Tak ada yang lebih membuatnya lebih kesal lagi hari itu saat membuka pintu geser tradisional dan menyelipkan kepala ke antara lembaran noren dan melihat toko mungil itu penuh dengan wajah-wajah yang sangat tak ingin dilihatnya saat ini. Kinari menarik nafas panjang sementara kedua alisnya berkerut tak senang. Rasanya ingin sekali berdiri tegak dan berbalik saja lalu pulang tetapi nampaknya salah satu dari mereka sudah melihatnya dan langsung memanggil namanya dengan ceria.
“Ah, kareshi-san da~”
Urat di pelipis Kinari menonjol dan ia akhirnya membawa dirinya masuk setelah menutup pintu geser di belakangnya. “Namaku Kinari, tahu,” gerutunya seraya menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang berada paling dekat dengan pintu; sengaja tak bergabung dengan mereka yang duduk berjejer di tiga meja yang dirapatkan jadi satu. “Jangan ubah-ubah nama orang seenaknya.” protesnya lebih lanjut.
“Sudah lama tak bertemu, kenapa ketus sekali?” cetus seorang pria mungil yang duduk di sebelah pemuda bersenyum lebar.
Kinari mendengus. “Apanya yang sudah lama? Baru dua minggu yang lalu kita pergi minum sake kan?”
“Ah, benar juga.” Pria itu tertawa.
“Eeeeeh? Kenapa Mao-san minum-minum dengan Kareshi-san tapi tidak mengajakku? Mou. Curang sekali.” Protes pemuda di sebelahnya.
“Kau kan sedang pulang ke rumah orang tuamu waktu itu, Youichirou. Siapa lagi yang bisa kuajak minum kalau bukan Kinari dan Yuusuke kan?”
Yoichirou mengangguk-angguk, tertawa lebar seraya menjangkau segelas es teh di depannya. “Ah, sou, sou.”
“Haaah. Curang sekali. Memangnya aku ini tidak bisa diajak minum ya?” kali ini seorang pria yang mengenakan setelan rapi memprotes. Mao mengangkat alisnya pada pria itu, “Yang benar saja. Mana mau aku minum-minum dengan orang yang kerjaannya telepon terus dengan pacar tercinta?”
“A, aku bukan pacarnya!” sanggah pemuda yang duduk di hadapan Kyoushirou dengan wajah luar biasa merah sementara Kyoushiro hanya nyengir.
Mao kembali mengangkat alisnya, “Memangnya aku bicara tentangmu, Fuumin?”
“Hidoi! Mou, Kyou-chan! Katakan sesuatu dong.” Protesnya.
“Eeeh? Memangnya aku harus bilang apa? Aku kan memang suka teleponan denganmu. Yah, meskipun kau bukan pacarku.”
“Kyou-chaaaaaaaaan~”
Youichirou terbahak-bahak sementara Mao tersenyum miring sembari mengulum sendok es krimnya. Saat itu sesosok tegap masuk dari bagian belakang toko, membawa sebuah nampan dengan tiga gelas es teh di atasnya.
“Kalian ribut sekali,” komentarnya, meletakkan masing-masing gelas di hadapan seorang pemuda cantik berwajah lancip yang menggumamkan terima kasih, Mao dan Fumiya yang masih sibuk merajuk. Yuusuke tersenyum lebar saat melihat Kinari. “Ah, kau datang rupanya. Sudah selesai kerja sambilannya?”
Kinari mengangguk. “Aku minta es jeruk saja.” Ujarnya pelan.
Yuusuke mengangkat alis. “Tidak mau matcha dan vanilla seperti biasa?”
Kinari menggeleng. Youichirou terkekeh geli. “Kareshi-san sepertinya mood-nya sedang buruk, Yuusuke-san. Sejak tadi cemberut terus loh.”
“Uruse.” Cetus Kinari seraya melengos, pura-pura sibuk dengan handphone-nya. Ia pura-pura tuli saat Yuusuke bertanya ada apa dan membiarkan yang lain menjawab untuknya. Apapun itu, dia tak begitu menyimak. Terserah saja mereka mau bilang apa. Kinari hanya berharap mereka akan cepat pergi jadi ia bisa berduaan dengan Yuusuke.
Kinari menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan-lahan saat Yuusuke kembali dan meletakkan segelas es jeruk di hadapannya. Ditahannya dirinya agar tak mengangkat kepala karena Yuusuke tetap berdiri di hadapannya. Ia yakin Yuusuke pasti sedang menatapnya dengan pandangan bertanya dan mungkin juga tak senang karena ia bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tak dibelikan mainan.
Tapi sungguh, ia benar-benar tak peduli saat ini. Seharian ini rasanya semua hal tak bisa berjalan dengan semestinya dan tiap kejadian hanya membuatnya makin kesal. Jadi sebelum ia meledak, Kinari memutuskan untuk pergi saja dan menemui pacarnya. Ia tahu Yuusuke akan bisa membuatnya lebih tenang dengan nasehatnya yang entah kenapa selalu terdengar masuk akal.
Ya, julukan Youichirou padanya itu memang benar. Sejak ia pacaran dengan Yuusuke dua tahun yang lalu, dia dijuluki begitu. Kinari tak begitu mengenal orang-orang itu kecuali Mao yang sudah berteman dengan Yuusuke sejak lama. Youichirou pun dikenal Kinari karena pacaran dengan Mao. Kyoushiro pelanggan tetap toko es krim itu dan ia selalu datang dengan Fumiya dan mengaku kalau tak ada apa-apa di antara mereka. Kazuhiro tinggal tak jauh dari situ dan masih bersaudara dengan Yuusuke jadi ia sudah sering mampir sejak kecil. Entah bagaimana akhirnya mereka semua bisa saling kenal satu sama lain dan sering main bersama.
Ia sendiri mengenal Yuusuke beberapa tahun yang lalu ketika ia masih duduk di bangku SMU. Saat itu ia datang melihat-lihat pertandingan inter high yang diikuti sekolahnya dan iseng menonton pertandingan kendo. Ia ingat ia melihat sosok yang begitu menarik perhatian di tengah arena. Wajahnya memang tertutup pelindung kepala tapi orang ini mengeluarkan aura yang tidak bisa disepelekan. Permainan kendonya pun luar biasa. Ayunan pedangnya mantap dan seruannya pun benar-benar membuat lawannya mengkerut. Sungguh tak aneh ketika akhirnya orang itu berhasil meraih medali emas.
Ia sama sekali tak menyangka kalau orangnya berwajah sangat ramah dan senyumnya pun begitu bersahabat. Mungkin bisa dibilang kalau Kinari sudah sangat tertarik sejak mereka berjabat tangan berkat teman Kinari yang ikut klub kendo dan mengenal Yuusuke. Baru beberapa tahun setelah itu Kinari memberanikan diri mengajak Yuusuke kencan dan ia senang luar biasa karena Yuusuke tak menolak.
Kinari pun cukup takjub bahwa teman dekat Yuusuke adalah mantan berandalan nomor dua di kota itu (sekarang mengurus kedai sake milik keluarga dan pacarnya pun orang yang menarik). Nomor satunya pun (Kinari sempat tak percaya orang secantik itu mantan berandalan) bahkan cukup akrab dengan Yuusuke. Menurutnya, mereka sebenarnya orang baik, hanya sering disalahpahami.
Sungguh, dilihat dari sisi mana pun, Yuusuke adalah sosok anak idaman. Tampan, mandiri, bertanggung jawab, tegas dan sungguh bertanggung jawab. Ia tak memprotes meskipun harus rela tak kuliah dan mengambil alih usaha keluarganya ini. Katanya, ia senang membuat es krim dan senang melihat wajah orang-orang yang datang menjadi bahagia karena memakan es krimnya. Kinari mengejeknya dan Yuusuke hanya tertawa. “Memang kenyataannya begitu, kok.” ujar Yuusuke waktu itu dan Kinari tak bisa menyangkal karena es krim buatan toko milik Yuusuke itu sangatlah enak, jauh melebihi es krim di toko manapun.
Telinganya menangkap suara tawa orang-orang itu yang meledak begitu kerasnya. Mau tak mau, Kinari melirik dan melihat mereka sedang menertawakan Fumiya yang entah berbuat apa hingga wajahnya merah dan nyaris menangis. Kyoushiro menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan meskipun wajahnya berkerut aneh karena menahan tawa. Fumiya memeluknya dan menepuk dada Kyoushiro dengan sebal. Yuusuke pun ikut terbahak-bahak dan mengacak-acak rambut Fumiya dengan gemas.
“Nih, kuberi es krim strawberry gratis. Jangan menangis lagi ya,” ujar Yuusuke.
“Aaaaah, curang! Masa harus menangis dulu baru diberi gratisan?” tukas Kazuhiro iri dan disetujui oleh Youichirou dan Mao yang ikut protes.
“Kalian jahat!” seru Fumiya keras meski teredam kemeja Kyoushiro yang masih belum berhasil melepaskan pelukan Fumiya dan hanya pasrah saja kemejanya jadi agak basah terkena airmata.
Kyoushiro akhirnya menepuk-nepuk kepala Fumiya dengan lembut. “Sudah, sudah. Salahmu sendiri salah ambil kan? Yuk, pulang. Aku akan masak makan malam untukmu.”
“Hontou?” Fumiya mengangkat kepalanya, “Aku mau hamburg steak plus spaghetti dan omelet!”
“Oi, oi!”
“Ii na,” komentar Youichirou sambil mengambil mantelnya juga karena Mao member isyarat kalau mereka juga sebaiknya pulang saja, “Mao-san mau masak makan malam untukku juga tidak?”
Mao mendengus, “Kecuali kau mau makan menu yang sama dengan keponakanku, aku tak keberatan.” Pria mungil itu kemudian membuat tanda salut dengan dua jarinya pada Yuusuke, “Jya ne, Yuusuke.”
Yuusuke mengangguk, “Ou. Hati-hati di jalan, kalian semua~”
Youichirou membungkuk lalu mengejar Mao yang sudah berlalu meninggalkan toko, “Chotto matte yo, Mao-san!”
Kazuhiro pun ikut membereskan barang-barangnya, berujar kalau sudah waktunya ia harus berangkat kerja sambilan. Yuusuke membekalinya sekotak manisan buatan ibunya untuk diberikan pada ibu Kazuhiro. Pemuda berwajah lancip itu nyengir senang lalu mengatakan kalau toh manisannya akan dihabiskan olehnya. Kyoushiro menunggu Fumiya yang minta ijin menggunakan kamar mandi tamu untuk cuci muka. Kinari masih menghabiskan es jeruknya dengan malas-malasan.
“Nanda, Kinari-kun? Dari tadi terlihat bosan sekali.” Tegur Kyoushiro ramah.
Kinari mengerjap. Pria itu memandangnya sambil tersenyum tapi Kinari paham dia sedang dikritik. Kinari pun jadi agak segan karena Kyoushiro lebih tua dari mereka semua yang tadi ada di situ. Ia berdeham, “Umh. Maaf. Aku hanya…” ia mendesah, “Hari ini capek sekali dan… maaf ya, Kyou-chan.”
Kyoushiro mengibaskan tangannya dengan segan, “Eh? Kenapa minta maaf padaku?” pria itu tertawa, “Tumben saja loh, Kinari-kun datang dengan wajah masam begitu. Apalagi sama sekali tidak tersenyum pada Yuusuke-san. Sedang bertengkar? Ah, tapi kalau bertengkar, tak mungkin Kinari-kun datang kemari ya?”
Kinari baru saja membuka mulut untuk menjawab tapi Fumiya sudah kembali, kelihatan lebih segar, dan mengenakan jaketnya. “Yuk, Kyou-chan.”
Kyoushiro mengangguk dan pamit pada Yuusuke yang mengantar mereka sampai ke pintu. “Datang lagi ya. Hati-hati di jalan.”
Suara pintu geser menutup dan helaan nafas Yuusuke mendului suasana yang mendadak sepi. Yuusuke tertawa pelan. “Selalu ramai kalau ada mereka ya. Begitu pergi langsung terasa sepinya.”
Kinari mengangguk. Ia masih tak mau menatap Yuusuke yang sudah bergerak membereskan mangkuk-mangkuk bekas es krim dan gelas-gelas. Kinari memperhatikan Yuusuke yang sibuk bergerak ke sana kemari dan sempat mengangkat telepon yang berdering beberapa kali lalu kembali membereskan meja dan menyusun menu baru juga menyambut satu dua orang pengunjung lain. Bibirnya mengerut tak senang, pun ia hanya mengangguk berterima kasih saat Yuusuke meletakkan segelas es jeruk baru di hadapannya dan mengambil gelasnya yang sudah kosong.
Nampaknya memang ia harus bersabar sampai toko tutup dua jam lagi atau pulang saja.
*****
Yuusuke menarik kursi di hadapan Kinari setelah meletakkan sepiring mochi dango di atas meja bersama dua gelas ocha hangat. “Haaaaah, akhirnya selesai juga.” Ujarnya seraya melipat celemek hitamnya dengan rapid an meletakkan di atas meja, di dekat tangan Kinari. “Ah, setelah ini harus mengecek persediaan buah-buahan dan kue kering. Ah, lapar tidak? Aku tidak sempat masak apa-apa hari ini jadi kita ke tempat Sho-chan saja yuk.”
Kinari menarik nafas, “Aku pulang saja deh,” cetusnya cepat dan langsung berdiri untuk mengenakan jaket dan menyandang tasnya.
“Eh?” Yuusuke mengerjap bingung. “Pulang? Kita kan belum bicara sama sekali, loh.”
Kinari merengut, “Memangnya salah siapa?”
Alis tegas Yuusuke terangkat sebelah. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Kinari yang entah kenapa Nampak kesulitan dengan jaketnya. “Duduklah.” Ujarnya pelan.
Kinari memandangnya lalu perlahan duduk kembali, sebal karena tak bisa melawan kalau Yuusuke sudah menggunakan suara pelan namun tegasnya. Meski begitu, Kinari duduk menyamping dan sibuk memainkan ujung jaketnya. Ia hanya bisa mengerjap saat Yuusuke mengambil satu tangannya dan menggenggam dengan erat.
“Ada apa sih? Yang seperti itu tadi tak sopan sama yang lain, loh. Kalau memang kesal padaku dan ingin marah, tidak harus ditunjukkan ke semua orang kan?”
Kinari menghela nafas. Memang beginilah. Dia susah menduga kalau Yuusuke pun sadar kalau mood-nya sedang tidak bagus. “Aku bukannya marah padamu, kok.”
“Sou?”
Kinari mengangguk.
“Yokatta,” Yuusuke tersenyum, mengeratkan genggaman, “ Jya, nande?”
Kinari menghela nafas lagi lalu memutar duduknya menghadap Yuusuke lagi. “Hari ini… tidak enak saja. Rasanya semuanya salah. Mulai dari bangun tadi, keran kamar mandi rusak lalu petugas yang kupanggil tidak datang juga jadi aku telat datang ke tempat baito. Karena itu, jadinya aku dimarahi dan kau tahu bosku kan? Kalau sudah kesal, semua kesalahan sampai yang terkecil pun diungkit terus. Padahal aku sudah minta maaf loh dan aku juga sudah kirim email sebelumnya kalau aku akan telat datang. Lalu teman kerjaku di tempat yang satu lagi tidak masuk jadi aku harus jaga sendiri padahal ada rombongan yang datang. Mana mereka semua cerewet dan bosku juga jadi senewen sekali. Kunci sepedaku hilang, pula. Aaaaargh, pokoknya aku kesal sekali. Jangan tertawa dong, Yuusuke!”
Yuusuke menutup mulutnya dengan tangannya yang satu lagi dan menggigit bibirnya keras-keras karena Kinari benar-benar kelihatan kesal. Ia berdeham saat Kinari mendelik padanya. “Hai, wari, wari.” Yuusuke berdeham sekali lagi. “Lalu? Ke sini naik apa?”
Kinari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Tentu saja jalan kaki. Kan tidak begitu jauh.”
“Ah,” Yuusuke mengangguk-angguk. Ditekannya ibu jarinya ke punggung tangan Kinari lalu mengelus dengan lembut. “Pasti capek sekali ya. Waktu sampai ke sini ternyata sedang ramai jadi kau tambah kesal?”
“Maa,” bisik Kinari.
“Coba kalau bilang begitu dari tadi, aku kan bisa menyuruh mereka pergi saja atau mengajakmu ke dalam.”
Kinari memutar matanya, “Mana mungkin kan? Memangnya kau bisa mengusir mereka? Bagaimanapun mereka kan pelangganmu juga dan kalau di dalam, aku harus melakukan apa? Nanti malah mengganggu.”
“Tidur saja di kamarku. Kan tak ada yang melarang.”
Entah kenapa, Kinari merasa pipinya memanas. Ditekannya tangan Yuusuke sambil tersipu dan Yuusuke balas menggenggam sambil nyengir lebar.
“Tapi mereka itu orang-orang yang menyenangkan loh. Aku tak bisa jadi sebal kalau ada mereka.” Yuusuke berujar lagi, menusuk sebutir dango dengan tusuk bamboo dan mengunyah. Kinari mengikuti contohnya. Dia suka sekali mochi dango buatan Yuusuke itu. “Aku tahu sih.”
Tanpa diduganya, Yuusuke menarik tangan Kinari yang sejak tadi digenggamnya dan mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Kinari. “Aku tahu. Maaf ya. Mungkin seharusnya aku lebih sensitif untuk urusan seperti ini.”
“Maa ii.” Bisik Kinari sambil melepaskan tangannya. Dia sebenarnya tak bermaksud membuat Yuusuke ikut merasa tak enak. Bagaimanapun, hari buruknya sama sekali bukan karena Yuusuke. Toh, dia datang ke sini juga untuk bertemu Yuusuke dan mencari ketenangan. Bukannya cari ribut atau semacamnya. “Maaf ya. Seharusnya aku tidak bertingkah seperti tadi,” Kinari membungkuk.
Tak ada jawaban dari Yuusuke yang hanya memandangnya beberapa saat. Pria itu lalu menggerakkan jari-jarinya, member isyarat pada Kinari untuk mendekat. Kinari memajukan tubuhnya, “Apa?”
Yuusuke masih menggerakkan tangannya sampai akhirnya Kinari berdiri dan berjalan ke arahnya. Ketika Kinari berdiri di sebelahnya dengan pandangan tak mengerti, Yuusuke pun berdiri. Kedua lengannya yang kokoh merengkuh pundak Kinari dan menarik pemuda itu dalam pelukan. Kinari hanya sanggup tertegun meski detik berikutnya ia balas melingkarkan lengannya ke pinggang Yuusuke dan merebahkan kepala ke pundak Yuusuke.
Dihirupnya wangi Yuusuke yang manis seperti es krim dan buah-buahan segar, juga sedikit berbau susu bercampur dengan parfum Yuusuke yang maskulin. Yuusuke menyusupkan wajah ke antara helaian rambut Kinari yang lembut dan Kinari mengeratkan pelukannya. Begitu saja dan Kinari mulai merasa mood-nya membaik.
Mereka berdiri seperti itu selama beberapa menit yang terasa begitu lama sampai Yuusuke mengecup pucuk kepala Kinari dengan sayang dan mengusap-usap punggung Kinari.
“Masih tidak mau bertemu orang lain?” tanyanya lembut sambil menunduk.
Kinari mendongak dan memiringkan kepalanya sedikit, “Kenapa memangnya?”
“Mau temani aku makan malam di tempat Sho-chan? Aku tidak tahu mau masak apa untuk makan malam dan kamu pasti juga lapar kan?”
Kinari mengangguk. “Mulai lapar juga sih.”
Yuusuke tersenyum dan mengangguk. “Tak usah khawatir. Ini kan masih tengah minggu. Tempatnya Sho-chan tak akan terlalu ramai.”
Kinari berpikir sejenak lalu mengangguk. “Terserah Yuusuke saja deh.”
Jemari Yuusuke menyisir poni Kinari, “Jangan begitu, dong. Kalau kamu lebih ingin di sini saja, kita bisa telepon pesan antar saja.”
Kinari mengedikkan bahu. “Tak apa. Benar, kok.”
“Honma?”
Kinari mengangguk. “Hontou. Tapi,” Kinari kembali merebahkan kepalanya ke pundah Yuusuke, “Begini saja dulu sebentar lagi saja tak apa kan?”
Yuusuke tersenyum lebar dan kembali mengeratkan pelukannya. “Ee wa.”