Cast: Furukawa Yuuta, Daito Shunsuke
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anyone
Note: Iseng aja nih :p
Yun melirik sekilas. Tangannya sibuk mencampur gula dan susu ke dalam cangkir kopi lalu menuang susu ke dalam cangkir kopi yang lain. Ia melirik lagi sebelum membawa dua cangkir berisi kopi yang menguarkan asap tipis dan aroma yang begitu harum itu ke ruang tengah. Shunsuke mendongak dari kesibukannya: kertas-kertas, handphone, iPad juga beberapa lembar foto dan pamflet; ia tersenyum saat Yun meletakkan sebuah cangkir di dekat iPad-nya.
"Arigatou." Gumamnya lalu kembali berkutat pada berkas di atas pangkuannya.
Yun mengecup pelipisnya sekilas lalu menempatkan dirinya di sebelah pengacara tampan itu. Cukup dekat hingga ia bisa melihat apa yang sedang dibaca Shunsuke.
"Kasus pembunuhan itu jadi tanggung jawabmu?" Tanyanya sekilas.
Shunsuke mengangguk. "Lusa sidang terakhir."
Yun ikut mengangguk. Mereka memang tak banyak membicarakan pekerjaan masing-masing. Terutama karena pekerjaan Shunsuke yang mengharuskannya menyimpan banyak berkas rahasia. Shunsuke pun tak banyak bertanya kecuali Yun bercerita tentang pekerjaannya. Seperlunya. Yang penting mereka tahu apa yang dilakukan pasangan mereka.
Shunsuke mendesah seraya menjangkau cangkir kopinya. Disesapnya perlahan dan dinikmatinya cairan hitam itu. Sesaat Yun mengira ia akan berhenti karena Shunsuke menyingkirkan berkas di pangkuannya ke atas meja, tapi ia malah meraih tumpukan kertas lain. Kali ini berisi sebuah daftar dan deretan angka. iPad-nya berbunyi dan dalam sekejab, Shunsuke langsung sibuk chatting dengan beberapa orang.
Beberapa pesan disertai foto, Yun langsung mengerti kali ini urusannya sudah berganti dengan urusan pernikahan teman Shunsuke. Yun mengangguk-angguk.
"Pink dan merah? Apa tidak terlalu perempuan?" Celetuk Yun saat sebuah gambar contoh dekorasi muncul di layar iPad Shunsuke. Pengacara itu terkekeh dan mengetikkan komentar Yun.
-My thought exactly- komentar seseorang bernama Aoki Tsunenori muncul di layar.
Yun tersenyum miring. Shunsuke tertawa sambil menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian ia mematikan aplikasi ngobrol itu lalu mengangkat kedua lengannya ke udara untuk meregangkan badan. Kepalanya digerakkan ke kiri dan ke kanan, menimbulkan bunyi keretak pelan dan pengacara tampan itu pun mendesah.
Jari-jari panjang Yun menyentuk tengkuk Shunsuke dan mulai memijat lembut. "Sudah semakin dekat ya?"
Shunsuke mengerang pelan, "Iya."
"Semuanya lancar?"
"Sejauh ini." Shunsuke mengangguk. "Ngomong-ngomong, Tori berterima kasih sekali karena kau mengenalkan Takiguchi-kun padanya."
Yun mengedikkan bahu. "Aku cuma mengenalkan. Bagus kalau memang bisa membantu."
Shunsuke tersenyum dan memajukan kepalanya untuk mencium Yun. Rubah besar itu pun dengan sigap merengkuh Shunsuke dalam pelukannya, memiringkan kepala agar ia bisa mencium Yun dengan sedikit lebih leluasa. Aroma kopi, susu dan mint bercampur jadi satu, berpadu dengan sentuhan lembut dan penuh hasrat. Shunsuke melingkarkan lengan ke sekeliling leher Yun, bergerak merapat lebih dekat dan mengerang pelan.
Yun tampak sedikit bingung meski bibirnya tersenyum saat Shunsuke mundur. "Untuk apa yang barusan?" Dikecupnya ujung hidung Shunsuke, tepat di tahi lalat imut yang bertengger di situ. Shunsuke nyengir. "Tanda terima kasih?"
Rubah itu tertawa. "Jadi kalau Matsuzaka-sensei menyampaikan terima kasihnya secara langsung, aku juga akan mendapatkan ciuman seperti tadi?"
"Maumu." Cibir Shunsuke.
"Tak ada salahnya berharap, dong." Yun menjulurkan lidahnya dan langsung mengaduh karena Shunsuke menggigitnya.
Shunsuke lalu merebahkan kepala di lengan Yun, bersandar nyaman pada tubuh Yun yang kurus. Yun menoleh, mengecup sekilas rambut Shunsuke yang beraroma apel.
"Mengurus pernikahan itu seru juga ternyata ya." Ujarnya pelan. "Waktu kau menikah dulu, apa juga seseru ini?"
Yun menyesap kopinya. "Hmm... Tidak. Aku kan masih muda sekali waktu itu. Sederhana saja. Cukup keluarga dan teman dekat. Sudah. Lagipula, almarhum ibunya Hide sudah mengandung Hide waktu itu."
"Ah, begitu." Shunsuke mengerutkan dagu. "Tapi mau yang sederhana ataupun yang mewah, pernikahan tetap saja sesuatu yang sakral dan indah ya?"
Yun mengangguk. Sejenak kemudian, mata rubahnya bersinar nakal. "Kenapa, Pak Pengacara? Kau mau menikah juga jadinya?"
Shunsuke tertawa pelan. "Tidak. Cuma mengucapkan pendapat saja kok." Pria beralis tebal itu mengangkat kepalanya, menatap Yun dengan penasaran. "Apa kau sendiri ingin menikah lagi?"
Yun kembali mengedikkan bahu. "Terserah padamu."
"Terserah aku?" Shunsuke mengangkat alisnya. Ditatapnya Yun dalam-dalam, mencari-cari apakah rubah jahil itu benar-benar serius atau tidak. Yun menggenggam tangannya lalu mengecup pergelangan tangannya dengan lembut. Senyum Shunsuke melebar. Direbahkannya kembali kepalanya, beringsut mencari posisi yang lebih nyaman dalam pelukan Yun. Diputarnya tangannya yang masih digenggam Yun agar ia bisa mengaitkan jemari mereka.
"Nanti." Jawab pengacara itu. "Kalau Halu dan Hide sudah lulus, punya pekerjaan dan bisa berdiri sendiri. Kalau kau sudah pensiun jadi guru dan kalau aku sudah punya firma hukum sendiri. Kalau sepuluh tahun dari sekarang aku masih merasa seperti ini padamu, saat itu, aku mungkin akan menikahimu, Pak Guru."
Yun meletakkan dagunya di atas kepala Shunsuke, memperhatikan jemari mereka yang bertaut dan diletakkan dengan nyaman di atas perut Shunsuke. Bibir tipisnya membentuk senyum lebar mendengar kata-kata Shunsuke.
"Oke."
-end-
Sunday, September 18, 2011
Sunday, September 11, 2011
[fanfic] KenkixMicchi -Aitai Kimochi
Cast : Yamaguchi Kenki, Mitsuya Ryou, cameo Ogoe Yuuki & Koseki Yuta
Rating: R
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I am but a humble fangirl. Do not own anything or anyone
Di waktu-waktu seperti ini, Kenki merasa seperti orang bodoh. Padahal ada hal penting yang harus dilakukan. Berkonsentrasi belajar karena ia sedang ujian akhir, misalnya. Hanya saja otaknya seperti tak ingin bekerja sama dan terus menerus menampilkan bayangan tunangannya. Ia tak bisa berhenti melirik jam, mengingat-ingat apa yang biasanya dilakukan Mitsuya pada jam itu.
Kenki tertawa geli lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mitsuya pun sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan nasional. Tak ada gunanya ia merengek minta bertemu. Meskipun tidak disepakati secara langsung, mereka berdua membatasi diri dengan telepon dan email seolah sadar ini waktu yang sangat penting dan mereka butuh konsentrasi penuh.
Sebenarnya, Kenki tak pernah punya masalah menjaga fokusnya. Ia bisa dengan mudah melakukannya, kalau ia mau. Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga kan?
Tapi lagi, sudah seharian ini ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Lelah sudah mulai mengambil alih dan bahan yang harus dipelajarinya seperti tak habis-habis. Mengambil waktu sejenak untuk istirahat, membuat kopi dan sarapan, pikirannya malah jadi melayang kemana-mana. Mitsuya belum mengiriminya email atau menelepon sejak semalam dan Kenki jadi agak bertanya-tanya. Tanpa ragu, disambarnya ponselnya dan mengirim email pada tunangannya itu.
Balasannya datang setengah jam kemudian.
-Gomen! Seharian kemarin aku diajak ke Osaka untuk mengunjungi sekolah lain dan ponselku kehabisan batere. Semuanya baik-baik saja? Jangan lupa makan dan tidur yang cukup ya? Ada seleksi regular di klub hari ini. Ganbarou!! XOXO-
Kenki tersenyum lebar dan membalas hanya dengan ucapan sayang.
Menjelang tengah hari, keadaannya tak menjadi lebih baik. Kedua pundaknya terasa berat, tegang dan mulai sakit. Untung saja ia bisa menyelesaikan ujian hari itu dengan baik. Oumi, teman sekelasnya, menepuk pundaknya dengan prihatin dan Kenki harus tertawa melihat lingkaran hitam yang begitu tebal di bawah mata temannya itu. Setelah gelas kopi ketiganya, Kenki tahu hanya ada satu yang harus dilakukannya.
*****
"Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh?"
Nyaris semua orang di dekat situ, tak hanya yang berseragam putih biru tapi juga yang bergakuran dan berseragam sailor, menoleh karena teriakan terkejut Mitsuya. Kenki hanya tertawa lebar seraya melambaikan tangannya.
Yuuki, yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya, langsung melambaikan tangan dengan semangat ke arah Kenki dan baru saja hendak mendekat tapi didului Mitsuya yang melesat cepat ke arah pagar pembatas.
"Eh? Nande? Nande? Kenapa datang ke sini? Ujiannya bagaimana? Eeeh?" Mitsuya merepet tanpa jeda. Kedua tangannya mencengkeram besi pagar pembatas. Kenki nyengir.
"Ujiannya hari ini cuma satu. Karena tak ada kerjaan, jadi kupikir aku mau lihat Micchi latihan saja."
"Tapi Kenki kan harus belajar. Ujiannya masih ada dua hari lagi kan?"
Kenki menjulurkan jarinya, menyentil ujung hidung Mitsuya dari antara besi pagar. "Tak usah khawatir. Aku sudah memperhitungkan kok."
Kedua pipi pemuda cantik itu menggembung sebal. Kenki tersenyum meyakinkan. "Daijoubu."
"Hontou?" Mitsuya masih tak percaya.
"Hontou."
Meski belum sepenuhnya yakin, Mitsuya tak tega juga mengusir Kenki pergi dan terus terang, dia senang karena Kenki datang. "Tapi kami belum mulai loh. Nanti Kenki menunggu terlalu lama."
"Aku bilang apa tadi? Aku datang karena ingin melihat Micchi." Kenki mengerling.
Mitsuya melengos, mencoba menyembunyikan telinganya yang memerah. "Ini kan bukan pertandingan," gerutunya.
"Kenki-nii!" Sapaan ceria Yuuki memotong balasan Kenki. "Sudah selesai ujiannya?"
Kenki menggeleng. "Aku punya waktu, jadi mampir sebentar."
"KENKI-NII!!!" Satu sapaan ceria lagi, kali ini datang dari tengah lapangan, dari Yuuta yang sepertinya sedang bersiap bertanding. Anak itu melompat-lompat senang seraya melambaikan kedua lengannya. Kenki balas melambai dan tertawa saat melihat kepala anak itu disambit bola oleh Ikepi yang kesal menunggu.
"Sudah mau mulai ya?" Tanya Kenki pada Mitsuya dan Yuuki. Kedua pemuda itu mengangguk.
"Aku nanti lawan Micchi loh." Yuuki tersenyum miring seraya memasang topi putihnya. "Aku ke lapangan duluan ya."
"Ganbatte, Yuuki-chan."
"Chi-zu."
Sementara itu sudut bibir Mitsuya berkedut, dagunya terangkat sementara matanya memicing berbahaya. "Hih. Kupukul jatuh nanti."
"Tampaknya seru ya." Komentar Kenki. "Aku iri deh."
Mitsuya mengerjap tapi tak berkomentar apapun. "Kenki duduk di dalam saja. Nanti aku bilang Kapten."
"Di sini saja tak apa, kok."
"Dame." Mitsuya menggeleng tegas. "Udaranya dingin. Duduk di pinggir lapangan saja. Yanagi-senpai tadi bawa sup dan teh hangat banyak sekali. Sepertinya ibunya khawatir kami akan kena flu. Ya?"
Nada yang digunakan Mitsuya sama sekali bukan nada yang bisa dibantah. Kenki mengangguk dan Mitsuya membukakan pintu pagar lalu melesat ke arah kaptennya yang duduk bersebelahan dengan Takuya. Dilihatnya mereka berbicara sejenak dan pemuda pucat ber-coat merah itu pun mengangguk.
Rasanya seperti melihat pertandingan yang biasa ditontonnya. Hanya saja semua orang yang bertanding memakai seragam yang sama. Kenki dibuat sangat kagum dengan persaingan di dalam tim itu. Tak seorang pun yang suka mengalah dan bisa dibilang bahkan lebih serius dibanding saat mereka maju ke pertandingan sebenarnya.
Si Kapten yang tadinya nampak tidur pun tak lama membuka matanya dan memperhatikan dengan serius. Dua lapangan, dua pertandingan. Entah mana yang benar-benar diperhatikannya tapi pemuda pucat itu tersenyum tipis.
Kenki, tentu saja, hanya memperhatikan Mitsuya yang tengah melawan Yuuki. Lucu juga melihat sepupu yang biasanya akrab itu saling berhadapan dengan gigihnya. Mitsuya yang biasanya protektif terhadap Yuuki pun tampak begitu serius. Seperti biasa, setiap kali sebelum mulai bertanding, Mitsuya akan menoleh ke arah Kenki dan mengerling. Kenki selalu mengacungkan ibu jarinya sebagai balasan.
Kali ini pertandingannya berlangsung cepat sekali. Yuuki merengut kesal, jatuh terduduk di dekat net dengan nafas tersengal. Mitsuya mendekat, mengulurkan tangan yang disambut Yuuki dengan sedikit kasar. Pemuda cantik itu nyengir.
"Boku ni katsu no ha, mada hayai yo." Komentarnya yang dibalas Yuuki dengan pukulan di lengan. Mitsuya kemudian tertawa dan merangkul sepupunya dengan erat.
"Hamburger pakai saus demi-glass!" Sungut pemuda mungil itu. "Apple pie juga!"
"Hai, hai." Ujar Mitsuya sambil menggeretnya ke pinggir lapangan.
"Otsukare," ucap Takuya sambil mengulurkan handuk dan botol air pada dua anak itu sementara Kenki berdiri memberi tempat agar Yuuki juga bisa duduk.
"Lututnya tak apa-apa?" Tanya Kenki pada Mitsuya yang tengah memutar-mutar kakinya.
Mitsuya mengangguk. "Un." Ia lalu melompat-lompat kecil. "Matsuzaka-sensei menyuruhku untuk menemuinya sebelum pertandingan. Hanya untuk mengecek saja, kok." Mitsuya buru-buru menambahkan karena dahi Kenki mengerut sekilas.
Kenki mengangguk lalu seperti biasa pula, dipeluknya tunangannya itu, mengucap "Otsukare" seraya mengecup kening Mitsuya. Ia kemudian menoleh pada Yuuki yang masih tampak agak ngambek. Ditepuknya kepala anak itu dengan lembut. "Don't mind."
"Bhu~"
"Nanti kutraktir parfait kesukaannya Yuuki-chan itu. Bagaimana?" Kenki menawarkan.
Wajah Yuuki langsung berubah cerah dan tanpa basa-basi, dipeluknya orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu. "Kenki-nii daisuki!"
"Kenki-nii, aku ikut yaaa!" Yuta mendadak muncul entah dari mana dan bergelayut di leher Kenki.
"Yuta-chan kan tidak kalah. Kenapa ikut-ikut sih?" Yuuki memprotes.
Yuta menjulurkan lidah. "Tak apa dong. Boleh ya, Kenki-nii? Ya? Ya?"
Mitsuya menarik lepas lengan Yuuta dari leher Kenki. "Hai, hai. Lepas atau Kenki tak akan bisa menraktir kita parfait karena kau cekik, Yuta-chan."
"Daijoubu?" Mitsuya melirik tunangannya saat mereka berjalan ke arah mobil satu jam kemudian. Kenki balas melirik ke arahnya dan mengangkat bahu.
"Shouganai deshou?" Ujarnya sambil tertawa senang. Dan ia memang tak keberatan. Yang penting, Mitsuya ada di dekatnya. Kenki pun menggamit tangan Mitsuya dan menggenggamnya hangat. Pemuda cantik itu melirik tersipu dan berjalan lebih rapat dengan tunangannya.
*****
Satu hentakan dan semuanya lepas begitu saja. Gelombang itu membawanya melayang begitu tinggi, membuat seluruh tubuhnya bergetar dan bibirnya membisikkan nama orang yang paling disayanginya. Terasa hangat, penuh, bahagia, berputar dan menghantam dengan cepat.
Kenki mengerjap, membiarkan kesadarannya kembali dengan perlahan. Nafasnya masih memburu dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh. Satu persatu indranya mulai bekerja kembali. Mendapati sosok cantik dalam pelukannya, hangat dan terasa begitu wajar. Wangi yang khas dan perasaan yang familiar. Disambutnya bibir Mitsuya yang mencari, menghujani dengan kecupan-kecupan kecil penuh sayang dan pujian.
Dijatuhkannya tubuhnya ke atas kasur, membawa Mitsuya berbaring di atasnya karena Kenki belum rela melepasnya dari pelukan. Didengarnya Mitsuya mengerang lirih dan Kenki tertawa pelan.
"Daijoubu?" Tanyanya dengan suara agak serak, diiringi kecupan di dahi yang tertutup helaian rambut yang lembab.
Mitsuya terkekeh pelan. Kepalanya mengangguk. "Daijoubu."
Kenki mengusap rambut Mitsuya dengan sayang, sekali lagi mengecup kening tunangannya.
Beberapa saat kemudian, Kenki baru rela melepaskan Mitsuya. Dibiarkannya kekasihnya itu berbaring di sebelahnya, menatapnya dengan matanya yang besar. Kenki menyentil ujung hidungnya. "Apa?"
"Kenki baik-baik saja? Ujiannya lancar kan?"
Kenki mengangguk, mengerti kekhawatiran Mitsuya yang sama sekali belum terjawab sejak ia datang tadi sore. "Aku hanya sedang suntuk. Jadi kupikir, daripada aku memaksa, lebih baik aku bertemu Micchi saja."
Mitsuya tersenyum dan beringsut mendekat untuk mengecup pipi Kenki. "Syukurlah kalau tak ada apa-apa."
Kenki mengangguk, ditariknya Mitsuya mendekat agar ia bisa mencium Mitsuya dengan leluasa. Mitsuya tertawa pelan dan membalas ciumannya dengan tak kalah bersemangat.
"Aku harus pulang." Bisik Kenki tak lama kemudian.
Mitsuya melirik ke arah jam di dinding. Sudah hampir jam sebelas dan besok Kenki masih ada ujian. Meski tak rela, ia mengangguk mengerti. Meskipun begitu, mereka tetap mengambil waktu untuk berlama-lama di kamar mandi dan bercumbu lagi sebelum akhirnya Mitsuya mengantar Kenki ke pintu (tak lupa membekali Kenki dengan apple pie sisa makan malam tadi).
"Ngomong-ngomong, Micchi manis sekali hari ini, loh." Bisik Kenki sebelum memberikan ciuman selamat malam pada Mitsuya yang langsung tersipu dan memukul lengannya.
"Sayang Micchi ya."
"Sayang Kenki juga." Balas Mitsuya sambil melambaikan tangan dan menutup pintu.
-end-
Rating: R
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I am but a humble fangirl. Do not own anything or anyone
Di waktu-waktu seperti ini, Kenki merasa seperti orang bodoh. Padahal ada hal penting yang harus dilakukan. Berkonsentrasi belajar karena ia sedang ujian akhir, misalnya. Hanya saja otaknya seperti tak ingin bekerja sama dan terus menerus menampilkan bayangan tunangannya. Ia tak bisa berhenti melirik jam, mengingat-ingat apa yang biasanya dilakukan Mitsuya pada jam itu.
Kenki tertawa geli lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mitsuya pun sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan nasional. Tak ada gunanya ia merengek minta bertemu. Meskipun tidak disepakati secara langsung, mereka berdua membatasi diri dengan telepon dan email seolah sadar ini waktu yang sangat penting dan mereka butuh konsentrasi penuh.
Sebenarnya, Kenki tak pernah punya masalah menjaga fokusnya. Ia bisa dengan mudah melakukannya, kalau ia mau. Tapi tak ada salahnya berjaga-jaga kan?
Tapi lagi, sudah seharian ini ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Lelah sudah mulai mengambil alih dan bahan yang harus dipelajarinya seperti tak habis-habis. Mengambil waktu sejenak untuk istirahat, membuat kopi dan sarapan, pikirannya malah jadi melayang kemana-mana. Mitsuya belum mengiriminya email atau menelepon sejak semalam dan Kenki jadi agak bertanya-tanya. Tanpa ragu, disambarnya ponselnya dan mengirim email pada tunangannya itu.
Balasannya datang setengah jam kemudian.
-Gomen! Seharian kemarin aku diajak ke Osaka untuk mengunjungi sekolah lain dan ponselku kehabisan batere. Semuanya baik-baik saja? Jangan lupa makan dan tidur yang cukup ya? Ada seleksi regular di klub hari ini. Ganbarou!! XOXO-
Kenki tersenyum lebar dan membalas hanya dengan ucapan sayang.
Menjelang tengah hari, keadaannya tak menjadi lebih baik. Kedua pundaknya terasa berat, tegang dan mulai sakit. Untung saja ia bisa menyelesaikan ujian hari itu dengan baik. Oumi, teman sekelasnya, menepuk pundaknya dengan prihatin dan Kenki harus tertawa melihat lingkaran hitam yang begitu tebal di bawah mata temannya itu. Setelah gelas kopi ketiganya, Kenki tahu hanya ada satu yang harus dilakukannya.
*****
"Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh?"
Nyaris semua orang di dekat situ, tak hanya yang berseragam putih biru tapi juga yang bergakuran dan berseragam sailor, menoleh karena teriakan terkejut Mitsuya. Kenki hanya tertawa lebar seraya melambaikan tangannya.
Yuuki, yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya, langsung melambaikan tangan dengan semangat ke arah Kenki dan baru saja hendak mendekat tapi didului Mitsuya yang melesat cepat ke arah pagar pembatas.
"Eh? Nande? Nande? Kenapa datang ke sini? Ujiannya bagaimana? Eeeh?" Mitsuya merepet tanpa jeda. Kedua tangannya mencengkeram besi pagar pembatas. Kenki nyengir.
"Ujiannya hari ini cuma satu. Karena tak ada kerjaan, jadi kupikir aku mau lihat Micchi latihan saja."
"Tapi Kenki kan harus belajar. Ujiannya masih ada dua hari lagi kan?"
Kenki menjulurkan jarinya, menyentil ujung hidung Mitsuya dari antara besi pagar. "Tak usah khawatir. Aku sudah memperhitungkan kok."
Kedua pipi pemuda cantik itu menggembung sebal. Kenki tersenyum meyakinkan. "Daijoubu."
"Hontou?" Mitsuya masih tak percaya.
"Hontou."
Meski belum sepenuhnya yakin, Mitsuya tak tega juga mengusir Kenki pergi dan terus terang, dia senang karena Kenki datang. "Tapi kami belum mulai loh. Nanti Kenki menunggu terlalu lama."
"Aku bilang apa tadi? Aku datang karena ingin melihat Micchi." Kenki mengerling.
Mitsuya melengos, mencoba menyembunyikan telinganya yang memerah. "Ini kan bukan pertandingan," gerutunya.
"Kenki-nii!" Sapaan ceria Yuuki memotong balasan Kenki. "Sudah selesai ujiannya?"
Kenki menggeleng. "Aku punya waktu, jadi mampir sebentar."
"KENKI-NII!!!" Satu sapaan ceria lagi, kali ini datang dari tengah lapangan, dari Yuuta yang sepertinya sedang bersiap bertanding. Anak itu melompat-lompat senang seraya melambaikan kedua lengannya. Kenki balas melambai dan tertawa saat melihat kepala anak itu disambit bola oleh Ikepi yang kesal menunggu.
"Sudah mau mulai ya?" Tanya Kenki pada Mitsuya dan Yuuki. Kedua pemuda itu mengangguk.
"Aku nanti lawan Micchi loh." Yuuki tersenyum miring seraya memasang topi putihnya. "Aku ke lapangan duluan ya."
"Ganbatte, Yuuki-chan."
"Chi-zu."
Sementara itu sudut bibir Mitsuya berkedut, dagunya terangkat sementara matanya memicing berbahaya. "Hih. Kupukul jatuh nanti."
"Tampaknya seru ya." Komentar Kenki. "Aku iri deh."
Mitsuya mengerjap tapi tak berkomentar apapun. "Kenki duduk di dalam saja. Nanti aku bilang Kapten."
"Di sini saja tak apa, kok."
"Dame." Mitsuya menggeleng tegas. "Udaranya dingin. Duduk di pinggir lapangan saja. Yanagi-senpai tadi bawa sup dan teh hangat banyak sekali. Sepertinya ibunya khawatir kami akan kena flu. Ya?"
Nada yang digunakan Mitsuya sama sekali bukan nada yang bisa dibantah. Kenki mengangguk dan Mitsuya membukakan pintu pagar lalu melesat ke arah kaptennya yang duduk bersebelahan dengan Takuya. Dilihatnya mereka berbicara sejenak dan pemuda pucat ber-coat merah itu pun mengangguk.
Rasanya seperti melihat pertandingan yang biasa ditontonnya. Hanya saja semua orang yang bertanding memakai seragam yang sama. Kenki dibuat sangat kagum dengan persaingan di dalam tim itu. Tak seorang pun yang suka mengalah dan bisa dibilang bahkan lebih serius dibanding saat mereka maju ke pertandingan sebenarnya.
Si Kapten yang tadinya nampak tidur pun tak lama membuka matanya dan memperhatikan dengan serius. Dua lapangan, dua pertandingan. Entah mana yang benar-benar diperhatikannya tapi pemuda pucat itu tersenyum tipis.
Kenki, tentu saja, hanya memperhatikan Mitsuya yang tengah melawan Yuuki. Lucu juga melihat sepupu yang biasanya akrab itu saling berhadapan dengan gigihnya. Mitsuya yang biasanya protektif terhadap Yuuki pun tampak begitu serius. Seperti biasa, setiap kali sebelum mulai bertanding, Mitsuya akan menoleh ke arah Kenki dan mengerling. Kenki selalu mengacungkan ibu jarinya sebagai balasan.
Kali ini pertandingannya berlangsung cepat sekali. Yuuki merengut kesal, jatuh terduduk di dekat net dengan nafas tersengal. Mitsuya mendekat, mengulurkan tangan yang disambut Yuuki dengan sedikit kasar. Pemuda cantik itu nyengir.
"Boku ni katsu no ha, mada hayai yo." Komentarnya yang dibalas Yuuki dengan pukulan di lengan. Mitsuya kemudian tertawa dan merangkul sepupunya dengan erat.
"Hamburger pakai saus demi-glass!" Sungut pemuda mungil itu. "Apple pie juga!"
"Hai, hai." Ujar Mitsuya sambil menggeretnya ke pinggir lapangan.
"Otsukare," ucap Takuya sambil mengulurkan handuk dan botol air pada dua anak itu sementara Kenki berdiri memberi tempat agar Yuuki juga bisa duduk.
"Lututnya tak apa-apa?" Tanya Kenki pada Mitsuya yang tengah memutar-mutar kakinya.
Mitsuya mengangguk. "Un." Ia lalu melompat-lompat kecil. "Matsuzaka-sensei menyuruhku untuk menemuinya sebelum pertandingan. Hanya untuk mengecek saja, kok." Mitsuya buru-buru menambahkan karena dahi Kenki mengerut sekilas.
Kenki mengangguk lalu seperti biasa pula, dipeluknya tunangannya itu, mengucap "Otsukare" seraya mengecup kening Mitsuya. Ia kemudian menoleh pada Yuuki yang masih tampak agak ngambek. Ditepuknya kepala anak itu dengan lembut. "Don't mind."
"Bhu~"
"Nanti kutraktir parfait kesukaannya Yuuki-chan itu. Bagaimana?" Kenki menawarkan.
Wajah Yuuki langsung berubah cerah dan tanpa basa-basi, dipeluknya orang yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu. "Kenki-nii daisuki!"
"Kenki-nii, aku ikut yaaa!" Yuta mendadak muncul entah dari mana dan bergelayut di leher Kenki.
"Yuta-chan kan tidak kalah. Kenapa ikut-ikut sih?" Yuuki memprotes.
Yuta menjulurkan lidah. "Tak apa dong. Boleh ya, Kenki-nii? Ya? Ya?"
Mitsuya menarik lepas lengan Yuuta dari leher Kenki. "Hai, hai. Lepas atau Kenki tak akan bisa menraktir kita parfait karena kau cekik, Yuta-chan."
"Daijoubu?" Mitsuya melirik tunangannya saat mereka berjalan ke arah mobil satu jam kemudian. Kenki balas melirik ke arahnya dan mengangkat bahu.
"Shouganai deshou?" Ujarnya sambil tertawa senang. Dan ia memang tak keberatan. Yang penting, Mitsuya ada di dekatnya. Kenki pun menggamit tangan Mitsuya dan menggenggamnya hangat. Pemuda cantik itu melirik tersipu dan berjalan lebih rapat dengan tunangannya.
*****
Satu hentakan dan semuanya lepas begitu saja. Gelombang itu membawanya melayang begitu tinggi, membuat seluruh tubuhnya bergetar dan bibirnya membisikkan nama orang yang paling disayanginya. Terasa hangat, penuh, bahagia, berputar dan menghantam dengan cepat.
Kenki mengerjap, membiarkan kesadarannya kembali dengan perlahan. Nafasnya masih memburu dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh. Satu persatu indranya mulai bekerja kembali. Mendapati sosok cantik dalam pelukannya, hangat dan terasa begitu wajar. Wangi yang khas dan perasaan yang familiar. Disambutnya bibir Mitsuya yang mencari, menghujani dengan kecupan-kecupan kecil penuh sayang dan pujian.
Dijatuhkannya tubuhnya ke atas kasur, membawa Mitsuya berbaring di atasnya karena Kenki belum rela melepasnya dari pelukan. Didengarnya Mitsuya mengerang lirih dan Kenki tertawa pelan.
"Daijoubu?" Tanyanya dengan suara agak serak, diiringi kecupan di dahi yang tertutup helaian rambut yang lembab.
Mitsuya terkekeh pelan. Kepalanya mengangguk. "Daijoubu."
Kenki mengusap rambut Mitsuya dengan sayang, sekali lagi mengecup kening tunangannya.
Beberapa saat kemudian, Kenki baru rela melepaskan Mitsuya. Dibiarkannya kekasihnya itu berbaring di sebelahnya, menatapnya dengan matanya yang besar. Kenki menyentil ujung hidungnya. "Apa?"
"Kenki baik-baik saja? Ujiannya lancar kan?"
Kenki mengangguk, mengerti kekhawatiran Mitsuya yang sama sekali belum terjawab sejak ia datang tadi sore. "Aku hanya sedang suntuk. Jadi kupikir, daripada aku memaksa, lebih baik aku bertemu Micchi saja."
Mitsuya tersenyum dan beringsut mendekat untuk mengecup pipi Kenki. "Syukurlah kalau tak ada apa-apa."
Kenki mengangguk, ditariknya Mitsuya mendekat agar ia bisa mencium Mitsuya dengan leluasa. Mitsuya tertawa pelan dan membalas ciumannya dengan tak kalah bersemangat.
"Aku harus pulang." Bisik Kenki tak lama kemudian.
Mitsuya melirik ke arah jam di dinding. Sudah hampir jam sebelas dan besok Kenki masih ada ujian. Meski tak rela, ia mengangguk mengerti. Meskipun begitu, mereka tetap mengambil waktu untuk berlama-lama di kamar mandi dan bercumbu lagi sebelum akhirnya Mitsuya mengantar Kenki ke pintu (tak lupa membekali Kenki dengan apple pie sisa makan malam tadi).
"Ngomong-ngomong, Micchi manis sekali hari ini, loh." Bisik Kenki sebelum memberikan ciuman selamat malam pada Mitsuya yang langsung tersipu dan memukul lengannya.
"Sayang Micchi ya."
"Sayang Kenki juga." Balas Mitsuya sambil melambaikan tangan dan menutup pintu.
-end-
Thursday, September 1, 2011
[fanfic] Wedding Checklist - Fitting
Cast: Matsuzaka Tori, Wada Takuma, Daito Shunsuke, Nagayama Takashi
Rating: G
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
"Oh ya ampun, kau ganteng sekali." Ujar Tori sambil mendesah penuh kekaguman, matanya memandang dengan pujaan yang tak ditutupi.
Shunsuke, yang tengah berdiri di depan cermin besar, meringis lebar. "Terima kasih?"
Tori menyesap kopinya, "Aku serius. Ya kan, Wada?" Dokter itu menoleh pada Takuma yang duduk di sebelahnya. Takuma mengangguk setuju. "Potongannya pas sekali, Shunsuke-san."
Shunsuke tertawa. "Terima kasih. Tapi aku masih kalah denganmu, Takuma-san. Nagayama-san saja sampai tak berhenti memuji tadi."
Takashi, yang tengah berkutat dengan kerah jas yang tengah dicoba Shunsuke tertawa. "Aku sering bertemu orang tampan dan cantik, tapi harus kuakui kalau anda adalah dokter paling tampan yang pernah kutemui, Wada-san."
Wajah Takuma bersemu merah dan dia langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya. Tori tertawa terbahak-bahak seraya mendorong lengan sahabatnya yang salah tingkah itu. Takuma menggerundel pelan, mengulurkan tangan untuk mengambil kopi bagiannya.
Hari ini mereka bertiga dipanggil oleh Takashi untuk mengepas kemeja yang sudah setengah jadi. Perancang busana itu tampak sangat bersemangat dan Tori -yang aslinya sedang agak stres setelah semalam menghitung total biaya pernikahannya- jadi tertular gembira. Dua temannya pun menyertai meski Takashi dengan tegas mengatakan kalau Masahiro dan pendamping prianya akan mengepas di hari lain.
"Aku orang yang cukup tradisional, Matsuzaka-sensei. Saling lihat dalam busana pengantin sebelum hari H bisa bawa sial." Sahut Takashi saat Tori bertanya dan Masahiro menggerundel sepanjang malam karena sama sekali tak diperbolehkan ikut.
Takashi memberi tanda di beberapa tempat agar potongan jas itu makin pas di tubuh Shunsuke. Dia mengangguk puas dan asistennya membantu Shunsuke melepas jas itu lalu membantu Shunsuke mengenakan kimono dan hakama yang harus disesuaikan panjangnya. Tori berdiri menghampiri, ikut memperhatikan dari dekat sementara Takashi kembali sibuk dengan jarum dan ujung hakama. Tori sama sekali belum dapat giliran untuk mengepas. Takashi ingin menyelesaikan mengepas Takuma dan Shunsuke terlebih dahulu karena pakaian mereka lebih sederhana dibanding yang akan dikenakan Tori.
Sementara itu, Takuma sudah membuka agenda-nya dan sibuk berkonsultasi melalui telepon dengan Tsune tentang pengaturan tempat duduk untuk pestanya nanti. Sesekali ia berdiri dan mendatangi Tori, menunjukkan beberapa foto contoh dekorasi dari Mitsuya dan penataan meja dari Takki. Beberapa kali Tori meminta Takuma untuk meneruskan foto-foto itu pada Masahiro.
Shunsuke iseng memotret Tori dan Takuma yang tampak akrab dan mengirimkannya pada Masahiro. Telepon Tori pun langsung berdering ribut dan dokter itu harus memukul lengan Shunsuke karena dia jadi repot. Takuma menyembunyikan tawa di balik agendanya sementara Shunsuke terbahak puas.
"Kalian." Tori menghembuskan nafas sembari memencet tombol 'end call' di ponselnya.
Shunsuke menjulurkan lidah. "Kalian lucu sih."
Tori menggembungkan pipinya dengan sebal dan buru-buru menepis tangan Takuma yang siap terulur ingin mencubit. Tapi sejurus kemudian, mau tak mau, ia ikut tertawa juga. Kedua temannya itu tahu Masahiro seperti apa dan mereka makin giat menggoda tunangannya itu begitu tahu kalau Tsune dan Kimito pun tak kalah rajin mengisengi tuan muda yang super posesif itu. Beberapa kali mereka berempat menemani Tori kemanapun dokter muda itu ingin pergi dan dengan sengaja mengirim foto-fotonya pada Masahiro. Sekali waktu mereka bahkan nekat 'menculik' Tori ke taman ria, memaksanya masuk ke rumah hantu dan Tsune dengan gembira mengirim foto Tori yang tengah memeluk Takuma erat-erat karena ketakutan.
Bisa dibayangkan tuan muda itu langsung tergopoh-gopoh menyusul dan membawa Tori pulang. Tori hanya tertawa dan mencium Masahiro dengan sayang.
Tori sendiri tak terlalu keberatan diisengi seperti itu. Persiapan pernikahannya makin lama makin membuat stres. Harus berkali-kali memastikan kalau semuanya sudah dipesan dan Shunsuke membantu dengan membuatkan surat kontrak untuk pihak penyedia tempat resepsi, Takki dan Mitsuya. Untuk jaga-jaga saja, ujar temannya itu. Tak ada yang keberatan dengan usul Shunsuke itu. Dan keisengan empat pendamping itu justru sangat menghibur dan meskipun kesal, Masahiro mau tak mau ikut senang karena Tori tidak begitu stres.
"Baiklah, Matsuzaka-sensei. Bisa berdiri di sini?" Takashi membuyarkan lamunan Tori. Dokter itu menurut dan melangkah menuju ke dalam bilik ganti. Takashi mengikutinya dan membantunya memakai setelan jas panjang yang sudah hampir jadi itu.
Shunsuke dan Takuma tampak terpana begitu Tori melangkah keluar dari dalam bilik ganti. Tori mengangkat alis lalu mengecek penampilannya di cermin panjang. Matanya berkedip tak percaya. Seumur hidupnya, ia tak pernah memuji dirinya sendiri (oke, mungkin pernah. Tapi tak sering) tapi pantulan dirinya yang dilihatnya membuatnya mendesah puas. Ia berputar beberapa kali dan hasilnya sama.
Takashi pun turut mendesah. Kedua tangannya diangkat ke atas lalu dikibaskan dengan dramatis. "Sempurna." Bisiknya lalu ia melesat ke mejanya, mengambil korsase yang kemudian disematkannya di saku dada kemeja Tori. Sekali lagi mengangguk dengan begitu mantab. "Sempurna."
Takuma mendekat, tangannya terjulur meraih kerah kemeja Tori, menarik-narik beberapa kali. Matanya menatap Tori dengan seksama dan pria itu tersenyum. Tori membalas senyum sahabatnya dengan tersipu.
Shunsuke pun ikut berdiri di sebelah Takuma, mengamati Tori dengan seksama. Satu tangan terjulur, menyelipkan sejumput rambut Tori ke belakang telinga dan tersenyum.
"Gorgeous." Bisiknya.
Takuma mengangguk.
Takashi menepuk kedua bahu kliennya, "Inoue-kun memang pantas cemburu kok."
Tori tersenyum lebar. "Mungkin juga."
-end-
Rating: G
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
"Oh ya ampun, kau ganteng sekali." Ujar Tori sambil mendesah penuh kekaguman, matanya memandang dengan pujaan yang tak ditutupi.
Shunsuke, yang tengah berdiri di depan cermin besar, meringis lebar. "Terima kasih?"
Tori menyesap kopinya, "Aku serius. Ya kan, Wada?" Dokter itu menoleh pada Takuma yang duduk di sebelahnya. Takuma mengangguk setuju. "Potongannya pas sekali, Shunsuke-san."
Shunsuke tertawa. "Terima kasih. Tapi aku masih kalah denganmu, Takuma-san. Nagayama-san saja sampai tak berhenti memuji tadi."
Takashi, yang tengah berkutat dengan kerah jas yang tengah dicoba Shunsuke tertawa. "Aku sering bertemu orang tampan dan cantik, tapi harus kuakui kalau anda adalah dokter paling tampan yang pernah kutemui, Wada-san."
Wajah Takuma bersemu merah dan dia langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya. Tori tertawa terbahak-bahak seraya mendorong lengan sahabatnya yang salah tingkah itu. Takuma menggerundel pelan, mengulurkan tangan untuk mengambil kopi bagiannya.
Hari ini mereka bertiga dipanggil oleh Takashi untuk mengepas kemeja yang sudah setengah jadi. Perancang busana itu tampak sangat bersemangat dan Tori -yang aslinya sedang agak stres setelah semalam menghitung total biaya pernikahannya- jadi tertular gembira. Dua temannya pun menyertai meski Takashi dengan tegas mengatakan kalau Masahiro dan pendamping prianya akan mengepas di hari lain.
"Aku orang yang cukup tradisional, Matsuzaka-sensei. Saling lihat dalam busana pengantin sebelum hari H bisa bawa sial." Sahut Takashi saat Tori bertanya dan Masahiro menggerundel sepanjang malam karena sama sekali tak diperbolehkan ikut.
Takashi memberi tanda di beberapa tempat agar potongan jas itu makin pas di tubuh Shunsuke. Dia mengangguk puas dan asistennya membantu Shunsuke melepas jas itu lalu membantu Shunsuke mengenakan kimono dan hakama yang harus disesuaikan panjangnya. Tori berdiri menghampiri, ikut memperhatikan dari dekat sementara Takashi kembali sibuk dengan jarum dan ujung hakama. Tori sama sekali belum dapat giliran untuk mengepas. Takashi ingin menyelesaikan mengepas Takuma dan Shunsuke terlebih dahulu karena pakaian mereka lebih sederhana dibanding yang akan dikenakan Tori.
Sementara itu, Takuma sudah membuka agenda-nya dan sibuk berkonsultasi melalui telepon dengan Tsune tentang pengaturan tempat duduk untuk pestanya nanti. Sesekali ia berdiri dan mendatangi Tori, menunjukkan beberapa foto contoh dekorasi dari Mitsuya dan penataan meja dari Takki. Beberapa kali Tori meminta Takuma untuk meneruskan foto-foto itu pada Masahiro.
Shunsuke iseng memotret Tori dan Takuma yang tampak akrab dan mengirimkannya pada Masahiro. Telepon Tori pun langsung berdering ribut dan dokter itu harus memukul lengan Shunsuke karena dia jadi repot. Takuma menyembunyikan tawa di balik agendanya sementara Shunsuke terbahak puas.
"Kalian." Tori menghembuskan nafas sembari memencet tombol 'end call' di ponselnya.
Shunsuke menjulurkan lidah. "Kalian lucu sih."
Tori menggembungkan pipinya dengan sebal dan buru-buru menepis tangan Takuma yang siap terulur ingin mencubit. Tapi sejurus kemudian, mau tak mau, ia ikut tertawa juga. Kedua temannya itu tahu Masahiro seperti apa dan mereka makin giat menggoda tunangannya itu begitu tahu kalau Tsune dan Kimito pun tak kalah rajin mengisengi tuan muda yang super posesif itu. Beberapa kali mereka berempat menemani Tori kemanapun dokter muda itu ingin pergi dan dengan sengaja mengirim foto-fotonya pada Masahiro. Sekali waktu mereka bahkan nekat 'menculik' Tori ke taman ria, memaksanya masuk ke rumah hantu dan Tsune dengan gembira mengirim foto Tori yang tengah memeluk Takuma erat-erat karena ketakutan.
Bisa dibayangkan tuan muda itu langsung tergopoh-gopoh menyusul dan membawa Tori pulang. Tori hanya tertawa dan mencium Masahiro dengan sayang.
Tori sendiri tak terlalu keberatan diisengi seperti itu. Persiapan pernikahannya makin lama makin membuat stres. Harus berkali-kali memastikan kalau semuanya sudah dipesan dan Shunsuke membantu dengan membuatkan surat kontrak untuk pihak penyedia tempat resepsi, Takki dan Mitsuya. Untuk jaga-jaga saja, ujar temannya itu. Tak ada yang keberatan dengan usul Shunsuke itu. Dan keisengan empat pendamping itu justru sangat menghibur dan meskipun kesal, Masahiro mau tak mau ikut senang karena Tori tidak begitu stres.
"Baiklah, Matsuzaka-sensei. Bisa berdiri di sini?" Takashi membuyarkan lamunan Tori. Dokter itu menurut dan melangkah menuju ke dalam bilik ganti. Takashi mengikutinya dan membantunya memakai setelan jas panjang yang sudah hampir jadi itu.
Shunsuke dan Takuma tampak terpana begitu Tori melangkah keluar dari dalam bilik ganti. Tori mengangkat alis lalu mengecek penampilannya di cermin panjang. Matanya berkedip tak percaya. Seumur hidupnya, ia tak pernah memuji dirinya sendiri (oke, mungkin pernah. Tapi tak sering) tapi pantulan dirinya yang dilihatnya membuatnya mendesah puas. Ia berputar beberapa kali dan hasilnya sama.
Takashi pun turut mendesah. Kedua tangannya diangkat ke atas lalu dikibaskan dengan dramatis. "Sempurna." Bisiknya lalu ia melesat ke mejanya, mengambil korsase yang kemudian disematkannya di saku dada kemeja Tori. Sekali lagi mengangguk dengan begitu mantab. "Sempurna."
Takuma mendekat, tangannya terjulur meraih kerah kemeja Tori, menarik-narik beberapa kali. Matanya menatap Tori dengan seksama dan pria itu tersenyum. Tori membalas senyum sahabatnya dengan tersipu.
Shunsuke pun ikut berdiri di sebelah Takuma, mengamati Tori dengan seksama. Satu tangan terjulur, menyelipkan sejumput rambut Tori ke belakang telinga dan tersenyum.
"Gorgeous." Bisiknya.
Takuma mengangguk.
Takashi menepuk kedua bahu kliennya, "Inoue-kun memang pantas cemburu kok."
Tori tersenyum lebar. "Mungkin juga."
-end-
Monday, August 29, 2011
[fanfic] Whattaya Want From Me
Fandom(s): Tennis no Ouji-sama Musical, Cocoa Otoko
Cast: Kubota Yuuki, Hosogai Kei
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC, too much conversation in english while the fic itself is in bahasa.
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
Note: Oh, gue cinta Kei-chan. Semoga bisa menghibur untuk Lebaran yang tertunda #eh
"You know what? I never imagine that 'once in a full moon' could span so long it turned into 'once every hundred full moons'."
Sudut-sudut bibir Kubota Yuuki tertarik membentuk cengiran lebar. "Aku kan sibuk."
"Yeah, yeah. Spare me the bullshit."
Lagi-lagi dokter itu hanya sanggup nyengir. Dihampirinya sosok di hadapannya, kedua tangannya menjangkau pegangan kursi roda dan mendorong pelan. "Keluar yuk. Udara segar mungkin bisa membuatmu sedikit ramah padaku, Kei-chan."
Pria yang dipanggil Kei-chan itu hanya memutar matanya dan menurut saja didorong keluar ruangan praktek Kubota. "Buy me a drink." Ujarnya tanpa mau ditawar.
Mereka berhenti di depan mesin penjual minuman dan menekan dua tombol berbeda. Bunyi kaleng berdentangan dan Kubota merunduk untuk mengambil minuman mereka. Diserahkannya satu pada teman sekaligus pasiennya itu. Kei menyambut dengan sedikit terpana.
"White grape juice. You remember." Gumamnya.
"Told you. Aku selalu memikirkan dirimu."
Kei mendengus. "You expect me to believe that?"
Kubota mengedikkan bahu tak acuh dan melanjutkan langkah menuju taman. Kali ini dibiarkannya Kei mengikutinya di sampingnya. Kubota mengambil tempat di salah satu bangku taman yang terletak di bawah rimbunan pohon wisteria. Kei menghentikan kursi rodanya di hadapan dokter itu, menyesap minumannya tanpa banyak cakap.
Kubota menatap temannya itu. Tak banyak yang berubah dari Hosogai Kei sejak terakhir kali mereka bertemu. Tubuhnya masih saja ramping dengan tinggi yang nyaris menyamai Kubota kalau Kei berdiri. Sayangnya, penyakitnya membuat kakinya tak bisa berlama-lama menopang berat badannya. Kei menghabiskan lebih banyak waktu di kursi roda. Meski saat ia sedang bisa berdiri, ia akan mondar-mandir kesana kemari walaupun harus ditopang tongkat. Wajahnya manis cenderung cantik meski suaranya berat dan lidahnya tajam. Sarkasme-nya selalu membuat Kubota merasa terhibur. Dan entah bagaimana, Kei malah terlihat semakin seksi.
Hosogai Kei, orang Jepang yang tinggal di Amerika sejak SMU. Anak kenalan ibunya dan mereka dikenalkan saat Kubota harus menemani ibunya yang diopname karena usus buntu. Pemuda yang menarik meski tak seaneh Shintarou. Mereka sempat berkencan beberapa waktu tapi karena satu dan lain hal, hubungan itu tak berlanjut.
Hosogai Kei, 35 tahun, satu-satunya orang yang sanggup membuat Kubota Yuuki sempat berpikir serius tentang pernikahan. Walau pada akhirnya tak diungkapkan.
"Still can't believe you refused to inherit such facility." Kei berujar, membuyarkan lamunan Kubota. Kebiasaannya berbicara dalam bahasa inggris meski mengerti bahasa jepang pun tak berubah.
Dokter itu lagi-lagi hanya nyengir dan merogoh kantong untuk mengeluarkan sekotak rokok. Kei mengangkat alis. Kubota menunjuk tanda di sudut taman yang mengatakan kalau di situ diperbolehkan merokok. Lagipula, ia kakak pemilik rumah sakit.
"Kau pasien." Ujarnya saat Kei mengulurkan tangan lalu tertawa saat Kei mendelik padanya. Diangsurkannya kotak rokoknya lalu berbagi api dengan pria itu.
Beberapa kali tarikan dan hembusan, Kubota menoleh pada temannya itu. "Kau selalu menolak untuk dirawat sebelumnya. What's the change of heart?"
Kei melirik ke arahnya dan mengangkat bahu. "I'm tired."
"Karena harus menjelaskan pada orang-orang dan bosan dikasihani?" Tanya Kubota.
Kei memutar matanya lagi. "Of the chair."
"Ah." Kubota manggut-manggut. "Tapi kenapa harus di Jepang? Di Amerika kan juga ada pengobatan yang tak kalah bagus dengan di sini."
Kali ini Kei tak menjawab. Ia menyesap minumannya lagi dan hanya menatap Kubota dari tepi kaleng minumannya. Kubota menangkap pandangan itu dan tersenyum simpul.
"Kangen padaku?"
Kei mendengus. "You're the only one I can trust."
Kubota menundukkan kepalanya dengan gaya. "I'm flattered."
"You should."
Dokter itu tertawa lagi dan sungguh, hatinya melonjak senang saat melihat Kei pun ikut tersenyum. "Aku tak akan jadi satu-satunya yang merawatmu loh. Ada Souta-sensei dan Matsuzaka-sensei yang akan ikut menanganimu."
Kei hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "As long as you trust them."
"Mereka dokter yang kompeten."
"Then it's fine for me."
Mereka terdiam beberapa lama. Kei memejamkan mata, nampak menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan bunyi desir daun wisteria di dekat mereka. Kubota menyalakan sebatang rokok lagi, ikut menghanyutkan diri dalam diam. Ia melambai sejenak pada Tori dan Takuma yang kebetulan melintas. Hanya tersenyum pada ekspresi keheranan mereka. Ia pun mengerutkan kening saat tangan Kei terulur ke arahnya. Perlahan, disambutnya diselipkannya tangan itu ke dalam genggamannya dan mengelus buku jarinya yang agak kasar.
"Masih main bass?" Tanyanya pelan dengan penuh ingin tahu.
"From time to time." Balas Kei masih dengan mata terpejam.
"Masih sendiri?" Lanjut Kubota, mengelus pangkal jari manis Kei dengan ibu jarinya.
"Same as you." Kei membuka matanya.
Kubota mengangguk dan sebelum ia sempat bertanya lagi, Kei menduluinya. "Still seeing him?"
Dokter itu terdiam sesaat lalu mengangguk. "Kadang."
Kei mengangguk-angguk. Kubota mengulum senyum. "Cemburu?"
Lagi-lagi ia mendengus. "I never even met him." Kei mendesah. "And you did say you have no intention to marry him."
"......Memang."
Mereka terdiam lagi. Sama-sama menahan diri agar tidak terjebak dalam pertanyaaan seperti 'kau menganggapku apa'.
"Kudengar dari Ibu kalau kau sempat dekat dengan seseorang? Penyanyi kalau tak salah?"
"Drummer." Koreksi Kei cepat.
Kubota mengangguk-angguk. "Dia membuatmu kesal?"
"Not as much as you."
Kubota tertawa renyah. "You'll meet someone."
"Oh, don't give me that." Kei terdengar sedikit kesal. "You're the only one I want to marry. But you never trust marriage. So, you see, I have no option." Pria itu menatap lurus-lurus ke arahnya. Kubota mengerang.
"Apa kau mencoba membuatku merasa bersalah?"
Kei memajukan tubuhnya, satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring dan terlihat sedikit licik. Matanya meredup saat wajah mereka begitu dekat dan Kubota bisa merasakan hembusan nafas Kei di wajahnya. "Every second of my life."
Kubota balas nyengir. "Perjuanganmu berat, kau tahu." Ia beringsut mendekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Perasaan hangat dan geli di bagian bawah perutnya ini terasa begitu familiar.
Senyum Kei melebar. "Do you think I'm that weak?" Ujung-ujung jemarinya menyentuh garis rahang Kubota.
Kubota mengedikkan bahu dan menarik tengkuk pria itu untuk menciumnya.
"Think your brother will kill us if he catch us making out here?" Bisik Kei sambil mengecup dagu kokoh Kubota.
"Probably." Gumam Kubota acuh.
Kei tertawa dan menjauh. "You never change." Ujarnya, menjetikkan jari di ujung hidung Kubota yang sedang menjilat bibir.
"Kau juga."
Mereka tersenyum lagi. Kei mengeratkan genggaman tangan mereka yang masih terjalin. "Drive me home? Or I have to wait until you're finished?"
Kubota melirik arlojinya. "Aku harus rapat dengan Kazuki setengah jam lagi. Kalau kau tak keberatan menunggu di kafetaria, aku akan minta Matsuzaka menemanimu."
"I have no problem waiting. Been doing it since I met you." Ujar Kei, mengibaskan tangan dengan acuh.
"Kei-chan."
"Yuuki-chan."
Kubota mendesah kalah. "Fine. Stay around. And we'll see. But I can't promise you anything."
"That is why I love you, Yuuki-chan." Ujar pria itu sambil tersenyum miring. "But you're still driving me home."
Kubota menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mendesah lagi. "You're evil."
"That's why you love me."
-end?-
Cast: Kubota Yuuki, Hosogai Kei
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC, too much conversation in english while the fic itself is in bahasa.
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
Note: Oh, gue cinta Kei-chan. Semoga bisa menghibur untuk Lebaran yang tertunda #eh
"You know what? I never imagine that 'once in a full moon' could span so long it turned into 'once every hundred full moons'."
Sudut-sudut bibir Kubota Yuuki tertarik membentuk cengiran lebar. "Aku kan sibuk."
"Yeah, yeah. Spare me the bullshit."
Lagi-lagi dokter itu hanya sanggup nyengir. Dihampirinya sosok di hadapannya, kedua tangannya menjangkau pegangan kursi roda dan mendorong pelan. "Keluar yuk. Udara segar mungkin bisa membuatmu sedikit ramah padaku, Kei-chan."
Pria yang dipanggil Kei-chan itu hanya memutar matanya dan menurut saja didorong keluar ruangan praktek Kubota. "Buy me a drink." Ujarnya tanpa mau ditawar.
Mereka berhenti di depan mesin penjual minuman dan menekan dua tombol berbeda. Bunyi kaleng berdentangan dan Kubota merunduk untuk mengambil minuman mereka. Diserahkannya satu pada teman sekaligus pasiennya itu. Kei menyambut dengan sedikit terpana.
"White grape juice. You remember." Gumamnya.
"Told you. Aku selalu memikirkan dirimu."
Kei mendengus. "You expect me to believe that?"
Kubota mengedikkan bahu tak acuh dan melanjutkan langkah menuju taman. Kali ini dibiarkannya Kei mengikutinya di sampingnya. Kubota mengambil tempat di salah satu bangku taman yang terletak di bawah rimbunan pohon wisteria. Kei menghentikan kursi rodanya di hadapan dokter itu, menyesap minumannya tanpa banyak cakap.
Kubota menatap temannya itu. Tak banyak yang berubah dari Hosogai Kei sejak terakhir kali mereka bertemu. Tubuhnya masih saja ramping dengan tinggi yang nyaris menyamai Kubota kalau Kei berdiri. Sayangnya, penyakitnya membuat kakinya tak bisa berlama-lama menopang berat badannya. Kei menghabiskan lebih banyak waktu di kursi roda. Meski saat ia sedang bisa berdiri, ia akan mondar-mandir kesana kemari walaupun harus ditopang tongkat. Wajahnya manis cenderung cantik meski suaranya berat dan lidahnya tajam. Sarkasme-nya selalu membuat Kubota merasa terhibur. Dan entah bagaimana, Kei malah terlihat semakin seksi.
Hosogai Kei, orang Jepang yang tinggal di Amerika sejak SMU. Anak kenalan ibunya dan mereka dikenalkan saat Kubota harus menemani ibunya yang diopname karena usus buntu. Pemuda yang menarik meski tak seaneh Shintarou. Mereka sempat berkencan beberapa waktu tapi karena satu dan lain hal, hubungan itu tak berlanjut.
Hosogai Kei, 35 tahun, satu-satunya orang yang sanggup membuat Kubota Yuuki sempat berpikir serius tentang pernikahan. Walau pada akhirnya tak diungkapkan.
"Still can't believe you refused to inherit such facility." Kei berujar, membuyarkan lamunan Kubota. Kebiasaannya berbicara dalam bahasa inggris meski mengerti bahasa jepang pun tak berubah.
Dokter itu lagi-lagi hanya nyengir dan merogoh kantong untuk mengeluarkan sekotak rokok. Kei mengangkat alis. Kubota menunjuk tanda di sudut taman yang mengatakan kalau di situ diperbolehkan merokok. Lagipula, ia kakak pemilik rumah sakit.
"Kau pasien." Ujarnya saat Kei mengulurkan tangan lalu tertawa saat Kei mendelik padanya. Diangsurkannya kotak rokoknya lalu berbagi api dengan pria itu.
Beberapa kali tarikan dan hembusan, Kubota menoleh pada temannya itu. "Kau selalu menolak untuk dirawat sebelumnya. What's the change of heart?"
Kei melirik ke arahnya dan mengangkat bahu. "I'm tired."
"Karena harus menjelaskan pada orang-orang dan bosan dikasihani?" Tanya Kubota.
Kei memutar matanya lagi. "Of the chair."
"Ah." Kubota manggut-manggut. "Tapi kenapa harus di Jepang? Di Amerika kan juga ada pengobatan yang tak kalah bagus dengan di sini."
Kali ini Kei tak menjawab. Ia menyesap minumannya lagi dan hanya menatap Kubota dari tepi kaleng minumannya. Kubota menangkap pandangan itu dan tersenyum simpul.
"Kangen padaku?"
Kei mendengus. "You're the only one I can trust."
Kubota menundukkan kepalanya dengan gaya. "I'm flattered."
"You should."
Dokter itu tertawa lagi dan sungguh, hatinya melonjak senang saat melihat Kei pun ikut tersenyum. "Aku tak akan jadi satu-satunya yang merawatmu loh. Ada Souta-sensei dan Matsuzaka-sensei yang akan ikut menanganimu."
Kei hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. "As long as you trust them."
"Mereka dokter yang kompeten."
"Then it's fine for me."
Mereka terdiam beberapa lama. Kei memejamkan mata, nampak menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dan bunyi desir daun wisteria di dekat mereka. Kubota menyalakan sebatang rokok lagi, ikut menghanyutkan diri dalam diam. Ia melambai sejenak pada Tori dan Takuma yang kebetulan melintas. Hanya tersenyum pada ekspresi keheranan mereka. Ia pun mengerutkan kening saat tangan Kei terulur ke arahnya. Perlahan, disambutnya diselipkannya tangan itu ke dalam genggamannya dan mengelus buku jarinya yang agak kasar.
"Masih main bass?" Tanyanya pelan dengan penuh ingin tahu.
"From time to time." Balas Kei masih dengan mata terpejam.
"Masih sendiri?" Lanjut Kubota, mengelus pangkal jari manis Kei dengan ibu jarinya.
"Same as you." Kei membuka matanya.
Kubota mengangguk dan sebelum ia sempat bertanya lagi, Kei menduluinya. "Still seeing him?"
Dokter itu terdiam sesaat lalu mengangguk. "Kadang."
Kei mengangguk-angguk. Kubota mengulum senyum. "Cemburu?"
Lagi-lagi ia mendengus. "I never even met him." Kei mendesah. "And you did say you have no intention to marry him."
"......Memang."
Mereka terdiam lagi. Sama-sama menahan diri agar tidak terjebak dalam pertanyaaan seperti 'kau menganggapku apa'.
"Kudengar dari Ibu kalau kau sempat dekat dengan seseorang? Penyanyi kalau tak salah?"
"Drummer." Koreksi Kei cepat.
Kubota mengangguk-angguk. "Dia membuatmu kesal?"
"Not as much as you."
Kubota tertawa renyah. "You'll meet someone."
"Oh, don't give me that." Kei terdengar sedikit kesal. "You're the only one I want to marry. But you never trust marriage. So, you see, I have no option." Pria itu menatap lurus-lurus ke arahnya. Kubota mengerang.
"Apa kau mencoba membuatku merasa bersalah?"
Kei memajukan tubuhnya, satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring dan terlihat sedikit licik. Matanya meredup saat wajah mereka begitu dekat dan Kubota bisa merasakan hembusan nafas Kei di wajahnya. "Every second of my life."
Kubota balas nyengir. "Perjuanganmu berat, kau tahu." Ia beringsut mendekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Perasaan hangat dan geli di bagian bawah perutnya ini terasa begitu familiar.
Senyum Kei melebar. "Do you think I'm that weak?" Ujung-ujung jemarinya menyentuh garis rahang Kubota.
Kubota mengedikkan bahu dan menarik tengkuk pria itu untuk menciumnya.
"Think your brother will kill us if he catch us making out here?" Bisik Kei sambil mengecup dagu kokoh Kubota.
"Probably." Gumam Kubota acuh.
Kei tertawa dan menjauh. "You never change." Ujarnya, menjetikkan jari di ujung hidung Kubota yang sedang menjilat bibir.
"Kau juga."
Mereka tersenyum lagi. Kei mengeratkan genggaman tangan mereka yang masih terjalin. "Drive me home? Or I have to wait until you're finished?"
Kubota melirik arlojinya. "Aku harus rapat dengan Kazuki setengah jam lagi. Kalau kau tak keberatan menunggu di kafetaria, aku akan minta Matsuzaka menemanimu."
"I have no problem waiting. Been doing it since I met you." Ujar Kei, mengibaskan tangan dengan acuh.
"Kei-chan."
"Yuuki-chan."
Kubota mendesah kalah. "Fine. Stay around. And we'll see. But I can't promise you anything."
"That is why I love you, Yuuki-chan." Ujar pria itu sambil tersenyum miring. "But you're still driving me home."
Kubota menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mendesah lagi. "You're evil."
"That's why you love me."
-end?-
Saturday, August 6, 2011
[fanfic] AU Keigo Kyoudai - Oyasumi
Fandom: Prince of Tennis Musical
Cast: Katou Kazuki, Inoue Masahiro, Kubota Yuuki
Rating: G
Warning: AU, OOC, bromance
Disclaimer: actors are belonged to their respective agencies. No profit gained, no harm intended
Note: iseng sore-sore dan pendek saja deh :D
"Nii-san."
Kazuki mengangkat kepalanya, mengalihkan pandang dari novel detektif yang ada di pangkuannya. Dilihatnya sesosok mungil tersembul dari pintu kamarnya yang terbuka. Kazuki mengerutkan kening.
"Masahiro? Ada apa?"
Anak laki-laki itu menggerut bantal yang ada dalam pelukannya. Kerah piyamanya yang bermotif beruang agak merosot di pundak kanan. Masahiro melirik takut-takut ke arah jendela. Hujan sejak sore dan makin deras seiring malam datang bahkan disertai petir dan guntur. Gemuruh suara dari luar dan bunyi dahan-dahan pohon membentur kaca membuat Masahiro tak bisa tidur. Maka ia lari ke kamar kakaknya. Ryuuji, yang kamarnya paling dekat dengan Masahiro, tak membukakan pintu dan Masahiro berjinjit untuk membuka sendiri tapi pintunya dikunci. Samar, Masahiro ingat gadis cantik yang datang dengan kakaknya tadi sore dengan keadaan basah kuyup.
Jadi kaki kecilnya pun berlari menuju kamar Kazuki. Untunglah Kazuki belum tidur. Kakak keduanya itu masih duduk duduk di tempat tidur, membaca dengan diterangi lampu tidur. Masahiro malu menjawab kalau ia takut tapi Kazuki memandangnya dengan khawatir.
"Masahiro?"
Nyala terang kilat membuat ruangan itu terang sesaat diikuti dengan suara menggelegar keras yang membuat jendela bergetar dan Masahiro pun berlari, dengan sigap melompat ke tempat tidur lalu meringkuk di sebelah kakaknya. Tubuhnya gemetar dan kepalanya disurukkan ke antara bantal yang menyangga punggung Kazuki dan lengan besar kakaknya. Kedua tangannya menutupi telinganya.
Kazuki mengernyit. Petir barusan memang kencang sekali. Diliriknya sosok adik bungsunya yang meringkuk ketakutan. Dokter muda itu tersenyum, ditutupnya novel bacaannya, menyingkirkannya ke atas meja dan merengkuh tubuh Masahiro dalam pelukannya.
"Kamu ini, sudah kelas 6 masa masih takut sama petir?" Kelakarnya sambil menepuk-nepuk gundukan kecoklatan rambut Masahiro.
Masahiro hanya menggerung sambil menggelengkan kepalanya yang disurukkan makin dalam ke dada sang kakak. Kazuki menghela nafas dan memeluk sang adik dengan lebih erat.
Masahiro nyaris jatuh tertidur. Rasanya nyaman sekali dipeluk Kazuki. Kakak keduanya itu biasanya selalu serius dan tak akan segan memarahi Masahiro yang memang tak bisa diam dan selalu membuat onar. Tetapi sentuhan tangannya di kepala Masahiro, pelukan dan senyumnya selalu terasa hangat dan Masahiro tahu kalau kakaknya itu sangat sayang padanya.
"Sudah tenang? Petirnya sudah berhenti tuh." Suara Kazuki terdengar samar. Masahiro mengangkat kepalanya perlahan, mengintip ragu ke arah jendela dan telinganya mendengar dengan waspada. Sudah tak ada petir, yang tersisa hanya suara gemuruh hujan yang belum reda.
Kazuki melepas kacamatanya dan menyimpannya dengan rapi di atas novelnya. Dibiarkannya Masahiro beringsut turun dari pangkuannya meskipun kedua lengannya masih memeluk erat lengan Kazuki.
"Nii-san tidak takut petir?" Tanyanya lugu.
Kazuki tertawa kecil. "Takut. Tentu saja takut. Kalau tersambar kan berbahaya."
"Mou." Masahiro merengut, pipi bulatnya menggembung sempurna dan Kazuki mencubitnya dengan gemas.
"Sudah diajari caranya menghindari petir kan di sekolah?"
Masahiro mengangguk.
"Masahiro tahu kalau rumah kita ini dilengkapi penangkal petir?"
Kepala mungil itu mengangguk lagi. Kazuki tersenyum. "Nah, berarti Masahiro tak perlu takut dengan petir kan? Karena Masahiro aman di dalam rumah."
Masahiro menggigit bibir lalu melirik pada Kazuki yang memandangnya, menunggu jawaban dari sang adik. Masahiro beringsut, berbaring miring tanpa mau melepaskan lengan sang kakak yang terasa nyaman, hangat dan aman.
Kazuki mengacak rambut sang adik dengan gemas. "Masih takut?"
Masahiro menggeleng. "Tapi aku boleh tidur sama Nii-san kan?"
Kazuki tertawa lalu menghela nafas. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mungil adiknya. Pria itu merunduk untuk mendaratkan sebuah kecupan di kening Masahiro.
Masahiro beringsut lagi, mencari posisi yang benar-benar nyaman sebelum menutup mata. Ia menguap lebar dan menggumamkan "Oyasumi, Nii-san."
Kazuki tersenyum. "Oyasumi, Masahiro." Lalu mengambil kacamata dan novelnya lagi.
------
Kazuki mengangkat kepalanya dari bacaannya saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Kazuki mengernyitkan kening, melirik jam dan baru sadar kalau malam sudah larut sekali.
"Ya?" Sahutnya saat pintunya diketuk lagi.
Kubota melangkah masuk. "Hei, belum tidur?"
Kazuki mengangkat novelnya. "Ada apa, Yuuki?"
"Tadi petirnya kencang sekali kan? Aku ke kamar Masahiro untuk melihat keadaannya tapi ia tak ada." Jawab Kubota dengan wajah setengah khawatir.
Kazuki tak menjawab, hanya menoleh pada gundukan di sampingnya. Kubota menghela nafas lega. Ditutupnya pintu, melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur Kazuki. Diliriknya adik bungsu mereka yang sudah tertidur dengan lelapnya. Dengan iseng, ditusuknya pipi bulat sang adik dan tertawa saat Masahiro menggumam sebal.
"Yuuki." Tegur Kazuki.
Kubota hanya menjulurkan lidah. Petir menyambar lagi di luar sana. Kazuki mengernyit tapi tak berkata apapun dan melanjutkan membaca. Saat tak mendengar apa-apa dari sang kakak, Kazuki melirik. Didapatinya Kubota sedang memandangnya dengan senyum lembut.
"Apa?"
"Kau tak apa-apa?"
Kazuki mengangkat alis tak mengerti.
"Masih juga takut petir? Karena itu kau tak pernah tidur dan membaca sampai larut kalau ada badai kan?"
Tanpa sadar, Kazuki merengut. Semburat merah menjalari leher dan telinganya. Pria itu melengos dan Kubota tertawa seraya menjulurkan tangan untuk menepuk-nepuk lutut Kazuki yang tertutup selimut. Lalu ia naik ke tempat tidur, menyusup ke balik selimut dan berbaring di sebelah Masahiro.
Kazuki menatapnya. "Sedang apa sih?"
Kubota menghela nafas dengan santai. "Menjaga adikku. Tidurlah."
Kazuki ikut menghela nafas, mengernyit kala petir menyambar lagi. Kali ini ia menyerah dan ikut berbaring. Kedua pria itu merapat pada Masahiro yang menggeliat pelan dan bergumam sesuatu dalam tidurnya.
Kazuki tersenyum kecil, menatap Kubota dengan sayang. "Oyasumi, ......Nii-san."
Kubota nyengir. "Oyasumi."
Cast: Katou Kazuki, Inoue Masahiro, Kubota Yuuki
Rating: G
Warning: AU, OOC, bromance
Disclaimer: actors are belonged to their respective agencies. No profit gained, no harm intended
Note: iseng sore-sore dan pendek saja deh :D
"Nii-san."
Kazuki mengangkat kepalanya, mengalihkan pandang dari novel detektif yang ada di pangkuannya. Dilihatnya sesosok mungil tersembul dari pintu kamarnya yang terbuka. Kazuki mengerutkan kening.
"Masahiro? Ada apa?"
Anak laki-laki itu menggerut bantal yang ada dalam pelukannya. Kerah piyamanya yang bermotif beruang agak merosot di pundak kanan. Masahiro melirik takut-takut ke arah jendela. Hujan sejak sore dan makin deras seiring malam datang bahkan disertai petir dan guntur. Gemuruh suara dari luar dan bunyi dahan-dahan pohon membentur kaca membuat Masahiro tak bisa tidur. Maka ia lari ke kamar kakaknya. Ryuuji, yang kamarnya paling dekat dengan Masahiro, tak membukakan pintu dan Masahiro berjinjit untuk membuka sendiri tapi pintunya dikunci. Samar, Masahiro ingat gadis cantik yang datang dengan kakaknya tadi sore dengan keadaan basah kuyup.
Jadi kaki kecilnya pun berlari menuju kamar Kazuki. Untunglah Kazuki belum tidur. Kakak keduanya itu masih duduk duduk di tempat tidur, membaca dengan diterangi lampu tidur. Masahiro malu menjawab kalau ia takut tapi Kazuki memandangnya dengan khawatir.
"Masahiro?"
Nyala terang kilat membuat ruangan itu terang sesaat diikuti dengan suara menggelegar keras yang membuat jendela bergetar dan Masahiro pun berlari, dengan sigap melompat ke tempat tidur lalu meringkuk di sebelah kakaknya. Tubuhnya gemetar dan kepalanya disurukkan ke antara bantal yang menyangga punggung Kazuki dan lengan besar kakaknya. Kedua tangannya menutupi telinganya.
Kazuki mengernyit. Petir barusan memang kencang sekali. Diliriknya sosok adik bungsunya yang meringkuk ketakutan. Dokter muda itu tersenyum, ditutupnya novel bacaannya, menyingkirkannya ke atas meja dan merengkuh tubuh Masahiro dalam pelukannya.
"Kamu ini, sudah kelas 6 masa masih takut sama petir?" Kelakarnya sambil menepuk-nepuk gundukan kecoklatan rambut Masahiro.
Masahiro hanya menggerung sambil menggelengkan kepalanya yang disurukkan makin dalam ke dada sang kakak. Kazuki menghela nafas dan memeluk sang adik dengan lebih erat.
Masahiro nyaris jatuh tertidur. Rasanya nyaman sekali dipeluk Kazuki. Kakak keduanya itu biasanya selalu serius dan tak akan segan memarahi Masahiro yang memang tak bisa diam dan selalu membuat onar. Tetapi sentuhan tangannya di kepala Masahiro, pelukan dan senyumnya selalu terasa hangat dan Masahiro tahu kalau kakaknya itu sangat sayang padanya.
"Sudah tenang? Petirnya sudah berhenti tuh." Suara Kazuki terdengar samar. Masahiro mengangkat kepalanya perlahan, mengintip ragu ke arah jendela dan telinganya mendengar dengan waspada. Sudah tak ada petir, yang tersisa hanya suara gemuruh hujan yang belum reda.
Kazuki melepas kacamatanya dan menyimpannya dengan rapi di atas novelnya. Dibiarkannya Masahiro beringsut turun dari pangkuannya meskipun kedua lengannya masih memeluk erat lengan Kazuki.
"Nii-san tidak takut petir?" Tanyanya lugu.
Kazuki tertawa kecil. "Takut. Tentu saja takut. Kalau tersambar kan berbahaya."
"Mou." Masahiro merengut, pipi bulatnya menggembung sempurna dan Kazuki mencubitnya dengan gemas.
"Sudah diajari caranya menghindari petir kan di sekolah?"
Masahiro mengangguk.
"Masahiro tahu kalau rumah kita ini dilengkapi penangkal petir?"
Kepala mungil itu mengangguk lagi. Kazuki tersenyum. "Nah, berarti Masahiro tak perlu takut dengan petir kan? Karena Masahiro aman di dalam rumah."
Masahiro menggigit bibir lalu melirik pada Kazuki yang memandangnya, menunggu jawaban dari sang adik. Masahiro beringsut, berbaring miring tanpa mau melepaskan lengan sang kakak yang terasa nyaman, hangat dan aman.
Kazuki mengacak rambut sang adik dengan gemas. "Masih takut?"
Masahiro menggeleng. "Tapi aku boleh tidur sama Nii-san kan?"
Kazuki tertawa lalu menghela nafas. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mungil adiknya. Pria itu merunduk untuk mendaratkan sebuah kecupan di kening Masahiro.
Masahiro beringsut lagi, mencari posisi yang benar-benar nyaman sebelum menutup mata. Ia menguap lebar dan menggumamkan "Oyasumi, Nii-san."
Kazuki tersenyum. "Oyasumi, Masahiro." Lalu mengambil kacamata dan novelnya lagi.
------
Kazuki mengangkat kepalanya dari bacaannya saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Kazuki mengernyitkan kening, melirik jam dan baru sadar kalau malam sudah larut sekali.
"Ya?" Sahutnya saat pintunya diketuk lagi.
Kubota melangkah masuk. "Hei, belum tidur?"
Kazuki mengangkat novelnya. "Ada apa, Yuuki?"
"Tadi petirnya kencang sekali kan? Aku ke kamar Masahiro untuk melihat keadaannya tapi ia tak ada." Jawab Kubota dengan wajah setengah khawatir.
Kazuki tak menjawab, hanya menoleh pada gundukan di sampingnya. Kubota menghela nafas lega. Ditutupnya pintu, melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur Kazuki. Diliriknya adik bungsu mereka yang sudah tertidur dengan lelapnya. Dengan iseng, ditusuknya pipi bulat sang adik dan tertawa saat Masahiro menggumam sebal.
"Yuuki." Tegur Kazuki.
Kubota hanya menjulurkan lidah. Petir menyambar lagi di luar sana. Kazuki mengernyit tapi tak berkata apapun dan melanjutkan membaca. Saat tak mendengar apa-apa dari sang kakak, Kazuki melirik. Didapatinya Kubota sedang memandangnya dengan senyum lembut.
"Apa?"
"Kau tak apa-apa?"
Kazuki mengangkat alis tak mengerti.
"Masih juga takut petir? Karena itu kau tak pernah tidur dan membaca sampai larut kalau ada badai kan?"
Tanpa sadar, Kazuki merengut. Semburat merah menjalari leher dan telinganya. Pria itu melengos dan Kubota tertawa seraya menjulurkan tangan untuk menepuk-nepuk lutut Kazuki yang tertutup selimut. Lalu ia naik ke tempat tidur, menyusup ke balik selimut dan berbaring di sebelah Masahiro.
Kazuki menatapnya. "Sedang apa sih?"
Kubota menghela nafas dengan santai. "Menjaga adikku. Tidurlah."
Kazuki ikut menghela nafas, mengernyit kala petir menyambar lagi. Kali ini ia menyerah dan ikut berbaring. Kedua pria itu merapat pada Masahiro yang menggeliat pelan dan bergumam sesuatu dalam tidurnya.
Kazuki tersenyum kecil, menatap Kubota dengan sayang. "Oyasumi, ......Nii-san."
Kubota nyengir. "Oyasumi."
Thursday, August 4, 2011
[fanfic] Bound
Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Pairing: Daishuuryou!Tsuka/Shiba Takeru
Rating: R
Warning: AU, BL, OOC, might NSFW
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone. The silver chain thing is snatched from Stardust.
Note: Written in English, unbeta so please forgive the grammar error, typo and everything.
For Anne. This is supposed to be my share in exchange of you donating for Japan some time ago. Sorry, no throne!pr0n :p
He hardly can remember the first time he was brought to the castle. Or why he was brought to the castle. He can only remember that there was a war -a dragging and frustrating one, but war is always like that, right? The reason for the war is already become so vague. He thinks that it was suppose to be between them and Chimatsuri Doukoku's side but then another party was coming in. A rider, or something, with his friends and then there was another bunch of people under Daishuuryou banner or something and then the rider was caught and then he became their leader and everything turned in to a blur. If someone asked him to draw a map of event, Takeru might as well commit suicide.
All he knows is that he is now a prisoner in this castle. It has been for a length of time. Maybe a year or maybe a couple of weeks or maybe merely days. The castle’s dungeon is closed and solid with no windows. Takeru knows this only by the appearance of the cell he is locked in. It’s dark -a candle is all that spare him from total darkness. He can hear sobs and a couple of time, screams. He suspects he also hears scratching sound. It’s all unnerving and almost drives him to madness.
They don’t treat him badly. They feed him a loaf of bread and water. Standard procedure to keep a prisoner alive, Takeru thinks gravely. But he really can’t complain, right? Takeru sits still in a meditating pose. Eyes closed, he tries to remember his retainers, no, friends’ faces. Jii’s face. Replaying their voices, laughs, the quiet busy bustling of the kurokos. Sometimes, if he felt he has the strength, Takeru will do some training with imagery sword. That calms him. Sort of. At least he hasn’t gone mad. Or so he hopes.
They move him from the dungeon. Takeru doesn’t ask why. Perhaps it’s best not to ask questions. Still, he is scared as to where they are bringing him. The corridor is long and unwinding. Doors, guards, more doors, more guards, people moving, another doors and guards. His vision is blurry. Perhaps they will bring him to trial (on what ground, he doesn’t know) or perhaps they will send him to death right away.
They send him to what seems like a servant quarter, instead. He can see better now. Solemn but terrified expressions, bowed heads, matching dust colored tunics, and the sound of chains rattling. They are bound around their feet. They hand him to two servants, commanding them to take care of him. Takeru can’t think.
The servants bring him to another room. They release him from the chain around his wrist and ankles. They undress him. “What?” Takeru can hear himself blurts the question. One of the servant only smiles at him. The other snorts. “Consider yourself lucky,” he says. Takeru can feel a frown takes residence on his forehead.
“Why?” he asks again.
“You’re to serve Daishuuryou-sama, you idiot.” The reply is far from what he is expecting. But Takeru doesn’t ask anymore. He feels dizzy. He suspects the scent of the incense causes it. It smells sweet. Too sweet Takeru feels nauseous. And then they bathe him; they put him into a large tub. The water is hot and scented like grass and honey. It’s frustratingly comfortable. They scrub every dirt from his body, they wash his hair, and before he knows it, Takeru already dress in a piece of yukata.
Silk, Takeru feels with his palm. They put another chain on him but it’s different from the previous. This one is so thin and made of silver. It binds beautifully around his left ankle, like a jewel. But it can not be broken. Takeru tries several time after the servants left him alone in another room. The chain breaks easily but quickly joins itself while the other end is tied to a column. Takeru suspects it’s no use trying to break that end either.
He waits. Quite a long time before someone arrives with his food. No more bread and water but he gets a full course menu. He finds himself hungry. Very hungry he finishes the food in a blink of an eye. And then he falls asleep. It seems that no one comes for him while he is sleeping. Another portion of food replaces the ones he finishes earlier. Takeru eats them as well. And then he goes back to sleep.
Three days and Takeru finds his strength again. The chain let him goes wherever he wants to go but still remains unbroken. Takeru starts to consider it as a part of his own body. It’s no use to fight it. Takeru tries to go out of the room. The door is unlocked but there are guards outside. One kicks him, sending him flying back into the room. His fellow guard scolds him, reminding him that he will face a dire consequent if ever their lord finds out that the prisoner is injured. Takeru never tries to go out again.
He meditates again, trying to find a peace of mind, if he can or if there’s such thing as peace of mind now. He practices. They are kind to give him a wooden sword this time. They bathe him twice a day, feed him thrice a day, let him go to the lavatory whenever he feels the need to. But nothing is said or related to him about anything. They said he is about to serve Daishuuryou-sama but who is this Daishuuryou-sama? If he is about to serve this Daishhuuryou-sama, why they keep him in this room -Takeru considers it as another shape of a prison cell- instead of giving him something to do?
He asks for paper and brush and some ink. Maybe practising his calligraphy can be a new and nice distraction for him as well as a good training for his mojikara. But they don’t give him that. They know. Takeru feels a little dejected but he stays silent and practice with his sword again.
He is summoned on the tenth day he is in that room. They bathe him again, this time with water scented of lavender and musk. Smooth and very sexy. Takeru doesn’t bother. They put a nicer yukata on him. Still made of silk but of finer quality and red in color. They bring him to another room. The room is so big and vast but unlike the other part of the castle, this room is so bright. A big window at the end of the room causes this. Takeru can only see the sky from where he is standing and judging from the strong breeze, this room is located on a high level, very high level.
There is a bed. A huge four posted bed in the middle of the room. It is made of hard charcoal wood. The sheets white while everything else is blood red. Takeru let his fingertips touches the surfaces. Silk, satin and velvet. The daybed near the window is as comfortable. Also black and blood red in color. There is a table in front of it. Full of food and refreshment. Takeru stands still while a guard breaks his chain (it encloses again) and pulls the other end around one of the bed post.
He hears them leave. Alone in the room. This must be someone’s room, Takeru thinks. He remembers his own room back at the Shiba mansion. It only tenth in size but it is one of a few rooms he feels safe inside. This room is strange, just like every part of the castle he ever seen. It is so wide but it seems like he can’t touch any end of it even though the chain lets him to. He climbs to the bed, folds himself and sleeps.
When he opens his eyes again, it’s already dark outside but someone has lit the candles inside the room. It’s almost romantic but Takeru is frantic because his hands are now raised above his head, tied securely around the bed posts with the silver chain. To his horror, there is someone beside him.
Takeru frowns. He feels like he knows this man but he can be wrong. “Who are you?” he whispers, a little bit shaky but Takeru can care any less.
The man lays beside him, head propped on one hand while his other hand plays with a length of the silver chain. He cocks an eyebrow to Takeru and smiles wryly at him. “Tsk, it’s very rude not knowing the name of the man you are suppose to serve, ShinkenRed-san.”
“......................Daishuuryou-sama?”
The man nods.
“You look like someone I know.”
“There is only one me.”
Takeru doesn’t answer that.
“Do you know why you are brought here, ShinkenRed-san?”
“I do not know many things anymore.” Takeru admits.
Daishuuryou smiles. “Wise answer. Suitable for a lord.”
It sounds like a mockery. A familiar mockery.
Daishuuryou shifts closer. He reaches out, doing something with the bound above Takeru’s head. Takeru lets himself being pulled up and dragged to sit on the man’s lap. He is naked. They are naked. How he just realizes it now, he doesn’t know. The silver chain binds his wrists together, also around their waists. Takeru looks at the man, confuse in his eyes.
“They say I am to serve you.” he whispers. Daishuuryou’s skin is cold. Takeru shivers when he touches him.
“Your friends are dead.” Daishuuryou studies his prisoner’s face for a while. Takeru shows no emotion. He only nods his head a little. Daishuuryou moves and smiles a cocky smile when Takeru gasps.
Takeru takes a deep breath. He shifts closer to the man. The pain is excruciating but he is used to pain. This is nothing than the sudden emptiness that takes over him at the moment. “Has the war ended?”
“I do not like to explain things.” He moves again, sending Takeru to writhes and whimpers. He looks at Takeru’s flushed face and slips some strands of hair behind Takeru’s ear. He kisses the ear and whispers a suggestion so logical and tempting.
“Forget everything.”
A thrust. Takeru gasps sharply.
“You are bound to me.”
Takeru knows that. He takes a breath. Deeply. Something crawls inside of him and Takeru shakes his head, trying to resist, trying to hold it inside of him but desperately. He knows he is loosing. He moves his head, searching, and finds the other man’s eyes. Devious, passionate, evil, fragile.
Takeru shakes his head again. He is sobbing now. Not loudly but sad and torn. Daishuuryou kisses him. On his eyes, the tip of his nose, his cheeks and on his lips.
It breaks loose.
“...........Tsukasa.”
Labels:
AU,
BL,
Daishuuryou,
English,
fanfic,
NC-17,
NSFW,
Shiba Takeru
Thursday, July 28, 2011
[fanfic] AU Wedding Checklist - Caterer
Cast: Matsuzaka Tori, Inoue Masahiro, Wada Takuma, Daito Shunsuke, Takiguchi Yukihiro
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything. Steps on picking a wedding caterer are taken from here
Note: Nei, mana bagian Bestmen-nya?
1. Ask around in your own circle for references to a good wedding caterer. And by the way, 'wedding' is the operative word here - lots of caterers may not necessarily have experience with weddings, and that particular experience is important.
"Memangnya tidak ada yang lebih mahal lagi ya?" Tori bertanya sarkastis sambil mengibaskan tangannya ke arah tumpukan pamflet penyedia jasa katering pernikahan yang berserakan di atas meja ruang tengah keluarga Keigo.
Masahiro merengut. "Itu semua harganya masuk di tengah-tengah, kok." Mata pemuda itu mendelik. Dia sudah susah payah mengumpulkan semua pamflet itu dan memilih dengan hati-hati. Bukan salahnya kalau Tori menganggap harga yang tertera masih mahal.
Tori mendengus dan membolak-balik sekali lagi beberapa pamflet yang sepertinya cukup menarik meskipun paket harga yang tertera di dalamnya tetap membuatnya mengernyit. Tentu saja dia tahu kalau katering pernikahan adalah bisnis mencari uang yang besar sekali dan yang masuk kategori murah pun pasti akan tetap membuat Tori mengernyit. Rekomendasi dari ibunya pun ditolak Tori mentah-mentah meskipun Tori tahu kateringnya berkualitas. Dia yakin di suatu tempat pasti ada katering yang berkualitas dengan harga yang masih masuk akal.
Tunangannya mengambil duduk di sebelah Tori setelah akhirnya memutuskan kalau dia sudah lelah berdiri terus sejak tadi. Pemuda jangkung itu menjangkau sehelai katering. "Ini yang biasa kami pakai kalau ada acara di rumah ataupun di rumah sakit. Tori tahu kualitas makanannya seperti apa." ujarnya hati-hati. "Tori suka creme brulee dan strawberry sorbet-nya kan?"
Tori merengut sebal seraya menyisihkan pamflet berwarna hitam-emas itu ke sebelahnya.
2. If that doesn't work, check with well-known local venues (even if you're not having your wedding in one of them). Local venues will work with local wedding caterers, and their reputation depends on having quality wedding caterers available to choose from.
Takuma menyodorkan segelas es kopi pada Tori sambil tersenyum. "Tak perlu cemberut begitu dong. Begitu menyebut 'pesta pernikahan', otomatis mereka pasti akan menaikkan harganya."
Tori mendengus, menyambut es kopinya sambil menggumamkan "Terima kasih." Dia menyesap minumannya dengan kesal sampai Shunsuke terkikik geli dan Tori melotot padanya dengan tak senang.
"Maaf, maaf." Kilah Shunsuke sambil menyodorkan sepotong apple pie ke hadapan temannya itu. "Habis wajahmu lucu sekali sih."
"Lagipula mencari katering saja kenapa susah sekali sih?" Tori bersungut-sungut, menusuk-nusuk apple pie-nya.
"Kalau tak mau makan, berikan saja padaku." Takuma menjulurkan tangannya dan langsung ditepis Tori dengan sigap.
"Maksudku, memangnya apa bedanya sih dengan katering pesta biasa? Kenapa harganya harus dibedakan semahal itu? Rasanya toh juga sama saja." Takuma dan Shunsuke hanya tersenyum-senyum menanggapi omelan teman mereka itu. Dalam hati mereka maklum kalau Tori kesal. Sudah nyaris dua bulan dan mereka belum menemukan jasa katering yang bagus. Banyak di antaranya ditolak Tori dan Masahiro menolak beberapa yang lain karena tak suka melihat wajah si pemilik.
Shunsuke mengusap remah kulit pie yang menempel di pipi Tori dengan ibu jarinya. "Aku baru ingat, Yun bilang juniornya di Prince Agency jago masak loh. Konon orang tuanya dulu punya restoran Italia. Kau mau coba menemuinya? Mungkin dia bisa membantu."
Tori mendesah sesaat sambil mengunyah apple pie-nya dengan pelan. "Aku sebenarnya tak ingin terlalu banyak melibatkan kakak-kakaknya Masahiro." ujarnya sambil mengernyit.
Shunsuke mengangguk mengerti. "Tapi ini kan proyek pribadi loh. Kau tidak akan menggunakan Prince Agency untuk menghubungi dia."
"Memangnya mereka boleh ambil pekerjaan di luar Agency?" Tori mengerutkan kening.
Shunsuke menggeleng seraya mengedikkan bahunya dengan acuh. "Yun bilang sih tak apa. Dia juga sering memberi les privat di luar agency kok."
Takuma menggelengkan kepalanya. "Kau ini. Kau kan memacari adik pemiliknya. Masa yang begitu saja tidak tahu."
"Kan tak ada hubungannya!" Protes Tori. "Ryuji-san jarang ada di rumah kalau aku datang ke rumah mereka. Kalau sedang bertemu pun pasti ngobrol hal lain. Tidak sopan kan tanya-tanya yang seperti itu."
"Iya, tahu kok." Takuma mengusap-usap rambut Tori dengan sayang dan Shunsuke mencubit pipinya dengan gemas.
3. The next step is to interview the wedding caterers - again, this will confirm a 'feeling' for the company, and also allow you to tell them about you and your wishes, and get their feedback.
"Tidak."
Masahiro mendelik. "Tapi mereka bisa membuat kue pengantin yang tinggi lima tingkat loh."
"Untuk apa?"
"Tamunya kan banyak. Kalau kue-nya tidak besar, nanti kalau ada yang tak kebagian bagaimana?"
Tori mengangkat sebelah alisnya. Masahiro menggaruk bagian belakang kepalanya. "Umh... kuenya dipotong-potong kecil lalu dijadikan dessert? Jadi kita bisa mencoret dessert dari daftar pesanan kita. Katanya Tori ingin hemat kan?"
Sebuah sandal rumah mendarat tepat di kening Masahiro.
4. Once you have a list of three or four wedding caterers to choose from, call, email or visit the website for each of them. Apart from getting a 'feel' for the company, you can also find out other specifics
Masahiro menyilangkan kedua lengannya di depan dada sementara keningnya dikerutkan dengan tak yakin. "Serius? Anak buahnya Ryuuji-nii?"
Tori mengangguk. "Orangnya baik sekali. Masakannya juga enaaaaak sekali." Dokter itu mendesah. "Wajahnya juga tampan."
Masahiro mendengus tak suka. "Oh, begitu. Jadi kemarin itu pergi untuk bergenit-genit dengan tukang masak ganteng, begitu?"
Tori memukul bagian belakang kepala pemuda jangkung itu. "Jangan sembarangan kalau bicara! Mana aku tahu kalau ternyata orangnya tampan."
Masahiro mengusap kepalanya dengan gusar. "Kalau begitu, aku tak suka."
Tori terperangah sampai mulutnya terbuka. "Apa-apaan itu?"
"Mana bisa aku membiarkan calon suamiku sibuk merayu pria lain. Maaf saja ya."
"Ma-kun."
"Tori."
Mereka bertukar pandangan tajam selama beberapa saat sampai akhirnya Tori mendelik. "Pokoknya kalau bukan Takiguchi-kun yang menangani kateringnya, aku tak mau. Kalau Ma-kun tak suka, lebih baik lupakan saja pernikahan ini."
"KOK BEGITU?"
Tori melengos lagi.
Masahiro mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. "Baiklah. Terserah. Mau Takiguchi, Takizawa, apapun, terserah Tori!"
Tori melirik tunangannya itu dan nyengir penuh kemenangan. Dikecupnya bibir Masahiro yang masih merengut dengan lembut. "Atta boy."
5. In order to do a process of elimination, the final step you can take is to do a 'taste test' of some food samples from one or two of them. Ask for an appointment, and let them know you'd like a couple of samples of the type of food you would order for your wedding.
"350 orang?" Takki bertanya. Matanya berkedip bingung mendengar jumlah yang disebutkan Tori.
Masahiro mengangguk. "Itu sudah dikurangi loh. Tadinya sih 500."
Tori menyikut perut Masahiro dan mendorongnya minggir. "Umh, tidak sanggup ya?"
Takki menggaruk keningnya seraya meringis. Pria tampan itu tampak berpikir sejenak. "Full course?"
Tori mengangguk. "Ya. Karena nanti semua tamu akan duduk di meja. Mungkin beberapa penganan kecil juga minuman selama pesta."
"Champagne, wine, spritzer, bir, soft drink, air putih, orange juice, cocktail?"
Tori mengedikkan bahunya sementara Masahiro menganggukkan kepalanya. "All that jazz." ujarnya dengan gaya.
Takki menggigit bibir, tampak berpikir lagi. "Tak masalah kan kalau aku mengajak teman untuk membantuku? Dia punya kafe di dekat sini. Jadi aku akan sangat terbantu untuk urusan bar dan pelayannya nanti."
Tori menoleh pada Masahiro. "Kurasa tak masalah ya?" Masahiro kembali mengangguk-angguk. "Yang penting, kami mempercayakan urusan katering padamu, Takiguchi-kun. Termasuk pelaksanaannya nanti."
Takki tersenyum lebar dan Tori membalas dengan tak kalah manis. "Baiklah, kalau begitu. Biar kubicarakan dengan temanku dulu ya. Minggu depan aku akan memberikan beberapa pilihan menu pada Anda, Sensei."
Tori mengangguk puas.
"Ah, kue pengantinnya bagaimana?" Takki bertanya lagi sambil menuangkan teh mengisi ulang gelas tamunya yang kosong. Tori sangat menyukai teh apel buatan tuan rumahnya itu.
Tori menggelengkan kepalanya. "Untuk masalah itu, sudah ada orang lain yang mengurus kok."
"Oh? Kalau boleh tahu, siapa?"
Masahiro menyesap tehnya dengan cepat. "Kami punya teman di La Petite."
"La Petite? Oooh, yang di dekat stasiun itu ya? Kue-kue di sana memang luar biasa enak. Aku tak bisa menyarankan yang lebih baik lagi." Takki mengangguk-angguk, seolah setuju dengan pilihan kedua tamunya. "Semoga semuanya lancar ya."
"Terima kasih, Takiguchi-kun." Tori tersenyum sumringah. Senyumnya makin lebar saat Takki menyodorkan sebungkus lemon cookies sebagai oleh-oleh.
Subscribe to:
Posts (Atom)