Saturday, February 18, 2012

[fanfic] Kitchen

Cast: Jinnai Sho, Mitsuya Ryou, Ueda Yuusuke
Rating: G
Warning: AU, OOC, implied BL
Disclaimer: I do not own anything
Note: percakapan random karena saya tak ada kerjaan di hari hujan ini.


Hari masih pagi ketika Yuusuke tiba di depan sebuah kedai sake. Jalanan di depannya pun masih sepi. Hanya tampak satu-dua orang yang sedang bebersih di depan toko milik mereka. Kedai yang menjual bento sudah ramai sejak pagi buta tapi Yuusuke tak berniat mampir ke situ. Dicobanya untuk membuka pintu kedai sake yang masih tertutup - norennya pun belum dipasang karena belum waktunya buka - sambil berujar, "Gomen kudasai."

Bagian dalam kedai itu pun masih lengang dan lampu di bagian tempat makan belum dinyalakan. Kursi-kursi masih terletak terbalik di atas meja-meja. Ada dua buah panci besar bertengger di atas kompor yang menyala. Asap tipis menguarkan wangi yang diterjemahkan otak Yuusuke sebagai sup dan rebusan sayuran. Beberapa bahan makanan lain teronggok di sebuah meja.

Yuusuke mencoba lagi, "Gomen kudasai," dan tersenyum saat mendengar ada jawaban. Kepala Jinnai menyembul dari balik pintu di bagian belakang dapur. "Ah, Ue-chan! Sudah datang ya."

Yuusuke mengangkat tangannya, "Yo."

"Taruh saja bawaanmu di atas. Aku buang sampah dulu."

Yuusuke menurut dan menapaki tangga mungil yang terletak di sebelah kiri dapur. Jaket dan tasnya diletakkan di dekat meja di ruang duduk mungil di lantai dua. Sekilas ia mengintip ke arah sebuah pintu yang setengah terbuka. Seorang pria setengah baya sedang tertidur pulas dan Yuusuke tak berniat mengganggu maka ia pun turun lagi.

Sambil menggulung lengan bajunya, Yuusuke mencari celemek dan mulai memilah-milah sayuran di atas meja. Jinnai kembali tak lama kemudian, mencuci tangan dan bergabung untuk memberi petunjuk pada Yuusuke apa yang harus dilakukan.

Jinnai sedang menghitung persediaan sake dan minuman lainnya ketika didengarnya Yuusuke bertanya, "Pacarmu yang manis itu ke mana?"

Jinnai tertawa. "Hari ini dia sibuk di kampus katanya. Ada perayaan atau apa begitu. Nanti sih katanya mau datang dengan teman-temannya."

Yuusuke mengangguk-angguk sementara tangannya terus bekerja memotong-motong sayuran. "Kupikir dia akan datang dan membantumu. Biasanya begitu kan?"

"Yah, hidupnya kan tidak berputar di sekitarku saja." Jinnai mengedikkan bahu.

"Tapi tampaknya seperti itu loh." Potong Yuusuke sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya merepotkan tapi kau senang kan?"

"Dou deshou ka," sahut Jinnai namun ia tak bisa menahan cengiran yang muncul. Yuusuke tertawa.

"Ii jyan?"

"Maa ne."

Kedua laki-laki itu tertawa lagi. Saat itu pintu kedai terbuka dan terdengar suara berat yang familiar di telinga Jinnai, "Ojamashima- eh, Ue-chan? Ue-chan da! Hisashiburiiiii!"

"Mitsuya-kun!" Yuusuke pun buru-buru berdiri namun Mitsuya sudah menghampirinya dengan langkah cepat dan menepuk2 pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.

"Eh? Eh? Sudah lama sekali ya. Sedang apa di sini? Memangnya tidak buka toko? Wah, kau tambah tampan ya? Sho-chan, Ue-chan loh!"

"Hisashiburi, Mitsuya-kun. Yappari masih tetap semangat seperti dulu ya." Yuusuke menyalaminya sambil tertawa. "Aku diminta Sho-chan bantu-bantu. Kebetulan aku tak ada pekerjaan karena toko sedang direnovasi."

Tanpa basa-basi lagi, Mitsuya melepas mantelnya dan menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di dekat Yuusuke. "Eh? Paman sakit? Atau sedang pergi?"

Jinnai menghampiri mereka dan meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan kedua temannya itu. "Sakit pinggangnya kumat. Aku tak bisa buka toko sendirian di hari sabtu seperti ini."

"Ah, sou? Boleh kujenguk? Sebentar ya, Ue-chan!" Dan Mitsuya pun langsung melesat ke lantai dua, meninggalkan Jinnai yang geleng-geleng kepala dan Yuusuke yang menahan tawa.

"Dia sudah berubah ya?" Komentar Yuusuke sambil menyesap tehnya.

"Apanya?" Jinnai menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sama saja, kok. Masih saja cengeng dan gampang naik darah."

"Tapi aku senang loh, kalian sudah berhenti berkelahi."

"Berkelahi itu kan bukan mau kami, loh. Orang-orang saja yang terus-terusan mencari. Lagipula, tak bisa seperti itu seumur hidup kan? Lagipula, itu kan sudah lama sekali, Ue-chan. Tak usah diungkit lagi." Tukas Jinnai seraya mengibaskan tangan.

Yuusuke mengangguk-angguk. "Tak menyangka saja dia akan menikah lebih dulu dan... berapa anaknya sekarang?"

"Hmm... Empat?"

"Sugoi~" Yuusuke tertawa.

Jinnai pun terkekeh. "Begitulah. Lagaknya saja marah-marah tapi sebenarnya suka sekali kok."

"Kau juga lega karena tak harus menjaganya terus kan?" Yuusuke mengangkat alis.

"Haaah?" Jinnai menuding temannya dengan sebilah pisau. "Dengar ya, saling menjaga itu insting untuk bertahan hidup, tahu. Sama sekali tak ada unsur romantisnya."

Yuusuke menepis tangan Jinnai dengan tenang. "Aku juga tak bilang begitu, kok. Maksudku, hidupmu jadi lebih tenang kan?"

Jinnai memiringkan kepala, "Yah, dibilang lebih tenang sih..."

"Ah, tidak juga ya." Yuusuke tertawa lagi.

"Sou."

Mitsuya kembali bergabung dengan dua teman lamanya itu tak lama kemudian. "Paman sempat bangun sebentar tadi, tapi sudah tidur lagi." Ujarnya sambil menduduki kursinya lagi dan menjangkau seikat sawi putih.

Jinnai mengangguk lalu mengangkat alis. "Sedang apa?"

Mitsuya balas mengangkat alis. "Aku sedang tak ada kerjaan jadi ikut bantu tak apa kan? Toh, sudah lama tidak bertemu Ue-chan. Ne?" Ujarnya sambil mengangguk pada Yuusuke.

Jinnai memukul bagian belakang kepala Mitsuya dengan kesal dan membuat Mitsuya mengaduh keras dan balas memukul lengan Jinnai. "Apa sih tujuanmu kemari? Kau kan tahu kedai tak akan buka sampai jam 7 malam."

Mitsuya mengerjap. "Ah! Sou!" Dia menepuk tangan seolah baru ingat akan tujuannya mendatangi kedai itu pagi-pagi. "Tak ada apa-apa sih. Hehehe."

"Hah?" Tangan Jinnai sudah terangkat hendak memukul Mitsuya lagi namun temannya yang cantik itu merengut.

"Habis, Kenki sedang dinas ke luar kota. Anak-anak juga sedang study tour ke Osaka. Mereka tak akan pulang sampai lusa. Aku tak ada kerjaan nih." Keluhnya.

Jinnai menghela nafas. Yuusuke tersenyum lebar. "Tak apa kan, Sho-chan. Semakin banyak yang membantu kan enak. Kau jadi punya waktu memperhatikan paman juga."

"Ya sudah." Jinnai melengos ke arah dapur. "Sini. Bantu aku memotong daging ayam untuk yakitori." Ujarnya. "Setelah itu angkat krat bir dari belakang ya."

"Eeeeeh?"

"Katanya mau bantu. Aku bosnya di sini. Kalau tak mau kerja, kau tak akan kubagi sarapan. Atau lebih baik lagi, pulang saja sana." Tukas Jinnai dengan tegas seraya mengacungkan sumpit masak dengan jumawa.

Mitsuya menggembungkan kedua pipinya. Ia makin merengut karena ditertawakan Yuusuke yang geli melihat tingkah dua orang itu. Meskipun begitu, lelaki cantik itu menurut juga dan menghampiri Jinnai untuk mengambil baskom berisi potongan daging ayam dan mulai bekerja dengan tekun.

Sesuai perkataannya, Jinnai membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka meskipun sederhana: sup miso, tempura dan asinan sayur menemani nasi hangat yang mengepul wangi. Yuusuke menyumbang tenaga membuatkan yakitamago yang luar biasa enak. Sementara kedua temannya makan, Jinnai menghilang sebentar ke lantai dua mengantarkan bagian ayahnya.

"Banyak sekali ya," komentar Mitsuya setelah mereka selesai makan dan kembali bekerja, memandang tumpukan sayur, daging, ikan dan bahan-bahan lain yang siap diolah setengah jadi.

Yuusuke mengangsurkan ujung sendok kayu yang digunakannya mengaduk campuran bumbu yakitori pada Jinnai. Menggunakan kelingkingnya, Jinnai mencolek sedikit bumbu dari sendok kayu itu, mengecap sejenak, "Mirin-nya ditambah sedikit lagi," pintanya. "Yah, beginilah kalau akhir minggu. Makanya aku minta Ue-chan membantu."

Mitsuya meletakkan satu krat bir di lantai dan mulai mengatur isinya ke dalam lemari pendingin. "Anak itu tidak akan cemburu?"

Jinnai mengangkat alis. "Maksudmu Daisuke?"

Mitsuya mengangguk.

"Kenapa harus? Kedai ini kan milik keluargaku. Dia saja yang seenaknya memutuskan dia punya hak untuk ikut repot." Jinnai berkilah.

"Sho-chan," tegur Yuusuke halus.

"Iya, bercanda." Sela Jinnai. "Aku malah senang kalau dia tak sering-sering muncul dan lebih konsentrasi belajar. Aku tak ingin dilabrak ibunya kalau sampai nilainya hancur karena terlalu sering main di sini. Yah, meskipun dia juga belajar di sini sih."

Mitsuya mendekat dan menusuk pipi temannya itu, "Sho-chan, kawaii."

"Uruse." Jinnai menepis tangan Mitsuya dan berpura-pura sibuk memeriksa kaldu untuk kuah oden.

"Ne," Yuusuke berujar, tanpa menoleh karena menjaga agar bumbu yakitori yang sedang dibuatnya tidak terlalu mendidih, "apa kau akan mengambilnya masuk ke keluargamu? Paman pasti akan senang sekali punya anak semanis itu."

Jinnai tertawa dan mengedikkan bahu. "Saa ne. Mungkin? Aku masih belum tahu."

"Sudah ditanya?"

"Tentu saja belum."

"Nandee?"

"Micchi, uruse."

"Nandeeee?"

Jinnai menghela nafas. "Belum saja. Kalau dia punya cita-cita yang lebih hebat daripada sekedar menemaniku mengurus kedai sake ini, aku kan tak bisa melarang."

Yuusuke mengangguk-angguk. "Kita punya kewajiban keluarga ya. Bukannya terpaksa sih."

"Sou. Kau mengerti maksudku kan, Ue-chan?"

Yuusuke mengangguk lagi. Mitsuya ikut mengangguk. "Anak itu tak pernah pergi dari sampingmu sih, ya. Bagus juga kalau sesekali dia melakukan hal lain. Demo, iinjyanai? Begini saja kau bahagia kan? Memang tak perlu buru-buru ya. Namanya juga Sho-chan."

Kali ini Jinnai tersenyum lebar. "Sou desu ne."

-end-

Thursday, February 16, 2012

[drabble] Kenki/Micchi - late birthday fic

Rating: PG
Warning: BL, OOC, crappy English
Disclaimer: I own nothing
Note: seharusnya ini dipost kemaren2 tapiiii aku sungguhlah sibuk #alasan


“Did you cry?” Kenki raises an eyebrow as he amusingly looking at his friend nursing his coffee.

A pout takes place on Mitsuya’s lips. “You know I always cry at the littlest thing.”

Kenki laughs, this time. Mitsuya shoves him playfully and can’t help but grinning, too. The pretty boy then fixes his eyes with Kenki’s. The guy smiles in return and ruffles Mitsuya’s hair affectionately. 

Just like that and all of a sudden Mitsuya feels something warm is seeping through his soul. It’s always like that with Kenki. He never says so many words and only need to do something like smiling and Mitsuya knows

“Arigatou,” he whispers with a voice that threatens to be broken as he shifts a little, just so his forehead is leaning against Kenki’s shoulder.

Kenki smiles. 

Sunday, February 5, 2012

[fanfic] Just His Luck

Cast: sexy-san, otome-nyan
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: I hate my blekberi keypad -_-


Suara pisau beradu dengan talenan dengan ritme yang teratur mengisi dapur mungil itu. Sesekali terhenti untuk kemudian berlanjut lagi. Asap tipis mengepul dari sela tutup panci di atas kompor. Wangi samar daging, sayuran segar, harum bawang bombai dan beberapa bumbu lain memenuhi udara. Daisuke mengendus pelan, memejamkan mata sementara sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Lengannya yang panjang mendekap lutut di depan dada, seolah tak begitu peduli kalau kakinya tak tertutup apapun. Matanya kemudian terbuka, kembali terarah pada sosok yang tengah sibuk memindahkan sayuran yang sudah dipotong-potong untuk direbus di dalam panci.

"Madaaaa?" Tanyanya sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.

"Sabar sedikit. Lagipula, aku yang lebih lapar, kan?" Jinnai melempar beberapa jumput garam dan merica ke dalam panci lalu melempar sejumput melewati bahu.

Melihat itu, Daisuke mengerjap. "Kenapa melakukan itu?"

"Apa?" Jinnai bertanya tanpa menoleh.

"Itu, melempar garam ke belakang."

"Oh." Jinnai melirik sekilas lalu tersenyum miring. "Untuk mengusir nasib buruk yang selalu ada di belakangku."

Sesaat, Daisuke mengerjap, berusaha mencerna ucapan Jinnai lalu menggembungkan pipi dengan sebal saat mengerti apa maksudnya. "Mou! Jadi maksudmu aku ini nasib buruk, begitu?"

Jinnai terbahak, berhenti untuk mencicipi masakannya lalu nyengir lebar, "Maa ne."

"Jinshan!"

Suara tawa Jinnai kembali terdengar sementara si pemilik suara kembali sibuk berkutat dengan masakan lain: meletakkan penggorengan penuh berisi minyak dan menyalakan kompor. Sepasang lengan yang mendadak melingkari pinggang mengejutkannya.

"Kalau begitu, aku akan jadi nasib buruk yang tak mudah diusir dengan taburan garam dan akan mengikuti Jinshan ke manapun seumur hidup."

Jinnai menepuk lengan itu, "Komatta na." Ia kemudian berputar, menghadapi Daisuke yang masih mendekapnya dan menunduk untuk mengecup kening pemuda itu. "Keberuntunganku sepertinya memang sudah habis sejak menolongmu tempo hari. Jadi, Nasib Buruk-kun, sebaiknya kau membantuku meracik salad atau kau tak akan kubagi sup bola daging dan kroketnya." Ujarnya sambil menepuk punggung Daisuke.

"Huh." Daisuke melengos. "Berbahagialah karena nasib buruk yang satu ini suka masakanmu." Cibirnya sembari melipir ke lemari es dan mengambil bahan-bahan untuk salad.

Sambil menggoreng kroket, Jinnai melirik pada Daisuke yang sudah sibuk di sebelahnya. Ia menggigit bibir agar tak mengomentari jersey Daisuke yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya. Pemuda itu bahkan tak ambil pusing untuk mengenakan celemek dan meracik salad dengan tekun. Mau tak mau Jinnai nyengir melihat pemuda itu membuat salad seperti yang biasa disajikan di kedai. Daisuke memperhatikannya saat datang ke kedai di tengah jam sibuk. Siapa sangka Daisuke ingat bagaimana membuatnya.

Daisuke mencicipi campuran saus yang dibuatnya. Cengirannya melebar dan lalu mengulurkan jari telunjuk yang berbalut saus di ujungnya pada Jinnai. Dengan patuh, Jinnai membuka mulut. Bahu Daisuke berkedik senang saat Jinnai mengangguk, menyetujui rasa sausnya lalu beralih membawa mangkuk berisi salad ke meja makan.

"Perlu mangkuk?"

"Kecuali kau mau makan langsung dari panci,"

Daisuke terkikik, melewati Jinnai untuk menjangkau lemari gantung di atas kompor. Sejenak kemudian, ia sudah sibuk menata meja sementara Jinnai memberikan sentuhan-sentuhan akhir pada masakannya. Tak lama, pemuda itu menatap antusias pada sup bola daging, kroket, salad dan nasi hangat yang tersaji di hadapannya.

"Uwa, uwa, uwaaaaa~ Jinshan memang hebaat!" Daisuke bertepuk tangan ceria dan Jinnai harus meletakkan jari di depan bibir agar pemuda itu memelankan suara karena khawatir akan membangunkan ayahnya yang sudah tidur. Daisuke ikut meletakkan jari di depan bibirnya sendiri dan mengangguk minta maaf. "Paman tidurnya cepat ya?" Komentarnya sambil menjangkau sumpit.

Jinnai duduk di sebelahnya, di sisi lain meja. "Biasanya sampai larut juga kok tapi sepertinya sedang agak tak enak badan."

Mereka mengangkat sumpit ke depan dada dan bersama-sama mengucapkan "itadakimasu". Daisuke menjumput saladnya, "Kalau begitu, besok akan seharian di kedai ya?"

Jinnai mengangguk. "Mungkin. Kenapa?"

Daisuke menggelengkan kepala. "Nandemonai," dan mengunyah pelan. "Umai~" komentarnya pada sebuah gigitan kroket.

Jinnai memiringkan kepala lalu terbelalak, "Aah! Aku sudah janji mengantarmu ke toko buku ya? Gomen."

Daisuke buru-buru mengibaskan tangan dan menelan sebelum berbicara. "Daijoubu. Aku masih bisa ke sana kapan saja. Tidak butuh buru-buru, kok."

"Hontou?" Jinnai memandang tak percaya namun anggukan kepala Daisuke berusaha meyakinkannya. Jinnai pun mengangguk-angguk meski masih tak melepaskan pandang dari Daisuke yang kini tengah mencicipi sup bola daging buatannya. Mata pemuda itu melebar dan memandang Jinnai dengan kagum.

"Ini enak sekali! Jinshan, maji de~ Umai! Chou umai!" Ucapnya dengan semangat lalu menyeruput kuah sup, "Aaa, rasanya seperti di surga~"

Jinnai terbatuk karena nyaris tersedak mendengar pujian Daisuke. "Sou?" Dia tertawa, beralih sejenak untuk mengambil teh.

"Un! Aaah, aku sungguh beruntung karena bisa merasakan masakan seperti ini terus." Ujarnya seraya mengulum sumpit.

"Terus?"

"Un."

Jinnai menggigit bagian dalam mulutnya, menahan cengiran. "Sou? Aku benar-benar tak bisa mengusir nasib burukku sepertnya ya."

Daisuke tersenyum lebar. "Muri desu."

-end-

Thursday, February 2, 2012

[Fic] Simple

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13 for being in bed
Warning: AU, BL, OOC
Disclaimer: I am nobody but a humble fangirl. I own nothing.
Note: Baiklah. Ini tak se-pervert yang kuduga. Jinshaaaaan, kenapa kau menahan dirimuuu!! *tabok*



Sesekali, Jinnai berpikir apakah ia akan terlibat masalah karena ini. Yah, dia memang tak pernah terlalu peduli pada aturan tapi yang satu ini masalahnya sama sekali berbeda dari sekedar bolos, merokok di atap sekolah atau berkelahi seperti yang kerap dilakukannya dulu. Masalah yang dimaksud lebih pada masalah untuk dirinya sendiri dan mungkin (meskipun belum tentu) akan jadi masalah untuk orang lain juga. 

Jinnai bukan tipe laki-laki yang suka berpikir macam-macam. Ia selalu senang dan ingin segala sesuatunya berjalan begitu saja dan simpel tanpa perlu berputar-putar. Masalah yang ini... bukannya rumit tapi bisa dibilang cukup membuatnya bingung. Meskipun berulang kali ia ingin kabur, selalu ada saja yang membuatnya penasaran dan yah, ia masih cukup jujur pada dirinya sendiri kalau sebenarnya ia pun tertarik. Sangat tertarik malah.

Ia mendesah dan melirik pada sosok yang berbaring di sampingnya, nampak sibuk dengan ponsel di kedua tangan. Jinnai menggapai rokok yang digeletakkannya di lemari di atas tempat tidur mungilnya. Gerakannya membuat temannya harus beringsut mendekat kalau tak ingin tersenggol jatuh ke lantai. Jinnai mengerjap saat Daisuke menyandarkan setengah bagian punggungnya ke dada Jinnai sementara satu tungkainya menyelusup ke antara kedua kaki Jinnai di bawah selimut.

”Kakimu dingin,” komentar Jinnai seraya menyalakan dan menghisap rokoknya.

Daisuke terkikik namun hanya mengedikkan bahu, masih begitu asyik bermain ponsel. Seolah ingin membuat Jinnai sebal, dia malah menggosokkan tumitnya ke betis Jinnai. Sebagai balasan, Jinnai merunduk dan menggigit pundak kurus Daisuke. Pemuda itu terpekik dan berputar sejenak, mengalihkan perhatian dari ponsel untuk memukul dada Jinnai. Sedetik kemudian, ia kembali sibuk dengan ponselnya.

Jinnai memutar kedua matanya sambil mengusap bagian dadanya yang dipukul. Ia pun tak berkomentar apapun saat Daisuke beringsut lagi, menarik sebelah lengan Jinnai yang tertindih tubuhnya untuk dilingkarkan ke pinggangnya. Jemari Daisuke pun bermain-main dengan jari-jari Jinnai dan mau tak mau, sudut-sudut bibir Jinnai terangkat membentuk cengiran miring. 

Bisa dibilang, Daisuke terlalu kurus untuk seleranya. Ayah Jinnai selalu prihatin tiap kali pemuda itu mampir ke toko sakenya dan menyuruhnya makan banyak-banyak. Daisuke tertawa renyah dan berkata kalau makan sebanyak apapun, ia tak pernah bisa gemuk. Jinnai mencibir dan dihadiahi sebuah lemparan gumpalan tisu ke punggungnya. Lengan dan tungkainya pun terlalu panjang tapi entah kenapa, selalu pas melingkari tubuh Jinnai tiap kali Daisuke memeluknya. 

Lebih dari semua itu, Jinnai harus mengakui kalau Daisuke terasa hangat (kecuali mungkin kakinya saat ini) dan caranya bereaksi pada Jinnai benar-benar membuat pria itu tak bisa menolak atau mengusirnya pergi. Meski diikuti kemanapun, meski Jinnai harus mengantarnya pulang tiap kali karena Daisuke menolak pulang kalau tak diantar, meski banyak perkataan atau tingkah laku Daisuke yang membuatnya memutar mata atau menjitak kepala Daisuke, Jinnai tak bisa bilang dia keberatan (setidaknya, pada dirinya sendiri).

Entah apa pula yang membawa mereka ke situasi seperti sekarang. Maksudnya, tentu saja, melakukan hal-hal yang sangat intim dan biasanya hanya dilakukan oleh pasangan. Jinnai nyaris lupa siapa di antara mereka yang memulai semua ini. Sentuhan lembut di punggung atau lengan, pelukan, kecupan lalu berlanjut lebih dari itu. Bukannya dia mengeluh, hanya saja, seperti yang sudah dikatakannya, Jinnai tak suka sesuatu yang rumit. 

Sekali lagi diliriknya Daisuke yang tengah tersenyum. Begitu manis, begitu menyilaukan. Seandainya dia tak mengatakan apapun juga, apakah Daisuke akan tetap berada di samping Jinnai seperti sekarang? Seandainya orang tua Daisuke tahu dengan siapa anaknya terlibat saat ini, apa yang akan terjadi? Seandainya ayahnya menentang, apa yang akan dilakukannya? Seandainya Mitsuya tak suka pada Daisuke (kemungkinannya kecil, tentu saja. Mitsuya mudah sekali diluluhkan), apa dia akan mengusirnya pergi?

Dia benci sekali harus memikirkan hal-hal seperti itu. 

Pria itu pun mematikan rokoknya meski masih tersisa setengah batang tapi ia tak begitu peduli. Berpikir membuatnya lapar dan ia ingat masih ada sepiring salad dan kroket yang siap digoreng di dalam kulkas. 

”Awas,” ujarnya memperingatkan Daisuke seraya berguling hendak melewati pemuda itu. Saat posisinya sedang tepat berada di atas Daisuke, pemuda itu dengan sigap melingkarkan kedua lengan di sekeliling leher Jinnai dan menahan pinggul Jinnai dengan sebelah lutut. 

Jinnai mengerjap lalu tertawa, ”Minggir.”

”Mau ke mana?” Daisuke mendekatkan wajahnya, menggesekkan ujung hidungnya dengan dagu Jinnai.

Jinnai menjilat bibirnya. ”Lapar.”

”Jadi mau meninggalkan aku sendirian di sini? Aku juga belum makan malam, loh.” Daisuke mengingatkan dengan manja.

 Jinnai mendenguskan tawanya. ”Yang benar saja. Sambil menungguku tadi kan kau sudah menghabiskan dua kotak takoyaki.”

”Kalau belum makan nasi, itu namanya belum makan.” Daisuke memprotes, memperkuat usahanya mencegah Jinnai yang masih berusaha menjauh dengan mengaitkan satu tungkai ke pinggang Jinnai. Ditariknya bagian bawah tubuh Jinnai turun hingga bersentuhan dengan pinggulnya sendiri. 

Jinnai mendesis. ”Baiklah. Tapi hanya ada salad dan kroket di kulkas. Atau kau mau menunggu aku memasak nasi dulu baru kau puas?” Pria itu memutar bola mata, berusaha tak bereaksi pada efek gerakan Daisuke yang sepertinya sengaja menekan di tempat yang cukup strategis.

Setengah mengalah, Jinnai pun melingkarkan kedua lengan mengelilingi tubuh Daisuke. Diangkatnya sedikit tubuh mereka supaya Daisuke berbaring bersandar bantal dan ia sendiri bisa lebih nyaman bersandar pada Daisuke. Pemuda itu tertawa senang, entah kenapa. Sebelah kakinya bergerak, tumitnya menelusuri kaki Jinnai mulai dari lutut naik ke paha dan mengulang gerakannya dengan pelan.

”Hmm, tapi itu berarti aku akan pulang kemalaman?” Jemarinya terulur memainkan anak rambut di pelipis Jinnai.

Jinnai mendengus, ”Ini sudah jam sebelas kurang, tahu.”

Daisuke mengedikkan bahu dengan genit, menggapai ponselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di dekat bantal. Jemarinya bergerak cepat lalu kembali meletakkan ponselnya. ”Aku menginap.”

”Chottoooo~”

Daisuke hanya tertawa dan malahan mengeratkan pelukannya di sekeliling leher Jinnai dan kaki ini kedua kakinya memerangkap pinggul Jinnai dengan sempurna. ”Paman kan tahu aku di sini.” bisik Daisuke, memandang Jinnai dari balik bulu matanya yang panjang.

Jinnai memutar bola matanya lagi, ”Kau selalu menyapanya tiap kali datang kemari dan sebelum aku mengantarmu pulang. Bagaimana mungkin beliau tak tahu kau masih ada di sini, hah?” Tukas pria itu sambil menggigit ujung hidung Daisuke dengan gemas.

Daisuke tertawa lagi hingga matanya menghilang dan sudut-sudutnya membentuk kerutan imut. Jinnai mengusap tempat itu dengan ibu jarinya dan balas menatap Daisuke yang sudah membuka matanya lagi. Daisuke menatapnya dengan mata berbinar dan sedikit berbeda dari biasanya. Jinnai tahu apa maksudnya tapi entah kenapa ia malah mengalihkan pandang ke leher putih Daisuke.

Daisuke mencium pipinya dan Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir. Entahlah. Perutnya yang lapar kembali bergejolak dan Daisuke terkikik geli mendengarnya.

”Kubilang kan? Aku lapar nih,” protes Jinnai, kali ini memberanikan diri melihat ke arah Daisuke.

Pemuda itu nyengir lebar, ”Tapi aku masih ingin begini loh. Kalau masih tetap ingin ke dapur, kamu harus menggendongku dalam posisi begini.”

Satu tangan Jinnai bergerak ke samping tubuh Daisuke dan jari-jarinya menekan di antara tulang rusuk Daisuke. Pemuda itu pun spontan menjerit dan memberontak karena geli. Hebatnya, ia tetap keras kepala tak mau melepaskan Jinnai dari pelukannya.

”Oi, Daisuke~” Jinnai terengah saat Daisuke berhasil menggeliat dan malah memposisikan tubuh mereka sebegitu rupa hingga tubuh mereka merapat mulai dari pinggul hingga dada. Bergerak sedikit saja, Jinnai tahu dia harus melupakan makan malamnya.

Sebaliknya, Daisuke malah meletakkan kedua tangan di pundak Jinnai dan memandanginya dengan tatapan penuh puja dan pipi yang sedikit bersemu merah. Jinnai mengumpat dalam hati. Dibuangnya semua hal yang memenuhi otaknya, seperti yang biasa dilakukannya. Ujung-ujung jemari Daisuke menelusuri rahang dan bibir Jinnai, mengikuti dengan kecupan kecil di tempat yang baru saja disentuh. Pemuda itu mendesah senang saat Jinnai beringsut dan mengecupi lehernya. 
”Aku akan makin lapar setelah ini loh.” bisik Jinnai seraya menggigit bibir bawah Daisuke.

Daisuke tertawa, ”Hmm. Aku kan tak pernah menolak menemanimu makan malam.” Ia mendesah lagi, bergerak mengikuti isyarat tubuh Jinnai.

”Tsk. Tak ada makan malam untukmu.” Jinnai bergerak lagi, memeluk Daisuke erat-erat.

Kali ini pemuda itu menarik nafas tajam dan getaran tubuhnya membuat Jinnai merasa begitu senang. Wajah Daisuke berubah semakin merah tapi cengirannya tetap muncul. Daisuke menempelkan pipinya ke pipi Jinnai dan ia tersenyum saat membisikkan nama Jinnai dengan suara sedikit bergetar.

Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang tak perlu berpikir serumit itu.  

-end-

Sunday, January 15, 2012

[fanfic] Honest

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Note: Karena pairing ini sangatlah lucu.

Happy birthday, Jinshaaaaaan!!




"Jinshan!"

Langkah Jinnai terhenti sementara kepalanya menoleh ke belakang melewati bahunya. Seorang pemuda bergakuran berlari-lari kecil ke arahnya sambil melambaikan tangan, sementara tangan yang satu lagi menjaga ransel yang tersampir di pundaknya. Jinnai memutar tubuhnya sedikit.

"Ou. Daisuke ka."

Daisuke menggembungkan pipi dan memukul lengan Jinnai saat ia sudah berada di samping pria itu. "Kenapa seperti tak senang begitu sih?"

Jinnai mendengus dan hanya mengedikkan bahu. Dengan acuh, dia kembali melangkah, membiarkan Daisuke menyusul dan menyejajari langkahnya.

"Mou," pemuda itu masih tak terima. "Kenapa sih? Salah bangun? Dompetnya hilang? Atau dimarahi Paman karena berkelahi lagi?" Tanyanya beruntun. Sebuah sentilan di ujung hidungnya membuatnya memekik terkejut. "Sakit, tahu! Awas kalau sampai aku tak manis lagi karena luka di hidung."

Jinnai tertawa terbahak-bahak. "Memangnya kau ini perempuan?" Ujarnya seraya menyelipkan sebatang rokok ke sela bibirnya.

Daisuke memiringkan kepala, meletakkan jari di pipi lalu tersenyum genit. "Tapi aku tak kalah manis sama anak perempuan, loh. Semua orang bilang begitu."

"Percaya saja, deh." Jinnai mengangguk-angguk. Dia pun tak mau menyangkal. Daisuke memang manis dan sangat ramah pada siapapun. Dipikir lagi, mereka bisa kenal pun karena Daisuke yang manis itu diganggu gerombolan preman dan Jinnai yang kebetulan lewat jadi harus menolong. Dia tidak bilang dia anak baik -reputasinya sebagai orang nomor dua terkuat di wilayah itu setelah setan cantik bernama Mitsuya Ryou sungguh bukan gelar main-main, tapi dia tak suka menggunakan kekuatannya untuk sengaja mengganggu yang lebih lemah. Bukan salahnya ataupun maunya kalau bertahun-tahun setelah itu pun Daisuke masih mengikutinya kemana-mana.

"Ngomong-ngomong, Jinshan mau ke mana?" Daisuke mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah Jin.

Pelipis Jinnai berkedut, "Kau ini. Mestinya tanya itu dari tadi sebelum mengikutiku kan?"

Daisuke tersenyum. "Daijoubu. Sudah tak ada berani menggangguku lagi sejak aku sering jalan bareng Jinshan, loh!" Jawabnya ceria.

"Tsk." Jinnai berdecak. "Kau memanfaatkan aku nih, ceritanya?"

"Mochiron!"

Jinnai mendesah pasrah. "Aku mau belanja." Ujarnya kemudian.

"He?"

"Keperluan toko."

"Boleh ikut?" Daisuke mengerjap tanpa dosa.

Jinnai memutar kedua bola matanya. "Memangnya kau akan menurut kalau kusuruh pulang?"

Daisuke terkikik dan menggeleng dengan ceria. Tanpa ragu, ia menggamit lengan Jinnai dan bersenandung riang saat mereka melanjutkan langkah.

Mungkin memang ada untungnya membiarkan Daisuke ikut dengannya. Pemuda itu dengan riang dan imutnya menawar semua barang yang hendak dibeli Jinnai. Paman penjual sayur rela memberikan 1/2 kilo lebih banyak dengan harga yang sama yang biasa dibayar Jinnai. Paman penjual daging, setelah disenyumi Daisuke, rela memberikan diskon 1/2 harga. Bibi penjual beras memberikan bonus sekantung kue beras untuk camilan.

Jinnai harus angkat topi untuk pemuda itu. Karena itu, dia tak menolak saat Daisuke menarik-narik lengan bajunya sambil menunjuk-nunjuk toko es krim. "Jinshan, haus!"

Ditepuknya kepala Daisuke sambil menunjuk ke arah lain. "Yang di sana lebih enak." Tukasnya.

Wajah Daisuke berbinar dan ditariknya lengan Jinnai dengan semangat.

"Di sini?" Daisuke menunjuk sebuah toko mungil bergaya tradisional Jepang dengan noren berwarna biru tua bertuliskan kanji es. Jinnai mengangguk lalu mendului Daisuke memasuki toko itu.

"Irasshai~" sebuah suara yang ramah dan empuk di telinga menyambut begitu Daisuke menyembulkan kepala dari balik noren.

"Yo,Ue-chan!"

"Sho-chan! Hisashiburi!"

Daisuke mengerjap, menatap dengan agak heran pada Jinnai yang ngobrol dengan akrab dengan pelayan toko itu: seorang pemuda bertubuh agak gempal dengan rambut super cepak dan berwajah cukup tampan. Ia mendekat dan mengintip dari belakang punggung Jinnai.

Pemuda pelayan itu mengenakan jinbei bermotif garis vertikal berwarna coklat, juga mengenakan celemek hitam di pinggang. Ia memiringkan kepala lalu tersenyum ramah saat melihat Daisuke. Ia mengangkat alisnya yang tebal pada Jinnai, "Temanmu?"

"Ah, begitulah. Ini--"

"Hirose Daisuke desuu! Yoroshiku!" Daisuke langsung menyambar dengan ceria sampai pemuda di hadapan mereka tertawa.

"Lucu ya. Aku Ueda Yuusuke. Teman lamanya Sho-chan." Balas pemuda itu.

"Aku lucu katanya, Jinshan." Daisuke berucap dengan antusias. "Teman Jinshan berarti temanku juga."

Jinnai menggaruk-garuk kepalanya. "Jangan seenaknya memutuskan begitu, dong. Sana, duduk. Kau mau pesan apa?"

"Ada es krim azuki? Pakai mochi!"

Pemuda bernama Yuusuke itu mengangguk. "Kashikomarimashita. Sho-chan yang biasa?"

Jinnai mengangguk kemudian menyusul Daisuke yang sudah menempatkan diri di meja kedua dekat pintu. Toko itu tak terlalu besar, malahan bisa dibilang mungil. Hanya ada 6 meja untuk dua orang dan 1 di ruang tatami di sudut ruangan. Interiornya pun sama sekali tak ada kesan modern kecuali televisi, mesin kasir dan telepon di meja kasir. Daisuke memperhatikan dengan antusias lalu menyibukkan diri melihat menu yang ada di atas meja; ditulis tangan dengan bentuk kanji yang sangat rapi.

"Toko ini sudah lima generasi loh."

Daisuke mengangkat kepala, menerima handuk basah untuk mengelap tangan yang disodorkan Jinnai. "Ih, aku kan tidak tanya." Kikiknya.

"Tapi kau penasaran kan?"

"Hehehe. Yang tadi itu benar temanmu? Bekas berandalan juga?"

Jinnai memukul kepala Daisuke, tak keras tapi cukup membuat pemuda itu mengaduh dan menggembungkan pipi dengan sebal. "Aku kan cuma tanya."

"Ue-chan itu bekas ketua klub kendo. Dia sering mengajakku bergabung dengan klub daripada aku berkelahi terus. Tapi aku tak berminat."

Daisuke mengangguk-angguk sok mengerti. "Jinshan sepertinya suka padanya ya?"

Jinnai memandang Daisuke sejenak lalu menopang dagu sambil tersenyum jahil. "Kalau iya? Apa kau cemburu, Daisuke?"

Daisuke ikut menopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua pipinya kembali menggembung. "Jangan menggodaku, ah."

Jinnai mengangkat sebelah alisnya. "Kamu loh yang mengikuti kemana-mana."

"Memang. Begitu saja sudah mengerti kan?" Daisuke melengos.

"Katanya tak mau kelihatan tidak manis? Jangan cemberut dong."

"Bhu."

Jinnai tertawa kencang. Yuusuke yang muncul dengan pesanan mereka (es krim azuki dengan mochi dan es krim mangga) sampai mengangkat alis penasaran. Jinnai hanya nyengir dan Yuusuke pun berlalu setelah dipuji kalau es krimnya enak.

Daisuke masih pasang tampang cemberut meski sudah menghabiskan dua porsi es krim lagi. Ia memandang tak senang pada Jinnai yang tampak tak peduli dan malah berlama-lama ngobrol dengan Yuusuke sebelum mereka pamit pulang.

"Belanjaannya?" Tanya Daisuke saat mereka melangkah meninggalkan daerah pertokoan itu.

"Nanti diantar. Aku kan tak bawa mobil." Jinnai menyahut singkat.

Daisuke mengangguk. Diikutinya langkah Jinnai yang menuju ke arah rumahnya. Hari sudah gelap saat mereka berhenti di depan sebuah rumah berpapan nama 'Hirose'.

"Jya. Mata ne." Ujar Jinnai sambil tersenyum miring dan membuat tanda salut dengan sebelah tangan lalu berbalik.

"Ano, Jinshan!" Panggil Daisuke.

"Hmm?" Jinnai berbalik lagi. "Ada apa?"

Daisuke terdiam sejenak. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, senyum lebarnya yang ceria sudah kembali menghiasi wajahnya. "Nandemonai. Mata ne~" ucapnya sambil melambaikan tangan.

Jinnai mengerjap lalu berdecak. "Brengsek." Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kedua kakinya melangkah dan ditariknya lengan Daisuke yang baru saja hendak membuka pintu pagar.

"Jinshan?"

Jinnai tak menjawab. Satu lengannya dilingkarkan ke pinggang Daisuke dan menarik pemuda itu merapat pada tubuhnya sendiri dan diciumnya pemuda itu tanpa ragu. Bibir yang hangat, lembut dan terasa manis seperti es krim azuki. Dikecupnya dengan sayang sementara mengeratkan pelukan. Dirasakannya tubuh Daisuke bereaksi padanya dan Jinnai memberanikan diri untuk memagut beberapa kali sebelum melepaskan pemuda itu dari pelukannya.

Daisuke nampak sangat terkejut dan meski wajahnya memerah, matanya berbinar riang dan ia terkikik senang. "Jinshan,"

Jinnai mendengus dan mencubit pipi Daisuke. "Oyasumi."

"Un. Oyasumi."

-end-

Thursday, December 29, 2011

[fanfic] Daishuuryou/Takeru - Bound part 3

Fandom: Kamen Rider Decade/Samurai Sentai Shinkenger
Cast: Daishuuryou, Shiba Takeru
Rating: R
Warning: BL, AU, OOC, crappy English
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
Note: I wish I can do something more to end this but I can not think of another ending for this (you know, I would so love to blame my plot bunnies and RL stuffs but it's purely my own incapability *SOBS*). Hence, this is short. 




A boy, just about his age, appearing in front of him and they fought together. A mocking smile. Witty words. A hug. A kiss.


*****


"Yo."

Takeru's steps are halted. He blinks at the lanky figure sitting on the veranda, waving cockily at him. Gathering his composure, Takeru proceeds. He sits beside the boy and put his wooden sword on the floor next to him.

"Uh oh, someone's not in a good mood." his guest comments cheekily.

Takeru pouts. "It won't hurt if you give some notice before coming here, you know."

"You said that I am always welcomed here."

"True." Takeru nods. "But there's a common thing called manner, Tsukasa."

The boy named Tsukasa grins cheekily at him. "I'm not popular for my manner. In fact, I think some people is having a problem with my manner."

"You think?" Takeru lifts his eyebrows in amusement. He puts on his geta and walks away to the yard, bringing his wooden sword with him. He starts his practice. 

"Talking about manner but look at you. Is it a good manner to abandon a guest and continue on with your daily exercise?" Tsukasa teases him.

A sharp swing of the wooden sword. "You're hardly a guest." Takeru states.

Tsukasa rises from his spot and walks up to his host. With arms folded in front of his chest, he watches Takeru practice. A quirky smile is plastered on his lips and Takeru gives him an annoyed look.

"What are you doing standing there? You can get hit." He grumbles.

Tsukasa smirks and moves behind the young lord. His long arms snake around Takeru's waist and firmly pulling him into a tight embrace. Takeru yelps but isn't really trying to move away. Tsukasa's face is already so close to his, anyway. His warm breath wafting over Takeru's ear and cheek, sending a gentle shiver down his spine. Takeru is sure that his cheeks are crimson at the moment. He looks down to his feet and closes his eyes. A soft gasp escapes his lips when Tsukasa presses a gentle kiss on his cheek then to his ear.

The kiss tickles and Takeru bites his lips so not to chuckle. He squirms a little and Tsukasa nibbles at his earlobe teasingly. Takeru turns his head to face Tsukasa and kisses his cheek chastely. 

"I have to practice." he whispers, a bit raggedly because his heart is practically racing by Tsukasa's touch and the hands that rest on his stomach feel so warm through the layer of his kendo-gi. 

"Hmm." Tsukasa mumbles. He releases Takeru after a while and walks away to sit on the veranda again. He sits there until Takeru finishes his practice and kisses him again after that.


*****


Daishuuryou comes to him every night. Sometimes before dinner, sometimes after that or way past midnight. But he always gone every time Takeru opens his eyes in the morning. He is always rough and doesn't hold himself on whatever account. The more Takeru struggles, the more ferocious Daishuuryou becomes. It's like he wants to make a point to Takeru that fighting is not going to do him any good. That it's worthless.

Every small part of him that still has a will to fight is beaten down one by one every single time Daishuuryou comes to him. 

Takeru can feel that he gets weaken every single day. Day by day, he only lays there on the bed or the daybed, looking blankly at the ceiling or to the sky or anything. He curls up, crying helplessly like a little child. He wonders why he's still alive, why he is still there letting himself be used. Is it his pride? He no longer have any purpose. He no longer have duties. He is no longer the 19th head of the Shiba clan. He is a slave.

And Daishuuryou is his master.

But he is not a slave. He is a samurai. A samurai only serve the master that they choose and swore their life and loyalty to and follow him every step of the way.

Daishuuryou is his master.

A master he doesn't choose by himself.

Daishuuryou is his master.

He embraces the inevitable fact. It's the truth. His only truth.

-END-

Monday, December 19, 2011

[fanfic] Wedding checklist - Tension

Cast: Matsuzaka Tori, Wada Takuma, cameo Daito Shunsuke, Mitsuya Ryou, etc
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I do not own anything and/or anyone
Note: Baiklah. Karena udah kelamaan karena kepotong NaNoWrimo, karena gue gak pengen disruduk dan ditabrak, karena ini udah musim dingin, let's just speed everything LOL *ditimpukin massa*  Sekali lagi, karena dicepetin, maaf kalo jadi banyak details yang kelewat ya. Nggak, ini bukan hari H-nya kok.



Terakhir kali ia melihat apartemennya dalam keadaan luar biasa berantakan adalah beberapa tahun lalu saat ia pindah ke apartemen mungil itu. Saat ini kondisinya bisa dibilang sangat mirip dengan ketika itu: kardus-kardus bertumpuk dan tersebar di beberapa tempat, bungkusan-bungkusan yang entah apa isinya tergeletak di beberapa sudut ruangan, tumpukan kertas, baju-baju dan benda lain yang Tori tak berani menyingkirkan atau dia akan lupa di mana tempatnya. Sofa ruang tamunya pun penuh terhuni Shunsuke yang duduk bersilang kaki dan sibuk dengan laptop canggihnya. Sudut satunya diambil alih oleh Mitsuya yang sedang menelepon dengan nada tinggi. Televisi disetel tanpa benar-benar ditonton dan Mitsuya melotot ke arahnya saat Tori hendak mematikan.

Untunglah orang tuanya baru akan datang besok pagi dan mereka setuju saja saat Tori bersikeras agar mereka menginap di hotel karena jelas apartemen mungilnya tak akan sanggup menampung semua orang itu. Pun, seminggu terakhir ini apartemennya begitu sumpek karena sahabat-sahabatnya dan Mitsuya kadang tak datang sendiri. Hampir tiap hari Takuma datang bersama Yuuki. Ia tak enak karena pacarnya itu – meskipun Takuma sudah menjelaskan dan Yuuki pun mengaku sudah memaklumi- tetap merengut karena terlalu sering diacuhkan. Pemuda mungil itu akan duduk di meja makan mengerjakan PR-nya, kadang sendiri namun seringkali bersama Mitsuya. Setelahnya ia akan ikut duduk di ruang tengah, mengamati kesibukan yang terjadi.

Tunangan Mitsuya yang tampan itu pun beberapa kali mampir, membawakan baju ganti dan camilan ringan. Senyumnya yang ramah dan pertanyaan apakah ada yang bisa dia bantu selalu disambut baik oleh Tori yang menyilakannya masuk dan menawarinya ikut minum kopi bersama. Tori senang melihatnya selalu menempatkan diri di dekat Mitsuya yang sudah sibuk sendiri dengan pilihan bahan kain untuk dekorasi atau sibuk menelepon supplier tanaman dan agen persewaan perlengkapan pesta. Pun dengan senang hati turun ke dapur dan membuatkan makan malam.

Kekasih Shunsuke hanya mampir satu kali. Tubuhnya yang tinggi menjulang dan wajahnya yang tampan menarik perhatian semua orang di dalam ruangan, tak terkecuali Yuuki dan Mitsuya yang langsung berseru, “Sensei?! Kenapa ada di sini?” bahkan sebelum diperkenalkan oleh Shunsuke. Pria yang tampak seperti rubah itu tersenyum tipis dan pamit dengan sopan setelah ikut makan malam.

Tori menghela nafas.

Tiga hari lagi.

Undangan sudah disebar dan jawabannya pun datang dengan cepat. Beberapa menyertakan permintaan maaf tak bisa hadir berserta hadiah yang diletakkan Tori di bawah tempat tidurnya karena sudah tak ada tempat lagi. Dua hari yang lalu Nagayama-san baru saja mengantarkan pakaian mereka yang sudah jadi. Senyumnya nampak begitu sumringah dan terlihat begitu puas saat dirinya, Tori, Takuma, dan Shunsuke berdesak-desakan di dalam kamar Tori untuk fitting sekali lagi. Ia buru-buru pamit karena masih akan mampir ke rumah Masahiro sebelum pemuda itu terbang ke Amerika.

Ini yang membuat Tori makin tertekan. Maya-san meminta anak bungsunya itu untuk tinggal dengannya di Amerika selama seminggu sebelum hari H dan kemudian akan sama-sama kembali ke Jepang bersama-sama. Masahiro ngambek selama berhari-hari, berteriak pada seluruh isi rumah dan menuduh semua orang sebenarnya ingin membatalkan pernikahannya dengan Tori lalu mengunci diri di dalam kamar. Tori harus menelepon calon ibu mertuanya itu dan meminta penjelasan karena sungguh, dia sedang tak ingin menghadapi Masahiro yang seperti itu saat ini.

“Aku hanya ingin memanjakannya sebagai anakku sebelum ia menikah. Apakah tak boleh? Atau sebenarnya kau khawatir aku tak akan memulangkannya kembali ke Jepang?” ujar wanita itu di telepon.

Tori mendesah, “Maaf, Okaa-sama. Saya tahu Okaa-sama tentunya tidak bermaksud buruk. Saya hanya ingin memastikan karena saat ini Masahiro bahkan tak mau mengangkat telepon dari saya.”

“Begitu? Dasar Masahiro.” Wanita itu tertawa kecil dan mau tak mau Tori pun ikut tertawa. “Kalau memang terlalu merepotkanmu dan membuatmu bertambah pusing, bilang saja padanya kalau dia tak perlu pergi ke sini. Aku mengerti, kok.”

Tori sungguh tak enak mendengar nada bicara calon ibu mertuanya yang terdengar agak sedih itu. Hari berikutnya, sepulang dari rumah sakit, ia mampir ke rumah Keigo dan menyelipkan secarik kertas melalui bawah pintu kamar Masahiro.

Jangan harap aku akan muncul di hadapanmu di depan altar nanti kalau menghormati keinginan ibumu saja kau tak bisa –Tori-

Malam harinya, Tori harus menyiapkan makan malam sambil tertawa geli pada Masahiro yang tengahberkutat di depan laptopnya; memesan tiket pesawat sambil menggerutu.

Semalam Masahiro baru saja meneleponnya. Seperti biasa kalau mereka sedang terpisah jauh, pembicaraan telepon mereka selalu menghabiskan waktu berjam-jam diselingi video call beramai-ramai dengan para pendamping pria, Mitsuya, dan Takiguchi-kun karena mereka harus berdiskusi tentang beberapa persiapan akhir. Akhirnya Tori mengusir mereka semua keluar dari kamarnya karena ia sedang kangen sekali pada Masahiro.

 

Tori melirik ke dalam kamar tidurnya, mendapati Masaki yang tengah tertidur pulas. Anak itu datang segera setelah jadwal operasinya selesai dan menuntut dibuatkan omelet. Sambil tersenyum, ditutupnya pintu kamarnya dengan perlahan dan beralih menuju dapur karena ia sungguh butuh minum kopi dan mungkin sebatang rokok.

Namun begitu melihat Takuma yang tengah berdiri di dekat konter dapur, sibuk memperhatikan beberapa lembar kertas berisi pengaturan duduk para tamu undangan, hal pertama yang dilakukannya adalah mengulurkan kedua lengannya pada sahabatnya itu. Mengerutkan kening dengan sedikit heran, Takuma pun merengkuhnya dalam pelukan hangat dan erat. Dokter gigi nan tampan itu menepuk-nepuk pundak Tori dan mengelus punggungnya dengan sayang sementara Tori membenamkan wajahnya ke dalam pundak Takuma dan menghela nafas berkali-kali. Rasanya begitu nyaman dan untuk sesaat, Tori merasa semuanya akan berjalan lancer.

“Kenapa tidak tidur saja?” Tanya Takuma sambil mengecup rambut Tori.

Tori menggeleng. “Tak bisa,” ujarnya sambil menjauh sedikit meski tak melepaskan pelukan.

Takuma tersenyum. “Aku tadi buat kopi. Mau?”

Tori mengangguk, kali ini membiarkan Takuma melepaskan dirinya dan menuangkan secangkir kopi untuknya. Diambilnya rokok simpanannya dari dalam lemari dapur, membuka jendela dan mendudukkan dirinya di atas konter sambil menyalakan rokok. Takuma menghampirinya dengan secangkir gelas yang menguarkan asap tipis. Tori menerimanya dengan senyum penuh terima kasih dan meletakkan cangkir itu di dekat pahanya. Takuma bersandar di sebelahnya, mengambil sebatang rokok dari dalam kotak yang masih digenggam Tori, membuat sahabatnya itu tertawa.

“Apa?” Takuma mengangkat alis, menyelipkan rokok ke antara bibirnya.

Tori menggeleng lagi, mengulurkan korek dan menyalakannya untuk Takuma.

Mereka terdiam sejenak, menikmati kopi dan menghembuskan nikotin beberapa kali.

“Yuuki-chan tidak marah kau menginap di sini sampai beberapa hari ke depan?” Tanya Tori kemudian.

Takuma terkekeh. “Marah sih tidak. Hanya cemberut. Tapi Micchi juga sudah ikut membujuknya dan dia di rumah ditemani Yamaguchi-kun dan Yuta. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mengundang mereka juga.”

Tori mengibaskan tangannya. “Tentu saja mereka kuundang. Kau ini bicara apa?”

Kedikkan bahu dan hembusan asap menjawab Tori. Takuma terbatuk dan memutuskan mematikan rokoknya. “Aku tak pernah terbiasa dengan ini,” komentarnya dengan wajah sedikit memerah.

“Itu karena kau dokter gigi,” ucap Tori sambil nyengir.

Takuma membalas cengirannya. Diperhatikannya baik-baik wajah Tori yang tampak lelah dan sedikit tegang. Garis di bagian bawah matanya mulai menebal dan Takuma tahu yang bisa menyembuhkannya hanya sepuluh jam tidur. Mungkin sebentar lagi dia harus memaksa Tori masuk ke kamar untuk bergelung di sebelah Suda tapi saat ini, sepertinya pria itu hanya butuh teman ngobrol. Masahiro begitu jauh dan Tori pasti sedang butuh seseorang untuk membantunya tak merasa begitu tertekan.

Karena itu Takuma meletakkan tangan di atas paha Tori, telapak tangan terbuka seolah mengundang untuk digenggam. Tanpa ragu, Tori menyambut. Digenggamnya dengan erat tangan Takuma dan meremas beberapa kali.

“Kitto, daijoubu yo ne.” ujarnya lirih dan sedikit bergetar.

Takuma mengangguk mantab, balas meremas tangan Tori. “Kitto. Daijoubu.”