Friday, April 8, 2011

[fanfic] AU KumaxYuuki - a birthday fic

Author: Icha & Panda
Fandom: Prince of Tennis Musical 2nd Season
Pairing: Wada Takuma x Ogoe Yuuki
Rating: NC-17
Warning: BL, AU, OOC, bondage
Disclaimer: respective agency offices. We do not own anything and/or anyone. No profit gained. No harm intended.
Note: SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17, OGOE YUUKI~! Semoga makin ndosani dan makin jago membuat tante-tante (dan beruang coklat di sana itu) makin resah ♥



Yuuki menjengukkan kepalanya ke koridor rumah sakit yang lengang. Bangunan terpisah yang menjadi bagian poliklinik gigi dan bedah mulut itu sepi sekali. Ia bahkan tak bertemu siapapun sejak memasuki pintu depan gedung. Wajar saja sih, karena memang sudah malam dan biasanya poliklinik hanya buka sampai pukul empat sore. Tapi Yuuki masih melihat mobil Takuma terparkir di depan gedung, maka ia masuk tanpa ragu. Menyusuri koridor, menaiki tangga ke lantai dua kemudian berbelok ke kanan, dan akhirnya tiba di depan pintu salah satu kamar praktek yang sangat familiar baginya. 

Tanpa sadar Yuuki menarik-narik lengan cardigan ungu yang menutupi kaus berkerah V yang dipakainya. Dasar Micchi, sepupunya itu memilih satu-satunya baju Yuuki yang berwarna ungu. Tapi masih untung Micchi mau membawakan baju ganti, kalau tidak Yuuki harus datang memakai seragam olahraganya. 

Diraihnya pegangan pintu kemudian langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk. "Kuma?" panggilnya. 

Takuma menoleh saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka dan namanya dipanggil oleh sebuah suara yang familiar. Ingin tersenyum tapi kemudian langsung merasa bersalah karena sudah mengundurkan janji kencan mereka padahal ini hari ulang tahun Yuuki. Tapi dia tak bisa apa-apa karena mendadak Kazuki menelepon ke ruangannya dan meminta laporan untuk bulan itu harus selesai sebelum besok pagi.

Namun senyumnya tetap mengembang begitu melihat Yuuki yang tampak begitu manis dengan cardigan ungunya dan rambut yang di-style sedikit. Takuma harus berterima kasih pada Mitsuya karena itu pasti hasil karya pemuda cantik itu. Takuma melambaikan tangan pada Yuuki untuk masuk. Begitu Yuuki berhenti di sampingnya, Takuma meletakkan tangannya yang besar di pinggang Yuuki. 

Senyumnya melebar. "Sebentar ya. Sudah mau selesai kok."

Yuuki meletakkan tangannya di atas tangan Takuma dan mengangguk. Ditinggalkannya Takuma dengan pekerjaannya kemudian iseng duduk di kursi pasien setelah meletakkan ranselnya di lantai. Ia bersandar nyaman dan meletakkan kakinya di penopang, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dan mengirimkan pesan pada Micchi. Memberitahu bahwa ia sudah sampai di tempat praktek Takuma karena tadi sudah berjanji.

Pipinya sedikit menggembung, agak kesal karena rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari jadi harus mundur beberapa jam karena Takuma sibuk. Yuuki mengerti, paham sekali bahwa orang dewasa yang sudah bekerja sesekali pasti direpotkan oleh hal-hal tak terduga. Tapi hari ini ulangtahunnya, tak salah kan kalau ia ingin segalanya berjalan seperti keinginannya?

Ponsel Yuuki bergetar menunjukkan pesan balasan dari Micchi yang mengatakan kalau sepupunya itu sudah sampai di rumah setelah diantar Kenki. Micchi sih enak, tak berpaut umur terlalu jauh dengan tunangannya, pikir Yuuki. Tapi ia juga tak ingin merajuk lama-lama karena tak mau dianggap anak kecil.

Melihat Yuuki yang tak berkata apa-apa, Takuma tahu pacar mungilnya itu pasti ngambek. Takuma menggigit bibir agar tak tertawa. Dia mengerti sih kalau Yuuki kesal. Ini perayaan istimewa dan seharusnya Takuma tak membiarkan pekerjaan mengganggu. Tapi Takuma menganggap lebih baik dia selesaikan saat itu juga sebelum wajah direkturnya makin masam. Meskipun Takuma harus membatalkan reservasi di sebuah restoran sushi yang cukup ramai di Shibuya dan mengalihkannya pada Tori daripada mubazir. Sambil memeriksa pekerjaannya dan mengirim email, Takuma memutar otak mencari alternatif tempat makan yang lain. 

Takuma jarang keluar dan hanya makan di luar kalau diajak. Ulang tahunnya dan ulang tahun Yuuta pun hanya dirayakan kecil-kecilan di warung ramen dekat rumah. Takuma melirik ponselnya, berniat menelepon Tori meminta saran. Tapi mungkin sebaiknya dia bertanya pada yang berulang tahun. Siapa tahu Yuuki punya ide. Takuma pun menoleh dan langsung terpaku. Yuuki, duduk di kursi pasien dengan kaki terbuka menumpu di sandaran lengan. Pipinya menggembung lucu dan matanya yang besar terpaku pada layar ponselnya. Mungkin untuk orang lain, pemandangan itu biasa saja. Tapi tidak untuk Takuma. 

Takuma beranjak mendekat, meletakkan tangannya di sandaran lengan, dekat dengan kaki Yuuki dan menunduk. "Jangan cemberut dong. Aku kan sudah minta maaf tadi di telepon."

"Aku tidak cemberut kok," Yuuki berkilah lalu menggigit-gigit bibir bawahnya. Ibu jari kanannya sibuk menekan tombol ponsel, padahal tidak melakukan apa-apa, hanya melihat daftar entri di phonebooknya saja. Diam-diam ia mencuri pandang sekilas ke wajah Takuma di depan wajahnya. Dokter gigi muda itu memasang raut muka menyesal, dan seperti biasa tampak tampan sekali. Membuat Yuuki harus merundukkan kepala makin dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang menghangat.

Manis sekali. Takuma harus menggigit bibir atau dia akan mengigit Yuuki saat itu juga. Disentuhnya dagu Yuuki dengan jari telunjuknya memaksa dengan lembut agar Yuuki mengangkat wajah dan sungguh, semu kemerahan di pipi Yuuki membuatnya terlihat begitu imut.

"Kalau tidak cemberut, ini apa namanya?" tanyanya seraya menyentuhkan bibirnya ke pipi Yuuki yang masih menggembung.

Yuuki menggembungkan pipinya makin besar. Dikerutkannya dahinya sambil menatap Kuma. "Cemberut itu yang seperti ini," sahutnya sambil berpura-pura makin cemberut. Padahal dadanya berdebar-debar riuh hanya karena sentuhan sekilas bibir Takuma.

Takuma menggerakkan alisnya dan tertawa pelan. Dikecupnya sekali lagi pipi yang makin menggembung itu dan mengggigit gemas. Lalu mencubit pipi yang satu lagi dan mengecupnya juga. "Aku harus bagaimana supaya dimaafkan?" Tanya Takuma sambil menggesekkan ujung hidungnya ke bibir Yuuki lalu mengecup dagu pemuda itu.

Yuuki menyilangkan tangannya di depan dada dan melengos. "Tak tahu. Kuma cari tahu saja sendiri." 

"Memangnya tak pernah diajari kalau ada yang meminta maaf, harus dimaafkan?" Kali ini Takuma mengecup kembali pipi Yuuki lalu mencium rahangnya yang mulus. Jerawat-jerawat kecil di pipi Yuuki justru membuat pemuda itu terlihat lucu. Dikecupnya sekali lagi pucuk hidung Yuuki lalu naik ke kening untuk turun ke pelipis, tulang pipi, dan berhenti sejenak di depan bibir Yuuki yang merah menggoda tapi Takuma malah kembali mengecup pipi yang empuk itu. Tangannya diletakkan dengan lembut di atas lutut Yuuki, bergerak sedikit ke atas. Ibu jarinya mengelus lembut kaki yang terbalut celana jeans itu. Takuma mencium bagian bawah dagu Yuuki, membuatnya mendongak sedikit lalu menggesekkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Yuuki.

"Masa sedang ulang tahun begini malah cemberut? Nanti tak lucu lagi loh."

Yuuki meraih belakang kepala Takuma dan mencondongkan muka menggigit puncak hidung Takuma yang mancung, agak lebih keras dari biasanya. Kemudian dilepaskannya lagi pegangannya, tapi karena tak tahu harus melakukan apa dengan tangannya, Yuuki menaruhnya di pangkuan.

"Jadi Kuma juga tidak akan cemberut walaupun harus menunggu berjam-jam di hari ulang tahun? Untung saja tadi teman-teman dan para senpai tampak kasihan padaku dan mentraktirku makan burger. Kalau tidak aku bisa kelaparan." Yuuki meleletkan lidahnya.

Takuma meringis, karena gigitan Yuuki dan ucapannya. Diambilnya satu tangan Yuuki untuk dikecup. "Aku tidak pernah dibuat menunggu di hari ulang tahunku karena memang tak ada siapa-siapa. Tapi aku mengerti kok kalau Yuuki kesal." 

Takuma mengarahkan pandangannya pada Yuuki dan meminta maaf sekali lagi dengan tulus. "Maaf ya." Kemudian disurukkannya kepalanya ke lekuk leher Yuuki dan menyentuhkan bibirnya ke kulit putih mulus yang beraroma manis itu. "Yuuki boleh minta apapun padaku deh." bisiknya.

Napas Yuuki tercekat sesaat ketika mendengar kata-kata Takuma. Ia tahu dokter gigi itu memang tak punya banyak teman, apalagi kekasih. Tapi mendengar Takuma mengatakannya seperti itu membuat Yuuki merasa sedikit bersalah. Ia punya banyak teman, banyak senpai dan juga Micchi yang selalu menemani hari-harinya. Dan kini ia juga punya Takuma, Takuma yang begitu baik dan menyayanginya. 

Yuuki beringsut gelisah dan menggigit bibirnya sebelum akhirnya berujar lirih, "Aku... hanya ingin dipeluk Kuma."

Takuma tersenyum lebar dan tanpa banyak kata menyelipkan kedua lengannya ke sekeliling pinggang dan punggung Yuuki. Dirapatkannya dada mereka, merasakan denyut jantung Yuuki yang terasa sedikit cepat. Tangannya mengelus pelan dan bibirnya mengecup pipi Yuuki seperti tak pernah bosan. "Begini saja?"

Yuuki melingkarkan lengannya ke bahu Takuma dan menyurukkan wajahnya ke jas putih Takuma. Menghirup aroma khas Takuma dan kemudian beringsut menyentuhkan bibirnya ke titik di mana pembuluh darah Takuma berdenyut di balik kulit lehernya. 

"Aku... mmh, ingin dicium Kuma," bisiknya sedikit malu.

Takuma beringsut, melebarkan kaki agar bisa duduk dengan nyaman di depan Yuuki di atas kursi pasien itu. Sambil mengeratkan pelukannya, Takuma merasakan bulu kuduknya meremang akibat efek sentuhan Yuuki di lehernya.

"Hmm..." Takuma menunduk dan tersenyum saat Yuuki pun mengangkat wajahnya. Takuma mencuri pandang ke arah mata Yuuki lalu memandang sepasang bibir mungil yang berwarna pink itu. Takuma baru sadar kalau bibir Yuuki agak mengkilap, terkesan basah dan lebih penuh.

Strawberry, pikir Takuma saat menyentuhkan bibirnya dan menekan lembut. Pasti ulah Mitsuya juga. Namun Takuma harus mengakui ia salut dan sedikit tersanjung karena Yuuki mau sedikit bergaya hanya untuk keluar dengannya. Takuma membuka bibirnya, mencium bibir bawah lalu yang atas. Memagut lembut keduanya kemudian tersenyum.

Yuuki beringsut mundur, memberikan tempat lebih lebar untuk Takuma, walaupun membuat ia sendiri terhimpit ke sandaran kursi. Pelan diangkatnya wajahnya, berdoa dalam hati agar wajahnya tidak tampak terlalu merah saat menatap sepasang mata Takuma yang kelam. Jantungnya langsung bergegas memburu saat Takuma mendekatkan wajahnya, dan ia memejamkan mata, tak ingin membuat wajahnya lebih tersipu lagi karena memandang wajah tampan Takuma yang begitu dekat dengannya. Tanpa sadar tangannya menggerut jas putih Takuma di bagian bahu saat dokter itu mulai menciumnya hangat.

"Yuuki harum" bisik Takuma, merasa senang dan sedikit melayang. Selalu seperti ini tiap kali ia mencium Yuuki. Dipagutnya lagi bibir bawah pacarnya itu lalu menyapukan lidahnya dengan lembut, memancing Yuuki untuk membalas atau lebih baik lagi, membuka mulutnya dan mengerang. Saat bibir yang tengah dinikmatinya itu membuka sedikit, Takuma menggoda bagian dalam bibir Yuuki dengan lidahnya. Ditariknya keluar untuk kembali menelusuri garis bibir Yuuki dengan ujung lidahnya. Sementara itu, Takuma mulai merebahkan tubuhnya ke atas tubuh Yuuki, menekan lembut hingga pemuda mungil itu harus benar-benar rebah ke sandaran.

"Aku...mmmh, sempat mandi dulu di ruang klub," sahut Yuuki pelan, menikmati sapuan lidah dan tekanan bibir Takuma yang membuatnya makin gelisah. Dirasakannya Takuma yang mendesak makin rapat, merasakan bobot tubuh Takuma yang sudah dikenalnya tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena mereka masih di ruang praktek Takuma yang notabene termasuk tempat umum. 

Tapi Yuuki tak peduli. Detak jantungnya makin riuh terasa memukul dinding dadanya dan ia tak ingin Takuma berhenti menyentuhnya. Yuuki mengeratkan pelukannya di bahu Takuma, mendesah dan mengerang memanggil nama Kuma.

Hanya erangan kecil itu dan selangkangan Takuma mulai terasa tak nyaman. Sejenak diliriknya pintu ruang prakteknya yang menutup rapat, menajamkan pendengaran dan tersenyum simpul karena tak mendengar apa-apa. Takuma pun kembali memasukkan lidahnya, kali ini lebih dalam dan menggoda lidah Yuuki yang menyambutnya dengan semangat. Dijentikkannya ujung lidahnya dengan lidah Yuuki dan menggeram senang saat Yuuki mengulum lidahnya. Manis. Manis sekali. Satu tangannya menyelip ke antara tubuh mereka dan menyentuh bagian depan selangkangan Yuuki. 

"Tak ada yang lain?" Bisiknya seraya menggigit bibir Yuuki.

"Angh~!" Yuuki mengerang keras tanpa sadar, pinggulnya refleks mengejar sentuhan Takuma di bagian tubuhnya yang mulai melonjak bersemangat. Telapak tangan Takuma yang besar terasa hangat menembus jeansnya, dan Yuuki membenamkan wajahnya ke jas putih yang masih dikenakan Takuma. Sambil menggerut dan menarik bagian punggung jas Takuma, ia berbisik lirih dengan wajah terasa terbakar.

"Nnnh... aku ingin... hngh, ingin Kuma... di... angh, di dalam tubuhku... Mmmmh."

Takuma tertawa pelan. Bukan karena merasa lucu atau apa tapi karena hanya itu yang bisa dilakukannya mendengar permintaan yang begitu jujur dan terkesan nakal itu. Selama ini Yuuki tak pernah memintanya secara langsung seperti itu. Pemuda mungil itu akan menggoda Takuma sampai Takuma menyerah dan kemudian merasa bersalah sekali. Dan caranya meminta sambil mengerang begitu, Takuma jelas tak bisa menolak. 

Entahlah, hari ini memang terasa sedikit berbeda tapi Takuma tak keberatan, sungguh. Karena itu, dilumatnya bibir Yuuki sebelum mengangkat tubuhnya dan mulai berkutat dengan kancing dan risleting jeans Yuuki. Tersenyum lebar saat sebuah tonjolan menyembul dari celah risleting yang terbuka, tertahan lapisan boxer biru tua. Takuma mengaitkan jari-jarinya ke pinggang celana itu dan mulai menariknya lepas bersamaan dengan celana dalam Yuuki.

Yuuki merasa wajahnya seperti terbakar hebat setelah mengatakan permintaan itu. Apalagi setelah mendengar suara tawa Takuma setelahnya. Tapi ia tidak menyesal telah mengatakannya. Toh ia sudah mulai dewasa, tidak harus selalu menunggu Takuma menyadari arti isyaratnya. Dan tentu saja Yuuki tidak menyesalinya sama sekali saat Takuma mulai melucuti celananya. Ia melepaskan pelukannya untuk menopang tubuh, agar Takuma lebih mudah melepaskan celananya dalam sekali tarik. Yuuki mendesis saat kulitnya yang panas terpapar udara tempat praktek yang memang selalu lebih dingin dari yang biasanya Yuuki sukai. Ia mengangkat wajah dan menemukan Takuma menatapnya sambil tersenyum lebar.

Tiba-tiba terserang rasa malu hebat entah mengapa, Yuuki menutupi bagian wajahnya dengan tangan, menggigit punggung tangannya sendiri untuk meredam desahan yang hendak meluncur dari bibirnya.

Takuma menyentuh tangan Yuuki dan menariknya menjauh dari wajahnya yang bersemu merah. Dikecupnya punggung tangan pacarnya itu dengan lembut. 

"Yuuki yang malu-malu begini tak seperti Yuuki." ujarnya. "Tapi bukan berarti aku tak suka." tambahnya cepat dan mencium Yuuki sebelum Yuuki merengut.

Tangannya bergerak menutup di kemaluan Yuuki dan menggenggam mantab. Ditatapnya mata Yuuki dalam-dalam saat mulai bergerak dari atas ke bawah dengan pelan. Ibu jarinya menggerut pelan kepala kemaluan Yuuki tiap kali tangannya bergerak ke atas. Duduk kembali di hadapan Yuuki, Takuma berujar, "Kapan saja Yuuki mau."

"Apa maksud... aaangh!" kalimat Yuuki harus terputus erangan panjang karena tangan Takuma yang besar menggenggam kemaluannya hangat. Yuuki terengah, menggenggam erat kedua sandaran lengan di kursi sambil menarik lutut kirinya ke dada. 

Takuma selalu tahu cara untuk membuatnya menjerit, selalu tahu bagian mana dari tubuh Yuuki yang perlu ditekan keras, atau dibelai lembut. Ibu jari Takuma menggerut kepala kemaluan Yuuki, sedikit masuk ke celah di sana dan Yuuki memekik. Tersengal-sengal, ia menatap Takuma dan sedikit mendorong bahu Takuma dengan kaki kirinya. "Buat aku mengatakannya."

Celananya langsung terasa dua kali lebih sempit. Erangan Yuuki dan ekspresi wajahnya benar-benar perangsang paling ampuh dibanding apapun juga. Takuma menggerakkan tangannya lebih cepat, memutar dan menekan di titik-titik strategis. Puas merasakan kemaluan Yuuki mengeras dan makin hangat dalam genggamannya. Ia lalu merosot turun, memposisikan dirinya di pijakan kaki kursi pasien itu. Dengan kaki kirinya, Takuma menendang kaki lampu periksa dan meja peralatan.

Tubuhnya bersandar nyaman ke bantalan kursi, mengernyit saat kemaluan tertekan. Dibukanya kaki Yuuki dengan satu tangan wajahnya dimajukan untuk menyusuri bagian dalam paha Yuuki yang seputih susu dengan bibirnya. Takuma melirik ke atas dan tersenyum bangga melihat dan mendengar Yuuki mendesah dan mengerang. Satu jilatan panjang dari tengah ke atas sampai nyaris menyentuh kemaluan Yuuki. Dengan satu tangan, Takuma mendorong kaus yang dikenakan Yuuki, mencari tonjolan di dada kekasihnya. Menarik pelan dengan ibu jari dan telunjuknya seraya mengecup ujung kemaluan Yuuki yang mulai basah. Melirik ke atas lagi, Takuma menarik tangannya dari kemaluan Yuuki dan bergerak ke bawah untuk mengelus jalan masuk ke tubuh pemuda mungil itu. Menekan beberapa kali untuk menggoda dan menjulurkan lidah menggoda ujung kemaluan yang kemerahan. Dipastikannya Yuuki menikmati semua itu dan Takuma menggeram saat melihat tubuh Yuuki menggelinjang pelan.

Yuuki sebenarnya ingin protes saat Takuma melepaskan kemaluannya, karena demi Tuhan rasanya nikmat sekali. Tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat wajah Takuma di antara kedua pahanya, memandangi kemaluannya yang tanpa malu-malu mulai mengeluarkan cairan. Takuma mulai menyentuh kulit paha Yuuki dengan bibir dan tangannya, dan Yuuki mengerang saat lidah Takuma berhenti hanya beberapa senti dari kemaluannya. Pun ia tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak menggeliat resah saat Takuma menggoda tonjolan di dadanya. Tapi sentuhan menggoda Takuma di jalan masuk tubuhnya, hanya seperti menggoda dan tidak benar-benar menekan masuk, membuat Yuuki tak tahan untuk menggelinjang dan protes sembari meraih helai-helai rambut Takuma dan menariknya pelan. 

"Kumaaa, ngh. Jangan menggodaku~"

Takuma tersenyum, menggeleng pelan dan menggunakan lidahnya untuk menjilat ujung kemaluan Yuuki dalam sapuan-sapuan panjang sampai pemuda itu mengerang dan mengangkat pinggulnya. 

"Anggap saja ini bonus permintaan maafku dan hadiah ulang tahun Yuuki." ujarnya dengan suara parau karena bagaimanapun, melihat Yuuki yang seperti itu membuat selangkangannya pun mulai nyeri. Tak sengaja, mata Takuma tertuju pada meja peralatan dokter giginya. 

Sebuah senyum jahil muncul di bibir Takuma dan dia berdiri --yang disambut geraman protes Yuuki-- untuk melepas celananya. Rasanya sudah sangat mengganggu. Takuma melipat celananya dengan rapi dan menyampirkannya ke punggung kursi kerjanya. Tak berniat menutupi bagian bawah tubuhnya yang menonjol jumawa tertutup celana boxer hitam. Dilepasnya ikat pinggangnya sebelum berbalik untuk membuka lemari kecil di bawah meja peralatannya dan mengeluarkan satu gulungan perban. Takuma membuka gulungan itu sampai panjang yang diinginkannya, memotong dengan gunting, lalu duduk kembali di hadapan Yuuki.

Dokter gigi itu tertawa pelan saat melihat ekspresi horor di wajah kekasih mungilnya. Untuk menenangkan Yuuki, Takuma menciumnya dan membelai pahanya dengan lembut. "Aku tak akan menyakiti Yuuki, kok."

Dengan lembut, diambil kedua tangan Yuuki dan mengikat pergelangan tangannya dengan ikat pinggangnya, tak terlalu kencang tapi tak akan mudah terlepas juga. Dikecupnya kedua telapak tangan Yuuki sembari mengambil perban yang tadi dan mengikatkannya ke pangkal kemaluan Yuuki, sengaja memberi simpul pita imut sebagai penahan. Takuma menarik nafas, menatap Yuuki yang begitu menggoda dengan tangan terikat, berwajah sebal yang memerah dan tampak sangat ingin memukul Takuma.

Sekali lagi digenggamnya kemaluan Yuuki dan menekan ke atas dan ke bawah sementara tangannya yang lain, kembali menggoda jalan masuk ke tubuh Yuuki. Kali ini tak berlama-lama dan satu jarinya menekan masuk. Perlahan-lahan melewati lingkar pertahanan Yuuki dan masuk ke dalam kehangatan yang lembut. Takuma tersenyum.

Yuuki menelan ludah susah payah melihat Takuma yang melepas celananya tanpa malu-malu, memperlihatkan sepasang kaki yang indah dan pantat yang kencang. Saat Takuma berbalik ia dapat melihat tonjolan bersemangat di balik boxer hitam kekasihnya itu dan tanpa sadar Yuuki menjilat lidahnya. Menikmati memandang bagaimana otot-otot Takuma bergerak saat dokter itu melangkah menyeberangi ruangan, sedikit tak sabar menunggu Takuma kembali melanjutkan cumbuannya. Tapi matanya langsung membelalak lebar saat melihat kekasihnya kembali dengan membawa benda-benda asing yang selama ini tidak pernah mereka gunakan saat bercinta.

Sentuhan lembut Takuma dan ciumannya serta janjinya untuk tidak menyakiti Yuuki tidak dapat membuat Yuuki yakin sepenuhnya, tapi ia menyayangi Takuma dan selama ini Takuma selalu menepati janjinya. Lagipula entah kenapa saat Takuma membelitkan ikat pinggangnya di pergelangan tangan Yuuki, ia tiba-tiba merasa berdebar bagaikan menantikan sesuatu yang menarik. Kecupan Takuma ke tangannya bagaikan janji kenikmatan yang akan diberikannya pada Yuuki. Tapi Takuma tak berhenti sampai di situ. Yuuki menggigit bibir bawahnya saat kulit kemaluannya tergesek perban yang teksturnya sedikit kasar. Ia menangkap senyum sekilas di bibir Takuma saat membuat simpul pita di pangkal kemaluannya.

Yuuki tak mengerti apa tujuan Takuma memasang benda-benda itu di tubuhnya, tapi yang ia tahu Takuma belum pernah menatapnya dengan ekspresi selapar itu sebelumnya. Wajahnya terasa terbakar lagi, tapi sebelum ia sempat protes Takuma sudah menggenggam kemaluannya lagi dan Yuuki merasakan satu jari memasuki dirinya. Yuuki tersengal dan mengerang, punggungnya melengkung karena gesekan jari Takuma yang selalu terasa agak tidak nyaman namun juga memberi kenikmatan. 

Sesaat ia tidak bisa menahan untuk mengeratkan tubuh setengah menolak sentuhan Takuma, namun jemari Takuma yang menggenggam kemaluannya membuat tubuhnya perlahan menjadi rileks. Yuuki tersengal, mendorong bahu Takuma dengan ujung kakinya lagi. "Kalau...argh... kalau sakit... ngh...aku akan menendang Kuma lho. Mmmmhhh."

Takuma menyeringai. Reaksi Yuuki sungguh seperti yang diharapkannya dan ancaman Yuuki sama sekali tak bisa dianggap serius karena diucapkan sambil mengerang dan menggeliat nikmat begitu. Mereka memang tak pernah melakukan yang seperti ini sebelumnya tapi Takuma tahu dari pengalaman, rasanya memang akan sedikit menyiksa tapi akan ada seseorang yang menjerit begitu kencang saat kenikmatan itu datang. Karena ini hari ulang tahun Yuuki, Takuma ingin Yuuki merasakan itu. Karena itu pula, Takuma tak membuang waktu lagi. Jari memutar dan menekuk, mencari satu titik di dalam tubuh Yuuki dan menghujam cepat dan tajam. Tangannya menyentak kemaluan Yuuki dengan lebih pelan namun keras sementara lidahnya menyapu ujung kemaluan Yuuki, sesekali menyelip ke dalam celah sempit di situ.

"Tidak akan sakit kok." Bisiknya seraya memasukkan jari kedua ke dalam tubuh Yuuki.

Yuuki menjerit saat jari Takuma menyentuh satu titik di dalam dirinya yang membuat pandangannya seperti dihujani percikan-percikan cahaya. Sentuhannya sedikit lebih kuat dari biasanya tapi Yuuki sama sekali tak keberatan. Apalagi Takuma tak berhenti memanjakan bagian depan tubuh Yuuki juga, jemarinya menekan tempat-tempat yang tepat dan lidahnya memberi sentuhan basah dan hangat di ujung kemaluannya. Baru kali ini Yuuki melihat bagian pribadinya itu setegang dan semerah itu. Apalagi tampak berada di depan wajah Takuma yang menatap lapar seperti hendak melahapnya bulat-bulat. Samar-samar dirasakannya jari kedua Takuma memasuki dirinya dan ia melenguh keras lagi, kakinya menarik tengkuk Takuma, menarik Takuma merapat--meminta jalan masuk lebih dalam ke mulut yang basah dan hangat itu.

Takuma tak langsung menuruti keinginan Yuuki. Sebaliknya memusatkan perhatian pada gerakan jarinya memutar, menekuk dan menekan sampai tubuh dan erangan Yuuki mulai tak terkendali. Takuma pun melambatkan gerakan tangannya, mengelus paha Yuuki dengan tangan yang lain. Dilihatnya kemaluan Yuuki yang begitu merah dan tegang. Pasti sekarang rasanya agak sakit dan Takuma pun menunduk, membuka mulutnya untuk melahap Yuuki. Dibiarkannya batangan keras itu meluncur di atas lidahnya dan Takuma mulai mengulum, menghisap dengan agak keras.

Kepalanya digerakkan hingga ujung kemaluan Yuuki membentur bagian dalam mulutnya. Lidahnya bergerak memutar lalu menarik kepalanya untuk menjilati dan mengecup bagian ujungnya lagi. Diliriknya Yuuki sekali lagi dan berpikir kalau tak ada salahnya satu lagi jarinya menyusul masuk. Diamatinya wajah Yuuki dengan seksama sementara jari-jarinya bergerak keluar masuk dengan pelan dan hati-hati. Sedikit saja Yuuki menunjukkan tanda dia kesakitan, Takuma akan segera menarik tangannya keluar.

Yuuki merasa bibirnya sudah nyaris berdarah karena digigit keras-keras. Hisapan dan jilatan Takuma membuatnya menggeliat-geliat gelisah. 

"Kumaaaa... nnnnhhh!" erang Yuuki, mencengkeram jemari Takuma di dalam tubuhnya erat-erat agar gesekan jemari Takuma lebih terasa di titik sensitifnya. Menginginkan lebih, Yuuki meraih sandaran kepala dengan kedua tangannya yang terbelenggu. Rasanya sedikit nyeri tapi justru membuatnya makin bergairah. Kakinya menjejak ke sandaran lengan dan mengangkat pinggulnya dari tempat duduk. Membawa tiga jari Takuma masuk semakin dalam dan meminta lebih dari mulut dan lidah Takuma. "Kuma ... angh. I...iku!"

Takuma menjilat bibirnya yang terasa kering dan beringsut sedikit karena kemaluannya pun makin terasa nyeri karena bereaksi dengan hebat akibat erangan Yuuki dan caranya mencengkeram erat jari-jari Takuma. Takuma mengangkat tubuhnya, menjilat kulit yang mulai basah karena peluh mulai dari perut hingga ke tulang selangka. Lalu turun untuk kembali menelan kemaluan Yuuki hingga bibirnya menyentuh kain kasa yang mengikat erat di pangkal. Takuma menggesekkan ujung kemaluan Yuuki dengan bagian atas dinding mulutnya, menghisap kuat-kuat sampai menimbulkan bunyi basah. Sementara itu jari-jarinya pun turut bergerak makin cepat, menghujam tajam di titik sensitif itu sampai Yuuki memekik. Meskipun begitu, Takuma tahu simpul sederhana itu menahan Yuuki dari mencapai klimaksnya. Pun, Takuma tak berkata apa-apa, hanya terus bergerak sesuai keinginan Yuuki.

Yuuki mengenali perasaan bergelenyar di seluruh tubuhnya ini, perasaan ketika Kuma selalu membuatnya tak tahan lagi, perasaan sebelum mencapai klimaks. Seluruh tubuh Yuuki menegang dan ia mengerang panjang, tapi belum juga merasakan klimaks itu datang padanya. Sedikit terisak, ia menatap wajah Takuma yang masih berada di depan selangkangannya, dan menangkap tatapan mata Takuma.

"Tidak bisa," sengal Yuuki. "Kenapa...? Ngh." Dirasakannya jemari Takuma menekan keras di dalam dirinya dan lidah Takuma masuk ke celah di ujung kemaluannya bersamaan, harusnya cukup untuk membuatnya klimaks habis-habisan. Tapi kenikmatan itu masih terus makin membuncah, belum bisa mencapai puncaknya. 

Yuuki menghentakkan kepalanya ke sandaran kursi dan menjerit. "Kumaaaaaaa~ naka ni... onegai~"

Takuma menarik mundur kepalanya, tersenyum simpul mendengar jerit permohonan Yuuki. Sungguh menggairahkan dan luar biasa seksi. Sekali lagi selangkangannya menjerit-jerit minta perhatian. Dikecupnya sekali lagi ujung kemaluan Yuuki dan menarik keluar jari-jarinya dengan perlahan pula. Sambil menatap Yuuki yang tersengal-sengal, wajahnya nyaris sama merahnya dengan kemaluannya yang berdiri tersiksa.

Tangannya yang terbelenggu kini terkulai lemas di atas kepalanya setelah mencengkeram sandaran dengan begitu kuatnya tadi. Takuma mencondongkan tubuhnya untuk mengecupi wajah Yuuki dengan penuh sayang. Tangannya menangkup di kemaluan Yuuki dan memijat lembut, cukup untuk menjaga Yuuki tetap dekat dengan klimaksnya sekaligus menenangkan pemuda itu dari emosi yang membuncah. Dikecupnya sudut mata Yuuki yang basah. Lalu menjauhkan badannya lagi. Kali ini untuk membongkar isi tas Yuuki, mencari krim tangan yang ia tahu selalu dibawa-bawa Yuuki saat latihan. Begitu mendapatkannya, Takuma melapisi tangan dan kemaluannya dengan krim itu. Memang bukan pelumas terbaik tapi daripada tak ada karena Takuma tak ingin menyakiti Yuuki. 

Kali ini ia duduk di depan Yuuki, dengan lembut melebarkan kaki Yuuki yang terkulai lemas dan meletakkannya masing-masing di sandaran lengan. Digodanya jalan masuk yang sudah terbuka itu dan Yuuki mengerang lirih. Takuma menyelipkan kedua tangannya ke balik lutut Yuuki. Beringsut maju, diposisikannya ujung kemaluannya ke celah bokong Yuuki.

"Mou sukoshi, gaman shite." bisiknya, mengeratkan pegangan pada lutut Yuuki dan menyerbu masuk dalam satu tekanan hingga seluruh tubuhnya terbenam ke dalam tubuh Yuuki yang hangat. Takuma menggerung.

Yuuki bersandar dengan napas terengah-engah, hanya bisa membiarkan Takuma menyentuh lembut kemaluannya. Memang masih terasa nyaris mencapai klimaks, tapi paling tidak tak terasa senyeri tadi. Berusaha mengatur napas dan menenangkan detak jantungnya, tatapan Yuuki tetap tak bisa lepas dari sosok Takuma yang menjauh dan mengambil krim tangan dari tasnya. Bukannya jadi lebih tenang, jantungnya malah berdetak memburu lagi begitu melihat Takuma melepaskan boxernya, memperlihatkan kemaluan Takuma yang berdiri bangga, bersemu merah nyaris ungu. Tampaknya dokter muda itu nyaris sama tersiksanya dengan Yuuki sendiri, terlihat dari desis tertahan dan raut wajah Takuma yang berkonsentrasi penuh saat mengoleskan krim ke kemaluannya.

Yuuki mengerang lirih kembali saat merasakan jemari Takuma mengoleskan krim di jalan masuk tubuhnya dan memposisikan ujung kemaluannya di sana. Saat Takuma memintanya bersabar sedikit, Yuuki hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir pelan. Takuma akhirnya menghentak masuk, membenamkan dirinya jauh ke dalam tubuh Yuuki, dan Yuuki refleks mengeratkan otot bawah tubuhnya. Akhirnya, akhirnya ia bisa merasakan Takuma di dalam tubuhnya, berdenyut hangat dan besar, menggesek bagian dalam tubuhnya dan satu titik di dalam dirinya. Yuuki tersengal, mengulurkan tangan ke arah Takuma karena sungguh ia sangat ingin dicium.

Bagaimana caranya tubuh seorang pemuda berumur tujuh belas tahun membuat Takuma merasa itulah tempat seharusnya dia berada, Takuma tak pernah mengerti. Tetapi selalu seperti ini rasanya tiap kali ia menyatukan tubuhnya dengan tubuh Yuuki. Hangat, puas, bahagia dan sama sekali tak berniat kemana-mana lagi. Takuma ingin mereguk semua itu maka ia mulai bergerak. Menyentak pendek-pendek dan tajam, tak berniat terlalu lembut karena ia tahu tubuh ini miliknya dan tak akan tersakiti semudah itu. Takuma melenguh, nyaris saja meledak karena cengkeraman otot Yuuki.

"Hnnngh... Yuuki..." Takuma berhenti sejenak, membuka mata dan melihat Yuuki mengulurkan tangan padanya. 

Yuuki-nya yang manis. Yuuki-nya yang sangat disayanginya. Takuma mendorong kedua kaki pemuda itu hingga lututnya nyaris menyentuh pundak, menyusupkan kepalanya ke celah di antara lengan Yuuki yang terikat dan memagut bibir Yuuki dengan penuh nafsu. Juga menjilat dan menerobos masuk dengan lidahnya, menjelajah tiap sudut mulut Yuuki. Pinggulnya kembali bergerak cepat dan Takuma merasa kepalanya melayang karena Yuuki mengerang-erang ke dalam ciuman mereka.

Sentakan-sentakan pinggul Takuma mengguncang tubuh Yuuki hingga punggungnya tak henti bergesekan dengan sandaran kursi. Yuuki merasa sekujur tubuhnya seperti terbakar. Pendingin ruangan yang disetel nyaris maksimum tidak mampu menyejukkan tubuhnya, dan kaus yang dikenakannya sudah basah kuyup. Tapi ia tidak peduli. Karena ia sedang bersama Takuma, menjadi satu dengan pria yang dikasihinya itu.

Takuma sepertinya tahu betul cara untuk membuat Yuuki merasa nikmat, maka Yuuki menurut saat lututnya didorong nyaris menyentuh dada, membuka pahanya lebar-lebar dan menggerakkan pinggulnya menyambut hentakan kuat Takuma. Senang sekali rasanya saat Takuma menyusup ke lingkaran lengannya dan mulai menciumnya, penuh nafsu, begitu dalam dan rakus hingga Yuuki mengerang dan terengah ke dalam ciuman mereka, menarik Takuma merapat dengan kedua pergelangan tangannya yang terbelenggu. Yuuki mengaitkan tungkai bawahnya ke punggung Takuma dan menariknya mendekat. 

Ditengadahkannya wajahnya, mengundang Takuma untuk mencicipi lehernya dan mengerang. "Motto... angh, mmmh, Kumaaa..."

Takuma melenguh, senang karena tubuh Yuuki yang bergerak seirama dengan tubuhnya. Juga erangannya yang meminta dan mengundang Takuma untuk mengambil dan memberi lebih. Harum tubuh Yuuki kini bercampur dengan keringat dan aroma seks yang begitu tebal hingga terasa begitu seksi. Kulitnya yang putih dan lembut terasa nikmat di bibir Takuma dan pria itu menikmatinya dengan senang hati. Pun begitu, di bawah sana, Yuuki mencengkeram dan melepaskan tubuhnya seirama saat Takuma menekan masuk dan menarik keluar. Nikmat, sungguh nikmat. 

Takuma bergeser, menghunjam dari sudut yang lain yang ia tahu mengenai langsung titik sensitif di dalam tubuh Yuuki. Tubuh mereka berguncang karena hentakan dan erangan Yuuki jadi tak terkendali. Takuma bernafas begitu cepat, menjilat bibir dan mengulum cuping telinga Yuuki. Kemudian diamatinya baik-baik ekspresi Yuuki dan tersenyum lembut.

"Mmnh...Kimochi ii?" tanyanya parau, menghujam tajam dan tubuh Yuuki menggelinjang. "Ikitai?"

"Ii... ah! Soko ii~ angh, ah," erang Yuuki terputus-putus, karena tiap hentakan Takuma kini menekan titik sensitifnya, tanpa ampun mencuri nafasnya hingga ia serasa akan meledak dibuatnya. Sentuhan lembut bibir dan lidah Takuma yang begitu kontras dengan sentakan pinggulnya yang penuh tenaga membuat Yuuki merasa nyaris gila. Jauh di bagian belakang otaknya terbetik pikiran bahwa mungkin ia tak akan sanggup berjalan setelah mereka selesai, tapi Yuuki sama sekali tak peduli, terus menyentakkan pinggulnya ke depan dan mencengkeram erat saat Takuma menekan masuk. 

Tak tahan lagi, ditariknya Takuma mendekat dengan kedua kaki dan tangannya. Aroma tubuh dan keringat Takuma membuat kepalanya melayang. Tak kuat lagi, digigitnya bahu Takuma dan terisak. "Ikitai... hontou ni ... angh!"

Takuma mendesis dan balas menggigit pangkal leher Yuuki meski kemudian dijilatnya dengan penuh maaf. Tubuhnya terasa panas dan cengkeraman Yuuki membuat gesekan tubuh mereka makin terasa sangat, sangat nikmat sampai tak tertahankan. Takuma pun mulai kesulitan menahan diri dan sentakannya mulai tak beraturan. Takuma melepaskan diri dari pelukan Yuuki dan duduk tegak. Gerakannya melamban untuk beberapa saat, mengambil krim tangan lagi lalu memijat lembut kemaluan Yuuki yang sudah nyaris berwarna ungu. Kemudian langsung menyentak cepat bersamaan dengan gerakan pinggulnya menghujam secepat kilat. 

Diambilnya tangan Yuuki untuk menggantikan tangannya menyentak kemaluan Yuuki sementara Takuma mendorong lagi lutut Yuuki ke atas. Dengan satu tarikan, dilepasnya simpul kasa itu seraya membenamkan dirinya dalam-dalam ke tubuh Yuuki. "Nnngh...Ii yo. Itte."

Yuuki mengerang protes saat Takuma menarik dirinya menjauh, tapi protesnya terhenti di tenggorokan saat merasakan tangan Takuma yang berlapis krim menyentuh kemaluannya. Yuuki sudah tak bisa membedakan rasa panas, dingin, maupun nyeri karena banjir endorfin yang mengalir dalam darahnya dan yang ia rasakan hanya kenikmatan yang terus dan makin membuncah. Takuma mengarahkan tangan Yuuki ke selangkangannya dan Yuuki mendesis sambil menggenggam dan menarik kemaluannya sendiri. Tak henti Yuuki menyebut nama Takuma bagaikan sebuah mantera seiring gerakan Takuma menghentak tepat ke titik sensitifnya. Samar-samar ia merasakan bahan kasar perban menyentuh kulit jemarinya bersamaan dengan pinggul Takuma menghunjam tajam. 

Sesaat waktu seakan berhenti, dan Yuuki mendengar suara Takuma yang parau mengijinkannya mencapai puncak kenikmatan itu. Refleks Yuuki meraih bahu kukuh Takuma, berpegangan saat tubuhnya mengejang dengan sendirinya, terbawa oleh ledakan rasa yang luar biasa--belum pernah dirasakannya sebelumnya. Yuuki tahu ia menjeritkan nama Takuma, tetapi telinganya tak bisa mendengar. Samar-samar terasa cairan hangat menyemprot keluar dari kemaluannya, tapi yang ada di pikirannya, di hatinya, di seluruh sel tubuhnya hanya Takuma saja. Takuma yang wajahnya terbingkai rambut basah oleh keringat, Takuma yang menatapnya hangat penuh kasih, Takuma yang tersenyum amat tampan. Wajah itulah yang terakhir terekam oleh Yuuki sebelum matanya dibutakan ledakan cahaya putih menyilaukan dan ia tak ingat apa-apa lagi selain rasa cintanya terhadap pria di hadapannya.

Suara Yuuki yang menjeritkan namanya dengan begitu kencang saat ia klimaks membuat Takuma tersenyum kemudian mengernyit dan menggeram karena Yuuki mencengkeram dengan begitu kuatnya saat Takuma menekan masuk. Takuma memejamkan mata, bibirnya terbuka melepaskan lenguhan panjang saat terlempar ke puncak kenikmatan itu. Dilepaskannya seluruh hasratnya ke dalam tubuh Yuuki yang hangat. Diperhatikannya saat tubuh Yuuki mendadak lemas dan Takuma menarik keluar kemaluannya, menyelesaikan klimaksnya dengan tangannya dan menumpahkan ke atas perut Yuuki.

Takuma menunggu beberapa jenak sampai nafasnya kembali. Dikecupnya lembut pemuda yang tampaknya hilang kesadaran itu. Takuma menuju wastafel, membasahi handuk dengan air hangat lalu membersihkan dirinya. Setelah merapikan dirinya, Takuma membawa handuk hangat itu ke arah Yuuki, membersihkan bekas-bekas bercinta mereka dari tubuh pacarnya dengan lembut dan penuh sayang. Dengan susah payah dipakaikannya lagi celana Yuuki dan Takuma menyampirkan jas dokternya sebagai selimut untuk Yuuki.


Yuuki beringsut dan perlahan membuka matanya. Rasanya hangat dan masih ada gelenyar-gelenyar nikmat menjalari seluruh tubuhnya. Perlu beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa ia sudah berpakaian lengkap lagi dan diselimuti jas putih milik Takuma. Menggeliat sedikit untuk meregangkan tubuhnya yang pegal, Yuuki mencoba berbicara tapi terkejut mendapati bahwa suaranya nyaris tak keluar. 

"Kuma...?" panggilnya setelah menelan ludah beberapa kali.

Takuma melangkah keluar dari ruangan kecil yang jadi ruang kerjanya saat mendengar suara Yuuki. Sambil tersenyum lebar, Takuma meletakkan kedua tangannya di ujung sandaran lengan dan membungkuk untuk mengecup bibir Yuuki. 

"Sudah bangun?"

Yuuki meraih bahu Takuma, mengejar sentuhan bibir kekasihnya. Dipagutnya bibir bawah Takuma kemudian memiringkan kepala untuk memperdalam ciuman mereka. Setelah puas mencium Takuma barulah ia menjauh dan mengerjapkan mata beberapa kali. "Aku haus."

Takuma mengecup bibir bawah Yuuki sebelum beranjak mengambil segelas air. Dibantunya Yuuki untuk duduk tegak dan menyodorkan gelas itu pada Yuuki. Takuma duduk menyamping di tepi kursi pasien itu, matanya menangkap bekas kemerahan di pergelangan tangan Yuuki dan Takuma meringis. Dengan lembut diambilnya satu tangan Yuuki, mengelus bekas kemerahan itu dengan ibu jarinya lalu mengecup lembut. 

"Lapar tidak?" bisiknya seraya melirik Yuuki. "Sudah jam 9 sih, tapi kedai ramen dekat tumahku masih buka kalau Yuuki mau."

Yuuki meneguk air yang disodorkan Takuma kepadanya sampai habis, membiarkan Takuma mengelus bekas kemerahan di pergelangannya. Yuuki diam-diam berdoa bekas itu sudah hilang saat ia pulang besok atau Micchi tidak akan mengijinkannya menginap di tempat Takuma lagi. Biarpun begitu, Yuuki tak merasa menyesal sudah melakukannya. Bagaimana mau menyesal kalau mengingatnya saja sudah membuatnya berdebar?

"Lapar sekaliiiii," ujar Yuuki sambil menyodorkan gelas kosong pada Takuma.

Takuma mengambil gelas itu lalu meletakkannya di atas meja peralatan dokternya. Tangannya yang masih menggenggam tangan Yuuki menarik pelan, membantu Yuuki untuk bangkit dari kursi pasien itu. Tapi bukannya beranjak untuk bersiap-siap, Takuma malah menarik Yuuki dalam pelukannya dan memandang ke dalam dua bola mata besar yang mengerjap pelan dengan penuh sayang. Tangannya mengelus-elus punggung Yuuki.

"Selamat ulang tahun ya. Terima kasih karena sudah jadi Ogoe Yuuki yang begitu manis dan mau menyayangiku."

Yuuki mengerjap beberapa kali lagi sebelum menundukkan kepala sambil menggembungkan pipi, tak ingin wajahnya yang memerah dilihat Takuma. Didorongnya Takuma agar menjauh dan berbalik lalu berjinjit melingkarkan lengan di leher Takuma dari belakang.

"Gendong! Aku tidak bisa jalan nih gara-gara Kuma!"

Takuma nyaris terjungkal karena mendadak harus menumpu berat badan Yuuki namun tak urung dia tergelak juga. Dipegangnya lutut Yuuki agar pacarnya itu bisa memanjat punggungnya.

"Hup! Uph! Yuuki berat juga ya." cengirnya.

Yuuki menggigit bagian belakang leher Takuma keras-keras kemudian mengayun-ayunkan kakinya. "Iya dong, aku kan masih dalam masa pertumbuhan!"

"Aw! Sakit dong!" jengit Takuma dan langsung oleng karena Yuuki bergoyang-goyang. Dengan susah payah, Takuma mengambil ransel Yuuki dan tas kerjanya sendiri. Bukan hal yang mudah apalagi dia masih lumayan lelah. Tapi Takuma tak protes apa-apa, hanya berpura-pura mengeluh sesekali. Untungnya Yuuki membantunya mematikan lampu saat Takuma membawa mereka keluar ruangan. 

"Ngomong-ngomong, Yuuki mau kado apa?" tanyanya, mengangkat sedikit tubuh Yuuki yang mulai melorot.

Yuuki berhenti bergoyang-goyang karena takut mereka terjatuh. Apalagi harus menuruni tangga segala. Ia mencondongkan kepala dan menopangkan dagunya di bahu Takuma, menikmati aroma Takuma dan ujung-ujung rambut yang menggelitik sisi wajahnya.

"Lho, Kuma belum membelikan aku hadiah?"

Takuma menoleh sambil meleletkan lidah. "Aku tak pernah membelikan hadiah apapun untuk siapapun." Takuma memiringkan kepalanya. "Stron... umh, maksudku, Yuta biasanya langsung bilang padaku mau minta apa saat ulang tahun." Dia kemudian mengernyit. "Jadi aku tak tahu harus membelikan Yuuki apa. Hahahaha, aku payah ya."

Yuuki memajukan bibirnya, pipinya menggembung. Kemudian disembunyikannya wajahnya di belakang bahu Takuma. "Ung. Terserah Kuma saja."

Takuma tersenyum saat merasakan wajah Yuuki menempel ke pundaknya. "Besok kita cari sama-sama ya."

Yuuki mengeratkan pegangannya, mencari kehangatan karena angin malam yang bertiup di luar gedung terasa lumayan dingin. Memeluk Takuma rasanya selalu hangat dan nyaman sekali. "Mmhm," sahutnya pada ajakan Takuma, kemudian berbisik dengan bibir melekat ke punggung pria yang dicintainya itu. "Terima kasih ya."

-end-

Monday, April 4, 2011

[fanfic] AU KenkixMitsuya - Trust

Fandom: D2/Tennis no Oujisama Musical 2nd Season
Pairing: Yamaguchi Kenki x Mitsuya Ryou, hinted Wada Takuma x Ogoe Yuuki
Rating: PG-13 for kissing and serious issue
Warning: BL, AU, OOC, cheesy
Disclaimer: Watanabe Pro, MMV, and respective agency offices. I do not own anyone. No profit gained. No harm intended.
Note: Karena hari ini awol, jadi saya menulis *ninja*
Buat tanuki mesum tersayang *ndusel* dan semuanya saja. Mari menunggu kemunculan Yukito dari Nei! Yay! Enjoy.



Mitsuya menunggu dengan sabar sampai mobil mini milik Kenki menepi dan berhenti sebelum melompat masuk dan memasang sabuk pengaman.

"Menunggu lama?" Tanya Kenki.

Mitsuya menggeleng. "Tadi kebetulan meetingnya agak lama. Sainei-san sedang ingin mengevaluasi beberapa klien yang perkembangannya lambat. Aku tidak kena sih tapi tetap saja harus ada di situ. Kupikir tadi malah aku yang akan telat." Mitsuya mendesah dan menurunkan penahan cahaya, mengintip penampilannya di cermin kecil di situ lalu menutupnya lagi dan menoleh pada Kenki yang sudah menjalankan mobil. "Ngomong-ngomong tidak apa-apa nih? Kenki sedang ujian kan?"

Kenki mengedikkan bahu sambil tersenyum. "Tak apa-apa kok. Lagipula aku sedang ingin ketemu Micchi."

Pipi Mitsuya bersemu merah dan Kenki mencubitnya gemas. "Tapi tak bisa terlalu malam ya." Lanjutnya.

Mitsuya mengangguk mengerti. Toh, besok dia juga harus sekolah. Sebenarnya tak sengaja bilang ingin belanja karena pikirannya sedang suntuk saat menelepon Kenki dan tunangannya itu langsung bilang akan menemani. Pun begitu, Mitsuya nyaris membatalkan karena baru ingat kalau ada pertemuan di tempat kerja sambilannya sepulang sekolah. Tapi karena Kenki bilang tak masalah, maka di situlah mereka sekarang, di dalam mobil Kenki menuju Shibuya.

Untunglah lalu lintasnya tidak begitu ramai dan Mitsuya memandangi langit yang berubah merah perlahan menggelap sambil sesekali mengambil foto dengan ponselnya. Kenki melirik ke arah tunangannya dan tersenyum kecil. Mitsuya selalu terlihat cantik dan manis dan Kenki betah memandanginya berjam-jam sampai ditimpuk Mitsuya dengan apapun yang ada di dekatnya.

Shibuya malam itu pun tetap ramai seperti hari biasanya. Kenki bersyukur ini bukan malam minggu atau mereka tak akan mungkin bisa menembus kerumunan orang yang menyusuri jalan. Mitsuya menjalin jari dengannya setelah tersenggol seorang kurir yang tampak begitu terburu-buru dan menggerundel karena majalahnya terjatuh. Kenki hanya tertawa, bertanya "Daijoubu?" dan mengeratkan genggaman tangannya sampai ke toko yang dituju Mitsuya.

Kenki memang tak hobi beli barang. Tapi dia jadi cukup tahu tentang toko-toko dan perkembangan fashion terbaru sejak mengenal Mitsuya. Kenki tak pernah keberatan menemani Mitsuya belanja dan ditarik ke sana kemari. Di tengah pertandingan atau di dalam toko baju, Mitsuya yang bersemangat dengan mata berbinar-binar terpaku pada target yang dituju seperti itu, membuat Kenki senang. Kenki mengakui kalau ia pria yang cukup simpel. Selama apa yang dilakukan menyenangkan dan tidak mengganggu orang lain, Kenki tak akan keberatan.

Mitsuya sudah keluar masuk ruang ganti untuk ketiga kalinya sementara Kenki pergi melihat-lihat sepatu. Siapa tahu ada yang bagus dan tak terlalu mahal. Kenki sedang memperhatikan sebuah Adidas ClimaCool saat Mitsuya muncul di sampingnya sambil merengut.

"Kenapa?" Kenki meletakkan sepatu lari itu ke tempatnya semula.

"Jaket yang kutaksir tak ada ukuranku." Jawabnya singkat.

"Masa?" Kenki mengangkat alis tak percaya.

Mitsuya mengangguk, pipinya menggembung. "Katanya itu laku sekali jadi stok barunya belum datang."

"Ah. Lalu?"

"Ya mau bagaimana? Kalau dipaksakan beli nanti jatuhnya tidak bagus. Eh, Kenki mau beli itu?" Mitsuya menunjuk sepatu Adidas itu.

Kenki menggeleng. "Cuma lihat-lihat saja kok. Mau lihat di tempat lain?" Tawar Kenki.

Mitsuya mengangguk. "Jelas dong!"

Kenki tertawa dan mengulurkan tangan pada Mitsuya yang disambut setengah malu-malu karena diperhatikan penjaga toko di dekat mereka. Kenki mampir sebentar di kios penjaja es krim dan membeli es krim coklat yang ditolak Mitsuya yang lebih memilih frozen yoghurt di kios sebelahnya. Mereka terpaksa tak bisa masuk toko sampai es krimnya habis.

Di toko berikutnya, Mitsuya melonjak senang karena sedang ada diskon besar-besaran. Kenki harus mengakui toko yang ini punya koleksi jaket yang cukup keren. Dia bahkan tertarik pada sebuah jaket kulit beraksen risleting asimetris sementara Mitsuya sudah heboh berpindah-pindah lorong karena begitu banyak yang menarik perhatiannya. Kenki mengambil jaket itu dan mencobanya. Kerahnya tinggi dan panjangnya pas di pinggang Kenki. Ukurannya juga sangat pas di badannya. Ada aksen ikat pinggang besi di sisi dan ujung lengan. Cukup sederhana dan...

"Kakkoiiiii..."

Kenki menoleh dan nyengir lebar. "Keren ya?"

"Sangaaaat!" Mitsuya berputar-putar mengelilingi tunangannya, mengamati Kenki dengan seksama lalu menunjuk-nunjuk jaket itu. "Ambil! Kenki harus ambil!"

"Sou?" Kenki melirik ke arah tag harga yang menggantung dari lengan kanan jaket itu dan meringis. Matanya kemudian beralih ke rak tempat asal jaket itu dan melihat tanda diskon 60%. "Baiklah." Cengirnya.

Mitsuya melonjak-lonjak senang. "Ada yang menarik?" Tanya Kenki sambil melepas jaket itu dan memasukkannya ke tas plastik yang sudah berisi belanjaan Mitsuya. Pemuda cantik itu nyengir lebar dan menunjukkan apa yang ditemukannya pada Kenki. Sepasang sepatu boot kulit, ikat pinggang beraksen tali warna ungu dan trench coat hitam yang menurut Kenki lebih bagus dari jaket yang diincar Mitsuya di toko sebelumnya.

"Tak apa-apa belanja sebanyak itu?" Bisik Kenki saat Mitsuya menyeretnya ke kasir.

Mitsuya nyengir lebar. "Uang dari Prince Agency baru turun. Ehehehehehehe."

Kenki ikut tertawa dan menepuk kepala Mitsuya. "Ii ne." Pandangannya kemudian teralih pada deretan muffler di dekat counter kasir dan tertuju pada satu yang berbahan fleece dan berwarna lavender dengan motif bangau berwarna hitam di ujung-ujungnya. Mitsuya sudah maju ke depan kasir hingga tak memperhatikan Kenki mengambil muffler itu. Juga menunggu dengan sabar saat Kenki mengurus pembayaran jaketnya dan memperhatikan deretan kalung rantai di counter sebelah.

Mitsuya mengerjap kaget saat Kenki menyampirkan muffler itu di lehernya. Ditatapnya Kenki dengan bingung dan Kenki malah menggamit tangannya lagi. "Untuk Micchi." Ujarnya singkat.

Tertegun sejenak, Mitsuya pun akhirnya tersenyum lebar meski wajahnya tersipu dan menjalin jari-jarinya dengan jemari Kenki erat-erat. "Terima kasih."

Kenki mengangguk. "Masih ada yang mau dicari?" Tanyanya saat mereka sudah kembali menyusuri jalanan Shibuya.

Mitsuya menggeleng. "Nanti kemalaman. Makan saja yuk. Aku lapar."

"Oke. Micchi mau makan apa?"

Mitsuya mengerucutkan bibirnya, tampak berpikir sambil celingukan. "Apa saja deh."

"Loh?" Kenki tertawa geli. "Kalau begitu...hmm... Kalau tak salah di dekat sini ada okonomiyaki enak. Mau?"

Mitsuya mengedikkan bahu. Tas belanjanya yang besar dijinjing di bahu karena menolak dibawakan Kenki. "Boleh."

Restoran okonomiyaki yang dimaksud Kenki terletak di lorong di belakang jalan utama Shibuya. Lorong itu dipenuhi jajaran restoran tradisional yang juga ramai pengunjung meski jam makan malam sudah lewat. Mereka celingukan mencari tempat dan seorang wanita setengah baya yang berdiri di belakang counter menunjuk satu tempat agak di pojok.

"Micchi mau apa?"

Mitsuya memperhatikan balok-balok menu yang terpampang di dinding. "Yang tidak pakai daging."

Kenki menggaruk ujung hidungnya dan melirik geli. "Tak usah menahan diri di depanku loh."

"Siapa? Ge er." Sungut Mitsuya. "Akhir-akhir ini pipiku tambah bulat. Kenki tidak sadar?"

Kenki memiringkan kepala, tangannya terjulur mencubit pipi tunangannya. "Siapa yang bilang?"

"Fukubuchou."

Kenki tertawa dan menarik pipi Mitsuya sampai pemuda itu nyaris memekik dan menepis tangan Kenki. Diusap-usapnya pipinya dengan kesal. Kenki masih terkekeh dan hendak menyahut saat seorang pelayan datang membawa dua gelas air dan menanyakan pesanan mereka.

"Yang super ya. Daging babinya yang banyak." Ujar Kenki cepat.

Pelayan itu mengangguk dan berlalu. Mulut Mitsuya menganga dan detik berikutnya langsung mencubit-cubit lengan Kenki. "Kenapa malah pesan yang ituuu?"

Kenki menjauhkan lengannya dan nyengir sambil mencubit hidung Mitsuya. "Aku tak peduli pipimu bertambah bulat atau tidak. Micchi tetap cantik kok." Mungkin sudah diciumnya tunangannya itu kalau saja bukan karena panggangan panas di tengah meja.

Wajah Mitsuya sontak bersemu dan ditepisnya tangan Kenki. "Aku tak mempan dirayu." Sungutnya.

"Sou?" Kenki terkekeh. Pelayan datang lagi dengan pesanan mereka dan sejenak kemudian mereka sibuk memanggang okonomiyaki berukuran cukup besar untuk dihabiskan berdua. Pada akhirnya Mitsuya tetap makan dengan lahap karena perutnya memang sudah lapar sekali. Malahan menambah katsuobushi dan mayonaise banyak-banyak. Kenki tertawa sampai terbatuk-batuk dan Mitsuya menimpuknya dengan manisan jahe.

"Micchi,"

"Hmm?"

"Mau buat tabungan berdua, tidak?"

Mitsuya nyaris tersedak karena sedang mengunyah dan buru-buru minum air putih banyak-banyak. Dia terbatuk beberapa kali lalu menatap Kenki beberapa lama. Tunangannya itu menatap lurus-lurus padanya tanpa berkedip malahan sambil tersenyum.

"Umh...tabungan berdua?"

Kenki mengangguk.

"Untuk apa?"

Kenki menopang dagu dengan tangannya yang memegang sumpit. "Aku kan berniat menikah dengan Micchi."

Mitsuya nyaris tersedak lagi. Buru-buru ditelannya makanan dalam mulutnya dan minum lagi. Lalu memutuskan berhenti makan karena tak ingin tersedak lagi. Kemudian jadi agak salah tingkah.

Kenki memotong jadi dua potongan terakhir okonomiyaki di piringnya. Masih tersenyum. "Hmmm... Bagaimana bilangnya ya? Aku berniat meneruskan pertunangan kita loh. Beberapa hari ini terpikir kalau mungkin dengan punya tabungan bersama, kita bisa latihan untuk nanti. Micchi lebih pintar mengatur uang daripada aku. Mungkin aku juga bisa belajar dari kamu. Bukan berarti aku ingin kita cepat-cepat menikah loh. Micchi kan masih sekolah. Aku juga masih ingin menyelesaikan kuliah dan mencari pekerjaan yang bagus."

Mitsuya tak tahu harus bereaksi bagaimana. Di satu sisi dia tersanjung tapi di sisi lain, dia merasa pembicaraan ini terlalu cepat. Sekalipun tidak terlalu cepat, dia tak menyangka kalau masalah seperti itu harus dibahas juga.

"Aku tidak memaksa loh." Kenki berujar lagi. "Habiskan okonomiyakinya ya."

Mitsuya mengangguk dan menghabiskan makanannya dalam diam. Pemuda cantik itu masih tak banyak bicara ketika mereka melangkah keluar dan Kenki menggandeng tangannya lagi. Mitsuya balas menggenggam erat, sesekali mencuri pandang pada Kenki yang bersikap pembicaraan barusan tak terjadi sama sekali. Bahkan tak tampak tersinggung meskipun Mitsuya tak menanggapi. Kenki selalu seperti itu sampai Mitsuya sebal sendiri karena jadi merasa dia harus segera menjawab tapi dia sama sekali tak tahu harus menjawab apa.

Kenki mengantarnya pulang, tentu saja. Begitu menghentikan mobil dan mematikan mesin, Mitsuya sibuk membereskan barang belanjaan dan tasnya.

"Yuuki-chan belum pulang?" Tanya Kenki saat melihat lampu rumah yang gelap.

Mitsuya mengangguk. "Menginap di tempat Wada-sensei."

Kenki mengangguk-angguk. Badannya kemudian dicondongkan untuk mengecup pipi Mitsuya tapi langsung berhenti karena Mitsuya mendadak menoleh ke arahnya.

"Anu... Soal tabungan bersama itu..."

Kenki menggeleng. "Tak usah dipikirkan. Kalau Micchi tak mau, aku tak apa-apa kok."

Mitsuya ikut menggelengkan kepalanya. "Bukan. Maksudku, dulu kan kamu pernah janji tak akan mengatur-atur aku..."

Kenki tertegun lalu tersenyum. "Maksudku sama sekali bukan itu loh. Kalau menikah nanti, pasti akan banyak pengeluran bersama kan? Aku tak ingin sampai lalai dan membiarkan kamu menggunakan semua uangmu untuk keperluan kita karena aku tak sadar. Kalau kita latihan dari sekarang, nantinya sudah tak ada masalah lagi kan?"

Mitsuya menatapnya. "Kenki....benar-benar ingin menikah denganku?"

Kenki mengangguk mantab. "Suatu hari nanti."

"Kalau aku menolak, apa kamu akan marah?"

Kenki tersenyum. "Tentu tidak. Aku kan sudah bilang, aku tidak mau memaksa. Aku sudah menduga kalau kamu mungkin akan keberatan."

"Kalau sudah menduga begitu, kenapa masih bertanya?"

"Karena."

Mitsuya memukul dada Kenki dengan gemas. Tangannya menggerut T-shirt yang dikenakan Kenki dan menariknya mendekat untuk mencium Kenki. Dipagutnya pelan bibir Kenki dan mengecup lembut.

"Aku tak yakin, tapi kalau hanya latihan, mungkin boleh juga." Ujarnya.

Kenki mengecup ujung hidungnya. "Harus yakin dong. Kalau begitu, lebih baik tidak usah saja."

Mitsuya menarik nafas. Dikecupnya lagi bibir kekasihnya. "Baiklah. Aku mau coba."

"Yakin?"

Mitsuya mengangguk. "Kenki belum pernah mengecewakan aku. Aku juga tak ingin membuatmu kecewa. Jadi, aku akan berusaha."

"Ureshii." Bisik Kenki sambil menarik Mitsuya mendekat dan mendekapnya erat seraya melumat bibir Mitsuya sampai Mitsuya mengerang lirih.

"Kenki tak mau menginap?" Tanya Mitsuya, menggesekkan ujung hidungnya ke bibir Kenki.

Kenki menggeram. "Ingin sekali."

"Besok ujian jam berapa?"

"Jam 10."

"Hmmm..." Mitsuya menjilat bibir penuh tunangannya. "Besok antar aku ke sekolah dulu ya."

Kenki terkekeh pelan. Disambutnya tangan Mitsuya yang terulur dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

-end-

Sunday, April 3, 2011

[fanfic] AU KazukixTakuya - First

Fandom: Prince of Tennis Musical
Pairing: Katou Kazuki x Yabuki Takuya
Rating: NC-17
Warning: NSFW, BL, AU, OOC
Disclaimer: I do own anything or anyone
Note: Hayo! Mau traktir gue apa nih, SATC? *angkat2 alis*
Btw, maap kalo garing ya.

ETA: poster made by Nei *kecup*




Awalnya hanya berniat untuk menjenguk apakah Takuya tidur dengan nyenyak atau tidak sebelum pergi tidur di kamar tamu. Awalnya sama sekali tak ada niat untuk mendekat dan mengecup kening Takuya dan membuat pacarnya itu terbangun dan memandangnya sambil mengantuk. Sama sekali tak ada niat untuk membalas genggaman tangan Takuya apalagi membalas ciumannya. Kazuki bahkan berani bersumpah dia sudah nyaris lari ketika Takuya menariknya mendekat sampai dia harus berbaring di sebelah pemuda itu dan Takuya menyelipkan kakinya di antara kaki Kazuki yang jenjang.

Katou Kazuki, 41 tahun. Tak akan mungkin bisa menolak Yabuki Takuya, 18 tahun, yang menciumnya dengan semangat dan tampak begitu nyaman dan enak untuk dipeluk di atas tempat tidurnya.

Kepalanya pusing saat Takuya mulai mengerang dan menarik-narik sweater putih tipis yang dikenakan Kazuki. Pertahanan dirinya benar-benar terancam dan dia harus membuat keputusan secepatnya. Ibunya, kakak dan adik-adiknya, orang tua Tori dan Tori ada di bawah atap rumah besar itu. Semalam Masahiro dan Tori sudah cukup tak tahu malu dengan tak menutup pintu dengan rapat, entah sengaja entah tidak, sampai suara mereka terdengar ke seluruh rumah. Pikirannya teralihkan begitu saja karena lutut Takuya menggesek selangkangannya.

Kazuki menggeram. Dilumatnya bibir Takuya yang merah muda mengundang lalu menyentuhkan kening mereka sambil bernafas dengan susah payah.

"Yakin?" Bisiknya, terkejut sendiri dengan suaranya yang begitu parau.

Takuya mengerjap. Dia sama sekali tak merencanakan semua ini. Tapi dia merasa begitu nyaman dan saat terbangun karena kecupan lembut Kazuki, Takuya begitu ingin pria itu jadi miliknya. Sebentar lagi dia lulus SMU dan Takuya merasa dia sudah menunggu terlalu lama. Ogoe-kun sering mengeluh punggungnya sakit dan disambut kikikan geli dari Tomo. Lain waktu, Takuya memergoki Mitsuya-kun berciuman dengan pemuda berahang kotak di balik rimbun pepohonan usai pertandingan. Kalau dua juniornya saja sudah sejauh itu dengan pacar masing-masing, Takuya merasa cukup.

Takuya membelai rahang Kazuki yang kokoh. "Kazuki menunggu setahun sebelum berani menciumku. Mau membuatku menunggu berapa lama lagi? Dan kalau bilang alasannya karena Kazuki ingin menjagaku baik-baik, aku akan memukul Kazuki."

Kazuki menelan ludah. Sungguh, dia memang sudah tak punya alasan lagi. Takuya bukan anak kecil lagi. Dia pemuda yang enerjik (di samping kebiasaan tidurnya yang tak tertolong lagi) dan sehat. Kazuki tak menyangkal kalau dia sudah melakukan beberapa hal dengan pacarnya saat seusia Takuya dulu. Karena itu, dia menggeleng.

Takuya merengut dan menggerut bagian depan sweater Kazuki. "Kamu aneh. Tempo hari langsung gelagapan bilang pada Papa kalau Kazuki ingin memintaku hanya karena kepergok Papa sedang berciuman denganku. Lalu mengajakku ke Amerika untuk bertemu dengan Ibu Kazuki dan mengatakan hal yang sama. Semuanya bahkan tak bertanya dulu padaku. Kalau berani melakukan hal sebesar itu...."

Takuya tak menyelesaikan kalimatnya dan Kazuki menghela nafas. Takuya sudah mengambil keputusan. Kazuki tak hanya kalah langkah dari adiknya tapi juga dari Takuya sendiri.

"Kalau begitu," Kazuki menelan ludah. "Sungguh-sungguh yakin? Karena aku sama sekali tak akan menahan diri lagi. Aku mungkin akan menyakitimu."

Takuya mengangkat wajahnya, menggigit bibir Kazuki dengan gemas. "Meremehkan aku ya? Aku ini pemain tenis. Aku sudah biasa terluka."

Kalimat itu terdengar seperti bohong karena ketika Kazuki akhirnya membulatkan tekad dan melucuti pakaian mereka, nafasnya tercekat menatap tubuh Takuya. Kulitnya putih mulus tanpa cela, lekuk-lekuknya ramping di tempat yang tepat dan ototnya terbentuk bagus karena selalu terlatih. Tanpa sadar Kazuki menjilat bibir saat matanya bergerak ke bawah. Takuya, sadar dirinya tengah diamati, langsung menarik kedua kakinya untuk menutupi bagian paling pribadinya dari mata Kazuki yang memandangnya dengan begitu lapar. Bagaimanapun, ini tetap yang pertama untuknya dan dia merasa agak sedikit malu.

Pun, dia melirik ke arah Kazuki dan menarik nafas melihat tubuh pria itu. Kulit kecoklatan Kazuki, bentuk tubuhnya yang masih terjaga dengan baik karena Kazuki rutin pergi ke gym tiap dua hari sekali. Wajahnya memanas saat mendapati kemaluan Kazuki yang sudah mulai berdiri tegak.
Takuya mengulurkan tangannya, ingin menyentuh Kazuki. Untunglah pria itu tanggap dan berbaring di sebelah Takuya, memudahkan tangan Takuya menjelajahi tubuhnya mulai dari pundak hingga ke perut. Takuya tersenyum saat nafas Kazuki mulai memburu, matanya terpejam dan sesekali melenguh karena sentuhan Takuya terasa seperti membakar kulitnya.

Kazuki mengepalkan tangannya sebelum melakukan hal yang sama pada tubuh Takuya seraya menanamkan baik-baik dalam ingatannya di bagian mana Takuya suka disentuh dari cara tubuh Takuya bereaksi dan erangan lembutnya. Kazuki kemudian mengangkat tubuhnya, menumpukan siku di sisi kepala Takuya dan merendahkan tubuhnya. Takuya meletakkan tangannya di atas lengan Kazuki.

Cantik sekali. Pikir Kazuki. Rambut Takuya yang kecoklatan membingkai wajahnya yang seputih susu dan matanya mengerjap tanpa dosa. Kazuki pun menciumnya, meyakinkan diri kalau apa yang akan dilakukannya sama sekali bukan sesuatu yang salah dan sama sekali tak patut untuk disesali kemudian karena dia begitu menyayangi pemuda ini. Saat Takuya membuka bibirnya dan mengejar lidah Kazuki yang menyerbu masuk, Kazuki tahu dia tak ingin membuang-buang waktu lagi.

Kulit mereka bersentuhan dan Takuya mendesah. Tangannya kini diletakkan di atas bahu Kazuki, membalas ciuman Kazuki dengan tak kalah antusias dan berbagi hasrat yang sama. Tak hanya sekujur tubuhnya yang mulai berpendar dan terasa begitu sensirif, selangkangannya mulai berdenyut hangat dan agak nyeri. Jantungnya berdebar makin kencang mengira-ngira apa yang akan dilakukan Kazuki saat merasakan pria itu beringsut.

Kazuki beralih mengecupi rahang dan leher Takuya, terus turun ke leher dan dada pacarnya itu. Rasanya manis sekali. Takuya menarik nafas tajam saat Kazuki menemukan tonjolan dadanya. Sentuhan basah lidah Kazuki membuatnya mengerang dan melengkukan punggung. Takuya terengah, menyelipkan tangan ke antara tubuh mereka dan melakukan hal yang sama pada Kazuki dengan jari-jarinya. Kazuki mendesis, tubuhnya bergetar karena sentuhan Takuya mengirim sinyal begitu nikmat sampai dia merasa begitu dekat dengan puncak kenikmatan itu.

Takuya membisikkan namanya. Terdengar begitu manis dan bergairah di telinga Kazuki. Kazuki menjangkau ke lemari kecil di dekat tempat tidurnya, mengobrak-abrik laci dengan tak sabar dan begitu menemukan apa yang ia cari, ia berlutut di depan Takuya.

Wajah Takuya terasa panas saat melihat Kazuki melumuri tangannya dengan cairan bening dari dalam botol kecil itu. Kazuki menatapnya sesaat lalu menangkupkan tangannya yang besar di sekeliling kemaluan Takuya. Takuya mengerang. "Angh...."

Kazuki menggerakkan tangannya, perlahan, ke atas dan ke bawah. Tangannya yang lain mengelus sisi paha dan pinggul Takuya, membuat pemuda itu melebarkan kakinya dan mengangkat pinggul. Takuya membuang muka, tak berani menatap Kazuki dan mengerang saat Kazuki mulai menekan lembut di beberapa tempat, mencari-cari titik yang sensitif. Lagi-lagi menjadikan erangan Takuya dan hentakan pinggulnya sebagai panduan.

Sungguh, dia tak mengerti bagaimana mungkin dia bisa menunggu selama itu untuk sesuatu seperti ini.

Takuya tersengal, tangannya menggerut seprai dengan erat. Sebentar lagi, sebentar lagi Kazuki akan jadi miliknya. Sepenuhnya miliknya. Takuya mengerang, menjulurkan tangannya dan mengaitkan jari-jari mereka saat Kazuki menyambut. Dia ingin dicium lagi karena rasanya begitu nikmat sampai Takuya nyaris tak tahan.

Kazuki memagut bibir kekasihnya dengan bernafsu. Menyalurkan hasratnya sendiri ke dalam mulut dan bibir Takuya yang masih terus mengerang dengan begitu manis dan menggairahkan. Kazuki melenguh. Dia bisa merasakan kemaluannya sendiri mulai terasa nyeri dan sudah meneteskan cairan bening dari ujungnya.

"Katakan. Katakan kau menginginkanku." Bisiknya di depan bibir Takuya dan tangannya menghentak ke bawah dengan keras.

"Anh!" Tubuh Takuya menggelinjang. Pinggulnya terangkat tinggi dari kasur dan dipagutnya bibir Kazuki. "Mnh... Aku ingin... Aanh... Aku ingin Kazuki...aaaagh."

Kazuki mencium Takuya sekali lagi sebelum duduk tegak, menjangkau botol pelumas lagi dan melumuri kemaluannya yang tegang. Jari-jarinya pun dilumuri sekali lagi. Takuya berbaring dengan terengah-engah, mengamati Kazuki dengan jantung berdebar keras. Pemandangan itu tak bisa membuatnya berpaling. Kazuki terlihat berkonsentrasi penuh dan mendesah saat menggerakkan tangannya di kemaluannya sendiri. Takuya menarik nafas dalam-dalam saat Kazuki memposisikan dirinya di antara kedua kaki Takuya. Dengan lembut ditumpukannya kaki Takuya di atas pahanya dan beringsut mendekat.
Jari-jarinya menyentuh ke antara celah bokong Takuya dan mengelus jalan masuk ke tubuh pemuda itu. Takuya menggigit bibir namun tak urung memekik saat satu jari Kazuki menembus perlindungannya. Jari Kazuki yang panjang menekan masuk perlahan sementara matanya memperhatikan ekspresi Takuya.

Pemuda itu kembali menggigit bibir karena rasanya agak tak nyaman. Kazuki menyentuh dagu Takuya, khawatir Takuya akan menggigit bibirnya hingga berdarah. Diusapnya dengan lembut bibir Takuya yang memerah, begitu lembut seperti mengelus kelopak bunga. Takuya mengerjap, menemukan Kazuki tersenyum dan melihat betapa tampannya pria itu. Takuya pun tersenyum kecil. Lalu mengerang karena Kazuki mulai menggerakkan jarinya. Perlahan, mempersiapkan tubuh Takuya dengan penuh sayang.

Beberapa kali dan Kazuki sudah sangat tak tahan. Ditariknya jarinya keluar dengan pelan lalu membawa kemaluannya ke depan jalan masuk ke tubuh Takuya. Ujung kemaluannya menekan pelan dan Kazuki menggeram. Badannya merunduk untuk mencium Takuya, menatapnya mencari ijin untuk masuk dan Takuya mengangguk kecil. Kepercayaan besar itu membuat tubuh Kazuki bergetar dan mulai menekan masuk.

Takuya membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Tangannya mencengkeram lengan Kazuki dengan erat. Sakit sekali sampai air matanya nyaris terbit dan nafasnya tersengal hebat. Kazuki menggeram, tubuh Takuya mencengkeram erat dengan defendif dan nyaris membuatnya meledak. Maka ia berhenti bergerak, mengelus pinggul Takuya dan menciumnya untuk menenangkan Takuya.

Kazuki kembali bergerak setelah Takuya menarik nafas dan mengangguk. Tak berapa lama, Kazuki mendapati dirinya terbenam seluruhnya di dalam tubuh Takuya yang hangat dan berdenyut lembut. Rasanya luar biasa. Sangat luar biasa dan begitu nikmat. Kazuki menumpu tubuhnya dengan siku kanannya sementara tangan kirinya mengangkat kaki kiri Takuya dan mulai menyentak-nyentak pendek agar Takuya terbiasa dengan ukuran tubuhnya.

Takuya bahkan tak sempat mengambil nafas saat Kazuki mulai bergerak. Bibirnya melepaskan erangan-erangan sementara sesuatu yang nikmat menjalar dari bagian bawah tubuhnya, menyelusup ke tiap sendi dan membuat seluruh tubuhnnya menggelenyar. Perlahan Takuya mulai tak mempedulikan rasa sakitnya dan merasakan gesekan lembut dalam tubuhnya. Otot tubuhnya otomatis mulai mengencang, menyambut tiap kali Kazuki menekan masuk.

"Anh...ahn...Kazuki...mmnh..."

Kazuki pun menarik kemaluannya, nyaris seluruhnya lalu menghujam lagi. Kali ini mencoba menekan panjang dan dalam. "Sakit?" Tanyanya lirih.

Takuya menggeleng. "Umh...tidak... Ahn...rasanya...ah...sedikit aneh...tapi...aaaanh..."

"Di sini?" Kazuki menekan dari sudut yang berbeda dan tubuh Takuya menggelinjang hebat seraya mengerang keras. Kazuki tersenyum, mengganti kecepatannya secara berkala namun terus menerus menekan di titik yang sama.

Takuya sudah tak bisa berpikir. Erangannya tak terkendali. Titik yang disentuh Kazuki terasa begitu nikmat dan membuatnya melengkungkan punggung, melingkarkan kakinya di pinggang Kazuki untuk menariknya mendekat dan memohon lagi dan lagi.

Kazuki mengaitkan jari-jari mereka, meletakkan tangan mereka di atas lutut Takuya saat gerakannya makin cepat. Takuya pun mulai menggerakkan pinggulnya, menyamakan gerakan dengan Kazuki dan tubuh mereka bergerak dalam irama yang memabukkan.

Klimaksnya makin dekat dan Kazuki yakin dia tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Tidak dengan Takuya yang mengerangkan namanya dan tubuhnya mencengkeram makin erat. Takuya pun sudah tak sanggup bertahan. Sesuatu membuncah dalam dirinya, mendesak kuat dan akhirnya mendobrak pertahanannya, membuat Takuya menjerit dan melihat bintang di balik kelopak matanya. Kazuki menggerung dan menghentak beberapa kali sebelum menyusul Takuya mencapai puncak kenikmatan itu.

Mereka berciuman, panjang dan lama. Membagi perasaan dan hasrat yang masih meluap. Takuya memejamkan matanya, merasakan Kazuki masih menyentak lembut sementara tubuhnya sendiri masih dipenuhi gelenyar dan percikan nikmat. Kazuki akhirnya menarik keluar tubuhnya dan berbaring di sebelah Takuya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka sementara Takuya beringsut mendekat, memeluk Kazuki dan membenamkan kepalanya ke lekuk leher Kazuki. Seulas senyum meghiasi bibirnya. Kazuki pun mendekapnya erat.

Kazuki tak pernah jatuh tertidur dengan perasaan senyaman dan sepuas itu seumur hidupnya.

Thursday, March 31, 2011

[fanfic] AU Ma-kunxTori - Pictures

Author: Panda & Icha
Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Inoue Masahiro x Matsuzaka Tori
Rating: NC-17
Warning: BL, AU, OOC, NSFW
Disclaimer: I don't own anyone and/or anything
Note: Jadi, ceritanya kan ada majalah AnAn yang sangat ndosani itu. Trus Anne langsung nyikut gue begitu liat Shunsuke yang TAMPAK SANGAT YUMMY DI TEMPAT TIDUR HANYA TERTUTUP SELIMUT DI PINGGUL *coughs* dan dia menuntut dibikinin fanfic. Lalu, karena danna-sama tanuki mesum tersayang jadi ngebayangin celengdebu yang pose kaya gitu (jsdkfjsgdkjfgsdkjfgskjdgfksjdgfsajgbcskdhfhaskldhflkfghldkfghkldhsgdajgds!!!!!), jadilah stensilannya Ma-kunxTori dan bukannya YunxShunsuke. Sekian. Selamat menikmati~




Masahiro menatap kotak terbungkus kertas cokelat yang dipegangnya. Di bagian alamat pengirim hanya tertulis nama Yuzawa-sensei. Dimiringkannya kepalanya sembari mengguncang kotak itu di dekat telinga. Terdengar suara seperti tumpukan kertas bergesekan. Ah, pasti hasil pemotretan yang diceritakan Tori beberapa waktu yang lalu. Masahiro penasaran seperti apa hasil fotonya, karena Yuzawa-sensei melarangnya datang dan melihat. Tori juga meyakinkan bahwa ia tak perlu datang karena toh pemotretannya di apartemen Tori. Tapi setelah lama bekerja sama dengan Yuzawa-sensei, Masahiro tahu bahwa yang ditangkap kamera fotografer itu seringkali tidak biasa, maka ia tetap saja penasaran. 

"Tori, ada kiriman dari Yuzawa-sensei! Boleh kubuka?"

Tori menata peralatan makan yang baru saja dicuci dan dilap ke dalam lemari gantung. Nyaris saja menjatuhkan gelas yang tengah dipegangnya saat mendengar suara Masahiro dari ruang depan. Tak sampai sebulan sebelumnya, Yuzawa-san menghubunginya dan mengutarakan niat kalau dia mau memotret Tori. Tori paham kalau dia jadi model dadakan saat kebetulan menemani Masahiro pemotretan tapi Tori sama sekali tak mengerti kenapa Yuzawa-san sampai mau memotretnya secara khusus. Yuzawa-san tertawa dan bilang kalau dia sudah ingin memotret Tori dari pertama dia melihat Tori.

Setelah dibujuk rayu seharian, akhirnya Tori mau. Tapi dia nyaris saja mengusir Yuzawa-san pergi saat fotografer itu datang dan meminta Tori berpose hanya dengan sehelai selimut sebagai kostumnya. Itupun Yuzawa-san harus bersumpah kalau hasilnya tak akan dipublikasikan kemana-mana dan hanya boleh ditunjukkan pada Masahiro. Dan sepertinya yang sedang ada di tangan Masahiro sekarang adalah hasilnya. Tori penasaran juga sih.

"Umh... ya, buka saja." serunya seraya menyelesaikan pekerjaannya dengan wajah merah. Entah kenapa.

Masahiro membawa kotak itu ke meja dapur dan duduk di sana sementara Tori masih sibuk membereskan peralatan makan yang mereka pakai sarapan. Beberapa menit kemudian ia sudah selesai membuka bungkus kertas cokelat kiriman itu. Di dalamnya terdapat kotak hitam polos yang dikenali Masahiro sebagai wadah favorit Yuzawa-sensei untuk mengirimkan foto kepada orang lain.

"Sepertinya foto hasil pemotretan yang Tori ceritakan padaku kapan hari itu ya? Sensei memang suka sekali memotret Tori ya," ujar Masahiro sembari membuka kotak itu dan mengambil setumpuk foto berukuran kartu pos dari dalamnya. 

Foto yang pertama mengabadikan Tori di ruang tamu apartemen itu, sedang menonton TV hanya dengan memakai kaus tak berlengan dan celana katun. Foto berikutnya menunjukkan Tori di dapur, sedang mengisi gelas dengan air dari kran di wastafel, dan kemudian meneguknya di foto berikutnya. Melakukan hal-hal yang begitu biasa namun entah kenapa terlihat amat seksi. Hanya melihat pantulan cahaya dan bayangan bermain di tonjolan jakun di leher Tori saja dapat membuat Masahiro menelan ludahnya dengan mata terpaku. Yuzawa-sensei memang bukan fotografer sembarangan. Atau modelnya yang bukan model sembarangan--Masahiro tak begitu paham dan tak peduli juga sebenarnya. Napasnya mulai terasa berat saat entah foto keberapa menunjukkan punggung Tori yang setengah terbuka, kausnya sedang ditarik setengah terlepas, sebelah bahunya ditimpa cahaya dari jendela yang setengah terbuka. Tonjolan otot dan tulang belikatnya terlihat jelas di bawah kulit cokelatnya yang berkilau dan Masahiro harus menahan napas.

Dipaksanya tangannya untuk bergerak dan memperlihatkan foto selanjutnya, dan Masahiro sukses tersedak. Di lembar berkilau itu tercetak sosok Tori yang duduk di tempat tidur, punggungnya bersandar ke dinding, hanya tertutupi selembar tipis kain putih. Sebelah lengannya tertekuk bersandar pada tumpukan bantal di sisi kirinya sedangkan lengan kanannya tertekuk di depan tubuh, telunjuknya menyentuh tempat di mana sepasang tulang selangkanya bertemu tulang dada, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur. Atau mengajak tidur.

Masahiro menelan ludah susah payah sebelum akhirnya berhasil bersuara, "Tori, um. Pemotretannya kemarin seperti apa?"

Tori tertawa malu. Pura-pura mengelap counter sebelum berbalik dan menyilangkan tangan di depan dada. Menggaruk ujung hidungnya dengan tersipu-sipu dan sejenak salah tingkah.

"Umh... yah... bilang dibilang... seperti waktu Ma-kun pemotretan katalog pakaian dalam dulu... sih."

Dan dilihatnya wajah Masahiro yang berekspresi begitu aneh. Tori meringis dan maju beberapa langkah. "Kenapa? Hasilnya jelek ya? Aku bukan Ma-kun yang profesional sih."

Masahiro menatap Tori beberapa saat sambil berkedip. Bagaimana mungkin orang yang berdiri dengan pipi bersemu merah ini ternyata sama dengan makhluk berkulit kecokelatan yang terlentang di atas sprei acak-acakan hanya memakai celana dalam saja, menatap kamera dengan begitu sensualnya. Tanpa sadar ibu jari Masahiro menyusuri paha makhluk di foto itu dan berhenti di bagian selangkangan, napasnya seakan tercekat. 

"I...ini... aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya," sahut Masahiro sambil sedikit menyorongkan foto di tangannya ke arah Tori.

Tanpa sadar Tori menggembungkan pipinya. "Mou. Bilang saja kalau jelek." Namun tak urung didekatinya juga Masahiro dan diambilnya foto yang dipegang pacarnya itu. Tori tak pernah percaya diri kalau harus memamerkan tubuhnya. Di kolam renang atau di depan pacar, itu masalah lain. Sewaktu Yuzawa-san memintanya melepas pakaian pun, Tori harus benar-benar berusaha keras tak terlihat tersipu. Tapi memang Yuzawa-san benar-benar fotografer yang handal. Dia bisa membuat Tori merasa sangat nyaman dan tak mempedulikan kamera. Diamatinya foto di tangannya dan wajah Tori langsung memanas. Tori seperti melihat orang lain. Orang lain yang berpose begitu menggoda dan.... entahlah. Tori jadi merasa agak tak nyaman. Diulurkannya foto itu kembali pada Masahiro dan tanpa berkata apa-apa beranjak ke kamar.

"Tori?" Masahiro memandangi Tori yang melangkah menuju kamar dengan bingung. Tanpa berpikir panjang diikutinya tunangannya itu, masih sambil membawa sebagian tumpukan foto itu. "Hei, ada apa?"

Tori duduk melipat kaki di atas tempat tidur. Bagian bawah wajahnya ditutup dengan tangan. Ditatapnya Masahiro dengan wajah masih memerah. "Ma-kun.... tidak risih lihat foto itu?"

Masahiro tersenyum, meletakkan foto-foto yang dipegangnya di sisi tempat tidur lalu memanjat naik dan duduk di depan Tori. Tangan kirinya meraih wajah Tori sementara tangan kanannya menarik lembut tangan Tori menjauh dari wajahnya agar dapat melihat semu merah di pipi Tori. "Kenapa aku harus merasa risih?"

Tori beringsut mendekat. Balas menggenggam tangan Masahiro dengan pelan. "Umh... aku tak tahu kenapa mau saja disuruh berpose seperti itu oleh Yuzawa-san. Tak menyangka saja kalau..." Tori mengedikkan bahu. "...hasilnya akan seperti itu. Aku bahkan tak sadar memasang muka seperti itu." Dokter muda itu mendesah lagi. "Aku tidak nyaman saja melihatnya. Ma-kun juga kan? Karena itu tadi wajahmu aneh."

Masahiro tersenyum lagi. "Wajahku aneh karena Tori kelihatan mengagumkan," ujarnya sambil menggenggam jemari Tori. "Tadinya aku bahkan berpikir kenapa Tori tidak menjadi model saja, sayang sekali kemampuan seperti ini disia-siakan," Masahiro mengecup buku-buku jari Tori lembut. "Tapi lalu aku bersyukur Tori bukan seorang model. Karena yang bisa melihat Tori seperti itu... dan menyentuh Tori yang seperti itu, hanya aku seorang saja." Masahiro menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidung Tori kemudian mengecup lembut bibir dokter muda itu.

Tori balas mengecup dan memagut pelan bibir atas dan bibir bawah Masahiro bergantian. Kemudian mengecup ujung hidup Masahiro dan menggigit pelan. "Waktu pertama berpose seperti itu, Masahiro tidak risih?" bisiknya. Tangannya bergerak melingkari leher Masahiro dan mengelus tengkuk pemuda itu. 

"Mmmmm," Masahiro memutar matanya ke atas sambil mengusap-usap pipi Tori dengan ibu jarinya. "Tidak terlalu. Habisnya aku hanya mengikuti petunjuk pengarah gaya. Kalau lama-lama pakai acara risih segala nanti bisa-bisa masuk angin. Jadi sebisa mungkin cuek saja, hehehe."

"Dasar tukang pamer." Tori terkekeh pelan. Mendadak melupakan rasa malunya dan memiringkan kepala ke sentuhan tangan Masahiro. Ditarik-tariknya ujung rambut Masahiro dengan sayang. "Menurutmu fotoku tadi bagus? Perlu dipajang di ruang tamu?"

"Eh tidak usah!" Masahiro buru-buru menyergah sambil agak cemberut. "Nanti kalau orang lain lihat bagaimana? ...kutaruh di dompetku saja, ya?"

"Untuk apa ditaruh di dompet?" Tori memiringkan kepala lagi.

Masahiro mencondongkan kepalanya dan menggigit lembut leher Tori. "Untuk ganti kalau Tori sedang tidak bersamaku," bisiknya.

Tori menggeram pelan. "Hmmm...mesum." Kepalanya dimiringkan, seperti sengaja memberikan lebih banyak kulit untuk dinikmati tunangannya.

"Mau bereaksi bagaimana lagi kalau diperlihatkan yang seperti itu," kilah Masahiro sambil mulai menjilati kulit leher dan bahu Tori. Dengan bibir tersenyum nakal ia membawa tangan Tori yang masih digenggamnya ke selangkangannya, menyentuhkan telapak Tori ke bagian yang sudah bereaksi dengan bersemangat sejak melihat foto-foto itu pertama kali. "Satu-satunya yang membuat aku tidak nyaman hanya ini."

Tori tertawa pelan. Tangannya menangkup tonjolan itu dengan otomatis. Menggenggamnya dengan erat dan tersenyum senang saat merasakannya melonjak senang dalam genggamannya. Tangannya mulai bergerak, menyentak pelan ke atas dan ke bawah. Tori lalu bergerak, memposisikan dirinya di pangkuan Masahiro.

Masahiro mendesis seiring sentuhan Tori. Matanya terpejam beberapa saat sebelum Tori naik ke pangkuannya. Kemudian dilingkarkannya kedua tangannya di pinggang Tori, sebelah tangannya menyusup ke balik kaus yang dikenakan Tori. 

"Aku ingin Tori berpose seperti itu," bisik Masahiro. "Tapi kali ini hanya untukku."

Tori menggesekkan ujung hidungnya ke pipi Masahiro. Wajahnya memerah lagi. "Memangnya apa bedanya dengan foto yang itu?" bisiknya parau. Pun begitu, jemarinya bergerak melepas kancing teratas kemeja yang dikenakannya sembari memaguti rahang dan pipi Masahiro.

Masahiro membantu melepaskan kancing-kancing kemeja Tori. Dinikmatinya setiap inci kulit kecokelatan Tori yang muncul dengan terbukanya setiap kancing. Tangannya kemudian mengusap punggung Tori, beralih ke pinggul, kemudian ke dada Tori. "Tentu beda, karena dengan begini aku bisa menyentuh kulit Tori yang indah," ujarnya sambil merunduk dan menjilat tonjolan di dada Tori.

Punggungnya melengkung nikmat, diiringi dengan desahan pelan yang meluncur dari bibirnya. Tori setengah bersyukur ini hari libur atau otaknya sudah akan mengingatkan kalau mereka sungguh tak punya waktu untuk bersenang-senang lagi di tempat tidur seperti ini. Tapi mungkin juga dia tak akan peduli. Cara Masahiro menatapnya penuh dengan pujaan dan hasrat yang tak pernah ditutupi dan membuat Tori tak lagi canggung dengan masalah foto itu. Karena itu, didorongnya lepas kemejanya dan melemparnya ke lantai. 

Tori mengangkat tubuhnya -mendesis pelan karena kulitnya tergesek ujung gigi Masahiro- dan berkutat dengan ikat pinggang dan kancing celananya. Tori tertawa pelan saat Masahiro membantunya beringsut keluar dari celananya dan menjatuhkan diri ke kasur. Tangannya menggerut selimut untuk menariknya dengan satu hentakan. Tori beringsut lebih ke atas, berbaring nyaman bersandar bantal dan menutupi dengan asal saja bagian pinggul dan selangkangannya dengan selimut putih itu.

"Kalau tak salah, begini ya?" ujarnya dengan suara serak, menatap Masahiro dengan mata setengah tertutup dan mengangkat sebelah kakinya.

Masahiro menelan ludah lagi, kepalanya serasa berasap melihat pemandangan menggairahkan yang tersaji di depannya. Perlahan ia mengulurkan tangan, ujung-ujung jemarinya menyentuh tungkai Tori hingga ke lutut. Kemudian diusapnya kedua paha Tori lembut. Terasa hangat dan lembut dan tatapan Tori dengan kelopak mata setengah terpejam sungguh membuat Masahiro junior melonjak gembira. Tangan Masahiro terus merayap naik dan berhenti di pangkal paha Tori, merasakan denyut bersemangat di selangkangan Tori tanpa menyentuh.

"Ya, begitu," ujar Masahiro parau sambil beringsut mendekat dan menjilat Tori dari pusar hingga ke tulang selangka.

Sentuhan lembut Masahiro membuat punggung Tori melengkung. Bibirnya mengeluarkan gumaman nikmat. Sentuhan basah lidah Masahiro pun terasa seperti membakar kulitnya, membangkitkan insting liar dan hasratnya makin menggebu. Tapi Tori menahan diri. Mereka punya banyak waktu dan pengalaman dengan Masahiro selalu membuktikan kalau akhirnya pasti tak akan pernah mengecewakan. Pun begitu, Tori tak bisa menahan tangannya untuk tak menyentuh dadanya dan jemarinya bermain dengan tonjolan di sana sementara bibirnya bergerak, menjilat dan memagut rahang Masahiro dengan menggoda.

"Fotoku itu membuat Ma-kun berpikir begini ya?" bisiknya yang langsung diputus erangan.

"Mmm, sebenarnya ada yang kurang," ujar Masahiro sebelum memagut bibir Tori. Tangannya bergerak di luar selimut untuk menyentuh selangkangan Tori dan menggenggam kemaluan Tori. Ia mulai menggerakkan genggamannya dari ujung hingga ke pangkal, kemudian sebaliknya sementara bibirnya beralih ke pangkal leher Tori dan menggigit serta mengisap lembut. Tangan Masahiro bergerak cepat, kemudian lambat, lalu ia menambah putaran pergelangan tangannya--dalam cara yang ia tahu disukai oleh Tori. Suara erangan Tori membuatnya makin bersemangat. Masahiro menyentuhkan ibu jarinya ke ujung kemaluan Tori, kemudian menarik tubuh menjauh dan berlutut di hadapan Tori.

"Nah, sekarang lebih mantap," cetusnya sambil nyengir, menatap Tori yang masih bersandar di bantal. Namun kini rambut dokter muda itu acak-acakan, bibirnya memerah karena dicium, serta ada bekas perbuatan Masahiro di pangkal lehernya. Tak ketinggalan, selimut yang menutupi pinggulnya tampak terangkat di bagian depan karena menyembunyikan sesuatu yang berdiri tegang dan bersemangat. Bahkan telah ada pola cairan menyebar tepat di puncak tonjolan selimut yang tak seberapa tebal itu. Masahiro menjilat bibirnya tanpa sadar, tak sabar untuk melahap Tori.

Pinggul Tori terangkat dengan sukarela, bergerak seiring dengan hentakan tangan Masahiro. Dia pun mengerang sesekali saat gerakan Masahiro atau ciumannya terasa begitu nikmat. Wajahnya bersemu merah saat mendapati bercak basah di selimut yang menutupi bagian tubuhnya yang sudah bersemangat sekali namun bibirnya tersenyum. Tori mengangkat kepalanya, mengejar bibir Masahiro yang menggoda dan menjilat garis bibir Masahiro. "Apa yang kurang?"

Masahiro menggigit bibirnya menahan gemas, kemudian ia beringsut maju kembali. Jemarinya menemukan tonjolan di dada Tori dan mulai memainkannya sambil menciumi rahang Tori yang kukuh. "Yang kurang adalah suara Tori menjeritkan namaku," bisik Masahiro.

Mendengar itu, Tori tertawa pelan dan rendah. Sekali lagi memastikan dia mengerang dengan begitu menggodanya sesuai dengan keinginan tunangannya itu. Diam-diam, Tori selalu menikmati bagaimana mata Masahiro menyala tiap kali mendengarnya mengerang. 

Ada saat-saat Tori sengaja memancing Masahiro untuk menggodanya dan membuatnya mengerang sampai Masahiro tak tahan untuk tidak menariknya ke ranjang, sofa, meja atau dalam beberapa kesempatan, memepet Tori ke dinding. Kali ini pun, Tori sengaja memposisikan bibirnya di dekat telinga Masahiro agar pemuda itu bisa mendengar dengan jelas. 

"Kalau begitu...mmh... buat aku menjerit..."

Suara Tori yang begitu dekat dengan bibirnya membuat Masahiro menggeram dan harus menggigit kulit leher Tori lagi. Diam-diam Masahiro menganggap salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta pada Tori adalah suaranya yang dalam, selalu tegas dan berwibawa saat berbicara dengan orang lain dan akan berubah menjadi begitu parau dan seksi jika mereka sedang bercinta. Diangkatnya sebelah paha Tori sambil beringsut mendekat, menumpangkan paha Tori di atas pahanya dan menggerakkan pinggulnya ke depan. Kemaluannya yang masih terbungkus celana bergesekan dengan kemaluan Tori yang sama tegangnya dengan miliknya, dan Masahiro mendesis. Dikecupinya sisi leher Tori, terus ke belakang telinga dan ke pelipis Tori yang mulai basah oleh keringat sambil terus menekankan pinggulnya 

"Mmmh, Tori~"

Tekanan pinggul Masahiro membuat Tori menarik nafas tajam. Seprai lembut yang menutupi kemaluannya menggesek kulitnya dan memberi sensasi nyeri yang nikmat. Melihat Masahiro yang bahkan tak ambil pusing untuk menyingkirkan selimut itu atau celananya sendiri, Tori tahu dia sukses membuat pemuda itu lupa diri. Kedua tangannya diletakkan di atas dan sisi kepala Masahiro, membimbing pemuda itu ke tempat-tempat yang Tori ingin disentuh. Pinggulnya pun mulai bergerak pelan, balas menekan ke atas dan ke bawah, bergesekkan dengan milik Masahiro meski terhalang selimut dan bahan celana cargo. Tapi rasanya nikmat sekali dan Tori memberitahu Masahiro lewat erangannya.

Masahiro menggeram rendah merasakan Tori mulai membalas tekanannya, membuat gesekan ke selangkangannya semakin memberikan rasa nyeri yang nikmat walaupun masih terhalang berlapis-lapis kain. Tapi ia tidak berniat untuk menghilangkan penghalang di antara mereka itu, tidak saat itu juga karena rasanya ia sudah tak sanggup menahan nafsu. Ada kalanya Masahiro ingin membuat permainan mereka bertahan selama mungkin, membuat Tori terengah nyaris kehabisan napas dan suara. Tapi tidak saat ini. 

Tangan kanannya terus menarik dan menekan tonjolan di dada Tori sementara tangan kirinya menyusup ke antara tubuh mereka, menggenggam dirinya dan Tori bersamaan. Bibirnya melumat erangan Tori dalam-dalam, menyapu langit-langit mulut Tori dan menggoda lidah Tori.

Merasakan getaran suaranya sendiri di dalam tenggorokannya, Tori menyambut lidah Masahiro dengan tak kalah bernafsu. Ditangkapnya lidah itu dan dihisapnya dengan kuat lalu melepas untuk menjentikkan ujung lidah mereka dan kembali melumat bibir Masahiro saat tunangannya itu menggeram rendah.

"Amnh... Ma-kun..." Tori menggerakkan pinggulnya, menekan ke bawah saat Masahiro bergerak ke atas, terjepit erat cengkeram tangan Masahiro dan terbalut lapisan bahan kain. Letupan familiar itu sudah menjalari sekujur tubuhnya. Tori mengangkat satu kakinya, mengaitkan tungkainya dengan betis Masahiro, membiarkan selimut putih itu membelit bagian bawah tubuh mereka.

"Motto...ah...ah...ahn..."

Sungguh suara Tori memang seksi. Entah bagaimana terbetik dalam benak Masahiro bahwa ia mungkin bisa klimaks dengan mendengar suara Tori. Suara Tori yang tersengal dan mengerangkan namanya dengan panjang, meminta sesuatu yang lebih. Masahiro memejamkan mata dan membenamkan wajahnya ke bahu Tori, membiarkan ujung-ujung rambut Tori menggelitik sisi wajahnya. Tangan kanannya merayap ke punggung Tori dan terus ke bawah, meraih bokong Tori dan menariknya merapat seiring dengan gerakan pinggulnya menekan ke depan dan genggaman jemarinya makin merapat. Masahiro mengerang, merasakan percikan-percikan kenikmatan menjalari tubuhnya.

Tori menyelipkan kedua tangannya ke bawah lengan Masahiro dan berpegangan pada bahu pemuda itu. Tori merasakan bagian bawah tubuhnya sudah basah sekali. Pinggulnya bergerak lebih cepat, mengejar kenikmatan yang sudah mulai mengaburkan pandangannya. Tori menengadahkan kepalanya, membiarkan Masahiro menikmati kulitnya. Dirasakannya Masahiro menekan dengan lebih keras dan hentakan juga cengkeram tangannya semakin kuat. Tori mengerang tanpa henti. Tak peduli apapun. Tubuhnya sudah tak terkendali dan lepas begitu saja.

"Ahn...Ma-kun... Ma-kun... ah! Mou... I... iku...aaah..."

Masahiro menggerakkan pergelangan tangannya, menekan titik-titik yang ia tahu dapat membuat Tori menjerit. Senang sekali rasanya saat merasakan Tori menggelinjang dan mengerang panjang. Dari gerakan pinggul Tori yang menjadi semakin cepat dan tidak beraturan dan tungkai Tori yang tak henti menariknya merapat, Masahiro tahu klimaks Tori sudah dekat. Bagus juga, karena ia sendiri juga rasanya tak akan tahan lebih lama lagi.

Diselipkannya jari tengah tangan kanannya menyusup ke celah di antara bokong Tori dan menekan jalan masuk ke tubuh Tori sambil berbisik parau di telinga Tori, "Ii yo. Ore mo... hnnngh, mou dame."

Sentuhan jari Masahiro di bagian belakang tubuhnya membuat tubuh Tori menggelinjang hebat. Tangannya sendiri mencengkeram pundak Masahiro dengan lebih erat, tak peduli apakah ia melukai pemuda itu atau tidak. Pinggulnya tersentak kuat dan kemaluannya bergesek kencang dengan milik Masahiro. Sekujur tubuhnya menegang dan bibirnya terbuka, melepaskan jeritan panjang seiring dengan sesuatu yang meledak di dalam dirinya dan meluncurkan cairan hangat dari kemaluannya. Pandangannya berubah putih dan pinggulnya menyentak-nyentak pendek, membisikkan nama kekasihnya selama ombak kenikmatan itu menyapu sekujur tubuhnya.

Masahiro dapat merasakan denyutan keras kemaluan Tori dalam genggamannya seiring menegangnya tubuh Tori dalam dekapannya. Hari ini Tori sungguh tak menahan diri sama sekali, dan jeritannya saat mencapai klimaks disertai rasa hangat dan basah yang membuat genggaman jemari Masahiro sedikit tergelincir membuat Masahiro melepaskan kendali dirinya. Membiarkan dirinya meledakkan gelenyar-gelenyar nikmat ke seluruh tubuh sementara tangannya tetap menggenggam dan menarik. Bisikan namanya dari bibir Tori seiring dengan sentakan-sentakan halus tubuh Tori membuat Masahiro tak tahan untuk tidak mencium kekasihnya.

Ciuman Masahiro membuat klimaksnya terasa makin nikmat. Tori balas memagut dan mengulum pelan bibir penuh cinta itu. Sentakan halus tubuh Masahiro dan geraman lirihnya disambut Tori dengan erangan pelan di sela ciuman mereka. Tori kemudian membenamkan wajahnya ke sisi wajah Masahiro, mengecup pipi dan pelipis pemuda itu yang tertutup peluh. Tori tertawa pelan. "Hmmm... kurasa tak ada buruknya aku sering-sering berpose seperti itu ya." Dikulumnya cuping telinga Masahiro.

Masahiro tertawa pelan, menusukkan hidungnya ke pipi Tori yang empuk. "Tentu saja, asal tiap memperlihatkan padaku Tori ada di sisiku. Kalau tidak aku bisa repot," candanya.

"Hmmm..." Tori bergerak, memeluk tunangannya dengan gemas. "Kalau aku tak ada, Masahiro mau bagaimana?" tanyanya menggoda.

"Hmmm, bagaimana ya," Masahiro mengulum senyum dan menarik tubuh sedikit menjauh. Sebenarnya ia tidak ingin melepaskan Tori, namun celananya mulai terasa tidak nyaman. Dengan cuek ditariknya celana kargo longgar yang dipakainya hingga lepas kemudian dilemparkannya asal saja ke salah satu sudut ruangan. Lalu dicarinya mata Tori lagi. 

"Sepertinya, aku akan memandangi foto Tori itu, membayangkan Tori di depanku, menggeliat sementara aku menyentuh Tori... sambil melakukan ini," Masahiro berbicara dengan suara rendah sembari mengusap rahang Tori dengan ibu jarinya. Sedangkan sebelah tangannya menyentuh dirinya sendiri, masih terasa tegang walaupun baru saja klimaks.

Tori mengerjap, sedikit terpana melihat Masahiro kecil yang perlahan mulai menegang lagi. Dia seharusnya tahu Masahiro tak akan puas dengan yang barusan saja meski rasanya cukup intens. Sudut bibit Tori terangkat dan matanya berkilat. Tangannya terulur untuk menangkup tangan Masahiro dan mengikuti gerakannya. "Seperti ini juga kalau sedang tak bisa bertemu denganku?"

Pemandangan jemari Tori yang bertaut dengan jemarinya sendiri--sedikit basah oleh sisa klimaksnya tadi--melingkari kemaluannya yang tampak mulai memerah bersemangat lagi memang menggairahkan. 

"Mmm, kadang-kadang. Aku kan pemuda sehat dan aktif," sahut Masahiro sambil tertawa kecil kemudian tersedak saat Tori menekan satu titik. "Tapi kalau Tori sedang tidak di sisiku, rasanya selalu ada yang kurang," Masahiro mengaku sambil mengecup kening Tori.

Tori merasa kepalanya melambung mendengar perkataan Masahiro. Dikecupnya ujung hidung Masahiro dengan gemas. Tangannya yang lain diletakkan di bahu Masahiro dan mendorongnya ke samping sampai pemuda itu rebah. Setelah menyingkirkan selimut yang membelit pinggulnya yang mulai terasa mengganggu, Tori memanjat ke atas Masahiro. Duduk di atas paha tunangannya, Tori kembali menggerakkan tangannya bersama tangan Masahiro, menekan di beberapa titik yang Tori tahu dengan pasti bisa membuat pemuda yang dicintainya itu lupa diri. 

Dua jari tangannya dikulum lalu dibawanya untuk menyentuh bagian bawah tubuhnya, menekan seraya mengerang, mempersiapkan tubuhnya sendiri lalu membungkuk untuk berbisik, "Aku juga sama kok. Ma-kun ga boku no naka ni... saikou..." Disusupkannya wajahnya ke lekuk leher Masahiro dan mulai mengecup dan menjilat kulit kekasihnya.

Masahiro mendesis dan melepaskan genggamannya, ganti meraih pergelangan Tori dan tertawa kecil dengan susah payah. "Kalau begitu singkirkan tangan Tori atau aku tidak akan sempat menggunakan tempat ini," ujarnya dengan jari tengah meraba jalan masuk tubuh Tori dan dua jari Tori yang bergerak keluar masuk. Ditatapnya kekasihnya yang super seksi itu, mengagumi ekspresi Tori setiap kali jemarinya menyentuh titik yang membuatnya meraskan kenikmatan. Masahiro menyentuh rahang Tori dan nyengir.

"Apa ini yang Tori lakukan kalau sedang tidak bersamaku?"

Tori menggeliat dan mengerang karena sentuhan Masahiro menambah kenikmatan yang sedang dirasakannya. Wajahnya bersemu merah dan menggeleng pelan, "Sabar dong...Mmnh..." Tori mengangkat pinggulnya, membawa jari tengah Masahiro masuk bersama dua jarinya sendiri dan melenguh.

"Hmm...Tidak selalu sih... ah... kalau sedang benar-benar kangen saja...mmh"

Sesaat kemudian, karena sudah merasa tak kuat, Tori membuka bibirnya, mengulum jemari Ma-kun yang berada dekat dengan mulutnya.

Masahiro beringsut mendekatkan bibirnya ke telinga Tori dan berbisik bertanya sembari menarik keluar jarinya dari jalan masuk tubuh Tori, "Lalu seberapa sering Tori merindukanku setengah mati?"

Ditariknya Tori mendekat dan menggesekkan ujung kemaluannya ke jalan masuk tubuh Tori, hanya menyentuh sedikit dan kemudian menjauh kembali, "Seminggu sekali? Tiga hari sekali?"

Dengan seksama diamatinya wajah Tori dan menekan masuk sedikit , hanya menembus lingkaran otot pertama dan kemudian menarik diri keluar kembali, perlahan. Amat perlahan. "Atau tiga kali sehari?" tanyanya dengan suara rendah.

Tori meletakkan tangannya di sisi pinggang Masahiro. Menjilat bibir dan mendesah lirih tiap kali Masahiro menekan masuk dan mengerang protes saat Masahiro sudah menarik diri sebelum benar-benar masuk. Pun begitu, dinikmatinya permainan kekasihnya yang manja itu. Tori menelan ludah dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.

"Hmm... dua bulan sekali..."

Masahiro tergelak, menjepit puting Tori di antara ibu jari dan telunjuknya, menarik dan memutarnya perlahan hingga menegang. Ditariknya Tori mendekat, mengulum cuping telinga Tori dan menggigitnya lembut kemudian berpindah menjilat bagian belakang telinga Tori. 

"Pembohong," tuduhnya sembari menekan masuk dengan cepat, hanya sampai separuh jalan dan kemudian menarik keluar lagi.

Tori tergelak yang langsung terputus erangan pendek. Pundaknya menggeliat geli karena cumbuan bibir Masahiro di dekat telinganya dan Tori mendesah. Nafasnya mulai memburu dan Tori menggigit gemas pipi Masahiro. 

"Kau kan tidak tahu aku bohong atau tidak..." sahutnya seraya mengerang lagi karena Masahiro kembali menekan masuk. Bosan dipermainkan Masahiro yang langsung menarik keluar lagi kemaluannya, Tori pun menggerakkan pinggulnya, menggesek kemaluan Masahiro dengan celah bokongnya. "Memangnya Ma-kun melakukannya tiga kali sehari?" cengirnya.

Masahiro menggigit bibirnya dan mendesis saat kulitnya yang terasa amat sensitif bergesekan dengan kulit bokong Tori yang hangat. Tak tahan lagi, ia mendorong tubuh Tori hingga rebah menyamping. Ia beringsut merapatkan dadanya ke punggung Tori. Diposisikannya kemaluannya di celah bokong Tori dan tangannya mengelus paha mulus Tori, mengaitkan tangan di belakang lutut kanan Tori. Masahiro mengangkat paha kanan Tori, membuka selangkangannya dan menekan masuk dalam satu tarikan napas, langsung membenamkan diri hingga ke pangkal seraya menggeram. "Mmmh, mungkin saja."

Tarikan nafas tajam mengiringi sensasi nyeri yang terasa seperti menariknya ke segala arah. Bibirnya membuka melepaskan erangan panjang. Rasanya memang tidak terlalu sakit karena Tori sudah mempersiapkan dirinya dan kegiatan mereka sebelumnya sudah cukup membuat Tori siap menyambut Masahiro ke dalam tubuhnya. Tapi memang perasaan seperti ini, ketika Masahiro yang terasa besar, keras dan berdenyut di dalam tubuhnya, selalu sukses membuat Tori merasa seperti terlempar ke dimensi lain yang memabukkan. Nafas hangat Masahiro di dekat tengkuknya membuat Tori merinding dan sungguh-sungguh tak tahan.

Sambil menyentuh kemaluannya sendiri, Tori mulai membawa Masahiro masuk lebih jauh ke dalam tubuhnya. "Hmm... aaahnn... Ma-kun mesum sekali ya...Ahn!"

Masahiro menarik napas tersengal. Perasaan diselimuti oleh bagian dalam tubuh Tori yang mencengkeram hangat saat menekan masuk pertama kali tidak akan membosankan berapa kali pun ia merasakannya. Setiap kali selalu terasa seperti pulang ke tempat di mana ia seharusnya berada, seperti melengkapi suatu ruang kosong dalam hatinya.

Digigitnya pundak Tori dan mulai bergerak tanpa menunggu Tori terbiasa dengan ukuran tubuhnya. Ada kalanya Tori ingin diperlakukan lembut, dimanjakan dengan tekanan lembut yang meregangkan dirinya perlahan-lahan sedikit demi sedikit. Tapi Masahiro tahu, tidak kali ini. Karena Tori juga tak berpikir panjang dan langsung menggerakkan pinggulnya menyambut hentakan pinggul Masahiro yang kuat dan tajam.


"Aku kan...hngh... hanya mengimbangi Tori saja."

Tori menggerut ujung bantal yang menyangga kepalanya. Punggungnya melengkung seperti sendok menjaga pinggulnya tetap rapat dengan pinggul Masahiro yang menyentak tajam dan cepat. Tori menyukai cara Masahiro mengganti-ganti kecepatannya, menggoda tubuh mereka untuk tak cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan itu. Tori pun menyamakan gerakan tangannya lalu menoleh, menyentuhkan ujung hidungnya dengan ujung Masahiro dan mencari bibirnya.

"Aku seperti ini...hnnngh... hanya untuk Masahiro...ah! Ahn! Mmnnh..."

Mendengar ucapan Tori yang seperti itu, Masahiro menggerung dan menopang tubuh bagian atasnya dengan siku kiri, melumat bibir Tori. Pinggulnya terus menghentak pelan dan dalam, kemudian berganti cepat dan tajam. Dijilatinya bibir Tori lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Tori, menggoda lidah Tori hingga keluar untuk kemudian dihisapnya ke dalam mulutnya sendiri. Ia baru melepaskan ciuman mereka setelah terengah nyaris tak bisa bernapas. Tersengal, Masahiro menarik lutut Tori lebih lebar lagi dan mulai menyentak masuk dengan sudut yang lain.

"Kenapa? ...apa karena... argh. Hanya aku yang bisa membuat Tori menjerit seseksi ini?"

"Aaaaghn!" Tori mengerang keras. Ujung kemaluan Masahiro menemukan titik sensitif di dalam tubuhnya dan hentakannya membuat tubuh Tori menggelinjang hebat. Tersengal-sengal, Tori membenamkan sisi wajahnya ke dalam bantal dan mengerang tak putus. Sesaat dia kehilangan ritme-nya namun setelah mencuri kesempatan untuk menarik nafas (yang nyaris tak mungkin), Tori kembali mengimbangi gerakan kekasihnya. Sekujur tubuhnya terasa panas dan menggelenyar nikmat. Tori melirik ke arah Masahiro, menatap ekspresinya yang penuh konsentrasi karena menahan diri. Tori mengencangkan otot tubuhnya, mencengkeram dengan kuat seraya tersenyum lagi.

"Himitsu..."

"Hrrgggghhhh!" Masahiro menghujamkan giginya ke bahu Tori nyaris tak kuat menahan diri karena tiba-tiba Tori mencengkeramnya begitu erat. 

"Pelit," cetus Masahiro di sela tarikan napasnya. Membalas perbuatan Tori, Masahiro menarik kemaluannya keluar nyaris seluruhnya kemudian menekan masuk dengan cepat dan dengan sudut yang sangat dikenalnya. Ia menyentak berulang kali dalam sudut yang sama, kadang pelan kadang cepat, menikmati gesekan kulitnya dengan otot di dalam tubuh Tori yang amat nikmat.

"Ima... kimochii ka?"

Tori menggigit bibir kuat-kuat meski kemudian tetap tak bisa menahan erangannya yang makin keras dan makin tak terkendali. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, antara menahan kenikmatan begitu membuncah dan menjawab Masahiro. Ada beberapa hal yang sebaiknya disimpannya sendiri. Dia tak sejujur itu dan membuat Masahiro penasaran adalah salah satu kesenangan Tori yang lain. Daripada itu, saat ini otaknya sudah tak sanggup berpikir apapun. Disambutnya hujaman tubuh Masahiro dengan cengkeraman yang makin erat. Tangan di kemaluannya bergerak makin cepat, membuat kemaluannya yang kemerahan terasa makin nyeri dan nikmat.

"Mmmmmnh... Ma-kun...Ii yo~ Nnngh..." Tori sudah tak sanggup. Dia butuh pelepasan itu sekarang juga.

Masahiro menjilat leher Tori kemudian menggigit rahang Tori yang terbentuk bagus. Sentakan pinggulnya berubah sedikit lambat, karena dengan cengkeraman Tori yang sekuat itu, ia akan selesai dalam beberapa kedipan mata saja. 

"Kochi?" Masahiro menekan masuk dengan pelan namun kuat, membuat pinggul Tori terangkat dari kasur. "Doko ka ii?" tanyanya. "Kochi?" tanyanya lagi, melepaskan tumpuan di lengan kiri dan menyusupkan tangan kirinya ke bawah tubuh Tori dan menyentuh ujung kemaluan Tori yang sudah begitu basah.

"Aaa~hn! Soko! Mmmngh..." Tori tak tahu lagi bagaimana mungkin Masahiro masih sanggup menahan diri sementara dirinya sendiri sudah yakin dia akan meledak setiap saat. Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Tori mengangkat tubuhnya. Mengerang lirih karena gesekan kemaluan Masahiro di dalam tubuhnya dan duduk di pangkuan pemuda itu. Kakinya mengait di belakang punggung tunangannya, kedua lengannya menggantung di leher Masahiro. Tori mendesah keras, kembali menggerakkan pinggulnya. Kembali mencengkeram tanpa ampun. Digigitnya leher dan rahang Masahiro lalu bibirnya yang penuh dan kemerahan.

"Ahn... soko ga ii....mmmnh... dakara... haanh..." Tori menekan turun, membawa Masahiro terbenam hingga ke pangkal. Tori mengunci pandangannya dengan sepasang lautan gelap di hadapannya, mengelus penuh sayang pelipis dan pipi Masahiro. "Dakara... ahn...boku no tame ni...aaaahngh.... itte?"

Masahiro melenguh keras saat Tori tiba-tiba mengubah posisi, membuat kemaluannya tertanam jauh di dalam tubuh Tori. Jelas menunjukkan bahwa kekasihnya itu sudah nyaris tak tahan lagi. Cengkeraman Tori yang erat bukan main disertai pinggulnya yang tak berhenti bergerak kontan membuat kendali apapun yang masih tersisa dalam diri Masahiro lenyap tertiup angin. Diraihnya pinggul Tori, mengangkatnya menjauh hingga nyaris melepaskan kemaluannya kemudian menariknya merapat seiring hentakan pinggulnya menekan masuk. 

Masahiro membalas tatapan Tori dan mencium kelopak mata Tori, lidahnya mencicipi setitik air mata di sudut kelopak. Dan setiap denyut nadi terasa membawa gelombang kenikmatan yang bertubi-tubi, sungguh membuatnya kecanduan. Di tengah semuanya itu, Masahiro kembali menangkap tatapan Tori yang lurus-lurus ke arahnya, bagaikan sepasang pusaran angin yang menariknya berputar dan tenggelam ke dalam pesona lelaki tampan di dalam dekapannya itu. Kekasihnya. Orang tercintanya. Calon suaminya. 

Sesuatu yang sejak tadi memuncak di dalam diri Masahiro pun membuncah dan meledak tanpa bisa ditahan lagi, pandangannya dibutakan cahaya menyilaukan dan ia menjeritkan nama Tori tanpa suara.

Tori yakin otaknya berhenti bekerja begitu Masahiro menghentak dengan makin cepat dan tajam nyaris tak terkendali. Tersengal-sengal hebat, Tori kembali mengecupi rahang Masahiro, tak berhenti mengerang dan melenguh. Selama beberapa detik, Tori menganggap Masahiro terlihat begitu tampan dan seksi dan Tori mencintai pemuda ini. Beberapa hentakan dan Tori merasakan tubuh Masahiro mengejang dan langsung disusul oleh sesuatu yang menyembur hangat ke dalam tubuhnya. Tori mencengkeram erat-erat dan melempar tubuhnya ke dalam gelombang besar kenikmatan itu.

Masahiro terengah-engah, masih membenamkan wajahnya ke lekuk leher Tori sementara tubuhnya tersentak-sentak sendiri. Samar dirasakannya cairan yang hangat mengalir di perut dan selangkangannya. Butuh waktu cukup lama sampai klimaksnya selesai, dan sepanjang waktu tersebut ia mendekap Tori erat-erat bagaikan tak ingin melepaskannya lagi.

Sambil balas memeluk erat tubuh tunangannya, Tori merasa dadanya sedikit sesak. Mendadak diingatkan kembali kenapa dia bisa jatuh cinta sebegitu parahnya dengan pemuda yang akan segera dinikahinya tak lama lagi ini. Rasanya penuh sekali sampai rasanya ingin menangis tapi Tori tak akan melakukannya. Dieratkannya pelukannya sampai orgasmenya perlahan-lahan berlalu. 

Dikecupnya rambut Masahiro yang lembab, menghirup dalam-dalam wangi tubuh Masahiro. Tori tahu dia tak akan pernah bosan berada bersama Masahiro. Dikecupnya telinga Masahiro dengan lembut, menggoda daun telinga pemuda itu dengan pucuk hidungnya dan berbisik dengan lirih, "Aishiteru."

Napas Masahiro tercekat sesaat mendengar bisikan Tori di telinganya. Begitu lirih namun begitu jelas terdengar, merasuk hingga ke dadanya. Ia terpaksa bungkam beberapa saat untuk mengambil nafas panjang yang bergetar sebelum meraih wajah Tori dan menatapnya dalam. "Ore mo."

"Aishiteru," bisiknya sembari mengecup dahi Tori yang dibasahi keringat. "Aishiteru," ulangnya sambil mengecup puncak hidung Tori. Disandarkannya dahinya ke dahi Tori, tertawa kecil kemudian tersenyum bahagia. "Aishisugiru."

Sungguh senyum pemuda itu memang menular. Tori tak pernah bisa tak ikut tersenyum tiap kali melihat Masahiro tertawa. Tori balas mengecup kening, hidung, pipi kemudian mengecup ringan bibir Masahiro. Ibu jarinya mengusap lembut rahang Masahiro, tertawa kecil dan terdengar begitu senang dan bahagia. 

"Hari ini di rumah saja ya..." bisiknya manja.

Masahiro tergelak dan menggigit pucuk hidung Tori pelan. Tangannya mengusap punggung Tori yang bersimbah keringat.

"Memangnya Tori belum puas ya?"

"Hmmm..." Tori menjilat dagu Masahiro "Sedang ingin berduaan dengan Ma-kun saja." Ujarnya seraya mengulum cengiran. "Lagipula, aku belum sempat lihat foto-fotoku. Siapa tahu saja kan?"

Masahiro menarik wajahnya menjauh dari Tori, memasang wajah terkejut dan membulatkan matanya lebar-lebar. "Tori bisa terangsang melihat foto-foto Tori sendiri? Oi, narsis juga ada batasnya."

"Sembarangan!" Tori mencubit dada tunangannya dengan gemas. "Maksudku, siapa tahu ada yang cukup bagus untuk dikirimkan ke rumah." ujarnya sambil pasang tampang polos.

Masahiro mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya sedikit. "Kurasa ayah Tori tidak berminat melihat anaknya telanjang. Apalagi Okaasan. Bisa-bisa aku dilemparnya dengan poci teh."

Tori tergelak lagi. "Kamu kan tak begitu tahu orang tuaku. Tou-san dulu pernah jadi model pakaian renang loh." 

Sejurus kemudian, Tori mengangkat pinggulnya, mengerang pelan saat kemaluan Masahiro tertarik keluar bersamaan dengan cairan putih yang mengalir pelan. Kemudian ditariknya pemuda itu untuk rebah membiarkan Masahiro setengah berbaring di atas tubuhnya. Mereka masih berpelukan erat , berbagi ciuman lembut dan senyum penuh cinta. Tori tak tahu lagi apakah ada lagi perasaan senyaman ini.

Masahiro mendesah nyaman, menyurukkan wajahnya ke leher Tori dan memejamkan mata. Rasanya nyaman sekali dan ia langsung merasa mengantuk. 

"Sepertinya hari ini memang harus di rumah saja," ujar Masahiro, menghirup aroma Tori dalam-dalam dan menarik selimut yang tidak basah hingga menutupi tubuh mereka. Dilingkarkannya lengannya di pinggang Tori. "Aku tidak mau melepaskan Tori," ujarnya sebelum jatuh tertidur.

Tori tersenyum dan mengecup kening Masahiro. Sejak tanggal pernikahan mereka ditentukan, pemuda itu sepertinya agak merasa tak tenang. Tori pun sebenarnya juga mulai gugup tapi berusaha meyakinkan diri kalau semuanya akan baik-baik saja. Sekilas terbersit di ingatannya kalau dirinya sempat menganggap tak akan pernah mengalami kebahagiaan seperti ini. Tori mengusir ingatan itu dan membenamkan wajahnya ke dalam helaian rambut Masahiro dan mengusap pelan punggung Masahiro, merasakan nafasnya yang tenang berhembus membelai kulit Tori. 

"Tidak. Aku yang tak akan pernah melepaskanmu." bisiknya lirih.