri pandang ke arah spion.

Tori memiringkan kepalanya. ”Tidak terlalu sih. Otou-san tidak pernah membelikannya bunga.”

“Tapi bukan berarti tak suka, kan? Mampir sebentar ke toko bunga, yuk.” Masahiro menawari.

”Masahiro kan sudah beli Barbie untuk Kaa-san.” Tori mengingatkan sambil mengalihkan pandangan dari pemandangan di sisinya ke arah sang pacar yang sibuk menyetir.

”Okaa-san suka tidak, ya?” Tanya Masahiro masih tak yakin.

Tori tertawa. ”Tunggu sampai kau lihat koleksinya di rumah nanti”. Tangannya kemudian terulur untuk menyentuh lutut Masahiro dan meremas lembut. ”Masahiro tak perlu khawatir. Kaa-san dan Tou-san pasti senang, kok.”

Pemuda jangkung itu berusaha membalas senyuman Tori tapi kemudian ekspresinya langsung berubah. Tori harus berpegangan pada dashboard  karena pemuda itu mengerem mendadak. Untung jalanan sedang sepi. Tori menoleh dan memukul lengan Masahiro dengan sebal.

”Ma-kun! Apa-apaan sih?” serunya.

Masahiro tak menyahut. Kepalanya dibenturkan ke roda setir dengan dramatis. ”Aku lupa tak beli apa-apa untuk ayahmu. Aaaargh! Bagaimana mungkin aku bisa lupaaaa? Dan kenapa Tori tidak mengingatkaaan?”

Tori mendengus. Tak percaya karena dua kali dalam pagi itu dia harus mengurusi dua orang panik hanya karena masalah sepele. Yah, setidaknya sepele untuk Tori. ”Tou-san tak suka diberi hadiah. Menurutnya itu terlalu basa-basi. Kalau ingin memberi ya memberi saja. Beliau selalu bilang begitu.”

”Tapi kaaaaan...” Masahiro masih merajuk.

”Aku sudah beli sekotak cerutu, kalau itu bisa membuatmu lega.” Ujar Tori akhirnya.

Masahiro mengangkat kepalanya. ”Sungguh? Kenapa tidak bilang dari tadi?”

”Kamu kan tidak tanya. Sekarang, jalan. Kita mengganggu lalu lintas.”

Masahiro menoleh dan benar saja, di belakang mereka sudah ada tiga mobil yang mengklakson ribut. Masahiro membuka jendela dan mengacungkan jari tengahnya pada mereka sambil menginjak pedal gas.

Tori memukul keras-keras lengan pemuda itu. ”MA-KUN!!”

****

Amami Yuki meletakkan boneka Barbie barunya ke dalam lemari kaca sambil bersenandung senang. Sementara itu di belakangnya, Masahiro terperangah melihat jejeran boneka cantik berambut pirang di dalam lemari kaca besar itu. Di sebelahnya, Tori terkikik geli.

”Ternyata memang suka sekali ya.” Gumam Masahiro.

”Kubilang juga apa.” Sahut Tori.

”Jangan bisik-bisik di belakangku.” Tegur Yuki sambil berkacak pinggang. ”Sana, ajak Masahiro berkeliling. Makan siangnya baru siap setengah jam lagi.” Titah wanita cantik itu pada anaknya sambil mengibaskan tangan.

”Ha~i.” jawab Tori. Digamitnya tangan Masahiro untuk menariknya pergi. ”Yuk.”

Masahiro menurut dan mengikuti Tori.

”Dan jangan bermesraan sembarangan!” seru Yuki lagi ke arah punggung dua lelaki itu.

Tori memutar bola matanya sementara Masahiro menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Tori mengajaknya ke halaman belakang rumah yang cukup asri. Ada kolam koi di sudut halaman, lengkap dengan gazebo kecil di atas kolam itu. Masahiro memilih untuk duduk-duduk di sana.

”Wah, koi-nya gemuk-gemuk.” komentar Masahiro sambil melongok.

”Yang di rumah Masahiro juga sama ’kan?” Tori membuka sebuah kaleng kecil dan melempar sedikit isinya ke kolam. Ikan-ikan berwarna-warni itu langsung berkecipak ribut dan berlomba merebut makanan.

”Tapi tak sebanyak ini jumlahnya.” Masahiro berkilah.

Tori tertawa. ”Itu kan karena kolam ini tak sebesar kolam di rumahmu.”

Pemuda itu akhirnya melengos. ”Mungkin juga.” Pemuda itu kemudian duduk di atas pembatas gazebo sambil memperhatikan bangunan rumah keluarga Tori. Ukurannya memang tak bisa dibilang kecil tapi masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan rumah keluarganya. Rumah besarnya selalu terkesan sepi dan lengang kecuali kalau Masahiro kecil sengaja membuat keributan sampai harus dikejar-kejar ketiga kakaknya, pengasuh dan para pelayan. Sebaliknya, rumah Tori lebih berkesan damai, meskipun sesekali suara keras sang nyonya rumah terdengar memecah ketenangan.

Tori duduk di samping Masahiro. Kepalanya dimiringkan untuk mengintip wajah pacarnya yang tampak termenung. ”Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum.

Masahiro menggeleng. ”Ini rumah Tori dibesarkan ya?”

Tori tertawa kecil. ”Hmm. Meskipun sejak SMU aku tinggal dengan Nenek dan rumah ini dibangun waktu aku kuliah.”

Masahiro mengerjap-ngerjapkan matanya. ”Rasanya pernah dengar.” gumamnya.

”Apa?”

Pemuda itu buru-buru menggeleng. ”Nandemonai. Begitu ya? Jadi Tori tak punya banyak kenangan di sini ya?”

“Siapa bilang?” tukas Tori sambil tertawa. “Maksudku, rumah ini tadinya tak sebesar ini. Hanya halamannya saja yang luas sekali. Tadinya ukuran aslinya hanya sebesar ruang tamu dan ruang tengah. Selebihnya bangunan baru.” Tori menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk bagian rumah yang dimaksud.

“Tadinya Kaa-san tak ingin tinggal terlalu jauh dari kantornya tapi Tou-san tak mau pindah.” Tori melanjutkan bercerita. “Beliau suka udara di sini dan dekat dengan pelatihan renang tempatnya mengajar. Jadi Kaa-san mengalah. Ah, aku jadi cerita terus. Membosankan ya?” Dokter tampan itu meringis.

Masahiro menggeleng meskipun tersenyum geli karena Tori terlihat begitu antusias. Diambilnya tangan Tori untuk dikecup. ”Aku senang kok. Habis Tori kan jarang cerita tentang keluarga Tori.”

”Sou? Maaf ya.” Tori balas menggenggam tangan Masahiro. ”Aku bukannya tak ingin cerita tapi memang belum ada yang pernah kuajak kemari sebelumnya.”

Masahiro mengangkat alisnya. Sudut bibirnya bergerak membentuk cengiran bangga. Tori melihat itu dan mencubit hidung Masahiro yang kembang kempis. ”Jangan GR. Kamu Cuma beruntung.”

Tetap saja Masahiro mengangkat dagunya dengan sombong. Tori menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Sambil pura-pura mendesah, dikecupnya pipi pemuda itu.

”Aku kena sial apa ya, sampai bisa begitu sayangnya sama kamu.” ujarnya sambil mengulum senyum.

Masahiro nyengir, mengambil kesempatan untuk memeluk pinggang Tori dan menariknya mendekat. ”Sial sekali. Aku tak akan pernah lepas dari Tori kecuali Tori mengusirku pergi.”

”Nara, daijoubu.” Sahut Tori sambil mendekatkan wajahnya untuk menyambut ciuman Masahiro.

”Anu... Bisa ditunda sampai nanti? Yuki-chan bilang makan siangnya sudah siap.”

Mereka menoleh dengan terkejut dan melihat seorang pria berdiri di depan gazebo itu. Kulitnya cokelat sehat, perawakannya lumayan kekar dan dia mengenakan kaus pas badan berwarna putih dan jeans berwarna gelap. Sebuah cengiran lebar menghiasi wajah pria itu.

”Ah, Tou-san. Kami segera menyusul.” Jawab Tori dengan cengiran juga meski setengah tersipu.

Sadar pria di hadapannya adalah ayah Tori, Masahiro buru-buru membungkuk sopan. Sorimachi balas mengangguk sambil tetap nyengir lebar.

“Lima menit ya. Jangan sampai Yuki-chan teriak-teriak.” Ujar Sorimachi sambil berlalu dan tersenyum simpul.

“Ha~i!” Mereka berdua menyahut bersamaan.

****

”Duduk sini.” Yuki menepuk-nepuk bantalan sofa sambil menyilangkan kakinya.

Masahiro tampak ragu dan menoleh ke arah Tori dan Sorimachi yang sedang sibuk membereskan meja makan dan mencuci piring sambil mengobrol. Yuki mengibaskan tangannya. ”Tak usah sungkan. Itu sudah jadi tugas mereka sejak dulu kok. Kau kan tamu hari ini. Sini. Atau tak mau duduk dekat-dekat denganku?”

Melihat alis wanita itu yang terangkat mengancam, Masahiro buru-buru duduk manis. Sejenak bingung harus apa. Meskipun sudah beberapa kali bertemu, tetap saja rasanya canggung kalau harus berurusan dengan ibu Tori. Matanya tetap tak bisa berhenti melirik ke arah Tori. Berharap Tori cepat selesai dengan pekerjaannya dan bisa menemaninya.

”Aku tidak menggigit loh, Masahiro-kun.” ujar Yuki sambil tertawa senang.

Digoda begitu, Masahiro langsung jadi salah tingkah. ”Tapi Okaa-san terlihat seperti itu.” dan langsung menutup mulutnya dan menatap takut-takut.

Yuki mendengus. ”Setidaknya aku  tak akan menggigit kecuali kalau kau menyakiti anakku.” ujarnya sambil menyeringai.

Masahiro pun bertanya-tanya bagaimana mungkin Tori bisa jadi orang yang selembut dan sebaik itu kalau ibunya semenyeramkan ini.

”Sini. Kukasih lihat sesuatu.” ujar Yuki sambil meraih ke bagian bawah meja dan meletakkan sebuah album berwarna hijau di pangkuannya. ”Tori membuatku bersumpah untuk tidak memperlihatkan ini pada siapapun tapi masa bodohlah. Dia lucu sih.”

Dengan pandangan bertanya, Masahiro beringsut mendekat. Yuki membuka album itu yang rupanya berisi foto-foto masa kecil Tori. Bayi Tori dengan mata yang masih menutup sedang digendong Sorimachi yang tersenyum bangga. Rupanya kulitnya memang sudah coklat sejak lahir. Tori dengan sepeda roda tiga pertamanya. Tori mengenakan hakama pertamanya di acara sichigosan, memegang panah jimat dan nyengir ke arah kamera. Tori, kelas 3 SD, cemberut sambil memegangi pipinya sepulang dari dokter gigi. Berfoto dengan teman-temannya di kolam renang saat kelas 1 SMP. Berdiri di podium bernomor 1 dengan senyum bangga meski hanya mengenakan celana renang dan tubuhnya masih ceking. Tori yang terhimpit di antara teman-teman dan kedua orangtuanya saat berulang tahun yang ketujuh belas. Begitu banyak Tori di dalam album itu dan punya lebih banyak cerita dibanding foto-foto Tori yang disimpan Masahiro di dalam folder khusus laptopnya.

Perhatiannya kemudian tertuju pada foto-foto saat SMU. Mulai terlihat mirip sekali dengan Tori yang sekarang. Ada satu-dua yang merekam Tori dengan teman-temannya tapi lebih banyak adalah foto Tori dengan seorang wanita tua, terlihat sederhana tapi anggun dengan kimononya.

”Ibu Takashi-san. Nenek Tori. Kau pasti sudah tahu kan kalau anak itu tinggal dengannya sejak SMU?”

Masahiro mengangguk.

”Katanya dia tak tega karena Ibu tinggal sendirian lagipula sekolah pilihannya memang dekat dengan rumah Ibu.” Yuki melanjutkan. ”Sejak dulu, anak itu memang baik hati.”

Masahiro tersenyum dan mengangguk. ”Kadang terlalu baik.”

”Hmmm... Menurutmu begitu?” Yuki mengelus dagu. ”Yah, paling tidak kau sadar kalau kau sebaiknya tidak memanfaatkan kebaikan hatinya itu dan berbuat seenaknya kan?”

Masahiro mengangkat kepala dan pertama kalinya berani menatap wanita itu lekat-lekat. ”Okaa-san. Itu pernyataan yang tidak berdasar sama sekali.”

”Sou?” Yuki kembali mengangkat alis. ”Bagus, kalau begitu. Asal kau tahu saja ya, Takashi-san akan lebih merepotkan untuk dihadapi dibanding aku.”

Masahiro menelan ludah. Yuki kemudian tersenyum lebar dan tertawa. ”Selamat berjuang.”

”Apa yang kalian bicarakan?”

Yuki buru-buru menyambar album itu dan melemparnya ke bawah meja. ”Tak ada apa-apa.” tukas wanita itu sambil mengambil cangkir teh dan menyesap isinya.

Tori melipat tangan di depan dada dan memandang curiga. Masahiro tersenyum dan mengulurkan tangannya. Tori menyambut dengan sedikit ragu apalagi dengan cengiran jahil di wajah pemuda itu.

“Okaa-san baru saja memperlihatkan sesuatu padaku.” ujarnya.

”Apa?”

”Foto gaun pengantinnya dulu. Katanya Tori boleh pakai kalau Tori mau nanti.”

”Ma-kun!”

Yuki tergelak-gelak sampai nyaris tersedak tehnya.

****

Sorimachi melingkarkan lengannya di pundak Yuki sambil melambai pada sedan sport yang bergerak meninggalkan halaman. Dua tangan terulur dari masing-masing jendela pengemudi dan penumpang, balas melambai.

“Sudah kubilang kalau dia akan baik-baik saja kan?” Ujar Sorimachi sambil memandang istrinya.

Yuki mendesah. ”Jangan salahkan aku karena khawatir dong. Kau lihat sendiri bagaimana dia waktu itu. Sampai bilang tak mau berurusan dengan cinta lagi segala. Ibu mana yang tidak khawatir coba?”

Sorimachi terkekeh. ”Seandainya dia bertemu bocah itu sejak dulu ya?”

Yuki menyikut pinggang suaminya. ”Takashi-san, itu namanya pedophilia.”

Sorimachi tergelak dan mengecup kepala istrinya dengan sayang. ”Yang penting sekarang anak itu bahagia.”

”Hmm. Semoga semua baik-baik saja. Aku tak tega melihatnya seperti dulu lagi.” Yuki bergumam pelan.

”Pasti tak apa-apa, kok. Tak lihat mata bocah itu?” Sorimachi mengangkat alisnya.

Yuki menengadah dan tersenyum lebar. ”Persis seperti kau melihatku ya.”

”Persis.”

--end--

[fanfic] [repost] AU KubotaxAkishin - Just Another Day

Repost karena Icha menuntut ada adegan mesum. Yg satunya itu akan diapus besok krn multiply mobile tidak bisa edit postingan atau gue aja yg gak tau caranya ORZ. 


Fandom: Prince of Tennis Musical
Pairing: Kubota Yuuki x Akiyama Shintaro
Rating: PG-13 
Warning: BL. AU. OOC
Disclaimer: I do not own any of the characters
Note: Ini dibikin hanya dalam rangka supaya keliatan sibuk di tengah jam kerja XD dan karena Icha bilang pengen baca KubotaxAkishin. Maafkan karena jadinya hanya begini dan luar biasa nggak jelas. ORZ.

Mata Kubota mengerjap bingung saat melihat sesosok tinggi kurus berdiri di depan ruang prakteknya. Sebuah cengiran lebar menghiasi wajah berkacamata itu.

“Yo!” sapanya ceria saat melihat Kubota.

Reflex, palu mainan Kubota mendarat di kening Shintaro.



Shintaro berguling di tempat tidur, berusaha menggapai asbak yang terletak agak jauh dari jangkauannya. Kubota yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendekat dan menendang kakinya.

”Sudah kubilang kan? Jangan merokok di tempat tidur.” Sungutnya sambil berkacak pinggang.

Shintaro hanya meleletkan lidah tapi menarik badannya untuk duduk dan bersandar ke dinding. Pun begitu, dia masih lanjut menghisap rokoknya. Meskipun punya prinsip siapapun harus menuruti kemauannya, Kubota tahu kalau itu tidak berlaku untuk Shintaro. Kubota pun beralih mengecek handphone-nya dan langsung sibuk membalas beberapa email dan pesan masuk.

”Cih. Sudah susah payah aku mampir, kau malah sibuk.”

Kubota mencibir. ”Siapa suruh? Aku punya jadwal operasi besok pagi-pagi sekali.” Diletakkannya handphone itu ke atas meja dan bergabung dengan temannya di tempat tidur. ”Tumben kau ke Tokyo.” ujar Kubota sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Shintaro.

Shintaro mengangkat bahu. ”Hmm... sedang bosan. Sekalian menengok Taiki.”

Kubota terkekeh. “Aku heran anak itu bisa tumbuh sebesar itu mengingat kau ayahnya.”

Tangan Shintaro berhenti sejenak di atas asbak. “Kuanggap saja itu pujian, deh.”

Kubota nyengir. ”Tak berniat mencari ibunya?”

”Memangnya ada untungnya?”

”Memangnya dia tak pernah tanya?”

”Tidak.”

”Memang benar-benar anakmu.”

”Kau pikir?”

”Entahlah. Memungutnya di tengah hujan di dalam kotak dengan tulisan, ”Tolong pelihara aku”?”

Shintaro terdiam sejenak. Mengerutkan kening lalu mengangguk. ”Mungkin juga. Aku tak ingat lagi.”

”Ne, Aki.” panggil Kubota setelah mereka diam beberapa saat. Shintaro baru saja mematikan rokoknya. ”Hmm?”

Tangan Kubota terangkat untuk menyentuh rahang Shintaro. ”Lagi, yuk.”

Shintaro nyengir lebar.


"Hehehe dia lucu sekali loh..ah.. Waktu itu wajahnya sampai memerah..nngh... Tahu kan? Rasanya jadi mau iseng terus... Hmmph..."

"Akii..." Kubota bergumam seraya mendesis dengan nada memperingatkan. "Kalau bicara terus, aku gigit nih."

Shintaro menunduk ke arah wajah Kubota yang berada di antara kakinya. Pria itu menatapnya dengan pandangan sebal. Shintaro nyengir kuda.

"Habis kau lama. Aku-- ADUH!"

Kubota mengusap mulutnya dengan punggung tangan sambil menegakkan badan sementara Shintaro sibuk mengusap selangkangannya yang benar-benar digigit Kubota.

"Tegaaa! Nanti kalau luka bagaimana?"

Kubota mengangkat hidungnya. "Masih untung tidak kugigit sampai putus."

Shintaro mendengus. "Kriminal. Kau juga yang rugi nantinya kan?"

Kubota mengangkat alis dengan menantang. "Kau pikir yang mau tidur denganku cuma kamu?"

Pria di hadapannya tak langsung menjawab karena masih sibuk memeriksa kerusakan yang terjadi. Setelah memastikan kalau semuanya baik-baik saja, barulah Shintaro nyengir lebar dan mendorong Kubota. Berbaring di atas dokter itu, Shintaro berbisik,

"Tapi cuma aku kan yang tahu apa yang membuatmu terjaga semalaman dan menjerit senang?"

Pinggulnya menindih pinggul Kubota dan menggesek pelan. Kubota menarik nafas tajam dan menggigit bibir.

"Satu-satunya alasan kenapa aku tetap menemuimu." Gerutunya sambil beringsut dan mengaitkan kakinya di belakang punggung Shintaro.

Lagi-lagi Shintaro nyengir. "Setiap orang punya alasan untuk berteman kan?"

"Tak usah banyak bicara deh." Sungut Kubota. Tak sabar, pinggulnya bergerak.

"Nfufufu." Kekeh Shintaro sambil menjilat bibirnya dengan lapar. Dengan satu gerakan, dibaliknya tubuh Kubota. Tertawa karena temannya itu nyaris terjungkal jatuh. Kubota berbalik lagi dan berusaha menendangnya. Setelah bergulat beberapa saat, akhirnya Shintaro berhasil menahan Kubota di bawahnya, dada bertemu punggung. Dijilatnya leher dan telinga Kubota lalu bergerak turun untuk menggigit pelan tengkuknya.

"Aku suka wangi shampoo yang ini." Ujar Shintaro sementara tangannya bergerak menyentuh kemaluan Kubota.

"Diberi Ryuuji." Tukas Kubota pendek. Matanya menutup, menarik nafas tajam dan berusaha berkonsentrasi karena Shintaro tak mau berhenti bicara.

Tangannya mulai menyentak pelan. "Hmm. Bilang sama dia, aku juga tak menolak kiriman."

"AKI!"


Shintaro berbaring tengkurap sambil mengusap-usap punggungnya. Bibirnya merengut. "Yuuki kasar!"

"Salah sendiri berisik." Kubota menyahut tak kalah sewot.

"Tapi kan tak perlu sampai memitingku begitu. Bilang saja kalau ingin dapat giliran."

Sebuah bantal mendarat kasar di kepala pria nyeleneh itu. "Berisik. Mandi sana! Makan malam sebentar lagi."

Shintaro nyengir. "Mandikan."

Kubota memutar matanya dan menendang pria itu ke kamar mandi.

Thursday, January 13, 2011

[fanfic] AU Ma-kunxTori - Cold

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue Masahiro x Matsuzaka Tori
Cast: Inoue Masahiro, Matsuzaka Tori, Daito Shunsuke
Rating: PG
Warning: BL. AU. OOC. 
Note: Karena semua orang cinta Daito Shunsuke dan sedang ingin agak jahat sama Bocchan tersayang. Tapi akhirnya kok malah bikin implied conflict gini? *tampar diri sendiri* Forever for SATC-ERs tersayang.


“Serius nih, tidak apa-apa?” Shunsuke bertanya ragu sambil kepalanya celingukan.

Tori terbatuk, mulut dan hidungnya tertutup masker, dan mengangguk kecil lalu mendului tamunya bergerak ke ruang tengah. Shunsuke menutup pintu, mengambil sendiri selop dari dalam almari kecil di genkan dan menyusul si empunya rumah. Tori sudah berbaring di sofa, satu lengan ditumpukan di dahinya. Shunsuke tersenyum dan menepuk pelan kepala temannya itu.

“Aku pinjam dapurnya ya.” Ujarnya yang disahuti Tori dengan gumaman tak jelas yang terdengar parau. Shunsuke membongkar kantong belanjaan yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa botol air mineral, botol-botol kecil vitamin c, beberapa pak makanan instan dan lain-lain. Memberanikan diri membuka-buka lemari dapur Tori untuk menyimpan semuanya juga mengambil panci dan peralatan masak. Beberapa menit kemudian, dia sibuk di depan kompor.

Tori mengangkat kepalanya dengan susah payah karena terasa pusing dan berat sekali. Dua hari belakangan dia sudah mulai terbatuk-batuk dan merasa tak enak badan tapi Tori tetap memaksakan diri untuk bekerja karena merasa sudah mengambil libur terlalu lama saat tahun baru. Lirikan dan teguran cemas dari rekan-rekan kerjanya sama sekali tak digubrisnya dan Tori hanya tersenyum kecil sambil berjanji kosong kalau dia tak akan lupa istirahat. Akhirnya kemarin sore dia tumbang juga, nyaris pingsan saat hendak keluar dari ruangannya. Jyutta-sensei yang kebetulan lewat langsung menolong sambil memarahinya. Tori hanya bisa protes saat Jyutta-sensei menelepon Katou-sensei dan bahkan Kubota-sensei sendiri yang mengantarnya pulang. Tori merasa tak enak sekali karena merepotkan. Kubota-sensei hanya tertawa dan memastikan Tori beristirahat sambil berujar kalau dia akan kembali lagi membawa obat dan makan malam.

Siang tadi Shunsuke kebetulan meneleponnya, menanyakan apakah Tori tahu dokter spesialis penyakit dalam karena salah satu temannya butuh referensi. Pria itu otomatis langsung menawari untuk menjenguk begitu mendengar suara Tori yang bertambah berat dan terbatuk-batuk. Tori tak bisa menolak juga, toh sendirian di saat sakit memang tak enak rasanya.

”Jadi, Inoue-kun ke mana?” tanya Shunsuke seraya meletakkan semangkuk bubur hangat di atas meja.

Tori bangun dengan susah payah, menurunkan masker dan menyusut hidung. ”Paris.” Jawabnya singkat.

Shunsuke mengangkat alis. “Pekerjaan?”

Tori hanya mengangguk.

”Ah, karena itu kau sendirian ya? Kalau ada di sini tak mungkin aku akan diijinkan masuk ya?” Shunsuke tergelak. ”Yaaah, aku kan hanya tak ingin jadi korban pembunuhan.” Kelakarnya masih tergelak dan beringsut menjauh karena Tori menyikut pinggangnya. Tangannya terulur membetulkan haori tebal yang dipakai Tori dan menepuk pelan pundak dokter itu.

”Yah, aku mungkin tak bisa memeluk dan menemanimu di tempat tidur sepanjang malam, tapi aku akan berusaha untuk merawatmu sampai  kau sehat.” Shunsuke mengerling.

Mendengar itu, Tori nyaris tersedak dan menyikut temannya itu sekali lagi. ”Nani soreee~~~??” tapi tak urung ikut tertawa.

”Kamu benar-benar harus cari teman kencan. Masih hobi ikut omiai?” Tanya Tori beberapa saat kemudian sambil memperhatikan Shunsuke membereskan bekas makannya.

Shunsuke hanya mengangkat bahu. ”Sekarang tak sempat. Aku baru saja masuk ke tim untuk menangani kasus besar. Lagipula kupikir, aku ingin santai sedikit. Menikmati hidup.” Shunsuke meleletkan lidahnya.

Tori merebahkan tubuhnya lagi, membetulkan letak bantal yang menyangga kepalanya. Dia menolak untuk tidur di kamar karena entah kenapa rasanya agak sumpek. Meskipun sekujur tubuhnya rasanya mau patah kalau dipakai bergerak, setidaknya sofanya cukup empuk untuk ditiduri. Dia tertawa pelan mendengar perkataan Shunsuke. Pria itu kembali ke ruang tengah lalu duduk di atas karpet. Menyilangkan kaki dengan nyaman dan menatap Tori.

”Kudengar dari bibi kalau kau akan menikah?” Shunsuke menunjuk tangan kanan Tori. Dia sebenarnya sudah memperhatikan cincin yang melingkar di jari Tori itu sejak datang tadi.

Wajah Tori yang sedikit memerah karena suhu tubuhnya, makin bertambah merah dan mengangguk malu. ”Rencananya sih begitu. Maaf ya, aku belum sempat cerita.”

”Kenapa harus minta maaf? Kabar baik kan tetap kabar baik meskipun didengar kapan saja.” tukasnya sambil tersenyum. ”Aku boleh jadi pendamping priamu?” Alis tebal Shunsuke bergerak jahil.

Tori tertawa disela dengan batuk-batuk kecil. Shunsuke mengangsurkan sebotol air mineral padanya. “Terima kasih. Rencananya belum apa-apa kok. Ibunya mengajukan syarat kalau dia harus lulus kuliah dulu baru akan ada pembicaraan lebih lanjut.”

Shunsuke mengangguk-angguk. “Hmm… tapi sudah ada perkiraannya kan? Tahun depan?”

“Entahlah.” Tori mengangkat bahu. “Akhir-akhir ini dia makin sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya kuliahnya pun jadi agak terlantar. Tempo hari kakaknya datang ke rumah sakit dengan wajah tak enak. Sepertinya mereka bertengkar. Aku juga belum bicara dengannya sih.”

Dengan penuh simpati, Shunsuke menepuk-nepuk lutut Tori. “Harus tega loh. Masalah masa depannya juga kan?”

Tori mengangguk seraya meneguk air lagi. “Aku tahu. Tapi ya begitu, setelah sekian lama pun, tetap harus tunggu saat yang tepat kalau mau menegur.” Tori tersenyum samar.

Shunsuke balas tersenyum. Lagi-lagi menepuk lutut Tori. Dalam hati, mau tak mau dia agak iri. Kalau mau berniat jahat, dia tahu dia akan dengan mudah mencuri dokter tampan ini kapan pun tapi tentu saja dia tak akan begitu. Tori percaya padanya dan Shunsuke tak akan mengkhianati temannya yang kadang menurutnya terlalu baik itu.

Dengan hati-hati, diambil tangan Tori dan digenggamnya dengan hangat. “Semuanya akan baik-baik saja kok.”

Tori menatap tangan Shunsuke yang menangkup tangannya itu tanpa berkedip sebelum akhirnya sudut-sudut bibirnya bergerak membentuk senyuman. “Terima kasih.” Ujarnya tulus.


---------


Sudut bibir Masahiro berkedut tak senang begitu melihat sosok yang berdiri membukakan pintu untuknya. Apa-apaan ini? Apa maksudnya ini? APA YANG DILAKUKAN MANUSIA INI DI SINI? Otaknya sudah menjerit-jerit dan kepalanya panas. Dia buru-buru pulang begitu pemotretan selesai sampai membuat bingung seluruh staff, marah-marah pada agen perjalanan karena sepertinya tak ada satupun yang bisa menyediakan SATU tiket saja untuknya, tak bisa tidur selama di pesawat, nyaris membuat supir taksi takut karena memerintah dengan suara galak untuk ngebut ke alamat Tori dan lihat siapa yang menyambutnya? Tangannya sudah mulai membentuk kepalan ketika Shunsuke tersenyum lebar padanya.

”Syukurlah! Aku sudah nyaris menelepon bibi Amami untuk datang karena aku tak bisa berlama-lama menemani Tori.” ujarnya sambil menarik Masahiro masuk.

Masahiro berkedip bingung. Keningnya berkerut. “Maksudmu?”

“Aku sudah di sini sejak kemarin siang dan sore ini aku ada rapat penting dengan klien. Tori tak bilang kapan kau pulang jadi aku bingung siapa yang harus kuhubungi untuk menjaganya. Demamnya naik lagi tadi pagi. Aku sudah menghubungi nomor yang ditinggalkannya di pintu kulkas – Kubota-sensei? – tapi aku tak tahu seberapa cepat dia bisa datang dan yah, kupikir tak ada yang lebih masuk akal selain meminta ibunya kan?” Shunsuke menjelaskan panjang lebar sementara Masahiro melepas sepatu dan naik ke ruang tengah.

Kening pemuda itu berkerut makin hebat. “Dia di mana?”

“Tidur. Setelah kupaksa.” Sahut Shunsuke lugas. ”Jadi, hmmm.... di microwave ada  bubur yang siap dihangatkan kapan saja dan menurut Kubota-sensei tadi, kalau sampai sore demamnya tidak turun juga, sebaiknya dia dibawa saja ke rumah sakit.”

Masahiro hanya bisa menatap pria itu mondar-mandir mengumpulkan beberapa barang dan menyampirkan tas ke pundaknya. Tak tahu harus berpikir apa. Jelas sekali wajahnya lelah. Mungkin karena harus terjaga semalaman mengganti kompres. Masahiro mengelap tangannya yang berkeringat ke celana jeansnya. Mendadak emosinya mereda karena bagaimanapun berkat pria itu Tori tak sendirian saat sedang sakit seperti ini.

Shunsuke memiringkan kepalanya. ”Kenapa bengong? Lapar? Ada makanan di kulkas sisa semalam, kalau mau. Aku pulang dulu ya. Sampaikan salamku untuk Tori kalau dia bangun nanti.”

Masahiro berkedip saat Shunsuke menepuk pundaknya lalu memutar tubuhnya sebelum Shunsuke sempat menghilang. ”Ano~

Shunsuke menoleh melalui bahunya. ”Ya?”

Pemuda jangkung itu tampak sedikit salah tingkah. Menoleh ke arah lain sebelum menarik nafas dan berujar lirih. ”Terima kasih... sudah menjaganya.”

Shunsuke menggerakkan dua jarinya dan mengedip. ”Ah, bukan apa-apa. Tori kan temanku.” Pria itu meneruskan mengenakan sepatunya lalu berhenti saat tangannya sudah meraih pegangan pintu. ”Oh ya, Inoue-kun...”

”Ya?”

”Cobalah untuk sesekali menempatkan dirimu di posisi Tori. Dia juga pasti ingin diajak bicara kalau kau ada masalah. Apalagi kalau secara tak langsung menyangkut dirinya juga. Belajarlah mendengarkan.”

Masahiro kembali mengerutkan kening. ”Maksudnya? Aku sedang tak ada masalah kok.” Sahutnya dengan nada tak suka.

Shunsuke mengedikkan bahunya. ”Sekedar masukan saja kok. Supaya kau tidak lengah dan dia lolos dari tanganmu. Hei, jangan pasang tampang begitu, dong. Aku bicara ini sebagai teman loh. Aku hanya mau bilang kalau butuh lebih dari sekedar cinta untuk mempertahankan hubungan.”

Masahiro menggeram pelan begitu Shunsuke pergi dan pintu menutup dengan pelan. Sama sekali tak suka dan bingung dengan maksud ucapan hama pengganggu itu. Sudah cukup kakak-kakaknya ikut campur. Masahiro tak ingin ada orang lain lagi yang tak tahu apa-apa dan sok memberi nasehat seperti itu. Pemuda itu pun jadi penasaran apa saja yang diceritakan Tori pada pria itu sampai Shunsuke bisa berkata seperti itu. Kalaupun memang ada yang diceritakan, kenapa harus pada Shunsuke? Kenapa tak bicara langsung padanya?

Telinganya samar menangkap suara Tori dari dalam kamar. Masahiro langsung teringat apa tujuannya dan buru-buru menarik nafas panjang. Begitu tenang, dia langsung menuju kamar Tori sambil tersenyum. Didekatinya kekasihnya itu dan disentuhnya kening Tori dengan lembut. Memang terasa hangat. Masahiro jadi merasa bersalah karena sempat berpikir yang tidak-tidak. Seharusnya dia lebih memikirkan kesehatan Tori saat ini. Badannya pun condong ke depan dan disentuhkannya keningnya dengan kening Tori.

“...Ma-kun?” Tori perlahan menyentuh wajahnya seperti tak percaya. ”Kok sudah pulang?”

Masahiro tersenyum. ”Aku langsung pulang begitu pekerjaannya selesai. Aku khawatir sekali loh. Daito-san bilang Tori demam lagi?” tanyanya khawatir.

Tori memutar badannya untuk telentang dan menyentuh dahinya sendiri. “Hmm... sepertinya sudah mendingan, sih. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa sakit separah ini.” Tori terbatuk saat hendak mengangkat badannya. Masahiro menggeleng dan menahannya supaya tetap tiduran.

“Nanti sore ke Keigo ya.” Ujar Masahiro tanpa mau disahuti.

Tori tertawa kecil dan mencubit pipi pacarnya. “Iya. Tak usah merengut begitu dong. Kalau soal sakit sih, aku lebih tahu harus melakukan apa daripada kamu kan?”

Masahiro merengut. ”Habis Tori kan biasanya suka memaksakan diri. Buktinya sampai jadi  begini kan?”

Tori balas menggembungkan pipinya dengan sebal dan membuang muka. Masahiro mendesah. “Maaf. Aku bukannya marah tapi aku khawatir sekali karena Tori sakit saat aku tak ada.”

Kalau sudah melihat ekspresi seperti itu, Tori jelas tak bisa lagi merasa sebal. ”Shouganai deshou? Masahiro pergi kan karena pekerjaan.” ujarnya pelan. Nyaris saja dia melanjutkan mengingatkan Masahiro untuk memikirkan kuliahnya juga tapi urung karena mendadak kepalanya pusing. Tori menyambar lengan Masahiro dan bergelung seraya mengeluh pelan. Sudahlah, dia tak ingin memikirkan apapun saat ini.

Masahiro beringsut mendekat, tangannya yang lain bergerak mengelus-elus kepala Tori. Sejenak bingung harus apa karena tak pernah merawat orang sakit dan selama dia mengenal Tori, ini pertama kalinya Tori sakit.

”Mau dibuatkan sesuatu?” tanyanya sambil mengelus pipi Tori penuh sayang.

Tori menggeleng dengan mata terpejam. ”Aku hanya ingin ditemani Ma-kun.” gumamnya.

Masahiro tersenyum sumringah, menunduk untuk mencuri kecupan dari bibir Tori yang juga terasa lebih hangat dari biasanya. “Cepat sembuh ya.” Bisiknya.



Thursday, January 6, 2011

[fanfic] AU Ma-kunxTori - Cozy

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger/Prince of Tennis Musical
Pairing: Inoue Masahiro x Matsuzaka Tori
Cast: Inoue Masahiro, Matsuzaka Tori, cameo Katou Kazuki, Kubota Yuuki & Sainei Ryuji.
Rating: PG-13
Warning: boys kissing. BL. AU. OOC. You've been warned.
Disclaimer: Characters are not mine. No profit gained.
Note: A consolation for Nei's cancellation to upload her fic due to more important reason *ditabok* XDDD Anyway, this is just a sad excuse to write LOL. Strongly inspired by this picture and Nei's Snow.


Di tengah cuaca yang begitu dingin dan saat salju turun di luar sana, memang tidak ada yang lebih nyaman selain duduk di depan perapian ditemani secangkir minuman hangat dan selimut tebal. Seperti yang dilakukan 4 pria di ruang tengah cottage milik keluarga Keigo itu. Setelah menghabiskan makan malam dalam jumlah yang cukup banyak, Kubota mengajak adik-adik dan calon iparnya untuk main kartu di depan perapian. Kazuki, tentu saja, lebih memilih untuk mengambil tempat di sudut ruangan dan membaca. Dia hanya mencibir acuh saat Sainei mengejeknya pengecut dan tak mau ikut hanya karena tak pernah menang dalam permainan itu. Tori harus berkali-kali menyikut Masahiro menjauh karena pemuda bandel itu terus-terusan berusaha mengintip kartu yang ada di tangannya.

Lima putaran kemudian, Sainei memutuskan kalau dia bosan dan mengganggu sang kakak dari bacaannya dengan mengajaknya ngobrol. Kubota sesekali menyahuti obrolan mereka dan akhirnya tak ada satupun yang peduli dengan permainan kartu. Tori bangkit ke dapur untuk mengisi ulang mangkuk camilan dan kopi untuk semua orang sekaligus membuatkan coklat hangat khusus untuk Masahiro. Masahiro nyengir senang saat Tori mengangsurkan mug berisi coklat hangat itu dan balas menendang kaki Sainei yang mengatainya “Anak manja sampai kapan pun tetap saja anak manja.” Tori hanya tertawa dan duduk di atas karpet karena semua sofa sudah diduduki. Dia bisa saja menyelip di antara Sainei dan Masahiro, tapi tentu saja dia tak enak. Lagipula, karpetnya sangat tebal dan empuk. Sambil menyandarkan kepalanya di lutut Masahiro, Tori mengambil selembar selimut rajutan dan menyampirkannya di kakinya. Mendengarkan dengan penuh minat saat Kubota membocorkan masa kecil mereka.

 -------

Kedua matanya mengerjap pelan sebelum tersadar kalau rupanya dia tertidur. Tori mendapati dirinya bergelung di depan perapian, selimut rajutan tadi membungkus tubuhnya sampai leher dan bantal kursi yang empuk menyangga kepalanya. Tori mengangkat kepalanya dan mendapati ruang tamu itu kosong. Mengintip jam tangannya, ternyata sudah lewat tengah malam. Lampu sudah dimatikan dan cahaya hanya datang dari lampu di luar dan dari perapian yang masih menyala. Tori mendesah. Bibirnya mengerut sedikit sebal karena ditinggal sendirian tapi dia terlalu malas untuk bergerak karena sudah merasa sangat nyaman.

Tori menggeliat pelan dan berbaring telentang. Liburan empat hari di cottage milik keluarga Keigo itu akan berakhir besok. Rasanya cepat sekali dan kalau boleh jujur, Tori tak ingin pulang. Cottage ini sangat nyaman. Ukurannya memang besar tapi masih kalah jauh dengan rumah utama keluarga Keigo. Tori suka dengan desainnya yang sederhana dan segalanya terbuat dari kayu dan batu meskipun Tori tak berani membayangkan biaya perawatannya. Entah dia harus merasa beruntung atau bagaimana karena setahun belakangan ini dia bisa menikmati segala jenis fasilitas paling mewah yang bisa dibayangkannya. Keluarganya memang berkecukupan tapi kedua orang tuanya tak pernah mendidiknya untuk bermewah-mewah. Terlebih lagi karena tinggal dengan neneknya sejak SMU dan kos ketika kuliah, Tori malah lebih terbiasa hidup prihatin. Seandainya saja Masahiro tak pernah masuk dalam kehidupan Tori, mungkin bermalas-malasan di cottage seperti ini hanya akan jadi angan-angan belaka.

Tori mengusap wajahnya dan menggelengkan kepalanya dengan frustrasi. Kalau berpikir seperti itu kesannya dia pacaran dengan Masahiro karena status sosialnya. Padahal semua ini sebenarnya hanya bonus yang menyenangkan. Tori menduga seandainya dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana pun, Masahiro tetap akan jadi anak bungsu yang manja dan selalu minta diperhatikan. Tori akan tetap jatuh cinta pada wajah tampan dan cengiran nakalnya.

Lamunannya teralihkan oleh wajah Masahiro yang mendadak berada tepat di atasnya. Tori berseru kaget dan memukul lengan Masahiro yang terbahak. Tori merengut sementara Masahiro duduk melipat kaki di sampingnya. Pemuda itu menunduk untuk mengecup pipi Tori.

”Kupikir Tori tidur.” ujarnya membela diri. “Itetetete.” Tori mencubit lengan atasnya tanpa belas kasihan.

”Aku nyaris jantungan, tahu! Jangan bikin kaget begitu dong.” Tori bersungut-sungut.

Masahiro mengecup pipinya sekali lagi. “Iya, iya, maaf. Kan tidak sengaja.” Dikecupnya ujung hidung Tori lalu naik ke kening sebelum mengecup bibir Tori.

Tori masih berpura-pura merengut sebal sampai Masahiro mengangkat alisnya dan menjilat bibirnya dengan menggoda sebelum Tori balas mencium. Masahiro beringsut dan berbaring di sebelah Tori, lengannya diletakkan di atas perut Tori untuk memeluk pinggangnya yang ramping. Tori memiringkan tubuhnya agar Masahiro bisa mengeratkan pelukannya sementara tangannya sendiri menyentuh dada Masahiro yang tertutup pullover biru tua dan mengelus pelan.

”Mau pindah ke kamar?” Masahiro bergumam di depan bibir Tori.

Tori menggeleng, memagut pelan bibir Masahiro yang penuh. “Di sini hangat, kok.”

“Hmm. Geser sedikit.” Masahiro melepaskan pelukannya sejenak untuk masuk ke bawah selimut. Tori menurut dan beringsut pelan. Masahiro mengambil sebuah bantal kursi lagi untuk sandaran kepalanya, membenarkan selimut agar menutupi tubuh mereka berdua dengan benar kemudian kembali memeluk Tori. Rupanya Tori lebih memilih lengan Masahiro sebagai bantal. Masahiro tersenyum dan beringsut agar Tori nyaman bersandar padanya.

“Yang lainnya sudah tidur?” tanya Tori sambil mengecup dagu Masahiro.

Masahiro mengangguk. “Mereka tadi ribut sekali waktu melihatku mencuci gelas-gelas.”

Alis mata Tori terangkat penasaran. ”Oh ya? Pasti heboh sekali ya, melihat anak manja bisa cuci piring?” Godanya menahan tawa.

”Yang begitu saja kan seharusnya semua orang juga bisa.” Masahiro merengut.

Tori tergelak dan mencubit hidung Masahiro dengan gemas. ”Itu kan kata-kataku. Bayar royalti.”

Pemuda jangkung itu nyengir dan mencium Tori lagi. “Jangan pelit-pelit sama pacar sendiri dong.”

Tori tak menyahut, lebih memilih untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Masahiro dan menyelipkan kakinya di antara kaki panjang Masahiro. Tumitnya mengelus pelan betis Masahiro sampai Masahiro menggerung dan mengaitkan kaki mereka. Tangan Masahiro menyelip ke balik sweater dan kaus yang dikenakan Tori untuk mengelus sayang kulit Tori yang terasa hangat. Tori mengerang senang dan melengkungkan punggungnya. Kepalanya menggeleng tegas saat Masahiro mengakhiri ciuman mereka dan memandangnya penuh arti. Masahiro merengut dan mengerutkan bibirnya dengan imut supaya Tori mengangguk. Tori masih menggeleng.

”Kakak-kakakmu ada di atas. Hargai mereka sedikit dong.” Jelasnya.

Masahiro menggerut rambut, ngambek. “Kita kan pernah melakukannya di photo booth dan di dalam mobil. Waktu itu juga kan ada orang. Semuanya malah Tori duluan yang mulai. Tak ingat?” Pemuda itu mendelik.

Wajah Tori terasa panas. “Kali ini kan beda. Memangnya kau pikir aku tidak malu?” Tori merengut. ”Aku masih mau bekerja di Keigo, tahu.”

Masahiro mengangkat dagu. ”Awas saja kalau Aniki berani memecatmu. Lagipula, aku bisa kok menyokong Tori.” Pemuda itu mendengus sombong.

Tori menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. ”Tak bisa begitu dong. Katanya Masahiro mau beli rumah. Kalau aku tidak bekerja, nanti bagaimana?”

”Memangnya kenapa? Kan aku yang mau beli rumah.”

Tori mengambil tangan Masahiro, mengaitkan jari mereka. Cincin yang melingkar di jari tengah Tori berkilau memantulkan cahaya api perapian. ”Rumahnya untuk kita kan? Aku pikir, aku tak bisa membiarkan Masahiro menggunakan uang Masahiro untuk membeli rumah itu. Aku juga punya tabungan untuk itu kok.”

Masahiro mengangkat alis. Tori tertawa. ”Sebelum bertemu Masahiro, aku sudah berpikir untuk punya rumah sendiri. Tak menyangka saja kalau akan digunakan secepat ini.” Dikecupnya punggung tangan Masahiro. ”Sebaiknya sisa uang Masahiro ditabung untuk keperluan lain kan? Seandainya sudah menemukan yang bagus dan cocok, rumah itu tetap harus diisi kan?”

”Tapi cicilan mobil Tori kan belum lunas.” Masahiro mengerutkan kening. Teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika Tori bilang kalau dia ingin beli mobil. Masahiro tak mungkin mengantar-jemputnya tiap hari karena pemuda itu makin sibuk dan dia juga tak mengijinkan Tori naik kereta sementara naik bus akan memakan waktu terlalu lama. Keesokan harinya, Masahiro muncul dengan seorang dealer mobil dan meminta Tori untuk memilih mobil mana pun yang diinginkannya. ”Harga tak jadi masalah.” cengirnya senang. Tapi Tori malah berang karena merasa tak dihargai. Setelah meminta sang dealer keluar ruangan sebentar dan bertengkar mulut selama dua jam penuh, akhirnya Masahiro mengalah dan membiarkan Tori membayar sendiri mobilnya.

Tori mengangkat bahu. ”Bisa kok.” Ujarnya enteng.

Masahiro memandangnya tak percaya. Jari-jari Tori melingkar di dagu Masahiro, matanya menatap Masahiro lekat-lekat. ”Karena yang akan menjalani adalah aku dan kamu, meskipun kamu mampu, aku tidak ingin Masahiro menanggung semuanya sendirian. Setidaknya, bicarakan dulu denganku. Kalau mampu, aku akan ikut membantu. Kalau tidak, aku akan bilang dan kita bisa bicarakan lagi. Katanya Masahiro tak ingin boros lagi kan?”

Beberapa detik berlalu sebelum Masahiro mendesah panjang. “Ternyata jadi pendampingmu syaratnya banyak sekali ya.”

Tori mengangkat alisnya. “Baru tahu? Mau mundur sekarang?”

Masahiro mendengus. ”Mana mungkin!” Dikecupnya cincin yang melingkar di jari Tori. “Sudah sejauh ini, tak mungkin aku mundur. Aku tak suka setengah-setengah kalau melakukan sesuatu.” Lalu bergerak mencari bibir Tori.

Tori menyambutnya dengan penuh perasaan. “Anak pintar.” bisiknya sebelum membiarkan lidah Masahiro menyelusup masuk, membuatnya bergumam senang dan merasa seperti orang paling bahagia di dunia ini.

 --end--


Tuesday, January 4, 2011

[fanfic] AU KazukixTakuya - Yoru Chuu

Fandom: Prince of Tennis Musical
Pairing: Katou Kazuki x Yabuki Takuya
Characters: Katou Kazuki, Yabuki Takuya, Kubota Yuuki
Rating: PG-13
Warning: AU. BL. OOC. Boys kissing.
Disclaimer: I do not own any of the characters
Note: Maafkan judulnya yang sangat norak. Terinspirasi oleh lagu Baby, It's Cold Outside versi Kurt dan Blaine-nya Glee. Yang pertama ini adalah liriknya. All rights reserved.



Pemandangan di depan matanya itu tampak begitu aneh dan membuat Kazuki jengah. Baru saja memarkir Porsche hitamnya di dekat gerbang Seigaku untuk menjemput Takuya seperti biasa, yang didapatinya malah Takuya yang berdiri berdua dengan teman satu klubnya dan seorang anak laki-laki lain yang Kazuki belum pernah lihat sebelumnya. Sepertinya bukan murid Seigaku karena seragamnya beda. Dilihatnya Takuya tampak kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya sementara temannya menyembunyikan cengiran nakal dengan kipas bergambar ular gendut sembari menyikut punggung Takuya.

Dahi Kazuki berkerut hebat. Ada apa ini? Kazuki tak bisa mendengar pembicaraan mereka karena jaraknya masih cukup jauh dari tempatnya memarkir mobil. Sementara itu, anak dari sekolah lain itu tampak mengucapkan sesuatu dengan gelisah dan tegang. Kedua tangannya mencengkeram sisi celananya dengan gugup. Teman Takuya menyikut punggung Takuya sekali lagi karena Takuya tak juga bereaksi, kali ini lebih keras sampai Takuya nyaris terjungkal. Takuya merengut dan akhirnya berbicara. Wajah anak laki-laki di depan Takuya tampak kecewa dan mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya anak itu berlalu pergi dengan gontai.

Teman Takuya melambaikan tangannya pada si anak sekolah lain itu sembari menepuk-nepuk pundak Takuya yang masih tampak kebingungan dan serba salah. Kazuki melepas kacamata hitam yang dikenakannya dan mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya Takuya meraih ke dalam saku dan mengeluarkan ponselnya sendiri. Tak sampai dua detik, Kazuki mendengar suara Takuya menyahut.

”Moshi-moshi.”

”Sudah selesai latihannya?” tanyanya, masih terus menatap sosok Takuya.

”Sudah. Umh, Kazuki masih lama?”

Kazuki diam sejenak sebelum akhirnya menjawab. ”................Aku sudah di depan gerbang. Coba menengok.”

Sontak, Takuya mengikuti perkataan Kazuki. Matanya melebar karena terkejut dan buru-buru menutup telepon dan berlari kecil menuju mobil Kazuki. Bahkan tak mengambil waktu pamitan dengan temannya yang hanya mendesah sambil geleng-geleng kepala tapi sejurus kemudian langsung tampak ceria dan menghampiri sedan berwarna merah yang baru saja berhenti di depan gerbang Seigaku.

Pintu penumpang terbuka dan Takuya menyelip masuk. Seperti biasa, Kazuki tersenyum tanpa berkata-kata sementara Takuya langsung memasang sabuk pengaman dan mereka duduk dalam diam. Kazuki melirik pacarnya itu dan sedikit bingung karena Takuya tampak tak tenang. Dia bergerak-gerak terus dan sesekali mencuri pandang ke arahnya. Persis seperti hari-hari pertama Kazuki mengantar-jemputnya ke sekolah.

”Ada apa?” tanya Kazuki akhirnya. ”Sakit perut? Perlu minggir dulu?”

Takuya menggeleng dan pipinya menggembung. ”Aku kan bukan anak kecil.”

”Kamu kelihatan gelisah.” komentar Kazuki sambil memberanikan diri menyentuh pipi Takuya sekilas dan buru-buru menarik tangannya lagi.

Takuya mengangkat wajahnya dan menatap Kazuki. ”Kazuki sudah berapa lama menunggu tadi?”

”Hmm? Sekitar 10 menit.”

Takuya menggigit bibir. ”Berarti lihat ya?”

”Lihat apa?”

Takuya merengut. ”Yang di depan gerbang sekolah tadi.”

Kazuki mengangkat dagunya. “Ah. Tadi kamu bersama temanmu kan? Yang satunya.... teman baru?”

Takuya memutar badannya sampai menghadap ke arah Kazuki. ”Kazuki tidak dengar apapun?”

Kazuki tertawa pelan. ”Dengar apa? Jaraknya kan lumayan jauh. Aku ini dokter, bukan superhero yang bisa mencuri dengar pembicaraan orang.”

Takuya kembali merengut dan memukul pelan lengan Kazuki. Kazuki berjengit pelan. Diarahkannya mobil menuju kediaman keluarga Saitou. ”Aku tak suka ikut campur urusan orang tapi kalau Kuu-chan mau cerita, aku akan mendengarkan.” ujarnya hati-hati.

Punggung Takuya dihempaskan lagi ke sandaran kursi. Bibirnya digigit-gigit.

”Kalau tidak mau cerita juga tak apa-apa kok.” Kazuki berujar lagi sembari mengerem di lampu merah.

Sebuah bisikan pelan membuat Kazuki menoleh. Alisnya terangkat dan memastikan kalau dia tak salah dengar. ”Apa?”

Takuya membuang muka dan memandang ke luar jendela, pura-pura tertarik dengan patung di depan apotik di seberang jalan. ”Aku diajak kencan.” ulangnya.

Untunglah mereka sedang berhenti atau Kazuki sudah akan mengerem mendadak dan membuat mereka tertabrak dari belakang. Kazuki hanya bisa menatap bagian belakang kepala Takuya karena pacarnya itu masih melihat ke arah luar. Bunyi ribut klakson membuatnya harus mengalihkan perhatian dan mejalankan mobil lagi. Dia tak berkata apa-apa lagi sepanjang sisa perjalanan mereka. Pun hanya tersenyum tipis dan canggung saat menurunkan Takuya, melambaikan tangan dan putar balik ke rumah sakit.

------

Kubota mengerutkan kening saat melihat Kazuki mondar-mandir di dapur dengan wajah ditekuk dan tangan menggenggam mug kopi. Para pelayan sampai menyingkir karena takut melihat wajah tuannya itu. Kubota mendengus, menghampiri mesin pembuat kopi dan menuang untuk dirinya sendiri. Bersandar ke counter dapur, Kubota kembali mengamati adiknya.

Begitu Kazuki lewat di depannya, Kubota langsung menangkap tangannya. Kazuki menoleh. ”Ada apa, Yuuki?”

Kubota menyentil kening Kazuki, tepat di tengah dan Kazuki berjengit. ”Apa sih? Kita ini sudah tua, tahu! Jangan perlakukan aku seperti itu.”

”Bagaimana pun, kamu tetap adikku. Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kau kalah langkah lagi sama Masahiro.” Ujar Kubota sambil tersenyum jail dan menepuk pelan pipi Kazuki.

Kazuki mengedip heran. ”Eh? Apa?”

Bukannya menjawab, Kubota malah nyengir makin lebar dan mengambil mug di tangan Kazuki. Lengannya melingkar ke leher Kazuki dan menggeretnya keluar. ”Temani aku minum, ya. Sudah lama kan?”

------

Porsche hitam itu terparkir di tepi jalan. Tampak mentereng dan menarik perhatian di bawah sinar lampu jalan. Membuat siapapun yang lewat menolehkan kepalanya barang dua jenak untuk melihat dan kagum atau bahkan iri. Pemiliknya sendiri tak berada di dekat situ karena sudah berjalan menyusur Rainbow Bridge dengan seorang anak laki-laki yang tampak setengah mengantuk. Terbalut coat tebal dan syal hitam milik Kazuki memang membuat Takuya merasa nyaman dan rasanya ingin langsung tertidur saja.

Dia sama sekali tak mengerti kenapa tiba-tiba Kazuki mengajaknya keluar di malam hari. Esok harinya memang hari libur tapi Kazuki tak pernah melakukan ini sebelumnya. Kalau bukan Takuya yang mengajak, pria itu biasanya juga tak akan berbuat apa-apa. Toh Kazuki sibuk di rumah sakit. Paling-paling hanya menelepon di jam-jam tertentu. Makanya Takuya bingung ketika tiba-tiba Kazuki menelepon dan bilang padanya untuk minta ijin keluar pada orang rumah karena dia sudah menunggu di depan gerbang rumahnya. Jelas saja Takuya gelagapan mencari alasan untuk keluar rumah di jam yang sudah nyaris larut itu. 

Seperti biasa, Kazuki hanya diam sepanjang jalan. Bertanya apakah Takuya kedinginan dan dijawab Takuya dengan mengatakan kalau dia sudah mengantuk. Kazuki meminta maaf sambil tersenyum dan menyampirkan syal-nya ke sekeliling leher Takuya juga mengangsurkan segelas coklat hangat padanya. Takuya tak bisa protes, sungguh.

Kazuki memilih untuk berhenti di tempat yang agak jauh dari keramaian. Angin dingin berhembus pelan dan sambil malu-malu, Takuya berdiri lebih dekat dengan pria itu. Lagi-lagi Kazuki hanya tersenyum kecil dan meletakkan lengannya di pundak Takuya, mengusap pelan lengan atas pemuda tanggung itu.

Takuya lalu  berputar, menyandarkan punggungnya ke batas pengaman. Pemandangan Teluk Tokyo di malam hari memang paling indah. Lampu-lampu yang berkelip seperti peri-peri kecil melayang dan kilauan cahaya dari rumah mercu suar di ujung paling jauh. Takuya jadi makin mengantuk dan sudah nyaris tertidur kalau saja tidak dikejutkan oleh Kazuki. Pria itu dengan sangat hati-hati mengaitkan jari telunjuknya dengan jari telunjuk Takuya. Mata Takuya mengerjap pelan sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Kazuki.

”Kamu kan pernah bilang kalau aku harus membiasakan diri dengan ini kan?” Suara Kazuki terdengar parau.

Takuya mengangguk.

Kazuki mengangkat bahunya lalu mengalihkan perhatian ke kejauhan. ”Maaf ya. Pacaran denganku pasti membosankan sekali ya.”

Mata Takuya terbelalak kaget. ”Kok bicara begitu?”

Kazuki malah menatapnya lurus-lurus. Takuya berjengit tapi tetap balas memandang. ”Sama sekali tidak bosan? Meskipun aku tidak pernah mengajakmu melakukan hal yang romantis?”

Takuya menggaruk-garuk kepalanya dan melangkah mendekat. Kazuki nyaris saja mengambil langkah mundur kalau bukan karena Takuya yang mengubah kaitan jari mereka menjadi genggaman. ”Kazuki adalah Kazuki kan? Aku suka bukan karena Kazuki adalah pria yang romantis. Aku tahu kok kalau Kazuki tidak seperti itu. Kazuki membiarkan aku menggenggam tangan Kazuki seperti ini saja,” Takuya mengangkat tangan mereka. Kulit putihnya kontras dengan kulit Kazuki yang kecoklatan. ”Aku sudah senang sekali.”

Kazuki jadi salah tingkah dan menghela nafas. ”Maafkan aku.”

Kepala Takuya dimiringkan ke kiri dan terkikik geli. ”Kazuki aneh sekali deh, malam ini. Kupikir Kazuki sedang marah padaku.”

Kali ini ganti Kazuki yang memiringkan kepalanya dan memandang pacarnya yang imut itu dengan bingung. ”Aku marah padamu? Kenapa?”

”Karena aku bilang aku diajak kencan? Habis Kazuki diam saja setelah aku cerita. Setelah itu pun tidak telepon. Kupikir kamu marah.” Takuya berjengit.

”Ah, itu. Yah...” Kazuki membuang nafas perlahan. ”Terus terang?”

Takuya mengangguk.

”Aku memang tidak senang. Bukan berarti aku marah padamu. Toh bukan salahmu dan aku juga tidak memintamu bercerita dengan lebih jelas kan? Aku hanya tidak senang karena dia seumur denganmu. Mungkin dia akan lebih mengerti kamu dan kamu juga tak perlu bersabar menunggu orang tua sepertiku yang untuk menggenggam tanganmu saja butuh keberanian besar karena takut tak bisa menahan diri.”

”Kazuki!” sergah Takuya cepat, memotong perkataan Kazuki sebelum pria itu melantur lebih panjang. Pria itu menarik nafas tajam karena detik berikutnya Takuya sudah berjinjit dan wajahnya tepat berada di depan wajah Kazuki dan bibirnya menekan pelan bibir Kazuki. Mengikuti insting, Kazuki langsung mundur tapi Takuya masih menggenggam erat tangannya. Sekuat tenaga mencegah Kazuki agar tidak lari atau mendorongnya menjauh.

”Kuu-chan. A...apa...”

”Ssst. Kazuki terlalu banyak berpikir.” bisik Takuya sambil tersenyum. Pun begitu, pemuda itu juga tampak tersipu dan ujung telinganya memerah. Kazuki menelan ludah. Pemandangan seimut itu tepat di depan matanya adalah hal yang paling ditakutinya selama ini. Tiap kali membayangkan atau terlintas di mimpinya, Kazuki pasti langsung beranjak ke kamar mandi dan jadi uring-uringan seharian. Benar saja, tenggorokannya terasa kering dan perutnya mulai terasa tak karuan. Kazuki berharap Takuya mau mundur karena kalau tidak...

Takuya mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup rahang Kazuki. Agak ragu dan sedikit gemetaran, mungkin karena gugup atau apa. Bibirnya yang berwarna merah muda itu tersenyum manis. Bulu matanya menyentuh bagian atas pipinya saat matanya mengerjap. Kazuki yakin dia bisa mimisan setiap saat.

”Sedekat ini denganku membuatmu takut?” Bisik Takuya, matanya bergerak mencari mata Kazuki.

Kazuki menelan ludah. Ditutupnya matanya dan menunduk untuk menyentuhkan kening mereka. Nafasnya mulai terasa berat. Lebih lagi karena hembusan nafas Takuya yang terasa hangat di wajahnya. ”Aku sudah pernah bilang alasannya kan?” balasnya dengan suara parau.

”Kazuki...”

Kazuki menggerung pelan. Matanya membuka perlahan. Tatapan agak buas dan ganti Takuya yang menelan ludah. ”Yakin?” Bisiknya. ”Kalau aku tak bisa menahan diri?”

Takuya mengangguk. ”Aku yang akan menahan Kazuki.”

Kazuki terkekeh pelan dan dengan gugup menelan ludah, lidahnya menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Takuya mendekatkan wajahnya lagi hingga ujung hidung mereka bersentuhan dan menggesek lembut. Nafas Kazuki yang memburu dan Takuya pun berharap jantungnya tak akan meledak saat itu juga. Ibu jari Takuya mengusap pelan pipi dan rahang Kazuki yang terasa sedikit kasar sambil tersenyum samar dan Kazuki memutuskan untuk membuang akal sehatnya ke Teluk Tokyo saat bibir mereka bersentuhan lagi.

Takuya tak tahu harus bagaimana tapi instingnya menyuruhnya untuk membuka bibirnya. Takuya melakukannya, sedikit saja, beringsut supaya lekukan bibirnya lebih pas bertemu dengan bibir Kazuki. Kazuki mengecup pelan bibir atas Takuya lalu ganti memagut pelan bagian bawah. Takuya menirunya, pertama dengan ragu-ragu sebelum akhirnya bergerak dengan lebih berani. Entah kapan Kazuki melingkarkan lengannya di pinggang Takuya dan memeluk erat. Takuya meletakkan tangannya di pundak Kazuki dan untuk beberapa saat mereka hanya bertukar kecupan sampai Takuya tak sengaja menjulurkan lidahnya dan menjilat pelan bibir Kazuki. Kazuki mengerang dan langsung memagut bibir Takuya dengan sedikit lebih bernafsu. Takuya terkejut dan panik untuk sesaat. Tangannya menggerut kerah kemeja Kazuki dan mengerang pelan. Getarannya membuat bagian bawah tubuh Kazuki berdenyut pelan dan hangat.

”Ungh... kamu manis sekali...” bisik Kazuki sebelum mencium Takuya lagi.

Takuya tertawa malu. Wajahnya luar biasa merah dan terasa panas. ”Kazuki... rasanya seperti kopi...” Dipagutnya pelan bibir Kazuki sambil mengucapkan itu.

Kazuki tergelak dan diremasnya Takuya dalam pelukannya karena gemas. Dikecupnya ujung hidung dan kening Takuya. Mereka saling berpandangan dan saling tersenyum malu. Sambil mengatur nafasnya, Takuya merebahkan kepala ke pundak Kazuki. Debar jantungnya rasanya tak bisa dihentikan dengan cepat. Lututnya juga masih terasa lemas. Kazuki meletakkan dagunya di atas kepala Takuya, tangannya yang besar mengusap pelan punggung pemuda itu. Masih tak percaya dengan yang barusan terjadi.

“Kuantar pulang?” Kazuki bertanya beberapa lama kemudian. Berat hati karena masih ingin memeluk Takuya seperti itu. Rasanya luar biasa karena tubuh Takuya begitu pas untuk dipeluk oleh kedua tangannya. Kazuki jadi tak mengerti kenapa dia harus sebegitu menahan diri untuk sesuatu seluar biasa ini. Kazuki menelan ludah. Pikiran seperti itu, cepat atau lambat, akan membuatnya terlibat masalah besar dengan Takumi.

Takuya mengangguk meski tak rela. Sebelum melepaskan pelukannya, Takuya mengangkat kepalanya dan minta dicium sekali lagi. Kazuki menurut dengan senang hati dan mengerang pelan sebelum akhirnya memisahkan diri dan menggamit Takuya untuk berjalan kembali ke mobil dan mengantarnya pulang.

Tak usah ditanya kalau mereka berciuman lagi sebelum Takuya turun dari mobil. Kali ini Takuya lebih berani memagut dan bahkan menggigit bibir Kazuki sampai pria itu mengumpat pelan. Takuya nyengir dan berlari turun dari mobil sambil melambaikan tangan pada Kazuki. Kazuki mendesah panjang dan memutar mobilnya. Sepertinya dia akan makin sering uring-uringan setelah ini.

-end-

Sunday, January 2, 2011

[fanfic] AU TotanixMurai - New Year's Eve

Fandom: Kamen Rider Decade
Pairing: Totani Kimito x Murai Ryouta
Rating: G
Warning: BL. AU. OOC.
Disclaimer: None of the characters are mine.
Note: Aduh, maaf, ini gejeh sekali. Jangan bunuh saya.


Ryouta menepuk-nepuk pelan pundaknya dengan kepalan tangan. Helaan nafas meluncur dari hidungnya sementara tangannya yang satu lagi menarik lepas celemek bermotif beruang khas ’La Petit Pattiserie’. Sudah nyaris jam 11 malam saat Ryouta melirik ke arah jam dinding di lorong tangga menuju kamarnya di lantai dua. Toko sudah tutup sejak pukul 10 tadi tapi Ryouta masih harus membantu ayahnya mempersiapkan kue yang akan dibakar esok paginya. Meskipun tahun baru, tetap saja ada pesanan kue yang harus diantar atau diambil sebelum jam sepuluh pagi. Ibunya akhirnya menyuruhnya tidur setelah bertanya kenapa Ryouta tidak pergi keluar di malam tahun baru seperti itu. Ryouta hanya menggeleng sambil tersenyum.

Dia memang tak biasa keluar rumah saat Natal atau Tahun Baru karena toko kue keluarga mereka justru selalu sibuk di musim-musim seperti ini dan Ryouta tak enak kalau tidak membantu. Tapi dia senang karena tiap tahun, ayahnya mengijinkannya melakukan satu hal yang lebih besar. Dulu dia hanya diijinkan membuat hiasan-hiasan dari karamel, coklat atau buah. Tahun ini, ayahnya menyerahkan tugas membuat soft cake untuk bahan dasar. Meskipun masih diawasi dengan ketat. Hatinya bangga dan dia melompat-lompat kegirangan saat ayahnya mengangguk melihat hasilnya.

Menyalakan shower dan berdiri di bawah kucuran air hangat, Ryouta berpikir dia harus berterima kasih pada Kimito. Selama ini dia tak pernah benar-benar punya waktu untuk latihan membuat kue. Kegiatannya di klub tenis sangat menyita waktu dan tiap pulang, Ryouta sudah terlalu lelah untuk mencoba membuat sesuatu. Tapi sejak Kimito datang dan membawakannya macam-macam bahan mentah, Ryouta jadi bersemangat untuk membuat kue. Hanya untuk melihat Kimito melahap hasilnya dengan cepat dan sambil nyengir jahil berkata, ”Okawari!”

Otaknya langsung berputar untuk membuatkan sesuatu untuk temannya itu. Sesuatu tanpa bahan dari Kimito. Tak enak juga kalau terus-terusan diberi hadiah seperti itu, meskipun Ryouta jadi punya banyak ide untuk membuat kue yang belum pernah dicobanya. Tapi kali ini dia benar-benar ingin berterima kasih dan memberi kejutan untuk Kimito. Bibir bawahnya digigit-gigit sambil meluncur ke meja belajarnya dan membuka-buka koleksi resep.

Rambutnya yang masih basah diusap-usap. Kimito tak pernah protes dengan apapun yang dibuat Ryouta dan itu malah membuat Ryouta makin bingung. Apa ditanya saja ya, pikirnya. Tapi kalau begitu, nanti tidak jadi kejutan lagi dan Ryouta tak mau mengganggu karena Kimito sudah bilang kalau tahun baru ini dia banyak pekerjaan. Ada pemotretan untuk majalah yang mengulas perayaan tahun baru dan Kimito diminta jadi modelnya. Ryouta tersenyum geli mengingat ekspresi Kimito yang tampak sebal waktu bercerita.

Saking terlalu asyik melihat-lihat resep, Ryouta baru tersadar ketika dari kejauhan terdengar bunyi dentuman kembang api berbaur dengan dentang bel kuil, lonceng gereja dan suara orang-orang berseru-seru dan letupan petasan.

”Ah, sudah tahun baru ya?” gumamnya sambil menuju jendela dan menyibakkan tirai untuk melihat langit yang jadi terang dengan bentuk warna-warni kembang api. Tanpa sadar, mulutnya terbuka karena kagum dan ikut berseru, ”Tamaa~~”

Setengah jam kemudian, Ryouta akhirnya menutup jendela yang tadi dibukanya agar bisa melihat lebih jelas karena sudah mulai bersin-bersin karena kedinginan. Pesta kembang api-nya juga sudah selesai. Tak ada lagi yang bisa dilihat. Mendadak suasana kembali sunyi dan Ryouta menatap buku resep yang masih terbuka. Sambil menghela nafas, dibereskannya buku tebal itu dan naik ke tempat tidur. Saat hendak menutup mata, tiba-tiba terbersit keinginan untuk mengecek handphone-nya. Benar saja, teman-teman sekolah dan klub-nya mengiriminya ucapan selamat tahun baru. Ryouta membalas satu persatu sambil tersenyum dan sesekali terkikik geli.

Satu pesan datang dari Kapten Yui, berisi ucapan tahun baru dan terima kasih karena sudah bekerja keras di tahun sebelumnya. Juga mengingatkan agar jangan terlalu banyak bersenang-senang karena sebentar lagi pertandingan wilayah. Ryouta baru saja hendak membalas ketika mendengar bunyi ketukan pelan dari arah jendelanya. Dahinya mengernyit dan telinganya otomatis menajamkan pendengaran. Bunyi itu terdengar lagi. Lalu sekali lagi. Ryouta meletakkan handphone-nya dan merangkak menjangkau tirai. Matanya menyipit karena di luar gelap sekali. Dilihatnya sebuah batu kecil menghantam jendelanya. Keningnya makin berkerut dan akhirnya membuka jendela untuk melihat keluar.

Di bawah sana, mata Ryouta samar menangkap siluet sosok jangkung terbalut overcoat panjang dan scarf tebal. Satu tangannya terselip ke dalam saku dan satunya memainkan sebutir kerikil. Ryouta memicingkan mata.

”Kimitooo?” serunya tertahan.

Kimito nyengir. ”Hai.”

Ryouta menjulurkan setengah badannya keluar jendela. ”Sedang apa? Bukannya ada pekerjaan?”

”Boleh masuk? Dingin nih.” balas temannya sambil melompat-lompat kecil.

”Eh? Eh? Ya. Iya! Tentu saja. Sebentar ya! Kubukakan pintu!”

Kimito menggeleng. Ryouta hanya bisa terperangah saat Kimito dengan sigap dan lincah melompati pagar belakang dan mencari pijakan untuk memanjat sampai ke beranda kecil di depan jendela Ryouta. Ryouta buru-buru menangkap tangannya ketika pijakan Kimito terlihat agak goyah dan menariknya masuk.

”Kamu seperti maling saja, masuk dengan cara seperti itu.” Komentar Ryouta sambil menutup jendelanya.

Kimito hanya mengangkat bahu dengan tak peduli sambil tersenyum miring. Ujung hidung dan pipinya bersemu merah karena udara dingin. Ryouta menangkap coat dan scarf Kimito yang dilepas dan dilempar begitu saja oleh si empunya. Celingukan sebentar mencari tempat di kamar berukuran kecil itu, Kimito menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas tempat tidur Ryouta. Ditepuk-tepuknya sisi sebelahnya dan Ryouta pun ikut duduk. Mereka berpandangan sejenak dan tersenyum. Tangan Ryouta terulur, membersihkan salju yang menempel di rambut Kimito.

“Pekerjaannya sudah selesai?” tanyanya sambil melipat kaki.

Kimito mengedikkan bahu. ”Ternyata hanya sebentar. Ambil foto di beberapa spot yang ramai lalu sudah.”

Ryouta mengangguk-angguk lalu bertanya lagi. “Tidak pergi dengan teman-temanmu?”

Satu alis yang tertata rapi terangkat. “Teman yang mana?”

Ryouta mendorong pundak Kimito. ”Teman kampus, teman model, Inoue-kun, siapapun.”

Kimito tertawa. ”Aku terlalu malas ikut-ikut yang seperti itu. Kecuali kalau ada yang bisa kuambil.”

Ryouta mengerutkan kening bingung tapi tak bertanya lebih lanjut. Kimito beringsut, mencari posisi yang lebih nyaman di atas ranjang Ryouta. Punggungnya disandarkan ke tembok dan diambilnya satu bantal Ryouta untuk dipeluk. ”Aku lapar.” ujarnya singkat.

”Eh?”

”Lapar.”

Ryouta tertawa. ”Aku dengar kok. Hmm... sebentar ya. Mungkin masih ada makanan di kulkas.”

”Tidak ada kue?”

Ryouta menggeleng pelan, kelihatan kecewa. ”Hari ini sibuk sekali di toko. Aku tak sempat buat apapun. Yang lain saja, tak apa-apa kan?”

Kimito menggeleng. ”Tak usah saja kalau begitu.”

”Tapi kan Kimi-chan lapar...”

Kimito menukas. ”Tak begitu lapar kok. Duduk sini.” Kimito mengibaskan tangannya supaya Ryouta mendekat. Ryouta menurut dan mengambil tempat di sebelah Kimito. Bahu mereka berhimpitan dan Ryouta menyandarkan kepalanya ke pundak Kimito. Kepalanya terangkat sedikit saat mendengar Kimito menguap.

”Mau menginap di sini?” Ryouta bergumam pelan.

Kimito membenamkan wajahnya ke dalam rambut Ryouta yang masih setengah basah. Wangi strawberry segar menyambutnya. “Kalau boleh...” balas Kimito.

Ryouta tersenyum dan mengecup pipi Kimito dengan penuh sayang. “Tentu saja boleh.”

-----

Happy New Years, people~ ♥