Sunday, March 18, 2012
[fanfic] Wedding Series: The Vow
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I only owned the plot
Note: Utang gue lunas yessssssssssssss! Akhirnya bakappuru ini menikah juga *susut air mata haru*
Suasana rumah yang luar biasa besar layaknya istana itu begitu sibuk meskipun hari masih pagi sekali. Matahari bahkan belum benar-benar terbit di sebelah timur. Halaman belakang rumah yang sangat luas (lebih luas daripada halaman lain di rumah itu, tentu saja. Katakan saja ukurannya nyaris seukuran lapangan sepak bola) tampak berbeda dari biasanya. Ada sekitar 30 meja-meja bundar dengan masing-masing delapan kursi di sekelilingnya ditata rapi dengan taplak berwarna putih. Center pieces di tiap meja berupa rangkaian bola kristal dan lilin berwarna merah dan pink. Begitu juga serbet makan yang ditata bersama tumpukan piring, seperangkat alat makan dan gelas berbagai ukuran. Di dekat tiap gelas champagne tergeletak kartu nama kecil bertuliskan nama masing-masing tamu yang akan hadir. Di dekat area duduk itu sudah dipasang sebuah tenda yang menaungi tiga meja bundar lain. Bergeser sedikit ke kanan dari tenda itu, di dekat air terjun buatan, ada sebuah podium yang sedang diberikan sentuhan akhir. Dihiasi pita-pita, selendang, dan bunga bernuansa merah, pink dan putih.
Mitsuya sibuk mondar-mandir di halaman itu, memastikan semua dekorasi sudah terpasang dengan baik pada tempatnya, tenda tak akan roboh meskipun ada angin kencang (tidak akan terjadi, ia sudah mengecek laporan cuaca), microphone dan pengeras suara sedang dipasang dan ia harus melangkah hati-hati kalau tak ingin tersandung kabel yang masih bersliweran. Ia melirik arlojinya dan dengan bergegas masuk ke dalam bangunan utama melalui dapur besar yang jadi tempat paling sibuk di rumah itu. Setiap sudut dapur tertutup makanan yang sudah jadi maupun bahan-bahan yang siap diolah. Takki sedang mencicipi saus sementara Jin sedang mengawasi laporan jumlah perangkat makan yang harus disiapkan.
“Hiramaki-san, yang di luar sudah beres? Masih perlu lagi yang lain?” Tanya Mitsuya sambil mendekati Jin.
Jin mengangguk, “Aku sempat melihat tadi tapi akan kucek sebentar lagi. Mitsuya-kun sudah sarapan?”
“Ah, mana bisa aku memikirkan sarapan di saat seperti ini?” keluh Mitsuya, ikut melirik daftar di tangan Jin.
“Tak boleh begitu. Sainei-san sudah mengundang kita untuk sarapan sama-sama di ruang makan loh. Makanlah. Setelah itu masih harus mengecek ruang tatami kan? Nanti kalau kau pingsan, Sainei-san bisa marah sekali karena kau mengacaukan pesta pernikahan adiknya.” Tegur Takki yang ikut menimpali. Kedua tangannya memegang nampan berisi omelet yang tampak lembut menggoda.
Mitsuya mendesah. Kenki juga sudah berpesan kalau dia tak boleh sampai lupa makan dan harus istirahat dengan cukup begitu Mitsuya pamitan untuk menginap di rumah Keigo dua hari yang lalu. Ia harus pindah markas dari apartemen Tori ke rumah Keigo karena perlengkapan dekorasi yang dipesannya sudah berdatangan dan harus mulai dipasang. Ia sama sekali tak menyangka akan bisa menginap di rumah idolanya itu. Senangnya luar biasa apalagi dia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk pernikahan Masahiro dan Tori. Mendesah sekali lagi, Mitsuya pun mengikuti Takki ke ruang makan.
Di ruang makan sudah ada Kubota, Sainei, Takuya, Kei dan Tsune yang melambaikan tangan agar Mitsuya duduk di sebelahnya. Mitsuya pun tersipu saat Tsune menuangkan kopi untuknya dan mengucapkan terima kasih dengan malu-malu. Tsune balas tersenyum.
“Apa yang lainnya belum bangun?” Tanya Mitsuya sambil mengambil omelet dan potongan bacon.
“Ibuku sebentar lagi turun. Kazuki sedang mengecek apakah Masahiro sudah bangun. Kau hanya makan itu?” Kubota mengulurkan piring saji berisi potongan sosis gemuk ke arahnya. “Nih, tambah lagi. Kita semua akan perlu energi banyak hari ini.”
“Masakannya enak sekali, Takiguchi-san.” Tsune berkomentar sambil mengelap mulutnya dan menyesap kopi.
Takki tersenyum lebar. “Terima kasih. Ini semua yang buat Jin, kok.” Dan seperti diberi tanda, Jin pun muncul dari dapur sambil membawa seteko kopi lagi dan duduk di sebelah Takki. Ia pun tersenyum lebar begitu Tsune mengulangi komentarnya. “Ah, ini hanya sarapan biasa. Tapi kalau tak keberatan untuk menyicipinya lagi, silakan datang ke tokoku kapan saja.”
“Oi, oi. Kenapa kau malah promosi.”
“Ah, tidak boleh ya?”
Tawa semua orang meledak. Sainei menyela, “Tentu saja. Beri tahu saja alamatnya. Kapan-kapan mungkin aku akan mampir dengan teman wanitaku.”
Kubota, Tsune, Takki dan Mitsuya memutar mata dan Sainei pun langsung protes, “Apa?”
Jin tertawa renyah, “Silakan datang kapan saja.”
Kazuki turun sambil menggandeng lengan ibunya dan menarikkan kursi di ujung meja untuk wanita itu. Maya tersenyum lembut pada anak-anak dan tamu-tamunya. Wanita itu masih mengenakan mantel kamar tapi rambutnya sudah tergelung rapi membentuk sanggul kecil di tengkuk. Kubota menawarinya kopi tapi ibunya lebih memilih teh.
“Masahiro sudah bangun?” Tanya Sainei sambil mengangsurkan sandwich pada kakak keduanya.
Kazuki mengangguk. “Sedang berusaha menelepon Matsuzaka yang sepertinya menolak untuk mengangkat telepon. Kimito sedang memitingnya karena tak mau diam dan duduk tenang. Mungkin sebaiknya sarapannya dibawakan saja ke kamar.” Ujarnya pada kepala pelayan mereka.
Tsune menggeleng. “Biar aku saja. Aku sudah mau selesai, kok. Ini salah satu tugas pendamping pria juga kan?”
Maya tersenyum, “Mungkin sebaiknya begitu. Sekalian saja siap-siap ya, Tsunekki?”
“Tentu saja, Bibi.” Jawabnya sambil menjejalkan secangkir kopi dan sepotong sandwich ke tangan Mitsuya yang sudah hendak bergegas karena diberi tahu seorang pelayan bahwa ia dibutuhkan di ruang upacara. Tsune pun menyelesaikan sarapannya dan menghilang ke dapur. Tak lama ia naik ke lantai dua dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Masahiro.
*****
Sarapan pagi di apartemen itu sungguh sederhana. Sepoci kopi, sepoci teh, setumpuk roti panggang, beberapa botol selai, sepinggan poached egg. Semua orang berkumpul di meja makan mungil itu. Sorimachi duduk sambil merokok dan membaca koran, Yuki di sebelahnya menyesap teh yang dicampur sesendok selai, Takuma ngobrol dengan Shunsuke dan Tori yang sibuk meladeni Masaki yang nyaris tertidur lagi di atas roti panggang.
“Kita harus berangkat jam berapa?” Yuki akhirnya bertanya.
Takuma mengangkat wajah untuk melihat ke arah jam dinding. “Jam 8 harus sudah di sana. Kita masih punya banyak waktu kok. Sekarang kan masih jam setengah 6.”
“Bibi cemas ya?” ujar Shunsuke sambil menuangkan teh lagi ke cangkir Yuki.
Yuki mendesah. “Kau ini bicara apa? Aku ini sudah biasa dalam situasi tegang begini. Anggap saja ini seperti pembukaan cabang spa baru.”
“Haaaah? Nani soree?” Protes Tori. “Bisa-bisanya Ibu menyamakan pernikahanku dengan pembukaan cabang spa.”
“Habis mau bagaimana? Anggap saja begitu kalau tak mau terlalu gugup kan? Ne, Takashi-san?”
Sorimachi hanya terkekeh. Pria itu melipat korannya dan minta diulurkan roti panggang lagi. “Terserah padamu saja, Yuki. Toh, mereka sudah mempercayakan persiapannya pada orang-orang yang handal kan? Kita sih tinggal datang dan duduk saja.”
Tori merengut. “Enak saja bicara seperti itu. Yang mau menikah kan aku. Ayah dan Ibu tak tahu seperti apa stresnya.”
“Hei!” tegur Yuki seraya menepuk punggung tangan Tori. “Aku ini juga pernah berada di posisimu, tahu. Kau tak bisa tidur kan semalam? Aku pun begitu dulu.”
Shunsuke mengintip wajah temannya itu dan terkesiap melihat kantung mata Tori. “Aaah, ikenai, ikenai.” Lalu bangkit membuka kulkas dan memotong ketimun segar. Digeretnya Tori ke sofa dan memaksaya berbaring diiringi protes keras Tori saat Shunsuke meletakkan potongan timun di atas kedua matanya.
“Diam. Jangan bergerak.” Ancam Shunsuke sampai Tori akhirnya menurut.
Masaki mengangkat kepalanya dari atas meja, “Aku tak boleh tidur lagi saja, ya? Ini masih pagi sekaliiiii.”
Takuma menepuk-nepuk kepala Masaki dengan sayang, “Dame. Kecuali Suda mau berangkat sendiri ke rumah Inoue-kun nanti siang dan melewatkan upacara pernikahannya Matsuzaka.”
Bibir Masaki merengut maju. “Bhu, tak mauuuu.”
“Kalau begitu, nih minum susumu dan habiskan sarapanmu ya. Nanti kan di sana ada Yuuki juga. Suda tak akan kesepian.”
Wajah Masaki langsung berbinar cerah dan dalam sekejab, anak itu pun terlihat segar. “Asyik, asyik! Ada Yuuki-chan! Ada Yuta-chan juga kan? Nanti kami boleh main sendiri kan, Papa?”
Tori mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda persetujuan. Ia benar-benar tak bisa bergerak kalau tak mau dipelototi Shunsuke. Sampai tengah malam ia tak bisa tidur dan memandang iri pada Masaki yang sudah mendengkur pelan. Ia akhirnya keluar untuk membuat segelas susu hangat dan menemukan Takuma dan Shunsuke yang masih ngobrol di ruang tamu. Kedua pria itu pun menyambutnya hangat dan Takuma membuatkannya segelas susu hangat yang dicampur brandy. Mereka ngobrol beberapa lama sampai Tori akhirnya benar-benar mengantuk. Itu pun tidurnya tak nyenyak karena kerap terbangun.
Ia bersyukur karena dua gelas kopi sudah berhasil membuatnya merasa sedikit lebih terjaga. Rasa dingin ketimun yang saat ini menutupi kedua matanya pun cukup matanya yang tadinya terasa begitu berat jadi lebih ringan dan segar. Tori mendesah pelan. Entah untuk keberapa kalinya sejak kemarin. Ia bersyukur ada Takuma dan Shunsuke di dekatnya, kalau tidak, mungkin ia sudah jadi gila. Takuma pun mengijinkannya mengkonsumsi banyak makanan manis supaya ia lebih tenang dan tak terus-terusan senewen.
Tori merasa sesuatu yang empuk dan hangat dijejalkan dalam genggamannya, disusul suara Takuma. “Inoue-kun menelepon terus sejak tadi, loh. Tidak kau angkat?”
Tori membawa benda dalam tangannya yang ternyata roti panggang ke mulutnya dan mulai mengunyah dengan mata tetap tertutup. Ia mendengus, “Biar saja. Paling hanya mau mengomel atau merajuk. Aku sedang ingin panik sendiri saja saat ini tanpa perlu pusing mengurusinya yang panik juga.”
Takuma terkekeh pelan dan menepuk pelan lengan atas Tori. “Setengah jam lagi kita siap-siap, ya.”
Tori mengeluarkan suara tanda setuju karena sedang sibuk mengunyah rotinya.
*****
“Kenapa sih dia tak mau angkat telepon? Masa belum bangun? Aku saja tak bisa tidur. Toriiiii, angkat teleponnyaaaa!” Masahiro kembali bersungut-sungut seraya menekan ulang nomor telepon Tori mungkin untuk keseratus kalinya pagi itu sejak ia benar-benar bangun.
Kimito mendesah dan merampas handphone Masahiro dengan kasar lalu memukul kepala temannya itu. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Di sana kan juga sedang sibuk. Mungkin Matsuzaka-sensei tak sempat angkat telepon. Daripada itu, mandi sana! Jangan sampai aku harus menendangmu ke kamar mandi ya.”
Bukannya mendengarkan temannya, Masahiro malah mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. “Apa jangan-jangan dia berubah pikiran? Apa benar begitu? Mungkin saja kan? Tiba-tiba dia takut lalu pergi entah ke mana dengan Shunsuke sialan itu. Aaaaargh! Seharusnya aku memaksa mereka menginap di sini saja semalam. Kenapa sih pakai acara tak boleh bertemu sebelum hari-H segala? Kalau dia benar-benar berubah pikiran, bagaimana ini?” Secepat kilat Masahiro menggenggam keras kemeja yang dikenakan Kimito dan mengguncang-guncang tubuh temannya itu, “Kimito! Cari tahu! Cari tahu Tori pergi ke mana. Kita harus cepat! Dia tak boleh berubah pikiran! Kimito, kau dengar aku?”
Sebuah kepalan keras mendarat di kepala Masahiro. Begitu kerasnya hingga pemuda jangkung itu terhuyung mundur. Matanya mengerjap bingung lalu jatuh terduduk di atas tempat tidurnya. Kimito mendengus kesal seraya meniup kepalan tangannya.
“Sudah bangun? Sekarang mandi! Kau perlu mendinginkan kepalamu!” Kimito menunjuk ke arah kamar mandi dengan tegas. Masahiro, yang masih agak pusing dan bingung, mengangguk dan menyeret tubuhnya dengan patuh.
Kimito memastikan Masahiro masuk ke kamar mandi dan begitu mendengar suara air mengalir dari shower, ia mendesah dan merutuki dirinya sendiri kenapa mau-maunya terlibat dengan orang merepotkan macam itu. Sepertinya ia memang kena kutuk. Setengah kesal, ia menelepon Ryouta yang untungnya sudah bangun dan berkata kalau cake-nya sudah masuk oven dan sebentar lagi matang. Sebenarnya Kimito lebih ingin nongkrong di toko Ryouta saja dan memperhatikannya membuat kue pengantin pesanan Masahiro dan Tori tapi dia kan pendamping pria. Bisa diamuk orang banyak kalau ia menghilang di saat penting begini.
Benar-benar kena kutuk, deh. Ryouta menertawainya dan menyuruhnya mulai bersiap-siap juga dan mendoakan semoga upacaranya lancar karena Ryouta baru akan datang menjelang resepsi siang nanti. Kimito mengangguk setuju, menutup teleponnya dan memperhatikan tiga helai kimono hitam yang terpajang berjejer di salah satu sisi dinding kamar Masahiro. Milik Masahiro berwarna hitam sementara miliknya dan Tsune biru tua.
Sementara itu di kamar mandi, Masahiro berdiri terpaku di bawah kucuran air dingin yang mengalir dari shower. Ia merutuki Kimito yang berani-beraninya memukul kepalanya keras sekali. Dengan kesal dirabanya kepalanya yang masih terasa nyeri. Ia tak heran kalau benjol. “Tsk,” keluhnya kesal.
Pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar merasa gugup dan resah. Seminggu berpisah dengan Tori dan begitu tiba kemarin pagi pun ia masih belum bisa menemui pacarnya itu. Tori hanya menelepon begitu Masahiro mendarat di Narita dan sebelum ia pergi tidur malamnya. Itu pun tak bisa ngobrol lama karena masih banyak yang harus diurus dan mereka berkali-kali diganggu siapa saja yang mendadak punya hal untuk ditanyakan pada mereka. Masahiro tak bisa berhenti menggerutu sejak kemarin sore. Biasanya kalau ia sudah begitu, tak aka nada yang berani mendekat tapi kali ini semua orang seolah tak mau peduli kalau ia BUTUH bertemu atau setidaknya bicara dengan Tori. Tapi calon suaminya itu pun seolah tak peduli dengan tak mengangkat teleponnya sama sekali. SMS pun hanya dibalas sekali
Jangan bodoh, Masahiro.
Begitu saja. Apa maksudnya sih? Dia kan butuh ditenangkan dan bukannya dikata-katai seperti itu. Dia juga tahu Tori pasti juga sedang tak tenang tapi kan saat-saat seperti ini seharusnya mereka saling mendukung kan? Bukannya malah mengacuhkan kan? Iya, kan?
“Masahiro, hentikan lamunan tololmu dan keluar dari situ sekarang juga. Kau harus sarapan dan siap-siap.”
Kali ini suara kakak sepupunya terdengar dari balik pintu. Masahiro mendengus kesal. “Hai!” serunya.
*****
Tori berdiri tegak di depan cermin panjang di dalam kamarnya sementara ayahnya bergerak di sekelilingnya, membantunya mengenakan kimono dan hakama resminya. Tadinya Shunsuke yang akan membantunya tapi Sorimachi muncul di pintu dan mengatakan kalau ia yang akan melakukannya. Shunsuke pun menghilang dengan senang hati dan pergi membantu Masaki dan Takuma. Sorimachi berkerja dengan cekatan; menarik, mengikat dengan kencang, merapikan dan menyesuaikan dengan cermat hingga semua garis dan lipatan berada di tempat yang benar.
Terakhir dielusnya di punggung anak laki-laki satu-satunya itu dan berdiri di belakang Tori untuk memandang pantulan mereka di dalam cermin. Tori tersenyum dan Sorimachi pun balas tersenyum.
“Gugup?” tanyanya, merapikan sekali lagi lengan kimono Tori.
Tori tertawa pelan. Sorimachi nyengir lebar. “Kau akan baik-baik saja.”
“Kuharap juga begitu.”
Sorimachi tersenyum kecil lalu menepuk pundak Tori dengan mantab. “Kau akan baik-baik saja.” Ulangnya. Lebih pelan dan lebih jelas.
Tori memandang ayahnya selama beberapa saat lalu mengangguk. “Arigatou, Tou-san.”
*****
“Coba lihat sini,” Maya menangkupkan kedua telapak tangannya di masing-masing pipi Masahiro yang sudah tak terlalu bulat. Seminggu bersama anak bungsunya itu bahkan tak akan cukup untuk membuat Maya merasa bosan memandang wajah pemuda itu. Masahiro terlihat tampan dengan rambut yang ditata rapi ke belakang. Kimono dan hakama hitamnya tampak begitu pas dan serasi. Anak itu sudah bukan anak kecil lagi tapi Maya merasa sifat manja dan seenaknya Masahiro tak akan pernah hilang.
Masahiro merasa sedikit salah tingkah diperhatikan begitu rupa oleh ibunya dalam jarak sedekat itu. Meskipun seminggu terakhir sudah membuatnya jauh lebih dekat dengan ibunya, tetap saja ditatap dengan mata berkaca-kaca dan desahan panjang seperti itu membuatnya salah tingkah. “Kaa-san, sudah dong.” Ujarnya sambil melirik ke arah Tsune dan Kimito yang sibuk menyembunyikan cengiran dan kikik geli di balik lengan masing-masing.
“Kaa-saaaaaaan,” Masahiro mendesis. Pipinya sudah berubah merah sekali dan Maya menepuk pipinya pelan.
“Ingat ya, mulai saat ini kau sudah bukan anak kecil lagi. Jangan merepotkan Tori-san.” Maya berpesan dengan tegas. “Kau harus bisa mendukungnya dan jangan terlalu banyak mengeluh.”
“Iyaaaaa, aku tahu.”
“Inoue Masahiro, dengarkan aku.”
“Hai.”
Maya mengusap pipi anak bungsunya itu lalu tersenyum lembut dan berjinjit untuk mengecup kening Masahiro. “Ibu tahu kau anak baik.”
“Hai,” Masahiro memeluk ibunya. “Arigatou, Kaa-san.”
*****
Ruangan bergaya jepang itu ditata rapi. Dua buah pembatas berwarna putih bergaris tepi emas diletakkan di tengah dan di sebelah kiri di bagian depan. Di depan tiap pembatas ada alas duduk berwarna putih bersulam emas dan di depannya lagi ada sebuah nampan kayu hias mewah berisi tumpukan cangkir dan cawan sake dihias kertas upacara. Masahiro duduk di tengah sementara Tori di sebelah kirinya.
Tori melirik ke jejeran keluarganya dan keluarga Masahiro, juga teman-teman dekat mereka. Hanya ada sedikit orang yang hadir di upacara itu. Semuanya mengenakan kimono dan hakama resmi. Para pelayan yang meladeni tamu yang hadir pagi itu pun mengenakan kimono. Ibunya berulang kali mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, begitu juga ibu Masahiro. Ayahnya tersenyum dan Kazuki tampak tegang.
Seorang pelayan wanita mengenakan kimono maju dan menuangkan sake untuk mereka. Tiga kali di tiap cangkir dan mereka berdua menghabiskannya dalam tiga tegukan. Tangan Masahiro sedikit bergetar dan ia melirik ke arah Tori yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya. Tori tersenyum padanya dan untuk pertama kalinya hari itu, Masahiro merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia balas tersenyum.
“Baka ne,” bisik Tsune pada Takuma yang duduk di sebelahnya. Takuma menggigit bibir sekuat tenaga agar tak tertawa sementara Shunsuke dan Kimito nyengir lebar.
*****
Menjelang makan siang, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Keisuke datang bersama adiknya yang sombong. Kenki datang bersama Yuuki dan Yuta. Ia langsung mencari Mitsuya yang sedang sibuk memastikan sentuhan akhir dekorasi terpasang dengan benar sementara Yuuki dan Yuta langsung sibuk berkeliaran dengan Masaki. Tsune mengantarkan Tomoru dan dua temannya ke tempat duduk mereka. Yuta datang bersama dua anaknya dan Shunsuke menemani mereka sebentar sebelum menghilang untuk ganti pakaian. Yuzawa-san dan dua anak buahnya sudah sibuk mondar-mandir dengan kamera di tangan masing-masing. Intensitas kerja di dapur meninggi. Takki dan Jin sibuk memberi pengarahan pada para pelayan dan mengingatkan pengaturan keluarnya makanan dan pengawasan ketersediaan minuman dan makanan kecil. Ryouta mendorong kue pengantin tingkat tiga dengan hati-hati ke dekat salah satu meja di bawah tenda, tak lupa memukul Kimito yang hendak mencolek krim penghias kue. Musik pun sudah mulai dimainkan oleh kelompok kecil orkestra yang didatangkan khusus dari Italia oleh Kazuki.
Tori memandang semua kesibukan itu dari jendela kamar tamu di lantai dua sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya. Ia bisa mengenali keluarga ayah dan ibunya, kolega-koleganya di rumah sakit dan beberapa teman kuliahnya di antara orang-orang yang mulai menempati tempat duduk mereka di bawah sana. Satu upacara selesai, tinggal satu lagi untuk dilewati dan dia akan merasa lega. Mungkin.
Masahiro masih tak terima kenapa Tori harus ditempatkan di kamar terpisah kalau hanya untuk ganti pakaian saja. Tori memijat keningnya yang kembali terasa pusing dan akhirnya menyerah lalu memeluk dan mencium suaminya itu dengan sayang. Masahiro pun akhirnya terdiam, menatap Tori yang hanya tersenyum dan mencubit hidungnya dengan gemas sementara orang-orang yang kebetulan ada di sekitar mereka geleng-geleng kepala.
Yuzawa-san menyelinap masuk untuk mengambil beberapa foto dirinya beserta Takuma dan Shunsuke yang tengah berganti pakaian dan ia mengatakan kalau Tori terlihat tampan lalu menghilang untuk memotret Masahiro. Takuma membantunya mengenakan jas panjangnya dan mengancingkannya mulai dari leher hingga kancing terakhir di bagian dekat pusar. Tori masih mengagumi jas itu. Modelnya seperti jas resmi angkatan laut; dengan kerah tegak dan panjang jasnya mencapai lutut Tori. Warnanya hitam dengan sulaman benang merah berkilau di bagian kerah dan sepanjang tepi bagian depan juga ujung lengan. Celananya hitam polos agar tak terlalu mencolok. Shunsuke melipat rapi sebuah sapu tangan berwarna merah dan menyelipkannya ke saku dada jas Tori. Ikat pinggangnya berupa kain merah yang disimpul rapi di bagian samping. Rambutnya dijalin rapi di sebelah kiri dan ditahan dengan jepit rambut tersembunyi.
“Siap?” Tanya Shunsuke sambil menepuk pundak Tori.
Tori menarik nafas panjang, menatap kedua sahabatnya yang juga terlihat luar biasa tampan dalam balutan jas panjang ala Inggris dan menggamit masing-masing lengan mereka. “Siap.”
*****
“Tamunya sudah datang semua?” Masahiro bertanya sambil mengangkat dagu agar Tsune bisa menyimpulkan syal satin berwarna magenta di sekeliling leher Masahiro dengan mudah.
Tsune mengangkat bahu, “Entahlah. Seharusnya sih, kalau ditebak dari suaranya.”
Masahiro mendesah, merentangkan tangan agar Tsune bisa membantunya mengenakan rompi-nya yang juga terbuat dari satin berwarna senada dengan syalnya. “Hhhhh, kenapa sih menikah itu repot sekali?”
“Memangnya siapa yang suruh kau menikah?” Tsune tertawa, mengancingkan rompi itu dengan rapi lalu beralih mengambil kemeja Masahiro yang berwarna putih. Ukurannya begitu pas di tubuhnya dan jatuh dengan sempurna. Tsune mengaitkan sebuah rantai emas kecil di antara dua lubang kancing jas Masahiro dan menepuk-nepuknya seolah memastikan sudah terpasang dengan sempurna dan tak akan lepas.
“Aku yang mau, kok.”
Tsune menyentik kening Masahiro. “There. Don’t complain too much.”
Masahiro memutar matanya dan memukul lengan atas Tsune. Diliriknya sekali lagi bayangannya di cermin dan mengangguk puas. “Okay.”
Tsune tersenyum lebar.
*****
Tori nyaris tak bisa bernafas saat melihat Masahiro berdiri di atas podium, menunggu dirinya yang berjalan ke arah Masahiro, menggamit lengan ayahnya dengan sedikit lebih erat. The Wedding March mengiringi langkahnya, juga pandangan kagum bercampur haru dari tamu-tamu. Sungguh, Masahiro tampan sekali dan Tori tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya saat Masahiro menoleh, melihatnya dan tersenyum lebar. Tatapan matanya begitu ceria dan seolah puas dan bangga melihat Tori.
“Halo,” sapa Masahiro begitu Tori sudah berdiri di sampingnya.
Tori nyaris tertawa, “Halo.”
“Maaf kalau terlalu blak-blakan, tapi Anda tampan sekali dan aku suka sekali. Maukah pergi bersamaku ke suatu tempat sekarang juga?”
Tori mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku baru saja menikah dan akan mengucapkan janji setia sebentar lagi. Aku tak ingin membuat suamiku khawatir.”
“Oh. Sayang sekali. Dia laki-laki yang beruntung.” Ujar Masahiro dengan cengiran begitu lebar.
Tori tersenyum miring. “Begitulah.”
Mereka berdiri berhadapan saat pendeta memberikan sambutan dan saling menggenggam tangan masing-masing. Masahiro menarik nafas saat tiba gilirannya untuk mengucapkan sumpah setia. Ia sudah menghafalkannya semalam suntuk dan berdoa semoga ia tak lupa dan mengacaukan semuanya. Tori tersenyum dan mengangkat alisnya dengan menggoda. Masahiro merengut sekilas namun kedua matanya kembali menatap lurus-lurus ke arah Tori.
“Aku berjanji….” Ia berhenti sejenak, kembali menarik nafas panjang dan Tori meremas tangannya memberi dukungan, “Aku berjanji akan selalu mencintai Tori, akan selalu menjaga Tori, akan selalu memberi yang terbaik untuk Tori, akan selalu membuat Tori bahagia, akan berusaha memaafkan kesalahan Tori, akan mencoba mengerti banyak hal tentang Tori yang masih tak kumengerti. Aku berjanji akan berusaha tidak mengulang kebodohan yang pernah kulakukan dan menyakiti Tori, akan menghormati dan menyanyangi Tori. Aku berjanji akan terus ada di samping Tori dan tak akan pernah bosan…. Because you are my eternity.”
Tori tersenyum lebar, karena meskipun janji itu terdengar sedikit aneh dan terlalu apa adanya, Tori sungguh tersentuh. Masahiro nyengir puas lalu merengut karena terdengar kikik tertahan dari arah parah tamu dan Tori pun ikut tertawa. Ia kemudian berdeham, karena ini gilirannya. Tori menggigit bibir sekilas.
“Ma-kun adalah anomali dalam hidupku.” Tori memulai dan semua orang mengangkat alis termasuk Masahiro. Tori melanjutkan, “Kamu datang di saat aku sudah berkeputusan tak akan membuka hatiku lagi untuk orang lain. Tanpa tahu apa-apa, tanpa bertanya, tanpa menyerah, dan juga tanpa malu-malu, kamu memaksa masuk. Anak kecil yang manja, seenaknya dan tak pernah peduli pendapatku.” Masahiro tampak tak senang dan sudah siap membuka mulut hendak protes namun Tori masih menatap lurus ke arahnya. “Selalu membuatku kesal, marah dan khawatir. Kadang menyebalkan karena suka memaksa. Dan aku terlalu sibuk bertahan dan menjaga agar hatiku tidak terbuka dan terluka tapi entah bagaimana, kamu berhasil meyakinkanku. Dan aku sungguh berterima kasih karena kamu datang dalam hidupku. Terima kasih untuk mau mencintaiku. Dan terima kasih karena kamu tidak menyerah. Karena itu mulai dari sekarang, aku pun tidak akan menyerah dan kalah mencintai Masahiro.”
-end-
Thursday, March 15, 2012
[fanfic] Comfort
Tak ada yang lebih membuatnya lebih kesal lagi hari itu saat membuka pintu geser tradisional dan menyelipkan kepala ke antara lembaran noren dan melihat toko mungil itu penuh dengan wajah-wajah yang sangat tak ingin dilihatnya saat ini. Kinari menarik nafas panjang sementara kedua alisnya berkerut tak senang. Rasanya ingin sekali berdiri tegak dan berbalik saja lalu pulang tetapi nampaknya salah satu dari mereka sudah melihatnya dan langsung memanggil namanya dengan ceria.
“Ah, kareshi-san da~”
Urat di pelipis Kinari menonjol dan ia akhirnya membawa dirinya masuk setelah menutup pintu geser di belakangnya. “Namaku Kinari, tahu,” gerutunya seraya menjatuhkan diri ke sebuah kursi yang berada paling dekat dengan pintu; sengaja tak bergabung dengan mereka yang duduk berjejer di tiga meja yang dirapatkan jadi satu. “Jangan ubah-ubah nama orang seenaknya.” protesnya lebih lanjut.
“Sudah lama tak bertemu, kenapa ketus sekali?” cetus seorang pria mungil yang duduk di sebelah pemuda bersenyum lebar.
Kinari mendengus. “Apanya yang sudah lama? Baru dua minggu yang lalu kita pergi minum sake kan?”
“Ah, benar juga.” Pria itu tertawa.
“Eeeeeh? Kenapa Mao-san minum-minum dengan Kareshi-san tapi tidak mengajakku? Mou. Curang sekali.” Protes pemuda di sebelahnya.
“Kau kan sedang pulang ke rumah orang tuamu waktu itu, Youichirou. Siapa lagi yang bisa kuajak minum kalau bukan Kinari dan Yuusuke kan?”
Yoichirou mengangguk-angguk, tertawa lebar seraya menjangkau segelas es teh di depannya. “Ah, sou, sou.”
“Haaah. Curang sekali. Memangnya aku ini tidak bisa diajak minum ya?” kali ini seorang pria yang mengenakan setelan rapi memprotes. Mao mengangkat alisnya pada pria itu, “Yang benar saja. Mana mau aku minum-minum dengan orang yang kerjaannya telepon terus dengan pacar tercinta?”
“A, aku bukan pacarnya!” sanggah pemuda yang duduk di hadapan Kyoushirou dengan wajah luar biasa merah sementara Kyoushiro hanya nyengir.
Mao kembali mengangkat alisnya, “Memangnya aku bicara tentangmu, Fuumin?”
“Hidoi! Mou, Kyou-chan! Katakan sesuatu dong.” Protesnya.
“Eeeh? Memangnya aku harus bilang apa? Aku kan memang suka teleponan denganmu. Yah, meskipun kau bukan pacarku.”
“Kyou-chaaaaaaaaan~”
Youichirou terbahak-bahak sementara Mao tersenyum miring sembari mengulum sendok es krimnya. Saat itu sesosok tegap masuk dari bagian belakang toko, membawa sebuah nampan dengan tiga gelas es teh di atasnya.
“Kalian ribut sekali,” komentarnya, meletakkan masing-masing gelas di hadapan seorang pemuda cantik berwajah lancip yang menggumamkan terima kasih, Mao dan Fumiya yang masih sibuk merajuk. Yuusuke tersenyum lebar saat melihat Kinari. “Ah, kau datang rupanya. Sudah selesai kerja sambilannya?”
Kinari mengangguk. “Aku minta es jeruk saja.” Ujarnya pelan.
Yuusuke mengangkat alis. “Tidak mau matcha dan vanilla seperti biasa?”
Kinari menggeleng. Youichirou terkekeh geli. “Kareshi-san sepertinya mood-nya sedang buruk, Yuusuke-san. Sejak tadi cemberut terus loh.”
“Uruse.” Cetus Kinari seraya melengos, pura-pura sibuk dengan handphone-nya. Ia pura-pura tuli saat Yuusuke bertanya ada apa dan membiarkan yang lain menjawab untuknya. Apapun itu, dia tak begitu menyimak. Terserah saja mereka mau bilang apa. Kinari hanya berharap mereka akan cepat pergi jadi ia bisa berduaan dengan Yuusuke.
Kinari menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan-lahan saat Yuusuke kembali dan meletakkan segelas es jeruk di hadapannya. Ditahannya dirinya agar tak mengangkat kepala karena Yuusuke tetap berdiri di hadapannya. Ia yakin Yuusuke pasti sedang menatapnya dengan pandangan bertanya dan mungkin juga tak senang karena ia bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tak dibelikan mainan.
Tapi sungguh, ia benar-benar tak peduli saat ini. Seharian ini rasanya semua hal tak bisa berjalan dengan semestinya dan tiap kejadian hanya membuatnya makin kesal. Jadi sebelum ia meledak, Kinari memutuskan untuk pergi saja dan menemui pacarnya. Ia tahu Yuusuke akan bisa membuatnya lebih tenang dengan nasehatnya yang entah kenapa selalu terdengar masuk akal.
Ya, julukan Youichirou padanya itu memang benar. Sejak ia pacaran dengan Yuusuke dua tahun yang lalu, dia dijuluki begitu. Kinari tak begitu mengenal orang-orang itu kecuali Mao yang sudah berteman dengan Yuusuke sejak lama. Youichirou pun dikenal Kinari karena pacaran dengan Mao. Kyoushiro pelanggan tetap toko es krim itu dan ia selalu datang dengan Fumiya dan mengaku kalau tak ada apa-apa di antara mereka. Kazuhiro tinggal tak jauh dari situ dan masih bersaudara dengan Yuusuke jadi ia sudah sering mampir sejak kecil. Entah bagaimana akhirnya mereka semua bisa saling kenal satu sama lain dan sering main bersama.
Ia sendiri mengenal Yuusuke beberapa tahun yang lalu ketika ia masih duduk di bangku SMU. Saat itu ia datang melihat-lihat pertandingan inter high yang diikuti sekolahnya dan iseng menonton pertandingan kendo. Ia ingat ia melihat sosok yang begitu menarik perhatian di tengah arena. Wajahnya memang tertutup pelindung kepala tapi orang ini mengeluarkan aura yang tidak bisa disepelekan. Permainan kendonya pun luar biasa. Ayunan pedangnya mantap dan seruannya pun benar-benar membuat lawannya mengkerut. Sungguh tak aneh ketika akhirnya orang itu berhasil meraih medali emas.
Ia sama sekali tak menyangka kalau orangnya berwajah sangat ramah dan senyumnya pun begitu bersahabat. Mungkin bisa dibilang kalau Kinari sudah sangat tertarik sejak mereka berjabat tangan berkat teman Kinari yang ikut klub kendo dan mengenal Yuusuke. Baru beberapa tahun setelah itu Kinari memberanikan diri mengajak Yuusuke kencan dan ia senang luar biasa karena Yuusuke tak menolak.
Kinari pun cukup takjub bahwa teman dekat Yuusuke adalah mantan berandalan nomor dua di kota itu (sekarang mengurus kedai sake milik keluarga dan pacarnya pun orang yang menarik). Nomor satunya pun (Kinari sempat tak percaya orang secantik itu mantan berandalan) bahkan cukup akrab dengan Yuusuke. Menurutnya, mereka sebenarnya orang baik, hanya sering disalahpahami.
Sungguh, dilihat dari sisi mana pun, Yuusuke adalah sosok anak idaman. Tampan, mandiri, bertanggung jawab, tegas dan sungguh bertanggung jawab. Ia tak memprotes meskipun harus rela tak kuliah dan mengambil alih usaha keluarganya ini. Katanya, ia senang membuat es krim dan senang melihat wajah orang-orang yang datang menjadi bahagia karena memakan es krimnya. Kinari mengejeknya dan Yuusuke hanya tertawa. “Memang kenyataannya begitu, kok.” ujar Yuusuke waktu itu dan Kinari tak bisa menyangkal karena es krim buatan toko milik Yuusuke itu sangatlah enak, jauh melebihi es krim di toko manapun.
Telinganya menangkap suara tawa orang-orang itu yang meledak begitu kerasnya. Mau tak mau, Kinari melirik dan melihat mereka sedang menertawakan Fumiya yang entah berbuat apa hingga wajahnya merah dan nyaris menangis. Kyoushiro menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan meskipun wajahnya berkerut aneh karena menahan tawa. Fumiya memeluknya dan menepuk dada Kyoushiro dengan sebal. Yuusuke pun ikut terbahak-bahak dan mengacak-acak rambut Fumiya dengan gemas.
“Nih, kuberi es krim strawberry gratis. Jangan menangis lagi ya,” ujar Yuusuke.
“Aaaaah, curang! Masa harus menangis dulu baru diberi gratisan?” tukas Kazuhiro iri dan disetujui oleh Youichirou dan Mao yang ikut protes.
“Kalian jahat!” seru Fumiya keras meski teredam kemeja Kyoushiro yang masih belum berhasil melepaskan pelukan Fumiya dan hanya pasrah saja kemejanya jadi agak basah terkena airmata.
Kyoushiro akhirnya menepuk-nepuk kepala Fumiya dengan lembut. “Sudah, sudah. Salahmu sendiri salah ambil kan? Yuk, pulang. Aku akan masak makan malam untukmu.”
“Hontou?” Fumiya mengangkat kepalanya, “Aku mau hamburg steak plus spaghetti dan omelet!”
“Oi, oi!”
“Ii na,” komentar Youichirou sambil mengambil mantelnya juga karena Mao member isyarat kalau mereka juga sebaiknya pulang saja, “Mao-san mau masak makan malam untukku juga tidak?”
Mao mendengus, “Kecuali kau mau makan menu yang sama dengan keponakanku, aku tak keberatan.” Pria mungil itu kemudian membuat tanda salut dengan dua jarinya pada Yuusuke, “Jya ne, Yuusuke.”
Yuusuke mengangguk, “Ou. Hati-hati di jalan, kalian semua~”
Youichirou membungkuk lalu mengejar Mao yang sudah berlalu meninggalkan toko, “Chotto matte yo, Mao-san!”
Kazuhiro pun ikut membereskan barang-barangnya, berujar kalau sudah waktunya ia harus berangkat kerja sambilan. Yuusuke membekalinya sekotak manisan buatan ibunya untuk diberikan pada ibu Kazuhiro. Pemuda berwajah lancip itu nyengir senang lalu mengatakan kalau toh manisannya akan dihabiskan olehnya. Kyoushiro menunggu Fumiya yang minta ijin menggunakan kamar mandi tamu untuk cuci muka. Kinari masih menghabiskan es jeruknya dengan malas-malasan.
“Nanda, Kinari-kun? Dari tadi terlihat bosan sekali.” Tegur Kyoushiro ramah.
Kinari mengerjap. Pria itu memandangnya sambil tersenyum tapi Kinari paham dia sedang dikritik. Kinari pun jadi agak segan karena Kyoushiro lebih tua dari mereka semua yang tadi ada di situ. Ia berdeham, “Umh. Maaf. Aku hanya…” ia mendesah, “Hari ini capek sekali dan… maaf ya, Kyou-chan.”
Kyoushiro mengibaskan tangannya dengan segan, “Eh? Kenapa minta maaf padaku?” pria itu tertawa, “Tumben saja loh, Kinari-kun datang dengan wajah masam begitu. Apalagi sama sekali tidak tersenyum pada Yuusuke-san. Sedang bertengkar? Ah, tapi kalau bertengkar, tak mungkin Kinari-kun datang kemari ya?”
Kinari baru saja membuka mulut untuk menjawab tapi Fumiya sudah kembali, kelihatan lebih segar, dan mengenakan jaketnya. “Yuk, Kyou-chan.”
Kyoushiro mengangguk dan pamit pada Yuusuke yang mengantar mereka sampai ke pintu. “Datang lagi ya. Hati-hati di jalan.”
Suara pintu geser menutup dan helaan nafas Yuusuke mendului suasana yang mendadak sepi. Yuusuke tertawa pelan. “Selalu ramai kalau ada mereka ya. Begitu pergi langsung terasa sepinya.”
Kinari mengangguk. Ia masih tak mau menatap Yuusuke yang sudah bergerak membereskan mangkuk-mangkuk bekas es krim dan gelas-gelas. Kinari memperhatikan Yuusuke yang sibuk bergerak ke sana kemari dan sempat mengangkat telepon yang berdering beberapa kali lalu kembali membereskan meja dan menyusun menu baru juga menyambut satu dua orang pengunjung lain. Bibirnya mengerut tak senang, pun ia hanya mengangguk berterima kasih saat Yuusuke meletakkan segelas es jeruk baru di hadapannya dan mengambil gelasnya yang sudah kosong.
Nampaknya memang ia harus bersabar sampai toko tutup dua jam lagi atau pulang saja.
*****
Yuusuke menarik kursi di hadapan Kinari setelah meletakkan sepiring mochi dango di atas meja bersama dua gelas ocha hangat. “Haaaaah, akhirnya selesai juga.” Ujarnya seraya melipat celemek hitamnya dengan rapid an meletakkan di atas meja, di dekat tangan Kinari. “Ah, setelah ini harus mengecek persediaan buah-buahan dan kue kering. Ah, lapar tidak? Aku tidak sempat masak apa-apa hari ini jadi kita ke tempat Sho-chan saja yuk.”
Kinari menarik nafas, “Aku pulang saja deh,” cetusnya cepat dan langsung berdiri untuk mengenakan jaket dan menyandang tasnya.
“Eh?” Yuusuke mengerjap bingung. “Pulang? Kita kan belum bicara sama sekali, loh.”
Kinari merengut, “Memangnya salah siapa?”
Alis tegas Yuusuke terangkat sebelah. Pandangan matanya tak lepas dari sosok Kinari yang entah kenapa Nampak kesulitan dengan jaketnya. “Duduklah.” Ujarnya pelan.
Kinari memandangnya lalu perlahan duduk kembali, sebal karena tak bisa melawan kalau Yuusuke sudah menggunakan suara pelan namun tegasnya. Meski begitu, Kinari duduk menyamping dan sibuk memainkan ujung jaketnya. Ia hanya bisa mengerjap saat Yuusuke mengambil satu tangannya dan menggenggam dengan erat.
“Ada apa sih? Yang seperti itu tadi tak sopan sama yang lain, loh. Kalau memang kesal padaku dan ingin marah, tidak harus ditunjukkan ke semua orang kan?”
Kinari menghela nafas. Memang beginilah. Dia susah menduga kalau Yuusuke pun sadar kalau mood-nya sedang tidak bagus. “Aku bukannya marah padamu, kok.”
“Sou?”
Kinari mengangguk.
“Yokatta,” Yuusuke tersenyum, mengeratkan genggaman, “ Jya, nande?”
Kinari menghela nafas lagi lalu memutar duduknya menghadap Yuusuke lagi. “Hari ini… tidak enak saja. Rasanya semuanya salah. Mulai dari bangun tadi, keran kamar mandi rusak lalu petugas yang kupanggil tidak datang juga jadi aku telat datang ke tempat baito. Karena itu, jadinya aku dimarahi dan kau tahu bosku kan? Kalau sudah kesal, semua kesalahan sampai yang terkecil pun diungkit terus. Padahal aku sudah minta maaf loh dan aku juga sudah kirim email sebelumnya kalau aku akan telat datang. Lalu teman kerjaku di tempat yang satu lagi tidak masuk jadi aku harus jaga sendiri padahal ada rombongan yang datang. Mana mereka semua cerewet dan bosku juga jadi senewen sekali. Kunci sepedaku hilang, pula. Aaaaargh, pokoknya aku kesal sekali. Jangan tertawa dong, Yuusuke!”
Yuusuke menutup mulutnya dengan tangannya yang satu lagi dan menggigit bibirnya keras-keras karena Kinari benar-benar kelihatan kesal. Ia berdeham saat Kinari mendelik padanya. “Hai, wari, wari.” Yuusuke berdeham sekali lagi. “Lalu? Ke sini naik apa?”
Kinari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Tentu saja jalan kaki. Kan tidak begitu jauh.”
“Ah,” Yuusuke mengangguk-angguk. Ditekannya ibu jarinya ke punggung tangan Kinari lalu mengelus dengan lembut. “Pasti capek sekali ya. Waktu sampai ke sini ternyata sedang ramai jadi kau tambah kesal?”
“Maa,” bisik Kinari.
“Coba kalau bilang begitu dari tadi, aku kan bisa menyuruh mereka pergi saja atau mengajakmu ke dalam.”
Kinari memutar matanya, “Mana mungkin kan? Memangnya kau bisa mengusir mereka? Bagaimanapun mereka kan pelangganmu juga dan kalau di dalam, aku harus melakukan apa? Nanti malah mengganggu.”
“Tidur saja di kamarku. Kan tak ada yang melarang.”
Entah kenapa, Kinari merasa pipinya memanas. Ditekannya tangan Yuusuke sambil tersipu dan Yuusuke balas menggenggam sambil nyengir lebar.
“Tapi mereka itu orang-orang yang menyenangkan loh. Aku tak bisa jadi sebal kalau ada mereka.” Yuusuke berujar lagi, menusuk sebutir dango dengan tusuk bamboo dan mengunyah. Kinari mengikuti contohnya. Dia suka sekali mochi dango buatan Yuusuke itu. “Aku tahu sih.”
Tanpa diduganya, Yuusuke menarik tangan Kinari yang sejak tadi digenggamnya dan mendaratkan bibirnya ke punggung tangan Kinari. “Aku tahu. Maaf ya. Mungkin seharusnya aku lebih sensitif untuk urusan seperti ini.”
“Maa ii.” Bisik Kinari sambil melepaskan tangannya. Dia sebenarnya tak bermaksud membuat Yuusuke ikut merasa tak enak. Bagaimanapun, hari buruknya sama sekali bukan karena Yuusuke. Toh, dia datang ke sini juga untuk bertemu Yuusuke dan mencari ketenangan. Bukannya cari ribut atau semacamnya. “Maaf ya. Seharusnya aku tidak bertingkah seperti tadi,” Kinari membungkuk.
Tak ada jawaban dari Yuusuke yang hanya memandangnya beberapa saat. Pria itu lalu menggerakkan jari-jarinya, member isyarat pada Kinari untuk mendekat. Kinari memajukan tubuhnya, “Apa?”
Yuusuke masih menggerakkan tangannya sampai akhirnya Kinari berdiri dan berjalan ke arahnya. Ketika Kinari berdiri di sebelahnya dengan pandangan tak mengerti, Yuusuke pun berdiri. Kedua lengannya yang kokoh merengkuh pundak Kinari dan menarik pemuda itu dalam pelukan. Kinari hanya sanggup tertegun meski detik berikutnya ia balas melingkarkan lengannya ke pinggang Yuusuke dan merebahkan kepala ke pundak Yuusuke.
Dihirupnya wangi Yuusuke yang manis seperti es krim dan buah-buahan segar, juga sedikit berbau susu bercampur dengan parfum Yuusuke yang maskulin. Yuusuke menyusupkan wajah ke antara helaian rambut Kinari yang lembut dan Kinari mengeratkan pelukannya. Begitu saja dan Kinari mulai merasa mood-nya membaik.
Mereka berdiri seperti itu selama beberapa menit yang terasa begitu lama sampai Yuusuke mengecup pucuk kepala Kinari dengan sayang dan mengusap-usap punggung Kinari.
“Masih tidak mau bertemu orang lain?” tanyanya lembut sambil menunduk.
Kinari mendongak dan memiringkan kepalanya sedikit, “Kenapa memangnya?”
“Mau temani aku makan malam di tempat Sho-chan? Aku tidak tahu mau masak apa untuk makan malam dan kamu pasti juga lapar kan?”
Kinari mengangguk. “Mulai lapar juga sih.”
Yuusuke tersenyum dan mengangguk. “Tak usah khawatir. Ini kan masih tengah minggu. Tempatnya Sho-chan tak akan terlalu ramai.”
Kinari berpikir sejenak lalu mengangguk. “Terserah Yuusuke saja deh.”
Jemari Yuusuke menyisir poni Kinari, “Jangan begitu, dong. Kalau kamu lebih ingin di sini saja, kita bisa telepon pesan antar saja.”
Kinari mengedikkan bahu. “Tak apa. Benar, kok.”
“Honma?”
Kinari mengangguk. “Hontou. Tapi,” Kinari kembali merebahkan kepalanya ke pundah Yuusuke, “Begini saja dulu sebentar lagi saja tak apa kan?”
Yuusuke tersenyum lebar dan kembali mengeratkan pelukannya. “Ee wa.”
Monday, March 5, 2012
[fanfic] Care
Cast: Hiramaki Jin, Koseki Yuta
Rating: PG
Warning: AU, BL hint, OOC
Disclaimer: I only own the plot
Note: Ini sebenernya sudah ditulis lama sekali tapi berhenti setelah paragraf dua XD; Akhirnya kmrn ini memutuskan untuk diselesaikan dan... hasilnya cukup inosen seperti yang gue harap (semoga XD).
“Ah, sudah reda,” Jin bergumam seraya tersenyum dan menarik tangannya yang dijulurkan keluar ambang jendela. Ditutupnya jendela itu rapat-rapat dan berjalan ke arah anak laki-laki jangkung yang tengah melingkar dengan nyaman di salah satu kursi di dalam kafe itu, terkantuk-kantuk.
Jin tersenyum maklum, tangannya mendarat lembut di atas kepala anak laki-laki dan mengusap pelan, “Hujannya sudah reda, loh.”
“Hmnh?” anak laki-laki itu bergumam, mengangkat kepalanya sekilas lalu menunduk lagi. “Ngantuk. Aku tak boleh menginap di sini saja, ya?”
Jin mengusap hidungnya dengan buku jari, “Boleh saja sebenarnya, tapi aku tak mau cari ribut dengan kakakmu. Ayo,” lengannya terulur menggamit lekukan lengan panjang Yuta dan menarik pelan agar anak laki-laki itu bangun.
Yuta menggerundel sebal namun menurut; dengan setengah hati mengenakan jaket dan menerima ransel yang diulurkan Jin. Matanya masih sesekali menutup dan tubuhnya limbung ke satu arah. Jin mendengus. Tanpa banyak bicara, pria itu berlalu ke dapur dan kembali dengan segelas susu hangat di tangannya.
“Minum,” perintahnya pelan.
Mata Yuta mengerjap; untuk sesaat memandang gelas yang disodorkan Jin lalu ke arah Jin berganti-ganti. Sudut-sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk cengiran dan menerima gelas itu. “Sankyuu.”
Jin tersenyum. Sementara Yuta menghabiskan susunya, ia mengenakan jaketnya dan mengambil kunci mobil. Menimbang-nimbang apakah ia harus membawa dompet juga sebelum ingat kalau ia memang butuh mampir ke pasar swalayan yang buka 24 jam. Diliriknya Yuta yang sudah melompat-lompat di tempat, menepuk-nepuk pipinya yang bulat dan nyengir lebar. Jin menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh lucu dan menggemaskan. Seandainya saja umurnya tak terlalu jauh berbeda dan Yuta tak punya kakak yang mudah panik.... Jin menampar dirinya sendiri dalam hati. Stop sampai di situ Hiramaki Jin. Apa sih yang kau pikirkan?
Tangannya kemudian terangkat, memberi isyarat pada Yuta untuk mengikutinya ke mobil. Setelah memastikan anak itu duduk dengan nyaman dan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, ia pun menjalankan mobilnya menembus jalan yang agak berkabut.
”Ne, Charlie,” Yuta bergumam setelah menyandarkan punggung dan kepalanya dengan nyaman ke sandaran kursi penumpang.
”Hmm?” Jin bergumam tanpa menoleh.
”Charlie kan lebih tua dariku ya,”
Jin mengangguk. Bibirnya menyunggingkan senyum geli meskipun kedua alis matanya berkerut bingung. ”Iya, ya. Aku nyaris seumur dengan kakakmu ya. Tapi itu sudah jelas kan? Pertanyaanmu aneh sekali.”
”Dengar dulu, dong. Aku kan belum selesai bicara,” Yuta mendengus, ”Kau seperti Jack-nii deh, kalau sedang begitu.”
Jin terbahak, memutar kemudi ke kanan lalu menoleh sekilas pada anak laki-laki itu. Yuta sama sekali sudah tak terlihat mengantuk. Terkadang, Jin kagum sekali dengan sistem daya tahan anak itu. Seolah waktu tidurnya, meski hanya lima belas menit, sudah cukup untuk mengisi ulang energinya. Sementara ia sendiri butuh setidaknya empat jam tidur untuk bisa berfungsi dengan baik. ”Baiklah. Maaf. Apa yang mau kau katakan?” tanyanya, berusaha menyembunyikan nada geli dalam suaranya.
Yuta memiringkan kepalanya ke kiri, ”Apa ya? Oh! Kenapa Charlie tak punya pacar?”
”Pertanyaan apa itu? Memangnya karena aku lebih tua darimu jadi aku harus punya pacar?” sergah Jin, makin tak mengerti dan makin geli pada saat yang bersamaan.
”Aku kan hanya bertanya, loh. Jack-nii saja akhirnya punya pacar meski pacarnya temanku. Aku sama sekali tak menyangka, loh. Awalnya Jack-nii tak mau cerita. Mungkin malu. Entahlah. Tapi aku bisa tahu, loh. Habisnya mendadak dia suka mengantar-jemput Yuuki-chan. Lalu Yuuki-chan wajahnya suka memerah kalau aku cerita soal Jack-nii. Jack-nii juga begitu. Hihihi, lucu sekali deh waktu dulu pertama kalinya tak sengaja aku melihat mereka berciuman di apartemen. Wajahnya meraaaaaaaaah sekali. Ih, padahal yang seperti itu kan wajar ya? Namanya juga pacaran.”
Jin tak tahu bagaimana ia harus bereaksi pada rentetan kata-kata yang dengan cepat meluncur dari bibir Yuta tanpa bisa dihentikan. Maka ia hanya terkekeh kecil karena tak bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian dari jalanan. Yuta masih berceloteh panjang lebar sampai akhirnya Jin mengulurkan tangannya untuk ditangkupkan di depan mulut anak laki-laki itu agar ia berhenti bicara karena Jin mulai tak bisa menangkap maksud pembicaraannya.
”Semenarik apapun cerita tentang kakakmu – benar deh, menarik – tapi aku jadi bingung, Yuta,” pria itu tertawa. ”Kau ini mau tanya kenapa aku belum punya pacar atau cerita tentang kakakmu dan pacarnya yang manis itu sih?”
Yuta menyingkirkan tangan Jin dari depan wajahnya dan nyengir lebar. Kedua pipinya bersemu merah. ”Ah, gomen, gomen. Charlie jadi bingung ya? Hehehe habisnya Jack-nii dan Yuuki-chan itu lucu sekali sih. Aku jadi ngelantur deh. Iya, jadi maksudku ya itu, kenapa kalau Jack-nii saja akhirnya berhasil punya pacar, kenapa Charlie tidak?”
Jin kembali mengerutkan kening, ”Oke. Pertama, aku baru kenal kakakmu beberapa waktu lalu dan sepertinya dia sudah pacaran cukup lama dengan Yuuki-chan kan? Jadi, itu mengarah ke pernyataan Kedua, apa hubungannya aku tak punya pacar dengan kakakmu yang pacaran dengan Yuuki-chan? Tiap orang kan berbeda loh. Aku juga bisa tanya hal yang sama padamu. Kalau temanmu yang lucu itu saja berhasil memacari kakakmu, kenapa kau tidak punya pacar?”
Kali ini Yuta terdiam beberapa lama lalu memiringkan kepalanya lagi. ”Habis, kata Jack-nii, aku hanya boleh pacaran dengan orang yang benar-benar kusukai. Masalahnya, orang yang aku suka itu banyak. Yuuki-chan sih tak masuk hitungan. Micchi, Ikepi, teman-teman di klub, ah, Kenki-nii nya Micchi pun aku suka karena orangnya baik sekali. Tori-nii temannya Jack-nii pun aku suka loh karena dia pintar masak dan baik hati. Tapi kalau jadi pacar kan, rasa sukanya pasti beda ya.”
”Nah.”
Yuta menoleh pada Jin. Terlihat sedikit bingung dengan reaksinya. ”Apanya yang ’Nah’?”
Jawabannya tak langsung datang karena Jin sedang berkonsentrasi menyalip mobil yang berjalan terlalu pelan di depan mereka. ”Persis seperti yang kau bilang. Rasa suka itu berbeda-beda dan kau sudah mengerti ini kan?” Yuta mengangguk, ”Kalau untuk jadi pacar, rasa sukanya beda sama sekali, loh. Harus benar-benar sukaaaa sekali sampai meskipun dibuat kesal tapi tak bisa jadi benci sama orang itu.”
”Ah!!” Yuta menepukkan kepalan tangannya ke telapan tangannya sendiri. ”Ternyata memang begitu ya. Ahahahaha, aku pintar ya.” ujarnya sambil nyengir dengan senangnya dan mengangguk-angguk.
Melihat itu, Jin tak bisa tak tertawa. Satu lagi hal tentang Yuta yang menarik perhatiannya adalah anak laki-laki itu memang terkesan polos tapi ia memperhatikan banyak hal di sekitarnya dengan cermat dan menyimpulkan dengan caranya sendiri. Diam-diam ia berharap ia akan tetap diperbolehkan berada di dekat Yuta saat anak laki-laki itu beranjak lebih dewasa. Jin yakin Yuta akan jadi orang yang sangat menarik dan sukses dengan caranya sendiri.
Tak lama, Jin menghentikan mobil di depan bangunan apartemen di mana Yuta tinggal bersama Takuma. Ia melirik sekilas ke lantai tiga, ke pintu kelima dari kanan dan mendapati lampunya menyala. Takuma pasti sedang cemas sekali karena Yuta pulang terlambat. Diperhatikannya Yuta melepas sabuk pengaman lalu memutar badan untuk mengambil ranselnya yang tadi diletakkan di bangku penumpang belakang.
”Bawa sekalian kotak makan itu ya,” ujarnya pada Yuta.
”Eh? Memangnya ini apa? Aku tidak ingat bawa-bawa kotak makan sebesar ini,” komentar Yuta seraya mengendus kotak makan itu karena terasa hangat dan agak berat. Kedua matanya membulat makin lebar dengan semangat. ”Cinnamon roll ya? Charlie buat? Kapan? Untuk aku dan Jack-nii? Uwah, sankyuuuuu!!”
Jin tersenyum lebar. ”Kupanggang tadi waktu kau tertidur. Tidak banyak sih. Semoga kakakmu suka ya. Ini tidak terlalu manis, kok. Jadi tak usah khawatir merusak gigi.”
Yuta mencibir, ”Ih. Makanan enak, manis atau tidak, semuanya perlu dinikmati dan disyukuri. Padahal Jack-nii sendiri yang bilang begitu loh.”
Cubitan gemas di hidungnya membuat Yuta meronta sekilas lalu memerikasa sekali lagi bahwa semua barang bawaannya sudah tak ada yang tertinggal. ”Hari Sabtu aku mampir lagi ya. Ikepi bilang mau mencicipi fish & chips di tempat Charlie,” ujarnya sambil membuka pintu dan keluar dari mobil itu.
Jin mengangguk dan memiringkan posisi duduknya agar dapat melihat Yuta yang membungkuk di ambang jendela. ”Silakan. Aku akan senang sekali. Salam untuk kakakmu ya.”
”Un! Oyasumi, Charlie!” ujar Yuta sambil melambaikan tangan dan melesat pergi.
”Oyasumi!” seru Jin ke arah punggung anak itu seraya melambaikan tangan dengan cepat. Diperhatikannya punggung Yuta yang perlahan menjauh sambil geleng-geleng kepala. Ia memang selalu memastikan Yuta naik dengan selamat ke lantai tiga sebelum berlalu pergi. Kedua matanya mengerjap saat melihat Yuta berhenti lalu berbalik dan mendekat ke arahnya lagi dengan setengah berlari. Yuta mengetuk jendela mobilnya dan Jin menurunkan kaca. ”Ada yang tertinggal?”
Yuta mengangguk. ”Tadi aku lupa bilang: Aku juga suka Charlie, loh.” Cengiran lebarnya yang khas menyusul sebelum berbalik dan kali ini berlari cepat untuk menghilang ke dalam bangunan apartemen.
Mulut Jin terbuka dan tertutup lagi kemudian ia tertawa, merasa geli dan gemas pada saat yang bersamaan. Benar-benar deh, pikirnya. Benar-benar anak yang menarik dan Jin pun tersenyum lebar saat melihat sosok Yuta berdiri di depan pintu apartemennya di lantai tiga, melambai sekilas ke arah mobil Jin lalu masuk ke dalam.
”Aku juga suka Yuta, loh.” bisiknya.
Saturday, February 18, 2012
[fanfic] Kitchen
Rating: G
Warning: AU, OOC, implied BL
Disclaimer: I do not own anything
Note: percakapan random karena saya tak ada kerjaan di hari hujan ini.
Hari masih pagi ketika Yuusuke tiba di depan sebuah kedai sake. Jalanan di depannya pun masih sepi. Hanya tampak satu-dua orang yang sedang bebersih di depan toko milik mereka. Kedai yang menjual bento sudah ramai sejak pagi buta tapi Yuusuke tak berniat mampir ke situ. Dicobanya untuk membuka pintu kedai sake yang masih tertutup - norennya pun belum dipasang karena belum waktunya buka - sambil berujar, "Gomen kudasai."
Bagian dalam kedai itu pun masih lengang dan lampu di bagian tempat makan belum dinyalakan. Kursi-kursi masih terletak terbalik di atas meja-meja. Ada dua buah panci besar bertengger di atas kompor yang menyala. Asap tipis menguarkan wangi yang diterjemahkan otak Yuusuke sebagai sup dan rebusan sayuran. Beberapa bahan makanan lain teronggok di sebuah meja.
Yuusuke mencoba lagi, "Gomen kudasai," dan tersenyum saat mendengar ada jawaban. Kepala Jinnai menyembul dari balik pintu di bagian belakang dapur. "Ah, Ue-chan! Sudah datang ya."
Yuusuke mengangkat tangannya, "Yo."
"Taruh saja bawaanmu di atas. Aku buang sampah dulu."
Yuusuke menurut dan menapaki tangga mungil yang terletak di sebelah kiri dapur. Jaket dan tasnya diletakkan di dekat meja di ruang duduk mungil di lantai dua. Sekilas ia mengintip ke arah sebuah pintu yang setengah terbuka. Seorang pria setengah baya sedang tertidur pulas dan Yuusuke tak berniat mengganggu maka ia pun turun lagi.
Sambil menggulung lengan bajunya, Yuusuke mencari celemek dan mulai memilah-milah sayuran di atas meja. Jinnai kembali tak lama kemudian, mencuci tangan dan bergabung untuk memberi petunjuk pada Yuusuke apa yang harus dilakukan.
Jinnai sedang menghitung persediaan sake dan minuman lainnya ketika didengarnya Yuusuke bertanya, "Pacarmu yang manis itu ke mana?"
Jinnai tertawa. "Hari ini dia sibuk di kampus katanya. Ada perayaan atau apa begitu. Nanti sih katanya mau datang dengan teman-temannya."
Yuusuke mengangguk-angguk sementara tangannya terus bekerja memotong-motong sayuran. "Kupikir dia akan datang dan membantumu. Biasanya begitu kan?"
"Yah, hidupnya kan tidak berputar di sekitarku saja." Jinnai mengedikkan bahu.
"Tapi tampaknya seperti itu loh." Potong Yuusuke sambil tersenyum lebar. "Kelihatannya merepotkan tapi kau senang kan?"
"Dou deshou ka," sahut Jinnai namun ia tak bisa menahan cengiran yang muncul. Yuusuke tertawa.
"Ii jyan?"
"Maa ne."
Kedua laki-laki itu tertawa lagi. Saat itu pintu kedai terbuka dan terdengar suara berat yang familiar di telinga Jinnai, "Ojamashima- eh, Ue-chan? Ue-chan da! Hisashiburiiiii!"
"Mitsuya-kun!" Yuusuke pun buru-buru berdiri namun Mitsuya sudah menghampirinya dengan langkah cepat dan menepuk2 pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Eh? Eh? Sudah lama sekali ya. Sedang apa di sini? Memangnya tidak buka toko? Wah, kau tambah tampan ya? Sho-chan, Ue-chan loh!"
"Hisashiburi, Mitsuya-kun. Yappari masih tetap semangat seperti dulu ya." Yuusuke menyalaminya sambil tertawa. "Aku diminta Sho-chan bantu-bantu. Kebetulan aku tak ada pekerjaan karena toko sedang direnovasi."
Tanpa basa-basi lagi, Mitsuya melepas mantelnya dan menarik sebuah kursi agar ia bisa duduk di dekat Yuusuke. "Eh? Paman sakit? Atau sedang pergi?"
Jinnai menghampiri mereka dan meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan kedua temannya itu. "Sakit pinggangnya kumat. Aku tak bisa buka toko sendirian di hari sabtu seperti ini."
"Ah, sou? Boleh kujenguk? Sebentar ya, Ue-chan!" Dan Mitsuya pun langsung melesat ke lantai dua, meninggalkan Jinnai yang geleng-geleng kepala dan Yuusuke yang menahan tawa.
"Dia sudah berubah ya?" Komentar Yuusuke sambil menyesap tehnya.
"Apanya?" Jinnai menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sama saja, kok. Masih saja cengeng dan gampang naik darah."
"Tapi aku senang loh, kalian sudah berhenti berkelahi."
"Berkelahi itu kan bukan mau kami, loh. Orang-orang saja yang terus-terusan mencari. Lagipula, tak bisa seperti itu seumur hidup kan? Lagipula, itu kan sudah lama sekali, Ue-chan. Tak usah diungkit lagi." Tukas Jinnai seraya mengibaskan tangan.
Yuusuke mengangguk-angguk. "Tak menyangka saja dia akan menikah lebih dulu dan... berapa anaknya sekarang?"
"Hmm... Empat?"
"Sugoi~" Yuusuke tertawa.
Jinnai pun terkekeh. "Begitulah. Lagaknya saja marah-marah tapi sebenarnya suka sekali kok."
"Kau juga lega karena tak harus menjaganya terus kan?" Yuusuke mengangkat alis.
"Haaah?" Jinnai menuding temannya dengan sebilah pisau. "Dengar ya, saling menjaga itu insting untuk bertahan hidup, tahu. Sama sekali tak ada unsur romantisnya."
Yuusuke menepis tangan Jinnai dengan tenang. "Aku juga tak bilang begitu, kok. Maksudku, hidupmu jadi lebih tenang kan?"
Jinnai memiringkan kepala, "Yah, dibilang lebih tenang sih..."
"Ah, tidak juga ya." Yuusuke tertawa lagi.
"Sou."
Mitsuya kembali bergabung dengan dua teman lamanya itu tak lama kemudian. "Paman sempat bangun sebentar tadi, tapi sudah tidur lagi." Ujarnya sambil menduduki kursinya lagi dan menjangkau seikat sawi putih.
Jinnai mengangguk lalu mengangkat alis. "Sedang apa?"
Mitsuya balas mengangkat alis. "Aku sedang tak ada kerjaan jadi ikut bantu tak apa kan? Toh, sudah lama tidak bertemu Ue-chan. Ne?" Ujarnya sambil mengangguk pada Yuusuke.
Jinnai memukul bagian belakang kepala Mitsuya dengan kesal dan membuat Mitsuya mengaduh keras dan balas memukul lengan Jinnai. "Apa sih tujuanmu kemari? Kau kan tahu kedai tak akan buka sampai jam 7 malam."
Mitsuya mengerjap. "Ah! Sou!" Dia menepuk tangan seolah baru ingat akan tujuannya mendatangi kedai itu pagi-pagi. "Tak ada apa-apa sih. Hehehe."
"Hah?" Tangan Jinnai sudah terangkat hendak memukul Mitsuya lagi namun temannya yang cantik itu merengut.
"Habis, Kenki sedang dinas ke luar kota. Anak-anak juga sedang study tour ke Osaka. Mereka tak akan pulang sampai lusa. Aku tak ada kerjaan nih." Keluhnya.
Jinnai menghela nafas. Yuusuke tersenyum lebar. "Tak apa kan, Sho-chan. Semakin banyak yang membantu kan enak. Kau jadi punya waktu memperhatikan paman juga."
"Ya sudah." Jinnai melengos ke arah dapur. "Sini. Bantu aku memotong daging ayam untuk yakitori." Ujarnya. "Setelah itu angkat krat bir dari belakang ya."
"Eeeeeh?"
"Katanya mau bantu. Aku bosnya di sini. Kalau tak mau kerja, kau tak akan kubagi sarapan. Atau lebih baik lagi, pulang saja sana." Tukas Jinnai dengan tegas seraya mengacungkan sumpit masak dengan jumawa.
Mitsuya menggembungkan kedua pipinya. Ia makin merengut karena ditertawakan Yuusuke yang geli melihat tingkah dua orang itu. Meskipun begitu, lelaki cantik itu menurut juga dan menghampiri Jinnai untuk mengambil baskom berisi potongan daging ayam dan mulai bekerja dengan tekun.
Sesuai perkataannya, Jinnai membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka meskipun sederhana: sup miso, tempura dan asinan sayur menemani nasi hangat yang mengepul wangi. Yuusuke menyumbang tenaga membuatkan yakitamago yang luar biasa enak. Sementara kedua temannya makan, Jinnai menghilang sebentar ke lantai dua mengantarkan bagian ayahnya.
"Banyak sekali ya," komentar Mitsuya setelah mereka selesai makan dan kembali bekerja, memandang tumpukan sayur, daging, ikan dan bahan-bahan lain yang siap diolah setengah jadi.
Yuusuke mengangsurkan ujung sendok kayu yang digunakannya mengaduk campuran bumbu yakitori pada Jinnai. Menggunakan kelingkingnya, Jinnai mencolek sedikit bumbu dari sendok kayu itu, mengecap sejenak, "Mirin-nya ditambah sedikit lagi," pintanya. "Yah, beginilah kalau akhir minggu. Makanya aku minta Ue-chan membantu."
Mitsuya meletakkan satu krat bir di lantai dan mulai mengatur isinya ke dalam lemari pendingin. "Anak itu tidak akan cemburu?"
Jinnai mengangkat alis. "Maksudmu Daisuke?"
Mitsuya mengangguk.
"Kenapa harus? Kedai ini kan milik keluargaku. Dia saja yang seenaknya memutuskan dia punya hak untuk ikut repot." Jinnai berkilah.
"Sho-chan," tegur Yuusuke halus.
"Iya, bercanda." Sela Jinnai. "Aku malah senang kalau dia tak sering-sering muncul dan lebih konsentrasi belajar. Aku tak ingin dilabrak ibunya kalau sampai nilainya hancur karena terlalu sering main di sini. Yah, meskipun dia juga belajar di sini sih."
Mitsuya mendekat dan menusuk pipi temannya itu, "Sho-chan, kawaii."
"Uruse." Jinnai menepis tangan Mitsuya dan berpura-pura sibuk memeriksa kaldu untuk kuah oden.
"Ne," Yuusuke berujar, tanpa menoleh karena menjaga agar bumbu yakitori yang sedang dibuatnya tidak terlalu mendidih, "apa kau akan mengambilnya masuk ke keluargamu? Paman pasti akan senang sekali punya anak semanis itu."
Jinnai tertawa dan mengedikkan bahu. "Saa ne. Mungkin? Aku masih belum tahu."
"Sudah ditanya?"
"Tentu saja belum."
"Nandee?"
"Micchi, uruse."
"Nandeeee?"
Jinnai menghela nafas. "Belum saja. Kalau dia punya cita-cita yang lebih hebat daripada sekedar menemaniku mengurus kedai sake ini, aku kan tak bisa melarang."
Yuusuke mengangguk-angguk. "Kita punya kewajiban keluarga ya. Bukannya terpaksa sih."
"Sou. Kau mengerti maksudku kan, Ue-chan?"
Yuusuke mengangguk lagi. Mitsuya ikut mengangguk. "Anak itu tak pernah pergi dari sampingmu sih, ya. Bagus juga kalau sesekali dia melakukan hal lain. Demo, iinjyanai? Begini saja kau bahagia kan? Memang tak perlu buru-buru ya. Namanya juga Sho-chan."
Kali ini Jinnai tersenyum lebar. "Sou desu ne."
-end-
Thursday, February 16, 2012
[drabble] Kenki/Micchi - late birthday fic
Sunday, February 5, 2012
[fanfic] Just His Luck
Rating: PG
Warning: BL, AU, OOC
Disclaimer: I own nothing
Note: I hate my blekberi keypad -_-
Suara pisau beradu dengan talenan dengan ritme yang teratur mengisi dapur mungil itu. Sesekali terhenti untuk kemudian berlanjut lagi. Asap tipis mengepul dari sela tutup panci di atas kompor. Wangi samar daging, sayuran segar, harum bawang bombai dan beberapa bumbu lain memenuhi udara. Daisuke mengendus pelan, memejamkan mata sementara sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Lengannya yang panjang mendekap lutut di depan dada, seolah tak begitu peduli kalau kakinya tak tertutup apapun. Matanya kemudian terbuka, kembali terarah pada sosok yang tengah sibuk memindahkan sayuran yang sudah dipotong-potong untuk direbus di dalam panci.
"Madaaaa?" Tanyanya sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.
"Sabar sedikit. Lagipula, aku yang lebih lapar, kan?" Jinnai melempar beberapa jumput garam dan merica ke dalam panci lalu melempar sejumput melewati bahu.
Melihat itu, Daisuke mengerjap. "Kenapa melakukan itu?"
"Apa?" Jinnai bertanya tanpa menoleh.
"Itu, melempar garam ke belakang."
"Oh." Jinnai melirik sekilas lalu tersenyum miring. "Untuk mengusir nasib buruk yang selalu ada di belakangku."
Sesaat, Daisuke mengerjap, berusaha mencerna ucapan Jinnai lalu menggembungkan pipi dengan sebal saat mengerti apa maksudnya. "Mou! Jadi maksudmu aku ini nasib buruk, begitu?"
Jinnai terbahak, berhenti untuk mencicipi masakannya lalu nyengir lebar, "Maa ne."
"Jinshan!"
Suara tawa Jinnai kembali terdengar sementara si pemilik suara kembali sibuk berkutat dengan masakan lain: meletakkan penggorengan penuh berisi minyak dan menyalakan kompor. Sepasang lengan yang mendadak melingkari pinggang mengejutkannya.
"Kalau begitu, aku akan jadi nasib buruk yang tak mudah diusir dengan taburan garam dan akan mengikuti Jinshan ke manapun seumur hidup."
Jinnai menepuk lengan itu, "Komatta na." Ia kemudian berputar, menghadapi Daisuke yang masih mendekapnya dan menunduk untuk mengecup kening pemuda itu. "Keberuntunganku sepertinya memang sudah habis sejak menolongmu tempo hari. Jadi, Nasib Buruk-kun, sebaiknya kau membantuku meracik salad atau kau tak akan kubagi sup bola daging dan kroketnya." Ujarnya sambil menepuk punggung Daisuke.
"Huh." Daisuke melengos. "Berbahagialah karena nasib buruk yang satu ini suka masakanmu." Cibirnya sembari melipir ke lemari es dan mengambil bahan-bahan untuk salad.
Sambil menggoreng kroket, Jinnai melirik pada Daisuke yang sudah sibuk di sebelahnya. Ia menggigit bibir agar tak mengomentari jersey Daisuke yang panjangnya hanya mencapai setengah pahanya. Pemuda itu bahkan tak ambil pusing untuk mengenakan celemek dan meracik salad dengan tekun. Mau tak mau Jinnai nyengir melihat pemuda itu membuat salad seperti yang biasa disajikan di kedai. Daisuke memperhatikannya saat datang ke kedai di tengah jam sibuk. Siapa sangka Daisuke ingat bagaimana membuatnya.
Daisuke mencicipi campuran saus yang dibuatnya. Cengirannya melebar dan lalu mengulurkan jari telunjuk yang berbalut saus di ujungnya pada Jinnai. Dengan patuh, Jinnai membuka mulut. Bahu Daisuke berkedik senang saat Jinnai mengangguk, menyetujui rasa sausnya lalu beralih membawa mangkuk berisi salad ke meja makan.
"Perlu mangkuk?"
"Kecuali kau mau makan langsung dari panci,"
Daisuke terkikik, melewati Jinnai untuk menjangkau lemari gantung di atas kompor. Sejenak kemudian, ia sudah sibuk menata meja sementara Jinnai memberikan sentuhan-sentuhan akhir pada masakannya. Tak lama, pemuda itu menatap antusias pada sup bola daging, kroket, salad dan nasi hangat yang tersaji di hadapannya.
"Uwa, uwa, uwaaaaa~ Jinshan memang hebaat!" Daisuke bertepuk tangan ceria dan Jinnai harus meletakkan jari di depan bibir agar pemuda itu memelankan suara karena khawatir akan membangunkan ayahnya yang sudah tidur. Daisuke ikut meletakkan jari di depan bibirnya sendiri dan mengangguk minta maaf. "Paman tidurnya cepat ya?" Komentarnya sambil menjangkau sumpit.
Jinnai duduk di sebelahnya, di sisi lain meja. "Biasanya sampai larut juga kok tapi sepertinya sedang agak tak enak badan."
Mereka mengangkat sumpit ke depan dada dan bersama-sama mengucapkan "itadakimasu". Daisuke menjumput saladnya, "Kalau begitu, besok akan seharian di kedai ya?"
Jinnai mengangguk. "Mungkin. Kenapa?"
Daisuke menggelengkan kepala. "Nandemonai," dan mengunyah pelan. "Umai~" komentarnya pada sebuah gigitan kroket.
Jinnai memiringkan kepala lalu terbelalak, "Aah! Aku sudah janji mengantarmu ke toko buku ya? Gomen."
Daisuke buru-buru mengibaskan tangan dan menelan sebelum berbicara. "Daijoubu. Aku masih bisa ke sana kapan saja. Tidak butuh buru-buru, kok."
"Hontou?" Jinnai memandang tak percaya namun anggukan kepala Daisuke berusaha meyakinkannya. Jinnai pun mengangguk-angguk meski masih tak melepaskan pandang dari Daisuke yang kini tengah mencicipi sup bola daging buatannya. Mata pemuda itu melebar dan memandang Jinnai dengan kagum.
"Ini enak sekali! Jinshan, maji de~ Umai! Chou umai!" Ucapnya dengan semangat lalu menyeruput kuah sup, "Aaa, rasanya seperti di surga~"
Jinnai terbatuk karena nyaris tersedak mendengar pujian Daisuke. "Sou?" Dia tertawa, beralih sejenak untuk mengambil teh.
"Un! Aaah, aku sungguh beruntung karena bisa merasakan masakan seperti ini terus." Ujarnya seraya mengulum sumpit.
"Terus?"
"Un."
Jinnai menggigit bagian dalam mulutnya, menahan cengiran. "Sou? Aku benar-benar tak bisa mengusir nasib burukku sepertnya ya."
Daisuke tersenyum lebar. "Muri desu."
-end-