Fandom: Prince of Tennis Musical
Pairing: Katou Kazuki x Yabuki Takuya
Characters: Katou Kazuki, Yabuki Takuya, Kubota Yuuki
Rating: PG-13
Warning: AU. BL. OOC. Boys kissing.
Disclaimer: I do not own any of the characters
Note: Maafkan judulnya yang sangat norak. Terinspirasi oleh lagu Baby, It's Cold Outside versi Kurt dan Blaine-nya Glee. Yang pertama ini adalah liriknya. All rights reserved.
Pemandangan di depan matanya itu tampak begitu aneh dan membuat Kazuki jengah. Baru saja memarkir Porsche hitamnya di dekat gerbang Seigaku untuk menjemput Takuya seperti biasa, yang didapatinya malah Takuya yang berdiri berdua dengan teman satu klubnya dan seorang anak laki-laki lain yang Kazuki belum pernah lihat sebelumnya. Sepertinya bukan murid Seigaku karena seragamnya beda. Dilihatnya Takuya tampak kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya sementara temannya menyembunyikan cengiran nakal dengan kipas bergambar ular gendut sembari menyikut punggung Takuya.
Dahi Kazuki berkerut hebat. Ada apa ini? Kazuki tak bisa mendengar pembicaraan mereka karena jaraknya masih cukup jauh dari tempatnya memarkir mobil. Sementara itu, anak dari sekolah lain itu tampak mengucapkan sesuatu dengan gelisah dan tegang. Kedua tangannya mencengkeram sisi celananya dengan gugup. Teman Takuya menyikut punggung Takuya sekali lagi karena Takuya tak juga bereaksi, kali ini lebih keras sampai Takuya nyaris terjungkal. Takuya merengut dan akhirnya berbicara. Wajah anak laki-laki di depan Takuya tampak kecewa dan mereka berbicara sebentar sebelum akhirnya anak itu berlalu pergi dengan gontai.
Teman Takuya melambaikan tangannya pada si anak sekolah lain itu sembari menepuk-nepuk pundak Takuya yang masih tampak kebingungan dan serba salah. Kazuki melepas kacamata hitam yang dikenakannya dan mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya Takuya meraih ke dalam saku dan mengeluarkan ponselnya sendiri. Tak sampai dua detik, Kazuki mendengar suara Takuya menyahut.
”Moshi-moshi.”
”Sudah selesai latihannya?” tanyanya, masih terus menatap sosok Takuya.
”Sudah. Umh, Kazuki masih lama?”
Kazuki diam sejenak sebelum akhirnya menjawab. ”................Aku sudah di depan gerbang. Coba menengok.”
Sontak, Takuya mengikuti perkataan Kazuki. Matanya melebar karena terkejut dan buru-buru menutup telepon dan berlari kecil menuju mobil Kazuki. Bahkan tak mengambil waktu pamitan dengan temannya yang hanya mendesah sambil geleng-geleng kepala tapi sejurus kemudian langsung tampak ceria dan menghampiri sedan berwarna merah yang baru saja berhenti di depan gerbang Seigaku.
Pintu penumpang terbuka dan Takuya menyelip masuk. Seperti biasa, Kazuki tersenyum tanpa berkata-kata sementara Takuya langsung memasang sabuk pengaman dan mereka duduk dalam diam. Kazuki melirik pacarnya itu dan sedikit bingung karena Takuya tampak tak tenang. Dia bergerak-gerak terus dan sesekali mencuri pandang ke arahnya. Persis seperti hari-hari pertama Kazuki mengantar-jemputnya ke sekolah.
”Ada apa?” tanya Kazuki akhirnya. ”Sakit perut? Perlu minggir dulu?”
Takuya menggeleng dan pipinya menggembung. ”Aku kan bukan anak kecil.”
”Kamu kelihatan gelisah.” komentar Kazuki sambil memberanikan diri menyentuh pipi Takuya sekilas dan buru-buru menarik tangannya lagi.
Takuya mengangkat wajahnya dan menatap Kazuki. ”Kazuki sudah berapa lama menunggu tadi?”
”Hmm? Sekitar 10 menit.”
Takuya menggigit bibir. ”Berarti lihat ya?”
”Lihat apa?”
Takuya merengut. ”Yang di depan gerbang sekolah tadi.”
Kazuki mengangkat dagunya. “Ah. Tadi kamu bersama temanmu kan? Yang satunya.... teman baru?”
Takuya memutar badannya sampai menghadap ke arah Kazuki. ”Kazuki tidak dengar apapun?”
Kazuki tertawa pelan. ”Dengar apa? Jaraknya kan lumayan jauh. Aku ini dokter, bukan superhero yang bisa mencuri dengar pembicaraan orang.”
Takuya kembali merengut dan memukul pelan lengan Kazuki. Kazuki berjengit pelan. Diarahkannya mobil menuju kediaman keluarga Saitou. ”Aku tak suka ikut campur urusan orang tapi kalau Kuu-chan mau cerita, aku akan mendengarkan.” ujarnya hati-hati.
Punggung Takuya dihempaskan lagi ke sandaran kursi. Bibirnya digigit-gigit.
”Kalau tidak mau cerita juga tak apa-apa kok.” Kazuki berujar lagi sembari mengerem di lampu merah.
Sebuah bisikan pelan membuat Kazuki menoleh. Alisnya terangkat dan memastikan kalau dia tak salah dengar. ”Apa?”
Takuya membuang muka dan memandang ke luar jendela, pura-pura tertarik dengan patung di depan apotik di seberang jalan. ”Aku diajak kencan.” ulangnya.
Untunglah mereka sedang berhenti atau Kazuki sudah akan mengerem mendadak dan membuat mereka tertabrak dari belakang. Kazuki hanya bisa menatap bagian belakang kepala Takuya karena pacarnya itu masih melihat ke arah luar. Bunyi ribut klakson membuatnya harus mengalihkan perhatian dan mejalankan mobil lagi. Dia tak berkata apa-apa lagi sepanjang sisa perjalanan mereka. Pun hanya tersenyum tipis dan canggung saat menurunkan Takuya, melambaikan tangan dan putar balik ke rumah sakit.
------
Kubota mengerutkan kening saat melihat Kazuki mondar-mandir di dapur dengan wajah ditekuk dan tangan menggenggam mug kopi. Para pelayan sampai menyingkir karena takut melihat wajah tuannya itu. Kubota mendengus, menghampiri mesin pembuat kopi dan menuang untuk dirinya sendiri. Bersandar ke counter dapur, Kubota kembali mengamati adiknya.
Begitu Kazuki lewat di depannya, Kubota langsung menangkap tangannya. Kazuki menoleh. ”Ada apa, Yuuki?”
Kubota menyentil kening Kazuki, tepat di tengah dan Kazuki berjengit. ”Apa sih? Kita ini sudah tua, tahu! Jangan perlakukan aku seperti itu.”
”Bagaimana pun, kamu tetap adikku. Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kau kalah langkah lagi sama Masahiro.” Ujar Kubota sambil tersenyum jail dan menepuk pelan pipi Kazuki.
Kazuki mengedip heran. ”Eh? Apa?”
Bukannya menjawab, Kubota malah nyengir makin lebar dan mengambil mug di tangan Kazuki. Lengannya melingkar ke leher Kazuki dan menggeretnya keluar. ”Temani aku minum, ya. Sudah lama kan?”
------
Porsche hitam itu terparkir di tepi jalan. Tampak mentereng dan menarik perhatian di bawah sinar lampu jalan. Membuat siapapun yang lewat menolehkan kepalanya barang dua jenak untuk melihat dan kagum atau bahkan iri. Pemiliknya sendiri tak berada di dekat situ karena sudah berjalan menyusur Rainbow Bridge dengan seorang anak laki-laki yang tampak setengah mengantuk. Terbalut coat tebal dan syal hitam milik Kazuki memang membuat Takuya merasa nyaman dan rasanya ingin langsung tertidur saja.
Dia sama sekali tak mengerti kenapa tiba-tiba Kazuki mengajaknya keluar di malam hari. Esok harinya memang hari libur tapi Kazuki tak pernah melakukan ini sebelumnya. Kalau bukan Takuya yang mengajak, pria itu biasanya juga tak akan berbuat apa-apa. Toh Kazuki sibuk di rumah sakit. Paling-paling hanya menelepon di jam-jam tertentu. Makanya Takuya bingung ketika tiba-tiba Kazuki menelepon dan bilang padanya untuk minta ijin keluar pada orang rumah karena dia sudah menunggu di depan gerbang rumahnya. Jelas saja Takuya gelagapan mencari alasan untuk keluar rumah di jam yang sudah nyaris larut itu.
Seperti biasa, Kazuki hanya diam sepanjang jalan. Bertanya apakah Takuya kedinginan dan dijawab Takuya dengan mengatakan kalau dia sudah mengantuk. Kazuki meminta maaf sambil tersenyum dan menyampirkan syal-nya ke sekeliling leher Takuya juga mengangsurkan segelas coklat hangat padanya. Takuya tak bisa protes, sungguh.
Kazuki memilih untuk berhenti di tempat yang agak jauh dari keramaian. Angin dingin berhembus pelan dan sambil malu-malu, Takuya berdiri lebih dekat dengan pria itu. Lagi-lagi Kazuki hanya tersenyum kecil dan meletakkan lengannya di pundak Takuya, mengusap pelan lengan atas pemuda tanggung itu.
Takuya lalu berputar, menyandarkan punggungnya ke batas pengaman. Pemandangan Teluk Tokyo di malam hari memang paling indah. Lampu-lampu yang berkelip seperti peri-peri kecil melayang dan kilauan cahaya dari rumah mercu suar di ujung paling jauh. Takuya jadi makin mengantuk dan sudah nyaris tertidur kalau saja tidak dikejutkan oleh Kazuki. Pria itu dengan sangat hati-hati mengaitkan jari telunjuknya dengan jari telunjuk Takuya. Mata Takuya mengerjap pelan sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Kazuki.
”Kamu kan pernah bilang kalau aku harus membiasakan diri dengan ini kan?” Suara Kazuki terdengar parau.
Takuya mengangguk.
Kazuki mengangkat bahunya lalu mengalihkan perhatian ke kejauhan. ”Maaf ya. Pacaran denganku pasti membosankan sekali ya.”
Mata Takuya terbelalak kaget. ”Kok bicara begitu?”
Kazuki malah menatapnya lurus-lurus. Takuya berjengit tapi tetap balas memandang. ”Sama sekali tidak bosan? Meskipun aku tidak pernah mengajakmu melakukan hal yang romantis?”
Takuya menggaruk-garuk kepalanya dan melangkah mendekat. Kazuki nyaris saja mengambil langkah mundur kalau bukan karena Takuya yang mengubah kaitan jari mereka menjadi genggaman. ”Kazuki adalah Kazuki kan? Aku suka bukan karena Kazuki adalah pria yang romantis. Aku tahu kok kalau Kazuki tidak seperti itu. Kazuki membiarkan aku menggenggam tangan Kazuki seperti ini saja,” Takuya mengangkat tangan mereka. Kulit putihnya kontras dengan kulit Kazuki yang kecoklatan. ”Aku sudah senang sekali.”
Kazuki jadi salah tingkah dan menghela nafas. ”Maafkan aku.”
Kepala Takuya dimiringkan ke kiri dan terkikik geli. ”Kazuki aneh sekali deh, malam ini. Kupikir Kazuki sedang marah padaku.”
Kali ini ganti Kazuki yang memiringkan kepalanya dan memandang pacarnya yang imut itu dengan bingung. ”Aku marah padamu? Kenapa?”
”Karena aku bilang aku diajak kencan? Habis Kazuki diam saja setelah aku cerita. Setelah itu pun tidak telepon. Kupikir kamu marah.” Takuya berjengit.
”Ah, itu. Yah...” Kazuki membuang nafas perlahan. ”Terus terang?”
Takuya mengangguk.
”Aku memang tidak senang. Bukan berarti aku marah padamu. Toh bukan salahmu dan aku juga tidak memintamu bercerita dengan lebih jelas kan? Aku hanya tidak senang karena dia seumur denganmu. Mungkin dia akan lebih mengerti kamu dan kamu juga tak perlu bersabar menunggu orang tua sepertiku yang untuk menggenggam tanganmu saja butuh keberanian besar karena takut tak bisa menahan diri.”
”Kazuki!” sergah Takuya cepat, memotong perkataan Kazuki sebelum pria itu melantur lebih panjang. Pria itu menarik nafas tajam karena detik berikutnya Takuya sudah berjinjit dan wajahnya tepat berada di depan wajah Kazuki dan bibirnya menekan pelan bibir Kazuki. Mengikuti insting, Kazuki langsung mundur tapi Takuya masih menggenggam erat tangannya. Sekuat tenaga mencegah Kazuki agar tidak lari atau mendorongnya menjauh.
”Kuu-chan. A...apa...”
”Ssst. Kazuki terlalu banyak berpikir.” bisik Takuya sambil tersenyum. Pun begitu, pemuda itu juga tampak tersipu dan ujung telinganya memerah. Kazuki menelan ludah. Pemandangan seimut itu tepat di depan matanya adalah hal yang paling ditakutinya selama ini. Tiap kali membayangkan atau terlintas di mimpinya, Kazuki pasti langsung beranjak ke kamar mandi dan jadi uring-uringan seharian. Benar saja, tenggorokannya terasa kering dan perutnya mulai terasa tak karuan. Kazuki berharap Takuya mau mundur karena kalau tidak...
Takuya mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup rahang Kazuki. Agak ragu dan sedikit gemetaran, mungkin karena gugup atau apa. Bibirnya yang berwarna merah muda itu tersenyum manis. Bulu matanya menyentuh bagian atas pipinya saat matanya mengerjap. Kazuki yakin dia bisa mimisan setiap saat.
”Sedekat ini denganku membuatmu takut?” Bisik Takuya, matanya bergerak mencari mata Kazuki.
Kazuki menelan ludah. Ditutupnya matanya dan menunduk untuk menyentuhkan kening mereka. Nafasnya mulai terasa berat. Lebih lagi karena hembusan nafas Takuya yang terasa hangat di wajahnya. ”Aku sudah pernah bilang alasannya kan?” balasnya dengan suara parau.
”Kazuki...”
Kazuki menggerung pelan. Matanya membuka perlahan. Tatapan agak buas dan ganti Takuya yang menelan ludah. ”Yakin?” Bisiknya. ”Kalau aku tak bisa menahan diri?”
Takuya mengangguk. ”Aku yang akan menahan Kazuki.”
Kazuki terkekeh pelan dan dengan gugup menelan ludah, lidahnya menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Takuya mendekatkan wajahnya lagi hingga ujung hidung mereka bersentuhan dan menggesek lembut. Nafas Kazuki yang memburu dan Takuya pun berharap jantungnya tak akan meledak saat itu juga. Ibu jari Takuya mengusap pelan pipi dan rahang Kazuki yang terasa sedikit kasar sambil tersenyum samar dan Kazuki memutuskan untuk membuang akal sehatnya ke Teluk Tokyo saat bibir mereka bersentuhan lagi.
Takuya tak tahu harus bagaimana tapi instingnya menyuruhnya untuk membuka bibirnya. Takuya melakukannya, sedikit saja, beringsut supaya lekukan bibirnya lebih pas bertemu dengan bibir Kazuki. Kazuki mengecup pelan bibir atas Takuya lalu ganti memagut pelan bagian bawah. Takuya menirunya, pertama dengan ragu-ragu sebelum akhirnya bergerak dengan lebih berani. Entah kapan Kazuki melingkarkan lengannya di pinggang Takuya dan memeluk erat. Takuya meletakkan tangannya di pundak Kazuki dan untuk beberapa saat mereka hanya bertukar kecupan sampai Takuya tak sengaja menjulurkan lidahnya dan menjilat pelan bibir Kazuki. Kazuki mengerang dan langsung memagut bibir Takuya dengan sedikit lebih bernafsu. Takuya terkejut dan panik untuk sesaat. Tangannya menggerut kerah kemeja Kazuki dan mengerang pelan. Getarannya membuat bagian bawah tubuh Kazuki berdenyut pelan dan hangat.
”Ungh... kamu manis sekali...” bisik Kazuki sebelum mencium Takuya lagi.
Takuya tertawa malu. Wajahnya luar biasa merah dan terasa panas. ”Kazuki... rasanya seperti kopi...” Dipagutnya pelan bibir Kazuki sambil mengucapkan itu.
Kazuki tergelak dan diremasnya Takuya dalam pelukannya karena gemas. Dikecupnya ujung hidung dan kening Takuya. Mereka saling berpandangan dan saling tersenyum malu. Sambil mengatur nafasnya, Takuya merebahkan kepala ke pundak Kazuki. Debar jantungnya rasanya tak bisa dihentikan dengan cepat. Lututnya juga masih terasa lemas. Kazuki meletakkan dagunya di atas kepala Takuya, tangannya yang besar mengusap pelan punggung pemuda itu. Masih tak percaya dengan yang barusan terjadi.
“Kuantar pulang?” Kazuki bertanya beberapa lama kemudian. Berat hati karena masih ingin memeluk Takuya seperti itu. Rasanya luar biasa karena tubuh Takuya begitu pas untuk dipeluk oleh kedua tangannya. Kazuki jadi tak mengerti kenapa dia harus sebegitu menahan diri untuk sesuatu seluar biasa ini. Kazuki menelan ludah. Pikiran seperti itu, cepat atau lambat, akan membuatnya terlibat masalah besar dengan Takumi.
Takuya mengangguk meski tak rela. Sebelum melepaskan pelukannya, Takuya mengangkat kepalanya dan minta dicium sekali lagi. Kazuki menurut dengan senang hati dan mengerang pelan sebelum akhirnya memisahkan diri dan menggamit Takuya untuk berjalan kembali ke mobil dan mengantarnya pulang.
Tak usah ditanya kalau mereka berciuman lagi sebelum Takuya turun dari mobil. Kali ini Takuya lebih berani memagut dan bahkan menggigit bibir Kazuki sampai pria itu mengumpat pelan. Takuya nyengir dan berlari turun dari mobil sambil melambaikan tangan pada Kazuki. Kazuki mendesah panjang dan memutar mobilnya. Sepertinya dia akan makin sering uring-uringan setelah ini.
-end-