Thursday, March 15, 2012

[fanfic] Comfort

Cast: Ueda Yuusuke, Hirano Kinari, cameo Fudoumine boys
Fandom: TeniMyu 2nd Season
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: hyaaaaaaaa kenapa gue niat sekali nulis ini ya XD *menempeli Ue-chan dan buchou mini* Maaf kalo geje


Tak ada yang lebih membuatnya lebih kesal lagi hari itu saat membuka pintu geser tradisional dan menyelipkan kepala ke antara lembaran noren dan melihat toko mungil itu penuh dengan wajah-wajah yang sangat tak ingin dilihatnya saat ini. Kinari menarik nafas panjang sementara kedua alisnya berkerut tak senang. Rasanya ingin sekali berdiri tegak dan berbalik saja lalu pulang tetapi nampaknya salah satu dari mereka sudah melihatnya dan langsung memanggil namanya dengan ceria.

“Ah, kareshi-san da~”

Urat di pelipis Kinari menonjol dan ia akhirnya membawa dirinya masuk setelah menutup pintu geser di belakangnya. “Namaku Kinari, tahu,” gerutunya seraya menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang berada paling dekat dengan pintu; sengaja tak bergabung dengan mereka yang duduk berjejer di tiga meja yang dirapatkan jadi satu. “Jangan ubah-ubah nama orang seenaknya.” protesnya lebih lanjut.

“Sudah lama tak bertemu, kenapa ketus sekali?” cetus seorang pria mungil yang duduk di sebelah pemuda bersenyum lebar.

Kinari mendengus. “Apanya yang sudah lama? Baru dua minggu yang lalu kita pergi minum sake kan?”

“Ah, benar juga.” Pria itu tertawa.

“Eeeeeh? Kenapa Mao-san minum-minum dengan Kareshi-san tapi tidak mengajakku? Mou. Curang sekali.” Protes pemuda di sebelahnya.

“Kau kan sedang pulang ke rumah orang tuamu waktu itu, Youichirou. Siapa lagi yang bisa kuajak minum kalau bukan Kinari dan Yuusuke kan?”

Yoichirou mengangguk-angguk, tertawa lebar seraya menjangkau segelas es teh di depannya. “Ah, sou, sou.”

“Haaah. Curang sekali. Memangnya aku ini tidak bisa diajak minum ya?” kali ini seorang pria yang mengenakan setelan rapi memprotes. Mao mengangkat alisnya pada pria itu, “Yang benar saja. Mana mau aku minum-minum dengan orang yang kerjaannya telepon terus dengan pacar tercinta?”

“A, aku bukan pacarnya!” sanggah pemuda yang duduk di hadapan Kyoushirou dengan wajah luar biasa merah sementara Kyoushiro hanya nyengir.

Mao kembali mengangkat alisnya, “Memangnya aku bicara tentangmu, Fuumin?”

“Hidoi! Mou, Kyou-chan! Katakan sesuatu dong.” Protesnya.

“Eeeh? Memangnya aku harus bilang apa? Aku kan memang suka teleponan denganmu. Yah, meskipun kau bukan pacarku.”

“Kyou-chaaaaaaaaan~”

Youichirou terbahak-bahak sementara Mao tersenyum miring sembari mengulum sendok es krimnya. Saat itu sesosok tegap masuk dari bagian belakang toko, membawa sebuah nampan dengan tiga gelas es teh di atasnya.

“Kalian ribut sekali,” komentarnya, meletakkan masing-masing gelas di hadapan seorang pemuda cantik berwajah lancip yang menggumamkan terima kasih, Mao dan Fumiya yang masih sibuk merajuk. Yuusuke tersenyum lebar saat melihat Kinari. “Ah, kau datang rupanya. Sudah selesai kerja sambilannya?”

Kinari mengangguk. “Aku minta es jeruk saja.” Ujarnya pelan.

Yuusuke mengangkat alis. “Tidak mau matcha dan vanilla seperti biasa?”

Kinari menggeleng. Youichirou terkekeh geli. “Kareshi-san sepertinya mood-nya sedang buruk, Yuusuke-san. Sejak tadi cemberut terus loh.”

“Uruse.” Cetus Kinari seraya melengos, pura-pura sibuk dengan handphone-nya. Ia pura-pura tuli saat Yuusuke bertanya ada apa dan membiarkan yang lain menjawab untuknya. Apapun itu, dia tak begitu menyimak. Terserah saja mereka mau bilang apa. Kinari hanya berharap mereka akan cepat pergi jadi ia bisa berduaan dengan Yuusuke.

Kinari menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan-lahan saat Yuusuke kembali dan meletakkan segelas es jeruk di hadapannya. Ditahannya dirinya agar tak mengangkat kepala karena Yuusuke tetap berdiri di hadapannya. Ia yakin Yuusuke pasti sedang menatapnya dengan pandangan bertanya dan mungkin juga tak senang karena ia bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tak dibelikan mainan.

Tapi sungguh, ia benar-benar tak peduli saat ini. Seharian ini rasanya semua hal tak bisa berjalan dengan semestinya dan tiap kejadian hanya membuatnya makin kesal. Jadi sebelum ia meledak, Kinari memutuskan untuk pergi saja dan menemui pacarnya. Ia tahu Yuusuke akan bisa membuatnya lebih tenang dengan nasehatnya yang entah kenapa selalu terdengar masuk akal.

Ya, julukan Youichirou padanya itu memang benar. Sejak ia pacaran dengan Yuusuke dua tahun yang lalu, dia dijuluki begitu. Kinari tak begitu mengenal orang-orang itu kecuali Mao yang sudah berteman dengan Yuusuke sejak lama. Youichirou pun dikenal Kinari karena pacaran dengan Mao. Kyoushiro pelanggan tetap toko es krim itu dan ia selalu datang dengan Fumiya dan mengaku kalau tak ada apa-apa di antara mereka. Kazuhiro tinggal tak jauh dari situ dan masih bersaudara dengan Yuusuke jadi ia sudah sering mampir sejak kecil. Entah bagaimana akhirnya mereka semua bisa saling kenal satu sama lain dan sering main bersama.

Ia sendiri mengenal Yuusuke beberapa tahun yang lalu ketika ia masih duduk di bangku SMU. Saat itu ia datang melihat-lihat pertandingan inter high yang diikuti sekolahnya dan iseng menonton pertandingan kendo. Ia ingat ia melihat sosok yang begitu menarik perhatian di tengah arena. Wajahnya memang tertutup pelindung kepala tapi orang ini mengeluarkan aura yang tidak bisa disepelekan. Permainan kendonya pun luar biasa. Ayunan pedangnya mantap dan seruannya pun benar-benar membuat lawannya mengkerut. Sungguh tak aneh ketika akhirnya orang itu berhasil meraih medali emas.

Ia sama sekali tak menyangka kalau orangnya berwajah sangat ramah dan senyumnya pun begitu bersahabat. Mungkin bisa dibilang kalau Kinari sudah sangat tertarik sejak mereka berjabat tangan berkat teman Kinari yang ikut klub kendo dan mengenal Yuusuke. Baru beberapa tahun setelah itu Kinari memberanikan diri mengajak Yuusuke kencan dan ia senang luar biasa karena Yuusuke tak menolak.

Kinari pun cukup takjub bahwa teman dekat Yuusuke adalah mantan berandalan nomor dua di kota itu (sekarang mengurus kedai sake milik keluarga dan pacarnya pun orang yang menarik). Nomor satunya pun (Kinari sempat tak percaya orang secantik itu mantan berandalan) bahkan cukup akrab dengan Yuusuke. Menurutnya, mereka sebenarnya orang baik, hanya sering disalahpahami.

Sungguh, dilihat dari sisi mana pun, Yuusuke adalah sosok anak idaman. Tampan, mandiri, bertanggung jawab, tegas dan sungguh bertanggung jawab. Ia tak memprotes meskipun harus rela tak kuliah dan mengambil alih usaha keluarganya ini. Katanya, ia senang membuat es krim dan senang melihat wajah orang-orang yang datang menjadi bahagia karena memakan es krimnya. Kinari mengejeknya dan Yuusuke hanya tertawa. “Memang kenyataannya begitu, kok.” ujar Yuusuke waktu itu dan Kinari tak bisa menyangkal karena es krim buatan toko milik Yuusuke itu sangatlah enak, jauh melebihi es krim di toko manapun.

Telinganya menangkap suara tawa orang-orang itu yang meledak begitu kerasnya. Mau tak mau, Kinari melirik dan melihat mereka sedang menertawakan Fumiya yang entah berbuat apa hingga wajahnya merah dan nyaris menangis. Kyoushiro menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan meskipun wajahnya berkerut aneh karena menahan tawa. Fumiya memeluknya dan menepuk dada Kyoushiro dengan sebal. Yuusuke pun ikut terbahak-bahak dan mengacak-acak rambut Fumiya dengan gemas.

“Nih, kuberi es krim strawberry gratis. Jangan menangis lagi ya,” ujar Yuusuke.

“Aaaaah, curang! Masa harus menangis dulu baru diberi gratisan?” tukas Kazuhiro iri dan disetujui oleh Youichirou dan Mao yang ikut protes.

“Kalian jahat!” seru Fumiya keras meski teredam kemeja Kyoushiro yang masih belum berhasil melepaskan pelukan Fumiya dan hanya pasrah saja kemejanya jadi agak basah terkena airmata.

Kyoushiro akhirnya menepuk-nepuk kepala Fumiya dengan lembut. “Sudah, sudah. Salahmu sendiri salah ambil kan? Yuk, pulang. Aku akan masak makan malam untukmu.”

“Hontou?” Fumiya mengangkat kepalanya, “Aku mau hamburg steak plus spaghetti dan omelet!”

“Oi, oi!”

“Ii na,” komentar Youichirou sambil mengambil mantelnya juga karena Mao member isyarat kalau mereka juga sebaiknya pulang saja, “Mao-san mau masak makan malam untukku juga tidak?”

Mao mendengus, “Kecuali kau mau makan menu yang sama dengan keponakanku, aku tak keberatan.” Pria mungil itu kemudian membuat tanda salut dengan dua jarinya pada Yuusuke, “Jya ne, Yuusuke.”

Yuusuke mengangguk, “Ou. Hati-hati di jalan, kalian semua~”

Youichirou membungkuk lalu mengejar Mao yang sudah berlalu meninggalkan toko, “Chotto matte yo, Mao-san!”

Kazuhiro pun ikut membereskan barang-barangnya, berujar kalau sudah waktunya ia harus berangkat kerja sambilan. Yuusuke membekalinya sekotak manisan buatan ibunya untuk diberikan pada ibu Kazuhiro. Pemuda berwajah lancip itu nyengir senang lalu mengatakan kalau toh manisannya akan dihabiskan olehnya. Kyoushiro menunggu Fumiya yang minta ijin menggunakan kamar mandi tamu untuk cuci muka. Kinari masih menghabiskan es jeruknya dengan malas-malasan.

“Nanda, Kinari-kun? Dari tadi terlihat bosan sekali.” Tegur Kyoushiro ramah.

Kinari mengerjap. Pria itu memandangnya sambil tersenyum tapi Kinari paham dia sedang dikritik. Kinari pun jadi agak segan karena Kyoushiro lebih tua dari mereka semua yang tadi ada di situ. Ia berdeham, “Umh. Maaf. Aku hanya…” ia mendesah, “Hari ini capek sekali dan… maaf ya, Kyou-chan.”

Kyoushiro mengibaskan tangannya dengan segan, “Eh? Kenapa minta maaf padaku?” pria itu tertawa, “Tumben saja loh, Kinari-kun datang dengan wajah masam begitu. Apalagi sama sekali tidak tersenyum pada Yuusuke-san. Sedang bertengkar? Ah, tapi kalau bertengkar, tak mungkin Kinari-kun datang kemari ya?”

Kinari baru saja membuka mulut untuk menjawab tapi Fumiya sudah kembali, kelihatan lebih segar, dan mengenakan jaketnya. “Yuk, Kyou-chan.”

Kyoushiro mengangguk dan pamit pada Yuusuke yang mengantar mereka sampai ke pintu. “Datang lagi ya. Hati-hati di jalan.”

Suara pintu geser menutup dan helaan nafas Yuusuke mendului suasana yang mendadak sepi. Yuusuke tertawa pelan. “Selalu ramai kalau ada mereka ya. Begitu pergi langsung terasa sepinya.”

Kinari mengangguk. Ia masih tak mau menatap Yuusuke yang sudah bergerak membereskan mangkuk-mangkuk bekas es krim dan gelas-gelas. Kinari memperhatikan Yuusuke yang sibuk bergerak ke sana kemari dan sempat mengangkat telepon yang berdering beberapa kali lalu kembali membereskan meja dan menyusun menu baru juga menyambut satu dua orang pengunjung lain. Bibirnya mengerut tak senang, pun ia hanya mengangguk berterima kasih saat Yuusuke meletakkan segelas es jeruk baru di hadapannya dan mengambil gelasnya yang sudah kosong.

Nampaknya memang ia harus bersabar sampai toko tutup dua jam lagi atau pulang saja.

*****

Yuusuke menarik kursi di hadapan Kinari setelah meletakkan sepiring mochi dango di atas meja bersama dua gelas ocha hangat. “Haaaaah, akhirnya selesai juga.” Ujarnya seraya melipat celemek hitamnya dengan rapid an meletakkan di atas meja, di dekat tangan Kinari. “Ah, setelah ini harus mengecek persediaan buah-buahan dan kue kering. Ah, lapar tidak? Aku tidak sempat masak apa-apa hari ini jadi kita ke tempat Sho-chan saja yuk.”

Kinari menarik nafas, “Aku pulang saja deh,” cetusnya cepat dan langsung berdiri untuk mengenakan jaket dan menyandang tasnya.

“Eh?” Yuusuke mengerjap bingung. “Pulang? Kita kan belum bicara sama sekali, loh.”

Kinari merengut, “Memangnya salah siapa?”

Alis tegas Yuusuke terangkat sebelah. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Kinari yang entah kenapa Nampak kesulitan dengan jaketnya. “Duduklah.” Ujarnya pelan.

Kinari memandangnya lalu perlahan duduk kembali, sebal karena tak bisa melawan kalau Yuusuke sudah menggunakan suara pelan namun tegasnya. Meski begitu, Kinari duduk menyamping dan sibuk memainkan ujung jaketnya. Ia hanya bisa mengerjap saat Yuusuke mengambil satu tangannya dan menggenggam dengan erat.

“Ada apa sih? Yang seperti itu tadi tak sopan sama yang lain, loh. Kalau memang kesal padaku dan ingin marah, tidak harus ditunjukkan ke semua orang kan?”

Kinari menghela nafas. Memang beginilah. Dia susah menduga kalau Yuusuke pun sadar kalau mood-nya sedang tidak bagus. “Aku bukannya marah padamu, kok.”

“Sou?”

Kinari mengangguk.

“Yokatta,” Yuusuke tersenyum, mengeratkan genggaman, “ Jya, nande?”

Kinari menghela nafas lagi lalu memutar duduknya menghadap Yuusuke lagi. “Hari ini… tidak enak saja. Rasanya semuanya salah. Mulai dari bangun tadi, keran kamar mandi rusak lalu petugas yang kupanggil tidak datang juga jadi aku telat datang ke tempat baito. Karena itu, jadinya aku dimarahi dan kau tahu bosku kan? Kalau sudah kesal, semua kesalahan sampai yang terkecil pun diungkit terus. Padahal aku sudah minta maaf loh dan aku juga sudah kirim email sebelumnya kalau aku akan telat datang. Lalu teman kerjaku di tempat yang satu lagi tidak masuk jadi aku harus jaga sendiri padahal ada rombongan yang datang. Mana mereka semua cerewet dan bosku juga jadi senewen sekali. Kunci sepedaku hilang, pula. Aaaaargh, pokoknya aku kesal sekali. Jangan tertawa dong, Yuusuke!”

Yuusuke menutup mulutnya dengan tangannya yang satu lagi dan menggigit bibirnya keras-keras karena Kinari benar-benar kelihatan kesal. Ia berdeham saat Kinari mendelik padanya. “Hai, wari, wari.” Yuusuke berdeham sekali lagi. “Lalu? Ke sini naik apa?”

Kinari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Tentu saja jalan kaki. Kan tidak begitu jauh.”

“Ah,” Yuusuke mengangguk-angguk. Ditekannya ibu jarinya ke punggung tangan Kinari lalu mengelus dengan lembut. “Pasti capek sekali ya. Waktu sampai ke sini ternyata sedang ramai jadi kau tambah kesal?”

“Maa,” bisik Kinari.

“Coba kalau bilang begitu dari tadi, aku kan bisa menyuruh mereka pergi saja atau mengajakmu ke dalam.”

Kinari memutar matanya, “Mana mungkin kan? Memangnya kau bisa mengusir mereka? Bagaimanapun mereka kan pelangganmu juga dan kalau di dalam, aku harus melakukan apa? Nanti malah mengganggu.”

“Tidur saja di kamarku. Kan tak ada yang melarang.”

Entah kenapa, Kinari merasa pipinya memanas. Ditekannya tangan Yuusuke sambil tersipu dan Yuusuke balas menggenggam sambil nyengir lebar.

“Tapi mereka itu orang-orang yang menyenangkan loh. Aku tak bisa jadi sebal kalau ada mereka.” Yuusuke berujar lagi, menusuk sebutir dango dengan tusuk bamboo dan mengunyah. Kinari mengikuti contohnya. Dia suka sekali mochi dango buatan Yuusuke itu. “Aku tahu sih.”

Tanpa diduganya, Yuusuke menarik tangan Kinari yang sejak tadi digenggamnya dan mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Kinari. “Aku tahu. Maaf ya. Mungkin seharusnya aku lebih sensitif untuk urusan seperti ini.”

“Maa ii.” Bisik Kinari sambil melepaskan tangannya. Dia sebenarnya tak bermaksud membuat Yuusuke ikut merasa tak enak. Bagaimanapun, hari buruknya sama sekali bukan karena Yuusuke. Toh, dia datang ke sini juga untuk bertemu Yuusuke dan mencari ketenangan. Bukannya cari ribut atau semacamnya. “Maaf ya. Seharusnya aku tidak bertingkah seperti tadi,” Kinari membungkuk.

Tak ada jawaban dari Yuusuke yang hanya memandangnya beberapa saat. Pria itu lalu menggerakkan jari-jarinya, member isyarat pada Kinari untuk mendekat. Kinari memajukan tubuhnya, “Apa?”

Yuusuke masih menggerakkan tangannya sampai akhirnya Kinari berdiri dan berjalan ke arahnya. Ketika Kinari berdiri di sebelahnya dengan pandangan tak mengerti, Yuusuke pun berdiri. Kedua lengannya yang kokoh merengkuh pundak Kinari dan menarik pemuda itu dalam pelukan. Kinari hanya sanggup tertegun meski detik berikutnya ia balas melingkarkan lengannya ke pinggang Yuusuke dan merebahkan kepala ke pundak Yuusuke.

Dihirupnya wangi Yuusuke yang manis seperti es krim dan buah-buahan segar, juga sedikit berbau susu bercampur dengan parfum Yuusuke yang maskulin. Yuusuke menyusupkan wajah ke antara helaian rambut Kinari yang lembut dan Kinari mengeratkan pelukannya. Begitu saja dan Kinari mulai merasa mood-nya membaik.

Mereka berdiri seperti itu selama beberapa menit yang terasa begitu lama sampai Yuusuke mengecup pucuk kepala Kinari dengan sayang dan mengusap-usap punggung Kinari.

“Masih tidak mau bertemu orang lain?” tanyanya lembut sambil menunduk.

Kinari mendongak dan memiringkan kepalanya sedikit, “Kenapa memangnya?”

“Mau temani aku makan malam di tempat Sho-chan? Aku tidak tahu mau masak apa untuk makan malam dan kamu pasti juga lapar kan?”

Kinari mengangguk. “Mulai lapar juga sih.”

Yuusuke tersenyum dan mengangguk. “Tak usah khawatir. Ini kan masih tengah minggu. Tempatnya Sho-chan tak akan terlalu ramai.”

Kinari berpikir sejenak lalu mengangguk. “Terserah Yuusuke saja deh.”

Jemari Yuusuke menyisir poni Kinari, “Jangan begitu, dong. Kalau kamu lebih ingin di sini saja, kita bisa telepon pesan antar saja.”

Kinari mengedikkan bahu. “Tak apa. Benar, kok.”

“Honma?”

Kinari mengangguk. “Hontou. Tapi,” Kinari kembali merebahkan kepalanya ke pundah Yuusuke, “Begini saja dulu sebentar lagi saja tak apa kan?”

Yuusuke tersenyum lebar dan kembali mengeratkan pelukannya. “Ee wa.”

 

Monday, March 5, 2012

[fanfic] Care

Cast: Hiramaki Jin, Koseki Yuta

Rating: PG

Warning: AU, BL hint, OOC

Disclaimer: I only own the plot

Note: Ini sebenernya sudah ditulis lama sekali tapi berhenti setelah paragraf dua XD; Akhirnya kmrn ini memutuskan untuk diselesaikan dan... hasilnya cukup inosen seperti yang gue harap (semoga XD).




“Ah, sudah reda,” Jin bergumam seraya tersenyum dan menarik tangannya yang dijulurkan keluar ambang jendela. Ditutupnya jendela itu rapat-rapat dan berjalan ke arah anak laki-laki jangkung yang tengah melingkar dengan nyaman di salah satu kursi di dalam kafe itu, terkantuk-kantuk.

 

Jin tersenyum maklum, tangannya mendarat lembut di atas kepala anak laki-laki dan mengusap pelan, “Hujannya sudah reda, loh.”

 

“Hmnh?” anak laki-laki itu bergumam, mengangkat kepalanya sekilas lalu menunduk lagi. “Ngantuk. Aku tak boleh menginap di sini saja, ya?”

 

Jin mengusap hidungnya dengan buku jari, “Boleh saja sebenarnya, tapi aku tak mau cari ribut dengan kakakmu. Ayo,” lengannya terulur menggamit lekukan lengan panjang Yuta dan menarik pelan agar anak laki-laki itu bangun.

 

Yuta menggerundel sebal namun menurut; dengan setengah hati mengenakan jaket dan menerima ransel yang diulurkan Jin. Matanya masih sesekali menutup dan tubuhnya limbung ke satu arah. Jin mendengus. Tanpa banyak bicara, pria itu berlalu ke dapur dan kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.

 

“Minum,” perintahnya pelan.

 

Mata Yuta mengerjap; untuk sesaat memandang gelas yang disodorkan Jin lalu ke arah Jin berganti-ganti. Sudut-sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk cengiran dan menerima gelas itu. “Sankyuu.”

 

Jin tersenyum. Sementara Yuta menghabiskan susunya, ia mengenakan jaketnya dan mengambil kunci mobil. Menimbang-nimbang apakah ia harus membawa dompet juga sebelum ingat kalau ia memang butuh mampir ke pasar swalayan yang buka 24 jam. Diliriknya Yuta yang sudah melompat-lompat di tempat, menepuk-nepuk pipinya yang bulat dan nyengir lebar. Jin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh lucu dan menggemaskan. Seandainya saja umurnya tak terlalu jauh berbeda dan Yuta tak punya kakak yang mudah panik.... Jin menampar dirinya sendiri dalam hati. Stop sampai di situ Hiramaki Jin. Apa sih yang kau pikirkan?

 

Tangannya kemudian terangkat, memberi isyarat pada Yuta untuk mengikutinya ke mobil. Setelah memastikan anak itu duduk dengan nyaman dan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, ia pun menjalankan mobilnya menembus jalan yang agak berkabut.

 

”Ne, Charlie,” Yuta bergumam setelah menyandarkan punggung dan kepalanya dengan nyaman ke sandaran kursi penumpang.

 

”Hmm?” Jin bergumam tanpa menoleh.

 

”Charlie kan lebih tua dariku ya,”

 

Jin mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum geli meskipun kedua alis matanya berkerut bingung. ”Iya, ya. Aku nyaris seumur dengan kakakmu ya. Tapi itu sudah jelas kan? Pertanyaanmu aneh sekali.”

 

”Dengar dulu, dong. Aku kan belum selesai bicara,” Yuta mendengus, ”Kau seperti Jack-nii deh, kalau sedang begitu.”

 

Jin terbahak, memutar kemudi ke kanan lalu menoleh sekilas pada anak laki-laki itu. Yuta sama sekali sudah tak terlihat mengantuk. Terkadang, Jin kagum sekali dengan sistem daya tahan anak itu. Seolah waktu tidurnya, meski hanya lima belas menit, sudah cukup untuk mengisi ulang energinya. Sementara ia sendiri butuh setidaknya empat jam tidur untuk bisa berfungsi dengan baik. ”Baiklah. Maaf. Apa yang mau kau katakan?” tanyanya, berusaha menyembunyikan nada geli dalam suaranya.

 

Yuta memiringkan kepalanya ke kiri, ”Apa ya? Oh! Kenapa Charlie tak punya pacar?”

 

”Pertanyaan apa itu? Memangnya karena aku lebih tua darimu jadi aku harus punya pacar?” sergah Jin, makin tak mengerti dan makin geli pada saat yang bersamaan.

 

”Aku kan hanya bertanya, loh. Jack-nii saja akhirnya punya pacar meski pacarnya temanku. Aku sama sekali tak menyangka, loh. Awalnya Jack-nii tak mau cerita. Mungkin malu. Entahlah. Tapi aku bisa tahu, loh. Habisnya mendadak dia suka mengantar-jemput Yuuki-chan. Lalu Yuuki-chan wajahnya suka memerah kalau aku cerita soal Jack-nii. Jack-nii juga begitu. Hihihi, lucu sekali deh waktu dulu pertama kalinya tak sengaja aku melihat mereka berciuman di apartemen. Wajahnya meraaaaaaaaah sekali. Ih, padahal yang seperti itu kan wajar ya? Namanya juga pacaran.”

 

Jin tak tahu bagaimana ia harus bereaksi pada rentetan kata-kata yang dengan cepat meluncur dari bibir Yuta tanpa bisa dihentikan. Maka ia hanya terkekeh kecil karena tak bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian dari jalanan. Yuta masih berceloteh panjang lebar sampai akhirnya Jin mengulurkan tangannya untuk ditangkupkan di depan mulut anak laki-laki itu agar ia berhenti bicara karena Jin mulai tak bisa menangkap maksud pembicaraannya.

 

”Semenarik apapun cerita tentang kakakmu – benar deh, menarik – tapi aku jadi bingung, Yuta,” pria itu tertawa. ”Kau ini mau tanya kenapa aku belum punya pacar atau cerita tentang kakakmu dan pacarnya yang manis itu sih?”

 

Yuta menyingkirkan tangan Jin dari depan wajahnya dan nyengir lebar. Kedua pipinya bersemu merah. ”Ah, gomen, gomen. Charlie jadi bingung ya? Hehehe habisnya Jack-nii dan Yuuki-chan itu lucu sekali sih. Aku jadi ngelantur deh. Iya, jadi maksudku ya itu, kenapa kalau Jack-nii saja akhirnya berhasil punya pacar, kenapa Charlie tidak?”

 

Jin kembali mengerutkan kening, ”Oke. Pertama, aku baru kenal kakakmu beberapa waktu lalu dan sepertinya dia sudah pacaran cukup lama dengan Yuuki-chan kan? Jadi, itu mengarah ke pernyataan Kedua, apa hubungannya aku tak punya pacar dengan kakakmu yang pacaran dengan Yuuki-chan? Tiap orang kan berbeda loh. Aku juga bisa tanya hal yang sama padamu. Kalau temanmu yang lucu itu saja berhasil memacari kakakmu, kenapa kau tidak punya pacar?”

 

Kali ini Yuta terdiam beberapa lama lalu memiringkan kepalanya lagi. ”Habis, kata Jack-nii, aku hanya boleh pacaran dengan orang yang benar-benar kusukai. Masalahnya, orang yang aku suka itu banyak. Yuuki-chan sih tak masuk hitungan. Micchi, Ikepi, teman-teman di klub, ah, Kenki-nii nya Micchi pun aku suka karena orangnya baik sekali. Tori-nii temannya Jack-nii pun aku suka loh karena dia pintar masak dan baik hati. Tapi kalau jadi pacar kan, rasa sukanya pasti beda ya.”

 

”Nah.”

 

Yuta menoleh pada Jin. Terlihat sedikit bingung dengan reaksinya. ”Apanya yang ’Nah’?”

 

Jawabannya tak langsung datang karena Jin sedang berkonsentrasi menyalip mobil yang berjalan terlalu pelan di depan mereka. ”Persis seperti yang kau bilang. Rasa suka itu berbeda-beda dan kau sudah mengerti ini kan?” Yuta mengangguk, ”Kalau untuk jadi pacar, rasa sukanya beda sama sekali, loh. Harus benar-benar sukaaaa sekali sampai meskipun dibuat kesal tapi tak bisa jadi benci sama orang itu.”

 

”Ah!!” Yuta menepukkan kepalan tangannya ke telapan tangannya sendiri. ”Ternyata memang begitu ya. Ahahahaha, aku pintar ya.” ujarnya sambil nyengir dengan senangnya dan mengangguk-angguk.

 

Melihat itu, Jin tak bisa tak tertawa. Satu lagi hal tentang Yuta yang menarik perhatiannya adalah anak laki-laki itu memang terkesan polos tapi ia memperhatikan banyak hal di sekitarnya dengan cermat dan menyimpulkan dengan caranya sendiri. Diam-diam ia berharap ia akan tetap diperbolehkan berada di dekat Yuta saat anak laki-laki itu beranjak lebih dewasa. Jin yakin Yuta akan jadi orang yang sangat menarik dan sukses dengan caranya sendiri.

 

Tak lama, Jin menghentikan mobil di depan bangunan apartemen di mana Yuta tinggal bersama Takuma. Ia melirik sekilas ke lantai tiga, ke pintu kelima dari kanan dan mendapati lampunya menyala. Takuma pasti sedang cemas sekali karena Yuta pulang terlambat. Diperhatikannya Yuta melepas sabuk pengaman lalu memutar badan untuk mengambil ranselnya yang tadi diletakkan di bangku penumpang belakang.

 

”Bawa sekalian kotak makan itu ya,” ujarnya pada Yuta.

 

”Eh? Memangnya ini apa? Aku tidak ingat bawa-bawa kotak makan sebesar ini,” komentar Yuta seraya mengendus kotak makan itu karena terasa hangat dan agak berat. Kedua matanya membulat makin lebar dengan semangat. ”Cinnamon roll ya? Charlie buat? Kapan? Untuk aku dan Jack-nii? Uwah, sankyuuuuu!!”

 

Jin tersenyum lebar. ”Kupanggang tadi waktu kau tertidur. Tidak banyak sih. Semoga kakakmu suka ya. Ini tidak terlalu manis, kok. Jadi tak usah khawatir merusak gigi.”

 

Yuta mencibir, ”Ih. Makanan enak, manis atau tidak, semuanya perlu dinikmati dan disyukuri. Padahal Jack-nii sendiri yang bilang begitu loh.”

 

Cubitan gemas di hidungnya membuat Yuta meronta sekilas lalu memerikasa sekali lagi bahwa semua barang bawaannya sudah tak ada yang tertinggal. ”Hari Sabtu aku mampir lagi ya. Ikepi bilang mau mencicipi fish & chips di tempat Charlie,” ujarnya sambil membuka pintu dan keluar dari mobil itu.

 

Jin mengangguk dan memiringkan posisi duduknya agar dapat melihat Yuta yang membungkuk di ambang jendela. ”Silakan. Aku akan senang sekali. Salam untuk kakakmu ya.”

 

”Un! Oyasumi, Charlie!” ujar Yuta sambil melambaikan tangan dan melesat pergi.

 

”Oyasumi!” seru Jin ke arah punggung anak itu seraya melambaikan tangan dengan cepat. Diperhatikannya punggung Yuta yang perlahan menjauh sambil geleng-geleng kepala. Ia memang selalu memastikan Yuta naik dengan selamat ke lantai tiga sebelum berlalu pergi. Kedua matanya mengerjap saat melihat Yuta berhenti lalu berbalik dan mendekat ke arahnya lagi dengan setengah berlari. Yuta mengetuk jendela mobilnya dan Jin menurunkan kaca. ”Ada yang tertinggal?”

 

Yuta mengangguk. ”Tadi aku lupa bilang: Aku juga suka Charlie, loh.” Cengiran lebarnya yang khas menyusul sebelum berbalik dan kali ini berlari cepat untuk menghilang ke dalam bangunan apartemen.

 

Mulut Jin terbuka dan tertutup lagi kemudian ia tertawa, merasa geli dan gemas pada saat yang bersamaan. Benar-benar deh, pikirnya. Benar-benar anak yang menarik dan Jin pun tersenyum lebar saat melihat sosok Yuta berdiri di depan pintu apartemennya di lantai tiga, melambai sekilas ke arah mobil Jin lalu masuk ke dalam.

 

”Aku juga suka Yuta, loh.” bisiknya.

Saturday, February 18, 2012

[fanfic] Kitchen

Cast: Jinnai Sho, Mitsuya Ryou, Ueda Yuusuke
Rating: G
Warning: AU, OOC, implied BL
Disclaimer: I do not own anything
Note: percakapan random karena saya tak ada kerjaan di hari hujan ini.


Hari masih pagi ketika Yuusuke tiba di depan sebuah kedai sake. Jalanan di depannya pun masih sepi. Hanya tampak satu-dua orang yang sedang bebersih di depan toko milik mereka. Kedai yang menjual bento sudah ramai sejak pagi buta tapi Yuusuke tak berniat mampir ke situ. Dicobanya untuk membuka pintu kedai sake yang masih tertutup - norennya pun belum dipasang karena belum waktunya buka - sambil berujar, "Gomen kudasai."

Bagian dalam kedai itu pun masih lengang dan lampu di bagian tempat makan belum dinyalakan. Kursi-kursi masih terletak terbalik di atas meja-meja. Ada dua buah panci besar bertengger di atas kompor yang menyala. Asap tipis menguarkan wangi yang diterjemahkan otak Yuusuke sebagai sup dan rebusan sayuran. Beberapa bahan makanan lain teronggok di sebuah meja.

Yuusuke mencoba lagi, "Gomen kudasai," dan tersenyum saat mendengar ada jawaban. Kepala Jinnai menyembul dari balik pintu di bagian belakang dapur. "Ah, Ue-chan! Sudah datang ya."

Yuusuke mengangkat tangannya, "Yo."

"Taruh saja bawaanmu di atas. Aku buang sampah dulu."

Yuusuke menurut dan menapaki tangga mungil yang terletak di sebelah kiri dapur. Jaket dan tasnya diletakkan di dekat meja di ruang duduk mungil di lantai dua. Sekilas ia mengintip ke arah sebuah pintu yang setengah terbuka. Seorang pria setengah baya sedang tertidur pulas dan Yuusuke tak berniat mengganggu maka ia pun turun lagi.

Sambil menggulung lengan bajunya, Yuusuke mencari celemek dan mulai memilah-milah sayuran di atas meja. Jinnai kembali tak lama kemudian, mencuci tangan dan bergabung untuk memberi petunjuk pada Yuusuke apa yang harus dilakukan.

Jinnai sedang menghitung persediaan sake dan minuman lainnya ketika didengarnya Yuusuke bertanya, "Pacarmu yang manis itu ke mana?"

Jinnai tertawa. "Hari ini dia sibuk di kampus katanya. Ada perayaan atau apa begitu. Nanti sih katanya mau datang dengan teman-temannya."

Yuusuke mengangguk-angguk sementara tangannya terus bekerja memotong-motong sayuran. "Kupikir dia akan datang dan membantumu. Biasanya begitu kan?"

"Yah, hidupnya kan tidak berputar di sekitarku saja." Jinnai mengedikkan bahu.

"Tapi tampaknya seperti itu loh." Potong Yuusuke sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya merepotkan tapi kau senang kan?"

"Dou deshou ka," sahut Jinnai namun ia tak bisa menahan cengiran yang muncul. Yuusuke tertawa.

"Ii jyan?"

"Maa ne."

Kedua laki-laki itu tertawa lagi. Saat itu pintu kedai terbuka dan terdengar suara berat yang familiar di telinga Jinnai, "Ojamashima- eh, Ue-chan? Ue-chan da! Hisashiburiiiii!"

"Mitsuya-kun!" Yuusuke pun buru-buru berdiri namun Mitsuya sudah menghampirinya dengan langkah cepat dan menepuk2 pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.

"Eh? Eh? Sudah lama sekali ya. Sedang apa di sini? Memangnya tidak buka toko? Wah, kau tambah tampan ya? Sho-chan, Ue-chan loh!"

"Hisashiburi, Mitsuya-kun. Yappari masih tetap semangat seperti dulu ya." Yuusuke menyalaminya sambil tertawa. "Aku diminta Sho-chan bantu-bantu. Kebetulan aku tak ada pekerjaan karena toko sedang direnovasi."

Tanpa basa-basi lagi, Mitsuya melepas mantelnya dan menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di dekat Yuusuke. "Eh? Paman sakit? Atau sedang pergi?"

Jinnai menghampiri mereka dan meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan kedua temannya itu. "Sakit pinggangnya kumat. Aku tak bisa buka toko sendirian di hari sabtu seperti ini."

"Ah, sou? Boleh kujenguk? Sebentar ya, Ue-chan!" Dan Mitsuya pun langsung melesat ke lantai dua, meninggalkan Jinnai yang geleng-geleng kepala dan Yuusuke yang menahan tawa.

"Dia sudah berubah ya?" Komentar Yuusuke sambil menyesap tehnya.

"Apanya?" Jinnai menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sama saja, kok. Masih saja cengeng dan gampang naik darah."

"Tapi aku senang loh, kalian sudah berhenti berkelahi."

"Berkelahi itu kan bukan mau kami, loh. Orang-orang saja yang terus-terusan mencari. Lagipula, tak bisa seperti itu seumur hidup kan? Lagipula, itu kan sudah lama sekali, Ue-chan. Tak usah diungkit lagi." Tukas Jinnai seraya mengibaskan tangan.

Yuusuke mengangguk-angguk. "Tak menyangka saja dia akan menikah lebih dulu dan... berapa anaknya sekarang?"

"Hmm... Empat?"

"Sugoi~" Yuusuke tertawa.

Jinnai pun terkekeh. "Begitulah. Lagaknya saja marah-marah tapi sebenarnya suka sekali kok."

"Kau juga lega karena tak harus menjaganya terus kan?" Yuusuke mengangkat alis.

"Haaah?" Jinnai menuding temannya dengan sebilah pisau. "Dengar ya, saling menjaga itu insting untuk bertahan hidup, tahu. Sama sekali tak ada unsur romantisnya."

Yuusuke menepis tangan Jinnai dengan tenang. "Aku juga tak bilang begitu, kok. Maksudku, hidupmu jadi lebih tenang kan?"

Jinnai memiringkan kepala, "Yah, dibilang lebih tenang sih..."

"Ah, tidak juga ya." Yuusuke tertawa lagi.

"Sou."

Mitsuya kembali bergabung dengan dua teman lamanya itu tak lama kemudian. "Paman sempat bangun sebentar tadi, tapi sudah tidur lagi." Ujarnya sambil menduduki kursinya lagi dan menjangkau seikat sawi putih.

Jinnai mengangguk lalu mengangkat alis. "Sedang apa?"

Mitsuya balas mengangkat alis. "Aku sedang tak ada kerjaan jadi ikut bantu tak apa kan? Toh, sudah lama tidak bertemu Ue-chan. Ne?" Ujarnya sambil mengangguk pada Yuusuke.

Jinnai memukul bagian belakang kepala Mitsuya dengan kesal dan membuat Mitsuya mengaduh keras dan balas memukul lengan Jinnai. "Apa sih tujuanmu kemari? Kau kan tahu kedai tak akan buka sampai jam 7 malam."

Mitsuya mengerjap. "Ah! Sou!" Dia menepuk tangan seolah baru ingat akan tujuannya mendatangi kedai itu pagi-pagi. "Tak ada apa-apa sih. Hehehe."

"Hah?" Tangan Jinnai sudah terangkat hendak memukul Mitsuya lagi namun temannya yang cantik itu merengut.

"Habis, Kenki sedang dinas ke luar kota. Anak-anak juga sedang study tour ke Osaka. Mereka tak akan pulang sampai lusa. Aku tak ada kerjaan nih." Keluhnya.

Jinnai menghela nafas. Yuusuke tersenyum lebar. "Tak apa kan, Sho-chan. Semakin banyak yang membantu kan enak. Kau jadi punya waktu memperhatikan paman juga."

"Ya sudah." Jinnai melengos ke arah dapur. "Sini. Bantu aku memotong daging ayam untuk yakitori." Ujarnya. "Setelah itu angkat krat bir dari belakang ya."

"Eeeeeh?"

"Katanya mau bantu. Aku bosnya di sini. Kalau tak mau kerja, kau tak akan kubagi sarapan. Atau lebih baik lagi, pulang saja sana." Tukas Jinnai dengan tegas seraya mengacungkan sumpit masak dengan jumawa.

Mitsuya menggembungkan kedua pipinya. Ia makin merengut karena ditertawakan Yuusuke yang geli melihat tingkah dua orang itu. Meskipun begitu, lelaki cantik itu menurut juga dan menghampiri Jinnai untuk mengambil baskom berisi potongan daging ayam dan mulai bekerja dengan tekun.

Sesuai perkataannya, Jinnai membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka meskipun sederhana: sup miso, tempura dan asinan sayur menemani nasi hangat yang mengepul wangi. Yuusuke menyumbang tenaga membuatkan yakitamago yang luar biasa enak. Sementara kedua temannya makan, Jinnai menghilang sebentar ke lantai dua mengantarkan bagian ayahnya.

"Banyak sekali ya," komentar Mitsuya setelah mereka selesai makan dan kembali bekerja, memandang tumpukan sayur, daging, ikan dan bahan-bahan lain yang siap diolah setengah jadi.

Yuusuke mengangsurkan ujung sendok kayu yang digunakannya mengaduk campuran bumbu yakitori pada Jinnai. Menggunakan kelingkingnya, Jinnai mencolek sedikit bumbu dari sendok kayu itu, mengecap sejenak, "Mirin-nya ditambah sedikit lagi," pintanya. "Yah, beginilah kalau akhir minggu. Makanya aku minta Ue-chan membantu."

Mitsuya meletakkan satu krat bir di lantai dan mulai mengatur isinya ke dalam lemari pendingin. "Anak itu tidak akan cemburu?"

Jinnai mengangkat alis. "Maksudmu Daisuke?"

Mitsuya mengangguk.

"Kenapa harus? Kedai ini kan milik keluargaku. Dia saja yang seenaknya memutuskan dia punya hak untuk ikut repot." Jinnai berkilah.

"Sho-chan," tegur Yuusuke halus.

"Iya, bercanda." Sela Jinnai. "Aku malah senang kalau dia tak sering-sering muncul dan lebih konsentrasi belajar. Aku tak ingin dilabrak ibunya kalau sampai nilainya hancur karena terlalu sering main di sini. Yah, meskipun dia juga belajar di sini sih."

Mitsuya mendekat dan menusuk pipi temannya itu, "Sho-chan, kawaii."

"Uruse." Jinnai menepis tangan Mitsuya dan berpura-pura sibuk memeriksa kaldu untuk kuah oden.

"Ne," Yuusuke berujar, tanpa menoleh karena menjaga agar bumbu yakitori yang sedang dibuatnya tidak terlalu mendidih, "apa kau akan mengambilnya masuk ke keluargamu? Paman pasti akan senang sekali punya anak semanis itu."

Jinnai tertawa dan mengedikkan bahu. "Saa ne. Mungkin? Aku masih belum tahu."

"Sudah ditanya?"

"Tentu saja belum."

"Nandee?"

"Micchi, uruse."

"Nandeeee?"

Jinnai menghela nafas. "Belum saja. Kalau dia punya cita-cita yang lebih hebat daripada sekedar menemaniku mengurus kedai sake ini, aku kan tak bisa melarang."

Yuusuke mengangguk-angguk. "Kita punya kewajiban keluarga ya. Bukannya terpaksa sih."

"Sou. Kau mengerti maksudku kan, Ue-chan?"

Yuusuke mengangguk lagi. Mitsuya ikut mengangguk. "Anak itu tak pernah pergi dari sampingmu sih, ya. Bagus juga kalau sesekali dia melakukan hal lain. Demo, iinjyanai? Begini saja kau bahagia kan? Memang tak perlu buru-buru ya. Namanya juga Sho-chan."

Kali ini Jinnai tersenyum lebar. "Sou desu ne."

-end-

Thursday, February 16, 2012

[drabble] Kenki/Micchi - late birthday fic

Rating: PG
Warning: BL, OOC, crappy English
Disclaimer: I own nothing
Note: seharusnya ini dipost kemaren2 tapiiii aku sungguhlah sibuk #alasan


“Did you cry?” Kenki raises an eyebrow as he amusingly looking at his friend nursing his coffee.

A pout takes place on Mitsuya’s lips. “You know I always cry at the littlest thing.”

Kenki laughs, this time. Mitsuya shoves him playfully and can’t help but grinning, too. The pretty boy then fixes his eyes with Kenki’s. The guy smiles in return and ruffles Mitsuya’s hair affectionately. 

Just like that and all of a sudden Mitsuya feels something warm is seeping through his soul. It’s always like that with Kenki. He never says so many words and only need to do something like smiling and Mitsuya knows

“Arigatou,” he whispers with a voice that threatens to be broken as he shifts a little, just so his forehead is leaning against Kenki’s shoulder.

Kenki smiles. 

Sunday, February 5, 2012

[fanfic] Just His Luck

Cast: sexy-san, otome-nyan
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: I hate my blekberi keypad -_-


Suara pisau beradu dengan talenan dengan ritme yang teratur mengisi dapur mungil itu. Sesekali terhenti untuk kemudian berlanjut lagi. Asap tipis mengepul dari sela tutup panci di atas kompor. Wangi samar daging, sayuran segar, harum bawang bombai dan beberapa bumbu lain memenuhi udara. Daisuke mengendus pelan, memejamkan mata sementara sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Lengannya yang panjang mendekap lutut di depan dada, seolah tak begitu peduli kalau kakinya tak tertutup apapun. Matanya kemudian terbuka, kembali terarah pada sosok yang tengah sibuk memindahkan sayuran yang sudah dipotong-potong untuk direbus di dalam panci.

"Madaaaa?" Tanyanya sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.

"Sabar sedikit. Lagipula, aku yang lebih lapar, kan?" Jinnai melempar beberapa jumput garam dan merica ke dalam panci lalu melempar sejumput melewati bahu.

Melihat itu, Daisuke mengerjap. "Kenapa melakukan itu?"

"Apa?" Jinnai bertanya tanpa menoleh.

"Itu, melempar garam ke belakang."

"Oh." Jinnai melirik sekilas lalu tersenyum miring. "Untuk mengusir nasib buruk yang selalu ada di belakangku."

Sesaat, Daisuke mengerjap, berusaha mencerna ucapan Jinnai lalu menggembungkan pipi dengan sebal saat mengerti apa maksudnya. "Mou! Jadi maksudmu aku ini nasib buruk, begitu?"

Jinnai terbahak, berhenti untuk mencicipi masakannya lalu nyengir lebar, "Maa ne."

"Jinshan!"

Suara tawa Jinnai kembali terdengar sementara si pemilik suara kembali sibuk berkutat dengan masakan lain: meletakkan penggorengan penuh berisi minyak dan menyalakan kompor. Sepasang lengan yang mendadak melingkari pinggang mengejutkannya.

"Kalau begitu, aku akan jadi nasib buruk yang tak mudah diusir dengan taburan garam dan akan mengikuti Jinshan ke manapun seumur hidup."

Jinnai menepuk lengan itu, "Komatta na." Ia kemudian berputar, menghadapi Daisuke yang masih mendekapnya dan menunduk untuk mengecup kening pemuda itu. "Keberuntunganku sepertinya memang sudah habis sejak menolongmu tempo hari. Jadi, Nasib Buruk-kun, sebaiknya kau membantuku meracik salad atau kau tak akan kubagi sup bola daging dan kroketnya." Ujarnya sambil menepuk punggung Daisuke.

"Huh." Daisuke melengos. "Berbahagialah karena nasib buruk yang satu ini suka masakanmu." Cibirnya sembari melipir ke lemari es dan mengambil bahan-bahan untuk salad.

Sambil menggoreng kroket, Jinnai melirik pada Daisuke yang sudah sibuk di sebelahnya. Ia menggigit bibir agar tak mengomentari jersey Daisuke yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya. Pemuda itu bahkan tak ambil pusing untuk mengenakan celemek dan meracik salad dengan tekun. Mau tak mau Jinnai nyengir melihat pemuda itu membuat salad seperti yang biasa disajikan di kedai. Daisuke memperhatikannya saat datang ke kedai di tengah jam sibuk. Siapa sangka Daisuke ingat bagaimana membuatnya.

Daisuke mencicipi campuran saus yang dibuatnya. Cengirannya melebar dan lalu mengulurkan jari telunjuk yang berbalut saus di ujungnya pada Jinnai. Dengan patuh, Jinnai membuka mulut. Bahu Daisuke berkedik senang saat Jinnai mengangguk, menyetujui rasa sausnya lalu beralih membawa mangkuk berisi salad ke meja makan.

"Perlu mangkuk?"

"Kecuali kau mau makan langsung dari panci,"

Daisuke terkikik, melewati Jinnai untuk menjangkau lemari gantung di atas kompor. Sejenak kemudian, ia sudah sibuk menata meja sementara Jinnai memberikan sentuhan-sentuhan akhir pada masakannya. Tak lama, pemuda itu menatap antusias pada sup bola daging, kroket, salad dan nasi hangat yang tersaji di hadapannya.

"Uwa, uwa, uwaaaaa~ Jinshan memang hebaat!" Daisuke bertepuk tangan ceria dan Jinnai harus meletakkan jari di depan bibir agar pemuda itu memelankan suara karena khawatir akan membangunkan ayahnya yang sudah tidur. Daisuke ikut meletakkan jari di depan bibirnya sendiri dan mengangguk minta maaf. "Paman tidurnya cepat ya?" Komentarnya sambil menjangkau sumpit.

Jinnai duduk di sebelahnya, di sisi lain meja. "Biasanya sampai larut juga kok tapi sepertinya sedang agak tak enak badan."

Mereka mengangkat sumpit ke depan dada dan bersama-sama mengucapkan "itadakimasu". Daisuke menjumput saladnya, "Kalau begitu, besok akan seharian di kedai ya?"

Jinnai mengangguk. "Mungkin. Kenapa?"

Daisuke menggelengkan kepala. "Nandemonai," dan mengunyah pelan. "Umai~" komentarnya pada sebuah gigitan kroket.

Jinnai memiringkan kepala lalu terbelalak, "Aah! Aku sudah janji mengantarmu ke toko buku ya? Gomen."

Daisuke buru-buru mengibaskan tangan dan menelan sebelum berbicara. "Daijoubu. Aku masih bisa ke sana kapan saja. Tidak butuh buru-buru, kok."

"Hontou?" Jinnai memandang tak percaya namun anggukan kepala Daisuke berusaha meyakinkannya. Jinnai pun mengangguk-angguk meski masih tak melepaskan pandang dari Daisuke yang kini tengah mencicipi sup bola daging buatannya. Mata pemuda itu melebar dan memandang Jinnai dengan kagum.

"Ini enak sekali! Jinshan, maji de~ Umai! Chou umai!" Ucapnya dengan semangat lalu menyeruput kuah sup, "Aaa, rasanya seperti di surga~"

Jinnai terbatuk karena nyaris tersedak mendengar pujian Daisuke. "Sou?" Dia tertawa, beralih sejenak untuk mengambil teh.

"Un! Aaah, aku sungguh beruntung karena bisa merasakan masakan seperti ini terus." Ujarnya seraya mengulum sumpit.

"Terus?"

"Un."

Jinnai menggigit bagian dalam mulutnya, menahan cengiran. "Sou? Aku benar-benar tak bisa mengusir nasib burukku sepertnya ya."

Daisuke tersenyum lebar. "Muri desu."

-end-

Thursday, February 2, 2012

[Fic] Simple

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13 for being in bed
Warning: AU, BL, OOC
Disclaimer: I am nobody but a humble fangirl. I own nothing.
Note: Baiklah. Ini tak se-pervert yang kuduga. Jinshaaaaan, kenapa kau menahan dirimuuu!! *tabok*



Sesekali, Jinnai berpikir apakah ia akan terlibat masalah karena ini. Yah, dia memang tak pernah terlalu peduli pada aturan tapi yang satu ini masalahnya sama sekali berbeda dari sekedar bolos, merokok di atap sekolah atau berkelahi seperti yang kerap dilakukannya dulu. Masalah yang dimaksud lebih pada masalah untuk dirinya sendiri dan mungkin (meskipun belum tentu) akan jadi masalah untuk orang lain juga. 

Jinnai bukan tipe laki-laki yang suka berpikir macam-macam. Ia selalu senang dan ingin segala sesuatunya berjalan begitu saja dan simpel tanpa perlu berputar-putar. Masalah yang ini... bukannya rumit tapi bisa dibilang cukup membuatnya bingung. Meskipun berulang kali ia ingin kabur, selalu ada saja yang membuatnya penasaran dan yah, ia masih cukup jujur pada dirinya sendiri kalau sebenarnya ia pun tertarik. Sangat tertarik malah.

Ia mendesah dan melirik pada sosok yang berbaring di sampingnya, nampak sibuk dengan ponsel di kedua tangan. Jinnai menggapai rokok yang digeletakkannya di lemari di atas tempat tidur mungilnya. Gerakannya membuat temannya harus beringsut mendekat kalau tak ingin tersenggol jatuh ke lantai. Jinnai mengerjap saat Daisuke menyandarkan setengah bagian punggungnya ke dada Jinnai sementara satu tungkainya menyelusup ke antara kedua kaki Jinnai di bawah selimut.

”Kakimu dingin,” komentar Jinnai seraya menyalakan dan menghisap rokoknya.

Daisuke terkikik namun hanya mengedikkan bahu, masih begitu asyik bermain ponsel. Seolah ingin membuat Jinnai sebal, dia malah menggosokkan tumitnya ke betis Jinnai. Sebagai balasan, Jinnai merunduk dan menggigit pundak kurus Daisuke. Pemuda itu terpekik dan berputar sejenak, mengalihkan perhatian dari ponsel untuk memukul dada Jinnai. Sedetik kemudian, ia kembali sibuk dengan ponselnya.

Jinnai memutar kedua matanya sambil mengusap bagian dadanya yang dipukul. Ia pun tak berkomentar apapun saat Daisuke beringsut lagi, menarik sebelah lengan Jinnai yang tertindih tubuhnya untuk dilingkarkan ke pinggangnya. Jemari Daisuke pun bermain-main dengan jari-jari Jinnai dan mau tak mau, sudut-sudut bibir Jinnai terangkat membentuk cengiran miring. 

Bisa dibilang, Daisuke terlalu kurus untuk seleranya. Ayah Jinnai selalu prihatin tiap kali pemuda itu mampir ke toko sakenya dan menyuruhnya makan banyak-banyak. Daisuke tertawa renyah dan berkata kalau makan sebanyak apapun, ia tak pernah bisa gemuk. Jinnai mencibir dan dihadiahi sebuah lemparan gumpalan tisu ke punggungnya. Lengan dan tungkainya pun terlalu panjang tapi entah kenapa, selalu pas melingkari tubuh Jinnai tiap kali Daisuke memeluknya. 

Lebih dari semua itu, Jinnai harus mengakui kalau Daisuke terasa hangat (kecuali mungkin kakinya saat ini) dan caranya bereaksi pada Jinnai benar-benar membuat pria itu tak bisa menolak atau mengusirnya pergi. Meski diikuti kemanapun, meski Jinnai harus mengantarnya pulang tiap kali karena Daisuke menolak pulang kalau tak diantar, meski banyak perkataan atau tingkah laku Daisuke yang membuatnya memutar mata atau menjitak kepala Daisuke, Jinnai tak bisa bilang dia keberatan (setidaknya, pada dirinya sendiri).

Entah apa pula yang membawa mereka ke situasi seperti sekarang. Maksudnya, tentu saja, melakukan hal-hal yang sangat intim dan biasanya hanya dilakukan oleh pasangan. Jinnai nyaris lupa siapa di antara mereka yang memulai semua ini. Sentuhan lembut di punggung atau lengan, pelukan, kecupan lalu berlanjut lebih dari itu. Bukannya dia mengeluh, hanya saja, seperti yang sudah dikatakannya, Jinnai tak suka sesuatu yang rumit. 

Sekali lagi diliriknya Daisuke yang tengah tersenyum. Begitu manis, begitu menyilaukan. Seandainya dia tak mengatakan apapun juga, apakah Daisuke akan tetap berada di samping Jinnai seperti sekarang? Seandainya orang tua Daisuke tahu dengan siapa anaknya terlibat saat ini, apa yang akan terjadi? Seandainya ayahnya menentang, apa yang akan dilakukannya? Seandainya Mitsuya tak suka pada Daisuke (kemungkinannya kecil, tentu saja. Mitsuya mudah sekali diluluhkan), apa dia akan mengusirnya pergi?

Dia benci sekali harus memikirkan hal-hal seperti itu. 

Pria itu pun mematikan rokoknya meski masih tersisa setengah batang tapi ia tak begitu peduli. Berpikir membuatnya lapar dan ia ingat masih ada sepiring salad dan kroket yang siap digoreng di dalam kulkas. 

”Awas,” ujarnya memperingatkan Daisuke seraya berguling hendak melewati pemuda itu. Saat posisinya sedang tepat berada di atas Daisuke, pemuda itu dengan sigap melingkarkan kedua lengan di sekeliling leher Jinnai dan menahan pinggul Jinnai dengan sebelah lutut. 

Jinnai mengerjap lalu tertawa, ”Minggir.”

”Mau ke mana?” Daisuke mendekatkan wajahnya, menggesekkan ujung hidungnya dengan dagu Jinnai.

Jinnai menjilat bibirnya. ”Lapar.”

”Jadi mau meninggalkan aku sendirian di sini? Aku juga belum makan malam, loh.” Daisuke mengingatkan dengan manja.

 Jinnai mendenguskan tawanya. ”Yang benar saja. Sambil menungguku tadi kan kau sudah menghabiskan dua kotak takoyaki.”

”Kalau belum makan nasi, itu namanya belum makan.” Daisuke memprotes, memperkuat usahanya mencegah Jinnai yang masih berusaha menjauh dengan mengaitkan satu tungkai ke pinggang Jinnai. Ditariknya bagian bawah tubuh Jinnai turun hingga bersentuhan dengan pinggulnya sendiri. 

Jinnai mendesis. ”Baiklah. Tapi hanya ada salad dan kroket di kulkas. Atau kau mau menunggu aku memasak nasi dulu baru kau puas?” Pria itu memutar bola mata, berusaha tak bereaksi pada efek gerakan Daisuke yang sepertinya sengaja menekan di tempat yang cukup strategis.

Setengah mengalah, Jinnai pun melingkarkan kedua lengan mengelilingi tubuh Daisuke. Diangkatnya sedikit tubuh mereka supaya Daisuke berbaring bersandar bantal dan ia sendiri bisa lebih nyaman bersandar pada Daisuke. Pemuda itu tertawa senang, entah kenapa. Sebelah kakinya bergerak, tumitnya menelusuri kaki Jinnai mulai dari lutut naik ke paha dan mengulang gerakannya dengan pelan.

”Hmm, tapi itu berarti aku akan pulang kemalaman?” Jemarinya terulur memainkan anak rambut di pelipis Jinnai.

Jinnai mendengus, ”Ini sudah jam sebelas kurang, tahu.”

Daisuke mengedikkan bahu dengan genit, menggapai ponselnya yang tadi digeletakkan begitu saja di dekat bantal. Jemarinya bergerak cepat lalu kembali meletakkan ponselnya. ”Aku menginap.”

”Chottoooo~”

Daisuke hanya tertawa dan malahan mengeratkan pelukannya di sekeliling leher Jinnai dan kaki ini kedua kakinya memerangkap pinggul Jinnai dengan sempurna. ”Paman kan tahu aku di sini.” bisik Daisuke, memandang Jinnai dari balik bulu matanya yang panjang.

Jinnai memutar bola matanya lagi, ”Kau selalu menyapanya tiap kali datang kemari dan sebelum aku mengantarmu pulang. Bagaimana mungkin beliau tak tahu kau masih ada di sini, hah?” Tukas pria itu sambil menggigit ujung hidung Daisuke dengan gemas.

Daisuke tertawa lagi hingga matanya menghilang dan sudut-sudutnya membentuk kerutan imut. Jinnai mengusap tempat itu dengan ibu jarinya dan balas menatap Daisuke yang sudah membuka matanya lagi. Daisuke menatapnya dengan mata berbinar dan sedikit berbeda dari biasanya. Jinnai tahu apa maksudnya tapi entah kenapa ia malah mengalihkan pandang ke leher putih Daisuke.

Daisuke mencium pipinya dan Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir. Entahlah. Perutnya yang lapar kembali bergejolak dan Daisuke terkikik geli mendengarnya.

”Kubilang kan? Aku lapar nih,” protes Jinnai, kali ini memberanikan diri melihat ke arah Daisuke.

Pemuda itu nyengir lebar, ”Tapi aku masih ingin begini loh. Kalau masih tetap ingin ke dapur, kamu harus menggendongku dalam posisi begini.”

Satu tangan Jinnai bergerak ke samping tubuh Daisuke dan jari-jarinya menekan di antara tulang rusuk Daisuke. Pemuda itu pun spontan menjerit dan memberontak karena geli. Hebatnya, ia tetap keras kepala tak mau melepaskan Jinnai dari pelukannya.

”Oi, Daisuke~” Jinnai terengah saat Daisuke berhasil menggeliat dan malah memposisikan tubuh mereka sebegitu rupa hingga tubuh mereka merapat mulai dari pinggul hingga dada. Bergerak sedikit saja, Jinnai tahu dia harus melupakan makan malamnya.

Sebaliknya, Daisuke malah meletakkan kedua tangan di pundak Jinnai dan memandanginya dengan tatapan penuh puja dan pipi yang sedikit bersemu merah. Jinnai mengumpat dalam hati. Dibuangnya semua hal yang memenuhi otaknya, seperti yang biasa dilakukannya. Ujung-ujung jemari Daisuke menelusuri rahang dan bibir Jinnai, mengikuti dengan kecupan kecil di tempat yang baru saja disentuh. Pemuda itu mendesah senang saat Jinnai beringsut dan mengecupi lehernya. 
”Aku akan makin lapar setelah ini loh.” bisik Jinnai seraya menggigit bibir bawah Daisuke.

Daisuke tertawa, ”Hmm. Aku kan tak pernah menolak menemanimu makan malam.” Ia mendesah lagi, bergerak mengikuti isyarat tubuh Jinnai.

”Tsk. Tak ada makan malam untukmu.” Jinnai bergerak lagi, memeluk Daisuke erat-erat.

Kali ini pemuda itu menarik nafas tajam dan getaran tubuhnya membuat Jinnai merasa begitu senang. Wajah Daisuke berubah semakin merah tapi cengirannya tetap muncul. Daisuke menempelkan pipinya ke pipi Jinnai dan ia tersenyum saat membisikkan nama Jinnai dengan suara sedikit bergetar.

Jinnai menutup mata. Mungkin ia memang tak perlu berpikir serumit itu.  

-end-

Sunday, January 15, 2012

[fanfic] Honest

Cast: Jinnai Sho, Hirose Daisuke
Rating: PG-13
Warning: BL, AU, OOC
Note: Karena pairing ini sangatlah lucu.

Happy birthday, Jinshaaaaaan!!




"Jinshan!"

Langkah Jinnai terhenti sementara kepalanya menoleh ke belakang melewati bahunya. Seorang pemuda bergakuran berlari-lari kecil ke arahnya sambil melambaikan tangan, sementara tangan yang satu lagi menjaga ransel yang tersampir di pundaknya. Jinnai memutar tubuhnya sedikit.

"Ou. Daisuke ka."

Daisuke menggembungkan pipi dan memukul lengan Jinnai saat ia sudah berada di samping pria itu. "Kenapa seperti tak senang begitu sih?"

Jinnai mendengus dan hanya mengedikkan bahu. Dengan acuh, dia kembali melangkah, membiarkan Daisuke menyusul dan menyejajari langkahnya.

"Mou," pemuda itu masih tak terima. "Kenapa sih? Salah bangun? Dompetnya hilang? Atau dimarahi Paman karena berkelahi lagi?" Tanyanya beruntun. Sebuah sentilan di ujung hidungnya membuatnya memekik terkejut. "Sakit, tahu! Awas kalau sampai aku tak manis lagi karena luka di hidung."

Jinnai tertawa terbahak-bahak. "Memangnya kau ini perempuan?" Ujarnya seraya menyelipkan sebatang rokok ke sela bibirnya.

Daisuke memiringkan kepala, meletakkan jari di pipi lalu tersenyum genit. "Tapi aku tak kalah manis sama anak perempuan, loh. Semua orang bilang begitu."

"Percaya saja, deh." Jinnai mengangguk-angguk. Dia pun tak mau menyangkal. Daisuke memang manis dan sangat ramah pada siapapun. Dipikir lagi, mereka bisa kenal pun karena Daisuke yang manis itu diganggu gerombolan preman dan Jinnai yang kebetulan lewat jadi harus menolong. Dia tidak bilang dia anak baik -reputasinya sebagai orang nomor dua terkuat di wilayah itu setelah setan cantik bernama Mitsuya Ryou sungguh bukan gelar main-main, tapi dia tak suka menggunakan kekuatannya untuk sengaja mengganggu yang lebih lemah. Bukan salahnya ataupun maunya kalau bertahun-tahun setelah itu pun Daisuke masih mengikutinya kemana-mana.

"Ngomong-ngomong, Jinshan mau ke mana?" Daisuke mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah Jin.

Pelipis Jinnai berkedut, "Kau ini. Mestinya tanya itu dari tadi sebelum mengikutiku kan?"

Daisuke tersenyum. "Daijoubu. Sudah tak ada berani menggangguku lagi sejak aku sering jalan bareng Jinshan, loh!" Jawabnya ceria.

"Tsk." Jinnai berdecak. "Kau memanfaatkan aku nih, ceritanya?"

"Mochiron!"

Jinnai mendesah pasrah. "Aku mau belanja." Ujarnya kemudian.

"He?"

"Keperluan toko."

"Boleh ikut?" Daisuke mengerjap tanpa dosa.

Jinnai memutar kedua bola matanya. "Memangnya kau akan menurut kalau kusuruh pulang?"

Daisuke terkikik dan menggeleng dengan ceria. Tanpa ragu, ia menggamit lengan Jinnai dan bersenandung riang saat mereka melanjutkan langkah.

Mungkin memang ada untungnya membiarkan Daisuke ikut dengannya. Pemuda itu dengan riang dan imutnya menawar semua barang yang hendak dibeli Jinnai. Paman penjual sayur rela memberikan 1/2 kilo lebih banyak dengan harga yang sama yang biasa dibayar Jinnai. Paman penjual daging, setelah disenyumi Daisuke, rela memberikan diskon 1/2 harga. Bibi penjual beras memberikan bonus sekantung kue beras untuk camilan.

Jinnai harus angkat topi untuk pemuda itu. Karena itu, dia tak menolak saat Daisuke menarik-narik lengan bajunya sambil menunjuk-nunjuk toko es krim. "Jinshan, haus!"

Ditepuknya kepala Daisuke sambil menunjuk ke arah lain. "Yang di sana lebih enak." Tukasnya.

Wajah Daisuke berbinar dan ditariknya lengan Jinnai dengan semangat.

"Di sini?" Daisuke menunjuk sebuah toko mungil bergaya tradisional Jepang dengan noren berwarna biru tua bertuliskan kanji es. Jinnai mengangguk lalu mendului Daisuke memasuki toko itu.

"Irasshai~" sebuah suara yang ramah dan empuk di telinga menyambut begitu Daisuke menyembulkan kepala dari balik noren.

"Yo,Ue-chan!"

"Sho-chan! Hisashiburi!"

Daisuke mengerjap, menatap dengan agak heran pada Jinnai yang ngobrol dengan akrab dengan pelayan toko itu: seorang pemuda bertubuh agak gempal dengan rambut super cepak dan berwajah cukup tampan. Ia mendekat dan mengintip dari belakang punggung Jinnai.

Pemuda pelayan itu mengenakan jinbei bermotif garis vertikal berwarna coklat, juga mengenakan celemek hitam di pinggang. Ia memiringkan kepala lalu tersenyum ramah saat melihat Daisuke. Ia mengangkat alisnya yang tebal pada Jinnai, "Temanmu?"

"Ah, begitulah. Ini--"

"Hirose Daisuke desuu! Yoroshiku!" Daisuke langsung menyambar dengan ceria sampai pemuda di hadapan mereka tertawa.

"Lucu ya. Aku Ueda Yuusuke. Teman lamanya Sho-chan." Balas pemuda itu.

"Aku lucu katanya, Jinshan." Daisuke berucap dengan antusias. "Teman Jinshan berarti temanku juga."

Jinnai menggaruk-garuk kepalanya. "Jangan seenaknya memutuskan begitu, dong. Sana, duduk. Kau mau pesan apa?"

"Ada es krim azuki? Pakai mochi!"

Pemuda bernama Yuusuke itu mengangguk. "Kashikomarimashita. Sho-chan yang biasa?"

Jinnai mengangguk kemudian menyusul Daisuke yang sudah menempatkan diri di meja kedua dekat pintu. Toko itu tak terlalu besar, malahan bisa dibilang mungil. Hanya ada 6 meja untuk dua orang dan 1 di ruang tatami di sudut ruangan. Interiornya pun sama sekali tak ada kesan modern kecuali televisi, mesin kasir dan telepon di meja kasir. Daisuke memperhatikan dengan antusias lalu menyibukkan diri melihat menu yang ada di atas meja; ditulis tangan dengan bentuk kanji yang sangat rapi.

"Toko ini sudah lima generasi loh."

Daisuke mengangkat kepala, menerima handuk basah untuk mengelap tangan yang disodorkan Jinnai. "Ih, aku kan tidak tanya." Kikiknya.

"Tapi kau penasaran kan?"

"Hehehe. Yang tadi itu benar temanmu? Bekas berandalan juga?"

Jinnai memukul kepala Daisuke, tak keras tapi cukup membuat pemuda itu mengaduh dan menggembungkan pipi dengan sebal. "Aku kan cuma tanya."

"Ue-chan itu bekas ketua klub kendo. Dia sering mengajakku bergabung dengan klub daripada aku berkelahi terus. Tapi aku tak berminat."

Daisuke mengangguk-angguk sok mengerti. "Jinshan sepertinya suka padanya ya?"

Jinnai memandang Daisuke sejenak lalu menopang dagu sambil tersenyum jahil. "Kalau iya? Apa kau cemburu, Daisuke?"

Daisuke ikut menopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua pipinya kembali menggembung. "Jangan menggodaku, ah."

Jinnai mengangkat sebelah alisnya. "Kamu loh yang mengikuti kemana-mana."

"Memang. Begitu saja sudah mengerti kan?" Daisuke melengos.

"Katanya tak mau kelihatan tidak manis? Jangan cemberut dong."

"Bhu."

Jinnai tertawa kencang. Yuusuke yang muncul dengan pesanan mereka (es krim azuki dengan mochi dan es krim mangga) sampai mengangkat alis penasaran. Jinnai hanya nyengir dan Yuusuke pun berlalu setelah dipuji kalau es krimnya enak.

Daisuke masih pasang tampang cemberut meski sudah menghabiskan dua porsi es krim lagi. Ia memandang tak senang pada Jinnai yang tampak tak peduli dan malah berlama-lama ngobrol dengan Yuusuke sebelum mereka pamit pulang.

"Belanjaannya?" Tanya Daisuke saat mereka melangkah meninggalkan daerah pertokoan itu.

"Nanti diantar. Aku kan tak bawa mobil." Jinnai menyahut singkat.

Daisuke mengangguk. Diikutinya langkah Jinnai yang menuju ke arah rumahnya. Hari sudah gelap saat mereka berhenti di depan sebuah rumah berpapan nama 'Hirose'.

"Jya. Mata ne." Ujar Jinnai sambil tersenyum miring dan membuat tanda salut dengan sebelah tangan lalu berbalik.

"Ano, Jinshan!" Panggil Daisuke.

"Hmm?" Jinnai berbalik lagi. "Ada apa?"

Daisuke terdiam sejenak. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, senyum lebarnya yang ceria sudah kembali menghiasi wajahnya. "Nandemonai. Mata ne~" ucapnya sambil melambaikan tangan.

Jinnai mengerjap lalu berdecak. "Brengsek." Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kedua kakinya melangkah dan ditariknya lengan Daisuke yang baru saja hendak membuka pintu pagar.

"Jinshan?"

Jinnai tak menjawab. Satu lengannya dilingkarkan ke pinggang Daisuke dan menarik pemuda itu merapat pada tubuhnya sendiri dan diciumnya pemuda itu tanpa ragu. Bibir yang hangat, lembut dan terasa manis seperti es krim azuki. Dikecupnya dengan sayang sementara mengeratkan pelukan. Dirasakannya tubuh Daisuke bereaksi padanya dan Jinnai memberanikan diri untuk memagut beberapa kali sebelum melepaskan pemuda itu dari pelukannya.

Daisuke nampak sangat terkejut dan meski wajahnya memerah, matanya berbinar riang dan ia terkikik senang. "Jinshan,"

Jinnai mendengus dan mencubit pipi Daisuke. "Oyasumi."

"Un. Oyasumi."

-end-